Nasihat dalam Semangkuk Kolak

by - Rabu, Mei 08, 2019

Apalagi selain sirop yang bisa membuka laci kenangan tentang bulan puasa? Setuju! Iya benar, Kolak. Rasanya kurang mantap jika takjil andalan ini tak muncul dibulan Ramadan. Saat seperti ini dengan mudahnya kita temukan menu ini diberbagai tempat. Kolak dengan aneka campuran bahan didalamnya. Ada yang sederhana saja hanya ada pisang saja bahkan ada yang lebih menyukai tanpa santan atau biasa disebut 'Kolak Setup'. Namun banyak juga yang lebih suka resep kolak lengkap. Yaitu yang didalamnya ada pisang, ubi/singkong, beberapa orang juga menambah kolang-kaling agar lebih kaya cita rasanya.

Dibalik nikmat semangkuk kolak, ternyata terkandung nasihat yang sangat dalam maknanya. Kolak merupakan salah satu kearifan lokal warisan dari para ulama terdahulu. Sajian sedap yang jadi media penyebaran Islam di tanah Jawa. Cara syiar yang cepat dan sederhana agar mudah diterima oleh masyarakat yang belum mengenal Islam dengan baik.

Penamaan kolak juga tidak sembarangan, para pendakwah (Wali Sanga) tampaknya telah memikirkan tiap elemen yang ada pada kolak memiliki nilai filosofisnya masing-masing. Dahulu kolak disajikan dibulan Syaban atau Ruwah sebagai penanda persiapan menyambut datangnya Ramadan . Namun, kini berlanjut hingga jadi sajian khas bulan puasa.

Kolak merujuk pada kata 'Khala' atau kosong, artinya bahwa manusia harus menyambut kematian dengan berusaha bertaubat, mengosongkan dosa-dosa agar kita mendapatkan sebaik-baik akhir usia. Menurut cerita lainnya dikatakan kolak berasal dari kata bahasa Arab, 'Kholaqo'. Kata ini merujuk pada arti Khalik, yang artinya dalam KBBI V adalah pencipta, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini menyiratkan makna bahwa kita harus senantiasa mendekatkan diri pada yang menciptakan kita dan selalu bertakwa kepada-Nya.

Bahan-bahan dasarnya juga tak kalah dalam maknanya. Pisang yang dipilih biasanya dari jenis kepok. Mengacu pada kata 'kapok' (bahasa Jawa) artinya adalah jera atau menyesal. Kita manusia diharapkan menyadari kesalahan yang telah kita perbuat dan jera tidak akan melakukannya kembali. Lalu, bahan lain yang sering digunakan ubi/singkong. Keduanya termasuk 'Pala Pendem' artinya yang tumbuh dalam tanah. Ini mengisyaratkan bahwa suatu saat kita pasti akan menghadapi kematian, dikubur dalam tanah, karena itu kita harus segera bertaubat mengubur dosa-dosa yang pernah kita perbuat dan hanya menempuh jalan ridho-Nya. Lalu, elemen yang paling penting kuah santan atau dalam bahasa Jawa disebut 'santen'. Dimaknai sebagai kependekan dari 'Pangapunten'; permintaan maaf. Artinya jangan pernah lupa kesalahan yang pernah kita perbuat jika itu kepada Allah maka segera bertaubat. Bila kesalahan itu antar sesama manusia maka segeralah meminta maaf.

Sepertinya semua filosofi diatas, cocok dengan situasi negeri kita belakangan ini. Sebelum dan selama masa menyambut pemilu 2019, saling lempar kata-kata yang tak sepantasnya, rasanya tak henti terpampang caci maki dari sana sini.

***
Kini saatnya sudahi adu urat
Kata-kata sarat isyarat
Jangan lagi berdebat
Siapa yang paling hebat
.
Kemarin kita saling tuding tuduh
Berebutan memadamkan suluh
Sungguh padahal kita saling butuh
Agar terus berbangsa utuh
.
Kembalikan saja pinta pada kuasa-Nya
Diujung doa tentang pemimpin yang bijaksana
Jangan sampai kita terus terkotak-kotak
Lebih baik sekarang kita berbagi bermangkuk-mangkuk kolak
***

Hampir delapan bulan banyak sekali yang saling bersitegang, karena pilihan sikap politik yang berbeda. Bukankah setiap orang punya kesempatan dan kecenderungan pilihan masing-masing? Tak bisa kah kita saling menghormati, tetap bersanding bersama dan terus berbesar hati mencintai negeri ini.

#RWC2019 #OneDayOnePost #Day3

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum