Alinea Ke-4 Jurnal Ibu Pembaharu : Menetapkan Smart Goal dan Sumberdayanya

Selasa, 07 September 2021

Jeeng ..jreng...woilaa sudah sampai di jurnal keempat nih. Belum separuh jalan sih tapi persiapan demi persiapan ini memang harus dipastikan kokoh sejak dini. Berbagai kemungkinan harus dipertimbangkan dan diperhatikan dengan cermat.

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah jumlah anggota tim yang tidak terlalu buncit dengan aneka kesibukan masing-masing. Membuat kami memang sejak awal berhati-hati mewujudkan rencana.

Terutama saya sih yang harus merawat energi dan binar kebahagiaan untuk mewujudkannya agar tidak tiba-tiba redup di tengah jalan. Endurance memang merupakan tantangan pribadi yang harus saya taklukkan sejak dulu.^_^

Apalagi dengan penyesuaian jam pertemuan dalam jaringan kami yang juga berbeda. Memang perlu benar langkah-langkah Smart agar selalu terhubung.

Sejak materi ke-4 disampaikan seperti biasa kami segera bawa ke WhatsApp grup tim 'Ruang Bicara' untuk diskusi dan bisa langsung saling menanggapi.

Kali ini misinya adalah 1). Menetapkan Tujuan, 2). Memperkuat Niatan, 3). Memperbesar Harapan dan 4). Menjalani Pencapaian.

Setelah di tahap sebelumnya kami mulai dengan mengidentifikasi masalah, membangun tim yang efektif, kemudian bersama-sama menyelami masalah. Kini tiba saatnya meramu tujuan agar arah melangkah kami lebih pasti.

Tiap-tiap lini kehidupan baik personal maupun organisasi yang dilakoni manusia memang membutuhkan tujuan. Hidup akan terasa lebih hidup. Merancangnya dengan baik akan membantu perjalanan menjadi lebih teratur dan terhindar dari kesia-siaan. 

Tujuan yang SMART

"Orang yang tidak memiliki tujuan akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki tujuan". Begitulah kalimat yang disampaikan oleh founding mother. Sepakat sih ini, jika terombang-ambing tidak memiliki tujuan pasti yang ada akan dimanipulasi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dan tujuan.

Oleh karenanya membuat tujuan pun harus SMART. Tidak asal ala kadarnya. Namun, harus diperhatikan dari segala sisi Jika tidak membawa perubahan, terlalu mudah dicapai, terlalu sulit, terlalu rumit dan muluk, maka semua itu berpotensi membawa kegagalan.

Beberapa cara yang harus dilakukan saat membuat tujuan adalah sebagai berikut : 

1. CLARITY
 Maksudnya tujuan harus disusun dengan jelas, dan mudah dipahami.

2. CHALLENGE
Membuat tujuan jangan terlalu mudah. Boleh sulit namun masih dapat diraih. Ibarat dalam bahasa Jawa, "Gayuk gayuk tuno". Artinya misal ada mangga yang matang di pohon dan tidak bisa kita raih dengan tangan. Namun, kita cukup melompat saja untuk bisa mengambil menikmatinya. Tidak perlu menggunakan bantuan galah atau alat bantu lain.

3. COMMITMEN
Berani membuat tujuan dan impian harus berani berkomitmen juga untuk mewujudkannya. Kalau tidak hanya akan teronggok jadi angan-angan.

4. FEEDBACK
Untuk merayakan proses pencapaian tujuan kita memerlukan umpan balik. Feedback sangat membantu diri kita mengontrol semangat agar tetap menyala. Sehingga perlu membuka diri dengan pihak luar agar dapat menyampaikan penilaian. Jika ada beserta kritik dan saran untuk perbaikan tentang apa yang sudah kita lakukan.

Proses Membuat Tujuan yang SMART

1. Spesifik
Seperti di awal sangat disarankan untuk meramu dan menjabarkan kembali tujuan dengan 5W plus 1H.

2. Measurable
Tujuan yang baik dan tepat akan mudah dicapai jika logis dan dapat diukur.

3. Achievable
Selain dapat diukur tujuan harus juga mampi diraih.

4. Relevant
Tujuan akan mudah dicapai bila dapat berdampak dan bermanfaat secara bagi diri kita. Atau ada hubungannya dengan kehidupan kita secara langsung.

5. Time Bound
Menetapkan batasan waktu dalam mencapainya salah satunya dengan cara memilih milestone, memetakan sumber daya sekaligus mengatur strategi.



Langkah selanjutnya dalam meramu Smart Goal, adalah membahas penentuan lingkup Golden Rules.


Golden rules merupakan sebuah tindakan yang harus diambil dan lakukan ketika secara personal dan juga tim dalam kondisi terburuk 

Perlu juga membuat rancangan 'Exit Procedure atau syarat, tata cara keluar dari tim. Maka kami pun juga mencoba merancangnya.

Demikian jurnal keempat ini saya buat berdasarkan alur dan hasil pembahasan dari tim Ruang Bicara. Semoga Allah selalu rida.

Tabik!

#smartgoalsdansumberdaya 
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia
#ibuprofesionaluntukindonesia
Read More

Serba-serbi Pentingnya Komunikasi dalam Pernikahan

Selasa, 31 Agustus 2021


Komunikasi bukan hanya sekedar membuka mulut, keluar suara, dan mengucapkan kata-kata hingga berderet-deret kalimat menjadi cerita. Sama sekali bukan seperti itu.

Komunikasi itu seni yang memiliki beragam cara untuk dijajaki. Mana yang paling nyaman dan 'klik' untuk dijalani. Komunikasi yang produktif dalam rumah tangga pun pastinya tidak berbeda.

Pada banyak kisah ditemukan bahwa komunikasi menjadi efektif, jika pasangan mampu paham dan peka. Kedua belah pihak yang saling memahami mana saat paling tepat menahan diri untuk berbicara. Lebih banyak menyimak, hadir dan atau menyediakan diri untuk lebih mendengarkan pasangannya.

Virginia Satir yang mengemukakan bahwa komunikasi merupakan hal yang penting untuk menjaga keharmonisan seluruh keluarga. Kemampuan manusia untuk bertahan juga bergantung pada kemampuan dirinya untuk berkomunikasi.


Perihal Pernikahan


Pernikahan menurut Mark Whisman, seorang profesor psikologi sekaligus ahli saraf; dapat memberikan seseorang peran, identitas yang membuat dirinya bermakna, memiliki tujuan hidup dan rasa aman.

Dan, merupakan bagian fitrah manusia untuk mencari dan mendapatkan ketentraman dan kebermaknaan diri ini. Pernikahan menjadi pintu gerbang yang sakral karena melibatkan komitmen diri dengan Tuhan serta manusia lainnya. Mayoritas orang pada akhirnya akan mendambakannya.

Pernikahan bagi pasangan harus tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Sebab pernikahan bukan tentang mencari mana yang paling tepat. Melainkan mensyukuri segala proses dengan belajar tumbuh menjadi pilihan yang paling tepat bagi pasangan kita.

Membangun pernikahan tidak cukup hanya dengan modal cinta saja. Meluapkan rasa pada seseorang yang kita bilang sayang dan sukai.

Menikah merupakan kerja besar dan terus menerus. Banyak aspek harus diperhatikan dan dipersiapkan oleh karena itu menikah disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.

Kesadaran yang harus dibangun sejak awal bahwa menikah itu untuk saling menyempurnakan bukan mengharapkan pasangan selalu berlaku sempurna.


Berdasarkan firman Allah pada surat Ar-Rum ayat 21 : "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."

Bentuk relasi suami dan istri tidak sesederhana penampakannya. Ada hubungan interpersonal yang kompleks, karena terdapat perbedaan latar belakang di antara kedua belah pihak. Munculnya hak dan kewajiban yang saling beririsan. Kedekatan fisik dan emosional yang semakin intensif.

Pernikahan juga bukan hubungan antara seorang bos dengan karyawan atau bawahannya. Melainkan pergaulan sebagai pasangan hidup yang terikat dalam relasi persahabatan, saling memberikan cinta, kasih sayang, perdamaian dan ketentraman.


Oleh karena itu, demi mencapai tujuan pernikahan yang langgeng serta penuh ketentraman. Sejak sebelum akad hingga sesudahnya, suami dan istri harus senantiasa berilmu. Menambah pengetahuan untuk mencari cara saling mengenal kondisi psikologis, kepribadian, watak, sifat dan problem solving-nya.

Kondisi psikologis yang perlu diketahui oleh pasangan antara lain berkaitan dengan :

 
1. Kemampuan komunikasi.
2. Kepercayaan diri.
3. Kemandirian.
4. Efek masa lalu.

Tujuannya untuk mengetahui relasi pasangan dengan keluarga besar dan bagaimana calon pasangan dibesarkan.



Selain itu dibutuhkan juga kesiapan mental, finansial, peran, spiritual, fisik dan untuk membangun rumah tangga bernama keluarga.

Suami dan istri harus punya visi dan misi jelas untuk mengikatnya menjadi sebuah jalan ketentraman. Jembatan untuk membangun sebuah peradaban, sebab jika gagal malah dapat terjadi kerusakan.

Ketenteraman juga dapat dicapai apabila komunikasi dalam relasi tersebut berjalan baik, efektif alias harmonis. Sebaliknya jika tidak terwujud, maka akan banyak prahara yang akan terjadi.


Memahami Komunikasi Pasutri


Komunikasi merupakan kebutuhan mutlak setiap manusia. Manusia saling berhubungan satu sama lain melalui komunikasi. Saat memenuhi segala hajat dan kebutuhan hidupnya, manusia harus berkomunikasi.

Komunikasi adalah aspek penting dalam kehidupan dan perilaku manusia secara keseluruhan. Namun, melaksanakannya bukan tanpa hambatan. Seringkali ditemukan tantangan berupa benturan-benturan kepentingan antara suami istri.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang congruent, yaitu komunikasi yang terkoneksi, disampaikan dengan terbuka, jelas konteks dan topiknya, serta jujur.

Komunikasi pasangan dapat disebut congruent atau terhubung, jika suami dan istri perlu selalu merenungkan kembali hal-hal penting yang mendasari ketahanan rumah tangganya.


Pentingnya Komunikasi dalam Pernikahan

Komunikasi dalam pernikahan salah satu yang bersifat mutlak alias sebagai salah satu kunci utama kebahagiaan rumah tangga.


Virginia Satir menganalogikan proses komunikasi sebagai sebuah payung raksasa yang memayungi dan mempengaruhi semua yang terjadi antar manusia. “A huge umbrella that covers and effect all that goes on between human beings”.

Komunikasi dilakukan pada keseluruhan aspek hidup manusia dengan menggunakan bahasa verbal juga non verbal. Sedangkan, bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan perasaan serta digunakan sebagai alat menyatakan pendapat.

Melalui komunikasi, suami dan istri harus berlatih berani berlatih mendefinisikan perasaannya sedetail mungkin. Tujuannya agar mampu mengutarakan seluruh isi hatinya dengan baik.


Berusaha tuntas menyampaikan pikiran dan perasaannya. Berbicara dan berusaha mendengarkan orang lain dapat membantu kita menata pola pemikiran kita menjadi lebih dewasa.

Komunikasi yang harus dilakukan adalah komunikasi harmonis. Sebuah komunikasi yang mampu menyatukan dua kepala dan hati yang berbeda. Tujuannya untuk mendapatkan titik temu dari pendapat yang tidak sama. Lalu, melahirkan komitmen untuk bersama-sama menyelesaikan masalah demi mempertahankan keutuhan rumah tangga dalam bingkai sakinah, mawaddah dan rahmah.

Menurut Walgito, di antara suami istri harus saling berkomunikasi dengan baik untuk dapat mempertemukan satu ide dengan yang lain, sehingga kesalahpahaman dapat dihindari (1984:57).

Komunikasi yang harmonis dapat membantu menyelesaikan segala masalah yang muncul dalam keluarga baik secara permasalahan material ataupun non-material.

Masih menurut Bimo Walgito, jika komunikasi telah berlangsung dua arah. Maka, akan terbentuk sikap saling terbuka, saling mengisi, saling mengerti dan terhindar dari kesalahpahaman (1984:58).


Hal-hal yang dibutuhkan saat berkomunikasi

Ada beberapa syarat pokok yang harus dilakukan agar komunikasi berlangsung sesuai harapan dan tujuannya.

1. Keterbukaan.

Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman antara suami dan istri.

2. Saling memahami.

3. Umpan balik.

Tujuannya agar komunikasi menjadi hidup dan dinamis.

4. Kemauan dan kemampuan mendengarkan.

5. Berkesinambungan.

6. Saling hormat.

Namun, jika merujuk pada komunikasi keluarga model Virginia Satir, maka ada dua hal penting dalam berkomunikasi. Sikap empati dan rasa kesetaraan antar anggota keluarga merupakan langkah pertama yang dibutuhkan untuk membangun keharmonisan keluarga melalui komunikasi.

Sikap tersebut menjadikan seseorang dapat dikatakan tidak merasa superior atau inferior di hadapan orang lain. Suami istri pun dapat saling terbuka dan bebas menyampaikan keinginan masing-masing. Sekaligus juga bersedia untuk saling menurunkan tuntutan masing-masing. Maka terciptalah 'win-win communication' dan selanjutnya dapat menghantarkan menuju 'win-win solution', atau 'win-win agreement'.



Hal penting kedua adalah harus ada upaya dari tiap anggota keluarga, agar terbiasa melatih diri menggunakan pola I-Message dalam berkomunikasi.

I-Message merupakan pola komunikasi antarpribadi yang penekanannya lebih kepada apa yang dirasakan oleh komunikator. Sebagai akibat dari apa yang telah dilakukan komunikan. Pola ini bertujuan agar komunikan tidak merasa dipersalahkan, dihakimi. Sehingga pada akhirnya berkenan mendengarkan dan memahami isi pesan yang ingin disampaikan komunikator.


Formula I-Message sesungguhnya sederhana, sebab hanya memiliki tiga elemen dasar, yakni :

1. "Saya Merasa ..... ."

Pada tahapan ini komunikator mengungkapkan apa yang dirasakannya.

2. "Bila/Jika Kamu ..... ."

Bagian kedua bermuatan pernyataan perbuatan komunikan. Tindakan yang menjadi penyebab apa yang dirasakan oleh komunikator.

3. "Saya ingin... ."

Komunikator menyatakan usulan, harapan atau keinginannya berkaitan dengan perubahan perilaku komunikan.

Itulah beberapa hal penting yang perlu dilakukan oleh suami istri agar berhasil melakukan komunikasi yang efektif. Jika tidak diperhatikan, ada banyak penyebab kegagalan komunikasi suami istri.

Secara garis besar pasangan harus selalu mau menurunkan ego agar tidak saling mendominasi. Suami dan istri juga harus belajar menyatukan mindset yang sesuai dengan FOR dan FOE.


FOR adalah Form of Reference, yaitu cara seseorang bersikap dan berkomunikasi berdasarkan latar belakang pendidikan dan budaya. Sedangkan, FOE merupakan singkatan dari Form Of Experience merupakan cara seseorang bersikap dan berkomunikasi sesuai dengan pengalaman hidup yang telah ia jalani.

Nah, itu sekelumit serba-serbi pentingnya komunikasi dalam pernikahan. Keterampilan berkomunikasi dalam keluarga ini perlu terus diasah, agar ikatan cintanya semakin kokoh.

Semoga bermanfaat.
Salam Baik.
Tabik!


Sumber Referensi Bacaan :

Walgito, Bimo.1984. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Materi Komunikasi Persembahan Cinta IIP Untuk Indonesia "Aku, Kamu, Kita ” oleh Maria Ulfa, 2020


Read More

Memahami Dunia Remaja, Memerdekakan Kedewasaannya

Kamis, 26 Agustus 2021


Bismillahirrahmanirrahim


Sebuah Prolog


Dunia remaja sudah membuat saya jatuh cinta sejak lama. Entah kenapa dan bagaimana bermula saya juga kurang mengerti sebab pastinya. Semua datang dan mengalir begitu saja.

Saya hanya mampu menduga. Jika ketertarikan itu muncul karena saya tumbuh dari cerita kedua orang tua saya. Utamanya papa yang saat usia belia terpaksa harus jauh dari orang tua kandungnya. Bagaimana beliau berjuang keras sendiri untuk menemukan jati diri terbaiknya.

Belakangan saya mengetahui ternyata papa juga memiliki impian kuliah di fakultas psikologi. Namun, takdir membawa cerita yang berbeda. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal akhirnya berubah haluan.

Kemungkinan kedua adalah saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Momentum yang membuat ketertarikan saya pada dunia remaja semakin membulat dan menetap jadi sebuah keyakinan. Saya melihat seorang guru Bimbingan dan Penyuluhan; sebutan untuk guru atau konselor sekolah pada saat itu.

Sosoknya bisa sangat dekat murid-murid yang terkenal sukar "ditaklukkan" oleh guru lain. Santai, namun nasihatnya selalu mengena. Membuat saya-khususnya untuk selalu berpikir ulang pada tiap tindakan yang akan dilakukan.

Beliau juga yang membantu mengatasi kecemasan saya. Ketika harus berpidato sebagai Ketua Osis di hadapan ratusan orang untuk pertama kalinya. Semoga jadi amal kebaikan yang selalu mengalir padanya. Jika dijabarkan akan sangat panjang karena banyak sekali rekaman ilmu yang saya dapatkan dari beliau.

Waktu berganti dan saya semakin ingin menemukan keteguhan dari keinginan itu. Seolah semesta merestui untuk memahami rentang perjalanan kehidupan remaja, saya pun terus didekatkan dengan dinamikanya. Melalui lingkaran teman-teman, saya diperlihatkan turbulensi dunia remaja yang luar biasa.


Merdeka Berkarya


Singkat cerita ternyata ketertarikan itu terus terbawa hingga pada akhirnya saya berhasil masuk kampus Psikologi. Di sana saya berusaha menempa, menemukan dan memberikan validasi pada keyakinan diri untuk selalu bisa berkontribusi. Dunia psikologi anak, pendidikan, keluarga juga menarik perhatian saya. Namun, tidak pernah sebesar daya tarik dunia remaja. Mungkin juga karena bidang lain sudah banyak yang menggelutinya, tetapi yang terpenting saya percaya Tuhan tidak pernah salah proporsi memberikan alur cerita ini.

Meskipun pernah sempat patah hati dan ingin berhenti bergelut dengan dunia parenting dan remaja. Saya bersyukur selalu dipertemukan alasan untuk kembali. 

Misi 'Dian Eka' yang terus berjuang memampukan diri agar terus dapat merdeka menjalani perannya. Sebagai sandaran dan teman bicara bagi anak-anak ideologisnya. Beberapa upaya pernah dilakukan mulai dari membuat sebuah komunitas bersama rekan yang memiliki antusiasme sama. Lalu, ada komunitas 'Akar Remaja' yang mewadahi mereka berbagi dan berkarya. Semuanya memang terhenti di jalan karena banyak kendala teknis yang semakin sulit ditemukan. Hingga akhirnya memutuskan untuk terus meng-upgrade diri dengan ilmu dan ketrampilan yang tetap bisa mendekatkan diri pada dunia mereka. Mulai ikut workshop talent mapping hingga terakhir memberanikan mengambil sertifikasi sebagai praktisi hipnoterapi. 

Semua itu diniatkan untuk bisa terus menyelaraskan diri dengan kebutuhan remaja masa kini. Sebab selama menjadi praktisi psikologi dan konselor banyak sekali temuan yang meluluhlantakkan hati. Dunia mereka yang rentan dan penuh ancaman. 

Seiring waktu akhirnya secara pribadi semakin percaya bahwa ini salah satu tujuan penciptaan saya, yakni menjadi perantara Yang Maha Kuasa dan mengambil kekosongan peran di sana. 

Memerdekakan para remaja agar menjadi manusia dewasa yang tumbuh dengan tujuan dan bahagia seutuhnya.

Meski sering dibilang aneh karena memang jujur ini sama sekali tidak mudah, menantang dan di satu waktu akan merasa lelah. Namun, itu semua tidak sebanding dengan sukacita yang datang ketika melihat mereka mampu secara mandiri menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Melihat senyumnya, mendengar ceritanya serta ketika mereka bangga berhasil menularkan inspirasi kepada lainnya.


Apa saja sih tantangannya? Bisa disimak sampai tuntas di bawah ini.


Tantangan Memahami Dunia Remaja


Bagi orang tua berinteraksi asyik dengan remaja adalah aktivitas penuh tantangan. Semakin menarik karena sebagai orang dewasa kita harus menyadari pentingnya mendidik diri sendiri. Berupaya memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum sibuk menerapkan konsep-konsep terbaik ala orang dewasa kepada mereka.

Jangan menghakimi remaja tanpa mau memahami proses kehidupan yang dialaminya. Setidaknya sebagai orang yang pernah ada di masa itu, pasti tahu bagaimana gejolak rasanya.

Merujuk dari berbagai teori, anak yang dikatakan sudah masuk kategori remaja adalah yang telah memasuki usia 10 hingga  18 tahun. Rentang usia ini mereka akan masuk masa badai pencarian identitas diri.

Sebuah tahapan kematangan fisik dan seksual yang sering disebut juga masa pubertas. Kecanggungan akan terasa karena secara fisik dan hormonal mereka sudah tidak bisa dikatakan anak-anak. Namun, juga belum masuk masa dewasa.

Menurut Adams dan Gullota (1983) dalam buku Psikologi Remaja yang ditulis Sarlito Wirawan, setidaknya ada lima aturan dasar untuk memahami problematika remaja. Lima hal tersebut adalah sebagai berikut :


1. Kepercayaan
  Trustworthiness, merupakan sikap saling percaya kepada remaja. Menghadapi mereka dengan kepercayaan yang setengah hati tidak akan membawa kita kemanapun.


2. Ketulusan

   Genuineness. Prinsip ketulusan ini penting karena remaja peka dan bisa merasakan mana yang murni dan tidak berpura-pura.



3. Emphaty
   Aturan ini masih berkaitan dengan yang prinsip sebelumnya. Empati adalah kemampuan untuk turut merasakan perasaan remaja yang sedang berhadapan dengan kita.



4. Honesty
   Sebagai orang dewasa saat berinteraksi dengan remaja harus senantiasa bergerak atas dasar kejujuran.



5. Aturan terakhir adalah yang terpenting. Kesimpulan pandangan remaja bahwa orang tua atau orang dewasa tersebut telah memenuhi keempat hal sebelumnya.

Oleh karena itu, jika memang ingin berhasil maka aturan dasar tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.


Uniknya Berkomunikasi dengan Remaja

Fase paling unik dan menantang adalah ketika anak beranjak remaja. Periode ini anak akan tumbuh secara fisik, emosional juga intelektual. Semua fungsi mulai berkembang secara maksimal.

Tidak heran jika di periode ini remaja sangat energik, kritis, keingintahuan yang semakin tinggi, idealis, dan semakin tertarik pada prinsip benar dan salah. Sehingga, tidak heran jika tahapan ini orang tua dan anak akan rentan berkonflik.

Jika ingin berhasil komunikasi asyik dengan remaja, maka orang tua harus memposisikan diri sebagai orang yang memiliki perspektif sama dengan remaja. Pahami keresahannya, mengerti gejolak emosinya sebagai remaja agar dapat masuk ke dalam dinamika kehidupannya Ironisnya masih sering dijumpai orang tua  yang masih enggan menurunkan ego untuk menghormati privasi mereka.

Karakteristik remaja tidak suka jika terlalu banyak dinasihati atau digurui. Komunikasi yang dilakukan harus setara, yaitu percakapan yang memberi ruang tumbuh bagi mereka. Ruang untuk didengarkan, diapresiasi, diakui, bebas menyampaikan gagasan, impian, ide, perasaan, dan atau keluh kesahnya. Lantas semua itu dikumpulkan untuk menemaninya bersama-sama mencari pintu solusi terbaik.

Peran manusia dewasa bukan untuk menjejalkan apa yang sudah kita ketahui. Melainkan memberikan stimulus agar daya dorong internal dan potensi remaja tumbuh. Lalu, bakat itu berkembang selaras dengan minat yang nantinya pasti bermanfaat.

Demikianlah cerita saya yang berusaha mengisi kesadaran untuk terus mengambil peran merdeka berkarya dengan memerdekakan para remaja. Menemani perjalanan menemukan dirinya, mengenali, menerima lukanya dan tetap tumbuh berdaya.

Bersama orang dewasa lainnya saya berharap dapat menjadi pendidik yang kreatif dan mampu menumbuhkan pemahaman. Bahwa remaja seperti manusia pada hakikatnya merupakan pembelajar sepanjang hayat. Manusia yang memiliki kebutuhan diakui keunikan dan cara pandangnya.


Semoga tulisan ini bisa diambil manfaatnya. Mohon doanya ya kawan agar saya terus memiliki energi untuk melakukan ini semua. Jikalau nanti lelah tolong gandeng saya ya?!--Iya gandeng aja, soalnya kalau minta gendong pasti enggak ada yang kuat:)


Salam Baik,

Tabik!


Sumber Referensi :

Sarlito W.Sarwono, Psikologi Remaja, Cetakan Kedelapanbelas, Rajawali Pers, Jakarta, 2016, Hlm.18


#IbuProfesionalSemarang
#SemarakKemerdekaan
#IbuProfesionalSemarang
#LombaKontenKreatifSemarang
#HUTRi76
#KeluargaBahagiaKeluargaMerdeka
#SemestaKaryauntukIndonesia
#RCIPSemarang
#MerdekaBerkarya

Read More

6 Langkah Lebih Dekat Memahami Masalah : Alenia Ketiga Jurnal Ibu Pembaharu

Rabu, 18 Agustus 2021


Materi ketiga yang disampaikan beberapa minggu lalu. Mengajak saya dan tim untuk lebih mengenal permasalahan yang akan kami angkat. Ya, Understanding Your Problem. Itulah tema materi ketiga di kampus hijau ibu pembaharu.

Seperti biasanya kami diberi waktu 2 minggu waktu untuk mendiskusikan materi ketiga bersama tim. Puji syukur, Alhamdulillah meski salah satu dari kami berlima ada yang berhalangan hadir. Diskusi dalam daring bisa diselesaikan. Meski harus berkejaran dengan sinyal, terutama di lokasi tempat tinggal saya.

Kami menggali lebih jauh dan dalam lagi tentang segala yang berkaitan dengan masalah kami. Ada 6 langkah yang harus kami lakukan yang dikenal dengan metode starbrusting. Yaitu menggunakan 6 ujung bintang yaitu :

1. What
2. When
3. Where
4. Who
5. Why
6. How

Melalui metode tersebut kami mencoba menyelami peta permasalahan terkait dengan masalah yang dianggap krusial oleh tim kami. 

Tatap muka dalam jaringan yang kami lakukan menggunakan panggilan video grup di WhatsApp. Selama kurang lebih dua jam kami berdiskusi. Membahas masalah dari berbagai sudut pandang. Mengulik lagi apa yang jadi motif dasar kami ingin menuntaskannya. Obrolan yang seru dan asyik banyak hal baru yang ditemui sepanjang kami berdiskusi.

Kemudian, kami juga bersepakat lebih menggunakan media Instagram nantinya untuk upaya mengedukasi masyarakat.
Tim yang kami namakan Tim Ruang akan berbagi tugas untuk menghidupkannya. Kami yang berjumlah lima orang ini memiliki preferensi sendiri tentang definisi kekerasan. Mulai dari yang mengakui pernah jadi pelaku, penyintas juga pemerhati. Diskusi tim menjadi makin asyik karena banyak hal baru yang kami temukan semakin beragam.

Selengkapnya tentang jurnal hasil diskusi asyik kami di materi 3 ini bisa dibaca di sini.

Selamat membaca dan selamat menemukan inspirasi bersama kami.

#materi3 #understandingyourproblem #ibupembaharu #bundasaliha #dariduniauntukrumah #hexagoncity #institutibuprofesional #semestakaryauntukindonesia #semestanayanika




Read More

Alinea Kedua Ibu Pembaharu : Membangun Tim Tangguh Impianku

Selasa, 27 Juli 2021

Setelah melewati alinea pertama yakni mengidentifikasi masalah yang mengusik keresahan pribadiku. Kini benar-benar harus berusaha mewujudkan perubahan empati menjadi aksi. Apalagi sudah dapat lencana apresiasi. Bintang empati dan lulus materi 1.



Alinea kedua ini kami diberikan waktu dua minggu untuk membangun tim solid. Langkah awal yang harus selalu dipegang adalah setia pada problem statement yang telah ditetapkan di awal. Percaya diri untuk terus melanjutkan perjalanan.



Selanjutnya kami diminta untuk melakukan kampanye untuk mengenalkan user persona diri. Inti tujuan langkah ini semacam pengajuan proposal diri untuk membangun sebuah tim.

Apakah cukup? Ya, tentu saja tidak. Membangun chemistry hingga mengenali persepsi seseorang bukanlah perkara gampang. Sebelum kampanye pribadi saya mulai rupanya rekan saya satu regional, Mbak Indah Laras telah mengunggah kampanyenya terlebih dahulu. Fokus tema yang sama yaitu perundungan atau bullying. Akhirnya kami bercakap-cakap secara pribadi melalui WhatsApp.


Kami pun membentuk kelompok percakapan WhatsApp tersendiri untuk proyek ini. Tidak ada masalah cukup berarti komunikasi saya dengan beliau. Sebab memang sejak 2017 kami berdua tergabung dalam proyek yang sama untuk kampanye anti bullying di kota Semarang. Gayung bersambut menyusul kemudian Mbak Dini dari Ibu Profesional Surabaya, Mbak Marita, dan Mbak Rahma.


Kami berlima kemudian mencoba untuk saling berinteraksi dan berdiskusi. Meski percakapan daring begini, jangankan bagi lintas kota lintas propinsi yang dalam kota saja seringkali terkendala sinyal dan perbedaan jam online antar anggota.


Dan, karena kami sudah berkomitmen untuk menyesuaikan kapanpun waktu lenggang yang dimiliki bisa langsung bisa ditanggapi. Jadi Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar dan semoga seterusnya hingga program atau gerakan ini bisa diwariskan kemanfaatannya.


Tahap awal komunikasi kami berfokus pada saling mengenalkan diri, seperti yang telah dituliskan pada user persona.

Kami melanjutkan dengan mendeskripsikan alternatif solusi yang kami impikan. Apa tujuan proyek ini diadakan? Seperti apa program ini akan berjalan? Dan sebagainya. Selengkapnya bisa dilihat di sini.



Selanjutnya kami saling menggambarkan dan menjelaskan apa sumberdaya yang kami punyai. Softskill dan Hardskill. Sesuatu yang akan bisa jadi bekal kami untuk mencari jalan solusi bagi problem statement kami. Setelah mengemukakan kekayaan personal yang kami miliki, kami pun merangkumnya agar lebih mudah untuk membuat kelanjutan peta.

Terakhir, melihat dan mengenali sumberdaya yang sudah ada pada tim kami. Maka berikutnya kami berbagi peran dan tugas masing-masing dalam proses mewujudkan impian ini.

Semoga saja peran kami ini bisa memberikan manfaat kepada sesama perempuan. Bukan menjadi kelompok sebaliknya. Jika bukan kaumnya sendiri yang memberikan dukungan, maka siapa lagi yang bisa mengerti?


Demikian cerita dalam jurnal kali ini salam ibu pembaharu. "Dari Rumah Untuk Dunia"; Every mother--every people-- is a changemaker.

#materi2
#membanguntimyangsolid
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia

Read More

6 Aktivitas Menyenangkan untuk Anak Saat Masih Pandemi Corona

Jumat, 23 Juli 2021

Situasi wabah corona masih menyelimuti negeri kita dan juga dunia. Semua lapisan usia terkena imbasnya tidak terkecuali anak-anak. Lalu, kegiatan apa saja yang bisa dilakukan orang tua dengan anaknya selama masih di rumah saja? Ketika harus menjalani PPKM atau malah sedang melaksanakan isolasi mandiri.

Berikut ini nantinya akan dibahas 5 aktivitas menyenangkan untuk anak saat masih pandemi corona. Sebagai alternatif pilihan ayah dan bunda yang bisa dilakukan ketika menjalani PPKM atau isolasi mandiri.

Sebelum memilih kegiatan untuk anak, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh orang tua, yakni :

Pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah tetap menjaga ketenangan. Sebab seringkali anak justru terpapar rasa stres orang tuanya. Berikan perhatian pada proses pengendalian diri agar anak tetap merasakan kenyamanan selama di rumah saja.

Kedua, mengalihkan fokus anak dan mengajak anak lebih intens menyampaikan apa saja yang dirasakan dan dipikirkannya. Penting bagi orang tua untuk menyediakan waktu khusus untuk hadir mendampingi kegiatan mereka. 

Ketiga, buat kegiatan yang menyenangkan yang disukai anak-anak. Contohnya menciptakan arena khusus untuk bermain, atau mengijinkan mereka merawat hewan peliharaan. 

Keempat, beri dukungan kepada anak-anak untuk tetap bisa mengembangkan hobinya. Misal, menyanyi, menggambar atau hobi lainnya. Meskipun dilakukan secara daring, orang tua seyogianya tetap memfasilitasinya. 

Kelima, bantu anak untuk tetap terhubung dengan teman karibnya. Dorong dan dampingi anak untuk sesekali bersilaturahmi dengan sahabatnya. Bisa menggunakan panggilan video, zoom atau aplikasi media sosial lainnya.

Lantas kegiatan seru apa saja yang bisa dilakukan oleh orangtua dan anak selama PPKM dan Isoman?

Banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak di masa PPKM darurat atau isoman. Antara lain yang akan ditulis di bawah ini :

1. Nobar alias nonton bareng

Ajak anak bersama-sama memilih referensi film keluarga yang bisa ditonton bersama. Ciptakan suasana yang berbeda meski harus menontonnya dari rumah saja. 

2. Membuat hasta karya

Misalnya jika anak ada ketertarikan melukis. Ajak anak untuk melakukan di berbagai media seperti kanvas, tas kain yang bisa dijadikan tote bag nantinya, atau menghias batu dengan lukisan. Batu-batuan bisa dikumpulkan dari sekitar rumah. Hasil karya mereka bisa dikumpulkan, dijadikan pajangan atau bisa juga dikirimkan sebagai hadiah untuk kerabat.

3. Ajak anak berkemah atau membuat malam pentas seni di sekitar rumah

Membuat titik atau spot khusus untuk membuat pertunjukan yang disukai anak-anak. Bisa juga mendirikan tenda mainan dan membuat suasana seperti sedang berkemah. Kegiatan ini juga akan sangat membantu meningkatkan keakraban di keluarga.

4. Ajak anak untuk mendengarkan dongeng atau cerita
 
Apakah kegiatan ini langsung dibacakan oleh orang tua ataupun melalui channel khusus dongeng, kegiatan ini merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk membuat anak nyaman. Manfaatkan fase PPKM atau isoman ini sebagai upaya untuk membangun kelekatan di antara keluarga. Orang tua juga dapat menceritakan pengalamannya saat masih seusia mereka. Sehingga, mereka juga dapat mempelajari dan membayangkan keseruan di masa kanak-kanak ayah dan bundanya.

5. Orang tua bisa mengikutsertakan anak untuk kursus, atau pelatihan singkat

Kegiatan ini tentunya dipilih dengan menyesuaikan ketertarikan anak. Contohnya memasak, fotografi, membuat doodle, menulis, dan masih banyak lagi ragamnya.

6. Kegiatan di rumah saja di masa PPKM bisa juga berupa olahraga ringan yang rutin dilakukan setiap hari

Misalnya, aktivitas fisik seperti joging di sekeliling rumah sembari berjemur. Bisa juga mencoba permainan tradisional gobak sodor, halang rintang atau sejenisnya di sekitar rumah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang sesuai anjuran. Olahraga ringan penting terus dilakukan untuk tetap dapat memelihara kualitas sistem imunitas tubuh.

Saat ini, semakin banyak aktivitas kelas dalam jaringan yang menarik dan bisa dipilih orang tua dan anak. Sehingga orang tua hanya tinggal menyesuaikan dengan minat ketertarikan anak.

Jika terjadi kondisi sekeluarga harus isoman, sebaiknya apa yang perlu diperhatikan betul oleh orangtua?

Kondisi pertama yang perlu diperhatikan adalah  adalah tempat isoman. Sebaiknya tempat isoman mempunyai sirkulasi udara yang baik, terbuka dan mudah dicapai sinar matahari. Akses untuk aktivitas primer seperti kebutuhan untuk ke kamar mandi atau berjemur mudah untuk bolak-balik. Sebaiknya tidak melintasi area keluarga lainnya.

Selanjutnya, orang tua harus mampu menguasai dirinya agar dapat dengan tenang memberikan penjelasan kepada anak. Jika saja anak-anak mereka bertanya mengapa harus melakukan isolasi mandiri.

Orang tua juga wajib terus berkonsultasi dengan dokter agar mengerti kriteria kondisi anaknya masih layak untuk tetap isoman atau tidak.

Sesuai dengan anjuran IDAI  orang tua tetap dapat mengasuh anak yang terpapar Covid-19 dengan catatan khusus. Orang tua atau pengasuhnya berisiko rendah terhadap gejala berat yang disebabkan paparan virus Covid-19. 

Apabila ada anggota keluarga lain yang positif, dapat diisolasi bersama dalam satu area. Akan tetapi, jika orang tua dan anak berbeda status. IDAI menyarankan memberikan jarak tidur sekitar 2 meter dengan kasur yang terpisah. Hal penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah orang tua harus senantiasa mendukung kondis psikologis anak.

Masih sesuai saran IDAI, orang tua juga harus mempersiapkan alat-alat pendukung selama melakukan isoman seperti termometer, oxymeter, obat-obatan penurun panas/demam, dan juga multivitamin.

Orang tua secara reguler juga harus memperhatikan dan mendisinfeksi perabotan rumah tangga yang sering dipegang; seperti permukaan meja, kursi, pegangan pintu, pegangan apapun, keran, flush toilet, saklar lampu, wastafel,  sakelar, dan lain-lain. Semprotkan disinfektan yang dianjurkan dan aman untuk seluruh anggota keluarga. Selengkapnya terkait panduan isolasi mandiri untuk anak bisa dibaca di sini .

Bagaimana ayah dan bunda semoga pemaparan di atas bisa sedikit memberikan alternatif solusi ya? 

Jadi sudah ada tambahan referensi untuk terus memberi kenyamanan pada anak selama pandemi Corona terjadi. Mari kita berdoa agar bumi kita lekas pulih paripurna.

Salam Baik!


Read More

Alenia Baru Ibu Pembaharu : Umpan Balik#1

Selasa, 13 Juli 2021


Bismillahirrahmanirrahim

Hai, hai...
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuuh

Minggu ini kewajiban para mahasiswi Bunda Saliha adalah saling memberikan umpan balik dari tugas Jurnal Identifikasi Masalah di pekan sebelumnya.

Oleh karenanya saya mencoba merangkum kembali apa yang ditulis rekan perjodohan saya. Beliau ialah Mbak Atika Yustina dari Ibu Profesional Bekasi. Menulis kembali permasalahan dan target keberhasilannya. Berikut Problem Statement yang ditulis beliau :

Pertama, beliau ingin menurunkan berat badan, agar tidak muncul gangguan kesehatan. Kedua, ketika berat badan naik masalah kesehatan muncul, dan mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk komunikasi dengan suami dan keluarga

Jodoh saya ini menyatakan masalah ini sudah selesai jika tercapai keseimbangan (balance) dalam menjalani perannya sebagai istri, ibu, anak, masyarakat dan Hamba-Nya. Badan fit dan bugar.



Lalu, setelah problem statement saya mencoba memperhatikan Analisa Akar Masalah yang disampaikan beliau. Berikut yang menurut beliau menjadi masalah besar :

1. Fit Journey yang tidak konsisten
2. Kegiatan olahraga hanya di rumah dan sekitarnya mengakibatkan jenuh
3. Belum sesuai waktu, kualitas dan kuantitas olahraga

Berikutnya menurut beliau Akar Masalah yang pertama adalah :

Tidak ada bimbingan dari profesional secara utuh dalam fit journey, melihat keseluruhan sisi hidup dan kegiatan sehari-hari.

Sedangkan untuk Akar Masalah 2, beliau menyampaikan bahwa belum menemukan pola hidup yang sesuai dengan kegiatan sehari-hari dan sesuai kemampuan. Semua pola diharapkan berhasil cepat karenanya harus latihan terlalu keras.

Pada bagian hasil yang tampak beliau menuliskan :
1. Fit Journey Up and Down
2. Emosi tidak stabil karena kelelahan meski badan fit.

Saya agak berhati-hati karena belum banyak pengetahuan saya terkait Fit Journey. Maka setelah membaca jurnal beliau, saya wajib menutrisi wawasan mengenai pola diet yang tepat.

Hingga akhirnya memberanikan diri untuk memberikan umpan balik sebagai berikut :



1. Apa yang sudah baik ?

Niat dan rencana Fit Journey yang dibuat sudah sangat baik, bahkan tercetus sejak masih ada di kelas bunda produktif.

Tujuan fit journey pun luar biasa untuk meningkatkan kualitas hidup pribadi yang pastinya akan berdampak luas pada lingkungan sekitarnya. Utamanya keluarga.



2. Apa yang perlu diperbaiki?

Setelah membaca, mencoba memahami dan melakukan percakapan. Ditambah sedikit pengetahuan yang saya punya. Baik dari yang saya baca dan pengalaman teman-teman yang pernah menjalankan 'diet'. Tampaknya yang bisa saya titip sarankan adalah menambahkan sumber data atau literasi terkait pola diet yang gagal dan yang berhasil. Contohnya karena latar belakang saya mempelajari hipnoterapi maka saya memberikan tautan YouTube Chanel Dewi Hughes. Seorang hipnoterapis yang berkonsentrasi untuk membantu kliennya untuk pola hidup lebih sehat.

Hal ini diharapkan dapat membantu beliau untuk lebih bisa menata pemahaman dan mindset awal penerapan pola yang akan dijalankan nanti, sehingga bisa mencapai target dengan bahagia.

Misalnya, sebelum membuat rencana Fit Journey memahami kembali bahwa diet merupakan suatu proses penyelarasan pola makan. Saat sudah selaras harapannya terbentuk kebiasaan baru, lalu dapat diadaptasi sebagai bagian dari gaya hidup. Layaknya perubahan hidup dari sebelum menikah kemudian menjalani peran kehidupan setelah menikah. Ada langkah-langkah proses penyesuaian.

Sehingga apapun situasi dan kondisi yang sedang terjadi pada saat berikhtiar melakukan Fit Journey tersebut tidak akan bisa mempengaruhi beliau.



3. Apakah Problem Statement akan benar-benar diselesaikan dalam waktu 6 bulan?

Menurut beliau dengan penuh keyakinan sudah ada tahapan yang direncanakan untuk mencapai tujuan 6 bulan kedepan.

Terakhir sebelum menutup tulisan umpan balik ini. Ijinkan saya .eminjam pernyataan DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum, bahwa tidak ada cara yang praktis dan instan untuk hidup lebih sehat. Apalagi berharap kebiasaan baru itu akan menjadi pola yang menetap. Semua harus diawali akal sehat, dimulai dengan benar serta dijalankan secara wajar.

Semoga Allah memberikan kemampuan dan kekuatan kemauan untuk meraih apa yang dicita-citakan oleh beliau dan pastinya saya juga dong. Semangat!! ^_^

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuuh

#umpanbalik1
#Identifikasimasalah
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity

Read More