Puasa Pekan Pertama di Tahap Kepompong

Minggu, 29 Maret 2020



Sempat bingung menentukan mau puasa apa di pekan pertama ini? Berbagai pilihan ada dalam pikiran ya bagaimana lagi banyak hal yang ingin dibenahi. Sekian lama galau akhirnya dengan sadar memutuskan. Ada perasaan bahwa tugas puasa di kelas kepompong ini terhubung dengan rutinitas atau siklus tahunan pribadi saya. Apa itu ?
.
Entah lah sejak kapan hal ini akhirnya berulang tiap tahunnya, bahkan ketika hidup ini tidak ada turbulensi. Ingatan hanya mencatat kegiatan ini semakin rutin ketika menjadi mahasiswa. Semakin sadar dan semakin membutuhkannya sebagai ruang detoksifikasi. Ah, apaan sih?
.
"Puasa" tahunan itu biasa aku sebut time capsule, berkhalwat, kontemplasi, masuk goa atau apa saja yang kurang lebih hampir sama dengan makna menyepi. Kisaran waktunya paling cepat 1 bulan dan maksimal 3 bulan. Selama kurun waktu itu aku membatasi kontak dengan dunia luar. Hanya keluarga inti saja yang bisa menghubungiku. Itu pun dengan catatan benar-benar mendesak. Tadinya keluarga agak sulit memahami tapi setelah dijelaskan mengapa itu harus dilakukan. Akhirnya semuanya mengerti.
Jika dulu tiap "puasa" saya hanya akan menyalakan gawai di hari-hari tertentu. Maka di jaman teknologi global ini, aku bisa berbeda-beda memakai metode bergantung dari situasi, kondisi juga kepelikan pikiran dan perasaan yang sedang melingkupiku.
Terakhir kali aku melakukannya dengan totalitas sekitar 2 tahun lalu menjelang akhir tahun masehi. Saat itu aku memutuskan berinisiatif membuat peta pikiran misi keluarga. Mengisi alur peta harus mengkolaborasikan ide, harapan, impianku dan suami. Maka tidak boleh gegabah karena banyak pertanyaan yang berkeliaran, bergerak terus secara acak jika tak segera diikat tentu hanya akan jadi angan belaka.
Akhir tahun lalu sejujurnya sudah mulai membatasi diri dari keriuhan dunia luar. Ada keputusan besar yang harus aku ambil tahun 2019 demi cetak biru misi keluarga (KITA) tahun ini dan insya Allah seterusnya.
Selain itu fakta kefanaan yang melelahkan selalu membuatku ingin bersegera lari ke dalam goa agar dapat berpikir terang dan merasa tenang. Fitrah bakat empatiku yang menduduki ring pertama memang harus diurus lebih dulu.
Intinya jika ingin hal lain berhasil, selesaikan "badai" pertanyaan menuju keputusan berkesadaran. Hal ini makin aku sadari saat seorang coach di sebuah workshop ku ikuti memberi sebuah nasihatnya yang kurang lebih pemahamannya tak jauh beda. Ternyata selama ini apa yang aku pelajari dan lakukan untuk diriku memang sudah tepat.
Nah sayangnya akhir tahun lalu hingga saat ini sama sekali tidak memungkinkan untuk "puasa" total. Ada banyak tugas serta tanggung jawab yang menuntutku untuk tetap terjaga. Mau tak mau harus mengganti teknik puasaku, karena masuk awal tahun ini ternyata banyak sekali penambahan penyesuaian. Kemampuan adaptasi sekaligus coping sedang diuji dari segala sisi. Semesta sedang berkonspirasi untuk mengembalikan, mengingatkanku tentang janji yang pernah ku ucapkan di tanah suci. Komitmen untuk semakin bersungguh-sungguh (betah) menjalani peran di dalam rumah. Mirip lah seperti yang pernah pak Dodik Maryanto sampaikan, bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu.
Selama ini sudah (merasa) berusaha untuk melakukan hal yang terbaik sebagai pasangan. Namun, ternyata semakin banyak aku gali dari sisi suami agar mau mengutarakan isi hati dan pikiran yang sesungguhnya tentang semua yang aku lakukan. Ternyata masBo tercinta tampaknya lebih menyukai diriku "yang sedikit lebih antheng", nggak pakai acara debat (baca: taat), dan ini nih gong-nya diminta untuk meninjau kembali kegiatan-kegiatanku meskipun memang sejak resign sudah sangat mengurangi kegiatan ternyata "hutang jamnya" masih sama saja.  Permintaan yang wajar sebetulnya, mengingat waktu bersama kami cenderung terbatas. Meski tidak menjalani Long Distance Marriage tapi bisa duduk berbincang dengan santai sungguh bukan perkara mudah. Sebagai jurnalis tentu saja tak ada patokan baku jam kerja sehingga waktu luang bebas merupakan hadiah yang tak ternilai.
Singkat cerita keputusannya adalah puasa bermedia sosial atau tepat membatasi media sosial yang berpotensi mentransfer energi negatif. Apalagi di tengah situasi dan kondisi saat ini, semakin marak berita disinformasi dan hoax yang justru malah menyebarkan rasa khawatir. Menjaga kewarasan dan kesehatan mental juga langkah yang perlu diutamakan. Facebook merupakan salah satu aplikasi yang sudah sejak lama ku berpuasa darinya. Tak perlu dijelaskan mengapa, tapi jika tidak dengan alasan yang sangat penting aplikasi ini tidak pernah dengan sengaja ku aktifkan. Menjaga agar tidak disalahgunakan oleh oknum, akun Facebook tetap dikoneksikan dengan aplikasi lain. Contohnya Instagram.
Selain Facebook aplikasi lainnya adalah WhatsApp messenger. Nggak mudah saat mengambil langkah ini, hampir semua jenis orang jaman now menggunakan aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi. Bahkan tak sekedar berkomunikasi tapi juga pembelajaran, kuliah daring, pertemuan alias rapat virtual sampai jualan online.
Meski berat tapi harus berani ku ambil untuk lebih fokus pada apa yang sedang ingin diraih saat ini. Perbedaan teknis berpuasa media sosial Facebook dan WhatsApp ada pada durasi waktu penggunaan aplikasi ini.
WhatsApp dalam sehari saya cukupkan mengakses maksimal 3 kali dengan durasi, maksimal tiap kali kandang waktu itu paling lama 2 jam. Namun bisa jadi disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jika memang diperlukan dan suami tercinta tidak berkeberatan. Bagaimana denhan Facebook? Aplikasi ini akan diakses hanya saat dibutuhkan misalnya terkait pembelajaran penyampaian materi Bunda Cekatan. Menyiasati tidak tertinggal informasi terkait kelas pembelajaran yang menggunakan media sosial ini, sebisanya aktif bertanya kepada teman sesama mahasiswi Buncek.
Selama puasa pekan pertama ini, maka semakin sering meluangkan waktu untuk mencari informasi positif yang menunjang target dalam mind map. Salah satu langkah awal di hari pertama adalah membuka lagi hadiah saat di kelas ulat. Cemilan yang diberikan saudariku Selvi tentang Manajemen Waktu. Beliau yang berada di keluarga inti Uluwatu berbaik hati memberikan rangkuman diskusi keluarganya.

Materi yang sejujurnya sangat aku butuhkan, meski tidak diletakkan pada tangga pertama langkah dalam peta pikiran. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas hadiah yang jujur tak terduga kala itu. Semoga Allah Ta'alla selalu merahmati beliau dengan keberkahan dan kebaikan.
Melalui rangkuman itu semakin sadar untuk terus memantau aktivitas pribadi agar nggak cuma asal sibuk tapi gagal produktif. Perlu menentukan prioritas, mengidentifikasi aktivitas agar bisa membuat skala prioritas, lalu agar bisa fokus kita perlu mengkategorikannya dalam matriks. Setelah melakukan itu semua untuk membantu mengobservasi langkah keberhasilan, kita perlu membuat jadwal. Macam jadwal tersebut antara lain bisa berupa Bullet Jurnal, Podomoro atau Kandang Waktu.
Selanjutnya dihari berikutnya berturut-turut lebih banyak memilih menonton tayangan bergizi via YouTube. Sekali lagi nggak selalu berhasil sekali duduk untuk bisa menyelesaikannya. Tetap memegang peta untuk menentukan target pribadi. Tiap hari harus ada satu informasi positif yang dikonsumsi dam harus sesuai kebutuhan.

Berikut perjalanan puasaku, silahkan jika ingin mengikuti menu tirakatnya :
Hari kedua : Menyimpan empon-empon
Suka sebel karena merasa sudah benar cara simpannya sesuai arahan beberapa orang tetap saja bumbu dapur ini cepat sekali busuk. Padahal tahu sendiri kan ya empon-empon sedang naik daun. Warga tanah negeri ini sedang belajar untuk "kembali" pada warisan leluhurnya yang sekian lama jadi "saudara tiri" dunia medis modern. Mau ikutan belajar? Sila lihat sendiri di sini atau di sini.
Hari ketiga : Mengelola Sampah Rumah Tangga
Yuhuuu, meski belum ada digambar dalam mind map Sustainable Living merupakan salah satu goals dalam hidupku. Jadi informasi tentang pengelolaan sampah rumah tangga yang sederhana perlu juga untuk dipelajari. Mau barengan lihat? Yuk merapat ke sini.
Hari keempat : Tips Menulis Naskah
Kalau yang ini memang ilmu yang juga sedang berusaha terus ditambah nutrisinya, selain  ilmu Public Speaking. Mari kepoin bersama di sini.

Hari kelima : Tentang Covid-19
Fakta-fakta baru tiap hari hilir mudik jika semua informasi tak ada yang ditangguhkan, apa yang terjadi? Tentu saja otak bakal penuh. Tapi memahami wabah Covid-19 ini juga perlu ilmu selain iman. 
Hari Keenam Sayur Lodeh # 1 (Tentang Rasullullah)
Situasi dunia yang sedang terkena wabah global, membuat dua masjid di tanah haram terdampak. Jamaah umroh sepi karena ada pembatasan kunjungan. Banyak hamba-Nya yang merindu tanah suci, termasuk pada panutanku Rasulullah. Akhirnya memutuskan menemukan tayangan ini.
Hari ketujuh Sayur Lodeh #2 (Ilmu Tajwid)
Belajar membenahi semuanya termasuk baca Al Qur'an dengan benar. Setidaknya ada upaya untuk belajar memperbaiki bukan? Mau ikutan nonton di sini ?
Begitu lah BeIbuns celotehan soal jurnal puasa minggu pertamaku. Maafkan diri ini jika terbacanya seperti curahan hati ya mungkin memang sednga butuh bocor kali ya? So, dimaklumi yaah ha ha ha...bukan kah writing for healing
Semoga selama 30 hari ke depan atau 3 pekan berikutnya semua ikhtiar lancar, aman terkendali.
Stay healthy and safe, dear...
Read More

30 Hari Kepompong Mencari Cinta : Hari 1

Selasa, 24 Maret 2020

Memasuki dunia kepompong, menantang diri selama 30 hari ke depan. Sedikit berbeda dari tahapan sebelumnya yang lebih fokus ke mengasah kemampuan Public Speaking dan juga Innerchild. Sekarang memutuskan untuk mengejar tantangan lainnya yang juga harus segera dieksekusi. Terkait dengan dunia kepenulisan atau literasi.

Sejak lama sudah ingin saya lakukan tapi masih saja luput dari "perawatan" yang benar he he. Penulis yang enggan membaca atau tak memaksakan diri sempat membaca merupakan penulis ompong. Kedua hal tersebut tak bisa dipisahkan. Oleh karenanya sebagai orang yang telah memberanikan diri menyebut dirinya penulis, maka saya harus bertanggungjawab atas impian itu. Saya harus lebih banyak melahap buku-buku untuk membuka wawasan dan menemukan gagasan baru yang akan saya tulis nantinya. Lebih banyak jenis buku dan referensi juga akan membantu saya menemukan gaya menulis yang khas.

Selama 30 hari ke depan salah satu tantangan yang ingin saya taklukkan adalah konsistensi membaca buku. Satu buku per Minggu, syukur bisa lebih.

Hari ini masih memilah dan menentukan judul buku mana saja yang harus diselesaikan. Target minimal mampu menyerap dan selesai membaca 4 buku, syukur bisa lebih dari itu. Termasuk salah satunya adalah skripsi saya. Bukan tanpa sebab kenapa skripsi jadi target bahan bacaan juga. Hal ini karena saya harus membaca ulang dan menuliskannya kembali dengan bahasa populer untuk kepentingan proyek menulis buku bunga rampai yang dihelat langsung oleh dosen pembimbing saya. Sempat tertunda ribuan purnama semoga tahun ini bisa terselesaikan dengan hasil akhir yang indah.

Mungkin nanti di pertengahan jalan sebelum 30 hari akan ada hal lain yang ada di mind map yang ingin saya asah dan kuasai. Namun, sementara ini target pribadi selama kurang lebih sebulan akan mengalokasikan waktu khusus untuk membaca. Waktu yang terpikirkan saat ini dan paling efektif sesuai jam biologis tubuh saya adalah selepas subuh (sekalian upaya untuk menahan godaan tidur lagi pasca sholat subuh he he)

Doakan ya kawans... BeiBuns semua... wish me luck..!

#tantangan30hari
#kelaskepompong
#bundacekatan
#institutibuprofesional




Read More

Refleksi Diri : Menguji Nyali dan Meraih Kesadaran Diri ( Jurnal Minggu Ke-7 Bunda Cekatan Batch 1)

Selasa, 03 Maret 2020


Aih, sudah jurnal minggu ke-7 saatnya merebahkan badan sejenak dan membongkar ranselnya. Si Ulil butuh rehat agar tetap sehat di hutan pengetahuan yang lebat, jangan sampai tersesat! Perjalanan telah ditempuh sekian lama dan senantiasa menyisakan cerita hebat.

Si Ulil ini menyadari membongkar diri sendiri atau mau mengakui potensi kekuatan dan kelemahan diri bukan perkara mudah. Butuh nyali untuk merefleksikan diri, alih-alih pembenahan diri malah mengajukan pembenaran atas apa yang sudah kita lakukan. Tantangan itu yang kerap kali muncul memang harus hati-hati.

Mulai lah Ulil membuka lagi peta yang telah dibuatnya di awal perjalanan. Menyegarkan ingatan dan menemukan kembali tujuan awal petualangan. Ulil lega ternyata selama ini ia masih pada titik-titik destinasi yang telah ditentukannya. Meski sesekali harus berteduh dan mencari suasana baru Ulil tetap fokus pada tujuannya.

Makanan utama di Public Speaking tak pernah kekurangan bahkan terus bertambah karena beberapa teman baru yang ia jumpai memberikannya hadiah impiannya. Cemilan tak banyak ia bawa karena ranselnya sudah nyaris penuh sesak. Ya, Ulil ini memang tidak mudah fokus pada banyak hal semua berdasarkan prioritas. Sebab, jika ia menuruti keinginannya untuk melakukan semua hal bisa pusing sendiri karena hasilnya bisa jadi tak sesuai skala harapannya.

Makanan utama yang Ulil dapatkan selain dari keluarga utamanya di Public Speaking, yaitu Innerchild, Manajemen waktu, Literasi dan Fotograf/Videografi. Masing-masing didapatkan dari hadiah dan melihat dari Go Live. Meski nggak selalu tuntas melihat dari awal hingga akhir dalam satu waktu, Ulil berusaha berkali-kali mengunjungi dan mengunyah lumat makanannya dengan baik. Maklum saja rentang konsentrasi sudah sangat berbeda bagi Ulil saat ini hi hi hi... 

Cemilan yang menarik perhatian Ulil adalah Developer Caterpillar, Seni Olahraga dan Herbal, Sustainable Living. Mengapa? Sebab tema ini bagi Ulil menarik tapi belum menjadi prioritas utama saat ini. Dikerjakan tapi sambil melakukan hal lainnya.

Lalu apa refleksi belajar si Ulil selama ini?

Pertama, Ulil merasa sudah mendapatkan makanan utama yang ia cari dalam keluarga Getar Suara (Public Speaking) Kedua, Ulil lebih besar mendapatkan makanan utama ketimbang cemilan karena sedari awal ia berusaha benar untuk menerapkan mindset 'Mindfulness' saat berpetualang dalam rimba pengetahuan. Ketiga, banyak pengetahuan dan wawasan baru yang lebih membahagiakannya adalah mendapatkan pengalaman dari banyak perspektif yang dibagikan teman-teman barunya. Keempat, tentunya belajar dengan merdeka itu yang strategi paling membahagiakan. Memerdekakan bahagia dalam belajar, saling berbagi ilmu, saling menjadi guru sekaligus juga murid. Tentunya kemerdekaan yang tetap mengedepankan tanggung jawab serta kesadaran, bukan kebahagiaan semu yang kebablasan. Kelima, jika ada yang ingin diperbaiki Ulil ini adalah kemampuan mengatur waktu serta paling utama adalah segera mengaplikasikannya alias DOING alias beraksi. Kalau terlalu lama mengendap ilmu yang sudah dikumpulkan ini tentu bisa saja satu saat menguap tanpa sempat jadi manfaat.

Begitu kisah si Ulil ini di jurnal Minggu ke tujuhnya, perjalanan dan petualangannya belum berakhir. Apakah ia akan berhasil menjelma menjadi kupu-kupu yang menawan pada akhirnya atau .... Ah sudah lah mari berharap, berusaha dan berpikir yang terbaik saja.

Read More

Enam Kado Istimewa dari Belahan Jiwa : Jurnal Ke-6 Bunda Cekatan Batch 1

Selasa, 25 Februari 2020


Pekan ini keseruan tentu saja bertambah, mendebarkan mungkin seperti itu kalau diterjemahkan pakai aksara. Ibarat sedang menemukan belahan jiwa, kepada siapa ruh cinta ini terpaut...eaaa.


Tantangan kali ini adalah berbagi kebahagiaan dengan memberikan hadiah kepada teman-teman terpilih. Hadiah yang bisa meningkatkan semangat dan kebahagiaan kita dan juga mereka.


Bukan bermaksud berlebihan tapi saya selalu menyakinkan diri bahwa kita akan selalu didekatkan pada apa saja yang sefrekuensi. Nggak pernah salah gaul deh. Semestakung begitu orang-orang bilang. Benang merah yang tak tampak itu nyata mengaitkan jiwa-jiwa yang mencari pautannya.


Sejak dongeng disampaikan ibu Septi malam itu, terbayang sudah dua nama yang akan terpilih untuk menerima kado cinta dari saya. Satu nama muncul belakangan. Saya pikir mau belanja ide dulu untuk meramu hadiah sederhana untuk saudari ideologis baruku.

Eh, qadarallah sekali lagi semestakung. Dua nama yang terlintas dalam benak itu justru malah mengirimkan kadonya terlebih dahulu. Nggak bisa menahan senyuman karena bahagia sekaligus takjub. Ajaib! Nama ketiga yang muncul pun juga nggak disangka sama seperti cerita sebelumnya. Dipikirkan dan beliau yang malah mengirimkan kadonya.

Saya pikir cukup tiga saja atau maksimal lima sampai enam teman baru yang akan diberikan hadiah. Mereka yang saya rasakan lumayan intens dan hangat obrolannya. Puji syukur hampir semua orang yang saya maksud dalam benak bisa saling berbalasan hadiah, kemudian ditambah dua orang lainnya yang secara pribadi saya kirim kudapan kesukaannya. Seperti bunda Diyah dari IP Jepara obrolan kami tersambung kembali karena beliau bertanya tentang keluarga Getar Suara. Lalu, karena beliau berasal dari keluarga parenting saya tawarkan kado sederhana. Alhamdulillah beliau menyukainya. 

Sama halnya dengan cerita bunda Eka Rizki dari Tangerang Kota, beliau juga menyampaikan kebahagiaan yang sama. Baru sengaja dikirim di saat terakhir karena sewaktu saya lihat statusnya beliau sedang safar bersama para punggawa bisnisnya keluar kota. Kado sederhana yang saya tahan beberapa waktu itu tentang Public Speaking for Business. 

Saya memang kagum dengan semangat bisnis beliau seperti yang pernah saya ceritakan pekan lalu, hingga akhirnya hadiah kecil itu terbesit untuk diberikan. Berharap tanah sederhana ini mampu menambahkan semangat memberdayakan lingkungan sekitarnya. 

Mau tahu apa saja hadiah yang saya dapatkan? Nah, simak ya cerita tentang keenam hadiah luar biasa yang saya terima. Saya tulis sesuai dengan urutan serah terima hadiah.

1. Bunda Lathifa-KalSel (Parenting)


Beliau yang pertama kali mengirimkan cemilan untuk membantu saya belajar lebih percaya diri dan serius belajar Public Speaking. Kami akhirnya bertukar kado karena beliau memang salah satu orang yang terbersit ialah beliau.
Saya kirimkan beberapa video tentang Parenting Nabawiyah dan tulisan saya terkait Parenting atau Innerchild.

2. Bunda Enggar Swan-Jember (Ratu Dapur/Cooking)


Beliau mengirimkan sebuah hadiah berisi
PDF berisi 16 halaman tentang Teknik Public Speaking sebagai hadiah. Wah, ini keren banget karena ilmunya bernutrisi tinggi. Sebagai tanda cinta saya kirimkan hadiah tentang food preparation yang kadang saya tonton tapi tidak untuk sering dipraktekkan. Dapur salah satu tempat spesial tapi bukan tempat ternyaman untuk berlama-lama di sana...he he he...

3. Bunda Laila Makmunah-Jepara (Manajemen Marah)


Beliau mengirimkan saya hadiah melalu rekaman suaranya. Rupanya ini Potluck pertama yang pernah dikirimkan untuk jadi cemilan. Temanya tentang 'Mengelola Sampah dengan 5R'. Sungguh di luar dugaan Allah Ta'alla memang Maha asyik dengan segala rencana-Nya. Informasi ini memang sedang saya butuhkan terkait proyek sosial yang sedang dalam ancang-ancang diwujudkan. Bismillahirrahmanirrahim Bi'idznillah. Mungkin ini sekali lagi yang disebut semestakung. Kita akan di dekatkan atau di jauhkan untuk mendukung semua kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan kemampuan peranan kita.

Hadiah yang sudah saya persiapkan untuk beliau merupakan cemilan favorit di keluarga besarnya. Sebuah tips sederhana untuk mengelola emosi  dan rasa marah (Smart Happiness). Senangnya lagi bunda Laila malah memberikan sebuah pertanyaan sekaligus request yang lama nian tertunda. In syaAllah ya Bun akan segera dieksekusi tulisannya...Ganbatte!

4. Bunda Febrin Aisyah-KalSel (Parenting)


Kalau bunda satu ini sebenarnya teman lama yang dipertemukan dalam dunia Parenting dan Talent Mapping. Kami sering terlibat diskusi terkait "kerinduan" tentang impian dunia pendidikan, psikologi dan juga hal lain tentunya. 

Meski secara fisik baru sekali bertemu, rasanya ada saja obrolan yang bisa kami sambungkan terkait hal yang saya sebutkan sebelumnya. "Sejarah" menyatukan kami he he he (apaan sih!).

Bunda Febrin mengirimkan hadiah terkait Innerchild yang diramunya sendiri. Bagi saya ini sebuah kehormatan bisa mencicipi hasil olahan beliau sendiri. Temanya pun unik yaitu 'Mendidik Tanpa Trauma Masa Lalu' dan sekali lagi ada kekuatan yang menggerakkan tema ini ke hadapan saya. Ya saat ini memang saya juga sedang fokus ke tema ini (Innerchild) selain menambah terus  wawasan serta kemampuan tentang  Public Speaking.

Kado artikel sederhana ala saya terkait parenting dan innerchild yang pernah saya ramu di blog pun saya kirimkan ke beliau. Semoga saja suatu saat entah kapan itu tulisan tersebut bisa memetik buah manfaat.

5. Bunda Yessi-KalSel (Innerchild)


Masih dari Kalimantan Selatan nih beliau menyapa terlebih dahulu dan terharu kado yang dibungkus cantik dikirimkan kepada saya. 



Sebuah video mengenai ilmu Public Speaking yang disampaikan oleh Pandji Pragiwaksono. Cemilan wajib para pembelajar ilmu per-Public Speaking-an. Cocok dan renyah banget untuk dinikmati. Silahkan yang mau ikut belajar bisa intip di sini.

6. Bunda Murni-Gresik (Manajer Marah)


Hadiah yang baru saja matang dikirim dari Gresik, sungguh saya nggak pernah menduga menerimanya. Sebuah link video tentang Public Speaking yang sebelumnya disajikan di acara IP regional Gresik. Kebetulan? Tentu saja tidak! Tidak ada daun jatuh yang tanpa ijin dan sepengetahuan-Nya.

Tidak banyak yang mampu saya bagi, hanya kado sederhana yang memang ada di almari literasi dan diracik dan dibagikan dengan cinta.


Selalu seru bukan cerita tiap pekannya? Camping ground yang membuat ransel saya semakin penuh dengan kebahagiaan.

Bagaimana denganmu kawan? Masih kah bahagiamu tertawan? Semoga kita semua dimampukan untuk mendekatkan diri pada hal-hal baik dan penuh kemanfaatan.



Read More

Jurnal Ke-5 Bunda Cekatan Batch 1 : Mari Berkemah denganku!

Selasa, 18 Februari 2020

Perjalanan si Ulil memang selalu luar biasa. Berawal dari menyusun langkah lalu tak lupa selalu memegang peta agar tak tersesat saat berpetualang. Kini saatnya si Ulil bertemu Kak Peni yang mengajaknya singgah sebentar untuk beristirahat di bumi perkemahannya. Tak menyangka selama beberapa hari tinggal, Kak Peni juga begitu ingin mendengar kisah perjalanannya. Siapa, apa saja dan bagaimana perasaannya dan juga teman-teman yang ia temui saat ia melintasi belantara?

Awalnya memang gamang harus dengan cara apa Ulil berkenalan dengan 1700-an teman barunya. Meskipun bakat WOO ada ditengah urutan bakat dominan lainnya. Si Ulil tetap tipe yang mudah bergaul tapi lebih suka komunikasi yang intens, ada, dekat dan hangat.

Mengikuti jejak beberapa teman, mulailah menyebarkan sedikit promosi diri. Meninggalkan link personal chat ke WhatsApp, sambil secara acak dan sedikit berbumbu intuitif memilih beberapa teman untuk disapa. Alhamdulillah ada yang merespon dengan hangat ada pula yang hanya dibaca saja. Baik lah mungkin begitu lah jodoh bekerja, unik!

Tak berapa lama setelah narasi tentang diri diunggah di kolom komentar. Beberapa pesan pribadi masuk. Ada yang to the poin   menyodorkan isian, ada banyak pula yang menyapa dan kemudian komunikasi berlanjut dengan bahasa yang lebih cair. Alhamdulillah sampai hari ini terhitung ada 18 teman baru yang berasal dari segala penjuru.


Ternyata betul memang seperti yang selama ini diyakini bahwa sesuatu akan bergerak menuju arah yang sama frekuensinya. Semesta seolah mendukung serta menuntun untuk menemukan jalan apa yang harus dimantapkan untuk ditempuh. Tak pernah menyangka dari ke 18 teman baru, nyaris separuh dari keluarga besar manajemen emosi. Bukan hal yang mengherankan sebetulnya karena keluarga ini memang luar biasa besar jumlahnya.


Bayangkan saja keriuhan 400 anggota keluarga berkumpul, amazing! Ajaibnya adalah sub atau keluarga kecil yang mereka ikuti, kesemuanya hampir rata mengambil tema innerchild dan manajemen marah. Satu topik yang sangat ingin ditambahkan ilmunya. Sebuah perencanaan indah dari Yang Maha Keren bahwasanya minggu itu pula saya sedang mempersiapkan ikut workshop di Jogja terkait topik tersebut. Kebetulan? Tentu saja bukan...tak ada kebetulan di dunia ini karena semua terjadi atas ijin-Nya.

Jika ditanya siapakah yang paling berkesan? Hampir keseluruhan memberikan cerita yang berwarna-warni jadi dilema memang kalau suruh memilih.  Meski ada juga yang dengan gayanya singkat, padat dan berakhir mampat...he he he. Namun ada pula yang saling bertukar cerita panjang sampai menggunakan voice note untuk bercerita. Baiklah lima ulat terpilih adalah :

1. Bunda Anik Dwi Hariyani

Perjalanan percakapan dengan beliau diawali dari Direct Message Instagram. Baru saling berbalas tengah malam karena sedang jarang menengok media sosial satu ini. Percakapan kami pindah ke WhatsApp, bercerita banyak hal, berkembang topik-topik lainnya. Beliau bahagia berada di keluarga SeniOR KeBal utamanya di kelas makanan dan kesehatan karena memang sesuai dengan mind mapping yang ingin belajar pola makanan sehat. Di antara yang lain percakapan dengan bunda asal Gresik ini memang yang paling panjang dan intens, sampai saling berdoa semoga bisa kopdar satu saat nanti. Aamiin. Semoga berjodoh dan silaturahminya berjalan langgeng ya, Bun....

2. Bunda Murni

Wah, bertukar cerita dengan beliau membuat ingin memberikan tepuk tangan dan pelukan. Perjuangannya begitu mengesankan untuk bisa mendampingi permata hatinya keluar dari jeratan trauma. Alih-alih ingin menuntas 'masalah' ananda justru malah ketemu penyebab lainnya. Tak lain adalah pribadi orang tuanya.. Oleh karena itu saat memilih berada dikeluarga favoritnya yaitu manajemen emosi utamanya di kelas manajemen marah. Beliau merasa sangat bahagia karena bisa belajar menemani keluarga dengan perasaan bahagia pula.

3. Bunda Eka Rizki

Sejak melihat beliau tampil di Go live dengan banyak statement yang bikin menandai pakai bintang beberapa kalimatnya. Waktu melihat itu cuma bergumam dalam hati, "Ih keren, tangguh dan mulai sekali tujuannya". Eh nggak menyangka beliau mencolek lebih dahulu. Sungguh luar biasa ditengah kesibukannya sebagai founder, pemimpin, pemilik bisnis yang idenya asli kreatif banget beliau masih menyempatkan diri untuk selalu saling bertukar informasi dan inspirasi. Secara personal ada kata beliau yang begitu berkesan. Kurang lebih begini, "(Berasal) dari The power of kepepet mb.ak Tapi memang dari dulu suka berkarya. Alhamdulillah karya diterima plus nambahin penghasilan bahkan bisa memberdayakan sekitar. Impian  banget. Masyaa Allah."
Ini sebuah ungkapan yang super, sebuah inspirasi dan insight berharga untukku. Berdaya dan memberdayakan sesuai kapasitas peran kita masing-masing. Tidak ada yang lebih indah dari itu. Coba deh yang kepo sama usahanya silahkan dicari ya.

4. Bunda Enggar Swan

Berasal dari IP Jember Raya, bergabung di Ratu Dapur khususnya di teknik memasak cepat dan bergizi serta food preparation. Wah ini topik ilmu yang sangat dibutuhkan juga sebenarnya. Apalagi kalau virus 'mager' datang memberikan ujian, jurus cepat saji dan bergizi seperti ini perlu banget untuk dipelajari.


5. Bunda Susan

Berasal dari IP Bandung, memasuki keluarga emosi utamanya kelas inside out atau pengkhususan topik inner child. Menurutnya benefit berada di keluarga ini cukup besar, ilmunya bertebaran. Permasalahannya kita harus terus CEU KOKOM alias Konsisten dan Komitmen, begitu ujarnya. 

Read More

Women Empowerment for Social Sustainability

Senin, 17 Februari 2020


Sengaja tema habituasi minggu ini saya pakai mentah-mentah sebagai judul. Perempuan memang didesain Maha Pencipta begitu luar biasa. Makhluk serba bisa. Multitalenta. Multitasking. Tidak berlebihan ungkapan ini, kemampuan otaknya berpikir dan potensial kekuatan yang tersimpan dalam kelembutan seorang perempuan mampu memberi energi positif yang kadang tak terbayangkan. Begitu juga sebaliknya.

Minggu ini ada tiga hal yang harus kami renungkan dan ikat maknanya. 

1. Apa yang sudah dan akan saya lakukan untuk mengubah pola kehidupan yang terkait social sustainability

2. Mengidentifikasi perilaku sosial masyarakat di daerah sekitar terkait perilaku social sustainability

3. Apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik?

Terkait dengan perilaku social sustainability atau pola hidup yang berkelanjutan alhamdulillah sudah sejak lama saya lakukan meski masih ditingkatkan minimal. Mama adalah guru pertama saya untuk bijak mengelola barang atau sampah utamanya plastik. Jauh sebelum ada himbauan dan jargon 'Go Green'.

Beliau memberikan contoh bagaimana menggunakan plastik yang masih bersih sekiranya masih bisa dipakai lagi dikumpulkan disuatu tempat untuk kami gunakan lagi. Tidak mudah membuang ke tong sampah. Begitu juga dengan dus, dirapikan di satu wadah untuk dipakai lagi satu saat kami butuh.

Penggunaan air juga begitu, mama nggak lelah mengingatkan jika air bekas wudhu baiknya ditampung. Hasil tampungan bisa dipakai untuk menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Jadi tidak banyak yang mubazir. Belajar menghargai air dan mengingat bagaimana perjuangan orang-orang yang kesulitan mendapatkannya. Sebagai anak sulung pengalaman tentang kesulitan air jadi sangat spesial, sebab saya pernah ikut merasakan kenikmatan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari. Saya semakin bisa menghayati apa yang beliau ajarkan itu, sehingga ketika sudah menikah pola ini masih terus saya lakukan.

Wadah bekas cat tembok untuk tempat penampungan air wudhu

Urusan memasak saya juga mendapatkan warisan nasihat dari beliau. Jika memasak sesuatu pancinya ditutup agar lebih cepat matang supaya hemat gas dan waktu juga. Lalu, untuk memasak yang sekiranya membutuhkan waktu lama beliau juga memberi saran untuk menggunakan pressure cooker

Ah ya setiap kali pergi belanja atau kemana saja saya pergi saya berusaha membawa tas belanja sendiri. Setiap ransel atau tas apapun yang akan saya bawa pergi biasanya sudah tersedia di dalamnya tas belanja besar dan kecil. Awalnya saya dianggap aneh dan sok karena menolak plastik dan lebih pilih pakai wadah sendiri tapi menurut saya pribadi ini keren jadi buat apa pusing. Keren bukan karena sol jagoan tapi merasa beruntung sudah mendapatkan ilmu bagaimana dampak jika kita tidak bijak pada limbah kita sendiri. Toh bakal akan berpulang ke kita lagi. Rantai makanan dan rantai kehidupan itu berlaku kekal. Misal plastik dibuang ke sungai hanyut terbawa sampai laut, plastik termakan ikan terus ikan terjaring nelayan, dan dikonsumsi manusia. Efeknya bisa jadi penyakit macam-macam yang membahayakan manusia. Kalau sudah begitu mau menunjuk siapa lagi yang paling bersalah?

Lampu di rumah juga sudah menggunakan LED semua, selain cahaya jauh lebih nyaman di mata. Tagihan listrik bulanannya pun aman. Lampu hanya dinyalakan di tempat utama dan yang ada aktifitas, sisanya saya matikan.

Berkaitan dengan lingkungan yang paling jadi perhatian saya adalah pengelolaan sampah. Lalu, empat tahun lalu saya berusaha untuk menyampaikan kepada Ketua RT di komplek perumahan saya waktu itu. Ide itu disambut dan disambungkan kepada warga. Alhamdulillah diupayakan untuk dicoba. Awalnya berupa tabungan yang setahun sekali ditukarkan sembako atau alat rumah tangga senilai tabungan rosok (sampah) tersebut. Meski ya memang tidak semua memiliki antusiasme yang sama. Berjalannya waktu ada beberapa perubahan yang disepakati. Usulan untuk semua rosok dikumpulkan bukan lagi atas nama pribadi, melainkan tabungan donasi rosok. Peruntukannya waktu itu untuk menambahkan biaya piknik RT per tiga tahunan atau ketika pergantian Ketua RT baru. Saat ini donasi tersebut masih berlanjut. Uang dikelola untuk dimasukkan kas dan disalurkan kepada warga RT yang membutuhkan tanpa bunga. Atau jika RT sedang membutuhkan barang inventaris maka diambilkan dari dana tersebut. Misal paling baru adalah untuk tambahan dana pembelian dan pemasangan CCTV di komplek RT. Kami bekerjasama dengan tukang rosok langganan yang datang untuk memilah dan menimbang sampah yang sudah dikumpulkan itu. Mungkin harapannya di masa yang akan datang bisa bekerjasama dengan lembaga tertentu untuk mengedukasi tentang jenis-jenis sampah yang bisa didaur ulang. Bila saja pemahaman warga tentang sampah terbuka mengenai keuntungan bijak mengelola sampah dan kerugiannya. Saya yakin mungkin akan tumbuh skema kesadaran baru yang lebih peduli pada lingkungan (bumi).

Penimbangan Tabungan Sampah_Dokpri 2017

Langkah terbaru yang saya upayakan adalah usulan mengelola jelantah. Beberapa tahun lalu saya pernah mengetahui bahwa minyak goreng bekas dapat dijadikan bio diesel. Tapi waktu itu kalau tidak salah baru ada di Yogyakarta. Akhirnya saya hanya masukkan ke botol atau plastik untuk dibuang ke tempat sampah dan diangkut ke TPA (tentu dengan perasaan bersalah). Sambil berusaha mencari informasi kepada teman-teman. Alhamdulillah akhir tahun saya mendapatkan informasinya, kemudian saya beranikan diri kembali mengusungnya ke forum Dawis. Ya, saya coba ke lingkup yang lebih kecil dahulu jika sudah selesai memberikan bukti, baru melangkah ke lingkaran yang lebih besar.

Tabungan Jelantah

Sekali lagi dengan narasi yang sederhana alhamdulillah usulan saya diterima dan mulai bergerak sejak akhir November tahun lalu. Meski sekali lagi tidak semua dalam frekuensi antusias yang sama tapi yang terpenting sebagian besar telah mengambil peran. Konsepnya hampir sama kerelaan, jadi jelantah ini gerakan donasi untuk jadi tabungan yang bisa untuk menambahkan tabungan yang dikelola untuk dijadikan simpan pinjam. Sejauh ini meski tertatih karena dari 15 KK yang skala memasaknya adalah rumah tangga kecil. Maka pengumpulannya pun tidak secepat jika masak partai besar tiap hari. Kami tetap bersyukur sebab kini sudah ada terkumpul hampir satu jerigen dengan volume isi kurang lebih 18 liter. Jika sudah penuh pengepul yang telah bekerjasama dengan kami akan datang untuk mengambilnya.

Masih banyak sebenarnya impian terkait isu sampah yang ingin disampaikan kepada warga sebagai bentuk edukasi. Namun, membaca situasi dan kebutuhan warga tentu perlahan saya akan tetap mengupayakan edukasi kepada tetangga sekitar untuk lebih bijak mengelola sampah. Minimal memisahkannya yang organik dan anorganik. Bahwa sampah kita tidak hanya selesai ketika sudah dibawa ke TPA. Jika mampu ingin mengajak untuk mengolahnya seperti membuat ecobrick atau jelantah nanti dibuat jadi sabun atau barang lain yang  bernilai ekonomis yang bisa meningkatkan hajat hidup warga terutama yang membutuhkan. 

Terpenting lagi kesadaran bahwa ada kehidupan lain yang di semesta ini yang perlu diperhatikan hajat hidupnya, sebab manusia hidup di bumi ini juga terus tergantung pada alam. Saya pribadi percaya alam ini bukan warisan yang kemudian diturunkan kepada anak cucu kita. Jika warisan tentu akan terus berkurang keutuhan dan nilainya. 
Sesungguhnya alam ini merupakan pinjaman dari anak cucu kita. Hak mereka yang harus dijaga dan dikembalikan dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Semoga perilaku menjaga keseimbangan dan hidup kesinambungan dengan alam ini yang akan diwariskan kepada anak keturunan kita. 

Aamiin Yaa Rabb'allamiin





#materi3 
#empathy 
#charity 
#filantropi 
#sustainability 
#kelashabituasisejutacinta 
#ibuprofesional 
Read More

Perburuan Apel Si Ulil : Jurnal Minggu Keempat Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional

Selasa, 11 Februari 2020

Minggu ini memasuki jurnal minggu keempat, perjalanan si Ulil menuju kebun apel. Keranjang besar sudah dibawa serta untuk memetik apel-apel ranum dan manis. Siap dibawa pulang dan dinikmati kelezatannya. Namun, Ulil rupanya masih terlalu kenyang untuk mencari cemilan terlalu banyak. Hingga ia memutuskan hanya akan memetik satu buah apel saja.

Begitu kira-kira ilustrasinya, dilema hati yang kalau saja dituruti pasti tak hanya sekeranjang dibawa pulang ilmu-ilmu yang sangat ingin dipelajari. Tetap memegang peta memang salah satu kunci agar tidak tersesat.

Minggu ini aku sengaja hanya memilih menikmati Go Live di Facebook Group (FBG). Tidak semua tayangan aku tonton hanya yang sesuai mind map. Takut kebanjiran informasi malah nggak tuntas belajarnya. Itupun karena sinyal juga selalu saja terputus atau disconnect. Alhasil harus disimpan dahulu dan ditonton ulang saat sudah menjelang istirahat di rumah dalam kondisi tenang serta menunggu jaringan stabil. Ada satu Go Live yang aku jadikan cemilan prioritas minggu ini yaitu Go Live dari keluarga literasi. Lainnya masih tersimpan rapi di album entah besok atau lusa pasti akan dinikmati.

Melalui Go Live keluarga literasi ada satu ilmu yang sempat tertangkap bahwa masalah rendahnya minat baca di negara kita ini juga disponsori oleh kualitas buku itu sendiri. Baik dari cover maupun isinya kurang menarik para calon pembaca. Jadi memang harus saling mendukung.

Makanan besar tentu saja tetap ada di meja keluarga Getar Suara. Pilihan untuk fokus di keluarga ini karena memang dalam mind map yang aku buat belajar Public Speaking merupakan urutan pertama. Ilmu yang memang masih sangat awam buatku, meski bicara di depan banyak orang bukan hal baru bagiku. Berbicara di sini yang aku maksud bukan seperti pengalaman teman-teman anggota keluarga getar suara lainnya yang memang sudah lumayan tinggi jam terbangnya. Mengajar. Ya, itulah pengalamanku bicara di depan banyak orang. Tapi itu dulu saat sebelum aku resign dan memilih berada di luar sistem pendidikan formal. Memilih menjadi konselor pendidikan dengan jam terbang bebas. Tak disangka justru ruang-ruang konseling yang tadi intim alias privat, kini semakin luas. Sesekali diundang sebagai narasumber di acara parenting dan diminta untuk memotivasi anak-anak remaja. Hal ini membuatku merasa makin butuh nutrisi keilmuan yang sepadan untuk membuat ucapan dan ujaran diri lebih berdampak dan tersampaikan dengan baik.

Alhamdulillah saat bulat memutuskan tetap menuntaskan menuntut ilmu dari anggota keluarga getar suara yang pengalamannya luar biasa dan juga murah hati berbagi ilmu. Makin banyak yang bisa diserap untuk menambah keranjang makanan utamaku. Minggu ini telah beberapa kali mengadakan Go Live di FBG keluarga Getar Suara.

Go Live pertama di FBG Getar Suara dipersembahkan oleh Kakanda Indah Laras. Nggak perlu diragukan lah pengalamannya belasan tahun di dunia Public Speaking baik event on air maupun off air. Meski terkendala sinyal yang aduhai asyiknya tapi tetap bisa dilumat ilmunya untuk ditelan biar ndaging begitu katanya he-he-he.

Beliau menyampaikan tentang Fear of Rejection, Personal Branding dan Pemilihay Diksi. Bahwa kita nervous atau grogi saat tampil itu lebih dikarenakan ada perasaan takut ditolak, tidak diapresiasi orang lain, serta belum apa-apa sudah merasa diri buruk saat akan tampil. Pikiran itu terus menghantui dan berputar-putar di otak kita yang pada akhirnya menjadikan mental block.
Pemikiran ini muncul karena menganggap orang lain atau apresiasi orang lain sulit kita kendalikan. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Oleh karena itu kita harus berlatih kepekaan memahami situasi. Belajar mengontrol diri mana hal yang bisa dikendalikan oleh kita dan mana yang bukan jangkauan kita untuk mengendalikan. Salah satu syarat disebut pembicara yang baik adalah jika ia mampi mengontrol dirinya. 

Kedua tentang Personal Branding. Tentu saja ini bukan lah hal yang ajaib yang bisa didapatkan dengan tiba-tiba. Semua dibentuk melalui proses dengan cara berlatih dan terus melakukannya. Kita yang mampu melihat keunikan diri kita dan memilih keunggulan mana yang akan ditampakkan untuk jadi diri yang dikenal orang lain. Yakini, dan terus tekuni.
 
Ketiga tentang pemilihan kata atau diksi yang tepat. Kata harus dipilih sesuai waktu dan tempatnya. Itulah yang jadi acuan kita dalam tampil di hadapan audiens. 

Ketika ketiga faktor yang dijelaskan tadi sudah dilakukan, sesuai, tepat, maka pasti pesan juga kesan yang ingin kita sampaikan lebih mampu dipahami dan diterima orang lain.

Menu tambahan yang diberikan beliau adalah tentang Air Personality & Voice Over.

Air Personality yaitu kemampuan yang harus dimiliki seorang penyiar dalam mengolah suaranya agar ear catching. Artinya  suara harus nyaman juga enak didengar, tulus menyapa dan berbicara jangan cuma lip service atau tuntutan script. Sebab, itu pasti akan sampai ke telinga pendengar. 

Voice over adalah mengisi suara di belakang layar. Sebenarnya ini sedikit berbeda dengan bahasan public speaking yanh diunruo tampil di depan umum. Membahas voice over hal yang terpenting harus dipahami adalah artikulasi, suara, tone, emosi, ritme, tempo dan irama. Dimana voice over digunakan? Biasanya untuk sulih suara, mendongeng, backsound iklan, sandiwara radio, dan lain sebagainya.

Mungkin satu materi dulu yang disampaikan supaya yang mau ikut belajar dan baca bisa ikut mengunyah dengan baik. Yoyoiii.. semangat belajar BeiBuns sampai jumpa dimenu selanjutnya ya...jangan kapok!

Read More