Jurnal Materi Tujuh Kampus Ibu Pembaharu : Analisa Dampak Sosial untuk ApresiAKSI

Selasa, 30 November 2021


Makin seru saja materinya nih mendekati akhir tahun. Bukan karena tenggat realisasi proyek segera berakhir, tetapi karena memang tim harus mulai makin mengkalkulasi aksi yang telah dijalankan. Apakah mengerucut pada hasil dan dampak yang diharapkan atau masih banyak yang harus dibenahi?

Butuh waktu yang lumayan panjang untuk berdiskusi tentang materi ketujuh ini. Selain banyak aktivitas dan timeline lain yang juga harus diprioritaskan. Materi apresiAksi banyak poin yang perlu dikaji bersama dengan hati-hati.

Sembari mempersiapkan Webinar Series yang tim agendakan di awal bulan November. Kami sepakat akan membagi tugas untuk mengerjakannya. Alhamdulillah setelah webinar terlaksana, di hari Jumat sore, minggu berikutnya saat pertemuan daring rutin. Kami mulai berbagi peran dibantu dengan aplikasi Random Picker agar lebih adil dan cepat dalam penentuan.

Setelah dibagi sore itu, malamnya sambil terus berkoordinasi di WhatsApp Grup Ruang Bicara. Kami berusaha menuntaskan apa saja yang jadi tanggung jawabnya. Saling memberikan masukan dan koreksi.

ANALISA DAMPAK SOSIAL

Social Impact

Merupakan pengaruh aksi tim terhadap manusia dan lingkungan tempat aksi tim dilaksanakan. Dampak sosial mengacu pada hasil positif dari aksi tim, yang menghasilkan kesejahteraan yang semakin baik, akses ke hak asasi manusia dan manfaat lainnya bagi orang-orang yang terkena dampak langsung dan tidak langsung.

Pentingnya Analisa Dampak Sosial

Alasan mengapa penting bagi tim untuk menganalisa dampak sosial bagi aksi yang sudah dilakukan adalah :

1. Perlunya mempertimbangkan dampak langsung dan tidak langsung.
2. Ruang untuk memperbaiki aksi.
3. Sudut pandang penerima manfaat.

Menurut Tim Ruang Bicara Analisa Dampak Sosial kami sebagai berikut :



THEORY OF CHANGE

Langkah selanjutnya adalah memperhatikan theory of change yanh yang meliputi input, activities, output, outcome, dan impact 

Input

Materi, informasi, dan pengetahuan yang Anda dam tim Anda butuhkan untuk dapat melakukan AKSI, biasanya berupa kata benda.

Activities

Tugas yang akan dilakukan selama melaksanakan AKSI/PROYEK. Lebih baik diungkapkan dengan kata kerja dalam bentuk dasarnya (misal melakukan, menyediakan, membuat, mengantarkan, mengajar, membuat

Output
Dampak langsung yang akan ditimbulkan oleh AKSI/PROYEK.

Lebih baik diungkapkan melalui kata kerja dalam bentuk lampau (misal telah terlatih, telah diproduksi, diajari

Outcome
Efek jangka pendek dari output. Lebih baik diungkapkan melalui kata-kata yang menggambarkan perilaku yang dirasakan (meningkat, menurun, ditingkatkan dll)

Impact
Efek jangka panjang yang disebabkan oleh hasil. Biasanya diungkapkan menggunakan kata kerja "berkontribusi". Karena perubahan jarang disebabkan hanya oleh satu faktor saja. Fokus pada dampak berkelanjutan.

Berikut ini adalah Theory of Change kami :


THE LOGIC MODEL

Berbekal theory of change yang telah dibuat sebelumnya, maka kami dapat membedahnya agar menjadi lebih rinci lagi. Hasilnya bisa dilihat pada tabel berikut ini :


RISK MANAGEMENT

Seiring dengan telah terealisasinya kegiatan, maka tim diharapkan sudah memahami resiko-resiko yang akan terjadi. Sehingga untuk proyek kegiatan berikutnya dapat diantisipasi ataupun sebaliknya bahkan dieliminasi.

1. Accept merupakan saat tim menerima kemungkinan resiko yang terjadi. Biasanya dipilih karena dampak resikonya lebih rendah dibandingkan lainnya.

2. Mitigate. Tim mengurangi kemungkinan dan/atau dampak dari resiko yang terjadi. Mitigate fipilih jika dipandang resikonya sedang.

3. Transfer, artinya kita mengalihkan tanggung jawab resiko kepada pihak lain. Tindakan ini dipilih jika faktor potensialnya berdampak tinggi dan mahal

4. Avoid, pilihan untuk menghilangkan penyebab resikonya agar tidak terjadi. Dipilih jika memang dampaknya tinggi dan tidak dapat dibiarkan terjadi.

Hasil analisa risk management menurut Tim Ruang Bicara sebagai berikut :

Nah, last but not least dari semua yang telah disampaikan di atas maka tim Ruang Bicara bersepakat terkait apa yang harus dilanjutkan, dihentikan dan/atau membuat alternatif kegiatan baru yang diharapkan lebih sesuai, bermanfaat serta berdampak.

Demikian jurnal materi ketujuh ini kami susun sepenuh hati. Besar harapan kami_dengan segala keterbatasannya_, semoga proyek ini dapat terus berkelanjutan. Amin.

#apresiaksi 
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia
#ibuprofesionaluntukindonesia
Read More

Jurnal Umpan Balik Ke-6 Bunda Salihah : Aksi untuk Solusi

Selasa, 02 November 2021

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuuh

Keriuhan perhelatan Kongres Ibu Pembaru telah usai dan kini kembali mahasiswi Bunda Salihah harus menunaikan tugas lainnya. Yaitu, memberikan umpan balik ke pada buddy yang sudah terpilih secara acak oleh sistem.


Alhamdulillah setelah menemukan siapa yang menjadi teman berbagi umpan balik. Nomor WhatsApp yang tertera tidak bisa dihubungi. Akhirnya saya memutuskan untuk langsung menuju link jurnal 'Aksi untuk Solusi' yang tertera.


Ketika melihat dan membaca jurnal milik tim buddy saya, jujur saja reflek mata saya serasa dimanja. Jurnalnya rapi, bersih sebab selain memilih warna latar halaman putih. Warna huruf juga dipilih yang lembut jadi nyaman dilihat.


Setelah saling bertegur sapa, mengucapkan salam perkenalan. Beliau memberikan link jurnal seperti yahg tertera pada tautan pengumuman. Maka segera saja saya berusaha membacanya kembali lebih seksama.

Beberapa pertanyaan sempat saya lontarkan karena rasa ketertarikan dan kepo untuk menggali informasi terkait Rumabar. Berharap mampu mengambil ilmu dalam meramu aksi nantinya.


Melalui penuturan buddy saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Komunitas Rumabar telah melakukan aksi-nya dengan penuh kesungguhan.

Menurut beliau Rumabar memiliki tantangan untuk menyuguhkan sesuatu yang membedakan komunitasnya dengan komunitas bermain lainnya. Sesuatu yang akan menjadi ciri khas tim.


Ciri khas tersebut tidak langsung didapatkan melainkan perlu proses panjang sampai nanti secara alamiah ketemu sendiri apa keunikan tersebut.

Saat ini tim sedang berupaya konsisten menjalankan yang telah direncanakan. Ya itu rutin melakukan posting, mencari dan membagi info terkait serunya bermain bersama. Sehingga pada saatnya menemukan momentumnya terkait apa yang sesuai dengan komunitas Rumabar.

Demikianlah jurnal umpan balik mengenai komunitas Rumabar yang luar biasa. Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Salah satunya adalah untuk selalu menjaga ritme gerak tim agar secara alamiah pengalaman prosesnya terserap dengan baik oleh para membernya.

Wallahu'alam bishawab

Semoga Allah selalu rida dan memberikan berkah kelancaran untuk segala proses kebermanfaatan kami semua. Aamiin.

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabbarakatuuh
#sistemumpanbalikmateri6
#aksiuntuksolusi
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia
#ibuprofesionaluntukindonesia
Read More

Alinea Kelima Jurnal Ibu Pembaharu : Highlight dan Key Update untuk Beraksi

Selasa, 28 September 2021


Seperti biasa, setiap pekan selalu ada saja ilmu baru dan semakin menantang untuk menuju titik fokus pergerakan_aksi. Materi yang disampaikan masih berkisar pada fokus permasalahan agar lebih mengerucut lagi.

Sehari setelah materi disampaikan oleh 'founding mother' segera_seperti biasa_diulas via diskusi sederhana dalam grup kecil kami. Lalu, pada hari Jumat ketika jadwal reguler pertemuan tim. Kami bahas lebih spesifik lagi terkait dengan materi yang disampaikan.


1. HIGHLIGHT & KEY UPDATE

Hal pertama yang kami bahas adalah highlight and key update. Yaitu berisi tulisan atau kalimat apa saja yang ingin tim sampaikan kepada audiens. Termasuk berbagai poin penting yang penting untuk didengarkan oleh masyarakat; calon penerima manfaat. Tetap harus menggunakan peta SMART agar selalu sama dengan rencana milestone-nya.

Setelah berdiskusi serius tetapi santai, berikut kalimat penting yang perlu orang lain dengar tentang aksi kami, antara lain :

1. Perempuan dan Anak Mampu Berdaya Menghadapi Perilaku Kekerasan
2. Perempuan dan Anak Memahami Aneka Ragam Kekerasan

Peta SMART
     Milestone 1 Target Pencapaian (ingin mencapai apa?) :
       1. Memahami dengan baik macam- macam perilaku kekerasan
       2. Mengenal emosi
       3. Belajar kemampuan dasar bela diri
       4. Memahami Definisi Kekerasan pada Perempuan dan Anak
      
       Milestone 2 :
       1. Meningkatkan kemampuan bertahan dan bela diri
       2. Melakukan terapi atau healing
       3. Live sharing di media sosial
      
      
       Milestone 3 :
       1. Sharing pengalaman
       2. Coaching utk healing dan bela diri
       3. Menjalin network dan kerjasama dengan pihak lain yang 1 visi
      

Indikator Keberhasilan

Milestone 1 :
1. Selama periode, mencapai 200 follower di Instagram dan Fanpage Facebook
2. Kunjungan ke website Ruang Bicara
3. Terjalin interaksi aktif dengan follower (engagement)-komentar, like atau repost

Milestone 2 :
1. Menghasilkan 10 seri video pendek bela diri
2. Followers sosial media 200 orang hingga akhir tahun 2021
3. Membuat live sharing yang terbuka untuk umum
4. Memiliki acara LS yang rutin di akun sosial

Milestone 3 :
1. Menghasilkan karya digital para penyintas
2. Melakukan sesi coaching online dan offline
3. Menjalin networking dan kerjasama dengan pihak lain

Highlight gerakan aksi


Milestone 1

Kenal, merupakan aksi tim kami untuk mengajak perempuan mengenal bentuk-bentuk kekerasan.

1. "Kenali dan Lindungi Dirimu"

2. "Tak Kenal (maka) Tak Aman"


Milestone 2

Atasi, yaitu Aksi tim untuk penyintas mampu mengatasi kekerasan yang dialaminya.

1. "Berani Bilang Tidak"
2. "Percaya Diri"


Milestone 3 

Berbagi merupakan Aksi tim untuk membantu penyintas kekerasan.

1. "Berani Bicara, Pandai Bicara, Bukan Banyak Bicara...Ayo Bicara"
2. "Saatnya Bicara"
3. "Berani Bicara Mengubah Dunia"



2. TIMELINE OF HIGHLIGHT

Pada tahapan ini kami harus menentukan timeline tema yang ingin diangkat. Highlight per-milestone termasuk memikirkan bagaimana bentuknya.

Milestone 1 :
1. Perempuan Pahami Kekerasan
2. Yuk, Pahami dan Kenali Perilaku dan Tindakan Kekerasan di Sekitar Kita

Milestone 2 :
1. Menjadi Perempuan Pemberani
2. Atasi Kekerasan Hindari (Penyesalan)

Milestone 3 :
1. Sharing is Caring
2. Sharing is Power
3. Hand in Hand
4. Bersama Kita Bisa
5. Kita Kuat Jika Bersama

Setelah itu kami membawa pembicaraan pada tahapan berikutnya yaitu tentang kampanye.


3. CAMPAIGN

Tujuan dari tahapan ini adalah 1). mengenalkan program, 2). Mencari penerima manfaat, 3). Mencari dana

Jenis-jenis media yang bisa menjadi alat untuk kami kampanye dapat berupa video, audio, audio visual, live streaming dan lain sebagainya.

Sebagaimana jenia media yang bermacam-macam, maka platform kampanye juga beragam. Ada Facebook, Instagram, presentasi program, crowdfunding platform dan lain sebagainya.

Selama penggunaannya tim harus selalu berbasis data agar dapat mengukur dampak, interaksi atau insight Instagram, impression dengan follower.

Seyogianya tim memanh diharapkan membuat website sebagai induk atau rumah virtual dari proyek yang akan dijalankan. Berisi semua informasi lengkap yang dapat menjelaskan dasar pemikiran, gagasan tentang gerakan yang dilakukan tim. Sedangkan Instagram, Fanpage Facebook dibuat dengan tujuan sebagai etalase.

Puji syukur, Alhamdulillah kami dari Ruang Bicara pun menyediakan kelengkapan gerakan tersebut. Berikut platform dan akun sosial media yang tim Ruang Bicara persiapkan :
🌐Website www.ruangbicarasmg.blogspot.com
📧Instagram : Feed, Reels dan IgTV
💌 Facebook : Post, Libe Sharing
📣 Zoom, Google Meeting


4. Update dengan analisa SWOT


Tahapan ini kami mendiskusikan mengenai perkembangan secara berkala dengan membuat analisis SWOT.

Strengths :

1. Resources (Penyintas, Coach, Speaker)
2. Networking
3. Content Creator
4. Web Developer


Weakness :

1. Audio Video Designer
2. Jarak antar anggota tim
3. Penggunaan berbagai versi terbaru dari media sosial

Oppurtunities :
1. Kondisi serba daring memungkinkan untuk membuat webinar dalam skala yang lebih luas (peserta maupun wilayah)
2. Sharing penyintas dapat dibuat karya digital
3. Meningkatkan kemampuan editing untuk flyer dan video

Threats :
1. Jarak bisa menjadi ancaman bagi tim apabila kami tidak sering berkordinasi secra online.
2. Tidak memiliki design graphis yang profesional bisa membuat hasil flyer atau video tim kami tidak/kurang menarik


5. FUNDRAISING

Jika diperlukan dapat bekerjasama dengan platform fundraising seperti kitabisa.com atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan.

Namun, tampaknya selama satu tahun ke depan dalam milestone tim kami, belum membutuhkan pendanaan yang terkait biaya penunjang kegiatan.

Demikianlah perjalanan jurnal keempat yang semakin terasa luar biasa tantangannya. Masya Allah Tabarakallah. Semoga Allah mampukan hingga akhir sesuai niat, impian dan tujuan kami.

Read More

Alinea Ke-4 Jurnal Ibu Pembaharu : Menetapkan Smart Goal dan Sumberdayanya

Selasa, 07 September 2021

Jeeng ..jreng...woilaa sudah sampai di jurnal keempat nih. Belum separuh jalan sih tapi persiapan demi persiapan ini memang harus dipastikan kokoh sejak dini. Berbagai kemungkinan harus dipertimbangkan dan diperhatikan dengan cermat.

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah jumlah anggota tim yang tidak terlalu buncit dengan aneka kesibukan masing-masing. Membuat kami memang sejak awal berhati-hati mewujudkan rencana.

Terutama saya sih yang harus merawat energi dan binar kebahagiaan untuk mewujudkannya agar tidak tiba-tiba redup di tengah jalan. Endurance memang merupakan tantangan pribadi yang harus saya taklukkan sejak dulu.^_^

Apalagi dengan penyesuaian jam pertemuan dalam jaringan kami yang juga berbeda. Memang perlu benar langkah-langkah Smart agar selalu terhubung.

Sejak materi ke-4 disampaikan seperti biasa kami segera bawa ke WhatsApp grup tim 'Ruang Bicara' untuk diskusi dan bisa langsung saling menanggapi.

Kali ini misinya adalah 1). Menetapkan Tujuan, 2). Memperkuat Niatan, 3). Memperbesar Harapan dan 4). Menjalani Pencapaian.

Setelah di tahap sebelumnya kami mulai dengan mengidentifikasi masalah, membangun tim yang efektif, kemudian bersama-sama menyelami masalah. Kini tiba saatnya meramu tujuan agar arah melangkah kami lebih pasti.

Tiap-tiap lini kehidupan baik personal maupun organisasi yang dilakoni manusia memang membutuhkan tujuan. Hidup akan terasa lebih hidup. Merancangnya dengan baik akan membantu perjalanan menjadi lebih teratur dan terhindar dari kesia-siaan. 

Tujuan yang SMART

"Orang yang tidak memiliki tujuan akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki tujuan". Begitulah kalimat yang disampaikan oleh founding mother. Sepakat sih ini, jika terombang-ambing tidak memiliki tujuan pasti yang ada akan dimanipulasi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dan tujuan.

Oleh karenanya membuat tujuan pun harus SMART. Tidak asal ala kadarnya. Namun, harus diperhatikan dari segala sisi Jika tidak membawa perubahan, terlalu mudah dicapai, terlalu sulit, terlalu rumit dan muluk, maka semua itu berpotensi membawa kegagalan.

Beberapa cara yang harus dilakukan saat membuat tujuan adalah sebagai berikut : 

1. CLARITY
 Maksudnya tujuan harus disusun dengan jelas, dan mudah dipahami.

2. CHALLENGE
Membuat tujuan jangan terlalu mudah. Boleh sulit namun masih dapat diraih. Ibarat dalam bahasa Jawa, "Gayuk gayuk tuno". Artinya misal ada mangga yang matang di pohon dan tidak bisa kita raih dengan tangan. Namun, kita cukup melompat saja untuk bisa mengambil menikmatinya. Tidak perlu menggunakan bantuan galah atau alat bantu lain.

3. COMMITMEN
Berani membuat tujuan dan impian harus berani berkomitmen juga untuk mewujudkannya. Kalau tidak hanya akan teronggok jadi angan-angan.

4. FEEDBACK
Untuk merayakan proses pencapaian tujuan kita memerlukan umpan balik. Feedback sangat membantu diri kita mengontrol semangat agar tetap menyala. Sehingga perlu membuka diri dengan pihak luar agar dapat menyampaikan penilaian. Jika ada beserta kritik dan saran untuk perbaikan tentang apa yang sudah kita lakukan.

Proses Membuat Tujuan yang SMART

1. Spesifik
Seperti di awal sangat disarankan untuk meramu dan menjabarkan kembali tujuan dengan 5W plus 1H.

2. Measurable
Tujuan yang baik dan tepat akan mudah dicapai jika logis dan dapat diukur.

3. Achievable
Selain dapat diukur tujuan harus juga mampi diraih.

4. Relevant
Tujuan akan mudah dicapai bila dapat berdampak dan bermanfaat secara bagi diri kita. Atau ada hubungannya dengan kehidupan kita secara langsung.

5. Time Bound
Menetapkan batasan waktu dalam mencapainya salah satunya dengan cara memilih milestone, memetakan sumber daya sekaligus mengatur strategi.



Langkah selanjutnya dalam meramu Smart Goal, adalah membahas penentuan lingkup Golden Rules.


Golden rules merupakan sebuah tindakan yang harus diambil dan lakukan ketika secara personal dan juga tim dalam kondisi terburuk 

Perlu juga membuat rancangan 'Exit Procedure atau syarat, tata cara keluar dari tim. Maka kami pun juga mencoba merancangnya.

Demikian jurnal keempat ini saya buat berdasarkan alur dan hasil pembahasan dari tim Ruang Bicara. Semoga Allah selalu rida.

Tabik!

#smartgoalsdansumberdaya 
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia
#ibuprofesionaluntukindonesia
Read More

Serba-serbi Pentingnya Komunikasi dalam Pernikahan

Selasa, 31 Agustus 2021


Komunikasi bukan hanya sekedar membuka mulut, keluar suara, dan mengucapkan kata-kata hingga berderet-deret kalimat menjadi cerita. Sama sekali bukan seperti itu.

Komunikasi itu seni yang memiliki beragam cara untuk dijajaki. Mana yang paling nyaman dan 'klik' untuk dijalani. Komunikasi yang produktif dalam rumah tangga pun pastinya tidak berbeda.

Pada banyak kisah ditemukan bahwa komunikasi menjadi efektif, jika pasangan mampu paham dan peka. Kedua belah pihak yang saling memahami mana saat paling tepat menahan diri untuk berbicara. Lebih banyak menyimak, hadir dan atau menyediakan diri untuk lebih mendengarkan pasangannya.

Virginia Satir yang mengemukakan bahwa komunikasi merupakan hal yang penting untuk menjaga keharmonisan seluruh keluarga. Kemampuan manusia untuk bertahan juga bergantung pada kemampuan dirinya untuk berkomunikasi.


Perihal Pernikahan


Pernikahan menurut Mark Whisman, seorang profesor psikologi sekaligus ahli saraf; dapat memberikan seseorang peran, identitas yang membuat dirinya bermakna, memiliki tujuan hidup dan rasa aman.

Dan, merupakan bagian fitrah manusia untuk mencari dan mendapatkan ketentraman dan kebermaknaan diri ini. Pernikahan menjadi pintu gerbang yang sakral karena melibatkan komitmen diri dengan Tuhan serta manusia lainnya. Mayoritas orang pada akhirnya akan mendambakannya.

Pernikahan bagi pasangan harus tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Sebab pernikahan bukan tentang mencari mana yang paling tepat. Melainkan mensyukuri segala proses dengan belajar tumbuh menjadi pilihan yang paling tepat bagi pasangan kita.

Membangun pernikahan tidak cukup hanya dengan modal cinta saja. Meluapkan rasa pada seseorang yang kita bilang sayang dan sukai.

Menikah merupakan kerja besar dan terus menerus. Banyak aspek harus diperhatikan dan dipersiapkan oleh karena itu menikah disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.

Kesadaran yang harus dibangun sejak awal bahwa menikah itu untuk saling menyempurnakan bukan mengharapkan pasangan selalu berlaku sempurna.


Berdasarkan firman Allah pada surat Ar-Rum ayat 21 : "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."

Bentuk relasi suami dan istri tidak sesederhana penampakannya. Ada hubungan interpersonal yang kompleks, karena terdapat perbedaan latar belakang di antara kedua belah pihak. Munculnya hak dan kewajiban yang saling beririsan. Kedekatan fisik dan emosional yang semakin intensif.

Pernikahan juga bukan hubungan antara seorang bos dengan karyawan atau bawahannya. Melainkan pergaulan sebagai pasangan hidup yang terikat dalam relasi persahabatan, saling memberikan cinta, kasih sayang, perdamaian dan ketentraman.


Oleh karena itu, demi mencapai tujuan pernikahan yang langgeng serta penuh ketentraman. Sejak sebelum akad hingga sesudahnya, suami dan istri harus senantiasa berilmu. Menambah pengetahuan untuk mencari cara saling mengenal kondisi psikologis, kepribadian, watak, sifat dan problem solving-nya.

Kondisi psikologis yang perlu diketahui oleh pasangan antara lain berkaitan dengan :

 
1. Kemampuan komunikasi.
2. Kepercayaan diri.
3. Kemandirian.
4. Efek masa lalu.

Tujuannya untuk mengetahui relasi pasangan dengan keluarga besar dan bagaimana calon pasangan dibesarkan.



Selain itu dibutuhkan juga kesiapan mental, finansial, peran, spiritual, fisik dan untuk membangun rumah tangga bernama keluarga.

Suami dan istri harus punya visi dan misi jelas untuk mengikatnya menjadi sebuah jalan ketentraman. Jembatan untuk membangun sebuah peradaban, sebab jika gagal malah dapat terjadi kerusakan.

Ketenteraman juga dapat dicapai apabila komunikasi dalam relasi tersebut berjalan baik, efektif alias harmonis. Sebaliknya jika tidak terwujud, maka akan banyak prahara yang akan terjadi.


Memahami Komunikasi Pasutri


Komunikasi merupakan kebutuhan mutlak setiap manusia. Manusia saling berhubungan satu sama lain melalui komunikasi. Saat memenuhi segala hajat dan kebutuhan hidupnya, manusia harus berkomunikasi.

Komunikasi adalah aspek penting dalam kehidupan dan perilaku manusia secara keseluruhan. Namun, melaksanakannya bukan tanpa hambatan. Seringkali ditemukan tantangan berupa benturan-benturan kepentingan antara suami istri.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang congruent, yaitu komunikasi yang terkoneksi, disampaikan dengan terbuka, jelas konteks dan topiknya, serta jujur.

Komunikasi pasangan dapat disebut congruent atau terhubung, jika suami dan istri perlu selalu merenungkan kembali hal-hal penting yang mendasari ketahanan rumah tangganya.


Pentingnya Komunikasi dalam Pernikahan

Komunikasi dalam pernikahan salah satu yang bersifat mutlak alias sebagai salah satu kunci utama kebahagiaan rumah tangga.


Virginia Satir menganalogikan proses komunikasi sebagai sebuah payung raksasa yang memayungi dan mempengaruhi semua yang terjadi antar manusia. “A huge umbrella that covers and effect all that goes on between human beings”.

Komunikasi dilakukan pada keseluruhan aspek hidup manusia dengan menggunakan bahasa verbal juga non verbal. Sedangkan, bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan perasaan serta digunakan sebagai alat menyatakan pendapat.

Melalui komunikasi, suami dan istri harus berlatih berani berlatih mendefinisikan perasaannya sedetail mungkin. Tujuannya agar mampu mengutarakan seluruh isi hatinya dengan baik.


Berusaha tuntas menyampaikan pikiran dan perasaannya. Berbicara dan berusaha mendengarkan orang lain dapat membantu kita menata pola pemikiran kita menjadi lebih dewasa.

Komunikasi yang harus dilakukan adalah komunikasi harmonis. Sebuah komunikasi yang mampu menyatukan dua kepala dan hati yang berbeda. Tujuannya untuk mendapatkan titik temu dari pendapat yang tidak sama. Lalu, melahirkan komitmen untuk bersama-sama menyelesaikan masalah demi mempertahankan keutuhan rumah tangga dalam bingkai sakinah, mawaddah dan rahmah.

Menurut Walgito, di antara suami istri harus saling berkomunikasi dengan baik untuk dapat mempertemukan satu ide dengan yang lain, sehingga kesalahpahaman dapat dihindari (1984:57).

Komunikasi yang harmonis dapat membantu menyelesaikan segala masalah yang muncul dalam keluarga baik secara permasalahan material ataupun non-material.

Masih menurut Bimo Walgito, jika komunikasi telah berlangsung dua arah. Maka, akan terbentuk sikap saling terbuka, saling mengisi, saling mengerti dan terhindar dari kesalahpahaman (1984:58).


Hal-hal yang dibutuhkan saat berkomunikasi

Ada beberapa syarat pokok yang harus dilakukan agar komunikasi berlangsung sesuai harapan dan tujuannya.

1. Keterbukaan.

Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman antara suami dan istri.

2. Saling memahami.

3. Umpan balik.

Tujuannya agar komunikasi menjadi hidup dan dinamis.

4. Kemauan dan kemampuan mendengarkan.

5. Berkesinambungan.

6. Saling hormat.

Namun, jika merujuk pada komunikasi keluarga model Virginia Satir, maka ada dua hal penting dalam berkomunikasi. Sikap empati dan rasa kesetaraan antar anggota keluarga merupakan langkah pertama yang dibutuhkan untuk membangun keharmonisan keluarga melalui komunikasi.

Sikap tersebut menjadikan seseorang dapat dikatakan tidak merasa superior atau inferior di hadapan orang lain. Suami istri pun dapat saling terbuka dan bebas menyampaikan keinginan masing-masing. Sekaligus juga bersedia untuk saling menurunkan tuntutan masing-masing. Maka terciptalah 'win-win communication' dan selanjutnya dapat menghantarkan menuju 'win-win solution', atau 'win-win agreement'.



Hal penting kedua adalah harus ada upaya dari tiap anggota keluarga, agar terbiasa melatih diri menggunakan pola I-Message dalam berkomunikasi.

I-Message merupakan pola komunikasi antarpribadi yang penekanannya lebih kepada apa yang dirasakan oleh komunikator. Sebagai akibat dari apa yang telah dilakukan komunikan. Pola ini bertujuan agar komunikan tidak merasa dipersalahkan, dihakimi. Sehingga pada akhirnya berkenan mendengarkan dan memahami isi pesan yang ingin disampaikan komunikator.


Formula I-Message sesungguhnya sederhana, sebab hanya memiliki tiga elemen dasar, yakni :

1. "Saya Merasa ..... ."

Pada tahapan ini komunikator mengungkapkan apa yang dirasakannya.

2. "Bila/Jika Kamu ..... ."

Bagian kedua bermuatan pernyataan perbuatan komunikan. Tindakan yang menjadi penyebab apa yang dirasakan oleh komunikator.

3. "Saya ingin... ."

Komunikator menyatakan usulan, harapan atau keinginannya berkaitan dengan perubahan perilaku komunikan.

Itulah beberapa hal penting yang perlu dilakukan oleh suami istri agar berhasil melakukan komunikasi yang efektif. Jika tidak diperhatikan, ada banyak penyebab kegagalan komunikasi suami istri.

Secara garis besar pasangan harus selalu mau menurunkan ego agar tidak saling mendominasi. Suami dan istri juga harus belajar menyatukan mindset yang sesuai dengan FOR dan FOE.


FOR adalah Form of Reference, yaitu cara seseorang bersikap dan berkomunikasi berdasarkan latar belakang pendidikan dan budaya. Sedangkan, FOE merupakan singkatan dari Form Of Experience merupakan cara seseorang bersikap dan berkomunikasi sesuai dengan pengalaman hidup yang telah ia jalani.

Nah, itu sekelumit serba-serbi pentingnya komunikasi dalam pernikahan. Keterampilan berkomunikasi dalam keluarga ini perlu terus diasah, agar ikatan cintanya semakin kokoh.

Semoga bermanfaat.
Salam Baik.
Tabik!


Sumber Referensi Bacaan :

Walgito, Bimo.1984. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Materi Komunikasi Persembahan Cinta IIP Untuk Indonesia "Aku, Kamu, Kita ” oleh Maria Ulfa, 2020


Read More

Memahami Dunia Remaja, Memerdekakan Kedewasaannya

Kamis, 26 Agustus 2021


Bismillahirrahmanirrahim


Sebuah Prolog


Dunia remaja sudah membuat saya jatuh cinta sejak lama. Entah kenapa dan bagaimana bermula saya juga kurang mengerti sebab pastinya. Semua datang dan mengalir begitu saja.

Saya hanya mampu menduga. Jika ketertarikan itu muncul karena saya tumbuh dari cerita kedua orang tua saya. Utamanya papa yang saat usia belia terpaksa harus jauh dari orang tua kandungnya. Bagaimana beliau berjuang keras sendiri untuk menemukan jati diri terbaiknya.

Belakangan saya mengetahui ternyata papa juga memiliki impian kuliah di fakultas psikologi. Namun, takdir membawa cerita yang berbeda. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal akhirnya berubah haluan.

Kemungkinan kedua adalah saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Momentum yang membuat ketertarikan saya pada dunia remaja semakin membulat dan menetap jadi sebuah keyakinan. Saya melihat seorang guru Bimbingan dan Penyuluhan; sebutan untuk guru atau konselor sekolah pada saat itu.

Sosoknya bisa sangat dekat murid-murid yang terkenal sukar "ditaklukkan" oleh guru lain. Santai, namun nasihatnya selalu mengena. Membuat saya-khususnya untuk selalu berpikir ulang pada tiap tindakan yang akan dilakukan.

Beliau juga yang membantu mengatasi kecemasan saya. Ketika harus berpidato sebagai Ketua Osis di hadapan ratusan orang untuk pertama kalinya. Semoga jadi amal kebaikan yang selalu mengalir padanya. Jika dijabarkan akan sangat panjang karena banyak sekali rekaman ilmu yang saya dapatkan dari beliau.

Waktu berganti dan saya semakin ingin menemukan keteguhan dari keinginan itu. Seolah semesta merestui untuk memahami rentang perjalanan kehidupan remaja, saya pun terus didekatkan dengan dinamikanya. Melalui lingkaran teman-teman, saya diperlihatkan turbulensi dunia remaja yang luar biasa.


Merdeka Berkarya


Singkat cerita ternyata ketertarikan itu terus terbawa hingga pada akhirnya saya berhasil masuk kampus Psikologi. Di sana saya berusaha menempa, menemukan dan memberikan validasi pada keyakinan diri untuk selalu bisa berkontribusi. Dunia psikologi anak, pendidikan, keluarga juga menarik perhatian saya. Namun, tidak pernah sebesar daya tarik dunia remaja. Mungkin juga karena bidang lain sudah banyak yang menggelutinya, tetapi yang terpenting saya percaya Tuhan tidak pernah salah proporsi memberikan alur cerita ini.

Meskipun pernah sempat patah hati dan ingin berhenti bergelut dengan dunia parenting dan remaja. Saya bersyukur selalu dipertemukan alasan untuk kembali. 

Misi 'Dian Eka' yang terus berjuang memampukan diri agar terus dapat merdeka menjalani perannya. Sebagai sandaran dan teman bicara bagi anak-anak ideologisnya. Beberapa upaya pernah dilakukan mulai dari membuat sebuah komunitas bersama rekan yang memiliki antusiasme sama. Lalu, ada komunitas 'Akar Remaja' yang mewadahi mereka berbagi dan berkarya. Semuanya memang terhenti di jalan karena banyak kendala teknis yang semakin sulit ditemukan. Hingga akhirnya memutuskan untuk terus meng-upgrade diri dengan ilmu dan ketrampilan yang tetap bisa mendekatkan diri pada dunia mereka. Mulai ikut workshop talent mapping hingga terakhir memberanikan mengambil sertifikasi sebagai praktisi hipnoterapi. 

Semua itu diniatkan untuk bisa terus menyelaraskan diri dengan kebutuhan remaja masa kini. Sebab selama menjadi praktisi psikologi dan konselor banyak sekali temuan yang meluluhlantakkan hati. Dunia mereka yang rentan dan penuh ancaman. 

Seiring waktu akhirnya secara pribadi semakin percaya bahwa ini salah satu tujuan penciptaan saya, yakni menjadi perantara Yang Maha Kuasa dan mengambil kekosongan peran di sana. 

Memerdekakan para remaja agar menjadi manusia dewasa yang tumbuh dengan tujuan dan bahagia seutuhnya.

Meski sering dibilang aneh karena memang jujur ini sama sekali tidak mudah, menantang dan di satu waktu akan merasa lelah. Namun, itu semua tidak sebanding dengan sukacita yang datang ketika melihat mereka mampu secara mandiri menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Melihat senyumnya, mendengar ceritanya serta ketika mereka bangga berhasil menularkan inspirasi kepada lainnya.


Apa saja sih tantangannya? Bisa disimak sampai tuntas di bawah ini.


Tantangan Memahami Dunia Remaja


Bagi orang tua berinteraksi asyik dengan remaja adalah aktivitas penuh tantangan. Semakin menarik karena sebagai orang dewasa kita harus menyadari pentingnya mendidik diri sendiri. Berupaya memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum sibuk menerapkan konsep-konsep terbaik ala orang dewasa kepada mereka.

Jangan menghakimi remaja tanpa mau memahami proses kehidupan yang dialaminya. Setidaknya sebagai orang yang pernah ada di masa itu, pasti tahu bagaimana gejolak rasanya.

Merujuk dari berbagai teori, anak yang dikatakan sudah masuk kategori remaja adalah yang telah memasuki usia 10 hingga  18 tahun. Rentang usia ini mereka akan masuk masa badai pencarian identitas diri.

Sebuah tahapan kematangan fisik dan seksual yang sering disebut juga masa pubertas. Kecanggungan akan terasa karena secara fisik dan hormonal mereka sudah tidak bisa dikatakan anak-anak. Namun, juga belum masuk masa dewasa.

Menurut Adams dan Gullota (1983) dalam buku Psikologi Remaja yang ditulis Sarlito Wirawan, setidaknya ada lima aturan dasar untuk memahami problematika remaja. Lima hal tersebut adalah sebagai berikut :


1. Kepercayaan
  Trustworthiness, merupakan sikap saling percaya kepada remaja. Menghadapi mereka dengan kepercayaan yang setengah hati tidak akan membawa kita kemanapun.


2. Ketulusan

   Genuineness. Prinsip ketulusan ini penting karena remaja peka dan bisa merasakan mana yang murni dan tidak berpura-pura.



3. Emphaty
   Aturan ini masih berkaitan dengan yang prinsip sebelumnya. Empati adalah kemampuan untuk turut merasakan perasaan remaja yang sedang berhadapan dengan kita.



4. Honesty
   Sebagai orang dewasa saat berinteraksi dengan remaja harus senantiasa bergerak atas dasar kejujuran.



5. Aturan terakhir adalah yang terpenting. Kesimpulan pandangan remaja bahwa orang tua atau orang dewasa tersebut telah memenuhi keempat hal sebelumnya.

Oleh karena itu, jika memang ingin berhasil maka aturan dasar tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.


Uniknya Berkomunikasi dengan Remaja

Fase paling unik dan menantang adalah ketika anak beranjak remaja. Periode ini anak akan tumbuh secara fisik, emosional juga intelektual. Semua fungsi mulai berkembang secara maksimal.

Tidak heran jika di periode ini remaja sangat energik, kritis, keingintahuan yang semakin tinggi, idealis, dan semakin tertarik pada prinsip benar dan salah. Sehingga, tidak heran jika tahapan ini orang tua dan anak akan rentan berkonflik.

Jika ingin berhasil komunikasi asyik dengan remaja, maka orang tua harus memposisikan diri sebagai orang yang memiliki perspektif sama dengan remaja. Pahami keresahannya, mengerti gejolak emosinya sebagai remaja agar dapat masuk ke dalam dinamika kehidupannya Ironisnya masih sering dijumpai orang tua  yang masih enggan menurunkan ego untuk menghormati privasi mereka.

Karakteristik remaja tidak suka jika terlalu banyak dinasihati atau digurui. Komunikasi yang dilakukan harus setara, yaitu percakapan yang memberi ruang tumbuh bagi mereka. Ruang untuk didengarkan, diapresiasi, diakui, bebas menyampaikan gagasan, impian, ide, perasaan, dan atau keluh kesahnya. Lantas semua itu dikumpulkan untuk menemaninya bersama-sama mencari pintu solusi terbaik.

Peran manusia dewasa bukan untuk menjejalkan apa yang sudah kita ketahui. Melainkan memberikan stimulus agar daya dorong internal dan potensi remaja tumbuh. Lalu, bakat itu berkembang selaras dengan minat yang nantinya pasti bermanfaat.

Demikianlah cerita saya yang berusaha mengisi kesadaran untuk terus mengambil peran merdeka berkarya dengan memerdekakan para remaja. Menemani perjalanan menemukan dirinya, mengenali, menerima lukanya dan tetap tumbuh berdaya.

Bersama orang dewasa lainnya saya berharap dapat menjadi pendidik yang kreatif dan mampu menumbuhkan pemahaman. Bahwa remaja seperti manusia pada hakikatnya merupakan pembelajar sepanjang hayat. Manusia yang memiliki kebutuhan diakui keunikan dan cara pandangnya.


Semoga tulisan ini bisa diambil manfaatnya. Mohon doanya ya kawan agar saya terus memiliki energi untuk melakukan ini semua. Jikalau nanti lelah tolong gandeng saya ya?!--Iya gandeng aja, soalnya kalau minta gendong pasti enggak ada yang kuat:)


Salam Baik,

Tabik!


Sumber Referensi :

Sarlito W.Sarwono, Psikologi Remaja, Cetakan Kedelapanbelas, Rajawali Pers, Jakarta, 2016, Hlm.18


#IbuProfesionalSemarang
#SemarakKemerdekaan
#IbuProfesionalSemarang
#LombaKontenKreatifSemarang
#HUTRi76
#KeluargaBahagiaKeluargaMerdeka
#SemestaKaryauntukIndonesia
#RCIPSemarang
#MerdekaBerkarya

Read More

6 Langkah Lebih Dekat Memahami Masalah : Alenia Ketiga Jurnal Ibu Pembaharu

Rabu, 18 Agustus 2021


Materi ketiga yang disampaikan beberapa minggu lalu. Mengajak saya dan tim untuk lebih mengenal permasalahan yang akan kami angkat. Ya, Understanding Your Problem. Itulah tema materi ketiga di kampus hijau ibu pembaharu.

Seperti biasanya kami diberi waktu 2 minggu waktu untuk mendiskusikan materi ketiga bersama tim. Puji syukur, Alhamdulillah meski salah satu dari kami berlima ada yang berhalangan hadir. Diskusi dalam daring bisa diselesaikan. Meski harus berkejaran dengan sinyal, terutama di lokasi tempat tinggal saya.

Kami menggali lebih jauh dan dalam lagi tentang segala yang berkaitan dengan masalah kami. Ada 6 langkah yang harus kami lakukan yang dikenal dengan metode starbrusting. Yaitu menggunakan 6 ujung bintang yaitu :

1. What
2. When
3. Where
4. Who
5. Why
6. How

Melalui metode tersebut kami mencoba menyelami peta permasalahan terkait dengan masalah yang dianggap krusial oleh tim kami. 

Tatap muka dalam jaringan yang kami lakukan menggunakan panggilan video grup di WhatsApp. Selama kurang lebih dua jam kami berdiskusi. Membahas masalah dari berbagai sudut pandang. Mengulik lagi apa yang jadi motif dasar kami ingin menuntaskannya. Obrolan yang seru dan asyik banyak hal baru yang ditemui sepanjang kami berdiskusi.

Kemudian, kami juga bersepakat lebih menggunakan media Instagram nantinya untuk upaya mengedukasi masyarakat.
Tim yang kami namakan Tim Ruang akan berbagi tugas untuk menghidupkannya. Kami yang berjumlah lima orang ini memiliki preferensi sendiri tentang definisi kekerasan. Mulai dari yang mengakui pernah jadi pelaku, penyintas juga pemerhati. Diskusi tim menjadi makin asyik karena banyak hal baru yang kami temukan semakin beragam.

Selengkapnya tentang jurnal hasil diskusi asyik kami di materi 3 ini bisa dibaca di sini.

Selamat membaca dan selamat menemukan inspirasi bersama kami.

#materi3 #understandingyourproblem #ibupembaharu #bundasaliha #dariduniauntukrumah #hexagoncity #institutibuprofesional #semestakaryauntukindonesia #semestanayanika




Read More