Jurnal Hexagon City : "My Character To Nation"

Selasa, 27 Oktober 2020

Pekan ini sampai pada materi luar biasa yang mulai harus melibatkan seluruh konsentrasi diri dan juga warga Co-housing. Membahas mengenai karakter pasti tidak pernah biasa saja akan banyak proses untuk bisa mengenali dan menemukannya.

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh ibu dalam video materi. Pastinya terus butuh waktu buat menyepi dan bertanya-tanya pada "cermin" tentang diri ini. Seperti yang disampaikan ibu ada Karakter moral Ibu profesional yang harus kita pahami dan lakoni. Ada juga karakter kinerja pribadi yang harus kita terjemahkan untuk memenangkan proyek ini agar bisa bermanfaat luas.

Lalu, merenung sejenak untuk menentukan mana karakter kinerja dalam diri yang ingin saya garis bawahi dan tebalkan selama enam bulan ke depan. Karakter yang akan menjadi ciri dan dapat membantu proyek bersama ini menjadi kenyataan. Maka dari hasil percakapan dengan diri sendiri itu ditemukan beberapa karakter kinerja penting tersebut. Sebuah karakter yang selama ini ada namun belum maksimal melekat pada diri saya.

HEXA Character Dian Eka

Karakter yg ingin dilatih selama 6 bulan ke depan :
Endurance

Kemampuan untuk menahan stres atau apapun kondisinya, memulihkan diri dari kesulitan dan tetap melakukan yang terbaik

Character Delay :

- Focus/Self Control
- Medio Perfeksionis
- Ideation (banyak ide)

Character Risk :

- Responsibility
- Gentleness/empati

Kenapa dua hal itu karena jujur saja sering masih suka terbawa perasaan (baper) pada masalah/kesulitan pihak lain ataupun bhal lain, over thinking dan merasa bertanggungjawab untuk membantu.

Boost

Karakter yang bisa menjadi penyemanhay adalah saya senang belajar (meskipun bukan fast learner) semangat untuk mengetahui hal baru masih cukup tinggi, bersemangat dan suka menyemangati, paham akan target/rencana yang akan dimulai/capai

Hasil Diskusi Co-house Laras Hati

Tujuan Passion Project Co Housing Laras hati adalah mendirikan Hexacare Consultant & Empowerment yang Profesional dan menjawab kebutuhan Perempuan & Ibu di bidang pelayanan Psikologi & Empowerment

Impiannya HexaCare ini akan jadi ibarat sebuah konsep Rumah Besar untuk ruang tumbuh para perempuan, calon ibu & ibu. Semacam playground tempat bermain para wanita dan ibu untuk menumbuhkan rasa bahagia dengan diri dan kehidupannya. 

Memanfaatkan aneka ruang baik secara online dan atau offline untuk mengekplorasi, menemukan dan mengembangkan passionnya. Misalnya fotografi, DIY, Yoga, menulis, memasak, dan lain sebagainya sesuai kompetensi yang dimiliki.

Layanan di Hexacare :

1. Pendampingan & Konsultasi
2. Training & Edukasi
3. Eksplorasi minat dan bakat sesuai passion

Ruang lingkup yang akan digunakan di Hexacare akan lebih banyak berbasis online, sehingga perlu banyak diskusi beberapa pihak yang paham tentang IT, agar bisa diformulasikan konsepnya menjadi lebih riil.

Kami juga membahas tentang karakter yang bisa menghambat terwujudnya Hexacare ini,antara lain :

Idealis, perfeksionis, prokastinasi, tidak percaya diri, salah fokus, ideation, ingin semua dikerjakan, mudah terdistraksi, suka menunda, ritme cepat dan monoton akan mengakibatkan ketahanan melemah sehingga motivasi menurun dan tertunda pencapaian tujuan , manajemen waktu - sering menunda pekerjaan, malas memulai sesuatu, cuek.

Apa saja yang dapat membahayakan/menghalangi terwujudnya Hexacare?

Sensitivity/empathy, responsibility, Baper, Minder, pesimistic, tidak tuntas/tidak optimal dalam menyelesaikan tugas, gentleness, arranger, perbedaan pendapat dan kesibukan masing-masing anggota, ekspektasi yg berlebihan, kapasitas individu berbeda, tujuan belum seiring, kurang totalitas, malas keluar dari zona nyaman

Karakter apa saja yang dapat mempercepat terwujudnya Hexacare?

Masing-masing kami mengutarakan apa yang menjadi kekuatan kami, antara lain : 

* Creative (Mbak Apik)
* Open minded, berani mencoba hal baru (Mbak Widya)
* Empathy dan hospitality (Mbak Ika)
* Bersemangat, suka belajar, memiliki target, mau memulai (Mbak Hikmah)
* Senang belajar, bersemangat, suka menyemangati, paham akan target/rencana yang akan dimulai (Mbak Dian)
* Responsibility, Learner, Analytical, ideation, collaborator (Mbak Ulfah)
* Suka belajar, Mudah berempati, pantang menyerah dan penuh syukur (Mbak Nuni)
* Disiplin dan senang belajar yg menjadi concern (mba Farda)
empati, ingin berkarya, berbagi, bermanfaat untuk sekitar (Mbak Dewi)
* Ideation, semangat tinggi, penghayal, self motivation, optimistis, empati (Mbak Sunarni-Ummi Rizky)

Pada akhirnya diputuskan setelah diskusi untuk mengerucutkan pada 4 Character To Nation Co-house Laras Hati :
1. Endurance
Kemampuan untuk menahan stres atau apapun kondisinya, memulihkan diri dari kesulitan dan tetap melakukan yang terbaik

2. Inner Power
Kekuatan dasar atau fitrah yang ada pada tiap manusia
3. Creative
Berpikir keluar dari konsep biasanya dan memecahkan masalah dengan inovasi
4. Sincere
Melakukan segala sesuatu dengan ketulusan atau tanpa pamrih.

Begitu lah proses kami menemukan apa yang akan kami arungi di samudera menuju terwujudnya impian HexaCare. Semoga tetap membumi tanpa menyepelekan agung dan tingginya impian dan harapan kami. Insya Allah.

Doakan kami selamat berlayar sampai ke tujuan ya.

#HexagonCity
#Hexagonia
#ProjectPassion
#KuliahBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional


Read More

5 Fakta Ciamik Tahap Bunda Cekatan menurut si Kupu-kupu Cantik

Rabu, 22 Juli 2020

Waktu demi waktu bergulir dengan cepatnya, bukan karena perputaran waktu yang berlari lebih kencang. Namun, perjalanan metamorfosis menuju kupu-kupu cantik itulah yang begitu seru hingga kami tak lagi menghitung detik per detik.

Tahapan Bunda Cekatan Batch 1 ini memang menyajikan kemasan yang berbeda. Tak hanya kemasan tetapi hidangan yang disiapkan pun selalu penuh kejutan. Mungkin kami memang sengaja dilatih untuk mengelola keterkejutan itu. Kami seolah disiapkan agar sigap dan cekatan menangkap segala momentum. Namanya juga Tahap Bunda Cekatan artinya memang sudah naik level dong cara belajarnya.


Sedikit mereviu mengapa para ibu dan calon ibu harus terus berproses yaitu agar semua perempuan tanpa terkecuali bersiap menghadapi segala kompleksitas tantangan kehidupan. Seorang Ibu sejatinya merupakan manajer dalam rumah tangganya. Ia harus belajar merdeka dan bahagia sejak dari pikirannya. Masih ingat prinsip ini kan, BeiBuns?

1. Put first thing first
2. One bite at the time
3. Delegating

Mahasiswi di Tahap Bunda Cekatan ini harus mengasah lebih tajam ketiga prinsip tersebut. Hal ini merujuk pada slogan Bunda Cekatan 'Kebanggaan Keluarga'. Bunda dan calon bunda di tahan ini harus mampu bergerak memantaskan diri untuk mencapai tujuannya.

Tahapan ini dilakoni selama 7 purnama dengan melewati semua proses metamorfosis. Mulai kelas telur-telur, kemudian kelas ulat dan naik kelas menjadi kepompong yang harus melakukan tirakat puasa hingga akhirnya menjelma menjadi kupu-kupu cantik yang terbang kesana kemari menebar kebahagiaan di taman sari.



Simaklah 5 fakta ciamik selama petualangan 7 pekan si kupu-kupu cantik berikut ini :

1. Lebih Mengenal Diri Sendiri

Sebelum memulai perjalanan peta pikiran atau mind map jadi material penting yang harus dibuat. Tentu saja ini membutuhkan kepercayaan dan penghargaan pada diri sendiri. Sejauhmana kita mengenal diri kita, apa mau kita, fokus, sasaran, serta apa tujuan hidup kita. Komunikasi jujur dengan diri sendiri sangat diperlukan untuk bisa mengenali apa yang mungkin masih tersembunyi.

2. Terencana dan Terarah

Kami dilatih untuk mampu berpikir runtut, terukur dan terarah dengan segala rencana aktivitas yang akan dilakukan.

3. Skala Prioritas

Tahapan Bunda Cekatan juga mendorong kami untuk bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat sesuai skala prioritas, baik secara individual ataupun dengan tim.


4. Komitmen dan Konsistensi

Ini bagian tersulit buat saya untuk menjaga ritmenya, kadang sudah berada di titik nadir dan ingin balik kanan karena kehilangan fokus. Tapi puji syukur Alhamdulilah mendapat banyak dukungan untuk tetap menyelesaikan sampai garis finis.

Pada bagian ini yang harus dikalahkan adalah kebiasaan menunda dan berusaha menahan diri untuk tidak reaktif pada kejutan-kejutan yang ditemui selama berproses. Perlu mengatur strategi dan energi untuk selalu mampu menikmati harmonisasi ritmenya.


5. Berkembangnya Peran dan Ketrampilan Rasa

Tidak bisa dipungkiri bahwa melalui tahap-tahap di Bunda Cekatan mengembangkan peran kita sebagai perempuan, ibu dan calon ibu. Misal yang tadinya hanya sebagai bendahara atau tukang catat naik level menjadi manajer keuangan keluarga. Saya yang belum terbiasa dengan teknik konseling REBT dengan bantuan mentor mampu membedakan dan menggabungkan dengan teknik konseling CBT. Akhirnya sebagai praktisi kemampuan peran saya sebagai konselor berkembang.

Sebagai mentor saya juga melatih mengembangkan rasa dan ketrampilan untuk berbagi apa yang saya ketahui dan pelajari. Tema Konseling dan Komunikasi Asyik dengan Remaja memang unik hingga membuat saya juga harus terus mengasah literasi untuk membantu mentee menemukan apa yang dibutuhkannya. Tak segan di sela mentoring saya meminta mentor saya untuk berkenan meladeni permintaan saya untuk 'brainstroming'. Studi kasus langsung sebagai sarana pembelajaran, agar sama-sama belajar menemukan solusi mandiri.

Nah, 5 fakta ciamik ala saya sudah terungkap di sini. Bagaimana dengan BeiBuns semua? Apakah kita mendapat perasaan dan pengalaman yang sama? Semoga ada yang berbeda sih jadi saya bisa ikutan belajar lagi apa yang masih ditambahkan dari proses ini.

Lalu, apakah saya bahagia selama menjalani Tahap Bunda Cekatan? Tentu saja saya berbahagia menemukan begitu banyak cemilan di belantara ilmu. Bisa menikmati semua yang ingin kita cicip asal jangan sampai kekenyangan dan salah jalan. Kebahagiaan lain adalah menemukan saudari baru lewat Buddy System, membentuk Family Project untuk saling menguatkan ilmu yang akan dan atau sudah dikuasai, dan terakhir program mentorship. Tak henti bersyukur saya menemukan mentor dan mentee yang luar biasa. Tidak sungkan berbagi ilmu dan saling mengisi hingga melewati akhir program tersebut. Rasanya kok seperti menemukan belahan hati.. Klik!

Terima kasih mentor dan mentee kesayangan. Kohesivitas ini pula yang membuat saya bertahan hingga akhir tahapan.

Oh ya, sebagai penutup tahan Bunda Cekatan Batch 1 ini pekan kedelapan kami diminta membuat proyek keroyokan bersama regional masing-masing. Proyek itu adalah pembuatan video selebrasi. Proses kreatif pembuatan video pendek seru dengan waktu yang terbilang singkat. Mulai dari usulan konsep, siapa pemangku tanggung jawab proses pembuatannya dan sebagainya. Alhamdulillah semua Allah mudahkan. Teman-teman merujuk pada satu konsep dan Mbak Akmala dengan besar hati menawarkan diri berperan menjadi penanggung jawabnya. Masya Allah.

Setelah itu semua kami diminta untuk mengirimkan video berdurasi dua detik dengan konsep yang sudah disepakati. Wah, tiba-tiba semua antusias menggambar kupu-kupi cantik dan ucapan terima kasihnya. Waktu mengumpulkan ada yang posisi kamera terbalik, tangannya salah arah jadi harus pengambilan gambar ulang deh. Hasilnya? Ah, kami nyaris semua berkomentar jika dibuat terharu saat pertama kali melihat tayangan yang dibagi melalui WAG HIMA Ibu Profesional Semarang.

Akhirnya yang bisa saya simpulkan adalah semua akan sampai pada kesuksesan dengan definisinya masing-masing. Kuncinya adalah niat, usaha, doa dan tujuan yang jelas lakukan semuanya berulang. Boleh lelah tapi jangan berhenti melangkah.

"Latihan - Percayakan - Kerjakan - Tingkatkan - Mengulang Latihan - Percayakan kembali - Tingkatkan semua ke level berikutnya dan begitu seterusnya"

Mengapa begitu? Sebab sebagai manusia apapun predikatnya harus mampu mengembangkan perannya di manapun dia berada. Bagi saya pribadi jadi semakin memahami bahwa anugerah Allah Subhana Wa Ta'alla sudah sedemikian besarnya, hingga muncul pertanyaan kepada diri sendiri apakah cukup hanya mau bersyukur sekedarnya?

#aliranrasabuncek1
#selebrasibuncek1









Read More

Sparkling Butterfly : Pekan Ketujuh Jurnal Kupu-kupu

Selasa, 07 Juli 2020

Selamat Pagi!

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuuh

Pekan ini adalah pekan ketujuh kupu-kupu cantik merayakan kemesraan tali kasih mentor dan mentee. Menari bersama berkeliling taman bunga dan saling berbagi manisnya putik sari.

Berbagi pengalaman, ilmu, membongkar rasa, saling merapat, menganyam cerita layaknya teman seperjalanan. Kawan yang siap sedia berbagi pelajaran hidup.

Sedari awal mentorship aku memang membuka diri hanya untuk berbagi pengalaman yang pernah dijalani selama berada di dunia konseling. Utamanya tentu tema yang aku kuasai yaitu Psikologi Pendidikan dan Remaja, sebab sungguh sejujurnya berat rasanya mengatakan diri ini sudah ahli. Masih jauh panggang dari api. Lebih nyaman bagiku untuk menggunakan kalimat lainnya.

Alhamdulillah mendapatkan kepercayaan dua mentee yang luar biasa. Naik turun hubungan kami jelas pasti ada terutama soal waktu kencan. Banyak sekali aral dalam menjalani program Mentorship. 

Selama perjalanan enam pekan rasanya memang berkejaran dengan waktu. Belum lagi ditambah dengan gawai yang memang kurang fit karena baterainya sudah aus hingga menggelembung akibat terlampau penuh dengan beban.

Minggu ini diminta untuk merayakan kebahagiaan hubungan kami selama mentoring. Surat cinta pun datang dari mentee dan mentorku. Saling menguatkan untuk lebih bersemangat menghadapi selangkah lagi program mentorship ini.

Surat cinta lebih dulu datang dari mentorku yang sabar dan telaten meladeni banyaknya pertanyaanku. Sebab terkadang masih kebingungan dengan kemiripan beberapa teori. Mau tahu isi surat cintanya? Yuk baca bersama-sama ya...

Kemajuan mentee Dian Eka
1. Mengerti aturan dan kesalahan dasar konseling
2. Memahami prinsip2 dasar REBT
3. Bsa membedakan REBT dan CBT
4. Aktif berdiskusi seputar konseling
5. Praktek sebagai klien dan mentor sebagai konselor

Sedangkan surat cinta dari kedua menteeku bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Bukan kelas bunda cekatan kalau tidak ada kejutan. Ternyata ada sesuatu yang makin unik di pekan ini yaitu kami harus menggambarkan suasana hati kami melalui pemilihan warna-warni yang diberikan pada sayap kupu-kupu kami. Sebuah tambahan tantangan pengalaman yang di luar kebiasaan, bukan?

Pertama sekali aku mencoba mewarnai dengan menggunakan template yang sudah disediakan. Namun, kemudian entah kenapa tidak merasakan sensasinya yang lebih berkesan maka aku hentikan saja prosesnya. Lalu mencoba mengunduh gambar dasar baru untuk diwarnai. Tetapi sama saja terasa ada rasa yang kurang.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil krayon yang lama terbengkalai di rak. Mulailah aku menggambar dengan piranti seadanya dan hasil gambar yang juga ala kadarnya. Namun, entah mengapa rasanya justru hati riang gembira dan puasnya malah tiada tara. 

Tara! Jadilah 'Sparkling Butterfly', seekor kupu-kupu berwarna majemuk alias pelangi. Berwana-warni dan seolah berkilauan terbang bebas merayakan kebahagiaannya. 

Ya! Itu suasana hati saya selama belajar bersama dalam mentorship ini, baik bersama mentor dan mentee. Rasanya menyenangkan sekali mendapatkan banyak ilmu, cerita dan asupan pengalaman dari sudut pandang yang berbeda.

Terima kasih mentor dan menteeku sudah bersedia berbagi bahagia untuk dibawa terbang bebas dibirunya angkasa raya. Merdeka!

#bundacekatanbatch1
#buncektahapkupu-kupu
#terimakasihmentor
#terimakasihmentee

Read More

Cerpen Anak : Rahasia Panda

Senin, 22 Juni 2020

Dua pasang mata tampak sangat seksama mengawasi semua gerak-gerik di balik gulma dan tanaman hias yang tak begitu rimbun. Sejak tadi terlihat ada sekelebat bayangan mencurigakan. Mereka terpaku pada fokus yang sama beberapa waktu.

"Kak, kamu saja yang maju. Kakak kan lebih dulu tinggal di sini ketimbang aku", bisik salah satu dari mereka. Badannya terlihat bergoyang ragu antara langkah ingin maju dan mundur lagi.

"Selama aku hidup di sini selalu aman dan tenteram. Tidak keributan menegangkan seperti ini, jadi kenapa harus aku?", sahut salah satu yang dipanggil kakak tadi. Tampak gentar juga rupanya mungkin karena itu ia akhirnya berkilah.

Mereka saling menatap cukup lama. Bisa jadi sedang mentransfer strategi yang ada dalam pikiran mereka melalui pandangan. Percakapan itu pasti sangat rahasia. Waspada. Takut kalau makhluk yang sedang bersembunyi itu mendengarnya. Tak lama si adik lalu memberikan kode berupa kedipan. Satu...dua...tiga kali kedua mata itu berkedip.

Belum sampai terlaksana di langkah pertama. Mereka dikejutkan oleh makhluk yang benar-benar membuat merinding. Bulu-bulu di badan tegak. Menegang seluruh saraf mereka mendapati sosok yang baru pertama kali ini dilihatnya. Sontak keduanya mundur sekitar dua langkah. Walau begitu mata kakak beradik tak mau lepas dari targetnya.

"Kak Bona, mengapa ia berjalan dengan tubuhnya? Mana kakinya? Lalu itu apa yang ia bawa di atas tubuhnya? Kak...", tanya si adik berondongan.

"Ssst...dik jangan berisik! Sedari tadi aku juga mencari di mana letak kepalanya?", Bona menjawab dengan kepanikan yang kasatmata. Si adik melangkah maju perlahan. Ia sudah tak mampu lagi menahan desakan kepo dalam hatinya.

"Permisi...halo...bisa kah aku menumpang di sini? Kalian penghuni taman ini, kan? Aku... aku tidak tahu kenapa bisa sampai di sini", tiba-tiba makhluk itu bersuara penuh iba.

"Aneh sekali sampai tak tahu kenapa kamu tiba di rumah kami? Jangan bilang kamu jatuh dari langit. Sebenarnya siapa kamu?", sahut Bona ketus. Akhirnya mampu mengumpulkan keberaniannya. Bagaimanapun aku harus melindungi adikku begitu ia terus meyakinkan hatinya.

"Aku mohon kawan, ijinkan aku tinggal sementara waktu ya sampai aku menemukan jalan keluar?", kalimat permohonannya semakin memelas saja.

"Kak...sudah tak apa-apa. Kelihatannya dia tidak berbahaya", bisik adik Bona melunak.

"Kamu selalu membawa benda di atas tubuhmu itu? Kemana kaki dan kepalamu?", selidik Bona tanpa menghiraukan pertanyaan makhluk itu.

"Aku memang diciptakan Tuhan seperti ini. Ini bagian dari tubuhku berfungsi sebagai perlindungan. Coba lah mendekat. Aku tidak berbahaya untuk kalian. Tenang lah!", makhluk itu mengesot. Berusaha menggerakkan tubuhnya mendekat agar mampu memperjelas siapa dirinya sebenarnya. Apapun dia akan lakukan supaya dapat diterima di sini.

"Serius nih kalian belum pernah melihatku atau saudara-saudaraku? Kasihan sekali. Namaku Geri. Aku siput darat pemakan daun-daunan", ujar makhluk misterius itu. Nadanya sudah semakin percaya diri.


Bona dan adiknya maju serempak mendekati Geri. Mereka mengamati dengan sungguh-sungguh dari dekat. Setelah yakin Geri berkata jujur, Bona mengatakan jika ia boleh tinggal di sini selama yang ia butuhkan.

"Terima kasih kalian mau menampungku, semoga kita bisa berkawan baik", ucap Geri penuh rasa syukur. 

"Perkenalkan aku Bona dan ini adikku...", belum usai Bona memperkenalkan diri sudah dipotong oleh sang adik yang sedari tadi tak sabar ingin bicara.

"Halo, Geri. Salam namaku Panda penghuni generasi ketiga di rumah ini. Senang sekali punya teman baru", sahut Panda kegirangan.

"Panda? Bona? Nama kalian aneh...ha..ha..ha", Geri terbahak-bahak tak bisa menahan tawanya.

"Ada yang salah? Tertawamu itu yang aneh sekali", ujar Panda tersinggung. 

"Kalian memang makhluk berkaki empat kurang piknik! Aku akan ceritakan pengalaman dan pengalamanku sebelum terjebak di taman sempit beratap genting ini. Aku senang berpetualang merambah tembok satu ke tembok lain. Sesekali aku mencuri dengar apa yang mereka obrolkan. Aku senang menguping saat mereka sedang belajar", seloroh Geri sedikit sombong.

"Aku yakin manusia pemilik rumah ini yang memilihkannya. Kalian tahu? Panda itu di negara asalnya, Tiongkok, berarti kucing...iya kucing tapi bukan seperti kalian. Kucing Beruang Besar begitu mereka menyebutnya", Geri menjelaskan dengan sungguh-sungguh.

"Panda punya nama latin juga yaitu Ailuropoda melanoleuca, artinya kaki-kucing hitam-putih. Hmm..sepertinya aku jadi tahu kenapa kamu diberi nama Panda...he he he...bedanya makanan kegemaran mereka itu bambu, bukan daging atau ikan segar seperti kalian," kembali Geri tertawa terkekeh-kekeh.

Bona melirik ke arah Panda yang masih terkejut mendengar fakta namanya. Kepalanya sibuk sendiri dengan sejumlah pertanyaan. "Pasti adiknya kebingungan, tapi aku pun jadi penasaran kenapa aku bernama Bona. Apakah aku harus bertanya juga pada Geri?". 

Di sisi yang lain Panda masih tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Penuturan Geri begitu meyakinkan. Hatinya diselimuti kegamangan. 

"Ternyata...aku Panda, bukan panda"
Read More

Sebuah Cerpen Anak : Doa-Doa Lelembut

Sabtu, 20 Juni 2020

Sebuah kabar tersebar di sebuah desa yang terletak jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia terdapat keluarga tak biasa. Pedesaan itu sangat jauh di bahu gunung terbesar di pulau ini.

Kita butuh setidaknya lebih dari tiga jam untuk bisa mencapainya dengan kendaraan kecil. Menempuh jalanan batu terjal, sempit dan berkelok-kelok. Melewati hutan yang daunnya masih rapat dan lebat. Kurang tampak di sisi jalanan itu. Membuat siapapun yang tak bernyali tak akan pernah sudi datang kemari.

Tak banyak rumah tinggal di desa itu, paling berkisar kurang dari lima belas gubuk kayu sederhana berjejer berjauhan letaknya. Keluarga yang tengah jadi perbincangan itu tinggal di rumah paling ujung dari perkampungan itu.

Ayah, Ibu dan seorang gadis kecil kira-kira usianya belum genap enam tahun tinggal di bangunan mungil yang tampak sangat asri. Si gadis itu sibuk mengejar kelinci yang berlarian di pelataran. Ayam-ayam yang sedang asyik mencari sarapan pun kaget ikut riuh berlarian. Ayahnya hanya tertawa melihat tingkah anak semata wayangnya itu.

"Lelembut, sudah Nak mereka jangan digoda. Itu lihat kasihan kan mereka ketakutan?", seru ayahnya sambil tetap berjongkok entah sedang mempersiapkan apa.

"Aah...Ayah mereka itu sedang bergembira", sahut Lelembut tetap saja menggoda kawanan peliharaannya. Tiga ekor kambing yang sedang merumput pun tampak ikut gelisah jikalau sebentar lagi mereka jadi sasaran gadis periang itu.

Ya namanya memang Lelembut, bukan Sheila, Santi atau Cindy seperti nama anak sebayanya. Nama itu memang sengaja dihadiahkan orang tuanya sebagai doa supaya buah hati tercintanya lembut hati. Memiliki kekayaan hati dari kelembutannya.

Tuhan mengabulkan doa mereka, Lelembut tumbuh menjadi gadis yang cantik, riang dan sangat lembut. Langkah kakinya sangat lembut bahkan ketika ia berlari-lari seperti tadi getarannya langkah tetap terasa senyap.

Sejak kecil ia gemar menemani ayahnya pergi masuk jauh ke dalam hutan mencari ranting-ranting untuk kayu bakar. Ibu melepas mereka dengan senyuman bahagia dan menantinya dengan setia.

Selama berpetualang Lelembut memiliki kebiasaan mengumpulkan barang-barang yang ia temui di jalanan. Sudah banyak temuan yang ia jadikan koleksi di kamarnya. Ayah hanya tersenyum melihat polah tingkahnya mengamati dari kejauhan dengan perasaan berbunga-bunga.

"Ayah, lihat ada yang terluka! Dia pucat dan lemas sekali.. Ayo Ayah kita bawa pulang saja", pinta Lelembut dalam tangisan kepanikan. Seekor kelinci terlihat kepayahan bertahan hidup. Ayah menuruti permintaan Lelembut. Segera ayah membuka baju luar untuk membungkus kelinci itu, menggendongnya dan setengah berlari mereka pulang. Lelembut tahu ayah bisa diandalkan. Ia bergegas berlari mengikuti langkah ayahnya.

Sesampainya di rumah ayah dibantu ibu berusaha semampunya menolong kelinci malang itu. Lelembut komat-kamit membaca doa yang ia bisa. Bersyukur pada akhirnya kelinci itu bisa diselamatkan dan sekarang menjadi sahabat karibnya. Ia beri nama Gobang.

Ternyata saat itu Gobang tak sengaja menelan plastik yang dibuang sembarangan oleh manusia, hingga ia mengganggu pencernaan dan napasnya. Tak berselang lama ayahnya membawa pulang musang yang terluka moncongnya karena kaleng bekas. Lelembut sedih bukan main.

Sejak itu Lelembut selalu meminta ayah agar ia boleh menemani masuk ke hutan. Justru ayah dan ibu bahagia dan bersukacita menyambut niat mulia anaknya. 

Tak jarang wadah kain yang Lelembut bawa kelebihan muatan. Kalau sudah begini ia akan tersenyum sangat manis agar ayah segera turun tangan.  Mengurangi beban karung Lelembut, lalu mengikat sisanya jadi satu dengan ranting-ranting pohon yang dikumpulkannya. Senyuman cerah merekah dari bibir Lelembut, bangga sekali ia pada ayahnya. Pahlawan dalam hidupnya.

Barang-barang yang dipungutnya adalah barang spesial yang ditinggalkan manusia ketika melakukan perjalanan mendaki ke puncak. Sudah tak terhitung 'harta karun' yang ia simpan dibrankas khusus buatan ayahnya. Tentu saja semua sudah dicuci bersih. Kata ibu semua itu dilakukan supaya tidak menyebabkan penyakit.. 

Sisir, botol beling berbagai bentuk, bungkus mie, kantong plastik bening juga warna-warni sudah tak terhitung lagi koleksinya. Tiap tiga pekan ayahnya harus ke kota untuk menukarkan barang-barang itu. Jika tidak pasti gudang jadi semakin sesak 

Semula ayah lakukan diam-diam takut Lelembut kecewa karena semua harta karun itu merupakan untaian doa-doanya untuk dunia.  Ibu bilang kepada kalau Ayah tetap harus jujur, maka dipanggil lah Lelembut diberikan penjelasan. 

Usai bercerita ayah memberikan semua uang hasil penukaran koleksi Lelembut. Tak hanya itu kejutan dari ayah berupa celengan kura-kura istimewa berwana merah kekuning-kuningan, membuat Lelembut girang bukan kepalang. Semangatnya menari-nari di awang-awang seperti kunang-kunang.

Kini celengannya sudah semakin berat, Lelembut pun berandai-andai ingin membeli sesuatu. Impiannya sejak dulu.

Apakah itu? Adakah yang tahu?
Read More

Menghidupkan Impian

Selasa, 09 Juni 2020

Libur telah usai saatnya memulai pembelajaran kembali di kelas Bunda Cekatan. Memasuki jurnal ketiga ini kami si kupu-kupu cantik diajak kembali mencermati peta pikiran yang telah dibuat masih jadi si Ulil yang akan memulai petualangannya.

Seringkali mendapat pertanyaan seperti berikut ini. Apa impian terbesarmu? Apa keinginanmu paling tinggi untuk diwujudkan selama hayat masih dikandung badan? Pertanyaan itu selalu tanpa aba-aba pasti muncul dalam diri, atau juga dari orang lain. Begitulah memang harusnua terjadi karena kebermaknaan diri merupakan salah satu ciri makhluk bumi paling 'seksi' bernama manusia.

Mengapa? Sebab hanya kita yang dititipkan akal untuk mengolah karsa. Bagaimana caranya? Carilah selalu the biggest why ketika akan sebelum memutuskan sesuatu.

Setidaknya itu yang seringkali aku coba lakukan. Bersyukur sejak lama meskipun belum jaman kenal istilah mind map sudah dikenalkan orang tua untuk menyadari sejak dini apa mau diri ini.

Mempertimbangkan segala sesuatu agar tiap keputusan selalu dibuat dengan sadar. Jika sudah seperti itu saat nanti di tengah jalan menemui aral tidak dengan serta merta menyerah dan berputus asa untuk mencari jalan keluar.

Bagi sebagian orang menarasikan impian itu tidak mudah. Apalagi menghidupkannya akan lebih butuh perjuangan lebih keras untuk mampu membayangkannya. Sesederhana apapun impian itu hidup akan selalu butuh tujuan. Semisal pilihannya hanya menyerahkan hidup pada ketidaksengajaan yang kemudian disebut keberuntungan. Kamu, aku, kita tetap butuh alasan untuk tetap menjejakkan kaki esok hari, bukan? Jika tidak aku takut kehidupan akan teramat membosankan karena hanya akan ada pengulangan. Baiklah boleh kok jika ada yang tidak setuju, kita harus merdeka sejak dalam pikiran bukan?

Ini pilihanku untuk terus mau menghidupkan impian. Sederhana saja tujuannya agar kelak saat masa ijin bernapas ini berakhir tak ada yang akan disesali.

Seperti jurnalku minggu ketiga ini, alhamdulillah setelah membaca ulang mind map semakin tinggi tingkat rasional diri untuk mewujudkannya (selain impian utama untuk bisa traveling kembali bersama sejoliku tentu saja!). Gambaran peta pikiran yang aku buat diawal bisa dibaca di sini.

First thing first! Sewaktu membuat mind map sebenarnya urutan dan urusan paling utama yang ingin diberesi adalah kemampuan Public Speaking. Namun, setelah melalui proses bercakap-cakap dengan diri sendiri tampaknya ranah konseling harus ditata kembali menjadi lebih kuat.

Sembari mengejar kemampuan di bidang Public Speaking sebagai penunjang aktivitasku sebagai seorang praktisi dan atau konselor pendidikan, anak dan remaja. Aku memutuskan untuk fokus belajar teknik konseling REBT dan ditambah nanti dengan Reality Therapy.

Beberapa percakapan sudah kami lakukan diprogram mentoring ini, sempat aku sampaikan di awal kepada beliau. Bahwa aku ingin menajamkan alias menaikkan kemampuan di bidang konseling kepada anak dan remaja khususnya konseling bagi mereka yang terdampak bullying ataupun kekerasan.


Gambaran di atas menunjukkan prioritas kecakapan yang dalam waktu dekat ini ingin diwujudkan, sedangkan penjabaran lebih detailnya ada pada ilustrasi gambar di bawah ini.



Sekelumit materi yang sudah kami diskusikan, yaitu tentang perbedaan CBT (Cognitive Behavior Therapy) dan REBT (Rational Emotive Behaby Therapy).

Perbedaannya adalah CBT menempatkan ranah emosi pada urutan ke 3 setelah kognitif dan perilaku. Jika pada teknik psikoterapi REBT, emosi berada di urutan ke 2 jadi alur dinamika psikologisnya beda dengan teknik CBT.

Jika dikaitkan lagi dengan praktek hidup berkesadaran, maka 'Mindfulness' ini lebih dominan kognitif pada masa kini pada prakteknya akan condong ke reality therapy, sedikit berbeda arah dengan CBT.

Reality therapy merupakan buatan William Glasser, dan teknik konseling ini lebih fit dan nyaman digunakan untuk klien remaja

Review singkat perbedaan alur konseling ketiganya :

CBT
- A (active event)
- B (believe)
- C (consequence)

REBT
- A (adversity)
- B (irational believe)
- C (emotional & behavior consequence)
- D (disputation)
- E ( effect of disputation)

Reality Therapy
- W (want)
- D (do)
- E (evaluation)
- P (planning)


Begitu lah jurnal impian dan rencana menghidupkan di minggu ketiga ini. Semoga Allah memberikan kemampuan diri ini untuk mau tumbuh dan belajar agar terus bisa berbagi kebermanfaatan.

Read More

Puasa Pekan Pertama di Tahap Kepompong

Minggu, 29 Maret 2020



Sempat bingung menentukan mau puasa apa di pekan pertama ini? Berbagai pilihan ada dalam pikiran ya bagaimana lagi banyak hal yang ingin dibenahi. Sekian lama galau akhirnya dengan sadar memutuskan. Ada perasaan bahwa tugas puasa di kelas kepompong ini terhubung dengan rutinitas atau siklus tahunan pribadi saya. Apa itu ?
.
Entah lah sejak kapan hal ini akhirnya berulang tiap tahunnya, bahkan ketika hidup ini tidak ada turbulensi. Ingatan hanya mencatat kegiatan ini semakin rutin ketika menjadi mahasiswa. Semakin sadar dan semakin membutuhkannya sebagai ruang detoksifikasi. Ah, apaan sih?
.
"Puasa" tahunan itu biasa aku sebut time capsule, berkhalwat, kontemplasi, masuk goa atau apa saja yang kurang lebih hampir sama dengan makna menyepi. Kisaran waktunya paling cepat 1 bulan dan maksimal 3 bulan. Selama kurun waktu itu aku membatasi kontak dengan dunia luar. Hanya keluarga inti saja yang bisa menghubungiku. Itu pun dengan catatan benar-benar mendesak. Tadinya keluarga agak sulit memahami tapi setelah dijelaskan mengapa itu harus dilakukan. Akhirnya semuanya mengerti.
Jika dulu tiap "puasa" saya hanya akan menyalakan gawai di hari-hari tertentu. Maka di jaman teknologi global ini, aku bisa berbeda-beda memakai metode bergantung dari situasi, kondisi juga kepelikan pikiran dan perasaan yang sedang melingkupiku.
Terakhir kali aku melakukannya dengan totalitas sekitar 2 tahun lalu menjelang akhir tahun masehi. Saat itu aku memutuskan berinisiatif membuat peta pikiran misi keluarga. Mengisi alur peta harus mengkolaborasikan ide, harapan, impianku dan suami. Maka tidak boleh gegabah karena banyak pertanyaan yang berkeliaran, bergerak terus secara acak jika tak segera diikat tentu hanya akan jadi angan belaka.
Akhir tahun lalu sejujurnya sudah mulai membatasi diri dari keriuhan dunia luar. Ada keputusan besar yang harus aku ambil tahun 2019 demi cetak biru misi keluarga (KITA) tahun ini dan insya Allah seterusnya.
Selain itu fakta kefanaan yang melelahkan selalu membuatku ingin bersegera lari ke dalam goa agar dapat berpikir terang dan merasa tenang. Fitrah bakat empatiku yang menduduki ring pertama memang harus diurus lebih dulu.
Intinya jika ingin hal lain berhasil, selesaikan "badai" pertanyaan menuju keputusan berkesadaran. Hal ini makin aku sadari saat seorang coach di sebuah workshop ku ikuti memberi sebuah nasihatnya yang kurang lebih pemahamannya tak jauh beda. Ternyata selama ini apa yang aku pelajari dan lakukan untuk diriku memang sudah tepat.
Nah sayangnya akhir tahun lalu hingga saat ini sama sekali tidak memungkinkan untuk "puasa" total. Ada banyak tugas serta tanggung jawab yang menuntutku untuk tetap terjaga. Mau tak mau harus mengganti teknik puasaku, karena masuk awal tahun ini ternyata banyak sekali penambahan penyesuaian. Kemampuan adaptasi sekaligus coping sedang diuji dari segala sisi. Semesta sedang berkonspirasi untuk mengembalikan, mengingatkanku tentang janji yang pernah ku ucapkan di tanah suci. Komitmen untuk semakin bersungguh-sungguh (betah) menjalani peran di dalam rumah. Mirip lah seperti yang pernah pak Dodik Maryanto sampaikan, bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu.
Selama ini sudah (merasa) berusaha untuk melakukan hal yang terbaik sebagai pasangan. Namun, ternyata semakin banyak aku gali dari sisi suami agar mau mengutarakan isi hati dan pikiran yang sesungguhnya tentang semua yang aku lakukan. Ternyata masBo tercinta tampaknya lebih menyukai diriku "yang sedikit lebih antheng", nggak pakai acara debat (baca: taat), dan ini nih gong-nya diminta untuk meninjau kembali kegiatan-kegiatanku meskipun memang sejak resign sudah sangat mengurangi kegiatan ternyata "hutang jamnya" masih sama saja.  Permintaan yang wajar sebetulnya, mengingat waktu bersama kami cenderung terbatas. Meski tidak menjalani Long Distance Marriage tapi bisa duduk berbincang dengan santai sungguh bukan perkara mudah. Sebagai jurnalis tentu saja tak ada patokan baku jam kerja sehingga waktu luang bebas merupakan hadiah yang tak ternilai.
Singkat cerita keputusannya adalah puasa bermedia sosial atau tepat membatasi media sosial yang berpotensi mentransfer energi negatif. Apalagi di tengah situasi dan kondisi saat ini, semakin marak berita disinformasi dan hoax yang justru malah menyebarkan rasa khawatir. Menjaga kewarasan dan kesehatan mental juga langkah yang perlu diutamakan. Facebook merupakan salah satu aplikasi yang sudah sejak lama ku berpuasa darinya. Tak perlu dijelaskan mengapa, tapi jika tidak dengan alasan yang sangat penting aplikasi ini tidak pernah dengan sengaja ku aktifkan. Menjaga agar tidak disalahgunakan oleh oknum, akun Facebook tetap dikoneksikan dengan aplikasi lain. Contohnya Instagram.
Selain Facebook aplikasi lainnya adalah WhatsApp messenger. Nggak mudah saat mengambil langkah ini, hampir semua jenis orang jaman now menggunakan aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi. Bahkan tak sekedar berkomunikasi tapi juga pembelajaran, kuliah daring, pertemuan alias rapat virtual sampai jualan online.
Meski berat tapi harus berani ku ambil untuk lebih fokus pada apa yang sedang ingin diraih saat ini. Perbedaan teknis berpuasa media sosial Facebook dan WhatsApp ada pada durasi waktu penggunaan aplikasi ini.
WhatsApp dalam sehari saya cukupkan mengakses maksimal 3 kali dengan durasi, maksimal tiap kali kandang waktu itu paling lama 2 jam. Namun bisa jadi disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jika memang diperlukan dan suami tercinta tidak berkeberatan. Bagaimana denhan Facebook? Aplikasi ini akan diakses hanya saat dibutuhkan misalnya terkait pembelajaran penyampaian materi Bunda Cekatan. Menyiasati tidak tertinggal informasi terkait kelas pembelajaran yang menggunakan media sosial ini, sebisanya aktif bertanya kepada teman sesama mahasiswi Buncek.
Selama puasa pekan pertama ini, maka semakin sering meluangkan waktu untuk mencari informasi positif yang menunjang target dalam mind map. Salah satu langkah awal di hari pertama adalah membuka lagi hadiah saat di kelas ulat. Cemilan yang diberikan saudariku Selvi tentang Manajemen Waktu. Beliau yang berada di keluarga inti Uluwatu berbaik hati memberikan rangkuman diskusi keluarganya.

Materi yang sejujurnya sangat aku butuhkan, meski tidak diletakkan pada tangga pertama langkah dalam peta pikiran. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas hadiah yang jujur tak terduga kala itu. Semoga Allah Ta'alla selalu merahmati beliau dengan keberkahan dan kebaikan.
Melalui rangkuman itu semakin sadar untuk terus memantau aktivitas pribadi agar nggak cuma asal sibuk tapi gagal produktif. Perlu menentukan prioritas, mengidentifikasi aktivitas agar bisa membuat skala prioritas, lalu agar bisa fokus kita perlu mengkategorikannya dalam matriks. Setelah melakukan itu semua untuk membantu mengobservasi langkah keberhasilan, kita perlu membuat jadwal. Macam jadwal tersebut antara lain bisa berupa Bullet Jurnal, Podomoro atau Kandang Waktu.
Selanjutnya dihari berikutnya berturut-turut lebih banyak memilih menonton tayangan bergizi via YouTube. Sekali lagi nggak selalu berhasil sekali duduk untuk bisa menyelesaikannya. Tetap memegang peta untuk menentukan target pribadi. Tiap hari harus ada satu informasi positif yang dikonsumsi dam harus sesuai kebutuhan.

Berikut perjalanan puasaku, silahkan jika ingin mengikuti menu tirakatnya :
Hari kedua : Menyimpan empon-empon
Suka sebel karena merasa sudah benar cara simpannya sesuai arahan beberapa orang tetap saja bumbu dapur ini cepat sekali busuk. Padahal tahu sendiri kan ya empon-empon sedang naik daun. Warga tanah negeri ini sedang belajar untuk "kembali" pada warisan leluhurnya yang sekian lama jadi "saudara tiri" dunia medis modern. Mau ikutan belajar? Sila lihat sendiri di sini atau di sini.
Hari ketiga : Mengelola Sampah Rumah Tangga
Yuhuuu, meski belum ada digambar dalam mind map Sustainable Living merupakan salah satu goals dalam hidupku. Jadi informasi tentang pengelolaan sampah rumah tangga yang sederhana perlu juga untuk dipelajari. Mau barengan lihat? Yuk merapat ke sini.
Hari keempat : Tips Menulis Naskah
Kalau yang ini memang ilmu yang juga sedang berusaha terus ditambah nutrisinya, selain  ilmu Public Speaking. Mari kepoin bersama di sini.

Hari kelima : Tentang Covid-19
Fakta-fakta baru tiap hari hilir mudik jika semua informasi tak ada yang ditangguhkan, apa yang terjadi? Tentu saja otak bakal penuh. Tapi memahami wabah Covid-19 ini juga perlu ilmu selain iman. 
Hari Keenam Sayur Lodeh # 1 (Tentang Rasullullah)
Situasi dunia yang sedang terkena wabah global, membuat dua masjid di tanah haram terdampak. Jamaah umroh sepi karena ada pembatasan kunjungan. Banyak hamba-Nya yang merindu tanah suci, termasuk pada panutanku Rasulullah. Akhirnya memutuskan menemukan tayangan ini.
Hari ketujuh Sayur Lodeh #2 (Ilmu Tajwid)
Belajar membenahi semuanya termasuk baca Al Qur'an dengan benar. Setidaknya ada upaya untuk belajar memperbaiki bukan? Mau ikutan nonton di sini ?
Begitu lah BeIbuns celotehan soal jurnal puasa minggu pertamaku. Maafkan diri ini jika terbacanya seperti curahan hati ya mungkin memang sednga butuh bocor kali ya? So, dimaklumi yaah ha ha ha...bukan kah writing for healing
Semoga selama 30 hari ke depan atau 3 pekan berikutnya semua ikhtiar lancar, aman terkendali.
Stay healthy and safe, dear...
Read More