One Week One Post, Cukup atau Lanjut?

Sabtu, 26 November 2022

Sebagian orang dalam kondisi tertentu butuh tantangan untuk bisa melejitkan potensi yang mungkin tertahan. Kekangan keadaan atau segala macam alasan yang jadi musababnya. Setiap orang punya latar belakang yang versinya tidak sama. Terkadang memang butuh satu dorongan yang cukup keras sehingga ia mampu mencoba keluar dari situasi tersebut.

Istilah orang awamnya 'the power of kepepet' oleh karena terpaksa akhirnya bisa menemukan kekuatannya. Tidak terkecuali aku sendiri. Sekian lama tersendat dan kesulitan menemukan gairah untuk menulis secara organik di blog sendiri. Seringkali sudah membuat rancangan ataupun draft konten yang rencananya akan dituangkan dalam tulisan di blog. Namun, tetap berakhir menjadi wacana. Apa mau dikata. Ketika luang yang terpikir kini hanya ingin rehat dan mengisi tangki energi -- nah kan bikin alasan, lagi!
Ketika program one week one post digulirkan oleh founder Komunitas Bloggers Gandjel Rel sejujurnya cukup merasakan antusiasme. Batinku, ini nih alhamdulillah ada alasan "terpaksa" isi blog yang makin tidak rajin disambangi. Butuh waktu lama untuk meyakinkan hati apakah mendaftarkan diri atau tidak.

Pasalnya kalau ternyata di tengah jalan tidak bisa menjalankan komitmen. Tidak hanya mengecewakan para founder yang sudah bersusah-payah mendongkrak semangat anggotanya, akan tetapi hal itu juga pasti mematahkan hatiku sendiri. Setelah berpikir ulang lalu nyaris jelang waktu penutupan, baru aku mengisi formulir pendaftaran.

Tantangan hari minggu pertama dapat aku lewati walaupun waktu pengumpulannya mepet. Unggahan kedua mulailah terpaksa aku melewati batas akhir dan berhutang tulisan. Begitu juga di minggu berikutnya aku absen kembali mengumpulkan tulisan saat itu. Dua pekan kalau itu memang sedikit kedodoran untuk mengelola fokus dan energi. Setiap kali selesai sesi mendampingi "teman tumbuh" yang terpikir ingin segera menetralisir pikiran dan perasaan, agar tidak tercampur aduk dengan kehidupan pribadi.

Alhamdulillah pada tantangan keempat hingga keenam bisa mengikutinya. Meski tetap saja kelar menjelang batas akhir pengumpulan. Sayangnya, minggu kemarin tepatnya minggu ke tujuh aku harus kembali gagal mengumpulkan tulisanku. Niat hati ingin riset terlebih dahulu terkait kata kunci yang sudah disiapkan, tetapi harus mengakui kalau gagal mengumpulkan fokus lagi.

Sampailah di pekan ini, tulisan dan unggahan ke delapan dalam program ini. Posisi masih belum terlunasi hutang tulisan pada tema beberapa pekan sebelumnya. Bagaimanapun juga aku sangat berterima kasih kepada para punggawa komunitas Gandjel Rel, karena sungguh sejujurnya terbantu dengan program ini, sebab aku mampu memproduksi tulisan yang bisa diunggah di blog -- daripada kosong ya kan?

Lalu bagaimana kalau program ini dilanjutkan? Mungkin aku akan berpikir lebih panjang lagi untuk mengikuti, karena takut tidak mampu berkomitmen dengan baik lagi. Mungkin sekali lagi mungkin aku bakal memutuskan untuk rehat sejenak. Lalu, menara sebaran energi agar tidak tumpang tindih dan akhirnya aku tumbang sendiri.

Sekali lagi terima kasih untuk para founder hebat atas segala hal yang telah diupayakan selama ini.

Lemah teles, Gusti Allah ingkang bales. 


Read More

Berusaha Introspeksi Diri dari Film Children of Heaven

Sabtu, 12 November 2022


Sejak diumumkan tema tentang film favorit agak bingung juga memilih film favorit. Pasalnya tiap film memiliki kesan dan pesannya masing-masing. Akhirnya memori diputar kembali jauh ke masa silam. Sempat ingin memilih film Tae Guk Gi yang saya tonton sekitar tahun 2004. Film jadul Korea sebelum jaman Drakor dan K-pop tiba, tetapi saya memilih mengendapkan terlebih dulu. 

Memori justru menemukan film paling berkesan yang sejak pertama kali menonton di masa kuliah dulu, hingga sekarang diputar ulang. Tetap saja air mata tidak bisa dibendung seketika. Film festival yang sangat dalam kesannya itu adalah Children of Heaven atau Bacheha-Ye aseman. Film ini merupakan film untuk anak digarap dengan apik oleh sang sutradara asal Iran, bernama Majid Majidi. 

Film yang diproduksi di tahun 1997 ini kalau tidak salah saya mengingat setelah ada kuliah umum yang membahas psikologi film. Entah bagaimana mulanya saya kemudian berburu film-film festival dunia. Children of Heaven merupakan salah satu yang sangat populer kala itu. Film ini memenangkan banyak penghargaan internasional. Apalah jika bukan karena cerita yang sangat menyentuh  hati para penontonnya. Kisah yang diceritakan juga terbilang cukup sederhana dan tidak rumit. 

Masih tersimpan keping VCD film yang dibintangi oleh Mohammad Amir Naji, Amir Farrokh Hashemian, dan Bahare Seddiqi. Film berdurasi 89 menit ini mengambil latar belakang kawasan pinggiran kota negara Iran. Walau keping CD tersebut tidak pernah lagi disentuh karena film ini sudah seringkali diputar ulang di televisi terutama saat lebaran. 

The Children of Heaven menceritakan tentang kakak beradik yang masih bersekolah. Konflik cerita bermula saat Ali-sang kakak laki-laki tidak sengaja meletakkan sepatu Zahra-adik perempuannya, di sebuah tempat hingga akhir hilang. Akibatnya mereka yang tidak punya sepatu lagi, akhirnya harus mau berbagi sepatu demi bisa berangkat ke sekolah. Jujur saya pun ikut gemas, tegang, resah saat melihat Zahra harus segera berlari untuk menemui Ali selepas sekolah hanya untuk bisa bergantian memakai sepatu.

Interaksi yang dibangun pemeran kakak beradik ini sangat bagus, ditambah penjiwaan karakter yang luar biasa dari kedua aktor cilik tersebut. Bagi saya patut diberikan apresiasi sebab ekspresi, bahasa tubuh mereka terlihat sangat natural. Seperti selayaknya kakak yang sedang memarahi adiknya atau saat adiknya bertingkah merajuk kepada kakaknya.

Sisi emosional karakter di film ini sangat ditonjolkan hingga menjadi kekuatan ceritanya. Kakak beradik ini begitu mudah membuat para penonton menitikkan air mata. Jalan cerita dikemas sangat apik sehingga membuat penonton berulang kali tersentuh oleh keduanya. Belum lagi konflik-konflik lain yang disajikan di film tersebut sarat dengan pesan moral. 

Meskipun ada babak yang ceritanya tidak sesuai dengan ekspektasi pribadi atau penonton lainnya juga merasakan hal yang sama. Misal ketika Ali tidak bisa mendapatkan juara ketiga yang jika dia jadi pemenangnya akan mendapatkan hadiah sepatu. Sehingga secara tersirat tertangkap pesan bahwa inti dari jalan cerita sejak awal hingga tamat, film ini bukan hanya melulu berkisah tentang bagaimana mereka akhirnya mendapatkan sepatu. Namun tentang bagaimana mereka berbagi kasih sayang kepada saudaranya. Saling mendukung untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah bersama. Merasakan kesedihan bersama, bahagia ataupun susah payah bersama. Bagaimana belajar bangkit bersama dan mampu saling menguatkan. Pelajaran dan hikmah yang diajarkan melalui sepasang sepatu.

Alur cerita yang sederhana tetapi penuh kompleksitas dan sarat makna. Begitulah film ini saya simpulkan sehingga sangat layak untuk ditonton bagi segala usia apalagi dinikmati bersama keluarga. Banyak hikmah yang dapat dipetik antara lain kegigihan, kerja keras dan ketulusan. The Children of Heaven seolah memberikan ilustrasi agar kita paham bagaimana menjaga hubungan persaudaraan, bagaimana cara untuk memeluk saudaramu, mendukung kakakmu, serta bersama-sama membantu orang tuanya.

Konsep kesederhanaan sangat ditonjolkan dalam film ini. Ali yang menolak diajak bermain bola dan memilih untuk membantu ibunya bekerja selepas sekolah. Seperti menggambarkan betapa sulit  jika terlahir dari keluarga yang kurang mampu, tetapi semua harus dihadapi, mencoba untuk selalu bersyukur dan ikhlas. Sebuah konsep sederhana sebuah film yang membuat penonton merefleksikan diri dan harapannya mampu instropeksi. 

Buat kalian yang belum pernah tahu film ini, silakan dicoba untuk menontonnya. Lalu, apakah kesannya serupa dengan saya? Atau ada yang berbeda boleh deh berbagi di kolom komentar. 

Tabik! Salam baik. Salam bahagia.



Sumber Foto : IMDb
Read More

Goodbye bad mood! I'm good : Tips Asyik Melepas Bad Mood

Sabtu, 05 November 2022

Apa itu Bad Mood? 

Sebelum kita membahas bagaimana melepaskan diri dari bad mood. Yuk, kita cek seberapa tahu Teman Tumbuh dengan istilah bad mood? Kata bad mood yang sangat familiar kita dengar berasal dari bahasa Inggris. Makna bad mood sering langsung dihubungkan dengan suasana hati seseorang. Lebih tepatnya kata bad mood merujuk pada suasana hati yang buruk ketika sedih, kecewa atau marah. 

Seseorang yang sedang bad mood biasanya akan merespon segala sesuatu dengan negatif dan juga beberapa di antaranya kehilangan minat atau gairah untuk beraktivitas.

Mood juga berbeda dari emosi. Jika emosi berlangsung relatif sebentar, maka mood cenderung lebih lama. Mood atau suasana hati juga bisa menular. Maksudnya, energi suasana hati seseorang yang buruk juga akan berimbas mempengaruhi suasana hati orang lain.

Itulah mengapa pada saat menghadapi orang yang sedang bad mood, apabila kita tidak mempersiapkan diri dengan baik. Kemungkinan besar kita ikut terseret arus suasana hati yang buruk itu. Perasaan menjadi ikut campur aduk tidak karuan.

Sesungguhnya bad mood merupakan perasaan yang umum dirasakan oleh siapapun, akan tetapi bagi sebagian orang bad mood  adalah kendala yang sangat nyata. Ketika bad mood datang semua jadi serba tidak enak dilakukan. Perasaan tidak tenang akan terus membuat gelisah, sehingga apapun yang dikerjakan menjadi tidak mendapatkan hasil maksimal. 

Bahkan tidak jarang orang yang sedang bad mood, akan mudah menumpahkan kekesalannya kepada orang lain. Perasaan bad mood ini memang sangat mengganggu kita saat bersikap. Bahkan juga dapat merugikan orang lain dan tentu saja nantinya akan merugikan diri sendiri. 


Cara Melepaskan Diri dari Bad Mood

Nah, ada cara apa saja sih yang dapat mengatasi bad mood? Berikut ini ada beberapa tips untuk menghalau bad mood yang sedang menghinggapi diri. Simak baik-baik ya! 

1. Mengakui perasaan yang sedang dialami

Pertama kali yang harus kita lakukan adalah mengakui dengan jujur terhadap perasaan kita. Tidak berusaha melarikan diri atau menolaknya. Alirkan dan akui saja semua perasaan yang ada saat itu. 

2. Melakukan hal yang disenangi

Pilih dan lakukan kegiatan apa saja yang membuat kita bahagia. Asalkan tidak membahayakan, maka lakukan. Apakah itu mendengarkan musik, travelling, atau kegiatan di luar ruangan lainnya. Menonton film juga dapat jadi pilihan apik, tetapi khusus ini pilih genrenya yang berbau komedi ya? 

3. Rutin berolahraga

Lakukan olahraga rutin yang disenangi setiap dua atau tiga hari sekali. Hal ini berguna untuk tetap menjaga kebugaran tubuh serta hormon-hormon yang mampu meningkatkan suasana hati. Salah satunya adalah hormon endorfin yang dapat membuat tubuh dan pikiran menjadi rileks. 

4. Menjaga kualitas tidur

Tidur yang terjaga kecukupan kualitas dan kuantitasnya akan sangat membantu menjaga mood kita. Kurang tidur dapat mengaktifkan saraf amigdala di otak. Saraf ini berfungsi untuk mengendalikan emosi termasuk amarah. Sudah terbayang ya, kenapa kalau kita kurang tidur bawaannya jadi lebih uring-uringan? 

5. Lembutkan napas dan tarik dalam-dalam

Lakukan teknik sadar napas. Sadari dan hayati setiap tarikan juga hembusan napas kita. Perlahan-lahan dengan pernapasan perut atau diafragma, kita lembutkan napas kita. Rasakan sensasinya. 

6. Validasi penyebab bad mood

Untuk menghilangkan bad mood kita harus memberikan jarak atau ruang jeda. Artinya cobalah diam sebentar dengan mempraktikkan teknik sadar napas. Mencoba melihat lebih diri sendiri lebih dalam. Agar mampu mengenali faktor apa saja yang membuat diri kita sedih, marah, atau kecewa. Sehingga, memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan diri kita sebelum bad mood itu muncul. Memberikan ruang atau jarak merupakan usaha agar kita mampu tetap berpikir secara positif. Kita juga mampu tetap tenang dan mencari tahu penyebab bad mood yang dialami, sehingga tetap kepala dingin menemukan solusi yang tepat sasaran.

7. Jangan terlalu keras mengkritik diri sendiri

Sayangi diri dan jangan terlalu kejam pada  diri sendiri. Jika tidak diri kita sendiri yang berusaha memahami kebutuhan diri. Jika bukan diri kita yang mencintai diri sendiri setulis hati, lalu siapa lagi? 

8. Detoksifikasi media sosial

Puasa media sosial. Hentikan sejenak semua aktivitas berkelana di dunia maya. Jangan buka sosial media apapun agar tidak terpapar informasi yang mungkin saja bermuatan negatif.

9. Temui orang-orang yang bisa memberikan support

Menjaga diri kita agar tetap dapat berpikir dan bertindak positif salah satunya adalah menjaga diri kita berada di ekosistem yang mampu terus mengalirkan energi positif. Ibarat baterai yang telah lemah dayanya. Kita perlu memenuhinya kembali agar bertenaga. Salah satunya adalah berkumpul dengan keluarga atau sahabat. Harapannya dengan berkumpul bersama mereka dapat memberikan kehangatan dan kenyamanan yang kita butuhkan. 

Itulah cara atau tips asyik yang dapat dilakukan, agar kita mampu terbebas dari bad mood. Mudah-mudahan dapat membantu, atau apabila Teman Tumbuh punya saran tips lain boleh dong berbagi inspirasi. Please, tulis di kolom komentar ya? :) 

Oh ya ada hal penting lainnya kita juga harus mampu membedakan apakah yang dialami tersebut bad mood ataukah mood disorder? Perlu diketahui bad mood sifatnya sering datang dan pergi. Umumnya tidak begitu mengganggu aktivitas sehari-hari. Sedangkan, mood disorder dikenal sebagai perubahan mood yang drastis dan sangat mempengaruhi kondisi emosional penderita. Kondisi mental yang mengganggu tersebut antara lain stress atau depresi. 

Jika sudah tampak intens gejalanya apalagi sudah sangat mengganggu kegiatan harian Teman Tumbuh semua. Maka langkah paling bijaksana segera mengunjungi psikolog, psikiater atau terapis kesehatan mental lain agar mendapatkan pendampingan juga penanganan secara profesional.

Selamat berproses mengenali diri sendiri, Teman Tumbuh. Salam Baik! Salam Bahagia!

TAKE YOUR BAD MOOD. AND SHOVE IT!


Read More

Ada Apa dengan Buku Perjalanan Rasa?

Sabtu, 29 Oktober 2022

Jika ditanya buku apa yang menjadi favorit saya? Jujur saja sulit memilihnya karena buku dan aktivitas membaca bagi saya adalah kegiatan yang meditatif. Artinya secara pribadi memilih buku mana yang sesuai dengan rasa dan kebutuhan untuk nutrisi jiwa. Memang ada beberapa buku yang secara natural terasa begitu tiba-tiba menarik hati. Seolah-olah ia memanggilku untuk segera meminangnya. Benar saja begitu sampul dibuka biasanya dalam sekali duduk buku itu bisa langsung ditamatkan.

Salah satu buku yang hingga sekarang masih setia menjadi favorit saya, dan sudah berapa kali saya tergerak untuk membacanya lagi dan lagi. Entah kenapa juga selalu ada hikmah yang ditemukan lagi setelah membacanya ke sekian kali. 

Buku karya Fahd Pahdepie berjudul Perjalanan Rasa masih menjadi salah satu buku favorit bagi saya. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 2012  dan cukup ramai dibicarakan di antara karya-karya Fahd Pahdepie lainnya semasa itu. Sejujurnya saya belum mengenal penulis dan karya-karyanya. Justru sekitar tahun 2016 saya mengenal sosoknya karena tulisan-tulisannya di media sosial yang cukup menarik dan inspiratif. 

Saya merasakan ada benang merah pemikiran pribadi dengan apa yang penulis ceritakan. Seolah tulisannya mewakili isi kepala dan hati saya. Sama sekali ini tidak saya lebih-lebihkan,  akan tetapi itu yang saya rasakan sesungguhnya. 

Berangkat dari ketertarikan membaca tulisannya di Instagram @fahdpahdepie. Mulailah saya mencari karya-karyanya. Sebelum jatuh cinta pada Perjalanan Rasa saya lebih dulu membaca karya-karyanya yang lebih mutakhir.

Buku ini merupakan sebuah tulisan perjalanan refleksi peran kehidupan pribadi seorang Fahd Pahdepie. Di awali peran sebagai seorang anak, kemudian kakak, menjadi suami, kemudian ayah, dan akhirnya sebagai penulis. Berisikan 51 catatan cerita pendek, setebal 190 halaman.

Buku ini memiliki daya tarik yang unik karena tiap judul cerita dibuat menjadi estafet. Satu kata penutup pada tulisan sebelumnya menjadi judul pada tulisan setelahnya. Bagi saya secara pribadi menjadi semakin menarik karena banyak disisipkan nilai-nilai ajaran islam hampir di setiap ceritanya.

Pada tahun 2018 buku ini kembali hangat diperbincangkan dan banyak pembaca yang tertarik dengan buku Perjalanan Rasa. Akhirnya buku ini pun diterbitkan kembali dengan komposi desain dan kemasan mengikuti perkembangan jaman. Instagramable dan tampilan warna pastel yang terlihat lebih hangat di hati.

Penulis dalam buku ini ingin bercerita dan berusaha mengajak pembacanya untuk dapat melihat segala sesuatu yang selama ini diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal sederhana yang sejatinya bermakna akan tetapi sering diabaikan. Ia mencoba menuliskannya agar pembaca atau kita semua sudi menengok ulang. Sebab sebenarnya dalam peristiwa itu terkandung makna yang apabila kita cermati lebih dalam, justru akan dapat mendewasakan dan menggenapkan kebahagiaan kita.

Banyak kalimat menarik untuk dapat dijadikan kata-kata mutiara. Salah satu quotes yang saya dapatkan dari buku ini adalah :
"Tetapi, "puncak" bukanlah soal ketinggian. Ia adalah sebuah titik dan kita bisa berdiri di sana dengan perasaan tenang, bebas, dan bahagia."
Jika kalian penasaran boleh tengok resensi atau sinopsisnya bisa dibaca di sini. Lalu, buktikan sendiri dengan membaca bukunya.

Selamat Menemukan. 


Read More

Kanjuruhan : Refleksi Sebuah Investasi Tragedi

Jumat, 07 Oktober 2022

Rasanya masih terlalu jelas dalam ingatan. Fragmen demi fragmen di pagi selepas subuh yang seharusnya masih sejuk dan menentramkan. Seketika suasana hening itu berubah, saat televisi dinyalakan semua menyiarkan berita yang sama. Petaka Kanjuruhan. Tragedi kemanusiaan yang semua orang tidak pernah menyana.

Entah bagaimana menggambarkan perasaan ini melihat begitu banyak manusia berlarian. Suara sirine mengaum di antero stadion. Teriakan demi teriakan terdengar, lengkingan tangisan dan permintaan pertolongan. Begitu pula caci maki, kemarahan. Semua kepanikan tumpang tindih pada malam kejadian itu. Tragis. Miris.

Berulang kali berusaha untuk berpindah kanal televisi. Namun, nihil karena seluruh negeri tampaknya pun terhenyak atas kabar ironi ini.  Bagaimana bisa di tengah upaya untuk memperbaiki prestasi tim nasional sepak bola kita, malah bukan prestasi yang terukir justru krisis menyayat hati yang terjadi.

Salah Siapa?

Keriuhan masih terjadi hingga kini. Saling tuduh, lempar telunjuk, tuding sana dan sini. Berkilah ini juga itu. Nyaris tidak ada yang dengan penuh kesadaran untuk menyegerakan meminta maaf pada semua pihak yang kehilangan. Memang benar terucap kata turut berduka cita, tetapi entah mengapa kalimat itu terasa formalitas belaka. Ah, mungkin saya saja yang terlalu perasa ya?

Tidak sedikit pula yang kemudian mengutus kata seandainya, jika saja, apabila. Padahal kata-kata itu tidak lagi berguna. Bahkan tidak akan mengembalikan semua yang telah terjadi. Apapun yang direnggut oleh peristiwa berdarah itu.

Tidak pernah ada sepak bola seharga nyawa! Sebab satu jiwa melayang saja sudah terasa menyakitkan. Apalagi jika ratusan nyawa meregang di gelanggang. Mereka yang telah pergi tidak akan pernah kembali. Namun, duka dan trauma yang ditinggalkan mungkin saja abadi.

Kembali kepada pertanyaan siapa yang salah? Tentu saja semua pihak berinvestasi pada tragedi ini. Diakui atau tidak opini ini, berbagai pihak ikut berkontribusi pada kejadian memilukan ini. Sebut saja operator liga yang kurang cakap mengatur sistem manajemen pertandingan yang seharusnya menitikberatkan keselamatan dan keamanan penonton yang hadir di stadion. Panitia pelaksana yang lalai. Mentalitas suporter yang belum dewasa. 

Belum lagi para pemuja rating yang akhirnya demi mengejarnya, lalu memaksakan laga dilaksanakan malam hari. Lalu, bagaimana dengan aparat keamanan? Gas air mata? Meski sejak lama sudah jelas larangan penggunaanya oleh FIFA.

Pada akhirnya semua pihak turut andil menanam saham dalam tragedi ini. Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Tidak akan ada nyala api jika tidak ada yang memantiknya.
Saat ini yang dibutuhkan publik Indonesia dan juga dunia adalah kedewasaan untuk mengakui kebobrokan berjamaah ini. Lebih baik menjadi kesatria yang jujur mengakui, daripada sibuk mencari kambing hitam siapa yang lebih patut disalahkan. 

Walaupun seyogianya siapa saja pemegang regulasi di negeri ini harus lebih menggunakan nuraninya, untuk mempertanggungjawabkan karut marut yang terjadi. Segerakan berbenah!


Pemulihan Pasca Trauma

Setiap kejadian luar biasa tragis seperti ini, selain ada korban jiwa pasti di sisi lain ada korban trauma. Bagi orang-orang yang masih terselamatkan, mereka nantinya harus melewati fase kehidupan yang berbeda setelah kejadian. Perasaan trauma pasti ada dan bisa berdampak buruk pada kualitas hidupnya.
Sejumlah 455 orang yang menjadi korban di malam kerusuhan itu. 131 korban tewas dan sisa merupakan korban luka-luka baik ringan hingga berat. Korban yang terluka ini sangat berpotensi mengalami trauma, terutama wanita dan anak-anak.

Pasca kejadian luar biasa tersebut pasti ada perpisahan yang tidak bisa terelakkan. Baik yang berada di lokasi kejadian maupun pihak yang tidak berada di sana, tetapi harus kehilangan ayah, ibu atau sanak saudaranya. Oleh karena itu korban yang masih hidup atau pihak-pihak yang terdampak harus diberikan layanan pendampingan psikologis.

Puji syukur. Alhamdulillah. Melansir dari situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia vdan Kebudayaan (KemenKoPMK). Bapak Muhadjir Effendi menyampaikan bahwa beliau mengapresiasi bahwa telah ada berbagai pihak yang bergerak cepat memfasilitasi gerakan pendampingan pasca trauma tersebut. Gerakan trauma healing ini diinisiasi oleh fakultas psikologi UMM bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Malang.

Dukungan untuk para korban juga datang dari Save The Children, BTS Army, HIMPSI cabang Malang, Maharesigana, Dinkes, MDMC Malang dan Komunitas Arema Menggugat.

Jika kita mau menurunkan ego sejenak, pasti ada sebuah hikmah yang mampu kita petik dari setiap peristiwa. Ikut berefleksi sesungguhnya hal sederhana apa, yang dapat kita lakukan agar Tragedi Kanjuruhan tidak akan pernah terulang lagi. Di sana dan atau di mana saja. Cukup sudah sepak bola kita tercatat dalam sejarah dengan tinta berdarah. 

Mari setidaknya kita selalu menyuarakan kebenaran dengan cara-cata yang tetap menawan. 


Read More

Nge-blog! Hidup Segan Mati Tak Mau

Jumat, 01 Juli 2022

Boleh ya disclaimer dulu, jangan berharap terlalu banyak setelah baca tulisan di sini. Jangan berharap dapat tips atau nasihat berharga untuk tidak malas nge-blog. Ya, karena memang 'nawaitu' menulis ini adalah curhat. Jadi doakanlah agar si penulis dan segala dinamika semestanya segera baik-baik saja. Halah! 
Baiklah seperti yang sudah terbaca di atas, pada judul menurut sangat cocok. Sebuah gambaran hubunganku dengan saya dengan blog tercinta. Ya gimana nggak cinta. Tiap tahun bayar perpanjangan domain. Namun, tiap tahun juga paling isinya tugas dari proyek perkuliahan Ibu Profesional.
Tahun 2017 aku baru mulai tertarik untuk menulis di-blog. Itupun disebabkan saat itu ikut dalam sebuah rumbel di komunitas; Literasi Media. Sejak awal niat menulis pun hanya ingin mengutarakan isi hati dan pikiran melalui tulisan. Lambat laun blog akhirnya lebih sering menampung hasil belajar, seperti yang aku sudah sampaikan di awal. 
Aku rasakan betul. Menentukan niat awal terjun di dunia Per-blogging-an ini memang harus lebih kuat, cermat dan tepat. Kelihatannya mungkin lebay ya? Namun, itulah yang aku rasakan fokus dan tujuan harus jelas dan terarah. Melalui itu seseorang akhirnya akan mengetahui apakah jalan menjadi blogger adalah passion yang akan terus diperjuangkan. Masalah cuan dan benefit lainnya aku yakin itu adalah bonusnya. Setidaknya itulah yang aku cermati dari banyak blogger profesional yang berhasil dan sukses. 
Sebagai blogger harus mengetahui dan menentukan tujuannya. Apa saja yang ingin dan akan dilakukan dengan blog yang telah dibuatnya. Kebanyakan orang termasuk saya sesaat membuat blog langsung mulai begitu saja. Tidak menentukan tujuan spesifik membuat blognya, hingga akhirnya ya mungkin terjadilah kondisi saya sekarang. Tidak cukup energi untuk mensuplai semangat isi tulisan di-blog.
Sesekali aku berselancar dan mencari tahu apa sih alasan orang malas nge-bloh? Pastinya aku juga ingin menyelisihi diriku yang kurang rajin buat konten di blog, sehingga terbengkalai dan isinya itu-itu melulu. 
Aku mendapatkan alasan pertama, karena sepi pengunjung. Kedua, karena kehabisan ide. Ketiga, sibuk dengan pekerjaan di dunia nyata. Keempat, karena peralatan untuk aktifitas menulis di-blog mengalami kendala alias rusak. Kelima, banyak yang mogok karena tidak tercapainya target Google Adsense.
Hasil berburu alasan itu, hanya ada satu yang terhubung denganku yaitu perangkat utama menulis dan utak-atik blog rusak. Tiga tahun lebih laptop kesayangan sudah tidak berfungsi. Berkali-kali diperbaiki sekian banyak itu pula harus direparasi lagi. Penyakitnya sudah menyebar dan akhirnya ia menyatakan purna tugasnya.
Terpaksa menulis menggunakan gawai, telepon pintarku. Bisa dibayangkan ya, dengan layar tidak begitu lebar dan jari jemari yang saling beradu di layar. Sungguh mengganggu kenyamanan, akhirnya pasti bisa diduga kan? Energi yang kurang ditambah kendala fasilitas, gawai bermasalah jadilah alasan untuk 'mager' semakin kuat. 
Selanjutnya, alasan paling utama adalah sejak pandemi aku menemukan passionate lain semakin besar. Bukan arena bermain baru, akan tetapi ini adalah sesuatu yang sudah lama ingin dicapai. Seiring waktu takdir Allah mendekatkanku ke sana.
Pilihan menjadi praktisi psikologi dengan sertifikasi hipnoterapis membuatku memiliki kesibukan baru. Tantangan yang berbeda dengan amanah masalah yang makin beraneka rupa. Menjadikanku semalin menjauh dari blogku.
Ya, begitulah cuitan hatiku yang ternyata sudah melebihi 300 kata. Sejujurnya ingin sekali tetap bisa dolanan di lantai dansa para blogger. Semoga segera bisa kembali ke rumah mayaku lagi! 

Read More