Ulasan Historical Fiction The Madness of Malleus Maleficarum

by - Rabu, Desember 11, 2019


Cerita pendek bergenre historical fiction yang ditulis oleh Fathin Faridah ini mengangkat tema besar yang terjadi di Eropa pada abad XV-XVII. Saat itu terjadi kehebohan luar biasa di sana, ketukan palu hukum yang paling mengerikan sepanjang sejarah Eropa mungkin juga dunia. The Witches Hammer atau Malleus Maleficarum begitulah cerita mencekam itu dikenal. Dakwaan kepada para penyihir yang membuat penduduk Eropa saat itu sangat ketakutan
Rasa takut ini dikarenakan banyak tersebar penyakit aneh berasal dari sihir atau santet yang dilakukan oleh para penyihir perempuan.

Bila Anda pada saat itu memiliki tetangga yang iri atau Anda bukan orang yang ramah hingga tak mengenal tetangga di lingkungan tempat Anda tinggal. Bisa jadi hukuman itu akan mampir tanpa ada payung hukum yang melindungi.
Hukuman yang diberikan ada berbagai pilihan, tergantung mana yang disepakati atau diminati. Digantung, dibakar hidup-hidup, diikat seluruh tubuhnya dan ditenggelamkan dalam sungai.

Itu sekilas sejarah mengerikan yang menimpa ratusan bahkan ribuan perempuan. Salah satu tragedi kemanusiaan luar biasa yang pernah tercatat dalam sejarah manusia di belahan bumi Eropa, khususnya bagi kaum wanita.

Saya angkat topi untuk mengakui penulis cukup berani mengangkat tema besar ini, bisa dibilang tidak ringan bacaan sejarah seperti ini. Bahkan mungkin fakta sejarah ini tidak banyak yang pernah mendengarnya. 

Mengangkatnya sebagai cerpen historical fiction adalah keputusan yang menandai bahwa penulis memang memiliki tabungan bacaan atau literasi yang mumpuni.

Membaca cerpen ini membawa saya masuk ke situasi pada jaman kelam itu. Situasi yang mencekam, ketakutan yang dirasakan Maria ketika ia melarikan diri. Dialog-dialog Maria dan profesor Cornelius Loos dalam pelariannya begitu mendalam nilai pesan-pesannya. Meski cerita pendek tetap sarat dengan petuah.
Salah satunya kutipan kalimat ini berhasil mencuri perhatian saya :
“Jika kita tidak melawan, suatu saat kita juga pasti mati bukan? Lebih baik mati dalam perlawanan, daripada hidup menangisi nasib tanpa berbuat apa-apa.”

Entah karena saya yang masih kurang jam terbang cerita bergenre historical fiction, di akhir cerita ini nuansa fiksinya jadi berkurang karena paragraf pamungkasnya justru membawa saya pada atmosfer cerita non fiksi (sejarah asli).

Meskipun demikian hampir secara keseluruhan tulisan ini disajikan dengan cukup kuat baik dari penokohannya, plot, latar, gaya penulisan serta konfliknya semua diracik dengan apik. 

Seandainya penulis ingin mengembangkan lagi lebih serius dengan imajinasi yang lebih luas dan mendalam, menurut saya laik sih untuk bisa jadi novel cantik nih...

Bagaimana menurut kalian, setuju dengan saya atau justru punya pendapat lain? 

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum