Tampilkan postingan dengan label Dee Irum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dee Irum. Tampilkan semua postingan

Ulasan Historical Fiction The Madness of Malleus Maleficarum

Rabu, 11 Desember 2019


Cerita pendek bergenre historical fiction yang ditulis oleh Fathin Faridah ini mengangkat tema besar yang terjadi di Eropa pada abad XV-XVII. Saat itu terjadi kehebohan luar biasa di sana, ketukan palu hukum yang paling mengerikan sepanjang sejarah Eropa mungkin juga dunia. The Witches Hammer atau Malleus Maleficarum begitulah cerita mencekam itu dikenal. Dakwaan kepada para penyihir yang membuat penduduk Eropa saat itu sangat ketakutan
Rasa takut ini dikarenakan banyak tersebar penyakit aneh berasal dari sihir atau santet yang dilakukan oleh para penyihir perempuan.

Bila Anda pada saat itu memiliki tetangga yang iri atau Anda bukan orang yang ramah hingga tak mengenal tetangga di lingkungan tempat Anda tinggal. Bisa jadi hukuman itu akan mampir tanpa ada payung hukum yang melindungi.
Hukuman yang diberikan ada berbagai pilihan, tergantung mana yang disepakati atau diminati. Digantung, dibakar hidup-hidup, diikat seluruh tubuhnya dan ditenggelamkan dalam sungai.

Itu sekilas sejarah mengerikan yang menimpa ratusan bahkan ribuan perempuan. Salah satu tragedi kemanusiaan luar biasa yang pernah tercatat dalam sejarah manusia di belahan bumi Eropa, khususnya bagi kaum wanita.

Saya angkat topi untuk mengakui penulis cukup berani mengangkat tema besar ini, bisa dibilang tidak ringan bacaan sejarah seperti ini. Bahkan mungkin fakta sejarah ini tidak banyak yang pernah mendengarnya. 

Mengangkatnya sebagai cerpen historical fiction adalah keputusan yang menandai bahwa penulis memang memiliki tabungan bacaan atau literasi yang mumpuni.

Membaca cerpen ini membawa saya masuk ke situasi pada jaman kelam itu. Situasi yang mencekam, ketakutan yang dirasakan Maria ketika ia melarikan diri. Dialog-dialog Maria dan profesor Cornelius Loos dalam pelariannya begitu mendalam nilai pesan-pesannya. Meski cerita pendek tetap sarat dengan petuah.
Salah satunya kutipan kalimat ini berhasil mencuri perhatian saya :
“Jika kita tidak melawan, suatu saat kita juga pasti mati bukan? Lebih baik mati dalam perlawanan, daripada hidup menangisi nasib tanpa berbuat apa-apa.”

Entah karena saya yang masih kurang jam terbang cerita bergenre historical fiction, di akhir cerita ini nuansa fiksinya jadi berkurang karena paragraf pamungkasnya justru membawa saya pada atmosfer cerita non fiksi (sejarah asli).

Meskipun demikian hampir secara keseluruhan tulisan ini disajikan dengan cukup kuat baik dari penokohannya, plot, latar, gaya penulisan serta konfliknya semua diracik dengan apik. 

Seandainya penulis ingin mengembangkan lagi lebih serius dengan imajinasi yang lebih luas dan mendalam, menurut saya laik sih untuk bisa jadi novel cantik nih...

Bagaimana menurut kalian, setuju dengan saya atau justru punya pendapat lain? 

Read More

Hujan dan Rahasia

Kamis, 10 Oktober 2019


Debu-debu halus
Di sepanjang jalan tandus
Desau angin basah setengah mendengus
Berharap ada celah kasih mampu menghapus


Suara hujan gelumat di pelataran
Memangku jiwa yang lumat tak beraturan
Sekian lama menahan dahaga asa
Memapah bahagia ke atas tandunya


Rinai-rinai air mata langit luruh runtuh Menciumi dedaunan dan ranting yang lama tak tersentuh
Dibalik jendela tampak wajah mungil bersahaja
Matanya basah dipapah nestapa

Di tawang mendung masih bergayut
Cahaya malu-malu merengut
Sekelebat mata itu masih tertawan
Keresahan ingin memeluk hujan


Mungkin bukan kepalang rindunya
Hingga, imajinasi menjalang nalar bertentangan
Tak karuan rupa saling bertindihan
Laksana panah mengharap lepas dari busurnya


Saat hujan berjeda kabut turun bertahta
Potongan-potongan kenangan menjelma
Entah bagaimana caranya, hujan selalu saja
Membawa kembali ayah ibunya yang telah tiada



Hujan di pelataran sudah reda
Tetap saja, aromanya menyimpan rahasia
Hening sesaat yang sempat tercipta
Menyisakan keladak cerita, seraya  memeluk sejuk tiada bertara


Semarang, 10 Oktober 2019



















Read More

Badai Blast

Kamis, 26 September 2019

Jangan Biarkan Mereka Kesepian / Foto : Pixabay

Sebelum sedikit kita akan obrolkan tentang apa itu BLAST. Coba kita sama-sama menjawab, nggak usah teriak dalam hati juga boleh. Berapa banyak anak Indonesia yang dibesarkan dengan dukungan sosial, emosional dan spiritual yang kuat? Jawabannya tentu tidak dapat kita pastikan secara kuantitatif dengan angka, namun secara umum melalu fakta kita bisa melihat bahwa tidak banyak anak Indonesia yang dibesarkan dengan dukungan sosial, emosional dan spiritual yang baik.

Fakta-fakta mengerikan yang setiap hari selalu saja ada dikabarkan media tentang perilaku negatif anak yang mengarah pada asusila, amoral, serta kriminal tidak mampu terelakkan lagi.

Bisa kita lihat video yang diunggah oleh SEMAI 0RG tentang kondisi yang mengepung anak-anak Indonesia kini. Melalui serangkaian penelitian di berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia. Didapatkan fakta bahwa 93 dari 100 anak SD sudah mengakses pornografi, 21 dari100 remaja telah melakukan aborsi, 135 anak jadi korban kekerasan, 5 dari 100 anak tertular penyakit menular seksual, 63 dari 100 remaja sudah pernah melakukan hubungan seksual diluar nikah. Tayangan  selengkapnya bisa dilihat disini .

Banyak pula anak yang lantas merusak diri sendiri. Ini semua tak lain disebabkan oleh dipicu badai BLAST. 

Apa itu BLAST?

*Bored, bosan dengan rutinitasnya, harian dan sekolah.

*Lonely kesepian sebab secara kuantitas dan kualitas tidak dekat dengan orang tuanya.

*Angry-Afraid, marah yang disebabkan situasi yang akar masalahnya bersumber pada ketidakpuasan serta rasa takut cerita pada orang tua.

*Stress, rasa tertekan dengan yang situasi melingkupinya.

*Tired, kelelahan akibat akumulasi masalah yang bertumpuk-tumpuk

BLAST adalah fenomena yang menggambarkan rapuhnya kondisi anak-anak di era sekarang ini. Mereka tumbuh dengan jiwa yang kosong. Tidak ada kelekatan emosional (bonding) yang baik diantara anggota kelompok terkecil dan terintim bernama KELUARGA.

Alih-alih menanamkan pemahaman spiritual (akidah), adab, moral justru malah sering absen berperan memberikan pendidikan dan pengasuhan pada anak.

Orangtua terlibat hanya sebagai penyedia fasilitas, materi, tanpa berusaha andil aktif melakukan proses pendidikan. Memandang tenaga subkontrak seperti pihak sekolah lah yang bertanggung jawab penuh pada pembentukan karakter dan pendidikan anak.

Baik dari sisi kognitif, moral, atau kemampuan lain yang harus dikembangkan. Akhirnya anak merasa diabaikan, sendirian menghadapi kenyataan masalah yang terjadi pada dirinya.

Anak tidak punya tempat cerita saat ia bingung atau mendapatkan masalah di sekolah. Bingung harus mencari perlindungan dari siapa saat merasa tidak aman. Sebab anak tidak merasa nyaman, merasa orang tuanya tidak mampu memberikan rasa aman.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua?

1. Sediakan waktu, hadir dan terlibat secara kuantitas dan kualitas.

2. Sediakan "TELINGA BERHATI" yang selalu  dan siap mendengar, pahami cerita dan permasalahannya.

3. Ajarkan dan contohkan anak regulasi emosi yang baik dan benar.

4. Jadilah orang tua pembelajar yang terus memantaskan diri untuk jadi panutan teladan anak.

5. Jadikan rumah sebagai pusat ketahanan, kekuatan dan kenyamanan bagi anak.

Tiap keluarga harapannya terus konsisten dengan cara apapun secara maksimal melalukan BLAST manajemen, agar kita bersama-sama mampu menyelamatkan generasi emas Indonesia. 

Generasi terbaik, pemegang tongkat estafet peradaban.
Read More

Rahasia Rasa

Rabu, 25 September 2019


Dua puluh menit lebih kami duduk dibangku itu. Saling berhadapan bertatapan namun tak sepatah katapun terucap. Canggung rasanya setelah sekian lama tak bersua. Entah mulai darimana percakapan ini akan dibuka. Mungkin hanya rindu kami yang bahasanya sama.

Itulah mengapa hanya senyuman yang sejak tadi menyapa. "Apa kabar?," akhirnya kau memulainya.

"Kabar baik. Kamu?," jawabku setengah gugup.

"Baik juga," jawabnya tak kalah formal dariku.

Akhirnya waktu beku kembali. Entah kemana hilangnya semua kosakata.

"Sampai kapan disini? Betah ya pasti disana jarang pulang?", tanyaku memberanikan diri.

"Betah nggak betah sih tapi ya bagaimana lagi, kalau nggak begitu, nggak ada pengalamannya. Maunya sih di Jogja aja tapi kayaknya Bandung lebih punya janji", ia terkekeh sambil  terus memberikan penjelasannya yang panjang. 

Tembok tak kasat mata itu akhirnya runtuh seketika. Kalimat demi kalimat akhirnya saling bersahutan. Rindu itu akhirnya terejawantahkan.

Hingga sampai disatu babak kami duduk membeku lagi.

"Kriing....kriing...kriing"

Telepon seluler dihadapan kami nyaris mengeluarkan bunyi bersamaan. Sontak kami saling berpandangan seolah merasakan sebuah pertanda. Dering telepon berbunyi sekali lagi. Kami bertatapan lagi, saling mempersilahkan untuk merespon panggilan itu.

"Ya, Hallo?...".

Kujawab panggilan itu sambil menatap Bagas yang juga melihat lekat ke arahku. Aku menunduk tak sanggup menjawab tatapannya. Tak lama kami selesai dengan percakapan telepon itu. Bagas tersenyum. Entah apa maksudnya kubalas saja.

"Aku rasa, mereka terasa dengan pertemuan kita ini, Sekar".

"Lalu? Kamu jawab apa? Bukannya kita sudah sepakat u nggak ada rahasia ? Bilang apa adanya? Hmm..kalau aku memang nggak ada kewajiban menjelaskan sih he he he..", selorohku mencoba santai.

"Aku juga cerita jujur, tapi kayaknya mereka dapat 'alert'. Merasa mungkin pertemuan kita nggak biasa. Bukannya juga yang telepon kamu tadi dia?".

Aku tertunduk. Mengangguk.

**

"Kenapa sih hubungan kita dari dulu nggak bisa jadi serius? Padahal kita masing-masing tahu jelas perasaan kita ini bagaimana. Sejauh apa kita pergi selalu saja jalan hati pulang ya ke kamu, aku", nada Bagas bicara tandas terbaca jelas kembali ia gusar.

"Sampai kapan pun kita bahas, aku nggak bakal ganti jawabannya, Gas. Aku nggak mengerti kenapa bisa begitu. Aku nggak berani. Sungguh! Perasaanku ke kamu sudah "terlalu" buat aku. Sebaliknya, perasaanmu ke aku juga begitu. Bahkan aku takut Dia cemburu", kujawab dengan cepat tanpa berani menatap ke arahnya. Kudengar ia menghela napas, dalam dan berat.

"Sekar, angkat kepalamu. Jangan sembunyikan wajahmu. Sudahlah, aku nggak marah. Perasaan dan keyakinanku masih sama seperti 10 tahun lalu. Kamu ingat?", pertanyaannya yang tiba-tiba membuatku bergegas mendongakkan kepala. Bagas terkekeh melihat reaksiku. Aku melotot ke arahnya menutupi rasa malu. Hidung dan pipiku menghangat.

"Sekar, aku selalu hargai keputusanmu. Tapi, maaf jika aku pun masih yakin kepada siapapun perasaanmu berlabuh kini. Muaranya tetap akan kembali kepadaku. Aku nggak tahu keyakinan ini datang darimana. Masih sekuat itu. Maafkan aku jika hatiku masih menunggu, sampai seseorang benar-benar telah menghalalkanmu. Saat itu baru aku putuskan, haram bagiku memikirkan kamu.", lagi-lagi ia tutup kalimatnya dengan senyuman yang selalu menawan.

Aku mencoba berani menatapnya kali ini, sorot matanya tampak ia bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. 

Kubalas senyuman Bagas, tanda kesepakatan.

***

Andai kamu tahu, Gas. Apa yang berkecamuk dalam batinku saat ini. Aku senang sekaligus takut.

Kenapa kita harus meletakkan perasaan kita pada kasta tertinggi di antara para manusia. Seperti guci keramik antik yang teramat kita cintai, kagumi dan takut sekali jika ia tergores atau rusak. Hingga, akhirnya kita justru takut menyentuhnya. Kita bingkai ia dengan kotak kaca dan hanya bisa merayakan sukacita dengan melihatnya. 

Apakah benar takdir kita hanya sebatas rasa? Perasaan yang terus dikirim Tuhan yang nanti akan jadi penawar luka-luka kita?

Sudahlah, kita serahkan saja pada buku-buku waktu kemana cerita ini sesungguhnya berlabuh.

Rahasia rasa, akankah ia bermetamorfosa?


Read More

Tabir Renjana

Selasa, 24 September 2019

Hujan rintik masih belum berhenti, aroma tanah basah melangit melangutkan jiwanya sore itu. Disudut matanya sinar tampak redup seperti gelap mendung hari itu. Bunga aneka rupa dan wangi menghias selasar rumah, yang tampak bagai taman warna-warni.

Berbagai ekspresi lalu lalang, ada yang duduk terdiam, matanya nanar menatap gentong yang konon berisi air tujuh sumber. Ada pula yang asyik berbincang, tertawa sambil bertepuk tangan hingga seluruh badannya berguncang.

Tampak pula disudut halaman itu, seorang 'Pranatacara' sedang mempersiapkan acara yang sebentar lagi akan digelar.

Mikrofon berulang kali ia ketuk, sembari sesekali beliau berdehem. Matanya menyelidik mencoba membaca situasi. Sesaat kemudian resmi acara dimulai, pembawa acara mempersilahkan semua mempersiapkan diri.

Calon pengantin sore itu menjalani prosesi siraman. Kain 'kemben' jarik warna hijau dikenakan, ronce melati menambah 'moncer' aura ayunya. Seorang lelaki paruh baya menatapnya sedari tadi sembari menyeka mata berulang kali. Napasnya ditarik panjang pendek, sangat jelas terdengar berat. Sesekali menunduk.

Terdengar pembawa acara mempersilahkan orang tua calon mempelai segera bersiap diri mengambil posisi. Lelaki itu pun beranjak menempatkan diri sesuai arahan tim acara. Sore itu serangkaian ritual adat memang harus dilewati. Para sesepuh keluarga tampak pula bersiap, satu per satu berdiri membentuk barisan.  mengguyurkan air dari gentong yang telah dicampur juga dengan bunga mawar. Ditutup dengan sungkeman sebelum berganti busana untuk acara midodareni.

***

"Kau, tahu Nak? Apa yang paling berat? Yaitu harus menyerahkanmu pada laki-laki yang tak benar-benar aku kenal."

"Kau  tahu apa yang paling mengkuatirkan? Mencemaskan  kebahagiaanmu tapi aku tak akan bisa banyak berbuat karena yang bertanggungjawab atas dirimu bukanlah aku lagi."

Itu pertahanan diri yang sulit.

Melihat kesedihanmu saat sesekali kau tersandung dan terluka dalam proses hidupmu yang baru tapi aku tak bisa lagi banyak berbuat. Itu luka terperih seumur hidupku.

Jika saja kau bisa ku jaga dalam lemari kaca, kusimpan untuk hanya bisa dilihat tanpa orang harus menyentuh dan melukaimu.

"Kamu dan adik-adikmu adalah separuh jiwaku. Hidup adalah tentang memilih, jadi pilihanmu menggapai bahagia tetap jadi akan selalu jadi prioritasku", tutur ayah terbata-bata ditengah isaknya.


Di sebelah ayah tertunduk ibu dengan tangan saling kuat berkait. Punggungnya tampak jelas dalam kesedihan yang sama.

Hening.

Mereka beradu tatapan saling menguatkan, meski dalam diam.

***

Calon pengantin perempuan berjalan setengah berjongkok menuju kedua orang tua terkasihnya. Ia sudah berganti kebaya sederhana, kerudung warna coklat susu sudah menghias mahkotanya.

Suasana haru mulai menguat saat ia mendekat, ia satukan tangannya didepan dada membungkuk dengan ketakziman.

Kesadarannya seketika bak proyektor yang tiba-tiba memutarkan film dokumenter tentang dirinya. Kata-kata pun menguap berganti derai air mata yang semakin deras. Hanya kata maaf, dan terima kasih. Tak sanggup lagi tegak kepalanya, ia tenggelamkan wajahnya dipangkuan sang ayah.

Pecahlah tangisanmereka, ayahnya mengusap pelan kepala anak perempuannya lalu berakhir dengan saling memeluk.

Ayah berbisik, "Besok pagi, putri ayah berpindah tanggung jawabnya. Bahagia sama pilihanmu, maka ayah pun akan selalu memilih bahagia melihat itu. Dijaga rumah tanggamu. Jadi pakaian yang selalu layak bagi satu sama lainnya," bisik ayah ditelinga putrinya.

Ia mengangguk sangat perlahan, setelah itu ia cium tangan ayahnya bergeser ke arah kanan dihadapan ibunda. Tak banyak kata dari sang ibu, mungkin tak ingin keharuan sore itu semakin larut. Segenap kekuatan ia kerahkan agar tak memecahkannya. Ia cium kening anak yang dilahirkannya dengan bertaruh nyawa.

Lekat dipandang amanah yang ia pinta segera hadirnya, ia ketuk pintu-pintu keheningan lewat doa-doa. Sebelum gemuruh itu datang, seketika ia dekap erat perhiasan hatinya bersama milyaran bahasa yang tak bisa diterjemahkan kata-kata.

***

Cerpen di atas sebenarnya merupakan tulisan lama. Sebuah kisah yang aku ikut sertakan dalam tantangan menulis beberapa bulan yang lalu. Ide cerita muncul saat kami keluarga besar berkumpul. Saat seperti itu papa dan mama selalu saja ada obrolan hangat yang kita pakai untuk berdebat. Ujungnya pasti beliau berdua mewariskan nasihat, padaku, suamiku, dan juga adik-adikku. Kami yang duduk lesehan selalu antusias dengan ritual itu. Meski kami tiga bersaudara ini sudah berkeluarga semua dan tinggal di luar kota. Rumah mungil dan kenangan yang ditabung orang  tua kami. Buat selalu rindu pulang.

Ya, pulang dalam arti yang sebenarnya. Tempat melepaskan penat, berbagi pelukan dan mengumpulkan lagi kekuatan.

Alhamdulillah tulisan yang sponsor  idenya dari orang tua tadi, akhirnya "diadopsi" masuk jadi salah satu kontributor diproyek buku antologi. Nggak pernah menyangka sama sekali jika lolos seleksi. Bulan lalu, buku antologi perdanaku akhirnya "dilahirkan" bersanding dengan tulisan-tulisan lain yang lebih luar biasa (oh ya masih bisa dipesan lho...eh malah iklan, maaf he he)


Masih jauh panggang dari api, begitu selalu aku meyakinkan diri ini. Banyak hal yang masih perlu diperbaiki dan dipelajari. Sudilah kiranya para pembaca yang berbudi, mau menemani proses ini.
Read More

9 Alasan Ayah Tidak Dekat dengan Anak

Senin, 23 September 2019

Setelah tulisan tentang "ayah agar pulang ke rumah" dan "dampak  ketiadaan peran ayah" beberapa waktu lalu, banyak yang menanyakan perihal apa  sih sebab ayah nggak bisa dekat anaknya sendiri?

Maka tulisan hari ini obrolannya kembali ke ayah lagi. Sebab rasanya kok nggak adil jika aku nggak berusaha sedikit memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Memang menjadi orang tua itu tidak mudah, tak ada sekolah yang secara khusus memberikan pelajaran untuk jadi orang tua yang baik. Ayah dan ibu yang baik.

Terdapat banyak kemungkinan yang menyebabkan ayah cepat memutuskan berbalik arah, alih-alih pasrah ia menyerah. Merasa tak sanggup mencoba lagi apalagi dekat dengan anak sebagaimana yang dilakukan oleh ibu. Padahal, jika saja mau terus memupuk semangat pantang menyerah untuk terus berinteraksi dengan anak, nggak kok sama sekali nggak ada yang sulit.


Yuk kenali 9 alasan yang membuat ayah merasa takut, ragu dan enggan dekat dengan anak :

1. Urusan istri

Ayah masih dirundung pikiran yang salah kaprah, mitos bahwa ibu yang paling tahu anaknya karena telah mengandung dan melahirkannya. Ibu yang seharusnya lebih dekat dengan anak, sebab anak pasti lebih nyaman dengan ibunya. 

Keyakinan ini secara tidak sadar membuat ayah akhirnya menjaga jarak dengan anak. Belum lagi seringkali ayah juga berpikir jika dekat dengan anak akan melemahkan posisinya sebagai pemimpin keluarga. Anak jadi berkurang rasa segan dan hormatnya. Takut jika maskulinitasnya berkurang karena "ikut campur" melakukan urusan perempuan (baca: ibu).

2. Anak lebih suka ibunya

Mungkin pernah saat ayah berusaha mengajak anak bermain atau bercanda dengan kepolosannya anak menjawab, "Nggak mau sama Ayah ah, enak sama Ibu saja. Ayah nggak asyik."

Lantas ayah jadi ngambek, buru-buru menyimpulkan bahwa anak lebih suka ibu.

Eiitss, tunggu dulu! Jangan terlalu cepat kabur. Coba introspeksi kembali, seberapa tulus hati Anda saat mengajaknya bermain. Kalau ayah raut mukanya kusut, nada bicara diseret ogah-ogahan. Kira-kira sikap anak akan bagaimana? Anak mampu "membaca" suasana hati dan ekspresi yang ayah bawa, lho.

Bisa jadi Ibu jauh lebih diterima karena tampak lebih antusias, apresiatif, dan menunjukkan perhatian penuh saat berinteraksi dengan anak. Cobalah berbesar hati dan berlatih lagi bagaimana menata perasaan kita sebelum menghadapi si buah hati.

3. Konflik dengan pasangan

Tak ada rumah tangga yang bebas riak gelombang ujian. Perbedaan pasti ada, karena memang suami istri adalah dua orang yang diasuh dan besarkan dari lingkungan yang tidak sama. Ayah dan ibu yang "belum selesai" dengan dirinya. Cara pandang berbeda tentang kepengasuhan anak, atau cara terbaik memberikan nilai-nilai dasar pada anak seringkali jadi pemicu perdebatan.

Ayah biasanya lebih memilih sikap pasif untuk menghindari konflik lebih lanjut. Lalu, membiarkan istrinya mengambil alih semua hal yang berhubungan dengan cara mendidik anak. Akhirnya ayah semakin menjauh.

Suami dan istri adalah tim. Bekerjasama adalah pilihan mutlak untuk membangun keluarga yang kokoh. Belajar berkomunikasi efektif dengan pasangan. Komunikasi yang sehat dalam rumah tangga terutama dalam pemecahan masalah akan ikut mengembang empati di antara pasangan. Jika orang tua bahagia, maka ini anak juga merasakan hal yang sama.

4. Nggak gampang

Ayah merasa cemas dan karena tanggung jawab jadi ayah itu berlangsung terus hingga anak jadi dewasa. Banyak hal harus dipikirkan dan diputuskan dengan bijaksana oleh ayah yang bisa kemungkinan akan berdampak pada hidup anaknya kelak. Hampir semua ayah pada akhirnya bilang, "Ternyata jadi ayah itu nggak gampang, ya. Pusing."

Bukan rahasia jika banyak calon ayah yang kerap kali berpikir tentang betapa asyiknya jika ia nanti sudah memiliki putra atau putri. Membayangkan bermain, bercanda dan sebagainya. Namun, terlupa ada kejutan-kejutan yang luput dari bayangan. Satu hal yang pasti jadi ayah memang tidak gampang, karena mustahil tiba-tiba sifat kebapakan muncul. Tapi, semua bisa dipelajari.

5. Tidak mencoba dari awal

Ayah terlambat mendekat. Alasan tidak ingin dituduh mengintervensi kedekatan ibu dan anak saat masih bayi. Ditambah lagi perasaan takut memegang tubuh mungil bayi membuatnya takut terlibat mengurus anak sejak awal.

Padahal, semakin awal mendekat dengan anak akan semakin terasa kuat ikatannya. Sejak dalam kandungan seharusnya ayah sudah belajar berinteraksi dengan anak. Meletakkan tangan pada perut ibu dan berkomunikasi dengan anak. Menempelkan telinga alih-alih berbicara dengan janin yang semakin hari semakin menggunung dalam perut ibunda.

Ketika anak sudah dilahirkan ibu juga jangan sungkan mendekatkan bayi pada ayahnya. Minta dan libatkan saat harus mengganti popok, memakaikan baju, menyendawakan bayi, ikut menenangkan bayi yang menangis.

Saling belajar agar bersama-sama terampil mengasuh anak. Semakin banyak waktu yang dihabiskan ayah untuk membangun kedekatan akan semakin menguntungkan.

Sebab, saat nanti hidupnya bergejolak dan anak membutuhkan nasihat, ayah akan jadi orang pertama yang dipercaya dan dicari anak untuk berkeluh kesah.

6. Menganggap anak beban

Anak dipandang menyenangkan jika ia tidak banyak ulah atau dianggap "pengganggu" saat beberapa kesenangan ayah jadi terhambat karenanya.

Misalnya, ingin sesekali kencan nonton dengan istri tapi kemudian ditolak karena alasan kasihan anak-anak kalau ditinggal di rumah. Atau ayah gagal mengikuti gathering klub sepedanya di luar kota, karena harus menghadiri acara anak di sekolah.

Sekali lagi menjadi ayah memang tidak mudah, ada banyak konsekuensi yang timbul jadi bersiaplah untuk terus mengendalikan ego demi kesenangan pribadi. Meski bisa dimengerti jika sesekali Ayah juga ibu butuh rekreasi agar bisa rileks menghadapi kenyataan hidup dari hari ke hari.

7. Tekanan ekonomi

Tiap keluarga butuh materi untuk menjalankan roda kehidupan sehari-hari. Kebutuhan silih berganti dan kadang sulit sekali diprediksi. Hal ini membutuhkan kekuatan finansial yang selalu diupayakan oleh ayah untuk memastikan keluarganya tercukupi. Ini membawa dampak berkurangnya waktu ayah dengan anak-anaknya.

Akan tetapi berpikirlah lebih realistis, temukan jalan tengahnya agar antara kepentingan anak kekuatan finansial tidak tumbukan.

Sebab, anak-anak selalu membutuhkan kehadiran ayahnya dan berhak mendapatkan kasih sayang, pelukan, sentuhan, dorongan semangat dan nilai-nilai lain yang bisa dipelajari dari ayahnya.

8. Merasa nggak "nyambung"

Merasa tidak mampu memahami bahasa anak, menganggap anak menggunakan bahasa-bahasa yang ayah anggap aneh dan sulit dipahami. Apalagi ketika anak sedang belajar bicara, hingga ayah berpikir susah "nyambung" jika berkomunikasi dengan anak.

9. Ayah harus lebih dekat dengan anak laki-laki

Sekali lagi hati-hati dengan jebakan mitos berpikir, bahwa ayah harus dekat anak laki-laki. Ayah harus dekat dengan semua anaknya, baik laki-laki ataupun perempuan.

Jangan takut jika ayah akan kehilangan sikap tegas dan "kelelakiannya" jika dekat dengan putrinya. Bahkan jika ayah dekat dengan putrinya ini akan lebih banyak menguntungkan dari sisi psikologisnya, ia akan mampu mengembangkan empati, kepekaan dan hubungan interpersonal dengan lebih baik.

Ayah, tidak perlu meniru Ibu saat berhadapan dengan putrinya. Perbedaan gender justru malah menambah wawasan bagi gadis kecil yang sedang bertumbuh kepribadiannya. Kelak akan berguna saat ia menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Dekat dengan ayahnya akan membuat ia tumbuh jadi wanita yang tangguh, memaknai sifat kelembutan dari sisi yang berlawanan, mampu mengelola perasaan dengan baik, belajar menghitung langkahnya sebelum mengambil keputusan karena ia mempertimbangkan perasaan dan logikanya.

Sosok pribadi ayah yang baik, tidak datang dengan tiba-tiba. Semua melalui serangkaian proses belajar terus menerus. Tidak selalu lancar, tidak ada jaminan kemudahan, dan seringkali dipertemukan dengan kegagalan.

Nah, itulah sembilan alasan yang biasanya menjadi kendala ayah tidak bisa dekat dengan anak. Bisa jadi ada alasan lain yang belum dituliskan di sini. Buat yang memiliki masukan tambahan, aku tunggu yang jejaknya dikolom komentar. 
Read More

Come On, Time To Move On!

Sabtu, 21 September 2019

Move On
Come On, Time To Move On 
"Please, kamu belum bisa move on?"
"Ayo dong, nunggu apa kapan kamu move on?"
"Susah banget mau move on, nggak ngerti mau apa lagi?"

Sering dengar kalimat kayak gitu? Mungkin sih jawabannya bakalan banyak yang bilang sering. Kasih nasihat ke teman atau malah justru jadi yang sering baper karena masalah move on?

Apa sih Move On?

Move on adalah serapan dari bahasa Inggris yang berarti pindah, namun entah darimana awalnya kata ini kemudian dikaitkan dengan makna yang berbeda. Contohnya, pindah kelain hati, pindah rumah baru, lingkungan baru, sekolah baru atau melupakan kenangan buruk dan menyedihkan di masa silam. Bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang orang yang mengatakannya.

Biasanya yang mengasumsikan kata move on ini terhubung dengan masalah percintaan adalah kalangan muda-mudi, yaitu kelompok usia remaja mulai dari remaja awal hingga akhir atau kisaran 13 hingga 22 tahun. Apa sebabnya? Betul sekali karena usia itu kepribadiannya masih sangat impulsif, meledak-ledak, mengalami masa-masa “badai” emosional.

Paling sering dibahas waktu putus cinta lalu belum bisa melupakan mantan. Si teman curhat akan bilang, “Sudahlah bray, move on! Nggak perlu sedih terus, nggak capek apa?”. Kasus lainnya, misal ada anak pindah sekolah atau mahasiswa yang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kata move on juga sering dilekatkan pada situasi mereka.

Apapun maknanya move on, terpenting adalah kenapa kita harus move dan bagaimana caranya?

Kenapa harus move on?

Ada banyak cara kita bisa mengatasi semua permasalahan hidup, dan memang terkadang nggak mudah melakukan move on. Ada yang sekejap, ada pula yang butuh waktu lama. 
Namun, sesungguhnya dorongan untuk move on itu berasal dari dalam diri kita sendiri. Sebab kitalah aktor pemeran utama dalam kehidupan kita. 

Sebesar apapun usaha orang–orang terdekat kita menyemangati kita pasti akan bergeming jika kita tak memiliki upaya yang sama besarnya. Begitu juga kenangan buruk yang terlanjur terekam hidup bersama kita tak mungkin serta merta kita hapus begitu saja. Kita perlu waktu, perlu jeda dan merenungkan kembali dan membuat pengakuan paling jujur pada diri sendiri. Sejauh apa kita terdampak kenangan buruk itu. 
Tak ada cara yang paling ampuh selain terus mengelola keyakinan diri kita untuk selalu berpikir positif  bahwa tiap kejadian yang datang kepada kita selalu ada hikmah pelajaran yang bisa kita ambil sarinya.

Bagaimanakah cara kita move on?

1.  Kosongkan Wadah Kesedihan.

Habiskan kesedihanmu. Minggirlah dari keramaian, menyendiri. Berkontemplasi. Lakukan introspeksi hingga sudut terdalam dalam diri. Me Time. Kalau ingin menangis ya menangislah. Nikmati rasa sedih dan luka itu dengan kapasitas maksimum. Jangan ditahan! Jika sulit melupakan, jangan berusaha melupakan. Sebab jejak upayamu justru akan membuatmu makin terluka. Perlu diingat selama masa “semedi” ini tetap makan minum ya, karena kita tetap butuh energi. Berdoa dan tetaplah beribadah juga jangan lupa mandi!

2.  Ikhlas dan Berusaha Menerima Kenyataan. 

Setelah habis-habisan kamu kosongkan wadah kesedihan. Pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Semua berjalan karena kehendak dan ijin-Nya. Menyalahkan diri atau orang lain bisa saja kita lakukan, tapi itu bukan jawaban.
Hurts
Try To Let Go

3.  Membuka Diri dengan Hal-hal Baru. 

Manusia adalah makhluk sosial nggak mungkin hidup sendiri. Oleh karena itu saat bersemedi, tetapkan batas waktunya. Jangan terlalu lama. Tiga hari hingga maksimum satu minggu kira cukup untuk merefleksikan semua kisah sedih itu. Berkumpul bersama teman, orang-orang baru dengan suasana baru yang lebih bisa mendorong kita jadi lebih positif.

4.  Curahkan Perasaan. 

Ceritakan permasalahanmu kepada teman yang bisa kamu percaya. Tidak perlu semua kamu jabarkan. Cukuplah garis besarnya yang terpenting setidaknya beban yang dirasakan akan berkurang saat kamu mampu berbagi kisah. Siapa tahu dari sana kita dapatkan jalan keluar dari semua kegundahan hati. Tetap berhati-hat memilih teman dan atau media untuk curhat. Salah pilih malah tambah masalah.

5.  Enjoy Our Life. 

Ikuti alur dan ritme hidup. Hidup ini singkat, tak perlu berlama-lama meratapi kenangan sedih itu. Yakinlah bahwa kita terlalu berharga jika terpuruk lebih lama. Alihkan semua kesedihan itu pada hal yang bermanfaat. Sibukkan diri untuk melakukan kegiatan baik. Sebab pasti energi positif saat menebar kebaikan itu akan terasa kedalam diri.

 Nggak percaya? Coba saja buktikan sendiri, daripada waktu diputar-putar dalam kenangan bersama "mantan" berujung kepedihan kan? Mending melipatgandakan kebahagiaan.









Read More

Review : Bumi Manusia Bukan Film Cinta Biasa

Jumat, 20 September 2019

Sejak keluar dari pintu teater lepas menonton film Bumi Manusia bersama dua adinda kesayanganku, otak rasanya susah sekali move on. Kata-kata berlompatan tak karuan ingin ditangkap jadi sebuah tulisan. Alhasil sampai di rumah, kucoba coret sana sini menumpahkan semua riang gelisah hati.  Sebelum film ini tayang memang sudah kasak-kusuk dengan diajeng Ririt harus diagendakan nonton dua film Hanung Bramantyo, Bumi Manusia dan Perburuan. Sedihnya, entah kenapa meski tayang dibioskop kesayangan dalam waktu yang bersamaan, film Perburuan harus turun layar lebih awal. Alhasil keinginan nonton film Bumi Manusia pun makin kencang takut kalah start lagi, alhamdulillah akhirnya agenda itu tercapai juga malah nggak cuma berdua tapi Ndan Hessa juga ikut serta. Padahal baru saja mendarat pagi buta di Semarang.  Semua drama pagi hari yang melingkupi kami untuk sampai di XXI seperti bumbu pelengkap nkmat yang kami rasakan hingga sore hari itu. Lupa waktu...lupa alarm...maunya perpanjangan melulu kalau sudah ketemu he..he..he

Aku pikir hari senin siang itu hanya akan ada beberapa gelintir orang yang bakal menduduki barisan kursi merah itu. Namun, sejak di lobby aku sengaja memperhatikan muda-mudi yang antri. Ternyata mereka membeli tiket untuk teater dua, tempat kami nonton film Bumi Manusia. Berasa sudah merinding..deg..deg..serr.. Tiba saat pintu teater dibuka dan kami bergiliran masuk, betul prakiraanku cukup banyak yang berjejer di sana. Kusebar pandanganku mencoba memindai wajah-wajah yang sudah duduk lebih dulu. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, hanya ingin memastikan lebih 
banyak angkatanku atau angkatan muda yang jadi penonton siang itu.

Tiket Nonton Bumi Manusia - Foto : Dok. Pribadi

Tim Ga-Lon Waktu Itu - Foto : Dok. Pribadi

Aku memang sudah lama menunggu film ini tayang, sejak tahu kabar bahwa Mas Hanung sedang mulai proses produksi film Bumi Manusia. Ku ikuti jejak-jejaknya di laman instagram pribadinya, aku bukan penggemar fanatik tapi jujur aku suka dan menikmati caranya menerjemahkan kata dalam laku visual. Aku bilang sih tiap karyanya ada aroma “kemerdekaan”, meski memang kalkulasi pasar atau industri juga harus dipertimbangkan. Siapa sih yang mau menanggung rugi? Lepas kemudian ada pro dan kontra dari karya-karyanya, aku anggap itu mah biasa. Susah kali menyenangkan semua pihak, ya kan? Manusia juga kalau nggak ada kritik dan saran kapan majunya? Terbukti pada film ini pada akhirnya upaya gila sutradara muda nusantara ini berhasil menyuguhkan karya yang luar biasa.

Seperti teman kencan nontonku siang itu, aku benar-benar berniat mengosongkan gelasnya. Rekaman satu-satunya tentang Bumi Manusia adalah novel yang tak pernah sempat aku selesaikan. Bagiku Bumi Manusia tak sekedar novel, ada banyak jalan refleksi saat membacanya. Novel Bumi Manusia termasuk dalam ‘Tetralogi Buru’, tiga judul lainnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Aku yang saat itu masih impulsif takut terjebak dalam pemikiran liar khas mahasiswa yang berkobar-kobar. Aku lupa entah aku pinjam buku itu dari mana? Perpustakaan atau dari teman pergerakan waktu itu, yang aku ingat aku berhenti karena tidak menemukan teman diskusi. Hingga aku tak pernah menghabiskan buku itu.

Mengapa Tertralogi Buru? Konon pak Pram menulis “anak-anak rohaninya” ini saat dibuang di kepulauan Maluku, Pulau Buru pada tahun 1969 – 1979. Selama sepuluh tahun itu, beliau terus menulis untuk mencari jejak-jejak jawaban bagaimana terus menjadi Indonesia. Novel Bumi Manusia sudah semacam legenda atau kitab saksi sejarah bangsa ini, dengan semua kontroversinya yang menggiring opini bahwa pak Pramoedya Ananta Toer adalah golongan kiri.

Poster Bumi Manusia - Foto : Falcon Picture
Inilah review sederhanaku, sudut pandang dan perasaanku. Mungkin tak selengkap, ulasan teman-teman lain yang juga sudah lebih dulu menulis tentang film Bumi Manusia.

Pemutaran film dimulai, sebuah awal yang buat aku takjub.  Kulihat dan kubaca narasi dilayar besar didepanku. Semua penonton diharapkan berdiri untuk bersama menyanyikan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya. Ragu, takut dibilang sok nasionalis sontak aku tengok dua rekanku kami saling bertukar pandang.  Pemuda didepan kami tampak tak ragu berdiri, kemudian lantang menyanyi dengan suara bulat juga berat, tangan kanannya tampak memegang dada sebelah kiri tepat dijantungnya. Aku tak bisa menahan haru, Tuhan masih begitu banyak cinta untuk Indonesia meski berulang kali cinta kami diuji dan porak poranda. Semua kusyuk menyanyi, meresapi magisnya tiap lirik lagu kebanggaan negeri.

Selesai kami bernyanyi, dan duduk kembali.  Mulailah kami dibawa ke lorong waktu semasa Minke hidup. Masa penjajahan, tayangan hitam putih memandu imajinasi kami ke masa itu dan diiringi suara Minke menjadi pembukanya. Minke adalah nama hinaan yang berasal dari kata monkey alias monyet. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, itulah nama sebenarnya. Seorang anak bupati, priyayi pribumi, bangsawan, karenanya ia bisa bersekolah di H.B.S seperti anak Belanda lainnya. Itu juga yang membuatnya fasih berbahasa Belanda dan akrab dengan Robert Suurhof. Minke adalah pemuda yang memiliki kepintaran diatas rata-rata, cakap, punya wawasan yang luas,  dan suka menulis. Modern dimasanya begitulah kira-kira jika diterjemahkan sederhana. Ia sering mengirim tulisan pemikirannya pada media.Cita-citanya menajdi manusia merdeka, tidak diperintah dan juga tidak memerintah.

Kisah percintaan Minke  berawal dari ajakan Suurhof untuk datang ke rumah keluarga Herman Mellema. Orang Belanda yang kaya raya pemilik berhektar-hektar lahan pertanian dan juga peternakan. Di ‘istana’ keluarga Mellema ini Minke bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengubah cerita hidupnya. Annelies Mellema dan ibunya, Nyai Ontosoroh yang merupakan perempuan asli Jawa, gundik Herman Mellema. Perempuan Jawa tulen yang dikenal tak mengenyam pendidikan formal namun memiliki tekad perlawanan. Sebuah simbolisasi  kondisi perlawanan kaum perempuan saat itu yang menginginkan perubahan dan kesetaraan. 

Salah satu mantra yang bisa didapat di Bumi Manusia - Suumber Foto : Falcon

Sepanjang 181 menit berjalan, penonton bak menemukan harta karun berupa mantra-mantra kata bijaksana. Nyaris semua kata-kata layak dikutip. Seperti menemukan ladang emas yang siap ditambang. Kekuatan lain dari film ini adalah chemistry yang dibangun dan diperankan cukup apik oleh para pemain. Pemeran Minke (Iqbaal Ramadhan) , Ibundanya (Ayu Laksmi), Annelies Mellema (Mawar Eva De Jongh), Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), Jean Marais (Hans de Kraker), Robert Suurhof (Jerome Kurnia) dan Darsam (Whani Darmawan).  Semua terasa sudah totalitas dalam memerankan karakternya, meski ya tetap ada catatan-catatan kecil yang nggak luput dari penglihatanku. Seperti akting Iqbaal Ramadhan yang masih terasa “setengah matang” memasukkan emosi dan ‘ruh’ sebagai Minke dan yang paling menggangguku sekaligus bertanya-tanya adalah  peran Christian Sugiono sebagai Kommer. Terasa nggak ada gregetnya, padahal sebenarnya dalam cerita dia lihai berorasi dan cakap menulis.

Beruntung sekali, dan memang andalanku sejak awal datang menonton film ini adalah ingin dimanja dengan akting Sha Ine Febriyanti. Sesuai ekspektasi, mataku terbelalak dadaku detaknya bergelegak tiap kali ia bersuara dan mengekpresikan sebagai wanita yang harus kuat meski terinjak-injak. Melawan dengan segala kekuatan untuk menyelamatkan harga diri yang tersisa sebagai perempuan Jawa,  manusia.  Dua peran lain yang menjadi perhatianku dan patur diapresiasi dalah Ayu Laksmi yang berperan sebagai ibu Minke dan pemeran Darsam yaitu Whani Darmawan. Beliau sukses melahap perannya. Suara ibu yang berwibawa, logat Jawa yang kental namun memancarkan aura yang begitu besar. Begitu juga dengan Darsam,  pria kepercayaan Nyai Ontosoroh berperawakan sangar dan aksen logat Madura yang kental.

Akting Sha Ine Febriyanti yang luar biasa - Foto : Falcon

Hanung sebagai sutradara dan Salman Aristo boleh dibilang sukses menerjemahkan alam kata-kata yang sedemikian indah ditulis oleh pak Pram dan mengantarkan kepada dunia visual dengan segala macam ekspektasinya. Meski telah diupayakan menyajikan dalam fragmen-fragmen, tetap saja Hanung tampak kesulitan menerjemahkannya dalam bahasa gambar. Banyak hal yang tidak dijelaskan di dalam film ini.

Banyak yang bilang karya-karya pak Pram tak layak divisualisasikam, bukan karena buruk namun takut mengurangi kebesaran novel fenomenalnya. Namun, alangkah egois jika kita tak berusaha mendekatkan para pemuda yang mulai lengah  pada kearifan budaya dan pengetahuan tentang sastra besar Indonesia.  Sebagai sutradara, Hanung Bramantyo sangat memperhatikan segala detail yang dibutuhkan dalam menghidupkan film ini. Memang ada beberapa yang kurang karena harus mereduksi beberapa hal disana sini namun tetap harus kita rayakan. Boleh aku bilang ini karya besar  dalam sejarah dunia perfilman Indonesia.
Menonton film ini harus dengan pikiran dewasa dan hati terbuka, tak sebanding memang jika kita membandingkan dengan kepuasan membaca novelnya. Tataran media imajinasinya saja sudah beda.
Sebagai penutup ada satu kutipan diakhir scene fim ini yang bikin pecah! Kalimat ini menurutku sukses mengantar penonton menuju klimaks.

“Kita sudah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya”

Lalu lagu  Ibu Pertiwi menggema sebagai latar suara penutup. Rasanya khidmat yang tidak bisa lagi kuungkap. Hanya rasa haru yang tiba-tiba pecah dan berhamburan menuju sebuah negeri antah berantah. Sebuah negeri yang sebenarnya begitu dirindukan.

Terakhir aku ingin titipkan, pesan lain yang kurajut dari menonton film Bumi Manusia ini.
Apapun yang telah kita upayakan ataupun menolak hanya diam dan puas menerima adalah sebuah kesederhanaan yang megah. Terus berusaha merdeka adalah sebuah kemewahan bagi jiwa.

Read More

Kenapa Masih Suka Dengarkan Radio? Alasan Radio Masih Jadi Teman Sejati Hingga Kini

Kamis, 19 September 2019

Lama aku terpisah
Dari dirinya
Sekian lama

Lama sudah berlalu
Tapi jejaknya
Tertanam slamanya

Dia slalu ada
Di dalam doa
Terselip nama
Di dalam doa

Lewat radio aku sampaikan
Kerinduan yang lama terpendam
Terus mencari biar musim berganti
Radio cerahkan hidupnya
Jika hingga nanti ku tak bisa
Menemukan hatinya
Menemukan hatinya
Menemukan hatinya lagi

Lama sudah berlalu
Tapi jejaknya
Tertanam slamanya

Dia sgalanya bagiku
Dia sgalanya bagiku
Apa yang terjadi jika ku gagal menemukannya

Lewat radio…

Radio Kenangan Kado dari Papa Waktu Masih Sekolah Dulu/ Dokumentasi Pribadi

Nggak asing ya sama lagu di atas? Lagu yang masih saja sering diputar ulang hingga sekarang. Milik Sheila On 7, judulnya Radio, single yang dirilis tahun 2006. Bukan mau bahas kiat sukses band legends ini berhasil terus eksis menembus batas generasi. Tapi, penasaran ingin tahu masih ada nggak sih yang tiap harinya suka dengar radio? Jujur aku agak ragu sih anak ‘zaman now’ apa iya masih suka sama hal klasik macam begini.

Era serba digital yang menjadikan segala akses kemudahan tentu saja membuat ‘penggemar’ radio makin susut. Orang mulai berpindah haluan dari media sosial paling tua ini. Internet memang menggeser pola perilaku dan minat masyarakat.

Meski begitu banyak yang mengatakan radio nggak bakal mati karena banyak yang menanti. Ya, paling tidak waktu berkendara masuk mobil kalau bosan dengan MP3 di-playlist pasti pilihannya menyalakan radio.  Radio pun pada akhirnya memang harus melakukan berbagai transformasi, mulai dari channel radio streaming hingga menyasar pada aplikasi. 

Foto : Pixabay

Mungkin sebagian anak muda generasi millenial nggak tahu nikmatnya jadi pendengar radio di era kejayaannya. Tapi buat aku dan atau teman-teman lain sebaya (takut kalau dibaca tua iih..) yang lahir antara tahun 1980-1990-an pasti paham kisah klasik yang asyik ini. Sebagai manusia yang menghabiskan masa remaja di era 90-an, seangkatan sama Dilan, radio jadi kenangan cerita yang sederhana namun manis. Persis kayak situasi yang digambarkan lewat lirik lagu Sheila On 7 di atas. Peran radio seperti tidak lepas dari rekam jejak hari-hari kami para muda mudi.

Coba mana suaranya yang senyum-senyum sendiri terus jantung ser-seran waktu kirim salam buat “seseorang”, atau waktu telepon kirim salam dan lagu untuk si dia via penyiarnya. Berbunga-bunga saat di sekolah ada yang diam-diam memberi sobekan kertas kecil bertuliskan, “Nanti kamu dengar radio A ya, jam setengah 8, kalau ada yang kirim lagu C dari si B itu dari aku buat kamu”. Duh, cuma semut merah yang merayap didinding yang tahu bagaimana warna pipinya waktu itu. Kisah indah lain, waktu ada sesi program Curhat On The Air, bisa jadi ramai esok hari jika kebetulan ada kisah yang mirip dengan seseorang di sekolah. Gosip terhangat pun merebak.

Radio diperkenalkan pertama kali oleh fisikawan asal Italia, Guglielmo Marconi pada tahun 1901 dan 1902., sebelumnya ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang menemukan transmisi radio adalah Nikola Tesla, Oliver Lodge dan Heinrich Hertz. Sejarah bangsa ini pun mencatat radio berperan besar dalam proklamasi kemerdekaan.

Kini radio tidak hanya digunakan untuk menyampaikan dan mendengarkan berita dan informasi, tapi juga sarana hiburan. Fakta yang sama adalah radio masih menggunakan gelombang AM, FM, atau XM.  Menggunakan gelombang radio yang dipancarkan melalui menara antena.


Balik tanya lagi deh? Mana suaranya yang masih setia jadi pendengar radio?

Obrolan tentang radio bagiku selalu ada muatan sentimental dan emosional. Mengapa karena memang kehidupan keseharianku sangat dekat dengan radio. Papa dan mama memang yang mengenalkan kebiasaan ini. Utamanya papa yang memang penyuka musik. Koleksi kaset dan piringan hitamnya entah berapa koper waktu itu. Sekarang sih sudah entah dimana bekasnya. Aku ingat waktu kecil dulu, mungkin masih SD tiap sahur selalu ditemani radio sambil mendengarkan penyiarnya bicara sambil pula aku masih terkantuk-kantuk melahap hidangan sahur. Atau diwaktu-waktu tertentu kami; aku dan adik-adiku mendengarkan dongeng yang dibacakan disalah satu radio. Kami terhanyut dalam ceritanya. Ada hal lain yang paling nggak bisa lupa, kalau mama yang pilih frekuensinya. Sandiwara radio! Yahuuuu, betul secara nggak sengaja karena mama ikutin serialnya sambil mengerjakan pekerjaan domestik yang nggak ada habisnya. Aku akhirnya jadi ikut mengikuti sandiwara radio bersambung itu, Tutur Tinular, Brama Kumbara lalu Mak Lampir yang suara khasnya paten bikin merinding sampai sekarang. Betul-betul sensasi yang berbeda yang nggak dimiliki media sosial lainnya. 

Foto : Pixabay

Lalu apa alasan radio masih jadi teman sejatiku hingga kini? Jelas pasti karena manfaat dan dampaknya betul-betul terasa buatku.

  1. Merasa ada teman. Ini membuat  bahagia dan semangat jadi bertambah.
Kenapa? Ada semacam perasaan intim, akrab yang diciptakan oleh penyiar dengan suara khasnya. ‘Air Personalty’ kalau kata Mbak Indah Laras, mantan penyiar disalah satu radio favoritku yang kini jadi guru, kakak, teman seperjuangan. Uniknya saat kami dipertemukan pertama kali dalam acara komunitas parenting yang kami ikuti, aku langsung mengingat suaranya. “Eh, kayak pernah dengar dimana ya?”, kataku waktu itu. Lalu kusebutkan, Imelda FM bukan? (Imelda FM; Female Station, merupakan salah satu radio yang paling sering aku dengar). Pernah pegang program Sharing On The Air bukan? Ternyata tebakanku benar dan perjodohan positif berlaku lagi disini. Aku dipertemukan dengan beliau pemilik suara yang selama ini aku kagumi. Melalui beliau aku mendapatkan banyak cerita tentang dunia per-Radio-an. Dunia yang pernah aku impikan. Nikmat mana lagi yang aku dustakan!

  1. Membantu menambah daya konsentrasi.
Entah ya kalau buat yang lain tapi aku merasakan ada peningkatan konsentrasi saat aku belajar atau beraktifitas ditemani radio. Secara nggak langsung karena dilakukan terus menerus ini pun meningkatkan kecerdasan. Suara atau audio yang dikeluarkan oleh radio dan ditangkap oleh telinga memaksa otak untuk meningkatkan kinerjanya agar menangkap informasi yang disampaikan melalui suara itu. Selain itu radio juga mengembangkan daya imajinatif yang kuat. Seperti saat tadi aku mendengarkan program dongeng anak-anak, aku membayangkan bagaimana raja hutan mengaum, perompak yang sedang menghadang buruannya di tengah samudera luas. Begitu juga saat mendengarkan sandiwara radio bersama mama, membayangkan rupa Mantili, Brama Kumbara bahkan seseram apa Mak Lampir dengan suara lengkingan yang dahsyat itu.

  1. Melatih kesabaran.
Iya dong saat kita titip salam atau ikut request lagu pasti ada dong harap-harap cemas laguku diputar nggak ya? Pesan aku sampai dibacakan nggak ya?

  1. Fleksibel.
Radio bisa kita dengarkan sembari melakukan apa saja, dimana saja karena pendengaran kita yang berperan besar.

  1. Sarana Belajar dan Mencari Info Terkini.
Melalui program-programnya radio bisa diandalkan menjadi media untuk mengikuti informasi terkini, talkshow dengan menghadirkan narasumber dan tema yang berganti-ganti, info kepadatan arus lalu lintas pun bisa kita ketahui dengan rinci melalui radio.

  1. Banyak Pilihan dan Gratis.
Asyiknya mendengarkan radio adalah kita bisa bebas mengganti-ganti frekuensi. Tinggal geser sudah banyak pilihannya yang sesuai selera. Gratis karena nggak pakai kuota kecuali kalau kamu pakai radio daring; radio streaming atau podcast ya!

Itu lah cerita alasanku kenapa masih selalu jatuh cinta pada radio, meski bertebaran channel youtube atau program TV. Seringnya aku nikmati mendengarkan radio tetap jadi kesenangan sejati yang sensasinya tak terganti. Sambil mencecap kopi dan segala hingar bingar rutinitas dan situasi pagi hari. Bagaimana dengan kalian? Masih setia dengar radio? Radio apa yang jadi favorit kalian? Terus kapan aja nih kalian ditemani radio?


Sumber Bacaan :

https://www.google.com/amp/s/www.jawapos.com/jpg-today/01/05/2019/radio-masih-jadi-media-pilihan-masyarakat/%3famp

https://merahputih.com/post/read/18-fakta-tentang-radio-yang-wajib-anda-tahu

Read More