Come On, Time To Move On!

by - Sabtu, September 21, 2019

Move On
Come On, Time To Move On 
"Please, kamu belum bisa move on?"
"Ayo dong, nunggu apa kapan kamu move on?"
"Susah banget mau move on, nggak ngerti mau apa lagi?"

Sering dengar kalimat kayak gitu? Mungkin sih jawabannya bakalan banyak yang bilang sering. Kasih nasihat ke teman atau malah justru jadi yang sering baper karena masalah move on?

Apa sih Move On?

Move on adalah serapan dari bahasa Inggris yang berarti pindah, namun entah darimana awalnya kata ini kemudian dikaitkan dengan makna yang berbeda. Contohnya, pindah kelain hati, pindah rumah baru, lingkungan baru, sekolah baru atau melupakan kenangan buruk dan menyedihkan di masa silam. Bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang orang yang mengatakannya.

Biasanya yang mengasumsikan kata move on ini terhubung dengan masalah percintaan adalah kalangan muda-mudi, yaitu kelompok usia remaja mulai dari remaja awal hingga akhir atau kisaran 13 hingga 22 tahun. Apa sebabnya? Betul sekali karena usia itu kepribadiannya masih sangat impulsif, meledak-ledak, mengalami masa-masa “badai” emosional.

Paling sering dibahas waktu putus cinta lalu belum bisa melupakan mantan. Si teman curhat akan bilang, “Sudahlah bray, move on! Nggak perlu sedih terus, nggak capek apa?”. Kasus lainnya, misal ada anak pindah sekolah atau mahasiswa yang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kata move on juga sering dilekatkan pada situasi mereka.

Apapun maknanya move on, terpenting adalah kenapa kita harus move dan bagaimana caranya?

Kenapa harus move on?

Ada banyak cara kita bisa mengatasi semua permasalahan hidup, dan memang terkadang nggak mudah melakukan move on. Ada yang sekejap, ada pula yang butuh waktu lama. 
Namun, sesungguhnya dorongan untuk move on itu berasal dari dalam diri kita sendiri. Sebab kitalah aktor pemeran utama dalam kehidupan kita. 

Sebesar apapun usaha orang–orang terdekat kita menyemangati kita pasti akan bergeming jika kita tak memiliki upaya yang sama besarnya. Begitu juga kenangan buruk yang terlanjur terekam hidup bersama kita tak mungkin serta merta kita hapus begitu saja. Kita perlu waktu, perlu jeda dan merenungkan kembali dan membuat pengakuan paling jujur pada diri sendiri. Sejauh apa kita terdampak kenangan buruk itu. 
Tak ada cara yang paling ampuh selain terus mengelola keyakinan diri kita untuk selalu berpikir positif  bahwa tiap kejadian yang datang kepada kita selalu ada hikmah pelajaran yang bisa kita ambil sarinya.

Bagaimanakah cara kita move on?

1.  Kosongkan Wadah Kesedihan.

Habiskan kesedihanmu. Minggirlah dari keramaian, menyendiri. Berkontemplasi. Lakukan introspeksi hingga sudut terdalam dalam diri. Me Time. Kalau ingin menangis ya menangislah. Nikmati rasa sedih dan luka itu dengan kapasitas maksimum. Jangan ditahan! Jika sulit melupakan, jangan berusaha melupakan. Sebab jejak upayamu justru akan membuatmu makin terluka. Perlu diingat selama masa “semedi” ini tetap makan minum ya, karena kita tetap butuh energi. Berdoa dan tetaplah beribadah juga jangan lupa mandi!

2.  Ikhlas dan Berusaha Menerima Kenyataan. 

Setelah habis-habisan kamu kosongkan wadah kesedihan. Pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Semua berjalan karena kehendak dan ijin-Nya. Menyalahkan diri atau orang lain bisa saja kita lakukan, tapi itu bukan jawaban.
Hurts
Try To Let Go

3.  Membuka Diri dengan Hal-hal Baru. 

Manusia adalah makhluk sosial nggak mungkin hidup sendiri. Oleh karena itu saat bersemedi, tetapkan batas waktunya. Jangan terlalu lama. Tiga hari hingga maksimum satu minggu kira cukup untuk merefleksikan semua kisah sedih itu. Berkumpul bersama teman, orang-orang baru dengan suasana baru yang lebih bisa mendorong kita jadi lebih positif.

4.  Curahkan Perasaan. 

Ceritakan permasalahanmu kepada teman yang bisa kamu percaya. Tidak perlu semua kamu jabarkan. Cukuplah garis besarnya yang terpenting setidaknya beban yang dirasakan akan berkurang saat kamu mampu berbagi kisah. Siapa tahu dari sana kita dapatkan jalan keluar dari semua kegundahan hati. Tetap berhati-hat memilih teman dan atau media untuk curhat. Salah pilih malah tambah masalah.

5.  Enjoy Our Life. 

Ikuti alur dan ritme hidup. Hidup ini singkat, tak perlu berlama-lama meratapi kenangan sedih itu. Yakinlah bahwa kita terlalu berharga jika terpuruk lebih lama. Alihkan semua kesedihan itu pada hal yang bermanfaat. Sibukkan diri untuk melakukan kegiatan baik. Sebab pasti energi positif saat menebar kebaikan itu akan terasa kedalam diri.

 Nggak percaya? Coba saja buktikan sendiri, daripada waktu diputar-putar dalam kenangan bersama "mantan" berujung kepedihan kan? Mending melipatgandakan kebahagiaan.









You May Also Like

2 komentar

  1. Wuih, udah sampai tema move on ik. Aku belum garap 2 tema nih... butuh perenungan yang panjang dulu. Etdaaah :D :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum