Fiksi, Non Fiksi atau Faksi? Aku Memilih Menulis

by - Minggu, September 22, 2019

Keajaiban Diam


Kala Jiwa Butuh Tandu
Ketika dersik meninggalkan gurat sembilu
Saat sepi tiba, imajiku bernyanyi
Demi sebuah janji

Sunyi lantang berteriak
Buat telinga pekak
Nyali mereka terserak
Tapi hendak kemana mengelak

Suara hati terus saja berorasi
Mengibarkan panji-panji
Disatu titik kulminasi pekikan terhenti
Merdekalah dan Jangan Mati!
(Semarang, 23 Muharram 1441 H)

Ku letakkan penaku. Tak mampu lagi aku merangkai kata indah, untuk menyelamatkan kemarahan ini. Rabb-ku ijinkan ruhku berbagi kelelahan. Ragaku terkadang ingin tirah. Kini kekuatanku hanya diam. Satu-satunya yang kudengar hanya suara sedu sedan. Pedih ini mungkin tak sama. Sebab bukan kehilangan yang kutangisi, namun penyesalan karena puncak kemarahan yang serasa tak bertuan ini terus bergentayangan menjadi beban. Matahari dan senja sudah tak lagi berbalas senyuman, aku ditinggalkan bersama malam. Kelam. 

Jiwaku mengendap-endap  dalam diam. Kelindan senyuman. Seruan manja panggilan saling bersahutan dalam angan. Aku makin tenggelam ke dalam isakan. Kemarahan merisak jiwaku. Entah disudut mana aku termangu. Udara membeku. Langit membatu. Merapulah aku bersama semesta yang membisu.

“Bun...bun...”, panggil Eka lirih disudut ruang sempit itu.
“Iya, Nak. Kenapa? Sebentar lagi ada jadwal konseling lho. Kita belum buat janji, kan? Atau Bu Dewi lupa tulis ya?”, sahutku sambil tersenyum.
“Nggak, Bun. Enggak janjian...aku cuma mau disini aja lihat Ibun ngomong. Anggap aja aku nggak ada hehehe..Nggak apa-apa ya?”, selorohnya manja.

Aku hanya mengangguk, demi melihat binar mata bening yang selalu penuh harap dan selalu sigap menungguku. Hanya sebuah laku sederhana, secuil pengakuan yang ia harapkan.

***
Aku tahu ini bukan salahku. Tak ada kentalnya darah yang mengikat kami. Tak mengapa jika saja aku memilih tak peduli. Tapi sisi batinku tak mampu memungkiri jika ada sesak tanya salahkah jika aku kecewa? Kecewa saat gagal meminjam “tangan-Mu” untuk melebarkan jangkauan pelukanku. Merengkuh dalam dekapanku. Jiwa-jiwa kosong yang menyusuri jalan sunyi yang kadang hanya mengenal caci maki hingga hilang nyali percaya diri.

Tuhan ijinkan aku memilih percaya pada keajaiban ‘diam’. Meramu logika, perasaan dan iman bersamaan.

Kadang diam adalah seribu bahasa yang tak pernah kita ketahui ujung maknanya. Sebab kembali ditangan nurani yang akan memilih frekuensi. Mengantarkan harap ke puncak tertinggi.

Diamku ini terus kuselimuti harap. Aku masih percaya , “diam”ku tak akan pernah mati. Seperti kisah penantian Nabi Zakaria hingga dipertemukan dengan Nabi Yahya, Engkau buktikan ajaibnya diam. Tiga hari beliau tak bisa bertutur kata, hanya ada dzikir dan doa.

Sebab, puncak tertinggi dari rasa peduli dan kasih sayang seseorang adalah ketika diam sudah menjadi hilir pilihan. Hanya akan ada ribuan asa dalam doa-doa yang senantiasa diterbangkan sebagai penyambung menuju pangkuan-Nya.

***

Tulisan di atas terinpirasi dan aku dedikasikan untuk almarhum muridku yang telah mendahuluiku berpulang. Kejadian di atas terinsiprasi oleh kisah nyata yang beberapa waktu lalu aku alami. Lalu apakah tulisanku itu adalah non fiksi, aku bisa bilang tidak murni. Sebab nama dan beberapa situasi aku tambahkan sesuai imajinasiku sendiri. Merunut tulisan-tulisan yang telah aku buat memang banyak sekali aku menulis dengan model begini. Berbasis fakta namun beberapa informasi aku sisipi dengan maksud dan tujuan sebagai privasi ataupun alasan lainnya seperti kalau kita masak kasihlah penyedap rasa sedikit, supaya lebih gurih dan renyah.



FIKSI, NON FIKSI ATAU FAKSI?

Jika ditanya lebih nyaman yang mana apakah menulis fiksi atau non-fiksi? Aku bisa jawab kecenderungannya memang non-fiksi, seperti artikel dan semacamnya. Tapi jujur aku lebih nyaman dan menikmati ketika aku menulis dengan genre faksi alias fakta fiksi seperti contoh cerita yang aku buat di atas. Impian yang terbayangkan memang suatu saat nanti aku akan membuat sebuah novel inspiratif atau buku psikologi self improvement, parenting atau semacamnya. Sebuah kisah klasik yang bisa menjadi hiburan sekaligus tuntunan.

Faksi adalah semacam hasil perkawinan silang antara fiksi dan non fiksi. Artinya tulisan yang dibuat tidak bisa sepenuhnya disebut fiksi yang berbasis imajinasi, namun tidak pula bisa murni disebut nonfiksi. Faksi atau fakta fiksi hadir diantaranya. Fakta yang dikisahkan seperti tulisan bergenre fiksi. Kalau di dunia kepenulisan suami sebagai jurnalis saya sering mendengar istilah feature. Isi tulisannya semacam tulisan khas namun “berbumbu” sebagaimana ciri tulisan faksi.

Kalau dulu kita belajar bahasa Indonesia di bab tulis menulis, kita mengenal genre utama atau induk, yaitu argumentasi, deskripsi, eksposisi, narasi dan persuasi. Dikembangkan lagi menjadi lebih luas jadi genre fiksi dan non-fiksi. Tulisan fiksi melahirkan cabangnya yakni puisi dan prosa. Prosa menurunkan lagi cabang seperti cerpen, novel, dan drama.

Tulisan nonfiksi berkembang ranting akademis, jurnalistik, dan bisnis. Lalu ranting-ranting ini akan melahirkan lagi cabang-cabang baru yang jumlahnya tak sedikit. Misalnya dalam tulisan non fiksi ilmiah akademis menurunkan jenis tulisan seperti  modul, diktat, handout, buku pegangan sebagai bahan ajar.

BERPROSES DAN BERSENANG-SENANGLAH

Apapun pilihannya fiksi, non fiksi ataupun faksi, menulis itu adalah proses yang terus tumbuh. Menulislah dengan penuh kesenangan, mana yang lebih membuatmu nyaman mendefinisikan dirimu sebagai seseorang yang bercengkerama dengan aksara.Tidak ada kasta mana yang akan lebih jaya diantara ketiganya.

Menentukan genre tulisan memang penting, namun lebih penting daripada teknik adalah tetap menulis. Menjaga konsistensi proses menulis itu yang utama, ketimbang menghabiskan waktu galau mau pilih "jurusan" apa. Terus baca, baca dan tulis. Ini akan membuat kita terlatih dan kaya amunisi sebelum kita memang ingin mengambil spesialisasi.

Apapun pilihannya tetaplah menulis dan terus berkisah. Tak hanya akan menghilangkan gundah, siapa sangka jika entah diujung mana ada satu jiwa yang membaca tulisan kita merasa cerah tergugah. Bukankah ini indah dan menambah muruah?






You May Also Like

9 komentar

  1. Selalu suka dengan diksi yang kau pilih, kak. Ayoo senyum dan semangat lagi. Kita masih punya rencana buat buku duet loo... Semoga terwujud ya kakak.. 😘😘😘

    BalasHapus

  2. Salam dari saya Ibrahim Dutinov dari Geng Sapporo ya..
    kalau boleh, saya mau sampaikan beberapa koreksi untuk postingan Kakak ya.
    Insya Allah bukan karena saya merasa sudah hebat dengan tulisan saya, tapi semata-mata sebagai sarana kita sama-sama belajar ya Kak…

    1.Disudut ruang sempit atau di sudut ruang sempit?
    2.Mau disini aja atau mau di sini aja?
    3.“tangan-Mu” atau “Tangan-Mu”?
    4.“Kalau di dunia kepenulisan suami sebagai jurnalis saya sering mendengar istilah feature” karena enggak ada koma, saya kok jadi bingung, yang jurnalis itu suami atau “Saya”?

    Hehe. Soal konten sudah enggak bisa diragukan lagi Kak, pemilihan kata dan kekayaan perbendaharaan yang Kakak miliki membuat tulisan ini jadi kaya akan informasi. Keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah...ini nih yang diperlukan...makasih banyak koreksinya lengkap sekali..aku terharuu..makasih kak sudah mampir..jangan kapok ya

      Hapus
  3. Asyiaaaap. hehe. saya membiasakan diri untuk mampir di blog orang yang berkomentar di tulisan saya, hehe. saking banyaknya aktiviatas BW atau link yang harus di kunjungi di ODOP. ehehe

    BalasHapus
  4. Setuju sama temen² yang lain, diksinya bagus.. penuturannya nyaman dibaca.

    Anyway, turut berduka untuk anak didiknya, kak 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak,mata masih sembab nih..kejadian baru banget..nulis sambil mewek hehe

      Hapus
  5. Aku suka tulisanya, ngenak di hati kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenaaaa deeeh...hehehehe... makasih sisst, PR belajarnya buanyaaaak hehe

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum