Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Anak : Rahasia Panda

Senin, 22 Juni 2020

Dua pasang mata tampak sangat seksama mengawasi semua gerak-gerik di balik gulma dan tanaman hias yang tak begitu rimbun. Sejak tadi terlihat ada sekelebat bayangan mencurigakan. Mereka terpaku pada fokus yang sama beberapa waktu.

"Kak, kamu saja yang maju. Kakak kan lebih dulu tinggal di sini ketimbang aku", bisik salah satu dari mereka. Badannya terlihat bergoyang ragu antara langkah ingin maju dan mundur lagi.

"Selama aku hidup di sini selalu aman dan tenteram. Tidak keributan menegangkan seperti ini, jadi kenapa harus aku?", sahut salah satu yang dipanggil kakak tadi. Tampak gentar juga rupanya mungkin karena itu ia akhirnya berkilah.

Mereka saling menatap cukup lama. Bisa jadi sedang mentransfer strategi yang ada dalam pikiran mereka melalui pandangan. Percakapan itu pasti sangat rahasia. Waspada. Takut kalau makhluk yang sedang bersembunyi itu mendengarnya. Tak lama si adik lalu memberikan kode berupa kedipan. Satu...dua...tiga kali kedua mata itu berkedip.

Belum sampai terlaksana di langkah pertama. Mereka dikejutkan oleh makhluk yang benar-benar membuat merinding. Bulu-bulu di badan tegak. Menegang seluruh saraf mereka mendapati sosok yang baru pertama kali ini dilihatnya. Sontak keduanya mundur sekitar dua langkah. Walau begitu mata kakak beradik tak mau lepas dari targetnya.

"Kak Bona, mengapa ia berjalan dengan tubuhnya? Mana kakinya? Lalu itu apa yang ia bawa di atas tubuhnya? Kak...", tanya si adik berondongan.

"Ssst...dik jangan berisik! Sedari tadi aku juga mencari di mana letak kepalanya?", Bona menjawab dengan kepanikan yang kasatmata. Si adik melangkah maju perlahan. Ia sudah tak mampu lagi menahan desakan kepo dalam hatinya.

"Permisi...halo...bisa kah aku menumpang di sini? Kalian penghuni taman ini, kan? Aku... aku tidak tahu kenapa bisa sampai di sini", tiba-tiba makhluk itu bersuara penuh iba.

"Aneh sekali sampai tak tahu kenapa kamu tiba di rumah kami? Jangan bilang kamu jatuh dari langit. Sebenarnya siapa kamu?", sahut Bona ketus. Akhirnya mampu mengumpulkan keberaniannya. Bagaimanapun aku harus melindungi adikku begitu ia terus meyakinkan hatinya.

"Aku mohon kawan, ijinkan aku tinggal sementara waktu ya sampai aku menemukan jalan keluar?", kalimat permohonannya semakin memelas saja.

"Kak...sudah tak apa-apa. Kelihatannya dia tidak berbahaya", bisik adik Bona melunak.

"Kamu selalu membawa benda di atas tubuhmu itu? Kemana kaki dan kepalamu?", selidik Bona tanpa menghiraukan pertanyaan makhluk itu.

"Aku memang diciptakan Tuhan seperti ini. Ini bagian dari tubuhku berfungsi sebagai perlindungan. Coba lah mendekat. Aku tidak berbahaya untuk kalian. Tenang lah!", makhluk itu mengesot. Berusaha menggerakkan tubuhnya mendekat agar mampu memperjelas siapa dirinya sebenarnya. Apapun dia akan lakukan supaya dapat diterima di sini.

"Serius nih kalian belum pernah melihatku atau saudara-saudaraku? Kasihan sekali. Namaku Geri. Aku siput darat pemakan daun-daunan", ujar makhluk misterius itu. Nadanya sudah semakin percaya diri.


Bona dan adiknya maju serempak mendekati Geri. Mereka mengamati dengan sungguh-sungguh dari dekat. Setelah yakin Geri berkata jujur, Bona mengatakan jika ia boleh tinggal di sini selama yang ia butuhkan.

"Terima kasih kalian mau menampungku, semoga kita bisa berkawan baik", ucap Geri penuh rasa syukur. 

"Perkenalkan aku Bona dan ini adikku...", belum usai Bona memperkenalkan diri sudah dipotong oleh sang adik yang sedari tadi tak sabar ingin bicara.

"Halo, Geri. Salam namaku Panda penghuni generasi ketiga di rumah ini. Senang sekali punya teman baru", sahut Panda kegirangan.

"Panda? Bona? Nama kalian aneh...ha..ha..ha", Geri terbahak-bahak tak bisa menahan tawanya.

"Ada yang salah? Tertawamu itu yang aneh sekali", ujar Panda tersinggung. 

"Kalian memang makhluk berkaki empat kurang piknik! Aku akan ceritakan pengalaman dan pengalamanku sebelum terjebak di taman sempit beratap genting ini. Aku senang berpetualang merambah tembok satu ke tembok lain. Sesekali aku mencuri dengar apa yang mereka obrolkan. Aku senang menguping saat mereka sedang belajar", seloroh Geri sedikit sombong.

"Aku yakin manusia pemilik rumah ini yang memilihkannya. Kalian tahu? Panda itu di negara asalnya, Tiongkok, berarti kucing...iya kucing tapi bukan seperti kalian. Kucing Beruang Besar begitu mereka menyebutnya", Geri menjelaskan dengan sungguh-sungguh.

"Panda punya nama latin juga yaitu Ailuropoda melanoleuca, artinya kaki-kucing hitam-putih. Hmm..sepertinya aku jadi tahu kenapa kamu diberi nama Panda...he he he...bedanya makanan kegemaran mereka itu bambu, bukan daging atau ikan segar seperti kalian," kembali Geri tertawa terkekeh-kekeh.

Bona melirik ke arah Panda yang masih terkejut mendengar fakta namanya. Kepalanya sibuk sendiri dengan sejumlah pertanyaan. "Pasti adiknya kebingungan, tapi aku pun jadi penasaran kenapa aku bernama Bona. Apakah aku harus bertanya juga pada Geri?". 

Di sisi yang lain Panda masih tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Penuturan Geri begitu meyakinkan. Hatinya diselimuti kegamangan. 

"Ternyata...aku Panda, bukan panda"
Read More

Sebuah Cerpen Anak : Doa-Doa Lelembut

Sabtu, 20 Juni 2020

Sebuah kabar tersebar di sebuah desa yang terletak jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia terdapat keluarga tak biasa. Pedesaan itu sangat jauh di bahu gunung terbesar di pulau ini.

Kita butuh setidaknya lebih dari tiga jam untuk bisa mencapainya dengan kendaraan kecil. Menempuh jalanan batu terjal, sempit dan berkelok-kelok. Melewati hutan yang daunnya masih rapat dan lebat. Kurang tampak di sisi jalanan itu. Membuat siapapun yang tak bernyali tak akan pernah sudi datang kemari.

Tak banyak rumah tinggal di desa itu, paling berkisar kurang dari lima belas gubuk kayu sederhana berjejer berjauhan letaknya. Keluarga yang tengah jadi perbincangan itu tinggal di rumah paling ujung dari perkampungan itu.

Ayah, Ibu dan seorang gadis kecil kira-kira usianya belum genap enam tahun tinggal di bangunan mungil yang tampak sangat asri. Si gadis itu sibuk mengejar kelinci yang berlarian di pelataran. Ayam-ayam yang sedang asyik mencari sarapan pun kaget ikut riuh berlarian. Ayahnya hanya tertawa melihat tingkah anak semata wayangnya itu.

"Lelembut, sudah Nak mereka jangan digoda. Itu lihat kasihan kan mereka ketakutan?", seru ayahnya sambil tetap berjongkok entah sedang mempersiapkan apa.

"Aah...Ayah mereka itu sedang bergembira", sahut Lelembut tetap saja menggoda kawanan peliharaannya. Tiga ekor kambing yang sedang merumput pun tampak ikut gelisah jikalau sebentar lagi mereka jadi sasaran gadis periang itu.

Ya namanya memang Lelembut, bukan Sheila, Santi atau Cindy seperti nama anak sebayanya. Nama itu memang sengaja dihadiahkan orang tuanya sebagai doa supaya buah hati tercintanya lembut hati. Memiliki kekayaan hati dari kelembutannya.

Tuhan mengabulkan doa mereka, Lelembut tumbuh menjadi gadis yang cantik, riang dan sangat lembut. Langkah kakinya sangat lembut bahkan ketika ia berlari-lari seperti tadi getarannya langkah tetap terasa senyap.

Sejak kecil ia gemar menemani ayahnya pergi masuk jauh ke dalam hutan mencari ranting-ranting untuk kayu bakar. Ibu melepas mereka dengan senyuman bahagia dan menantinya dengan setia.

Selama berpetualang Lelembut memiliki kebiasaan mengumpulkan barang-barang yang ia temui di jalanan. Sudah banyak temuan yang ia jadikan koleksi di kamarnya. Ayah hanya tersenyum melihat polah tingkahnya mengamati dari kejauhan dengan perasaan berbunga-bunga.

"Ayah, lihat ada yang terluka! Dia pucat dan lemas sekali.. Ayo Ayah kita bawa pulang saja", pinta Lelembut dalam tangisan kepanikan. Seekor kelinci terlihat kepayahan bertahan hidup. Ayah menuruti permintaan Lelembut. Segera ayah membuka baju luar untuk membungkus kelinci itu, menggendongnya dan setengah berlari mereka pulang. Lelembut tahu ayah bisa diandalkan. Ia bergegas berlari mengikuti langkah ayahnya.

Sesampainya di rumah ayah dibantu ibu berusaha semampunya menolong kelinci malang itu. Lelembut komat-kamit membaca doa yang ia bisa. Bersyukur pada akhirnya kelinci itu bisa diselamatkan dan sekarang menjadi sahabat karibnya. Ia beri nama Gobang.

Ternyata saat itu Gobang tak sengaja menelan plastik yang dibuang sembarangan oleh manusia, hingga ia mengganggu pencernaan dan napasnya. Tak berselang lama ayahnya membawa pulang musang yang terluka moncongnya karena kaleng bekas. Lelembut sedih bukan main.

Sejak itu Lelembut selalu meminta ayah agar ia boleh menemani masuk ke hutan. Justru ayah dan ibu bahagia dan bersukacita menyambut niat mulia anaknya. 

Tak jarang wadah kain yang Lelembut bawa kelebihan muatan. Kalau sudah begini ia akan tersenyum sangat manis agar ayah segera turun tangan.  Mengurangi beban karung Lelembut, lalu mengikat sisanya jadi satu dengan ranting-ranting pohon yang dikumpulkannya. Senyuman cerah merekah dari bibir Lelembut, bangga sekali ia pada ayahnya. Pahlawan dalam hidupnya.

Barang-barang yang dipungutnya adalah barang spesial yang ditinggalkan manusia ketika melakukan perjalanan mendaki ke puncak. Sudah tak terhitung 'harta karun' yang ia simpan dibrankas khusus buatan ayahnya. Tentu saja semua sudah dicuci bersih. Kata ibu semua itu dilakukan supaya tidak menyebabkan penyakit.. 

Sisir, botol beling berbagai bentuk, bungkus mie, kantong plastik bening juga warna-warni sudah tak terhitung lagi koleksinya. Tiap tiga pekan ayahnya harus ke kota untuk menukarkan barang-barang itu. Jika tidak pasti gudang jadi semakin sesak 

Semula ayah lakukan diam-diam takut Lelembut kecewa karena semua harta karun itu merupakan untaian doa-doanya untuk dunia.  Ibu bilang kepada kalau Ayah tetap harus jujur, maka dipanggil lah Lelembut diberikan penjelasan. 

Usai bercerita ayah memberikan semua uang hasil penukaran koleksi Lelembut. Tak hanya itu kejutan dari ayah berupa celengan kura-kura istimewa berwana merah kekuning-kuningan, membuat Lelembut girang bukan kepalang. Semangatnya menari-nari di awang-awang seperti kunang-kunang.

Kini celengannya sudah semakin berat, Lelembut pun berandai-andai ingin membeli sesuatu. Impiannya sejak dulu.

Apakah itu? Adakah yang tahu?
Read More

Rahasia Rasa : Janji Matahari, Bumi

Jumat, 04 Oktober 2019


"Aku...aku...kenapa aku?!," Sekar tergagap mendengar pengakuan laki-laki dihadapannya.

"Nggak usah panik gitu. Tenang aku nggak sedang bercanda, aku serius. Kamu layak," jawabnya.

"Bumi...kamu yakin? Serius? Ucapanmu tadi...hmm...tapi tunggu dulu! Kenapa aku? Aku nggak secantik Aisya, nggak semodis Aina, nggak secerdas Fahra, nggak sesupel Rahma. Orang bilang aku jutek, aku juga nggak suka dandan, aku ...," belum usai kalimatku Bumi sudah memberi syarat, diam. Ia memotong pembelaanku yang tentu saja, palsu. Mungkin hatiku juga ikut merona, saking bahagianya.

"Memang aku pernah bilang cari yang sempurna? Cari yang kriterianya kayak kamu sebutkan tadi? Sekar, kamu cukup jadi dirimu. Cukup jadi perempuan ceroboh yang peduli apapun disekitarmu. Berusaha menjaga semua yang ada dalam jangkauanmu", Bumi terdiam sejenak. Tampak  sedang menghalau sesuatu dari dalam dirinya.

"Teruslah juga jadi seperti edelweiss, dan kamu tahu itu alasanku kagum sama kamu. Kalau kamu bersedia, ayo kita tukar janji!", suara Bumi terdengar berat terseret desau angin basah dini hari.

"Janji? Janji apa?," sahutku mulai gusar. 

***
Aku memang mengagumi ia sejak lama. Siapa sih di kantor yang nggak mengidolakan Bumi. Kasak-kusuknya ia representasi dari lelaki sejati begitu "cap" yang diberikan teman-teman. 

Cekatan, ramah, meskipun ia termasuk manusia tak banyak bicara. Senyumnya yang indah jarang ia pamerkan. Mungkin ia tahu senyuman menyebabkan adiksi dan serangan sesak napas berkala. Hampir tak ada yang berani mendekat, karena memang ia bukan pria yang mudah basa basi. Nggak butuh, ya nggak akan bicara daripada basi, katanya suatu ketika.

Lalu bagaimana dengan aku? Yang terlanjur nekat sok akrab dengannya. Mungkin kebetulan (benar kah hanya kebetulan? sebenarnya aku tak percaya dengan  kebetulan).

Aku dan Bumi pernah kuliah di universitas yang sama, meski jurusan berbeda. Kami bertemu di unit kegiatan mahasiswa yang sama. Mahasiswa Pencinta Alam. 

Sewaktu tahu bahwa kami sekantor lagi,  perasaanku sudah tak ada istimewanya. Meski...jujur kadang sesekali, ada rasa yang terpaksa aku tahan hingga sebatas kagum saja.

"Hei...!", seru suara Bumi membuyarkan lamunanku. 

"Eh, hei iya...janji apa maksudmu?," tergagap aku menjawab seruannya. 

"Berjanjilah! Kamu terus sederhana dan bersahaja seperti hamparan edelweiss dihadapan kita. Jika kamu bersedia, maka aku akan beri janji matahari buatmu. Saat ini dan sampai nanti, segera aku bersaksi dihadapan orang tuamu atas nama Tuhanku. Sudikah kamu, Sekar Putih Musyakina?", ia ulang perkataannya pagi itu untuk kesekian kalinya. Tertegun  aku mendengar ia menyebutkan nama lengkap, pemberian orang tuaku

Aku tak sanggup berkata-kata, cukup anggukan mewakili segala rasa yang membuncah. Sulit aku terjemahkan sendiri.

Entahlah mengapa hamparan Alun-alun Suryakencana yang terbentang dihadapan, tiba-tiba tampak menjadi sangat megah. 

Dersik bayu mengalir menambah hening dan syahdu. Kami duduk disana, mengulum senyum menunggu sinar mentari. Sembari dibuai belaian dingin kabut pagi Gunung Gede Pangrango. Padang savana dan permadani edelweis mulai berkilauan, sesekali  tersapu kabut basah yang bergerak.

Janji matahari, tak pernah ingkar janji. Terbit esok pagi di ufuk timur, dan kembali pulang terbenam di ufuk barat. Tunduk pada ketetapan-Nya, sampai tiba akhir masa. Tuhan menutup lembaran cerita.

Edelweis, semoga aku bisa tetap mampu berguru padamu. Belajar darimu bunga bersahaja, yang anggun dalam kesederhanaanmu.
Read More

Rahasia Rasa

Rabu, 25 September 2019


Dua puluh menit lebih kami duduk dibangku itu. Saling berhadapan bertatapan namun tak sepatah katapun terucap. Canggung rasanya setelah sekian lama tak bersua. Entah mulai darimana percakapan ini akan dibuka. Mungkin hanya rindu kami yang bahasanya sama.

Itulah mengapa hanya senyuman yang sejak tadi menyapa. "Apa kabar?," akhirnya kau memulainya.

"Kabar baik. Kamu?," jawabku setengah gugup.

"Baik juga," jawabnya tak kalah formal dariku.

Akhirnya waktu beku kembali. Entah kemana hilangnya semua kosakata.

"Sampai kapan disini? Betah ya pasti disana jarang pulang?", tanyaku memberanikan diri.

"Betah nggak betah sih tapi ya bagaimana lagi, kalau nggak begitu, nggak ada pengalamannya. Maunya sih di Jogja aja tapi kayaknya Bandung lebih punya janji", ia terkekeh sambil  terus memberikan penjelasannya yang panjang. 

Tembok tak kasat mata itu akhirnya runtuh seketika. Kalimat demi kalimat akhirnya saling bersahutan. Rindu itu akhirnya terejawantahkan.

Hingga sampai disatu babak kami duduk membeku lagi.

"Kriing....kriing...kriing"

Telepon seluler dihadapan kami nyaris mengeluarkan bunyi bersamaan. Sontak kami saling berpandangan seolah merasakan sebuah pertanda. Dering telepon berbunyi sekali lagi. Kami bertatapan lagi, saling mempersilahkan untuk merespon panggilan itu.

"Ya, Hallo?...".

Kujawab panggilan itu sambil menatap Bagas yang juga melihat lekat ke arahku. Aku menunduk tak sanggup menjawab tatapannya. Tak lama kami selesai dengan percakapan telepon itu. Bagas tersenyum. Entah apa maksudnya kubalas saja.

"Aku rasa, mereka terasa dengan pertemuan kita ini, Sekar".

"Lalu? Kamu jawab apa? Bukannya kita sudah sepakat u nggak ada rahasia ? Bilang apa adanya? Hmm..kalau aku memang nggak ada kewajiban menjelaskan sih he he he..", selorohku mencoba santai.

"Aku juga cerita jujur, tapi kayaknya mereka dapat 'alert'. Merasa mungkin pertemuan kita nggak biasa. Bukannya juga yang telepon kamu tadi dia?".

Aku tertunduk. Mengangguk.

**

"Kenapa sih hubungan kita dari dulu nggak bisa jadi serius? Padahal kita masing-masing tahu jelas perasaan kita ini bagaimana. Sejauh apa kita pergi selalu saja jalan hati pulang ya ke kamu, aku", nada Bagas bicara tandas terbaca jelas kembali ia gusar.

"Sampai kapan pun kita bahas, aku nggak bakal ganti jawabannya, Gas. Aku nggak mengerti kenapa bisa begitu. Aku nggak berani. Sungguh! Perasaanku ke kamu sudah "terlalu" buat aku. Sebaliknya, perasaanmu ke aku juga begitu. Bahkan aku takut Dia cemburu", kujawab dengan cepat tanpa berani menatap ke arahnya. Kudengar ia menghela napas, dalam dan berat.

"Sekar, angkat kepalamu. Jangan sembunyikan wajahmu. Sudahlah, aku nggak marah. Perasaan dan keyakinanku masih sama seperti 10 tahun lalu. Kamu ingat?", pertanyaannya yang tiba-tiba membuatku bergegas mendongakkan kepala. Bagas terkekeh melihat reaksiku. Aku melotot ke arahnya menutupi rasa malu. Hidung dan pipiku menghangat.

"Sekar, aku selalu hargai keputusanmu. Tapi, maaf jika aku pun masih yakin kepada siapapun perasaanmu berlabuh kini. Muaranya tetap akan kembali kepadaku. Aku nggak tahu keyakinan ini datang darimana. Masih sekuat itu. Maafkan aku jika hatiku masih menunggu, sampai seseorang benar-benar telah menghalalkanmu. Saat itu baru aku putuskan, haram bagiku memikirkan kamu.", lagi-lagi ia tutup kalimatnya dengan senyuman yang selalu menawan.

Aku mencoba berani menatapnya kali ini, sorot matanya tampak ia bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. 

Kubalas senyuman Bagas, tanda kesepakatan.

***

Andai kamu tahu, Gas. Apa yang berkecamuk dalam batinku saat ini. Aku senang sekaligus takut.

Kenapa kita harus meletakkan perasaan kita pada kasta tertinggi di antara para manusia. Seperti guci keramik antik yang teramat kita cintai, kagumi dan takut sekali jika ia tergores atau rusak. Hingga, akhirnya kita justru takut menyentuhnya. Kita bingkai ia dengan kotak kaca dan hanya bisa merayakan sukacita dengan melihatnya. 

Apakah benar takdir kita hanya sebatas rasa? Perasaan yang terus dikirim Tuhan yang nanti akan jadi penawar luka-luka kita?

Sudahlah, kita serahkan saja pada buku-buku waktu kemana cerita ini sesungguhnya berlabuh.

Rahasia rasa, akankah ia bermetamorfosa?


Read More

Tabir Renjana

Selasa, 24 September 2019

Hujan rintik masih belum berhenti, aroma tanah basah melangit melangutkan jiwanya sore itu. Disudut matanya sinar tampak redup seperti gelap mendung hari itu. Bunga aneka rupa dan wangi menghias selasar rumah, yang tampak bagai taman warna-warni.

Berbagai ekspresi lalu lalang, ada yang duduk terdiam, matanya nanar menatap gentong yang konon berisi air tujuh sumber. Ada pula yang asyik berbincang, tertawa sambil bertepuk tangan hingga seluruh badannya berguncang.

Tampak pula disudut halaman itu, seorang 'Pranatacara' sedang mempersiapkan acara yang sebentar lagi akan digelar.

Mikrofon berulang kali ia ketuk, sembari sesekali beliau berdehem. Matanya menyelidik mencoba membaca situasi. Sesaat kemudian resmi acara dimulai, pembawa acara mempersilahkan semua mempersiapkan diri.

Calon pengantin sore itu menjalani prosesi siraman. Kain 'kemben' jarik warna hijau dikenakan, ronce melati menambah 'moncer' aura ayunya. Seorang lelaki paruh baya menatapnya sedari tadi sembari menyeka mata berulang kali. Napasnya ditarik panjang pendek, sangat jelas terdengar berat. Sesekali menunduk.

Terdengar pembawa acara mempersilahkan orang tua calon mempelai segera bersiap diri mengambil posisi. Lelaki itu pun beranjak menempatkan diri sesuai arahan tim acara. Sore itu serangkaian ritual adat memang harus dilewati. Para sesepuh keluarga tampak pula bersiap, satu per satu berdiri membentuk barisan.  mengguyurkan air dari gentong yang telah dicampur juga dengan bunga mawar. Ditutup dengan sungkeman sebelum berganti busana untuk acara midodareni.

***

"Kau, tahu Nak? Apa yang paling berat? Yaitu harus menyerahkanmu pada laki-laki yang tak benar-benar aku kenal."

"Kau  tahu apa yang paling mengkuatirkan? Mencemaskan  kebahagiaanmu tapi aku tak akan bisa banyak berbuat karena yang bertanggungjawab atas dirimu bukanlah aku lagi."

Itu pertahanan diri yang sulit.

Melihat kesedihanmu saat sesekali kau tersandung dan terluka dalam proses hidupmu yang baru tapi aku tak bisa lagi banyak berbuat. Itu luka terperih seumur hidupku.

Jika saja kau bisa ku jaga dalam lemari kaca, kusimpan untuk hanya bisa dilihat tanpa orang harus menyentuh dan melukaimu.

"Kamu dan adik-adikmu adalah separuh jiwaku. Hidup adalah tentang memilih, jadi pilihanmu menggapai bahagia tetap jadi akan selalu jadi prioritasku", tutur ayah terbata-bata ditengah isaknya.


Di sebelah ayah tertunduk ibu dengan tangan saling kuat berkait. Punggungnya tampak jelas dalam kesedihan yang sama.

Hening.

Mereka beradu tatapan saling menguatkan, meski dalam diam.

***

Calon pengantin perempuan berjalan setengah berjongkok menuju kedua orang tua terkasihnya. Ia sudah berganti kebaya sederhana, kerudung warna coklat susu sudah menghias mahkotanya.

Suasana haru mulai menguat saat ia mendekat, ia satukan tangannya didepan dada membungkuk dengan ketakziman.

Kesadarannya seketika bak proyektor yang tiba-tiba memutarkan film dokumenter tentang dirinya. Kata-kata pun menguap berganti derai air mata yang semakin deras. Hanya kata maaf, dan terima kasih. Tak sanggup lagi tegak kepalanya, ia tenggelamkan wajahnya dipangkuan sang ayah.

Pecahlah tangisanmereka, ayahnya mengusap pelan kepala anak perempuannya lalu berakhir dengan saling memeluk.

Ayah berbisik, "Besok pagi, putri ayah berpindah tanggung jawabnya. Bahagia sama pilihanmu, maka ayah pun akan selalu memilih bahagia melihat itu. Dijaga rumah tanggamu. Jadi pakaian yang selalu layak bagi satu sama lainnya," bisik ayah ditelinga putrinya.

Ia mengangguk sangat perlahan, setelah itu ia cium tangan ayahnya bergeser ke arah kanan dihadapan ibunda. Tak banyak kata dari sang ibu, mungkin tak ingin keharuan sore itu semakin larut. Segenap kekuatan ia kerahkan agar tak memecahkannya. Ia cium kening anak yang dilahirkannya dengan bertaruh nyawa.

Lekat dipandang amanah yang ia pinta segera hadirnya, ia ketuk pintu-pintu keheningan lewat doa-doa. Sebelum gemuruh itu datang, seketika ia dekap erat perhiasan hatinya bersama milyaran bahasa yang tak bisa diterjemahkan kata-kata.

***

Cerpen di atas sebenarnya merupakan tulisan lama. Sebuah kisah yang aku ikut sertakan dalam tantangan menulis beberapa bulan yang lalu. Ide cerita muncul saat kami keluarga besar berkumpul. Saat seperti itu papa dan mama selalu saja ada obrolan hangat yang kita pakai untuk berdebat. Ujungnya pasti beliau berdua mewariskan nasihat, padaku, suamiku, dan juga adik-adikku. Kami yang duduk lesehan selalu antusias dengan ritual itu. Meski kami tiga bersaudara ini sudah berkeluarga semua dan tinggal di luar kota. Rumah mungil dan kenangan yang ditabung orang  tua kami. Buat selalu rindu pulang.

Ya, pulang dalam arti yang sebenarnya. Tempat melepaskan penat, berbagi pelukan dan mengumpulkan lagi kekuatan.

Alhamdulillah tulisan yang sponsor  idenya dari orang tua tadi, akhirnya "diadopsi" masuk jadi salah satu kontributor diproyek buku antologi. Nggak pernah menyangka sama sekali jika lolos seleksi. Bulan lalu, buku antologi perdanaku akhirnya "dilahirkan" bersanding dengan tulisan-tulisan lain yang lebih luar biasa (oh ya masih bisa dipesan lho...eh malah iklan, maaf he he)


Masih jauh panggang dari api, begitu selalu aku meyakinkan diri ini. Banyak hal yang masih perlu diperbaiki dan dipelajari. Sudilah kiranya para pembaca yang berbudi, mau menemani proses ini.
Read More

RUMAH UNTUK LARAS

Jumat, 12 April 2019

"Berbagi lah bebanmu. Ibu tahu bukan hal mudah untuk percaya pada orang lain".
"Tapi saya nggak ingin berbagi penderitaan ini Bu. Saya nggak mau jadi beban, Bu".
"Ras, berbagi penderitaan mungkin akan membuatmu sedih. Mengungkapkan kebenaran luka-luka kita. Tapi kamu tahu nak, keberanian mengeluarkan kesedihan itu membuat kita menemukan rute baru. Jalan keluar yang mampat sebelumnya".
Laras memandangi gurunya lekat. Berusaha menangkap semua kebenaran kata-kata dari balik sorotan mata wanita dihadapannya. Wanda paham apa yang sedang Laras cari. Ia sengaja hadirkan bahasa yang hanya mampu diterjemahkan mereka berdua. Ia genggam lembut tangan gadis tomboi itu dan ditutup dengan senyuman.
"Baik, ibu tidak akan memaksa. Pesan ibu cuma jika kamu butuh sandaran ada banyak yang peduli padamu. Kamu tidak sendiri. Bongkar bebanmu. Ok! Sekarang kembali ke kelas ya. Kapanpun kamu bisa hubungi ibu", ucap Wanda menyudahi percakapan siang itu.

***
"Kamu bilang kepala rumah tangga?!! Apanya?! Urus ini itu saja nggak becus!"
Lalu kata-kata tak pantas menggema seantero rumah mewah ini.
"Mah, aku sudah bersabar demi keluarga ini. Demi anak kita. Waktu kamu minta aku dukung karirmu dan terpaksa setuju anak kita diasuh oleh famili kita hingga kamu mapan. Aku setujui demi utuhnya keluarga ini. Tapi, kutanya sekarang kenyataannya apa?APA?!!!".
Teriakan, umpatan dan suara benda pecah, berbenturan, jatuh mengiringi perang kalimat demi kalimat panas malam itu.
Aku hanya mampu melihat mereka dari lantai dua rumah ini. Lantai marmer bernilai ratusan juta yang konon dingin bagai lantai surga, tak mampu menepis panas neraka rumah ini..
Aku terisak, " Lantas, kenapa aku dilahirkan? Jika..".
***
"Bu, durhaka kah saya? Jika saya menolak nafkah mereka? Saya sudah bisa cari uang sendiri. Satu lagi, masih pantas kah saya diterima dan berteman?", ucapan Laras mengagetkan Wanda tepat saat ia hendak beranjak dari kursi. Sejenak tertegun, meski ia sudah memegang informasi penting hasil observasinya sebelum sesi konseling pagi itu.
"Laras? Kamu sudah memutuskan?!",  tanyanya memastikan.
"Tiba-tiba mereka meng-kaim mereka orang tuaku. Mengambilku dari orang yang mengasuhku. 6 tahun sejak aku dilahirkan. Kini aku sudah bersama mereka. Tapi aku seperti di hutan belantara. Sekarang KPK pun sudah jemput mereka. Aku anak koruptor, Bu. ", deras air mata Laras tak bisa dibendung lagi semakin lama suaranya makin parau.
Wanda hanya diam, memberi ruang untuk Laras membongkar bebannya. Saat ini yang dibutuhkannya bukan nasihat namun sandaran jiwanya yang merapuh. Ia remas tangannya sendiri yang mulai berpeluh. Terus ia pandangi punggung yang berguncang hebat didepannya. Tuhan, jadikan aku perantara-Mu. Kuatkan aku. Jika sudah begini, aku hanya punya hati. Tangisannya makin keras. Napasnya sudah tak beraturan lagi.
"Tak apa-apa, Nak. Keluarkan saja semua beban itu. Jangan dibendung lagi. Ibu nggak kemana-mana", akhirnya Sekar mengeluarkan kata-katanya.
"Bu, berdosa kah? Aku benci mereka, bagaimana mereka bisa bilang ingin aku ini anak mereka. Sedang dari kecil mereka nggak pernah ada dan ngajarin aku. Setelah besar tiba-tiba datang dan bilang mereka orang tuaku. Lebih berdosa mana, Bu?!!!, tanya Laras setengah berteriak.
"Ibu, paham kamu marah. Tapi tak ada yang bisa memilih dari rahim siapa kita akan hadir di dunia kan, Nak? Betul ibu sepakat tindakan beliau tidak benar, tapi membenci mereka pada akhirnya akan menyakitimu juga. Bagaimanapun mama kandungmu melahirkan Laras ke dunia ini dengan bertaruh nyawa. Papamu, bersikap begitu mungkin maksudnya untuk melindungi keluarganya. Meski itu tidak bisa dibenarkan. Setiap orang berhak melakukan kesalahan, seperti mereka berhak kembali untuk memperbaiki dirinya", Wanda berusaha menata kalimatnya agar Laras tenang kembali. Ia usap-usap punggung anak istimewa ini. 


Laras kembali menengadah menatap tajam, lebih dalam dari sebelumnya. Wanda berusaha tenang, mengendalikan emosinya yang nyaris larut dengan senyum tipis.
"Hmm...bu..ibu tahu, tapi maafkan saya sebelumnya. Saya bersyukur Tuhan memberikan takdir ibu belum berkeluarga, belum punya anak. Ibu tahu kenapa? Supaya ada rumah-rumah yang nyaman bagi anak semacam saya untuk pulang. Dilihat, dianggap. Bukan dijemput, alih-alih dibesarkan malah dipaksa menuruti ego mereka. Anak juga manusia kan, Bu?, Laras menjelaskan dengan kalimat yang awalnya terdengar ragu.
Wanda hanya tergugu-gugu, gagu dan kaku. Hanya mengangguk entah untuk kalimat Laras yang mana.

#RUMBELLMIPS
#TANTANGANTEMA2
#CERPENALUMAJUMUNDUR
#IBUPROFESIONALSEMARANG
Read More