Tampilkan postingan dengan label Rumbel Literasi Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumbel Literasi Media. Tampilkan semua postingan

RUMAH UNTUK LARAS

Jumat, 12 April 2019

"Berbagi lah bebanmu. Ibu tahu bukan hal mudah untuk percaya pada orang lain".
"Tapi saya nggak ingin berbagi penderitaan ini Bu. Saya nggak mau jadi beban, Bu".
"Ras, berbagi penderitaan mungkin akan membuatmu sedih. Mengungkapkan kebenaran luka-luka kita. Tapi kamu tahu nak, keberanian mengeluarkan kesedihan itu membuat kita menemukan rute baru. Jalan keluar yang mampat sebelumnya".
Laras memandangi gurunya lekat. Berusaha menangkap semua kebenaran kata-kata dari balik sorotan mata wanita dihadapannya. Wanda paham apa yang sedang Laras cari. Ia sengaja hadirkan bahasa yang hanya mampu diterjemahkan mereka berdua. Ia genggam lembut tangan gadis tomboi itu dan ditutup dengan senyuman.
"Baik, ibu tidak akan memaksa. Pesan ibu cuma jika kamu butuh sandaran ada banyak yang peduli padamu. Kamu tidak sendiri. Bongkar bebanmu. Ok! Sekarang kembali ke kelas ya. Kapanpun kamu bisa hubungi ibu", ucap Wanda menyudahi percakapan siang itu.

***
"Kamu bilang kepala rumah tangga?!! Apanya?! Urus ini itu saja nggak becus!"
Lalu kata-kata tak pantas menggema seantero rumah mewah ini.
"Mah, aku sudah bersabar demi keluarga ini. Demi anak kita. Waktu kamu minta aku dukung karirmu dan terpaksa setuju anak kita diasuh oleh famili kita hingga kamu mapan. Aku setujui demi utuhnya keluarga ini. Tapi, kutanya sekarang kenyataannya apa?APA?!!!".
Teriakan, umpatan dan suara benda pecah, berbenturan, jatuh mengiringi perang kalimat demi kalimat panas malam itu.
Aku hanya mampu melihat mereka dari lantai dua rumah ini. Lantai marmer bernilai ratusan juta yang konon dingin bagai lantai surga, tak mampu menepis panas neraka rumah ini..
Aku terisak, " Lantas, kenapa aku dilahirkan? Jika..".
***
"Bu, durhaka kah saya? Jika saya menolak nafkah mereka? Saya sudah bisa cari uang sendiri. Satu lagi, masih pantas kah saya diterima dan berteman?", ucapan Laras mengagetkan Wanda tepat saat ia hendak beranjak dari kursi. Sejenak tertegun, meski ia sudah memegang informasi penting hasil observasinya sebelum sesi konseling pagi itu.
"Laras? Kamu sudah memutuskan?!",  tanyanya memastikan.
"Tiba-tiba mereka meng-kaim mereka orang tuaku. Mengambilku dari orang yang mengasuhku. 6 tahun sejak aku dilahirkan. Kini aku sudah bersama mereka. Tapi aku seperti di hutan belantara. Sekarang KPK pun sudah jemput mereka. Aku anak koruptor, Bu. ", deras air mata Laras tak bisa dibendung lagi semakin lama suaranya makin parau.
Wanda hanya diam, memberi ruang untuk Laras membongkar bebannya. Saat ini yang dibutuhkannya bukan nasihat namun sandaran jiwanya yang merapuh. Ia remas tangannya sendiri yang mulai berpeluh. Terus ia pandangi punggung yang berguncang hebat didepannya. Tuhan, jadikan aku perantara-Mu. Kuatkan aku. Jika sudah begini, aku hanya punya hati. Tangisannya makin keras. Napasnya sudah tak beraturan lagi.
"Tak apa-apa, Nak. Keluarkan saja semua beban itu. Jangan dibendung lagi. Ibu nggak kemana-mana", akhirnya Sekar mengeluarkan kata-katanya.
"Bu, berdosa kah? Aku benci mereka, bagaimana mereka bisa bilang ingin aku ini anak mereka. Sedang dari kecil mereka nggak pernah ada dan ngajarin aku. Setelah besar tiba-tiba datang dan bilang mereka orang tuaku. Lebih berdosa mana, Bu?!!!, tanya Laras setengah berteriak.
"Ibu, paham kamu marah. Tapi tak ada yang bisa memilih dari rahim siapa kita akan hadir di dunia kan, Nak? Betul ibu sepakat tindakan beliau tidak benar, tapi membenci mereka pada akhirnya akan menyakitimu juga. Bagaimanapun mama kandungmu melahirkan Laras ke dunia ini dengan bertaruh nyawa. Papamu, bersikap begitu mungkin maksudnya untuk melindungi keluarganya. Meski itu tidak bisa dibenarkan. Setiap orang berhak melakukan kesalahan, seperti mereka berhak kembali untuk memperbaiki dirinya", Wanda berusaha menata kalimatnya agar Laras tenang kembali. Ia usap-usap punggung anak istimewa ini. 


Laras kembali menengadah menatap tajam, lebih dalam dari sebelumnya. Wanda berusaha tenang, mengendalikan emosinya yang nyaris larut dengan senyum tipis.
"Hmm...bu..ibu tahu, tapi maafkan saya sebelumnya. Saya bersyukur Tuhan memberikan takdir ibu belum berkeluarga, belum punya anak. Ibu tahu kenapa? Supaya ada rumah-rumah yang nyaman bagi anak semacam saya untuk pulang. Dilihat, dianggap. Bukan dijemput, alih-alih dibesarkan malah dipaksa menuruti ego mereka. Anak juga manusia kan, Bu?, Laras menjelaskan dengan kalimat yang awalnya terdengar ragu.
Wanda hanya tergugu-gugu, gagu dan kaku. Hanya mengangguk entah untuk kalimat Laras yang mana.

#RUMBELLMIPS
#TANTANGANTEMA2
#CERPENALUMAJUMUNDUR
#IBUPROFESIONALSEMARANG
Read More

BERDAYA BERSAMA PENA, BISA SAJA!

Rabu, 31 Oktober 2018

Hey, Hari Terakhir!

Aaahaaay... sampai jua perjalanan belajar konsisten ini dipemberhentian sementaranya. Halte pertama untuk beralih ke tantangan selanjutnya yang jauh lebih menggoda. Tema hari ke sepuluh kali ini mengusung tentang menjadi wanita yang berdaya dengan pena. Menarik kan ya? Mengangkat pena menggoreskan tinta jadi senjata yang memiliki daya.


Tentu saja daya yang berdampak baik bagi peradaban. Sebab kita tahu bahwa kehidupan tersusun dari kepingan-kepingan cerita, dan peradaban bergerak bersama cerita-cerita. Suka atau tidak cerita itu yang membentuk diri kita.

Kata-kata berdaya bersanding dengan wanita. Makhluk Tuhan yang instalasi dayanya sudah dahsyat dari awal diciptakannya. Baik fisik maupun psikologis sudah ditempa dan dipersiapkan untuk tahan uji disegala macam frekuensi. Tinggal bagaimana kemampuan sang operator saja nih? Mau putar tombol yang mana, kemana, agar potensi yang sudah luar biasa ini nggak bocor halus... sia-sia, Hehe.
Sampai ada yang pernah bilang bahwa jatuh bangun suatu bangsa bergantung pada kualitas perempuannya! Apa nggak bangga nih yang jadi wanita? Eh tapi jangan jadi jumawa dong ya..:).
Kolaborasi dua sumber daya ini pasti tak diragukan lagi, bisa jadi daya gerak baru untuk perubahan. Wuiiih...keren ya...ah kosakata apa lagi sih untuk  bisa lengkap menggambarkannya...

Analogi kalimat bersama pena menjadi wanita berdaya bisa dibawa kemanapun. Menurutku tak melulu kita harus lihai menulis sih. Sebab tak semua orang diciptakan dengan kemahiran mengolah kata-kata. Meski konon wanita memiliki ribuan gudang kata yang tersimpan dalam benaknya. Wiih...kebayang kan ya banyaknya 'ribuan gudang' , hehe. Wanita adalah makhluk yang pandai memahami bahasa, bahkan bahasa kalbu sekalipun sebab perasaan alamiah berkasih sayang adalah salah satu fitrahnya. Perasaan itu terkadang diterjemahkannya melalui kata-kata. Jadi  jangan heran makanya dimana-mana wanita itu lekat dapat label ciriwis, doyan ngomong. Ia makhluk yang secara  intuitif akan bereaksi pada setiap situasi yang ia hadapi. Peka secara rasa dan kata begitulah kira-kira. Tapi tetap saja tak semua orang mudah berjumpalitan mengolahnya kata-kata yang nyaman dan mudah dipahami orang lain.

Satu hal yang pasti sama dari kita adalah semua manusia memiliki ceritanya. Kisah yang tak pernah serupa dengan milik manusia lainnya. Maka jadilah pencerita! Sebagai wanita yang terlahir dengan kelebihan mengolah kosakata. Berbagilah cerita, bukan bicara tentang keburukan tapi saling bertukar makna hingga siapa tahu ada satu hati yang lega dan tersenyum berkata, "Ah, yaa syukur lah aku tak sendiri...aku baik-baik saja". Inspirasi dan harapan bermekaran setelah mendengar cerita kita. Hangatnya perasaan yang tercipta setelah membaca  dan atau mendengar cerita kita. Merasa ada kawan, merasa tak sendirian, merasa ada sandaran, merasa tak menjadi sandera kehidupan. 

Bukankah jika dengan demikian kata-kata kita, khususnya sebagai wanita telah memiliki daya?! 
"Hei, Dee jangan buang waktumu lagi!". Aku berseru pada sosok wanita yang lekat kutatap dalam cermin tepat dihadapanku.



#WanitadanPena
#Day10
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

HASRAT HATI

Selasa, 30 Oktober 2018

Tantangan Hari Ke Sembilan


Tampak jelas sekali terlihat benang merah itu bersenyawa dengan hasrat. Kata demi kata menari, meliuk-meliuk mengikuti suara angan diruang mimpi. Saling berebutan berbaris membentuk formasi dengan berbagai macam diksi. Sesekali aku harus berhenti terengah-engah mengejarnya. Beberapa tak terkejar lagi sebab mereka terlanjur lari sembunyi. Aku tersenyum mendapati riuhnya dunia imajinasiku.

MOTIVASI : HASRAT HATI

Begitulah sedikit aku mencoba memersonifikasikan keriaan yang terjadi dalam diriku. Riangnya hati tiap kali aku berpacu bersama aksara. Sering aku ceritakan, bukan? Bahwa dorongan terbesar sekaligus keinginanku untuk terus menulis adalah untuk berbahagia. Itulah alasan paling dasar mengapa aku ingin jadi penulis dan harus menulis. Aku butuh menulis untuk merayakan episode-episode hidup ini melalui cerita-cerita yang tercipta dari goresan penaku. Jika pada akhirnya ada hal lain yang kudapat katakanlah itu sebagai imbalan jerih payahku maka itulah bonusnya. Melakukan suatu hal yang dicintai, dan membuat mata menghangat berbinar-binar lalu diujung jalan ada kejutan dan hadiah menanti ... Wah nikmat mana lagi yang bisa didustakan ya ?Hehe. 

Tentu setiap penulis memiliki latar cerita yang berbeda-beda mengapa ia ingin berjuang mengangkat pena? Contoh terdekat adalah suamiku. Pernah aku bertanya, "Kenapa sih dulu punya mimpi kerja di media, dari marketing sampai jadi jurnalis?Padahal ya kan tahu dunia jurnalistik di sini kayak apa...".
"Kan udah dibilang untuk jaringan... networking. Silaturahim intinya itu sih. Materi kan nggak cuma tentang uang, ada banyak definisinya, Nie..." dijelaskan panjang lebar setelahnya.
"Kenapa harus pilih menulis... 'nyemplung' jadi jurnalis gitu maksud Ibun?", tanyaku berisik menelisik karena masih penasaran.
"Ya, karena bagi orang rantau misalnya yang nggak punya siapa-siapa mengetahui berita dan fakta sanak keluarga, kampung halaman yang jauh dari jangkauan dirinya itu penting..", jawabnya dengan nada  setengah menggantung.
Sementara aku pahami dulu  lah ya kalimat itu, meski sesungguhnya aku tak mengerti benar. Mungkin yang dimaksud suamiku adalah ia bahagia mengambil peran menjadi jembatan berita bagi para pencari kabar. 


BAHAGIAKU DAN BAHAGIANYA

Bahagiaku adalah bahagia mereka. Mereka yang sudi meluangkan waktu untuk membaca kisah ceritaku. Bahagia  bersama mereka bahkan sekalipun kisah itu untuk menarasikan nestapa. Menertawakan duka lara. Tak ada cerita yang sama dalam kehidup an manusia. Semua membawa kekhasan misi hidup dan kisah penciptaannya dari Sang Pemilik Semesta. Hingga rasanya tak berlebihan jika bagiku peristiwa saat proses menulis karya itulah inti dari semuanya.

Motivasi terbesar selain berbahagia adalah jujur pada perjalanan penaku itu. Mengikutsertakan hati  nurani untuk  berbagi. Sebab semua diksi, teori tidak akan berarti jika tak ada hati yang menghidupkannya. Bergerak untuk menuntaskan setiap cerita yang sudah berani dimulai. Meniupkan ruh cinta yang ada untuk terus bisa memeluk hasrat merekam jejak-jejak aksaraku. Maka hati ini memang harus diberikan kompas agar sampai selamat pada hilir tujuannya.
Betul sekali! Motivasi, hasrat, dorongan dalam diri untuk terus mau berbagi bahagia apapun ceritanya adalah petunjuk arah kemudi agar aku selalu mampu menuntaskannya hingga karya asa itu terjadi.


#WanitadanPena
#10DaysChallange
#Day09
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

PENA ASA DAN KARYA

Senin, 29 Oktober 2018

TANTANGAN HARI KE DELAPAN


Tak terasa beberapa langkah lagi nyaris sampai di hilir waktu tantangan ini berakhir. Hari kedelapan ini kami mendapatkan sebuah mantra kata-profesi. Sebuah ranah profesional bagi semua orang yang berjuang bersama pena. Sebenarnya sih banyak profesi yang bergelut dengan kata-kata, tinta, dan pena. Sebut saja jurnalis, mereka berlarian bersama fakta  dan menggunakan tinta tulisannya untuk menyampaikan berita mutakhir terpercaya yang terjadi disekeliling kita. Selain itu ada beberapa lagi label predikat turunannya bagi si laskar pena, seperti penulis, novelis, cerpenis, blogger dan banyak lagi sebutan lainnya. Semua berjuang bersama tinta menerjemahkan semua cerita kita.

Memaknai Profesi Ini

Profesi secara bahasa diartikan sebagai janji seseorang untuk melakukan kewajiban dan tugas spesifik secara konsisten atau permanen. Sebuah profesi menuntut keahlian dalam bidang tersebut. Profesi juga diatur dan dilindungi oleh kode etik atau aturan tertentu.
Berbeda dengan pengertian pekerjaan, seorang profesional tidak hanya mementingkan materi atau imbalan yang akan didapatkannya. Profesional adalah seseorang yang berkomitmen dan berkompeten pada suatu bidang profesi yang ia geluti. Seorang profesional akan tetap berusaha mengedepankan nilai-nilai luhur profesionalisme seperti nilai moral, etika demi memegang teguh kehormatannya serta juga profesinya.  Sehingga ketika aku mencoba melihat ke dalam diriku dan memahami kembali semua pengertian itu, sejujurnya hingga kini aku pun belum berani benar meneguhkan diri sebagai seorang calon penulis profesional. Bukan lah sesuatu yang mudah untukku melakukan  sesuatu tanpa berpikir esensinya. Sekuat apapun aku menyederhanakan  akal  pikiran  ini  selalu saja akan ada riak gejolak yang tak bisa aku tolak dikemudian hari. Aku harus paham apa yang kupilih, sebab pilihan yang kuputuskan harus ku terima dan jalani dengan semua konsekuensinya. Atas ijin-Nya pasti semua asaku bersama pena yang sudah kulukis dicetak biru impianku akan terjadi. Segera suatu hari nanti, pasti!

Pena Asa dan Karya

Tertatihnya aku sebenarnya terkait inkonsistensi diri yang lumayan akut...he..he..he. Iya, masih suka terdampar mood-nya entah kemana. Timbul tenggelam karena gaduhnya pertanyaannya dalam diriku sendiri. Namun percayalah didasar hati ini menjadi seorang penulis profesional tetap jadi salah satu impian favorit terbesarku. Misi terbesar aku ingin terus menulis adalah untuk keabadian. 
Diriku yang berbatas durasi, tak akan pernah tahu kapan kembali kepada yang Maha Pasti. Eh terus apa hubungannya dengan profesi sih? Oke jadi begini...ehem...jadi katakan lah ketika benar-benar sudah memutuskan bahwa aku akan menjadi seorang penulis profesional artinya segala konsekuensi logisnya harus sudah aku ukur sebelumnya. Tidak ada setengah hati, setengah rasa dan setengah kerja. Batasan dan kekuatan yang ada padaku harusnya sudah ku timbang untuk menjadi senjata untuk berkarya  lebih nyata. Tentu saja tidak akan mudah menuju kesana. 
Menitipkan asa pada karya yang akan dibaca melintasi batas masa bahkan ketika aku sudah tiada. Maka sungguh aku tak diam saja, saat ini aku sedang terus berusaha perlahan merekam jejak aksara, mengumpulkan remah-remah keberanian yang terserak untuk lebih lantang mengutarakan lebih banyak lagi mantra-mantra cinta yang mampu terbang melintas batas cakrawala.

Bismillahirrahmanirrahim

Ku genggam pena ini erat dan meski perlahan-lahan aku mencoba menguraikan asa yang ada ke dalam rangkaian aksara agar asa ini menjadi karya. Sebuah destinasi pilihan menuju profesionalisme nyata, demi prasasti bernama keabadian.

#WanitadanPena
#Day08
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

Gerbang Kesuksesan

Minggu, 28 Oktober 2018

Responsibility is root of discipline!

Tanggung jawab adalah akar atau sumber dari perilaku disiplin. Yep! Aku masukkan pemahamanku tentang disiplin ini sebagai perilaku. Terus apa dong pengertian perilaku itu? Perilaku adalah sebuah reaksi, aksi, tanggapan terhadap stimulus atau rangsangan yang didapat seseorang dari lingkungan sekitarnya.

Disiplin = Kebiasaan + Tanggung Jawab

Begitu lah kira-kira kunci perilaku disiplin ini, awalnya hanya masalah kebiasaan. Kebiasaan yang meletakkan dan mengatur segala sesuatu pada jalurnya. Pembiasaan ini  mutlak perlu dilakukan  dengan penuh kesadaran akan tanggung jawabnya. Masalahnya darimana asal kesadaran itu? Apakah ia datang muncul tiba-tiba begitu yang datang tak diundang pulang tak diantar?....aiiih kok jadi seraaam ya...:). Oke baiklah tenang nggak seseram itu kok. Kesadaran itu muncul karena seseorang sudah memahami apa yang sedang ia jalani, apa yang ingin diraih, apa yang menjadi hilir tujuannya dan memahami pentingnya menghargainya konsep waktu. Betul, disiplin juga berbanding lurus dengan cara seseorang menghargai waktu. Waktu yang tak akan pernah bisa kau minta kembali jika telah pergi.


Kita harus pahami kesuksesan seperti apa yang ingin dicapai. Ketika sudah secara sadar memahami apa yang jadi tujuan maka selanjutnya dengan rasa tanggung jawab itu seseorang akan terus dapat melakukan kebiasaan yang akan membantunya meraih kesuksesannya. Meski kini masih berupa impian perlahan akan menjadi kenyataan.
Aku pun begitulah kira-kira, saat ini jujur aku belum mampu mendisplinkan diri. Masih banyak lubang menganga karena alpa. Semata-mata karena kadang aku merasa masih berada di area abu-abu tujuanku. Maju mundur memikirkan kembali warna asli misi yang ada dalam nurani. Ada semacam rasa takut dalam diriku jika ada sesuatu hal yang justru malah mengaburkan niat awalku.
Namun aku tak menyerah atau berhenti untuk terus menyusun konsep kesuksesan yang ingin aku capai. Sebagai pribadi, sebagai penulis, sebagai praktisi dan konselor yang peduli dan mendampingi anak-anak serta remaja, apapun label predikat yang ingin aku capai sekuat tenaga aku harus tahu dulu dasar tujuannya. Sambil tak lupa kunyalakan tombol  katalisator dalam diri ini agar nurani tak kehilangan kendali. Kupanggil kesadaranku agar mampu mengamalkan perilaku disiplin itu. Demi Waktu!

#WanitadanPena
#Day07
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

Inspirasi Hidupku

Sabtu, 27 Oktober 2018

Sosok inspirator hidupku ada banyak sebenarnya mulai dari sebagai umatnya maka idola sepanjang hayat adalah Rasulullah, bunda Khadijah, bunda Aisyah, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra, orangtuaku, guru-guruku. Semua mempunyai porsi memberikan ruang inspirasi dalam diri ini. Tak terkecuali guru-guru kecilku kini.


Namun tetap dengan lantang kuteriakkan urutan pertama setelah yang dimuliakan Rasulullah Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam ada orang tuaku. Papa mama adalah inspirator yang mengajarkan banyak hal padaku. Mengenal diri dan kehidupan yang melingkupiku. Bagaimana mengambil peran dan bertanggung jawab dalam  menjalani kehidupan manusia ini agar terus mampu menerjemahkan maksud Tuhan tentang keberadaan kita.
Aku belajar banyak pada mama tentang kesungguhan beliau menjalankan perannya sebagai ibu. Tidak banyak keluhan, yang nampak hanya kasih sayang yang heran entah dimana beliau selalu menemukan kembali energi untuk melakoni peran sebagai ibu rumah tangga yang seabrek tugasnya. Beliau berdua mengajarkan pula bagaimana mengelola rumah tangga yang selaras. Tak segan berbagi peran dan fungsi. Aku kadang tertegun betapa terencana kehidupan rumah tangga beliau. Rumah tangga orang tuaku tak sempurna namun setidaknya ada banyak kesan luar biasa dalam semua proses tahapan yang dilewatinya.

Diurutan setelah orang tuaku ada guru BP (Bimbingan Penyuluhan) atau kalau sekarang disebutnya konselor sekolah atau guru BK (Bimbingan Karir dan Konseling). Bapak Edi Busono namanya. Beliau adalah aktor dibalik layar yang mungkin beliau tanpa salah menjadi inspiratorku untuk menjadi seorang seperti beliau. Guru BK yang berlatarbelakang pendidikan S1 Psikologi. Lewat beliau dan atas ijin Allah Ta'alla aku menemukan misi hidup untuk menjadi konselor anak-anak dan remaja di usia 14 tahun. Dibangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama itu aku sudah menemukan impian untuk bisa berada ditengah anak-anak tanggung yang sedang kebingungan mencari jatidirinya. Agar ia selamat sampai tujuan menjadi manusia dewasa yang bahagia. Aku terinspirasi pada sikap beliau saat menangani anak-anak luar biasa di sekolah kami. Anak-anak yang sering "dikirim" ke ruang BP. Seingatku beliau tak pernah  marah kepada mereka justru lebih memberikan ruang pada mereka untuk bercerita tentang impiannya atau apa saja. Hingga keesokan harinya tanpa diminta mereka datang lagi dan lagi untuk berbagi kisah mereka sehari-hari. Saat itu beliau diperbantukan juga untuk jadi guru elektronika. Aku yang penasaran terus mencari tahu bagaimana bisa beliau memiliki konsep berpikir yang berbeda dari guru BP yang lain. Ternyata beliau adalah lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Psikologi. Sayang sekali aku tidak menanyakan kelanjutannya.

Terdengar berlebihan ya..tapi cerita ini tak akan pernah usang dan akan aku ulang-ulang setiap kali ada yang bertanya bagaimana aku menemukan ketertarikanku pada dunia psikologi, anak dan remaja.

Begitulah pada dasarnya inspirator hidupku adalah semua orang  yang berhasil menitipkan inspirasinya  dalam proses perjalanan menemukan diriku. Ya semua! Siapa saja ada banyak nama dalam daftarku yang aku harus mengucapkan salam dan terima kasih. Telah membantu membentuk diriku hari ini, esok dan nanti.



#WanitadanPena
#Day06
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

Dapurku Istanaku

Jumat, 26 Oktober 2018

Rumahku surgaku, tiap kenyamanan hampir pasti diidentikkan dengan surga. Damai, tentram, sejahtera hanya ada bahagia. Begitulah kira-kira impian dan harapan tiap orang akan rumah idamannya. Sekuat tenaga semua anggota keluarga akan berjibaku mewujudkannya. Harapan bahwa rumah menjadi surga terindah bagi jiwa dan raga semua penghuninya.


Layaknya rumah, ada satu bagian ruangan di dalamnya yang memegang peranan penting. Ruang yang menyatukan ruh para penghuninya. Sempit ataupun luas tidak masalah sebab fungsinya jauh lebih kaya makna dibandingkan  ukurannya. Namun entah mengapa, sudah terlanjur dapur banyak dikonotasikan negatif sebagai tempat yang kotor, berantakan, tidak bersih apalagi rapi.

Memaknai dapur sangat bergantung pada pilihan dan pemahaman masing-masing orang melihat substansinya. Jika maknanya hanya sekedar tempat masak, meletakkan barang dan aneka bumbu, maka dapur hanya  dipahami sebagai tempat transit, sementara dan berkata, "Ah, tak perlu lah rapi-rapi amat toh juga cuma sebentar disana, masak, makan lalu ditinggal pergi".

Kalau ada orang memilih konsep berpikir demikian, ya cukup lah hargai saja. Kita tidak bisa memaksa preferensi orang lain bukan? Sebab semua pengalaman panca indera  tiap orang berbeda. Apa yang pernah dialami ruh dan raga seseorang saat proses mendengar, melihat, melakukan, merasa akan menentukan sudut pandangnya dan kemampuan menilai suatu hal termasuk cara menyikapi segala sesuatu disekelilingnya.

Bagaimana dengan aku? Aku mengakui berada disisi pemaknaan yang lainnya. Bagiku dan suami dapur adalah tempat paling strategis sekaligus romantis. Obrolan pagi didekat meja makan di dapur hampir tak boleh dilewatkan. Suara musik dari radio tua menemani merayakan "Coffe Morning Time" kami. Memang tidak selalu aku duduk gabung dikursi makan. Suamiku terus berbagi cerita sembari tangannya tak berhenti memantau dan menulis berita melalui gadget andalannya, sedang aku sibuk mempersiapkan  semua sesajen keperluan sarapan. Kami terus mengobrol, diskusi, bercanda, sesekali berdebat. Sebuah romantisme percakapan pagi hari yang kami percaya adalah rapal mantra paling ampuh untuk menguatkan ikatan cinta kasih di dalam rumah tangga ini. Filosofi dapur yang luar biasa, kan? he-he-he.

Obrolan ringan ini tak boleh kehilangan maknanya, kadang kami bicara soal remeh temeh seperti ternyata ada tikus mati entah diselokan siapa sampai berhari-hari baunya tak mau pergi hingga berita pilkada yang mulai makin menggelitik untuk diulik. Ssslurruuup... glek... sesekali ku jeda menyeruput kopi hitamku yang  selalu saja terlanjur dingin untuk dinikmati. 

Begitulah, dapur bagiku menjadi salah satu tempat mengejawantahkan rasa cinta, kasih dan sayang. Mulai dari menyiapkan menu, mengumpulkan bahan masakan, meracik bumbu, mengolah, memasak dan setelah matang kemudian berpikir bagaimana cara menyajikannya didepan para juri. Saat ini juri dirumah ini baru ada suami dan kelak dengan ijin Allah Ta'alla akan ada barisan juri luar biasa lainnya, anak-anak kami. Selain cita rasa yang sempurna, tampilan sajian makanan akan berperan penting pada baik buruknya selera makan tiap anggota keluarga. Peran dapur menjadi semacam pintu khusus (connecting door) yang menghubungkan tiap ruangan dalam rumah tanpa terkecuali.

Namun yang jadi ya tantangannya untuk berlama-lama di dapur jelas bukanlah kesenanganku. Tidak seperti yang lainnya yang gagah berani mengeksplorasi resep-resep baru dimajalah. Kalau aku hanya sebatas penikmat kuliner-kuliner saja lah.  Masak juga ya yang standard saja. Sebenarnya sesekali kalau agak longgar hobi juga melihat tayangan televisi masak memasak.  Padahal hasilnya cuma muka pengen doang sebab eksekusi resep adalah keniscayaan :).

Sesekali mencobanya sih tapi lebih banyak pilih masaknya ya yang aman saja lah ya..apalagi suami kalau makanan agak kecolok ala Western begitu suka protes. Ya, syukur deh lidahnya merah putih jadi gampang lah cari referensi. Setidaknya asal ada Warung Tegal atau Warung Nasi Padang masih buka tetap tentram lah hatiku. 

Pintaku pada Tuhan, semoga selalu bisa menjaga hangat cinta di istana dalam  surgaku ini agar terus mampu menghubungkan seluruh ruh-ruh penghuninya. Dapurku Istanaku.

#WanitadanPena
#Day05
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

Jejak-Jejak Sajak Kehidupan

Kamis, 25 Oktober 2018

Kawanan nyamuk semakin malam semakin  menggila. Suara dengungannya juga terdengar lebih kencang beberapa malam ini. Saling bersahutan terdengar dari rumah tetangga, suara sengatan raket listrik penangkap nyamuk. yang mengenai sasarannya. Nyamuk yang tersengat raket itu tentu saja tak mungkin selamat. Itu pertanda akhir masa hidupnya.
Hmm... lingkaran putaran waktu memang teka-teki misterius. Tak ada yang pernah mengerti kapan masa kesempatan harus berlalu; terbang mengangkasa seperti debu terbawa angin. Kita memang benar-benar bukan pemilik waktu.


Tantangan Hari Keempat



Ah ya...hari ini tantangan hari keempat, bicara tentang portofolio. Berbeda dengan subtema sebelumnya hari ini lumayan putar otak. Bingung karena jika ini dikorelasikan dengan karya...aiiih...belum ada karya yang dengan sungguh-sungguh bisa aku banggakan diblantikanya para penggiat literasi. Portofolio secara umum bisa diartikan kumpulan dokumentasi seseorang, lembaga atau perusahaan. Dokumentasi ini bisa berupa tulisan, gambar atau sumber lain yang berguna untuk mencatat rekam jejak seseorang, lembaga atau perusahaan. Catatan ini biasanya digunakan untuk mengukur kemajuan prosesnya, apakah sudah sesuai dengan target tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Mengacu pada pengertian itu, aku berpikir selain foto aku punya  apa? sepertinya aku mulai sekarang harus mengumpulkan data catatan dokumentasi pendukung lainnya.
Lalu rekam jejak apa yang sudah berhasil aku kumpulkan? Jika ini terkait dunia literasi, kebanggaan pada karyaku baru muncul melalui skripsi yang kutulis bertahun-tahun silam. Ah ya meski tersebar diberbagai sobekan kertas dan banyak yang belum dirapikan. Puisi juga merupakan salah satu pintu pelarian paling favorit jika penat menghampiri. Sempat dulu pernah berharap juga satu hari satu puisiku masuk ke dalam buku antologi puisi. Tapi sebelumnya pernah punya mimpi puisi-puisiku itu terkumpul jadi satu buku. Angan ini muncul setelah baca buku kumpulan puisinya Mbak Rieke Diah Pitaloka alias mbak Oneng. Judulnya Renungan Kloset. Ah jadi melantur ceritanya he-he-he.
Satu yang pasti yang aku yakini tentang rekam jejak paling hakiki adalah mematri inspirasi positif dalam hati tiap orang yang kutemui. Agak abstrak memang, pakai tolak ukur apa keberhasilan interfensinya? Mungkin terdengar agak konyol namun begitulah yang aku pahami. Segala sesuatu yang berasal dari hati, digerakkan oleh hati akan mampu menggerakkan hati yang lain pula untuk berbuat kebaikan yang sama bahkan jauh lebih baik. Itu lah yang aku lakukan kepada anak-anak ideologisku. Bersama guru-guru kecilku aku berbagi, menitipkan banyak cerita baik, memberi teladan, dan selalu mengajak mereka berbuat hal baik. Satu hal baik yang ditularkan kepada orang lain, dan satu orang tersebut terinspirasi kemudian ia beraksi berbuat satu kebaikan lainnya. Aku masih percaya bahwa ini adalah portofolio hidup paling murni bagi diriku sampai saat ini. Terkait dengan dunia pena, tentu saja saat ini aku sedang terus berbenah dan bergegas mengejar ketertinggalanku. Tujuannya, supaya portofolio yang masih abu-abu ini menjadi semakin berwarna serta sajak-sajak kehidupan tidak terlewat diceritakan.

#WanitadanPena
#Day04
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

CITA-CITA SEJAUH IMPIAN

Rabu, 24 Oktober 2018


Wah sudah masuk hari ketiga, godaan setan inkonsistensi pasti lah ada....wusss...wusss...meniup sepoi-sepoi dikepala supaya terlena. Eitsss...hushh...husssh...jurus berkelit harus selalu siap siaga nih he...he...he... dan Alhamdulillah tantangan hari bicara tentang cita-cita. 

***

"Bunda, ini ditulis cita-cita atau impian?", seorang siswa menghampiriku sambil menunjuk kertas kosong berukuran F4 putih polos  masih bersih yang dibagikan di kelas. Aku mengisyaratkan untuk duduk kembali ke bangku semula, sambil berjalan ke arahnya. Ya, hari itu agendanya adalah membuat mind mapping mengenai perjalanan impian mereka dari masa remaja hingga masa dewasanya. Aku berdiri sebentar memandang sekeliling kelas, kuperhatikan satu persatu tertangkap mataku ada anak-anak yang masih ragu mau menuliskan apa. Disudut lain beberapa siswa tampak sudah yakin dan kuperhatikan ekspresi wajah mereka serius sekali menulisnya. 
Ku hentikan langkah didekat tempat duduk siswa yang bertanya. Badan agak aku putar serong agar tetap luas pandanganku melihat aktifitas para siswa. "Anak-anak, sebelum ibu jawab pertanyaan temanmu tadi siapa yang tahu beda cita-cita dengan impian? Atau menurut kalian sama saja?", aku bertanya sambil menyapu pandangan dari tiap sudut kelas.

Kelas menjadi sedikit riuh sejenak dalam hati aku sedikit geli sebenarnya. Tapi memang harus ada proses gaduh seperti itu karena proses belajar hingga sampai tataran paham itu tidak seragam. Ada yang berpendapat itu adalah persamaan kata, tapi tak sedikit yang bilang beda.

"Cita-cita itu nyata kalau impian itu bisa jadi itu cuma khayalan Bun", jawab salah seorang siswa. Kemudian disusul jawaban-jawaban lain dari beberapa siswa. Setelah kurasa cukup mereka diskusi bebas dan agar level kebingungan tidak semakin tinggi maka aku mencoba beri penjelasan kepada mereka. 



CITA-CITA ATAU IMPIAN 

Kurang lebih begini penjelasanku saat itu, arti kata cita-cita dalam KBBI V berarti kehendak, keinginan yang selalu terngiang dalam pikiran, dan atau bisa diartikan tujuan yang sempurna untuk dicapai dan dilaksanakan. Sedangkan impian berarti barang atau sesuatu yang sangat diinginkan. Cita-cita dan impian saling terkait satu sama lain. Cita-cita itu selangkah lebih maju dibandingkan impian. Namun cita-cita hanya akan jadi sekedar kata-kata jika tidak memiliki impian didalamnya. Impian adalah bahan bakar menuju terwujudnya cita-cita.
Penjelasanku saat itu sepertinya berhasil, seketika setelah selesai menjelaskan mereka lantas bersemangat menggambarkan mind mapping perjalanan cita-cita dan impiannya. Ku tersenyum melihatnya, tampak olehku banyak mata berbinar memancarkan cahaya yang tidak biasa saat menuliskan semua itu. 
Aku yakin cita-cita dan impian ibarat sebuah peta yang mengantarkan tiap orang pada tujuannya. Hampir bisa aku pastikan ketika ada anak datang ke ruang konselingku. Anak yang dianggap bermasalah, terlanjur diberi label nakal, dan lain sebagainya oleh orang dewasa disekelilingnya.. Mereka itu ialah anak-anak yang jarang ditanyai apa cita-cita dan impian mereka? Banyak pula karena mereka malah belum mampu menerjemahkan keinginan sebenarnya yang sesuai dengan bakat, minat dan passion-nya. Bagaimana bisa menerjemahkan keinginan jika mereka tidak diajarkan mengenal diri mereka sendiri? Alih-alih dikenalkan malah yang mereka pahami adalah impian dan cita-cita imitasi yang bukan asli datang dari dalam diri. 
Maka tiap kali mereka datang, dengan apapun ragam kenakalan yang dijelaskan rekan lain. Pertanyaan paling awal yang selalu aku tanyakan adalah "Kamu punya cita-cita dan impian tidak, Nak?".
"Apa cita-citamu kelak waktu sudah jadi manusia dewasa? Coba ceritakan?!".
Hanya sebuah kalimat yang sederhana bukan? Percakapan ini meskipun tampak sederhana akan terus mengalir dan menumbuhkan kembali harapan, serta kebanggan diri sekaligus memberikan tujuan hidup baginya. Semua perlu nilai makna, agar kita hidup tak sekedar hidup belaka.

#WanitadanPena
#Day03
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang

Read More

Ceritamu, Inspirasiku

Selasa, 23 Oktober 2018

Masuk ke tantangan hari kedua rumbel literasi media Ibu Profesional Semarang. Memang ya hidup kalau nggak diberi tantangan tuh nggak ramai...nggak hidup namanya. Berasa datar aja gitu...jadi demi mengobarkan semangat menulis ini lagi. Tercipta lah "10 Days Challenge"; Tantangan 10 hari menulis. Ibarat mengejar matahari, maka tantangan ini ujian agar konsistensi tetap terkondisi tanpa digerogoti moody...ha..ha..ha...itu alasan aku banget sih.

HARI KEDUA

Tantangan hari ini bicara tentang curahan hati. Mencurahkan isi hati dan atau menerima curhatan semua memiliki maknanya. Berbagi kisah cerita kepada lain tentu saja itu jadi salah satu media relaksasi utamanya perempuan. Penat, luka dan segala macam rasa seolah menemukan muaranya ketika kita mampu membaginya. Beban terasa lebih  ringan sebab kita tahu ada yang mendengar dan menemani kita  Terutama nih buat para kaum hawa yang jumlah deposit kata-katanya tak terhingga. Yaah aku percaya itu salah satu kekuatan yang diberikan kepada kita. Semakin menemukan kekuatan ketika kita  tahu ada sandaran hati untuk berbagi. Semoga tidak terdengar sebagai pembenaran ya he-he-he..

Lalu, apa yang terjadi pada kita yang sering menerima curahan hati seseorang? Adakah manfaat yang dapat kita bawa atau malah justru akan menambah beban jiwa? Tentu saja ada maknanya. Menyediakan kelapangan hati juga telinga untuk mendengarkannya memang tidak gampang. Butuh cadangan energi positif untuk bisa bersama-sama menempuh jalannya. Bersyukur jika cerita yang kita terima hanya cerita yang baik dan bahagia saja. Transfer energi positif itu makin menambah simpanan kita. Namun, seringkali yang ingin dibagi bukanlah cerita bahagia kan? Bayangkan saja apa jadinya?

Memerlukan melatih kemampuan untuk bisa meletakkan simpati dan empati dengan tepat. Kita mencoba ikut merasakan situasi dan kondisinya tanpa ikut larut terjebak didalam pusaran kekalutan mereka. Pengalaman menjalani peran sebagai konselor sekolah, anak dan remaja yang sering bersinggungan dengan keunikan karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ditambah para orang tua murid dengan berbagai ragam latar cerita yang tak kalah uniknya. Membuat semua peristiwa proses konseling begitu menarik. Kerap kali memang energi terkuras deras, namun senyum harapan diparas mereka yang ingin kulihat mampu menjadi penawarnya. 

Selalu kubilang pada mereka, anak-anak ideologis ku. "Bukan kalian yang belajar dari bunda tapi justru bunda yang belajar banyak dari kalian. Bukan bunda yang membantu kalian, namun kalian yang sesungguhnya membuat bunda belajar bersyukur dan mengambil hikmah dari curahan hati kalian itu!". Kusampaikan hal yang sama kepada siapapun yang telah berkenan menitipkan cerita padaku. Kalian semua adalah guru-guru ku di universitas kehidupan yang maha luas ini. Terima kasih sudah sudi berbagi inspirasi!

#WanitadanPena
#Day02
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang

Read More

Aku, Ayah dan Kenangan

Senin, 22 Oktober 2018


Betapa senangnya aku berlarian kesana kemari di alun-alun kota pagi hari itu. Minggu pagi yang cerah, banyak sekali orang berada dipusat keramaian kota Semarang kala itu. Sambil mengunyah makan pagi yang disuapkan mama, aku terus saja mengoceh bertanya ini dan itu. Ayahku dengan senang hati berbagi tugas dengan mama menjawabnya, sambil sesekali mengabadikan momen pagi itu. Tustel pinjaman ah yaa...tustel adalah istilah awam untuk menyebut kamera manual jaman dahulu yang masih pakai klise yang ujungnya perlu diputar...krek...krek...cepreet...

Kenapa bisa tustel pinjaman? Ya kami saat itu masih baru pindah dari ibukota negara ke ibukota propinsi. Seperti keluarga baru pada umumnya, beliau memutuskan tinggal di rumah kontrakan. Kebetulan sebelah rumah kami kata papa profesinya tukang foto keliling. 

Ho ho ho maaf ya pake katanya karena aku masih terlalu kecil untuk mengingat detail peristiwanya. Nah, setiap kali ada acara jalan-jalan di luar ayah selalu menyempatkan diri untuk meminjamnya. Beruntung sekali tetangga kami baik hati, jadi kami  bisa membawanya sesuka hati  kami tanpa sewa sepeser pun. Bagi ayah kenangan adalah tabungan berharga yang bisa mengikat erat hubungan keluarga. Begitu beliau menjelaskan ketika aku beranjak dewasa. Oleh karena itu, momentum apapun berusaha diabadikannya, dengan foto-foto ataupun label-label keterangan kejadian. Ada yang berupa label cetakan dan ada banyak juga yang  tulisan tangan beliau. Berisi keterangan lokasi, peristiwa apa dan jika itu kegiatan  massal maka akan ditulis bersama saja dalam peristiwa itu. 

Ayah...hmmm...papa begitu aku biasa panggil beliau...papa memang seperti pria pada umumnya yang tak suka banyak bicara. Tapi tidak termasuk pendiam juga, sebab jika bertemu dengan orang yang memiliki bahan pembicaraan yang sepadan beliau tak akan pernah bisa berhenti bercerita. Papa selalu menunjukkan sikap jika beliau adalah ayah yang bertanggung jawab, terorganisir dan rapi. Bekerjasama dengan mama semua langkah direncanakan dengan seksama. Tentu saja tak lupa doa dan tawakal dihulu dan hilir upaya mereka. Bagiku itu keren, dan papa adalah pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Pria kedua dan ketiga dan seterusnya adalah Spiderman, Batman dan kawan-kawan superhero lainnya. Namun tempat papa tidak pernah terganti. 

Sebenarnya tak banyak kenangan yang bisa aku ingat bersamanya. Beliau sangat sibuk dinas keluar kota, maklum saja sebagai pegawai pemerintahan baru pastilah disposisi tugas dari atasan banyak sekali. 

Namun, sesibuk apapun pasti beliau meluangkan waktu pergi bersama ke taman atau alun-alun kota untuk tamasya. Salah satu kenangan paling kuat adalah papa selalu memberikan tebakan untuk membaca tiap tulisan-tulisan yang kami temukan sepanjang perjalanan. Apakah ditiket bus?papan reklame? Dikoran bekas yang telah beralih fungsi jadi pembungkus jajanan. Atau paling menyenangkan ketika papa mulai main tebak-tebakan dengan plat motor yang sedang lalu lalang disepanjang jalan. Z plat kota mana? Kalo M? Kalau Kudus platnya apa? Ah ya...kadang papa juga memintaku untuk membaca tulisan di rambu-rambu petunjuk arah. Begitulah perjalanan menjadi tidak membosankan karena banyak sekali quiz dari papa. Aku kecil yang tak pernah puas dengan jawaban papa,terus saja mengejar bertanya banyak hal. Papa pun nampak selalu siap menjawab pertanyaanku. Aaah...hati siapa yang tak riang ketika sampai ditujuan...taraaaaa...hadiah menanti...sekotak susu coklat UHT terhits waktu itu dan lapis legit dengan kotak warna kotak bergambar sapi favorit mendarat ditanganku.

Kebiasaan membaca dan bertanya apa saja dijalan nampaknya sudah mendarah daging padaku, hingga reflek dalam hati atau kadang ku utarakan langsung pertanyaan-pertanyaan yang kadang nggak penting untuk ditanyakan. Kata suamiku, "Ssst...berisik banget sih tanya terus...sudah dinikmati saja perjalanannya...". Terdiam beberapa saat untuk kemudian memulai pertanyaan baru lagi he-he-he...
Meski tak selalu indah rekaman kenangannya, aku bersyukur karena salah satu tabungan kenangan bersama papa itu aku lebih awal lancar membaca dibandingkan teman-teman Taman Kanak-kanak ku. Wawasanku juga jauh lebih luas karena papa selalu berusaha memberikan jawaban atas keingintahuanku.

#10dayschallenge
#wanitadanpena
#rumbelliterasimedia
#day1

Read More

RESENSI BUKU : PERJALANAN RASA

Sabtu, 31 Maret 2018

Judul Buku       : Perjalanan Rasa
Penulis              : Fahd Djibran
Tebal Buku       : 230 blm
Penerbit            : Kurniaesa Publishing
Tahun Terbit  : Cetakan I, November 2012


Buku ini adalah buku ketiga karya Fahd Djibran atau sekarang lebih dikenal dengan Fahd Pahdepie yang saya baca. Setelah buku 'Jodoh' dan 'Angan Senja dan Senyum Pagi'. Cukup terlambat memang saya mengenali karya-karya lamanya yang ternyata lebih "saya". Jika ditanya mengapa? Saya suka dengan aliran cerita yang dituturkannya. Ide dan gagasan yang sesungguhnya berat menjadi lebih ringan dicerna. 

Buku ini sudah dicetak ulang dengan desain sampul dan penerbit yang baru. Rupanya banyak yang merindukannya. Buku lamanya bersampul merah hati dan desain gambar yang cukup dalam makna, terlihat seseorang yang sedang merenung. 

Sinopsis

Di halaman belakang buku ini diatas tulisan ISBN, diakui genre buku ini adalah novel/fiksi, namun saya lebih memilih menyebut ini sebagai kumpulan cerita pendek. Sebab antar bab tidak ada saling berkaitan ceritanya secara langsung. Uniknya cerita-cerita yang berkisah tentang perenungan ini disambungkan oleh satu kata akhir dari cerita sebelumnya menjadi judul atau ide cerita di bab berikutnya. 

Ada 51 judul cerita atau bab dalam buku ini. Variasi cerita bermacam-macam, mulai tentang perasaan penulis tentang Mama dan berakhir dengan cerita tentang perasaan seorang Ayah.
Sejak lembaran awal saya sudah mulai masuk dalam perjalanan rasa saya dicerita tentang Mama, juga saat terjadi dialog-dialog dalam diri penulis yang serta merta membuat saya atau mungkin pembaca yang lain ikut mengangguk bersama, larut bersepakat dalam ceritanya. Seperti cerita di akhir buku ini yang menggambarkan tentang perasaan sosok seorang Ayah. Membuat saya menghadirkan sosok ayah dalam imaji, membayangkan dinamika perasaan ayah.

"Demikianlah, akan selalu ada ikatan khusus antara seorang ayah dan anak. Dialah ayahku, ketika kecil, remaja, dewasa, dan tetap akan menjadi ayahku untuk selama-lamanya.."

Buku ini seolah mengajak kita berdialog, dan membawa kita melihat dengan sudut pandang berubah-ubah. Penulis menggunakan kata 'aku' dibeberapa cerita, namun terkadang  ia bertutur melalui sapaan 'kamu'. Dibuku ini sisipan kisah bersama keluarga juga menjadi salah satu kekuatannya 

Perenungan dialogis (self talk), cukup terasa tiap membaca lembar demi lembarnya. Seperti membawa pembaca 'Perjalanan Rasa' ini layaknya berbincang-bincang dengan dirinya. Kutipan-kutipan cerita bermakna mungkin sudah menjadi salah satu ciri khas Fahd Djibran disetiap bukunya. Sejak halaman pertama sudah terasa atmosfernya, mungkin bisa jadi ini subjektif. Namun menurut saya penulis berhasil mengajak pembaca, merenungi kisah-kisahnya yang kemudian membawanya ke ranah dialogis pribadi; ranah religius dengan tutur bahasa yang universal.
Seperti dihalaman persembahan penulis yang ditujukan kepada anaknya :
...
belajarlah dalam kesabaran Ayub
berjalanlah bersama keberanian Ibrahim
bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman
taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Muda
himpunlah semua kebijakan Yakub
katakanlah kebenaran semerdu suara Daud
kasih ilahi sesama sepenuh cinta Isa
lalu masuklah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad
...

Bagi saya kalimat itu cukup lembut, indah sekaligus tajam penekanannya mengenai doa, harapan orang tua dengan pemilihan role model yang otentik.

Contoh kutipan lain yang menurut saya cukup mengena ada di cerita berjudul 'Berbahagialah' : 

"Ah, kadang-kadang kita hanya perlu jeda, menunda semua asumsi dan prasangka... lihatlah ke kedalaman masing-masing dan percayalah : everything is going to be amazing! Ya, paling tidak untuk sekarang, berbahagialah: Enyahkan ketakutan-ketakutan!"



Kelebihan

Buku Perjalanan Rasa ini cocok bagi siapa saja yang ingin menjelajahi petualangan rasanya sendiri. Bersiap dibawa ke kilas balik masa lampau, kemudian dibawa berdiskusi dengan fenomena kekinian. Sesekali ikut galau sebab menemukan kemiripan kisah. Seperti membaca buku filsafat namun jauh lebih ringan.

Kekurangan

Cukup banyak kesalahan penulisan dalam cetakan buku ini. Tidak fatal, namun cukup membuat tidak nyaman saat membaca.

Kelemahan yang lain adalah ada beberapa cerita yang masih cukup berat dan sulit dicerna maknanya. 

Secara keseluruhan buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca siapapun, untuk merefleksikan diri atau sekedar mengajak jiwa ini berekreasi melalui perenungan sederhana. Bisa jadi sebuah upaya meditasi untuk mengembalikan kepekaan jiwa.

'Selamat menjelajahi perjalanan rasamu! Semoga Tuhan mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya!'

#oneweekonepost
#blogwalking
#rumbelLMIPS
#resensibuku
#perjalananrasa


Read More

Metamorfosa Rasa (Babak 2) : Bejana Setengah Penuh

Kamis, 22 Maret 2018


Setahun berlalu sejak pertengahan tahun 2002 kita mulai bertegur sapa. Diskusi buku, membahas pertandingan liga sepakbola, situasi politik, sosial, berpetualang mencari HIK (Hidangan Istimewa Kampung) atau lebih dikenal dengan angkringan yang obrolannya pemilik dan pengunjungnya asyik. Sampai menemaniku melakukan tugas social experiment di beberapa lokasi di Solo yang berlabel "kuning". Tidak setiap hari kita bertemu atau bertegur sapa meski kost kita saling berhadapan. Sesuai kesepakatan tidak akan saling mengganggu semua aktifitas dan prioritas kita, 

Source : Google

Hingga satu hari kamu begitu yakin meminta waktu untuk bicara padaku, di ruang tamu rumah kontrakan mbak kostku yang harus pindah dari kost untuk menyewa rumah agar lebih ringan bia yanya. Sebab kakak, adik, dan beberapa saudara dari Lampung juga ikut kuliah di Solo.  Ia sudah dekat layaknya saudara, dan nampaknya kalian berkonspirasi hari itu. Sesampai disana, setelah bercerita kesana kemari dengan alur dan topik campur aduk. Kamu minta waktu sebentar untuk bicara padaku. Kita ke ruang tengah, entah kita sedang merayakan apa hari itu sampai ada masak besar. Di tengah riuh ramai mbak Nik sekeluarga ditambah beberapa teman lain datang, tiba-tiba kamu bilang ada yang ingin kamu bicarakan. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang...hmm..aku takutkan dan hindari selama ini. Ternyata betul kamu minta ijin ingin mengutarakan perasaanmu.Kita duduk bersila dan saling berhadapan agak berjauhan. Aku mendengarmu menghela nafas beberapa kali dan hembusan nafas yang berat. Mataku menatap sekeliling ruang itu, ingin mencari celah untuk kabur rasanya.

“Bismillahirrahmanirrahiim...aku mau bilang sesuatu tapi kamu jangan marah”. Nampaknya kamu masih mengingatnya, maka kamu kunci dengan permintaan maafmu dulu.
“Hmm...kenapa?
“Dengarkan sampai selesai aku bicara tolong jangan disela..”
“Oke”
Kamu menghela napas kembali, kali ini lebih panjang, dalam dan berat.

Baiklah dengarkan...Sebagai saudara sesama muslim dan sebagai bentuk ukhuwah islamiyah. Aku ingin silaturahmi sama kamu, berproses untuk lebih mengenalmu. Setelah itu jika semua berjalan baik aku ingin silaturahmi sama keluargamu, lalu jika Allah mengijinkan aku akan mengkhitbahmu. Dan bila Allah meridhoi dan orangtuamu merestui pangkal dari niatku ini adalah aku akan mengucapkan akad didepan orangtuamu“

“Aku sudah selesai..silahkan dijawab tapi sekarang... saat ini juga. Boleh atau tidak?”
“Kenapa?!?”
“Tidak ada kata besok pagi karena jika jawaban itu datang besok artinya kamu mendengarkan suara logika pikiranmu. Aku pengen kamu pertimbangan ini pakai rasa...akal logika perasaanmu. Seperti yang selalu kamu bilang kan akal pikiran dan akal hati tidak bisa selalu beriringan tapi hati memiliki penjaganya bernama nurani..Aku ingin kamu jawab pakai itu. Aku hanya butuh ijinmu untuk melanjutkan niatku

“Tapi...ini seperti intimidasi tahu nggak?!...memberikanmu ijin atau tidak aku masih ragu
“Tetap saja aku tunggu jawabannya sekarang. Baik aku kasih waktu sepuluh detik
“Hah?!? Yang bener aja, Am?” dan keringat dingin mulai terasa merambat dari kaki hingga ke ubun-ubun.

Jauh didalam hatiku aku berdoa bertubi-tubi supaya aku diberi kekuatan menjawab yang tepat. Sebab orang dihadapanku ini orang baik, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari.
Aku tarik napas dalam-dalam dan merasakannya hembusannya keluar perlahan-lahan, sambil memejamkan mata ku coba setenang mungkin.

“Bismillahirrahmanirrahiim , Baik aku jawab...aku..ti..dak bi..sa...mmh...” aku pandangi kedua belah mata orang yang duduk dihadapanku ini. Anak matanya nyaris membulat hitam hampir penuh. Oh...Tuhan..dia berharap! Seketika aku menangkap perasaan kecewa pula disana ketika ia mendengar kalimatku yang menggantung, pupil matanya yang membulat mulai beranjak mengecil. Ia tertunduk. 

Entah aku terilhami oleh apa...seperti tanpa sadar lidah refleks melanjutkan ucapan yang menggantung tadi...ti..dak bi..sa... bilang..TIDAK”. Aku tersentak sendiri mendengar penyelesaikan kalimatku tadi. Ini betul-betul terjadi..aku seperti diluar kuasaku. Terlambat...nggak mungkin aku tarik kalimatku tadi...tak mungkin...aaah aku harus gimana..penyesalan sudah tidak ada guna. 

Seketika air mukanya berubah riang, dan aku...bisa lah dibayangkan raut wajah masih terhenyak heran dengan jawabanku sendiri. Aneh!! Ada dua suara dalam hatiku, sisi lain lega dengan pilihan jawaban itu tapi disisi lainnya takut ini bukan keputusan yang tepat. Takut kalau saja ini akan melukai hubungan baik kami berdua nantinya. Kamu meraih tanganku, membawanya ke dahimu dan mengucapkan dengan intonasi penuh sukacita dan kelegaan, “Terima Kasih...”, ucapmu sambil menegakkan kepalamu lagi. Kulihat ada genangan tipis dikedua sudut mata yang berbinar itu.

“Tapi ingat ini berproses, bukan pacaran atau apapun seperti yang dipahami orang-orang. Kamu masih ingat tho? Apa arti pacaran buatku?” aku segera melanjutkan kalimatku sebagai konfirmasi agar tidak ambigu maknanya nanti.
“Ya..ya..paham..pacaran menurutmu adalah sesuai arti bahasa Kawi-nya; perjalanan menuju pernikahan. Tidak ada kewajiban makan bareng, wajib lapor, kemana-mana harus bareng dan seterusnya. Begitu kan maksudmu...?
“Baguslah kamu ingat. Aku nggak mau kalau harus ada acara lapor melapor, kamu dimana? sedang apa? atau harus sama-sama tiap waktu, makan bersama, pergi kemana-mana harus bersama. Kamu tahu aktifitas dan dunia kampusku. Sekali lagi ini proses, kita harus tetap membebaskan satu sama lainnya. Sampai memang suatu saat Allah menunjukkan definisi lain dari apa yang kita sepakati hari ini”
Satu lagi, aku ingin dimengerti dengan semua kemanusiawianku. Aku cuma perempuan biasa yang punya cita-cita dengan segala kesempurnaan kekurangannya. Aku banyak kekurangannya sebagai perempuan. Kamu harus siap dengan segala kemungkinan kemanusiawianku itu.”
“Iya aku ngerti aku juga bukan orang baik...sekali lagi terima kasih ya”

Begitulah tahapan baru kisah perjalanan awal proses kami, aku memang bimbang tapi seperti katamu aku harus membiarkan akal hatiku berperan. Setelah mampu menimbangnya, akal pikiranku pun mengingatnya bahwa belum pernah ada lelaki yang proposalnya seperti ini. Jelas, pasti dan memiliki visi. Lalu apalagi? Maka akal hatiku menuntun lidah ini memberikan sentuhan terakhir pada kalimatku dengan kata, TIDAK”   

Memang memberikan kesempatan untuk berproses sama saja membuka peluang untuk menyakitinya karena sejak awal aku tidak terlalu suka dengan konsep pacaran. Terlepas dari halal dan haramnya, secara pribadi aku nggak cocok dengan konsep itu. Yang mendahului menuntut hak yang bukan miliknya karena seolah-olah pacaran adalah label kepemilikan sah.   Padahal sama sekali tidak. Masa itu masih banyak hal yang ingin ku perbuat, selalu muda, selagi masih jadi mahasiswa yang dipercaya idealisme dan gagasannya otentik untuk melakukan banyak perubahan. Aku nggak ingin terbebani, dengan terjebak dalam perasaan yang belum semestinya. Masalah psikis akan selalu memiliki ranah tak teridentifikasi potensi arusnya tak selalu mudah dipahami.

Sejak proposalmu kamu sampaikan di awal tahun 2003, semua masih berjalan seperti biasa, tak ada yang berubah. Perlahan bejana setengah penuh mulai kita isi seiring proses yang kita jalani. Mulai meletakkan asa dijejak-jejak percakapan kita. Diam-diam aku sadar perlu memaknai ulang proses kita ini. Ada biduk-biduk kecil yang mempertanyakan akan menjadi siapakah engkau nanti? Kemana segala rasa yang belum punya nama ini akan berlabuh?
Maafkan saya bapak/ibu dosen...

Ada beberapa hal kecil perubahan, seperti kita mulai rileks membicarakan orang-orang dekat kita; orang tua, adik-adik, saudara sepupu. Ya, aku memang tidak memilih bejana yang telah sempurna terisi, sebab aku takut terjebak, terbuai lalu lalai. Alasan lain manusiawinya kepribadianku yang mudah bosan jika zona itu terlalu “nyaman”...flat.. Kamu? meski tak selalu berhasil ada saja canda yang kamu bawa, membuatku ingin menertawakan apa saja. 

Intensitas pertemuan kita jadi lebih sering karena kamu minta tolong aku menemani mengolah data penelitian skripsimu. Pertengahan tahun kamu sudah merampungkan studimu. Tiba saat kamu diwisuda, tatap muka pertama dengan kedua orang tuamu. Namun aku harus pamit karena tepat dihari wisudamu itu aku harus ke Jakarta menggantikan mama yang belum pulih pasca operasi. Selepas wisuda itu juga kamu langsung boyongan pulang ke kampung halaman. Kemudian kita mulai mengakrabi jarak sebagai penguat proses kita. Awal tahun 2004, kamu memberi kabar diterima di perusahaan ekspor impor di Semarang. Posisiku masih di Solo mengurus olah data penelitian skripsiku, ya karena pilihanku menggunakan penelitian kualitatif maka mengolah sumber datanya jauh lebih lama. Kurang lebih satu tahun aku berjuang menyelesaikan skripsi idamanku itu.


Kupersingkat saja ya...seperti awamnya orang yang sedang berproses dari tahun ke tahun pasti ada pasang surutnya. Namun, selalu saja kami kembali dengan segala bentuk peninjauan ulang hingga di tahun 2005; bulan agustus kamu berhasil sampai pada prosesmu untuk bicara kepada papa tentang niatmu meng-khitbahku. Kamu bilang umur 26 adalah usia yang ia tetapkan untuk menikah. Ia percaya jikapun bukan denganku bisa dengan siapa saja yang Allah perkenankan. Alhamdulillah, akhir tahun 2006 di bulan syawal kamu pun melunasi proposalmu, menggenapi separuh agama kita. Kamu pun ucapkan akad didepan orang tuaku. Lelaki itu (ternyata) memang kamu .... telah mengetuk pintu (hati)ku.
Berkat Bakat INPUT, masih terselamatkan :)





#GebyarLiterasiMediaFebruari
#CintakuTakSebatasValentinePart2
#RumbelLiterasiMediaIPS
Read More

Metamorfosa Rasa (Babak 1) : Awal Permulaan Kisah


Bukan tentang bingung memilih mau menulis apa, namun kesulitannya kali ini adalah memutuskan siapa lakon cerita yang akan ada ditulisanku kali ini. Serius deh ini beneran butuh tenaga ekstra untuk mengambil keputusan. Tema tantangan gebyar literasi bulan Februari adalah tema merah jambu, bulan yang konon penuh pernak-pernik cinta, penuh ungkapan rasa dan aroma romansa. Sedari dulu aku tidak pernah benar-benar peduli, kecuali ada satu-dua kotak coklat yang mampir bersama bunga segar atau juga yang imitasi. Itu juga nggak pernah aku nikmati sendiri he..he..he..kecuali (lagi) itu dark chocolate berbentuk segitiga kesukaanku. Saat mendapatkan tantangan ini, sebenarnya langsung terbayang kerangka tulisannya. Lalu kenapa ‘mandeg’? Pasalnya ya itu tadi mau ku hadiahkan untuk siapa tulisan ini? Perihal cinta dan kasih mama yang selalu dirangkainya melalui doa-doa disepanjang sajadah yang beliau gelar? Atau untuk papa? Lelaki cinta pertama putrinya ini? Atau...untukmu imam yang aku pilih mendampingi proses belajar sepanjang hayat ini dalam kelas bernama Pernikahan?
Akhirnya setelah meditasi cukup panjang (terlalu panjang kayaknya hi..hi..hi..) keputusan hati bulat jatuh padamu, iya kamu yang sampai saat ini masih sudi belajar di maha luasnya universitas kehidupan bersamaku (semoga kebaperan tak melanda kewarasanku hingga rampung tulisan ini..hehe). Pilihan ini didasarkan pertimbangan bahwa tulisan mama sudah pernah aku tulis sebelumnya, meski masih banyak yang ingin ku ceritakan. Mungkin satu saat nanti aku akan bercerita kembali tentangnya. Lalu, bagaimana cerita tentang papa? Hmm..agak nekat sih ini karena berbarengan dengan tulisan ini juga kenangan tentang beliau sedang berusaha aku ikat menjadi sejarah. Semoga! Dilihat saja nanti, meleset atau tidak.



Kisah Itu Bermula

Bercerita tentang kamu, rasanya tak akan pernah ada habisnya dan memang aku berharap tak akan pernah usai bercerita tentang kita. Kamu hanya tersenyum ketika aku mengutarakan niat keputusanku...Lalu kau berkelakar ”Apa nggak malah jadi novel tuh tulisanmu?atau jadi agenda cerbung”. Ih..sebel tapi ku pikir iya juga sebab suka susah berhenti dari papan seluncur ketika kata-kata sudah mulai terlontar saling berkelindan.

Semula kita hanya lah dua orang asing yang dipertemukan melalui banyak rangkaian peristiwa yang terajut jadi cerita. Kisah itu, kini berusaha selalu kita cari dan hidupkan lagi untuk pahami apakah benar ini takdir, jodoh atau nasib yang senantiasa bergerak berdasarkan doa, asa dan usaha kita ataupun sayap-sayap doa serta harapan orang-orang disekeliling kita. Pun saat petualangan kita mengarungi 11 tahun biduk pernikahan dengan semua roller coaster kehidupan yang ada didalamnya. Babak demi babak, canda, tawa, bahagia serta derai airmata dalam kisah kita mampu terkumpul menjadi tabungan kenangan kita.

Source : google

Aku tak pernah benar-benar mengingat kapan permulaan kita bertemu dan menjadi dekat. Atau rasa seperti apa yang pernah singgah di hati tentang kamu. Mengapa pula hatiku memilihmu? Tidak pernah ada kamus yang mampu membantuku mencari jawabannya. Sebab jujur harus selalu aku akui; tak ada jawaban pasti. Cinta? Love at first sight? Nope..!!. Semuanya mengalir begitu saja tanpa pertanda, harus kuakui ada sih riak-riak kecil harapan sebenarnya. Namun dengan mudah ku tepis atas nama 'kebebasan' ha..ha..ha... Kamu pasti ingat betul tentang makna kebebasan itu; pilihan kesibukanku di kampus dan berbagai prioritasku saat itu.

Ingatan terkuatku hingga kini tentang kamu adalah dinamika psikologisku ketika mengambil keputusan tentang memaknai hubungan kita. Kualifikasi nilaimu hanya 60% dari total kriteria imam impian. Aku memilihmu karena bejana setengah penuh yang kau punya, dan itulah kelebihanmu. Banyak yang datang dan pergi dengan total nilai nyaris sempurna, dan aku tak menampik bahwa beberapa diantaranya rasa kami tak bertepuk sebelah tangan. Tapi kamu pun menjadi saksi bahwa aku tak berdaya membawa perasaan itu lebih jauh lagi. Entahlah..ada hubungannya atau tidak, mungkin karena aku mahasiswi fakultas psikologi, dan  secara naluriah semakin tajam mengetahui potensi diriku seperti apa.  Hingga, membentukku agar belajar tidak gegabah mengambil pilihan. Memperkirakan dan mempertimbangkan dengan akal hati dan pikiran, siapakah yang memiliki frekuensi yang sama untuk mampu berjalan berdampingan bersamaku di masa depan. Setiap pilihan akan selalu ada resiko sebab dan akibat, oleh karena itu tidak boleh ada penyesalan di kemudian hari. Sebab saat sudah ketuk palu keputusan, pantang bagiku untuk menariknya lagi.

Kami berdua punya versi sendiri-sendiri terkait kapan kami mulai saling sapa. Masih jadi misteri. Kadang geli sendiri kalau napak tilas kenangan, serumit itu kah benang merah yang Tuhan sediakan untuk kami. Kamu bilang, melihatku pertama kali sepulang jamaah sholat dhuhur di masjid Abu Bakar As Shiddiq. Kamu melihatku bersama beberapa teman kostku dan anak pemilik kost sedang ramai memetik belimbing. Pohon belimbing milik bu kost ini berada didalam pagar namun karena rindang memang beberapa dahannya menjuntai keluar. Nah, cerita memalukan ini pun bermula. Katamu, sekembali dari masjid dan berganti pakaian kamu bersama beberapa anak kost depan yang sudah memasang dan mengunci target masing-masing menghampiri kami. Oh ya, kost kami sering dianggap kost pencari jodoh he..he..he..iya karena kost putri berhadapan langsung dengan kost putra. Sepertinya fakta pun meng-aamiin-kan kabar itu. Ada yang hanya bertahan hingga beberapa lama tapi banyak juga hingga akhirnya menyebar undangan sah menjadi keluarga. Balik ke cerita pohon belimbing tadi, aku dengar memang ada yang datang ke halaman depan kost. Mereka bertanya sedang apa ramai-ramai, dan entah apa lagi yang diobrolkan meski jelas percakapannya namun fokusku sedang tidak berada disana. Arggh...sebenarnya aku ingin sekali loncat dan segera lari dari situ. Loncat??Hi..hi..hi..iya loncat nggak salah baca kok..tadinya sih cuek aja nangkring di dahan pohon belimbing itu sambil terus mencari belimbing yang sudah tua dan sesekali menikmati langsung buahnya. Sensasi makan buah langsung diatas pohonnya itu.. luaaaar biasaa...hi..hi..hi...Belimbing yang sudah dipetik itu lalu kulempar ke teman yang sudah bersiap  dibawah. Yaa..gitu deh karena nggak ada yang berani memanjat dan aku memang suka, akhirnya naiklah ke pohon menemani anak ibu kost yang sudah lebih dulu memposisikan diri. “Tamu” tak terduga kami siang itu langsung menghampiri anak ibu kost dengan modus minta dibagi belimbing yang sudah dipetik. Anak ibu kost yang memang posisinya ada didahan yang lebih dekat ke jalan raya sedang aku memilih dahan sebelah dalam. Aku yang waktu itu masih belajar memantapkan niat tentang jilbab/kerudung, sebab memang awal semester satu itu baru mulai mengenakannya. Itu pun tidak pernah terpikir secepat itu aku akan belajar memakainya. Informasi dan pengetahuan tentang jilbab saat itu belum lah sebanyak sekarang ini. Kampusku juga belum menerapkan wajib busana islami bagi pasa mahasiswinya, hanya ketika masa orientasi kami diwajibkan memakainya. Setelah itu dikembalikan kepada keputusan masing-masing individu. 

Nah, aku menetapkan batas pagar kost sebagai rambu-rambu belajar konsisten mengenakan kerudungku. Jadi kalau masih di dalam area pagar kost dan tidak dalam kondisi menerima tamu atau ada tamu di teras kost maka kerudung itu tidak aku pakai. Celakanya, tamu tak terduga tadi menghampiri dalam kondisi yang membuatku ingin loncat jika mampu terbang sampai ke kamarku diujung lorong belakang bangunan kost yang berbentuk letter L. Gimana tidak panas dingin? Sudah nggak pakai kerudung, pake kaos lengan pendek dan celana ¾ plus nangkring sambil makan belimbing langsung diatas pohon. Entah lah antara aku lupa atau ingin melupakan aib itu yang aku ingat hanya sebelum aku ditanya (sebab sayup kudengar ada yang bertanya siapa yang ada diatas bersama anak ibu kost itu?). Segera aku turun setengah melompat kurasa dan segera pasang seribu kaki untuk lari. Aaaah..lega sekali dan hari berganti hari aku pun lupa apa yang terjadi hari itu. Bagimu hari itu adalah hari yang berkesan dan mengingatnya sebagai perjumpaan kita yang pertama. Lalu bagaimana dengan versiku? Memoriku merekam lokasi perjumpaan awal kita adalah di perpustakaan universitas. Salah satu tempat favorit di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah gedung perpustakaannya. Luar biasa nyaman dan paling bikin betah... setidaknya dari beberapa perpustakaan universitas lain yang pernah aku kunjungi di jaman itu. Apalagi dipertengahan tahun 2002 itu (please..jangan mulai berhitung berapa usia saya sekarang ya...hi..hi..hi), sudah mulai mempersiapkan seminar, tugas-tugas praktikum psikodiagnostik dan semua aktifitas itu butuh banyak suplemen referensi.

Hari itu aku berniat mencari referensi buku untuk bahas proposal seminarku. Berangkat ke kampus pagi dan langsung ke lokasi karena jika tidak salah aku tak ada kelas hari itu jadi memang alokasi waktuku sepenuhnya ada disana. Setelah menemukan buku referensi itu, aku menuju ke rak buku lain. Hari itu aku ingin meminjam buku dibagian sastra. Berkeliling lah aku mengelilingi rak-rak  itu, tadaaaa...ada satu buku yang menyita perhatianku. Mungkin terpengaruh dengan novel yang baru saja selesai aku baca ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Judul buku dirak itu langsung menyita perhatianku, kalau tidak salah ingat itu adalah buku baru yang ditulis Remy Sylado berjudul ‘Kerudung Merah Kirmizi’. Sama-sama ada kata kerudungnya, aku baca sekilas sinopsisnya. Bagus juga! Tapi entah kenapa aku jajarkan lagi ditempat semula dan beranjak berkeliling lagi. 


Tidak menemukan lagi judul buku yang cocok untuk “rekreasi”, aku pun kembali ke rak tadi. Du..du...du disana lah kisah dalam ingatan ini bermula...seseorang berdiri didepan rak dan mengambil buku itu. Mau tidak mau aku harus menyapanya, bertanya apakah buku itu akan ia pinjam? Dia jawab ya, kenapa? Aku jawab, tadi aku mau pinjam tapi belum jadi karena mau berkeliling dulu. Perbincangan berlanjut beberapa saat, aku tidak ingat apa saja inti pembicaraannya dan aku pun tidak tahu jika ternyata kamu sudah mengidentifikasiku sebagai tetangga kost yang suka panjat dan makan hasil petikannya langsung diatas pohon. Tanpa malu aku bertanya dimana kostmu, kamu jawab di Tuwak Wetan, Gonilan. Naifnya aku membalas, wah kebetulan kostku juga disana. Kamu dimana? Kamu sebut Kost Jaka Lelana. Aku sama sekali nggak pernah dengar eh atau memang nggak peduli sih tepatnya karena memang bukan hal begitu penting untuk diingat. Mungkin dalam pikirannya menahan geli saat aku tanyakan kost itu sebelah mana? Tapi kamu segera ambil alih mungkin ingin menyelamatkan aku dari kekonyolanku berikutnya, “Ya udah kamu dulu aja yang bawa bukunya nanti aku ke kostmu”. Entah lah waktu itu kamu tulus atau ada modus hanya kamu dan Tuhan yang tahu. Aku setuju dan kemudian menyebut  nama kostku. Berpisahlah hari itu, aku langsung menuju bagian administrasi peminjaman. Perjalanan pulang dijalan aku bertemu denganmu berjalan kaki, ku pelankan laju sepeda motor untuk menyapanya...suka tidak suka harus kulakukan karena dia sudah rela buku itu untukku lebih dulu. Kemudian sejak hari itu cerita – cerita lain mengikutinya, tak ada gejolak “rasa” lain terlintas selain aku nyaman memposisikanmu sebagai teman yang bisa diajak berdiskusi apa saja. Analisa sudut pandangmu yang unik, kadang jahil namun berbobot, ditambah wawasanmu cukup luas dibandingkan lawan bicara yang sering aku temui, karena itu semua kita bisa berlama-lama adu argumen saat sedang membahas sesuatu.   Termasuk ketika duduk di teras petang itu selepas maghrib, kita bedah buku karya Remi Sylado ‘Kerudung Merah Kirmizi’. Ingatkah kau kata-kata yang menari sepanjang diskusi? Mungkin saat itu sebenarnya aku sudah mulai menggali dan menaruh hati pada sudut pandang pribadimu; dirimu. Akankah engkau akan jadi lelaki itu? Penyempurna iman menuju keabadian tanpa ada sekat fana bernama waktu. Seperti penggalan sajak yang pernah kubaca, Yang Fana adalah Waktu – Kita Abadi. Sampai detik itu aku tak tahu dan belum ingin mencari tahu.

Yang Fana adalah Waktu; Kita abadi
Pic by Me

Lalu, bagaimana dengan bejana setengah penuh itu? Tunggu dulu....


*)Terpaksa bersambung ya saudara-saudara..jangan bosan cerita saya yang biasa saja ini. 
Salam sayang


#GebyarLiterasiMediaFebruari
#CintakuTakSebatasValentine
#RumbelLiterasiMediaIPS

Read More