Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

Menghidupkan Impian

Selasa, 09 Juni 2020

Libur telah usai saatnya memulai pembelajaran kembali di kelas Bunda Cekatan. Memasuki jurnal ketiga ini kami si kupu-kupu cantik diajak kembali mencermati peta pikiran yang telah dibuat masih jadi si Ulil yang akan memulai petualangannya.

Seringkali mendapat pertanyaan seperti berikut ini. Apa impian terbesarmu? Apa keinginanmu paling tinggi untuk diwujudkan selama hayat masih dikandung badan? Pertanyaan itu selalu tanpa aba-aba pasti muncul dalam diri, atau juga dari orang lain. Begitulah memang harusnua terjadi karena kebermaknaan diri merupakan salah satu ciri makhluk bumi paling 'seksi' bernama manusia.

Mengapa? Sebab hanya kita yang dititipkan akal untuk mengolah karsa. Bagaimana caranya? Carilah selalu the biggest why ketika akan sebelum memutuskan sesuatu.

Setidaknya itu yang seringkali aku coba lakukan. Bersyukur sejak lama meskipun belum jaman kenal istilah mind map sudah dikenalkan orang tua untuk menyadari sejak dini apa mau diri ini.

Mempertimbangkan segala sesuatu agar tiap keputusan selalu dibuat dengan sadar. Jika sudah seperti itu saat nanti di tengah jalan menemui aral tidak dengan serta merta menyerah dan berputus asa untuk mencari jalan keluar.

Bagi sebagian orang menarasikan impian itu tidak mudah. Apalagi menghidupkannya akan lebih butuh perjuangan lebih keras untuk mampu membayangkannya. Sesederhana apapun impian itu hidup akan selalu butuh tujuan. Semisal pilihannya hanya menyerahkan hidup pada ketidaksengajaan yang kemudian disebut keberuntungan. Kamu, aku, kita tetap butuh alasan untuk tetap menjejakkan kaki esok hari, bukan? Jika tidak aku takut kehidupan akan teramat membosankan karena hanya akan ada pengulangan. Baiklah boleh kok jika ada yang tidak setuju, kita harus merdeka sejak dalam pikiran bukan?

Ini pilihanku untuk terus mau menghidupkan impian. Sederhana saja tujuannya agar kelak saat masa ijin bernapas ini berakhir tak ada yang akan disesali.

Seperti jurnalku minggu ketiga ini, alhamdulillah setelah membaca ulang mind map semakin tinggi tingkat rasional diri untuk mewujudkannya (selain impian utama untuk bisa traveling kembali bersama sejoliku tentu saja!). Gambaran peta pikiran yang aku buat diawal bisa dibaca di sini.

First thing first! Sewaktu membuat mind map sebenarnya urutan dan urusan paling utama yang ingin diberesi adalah kemampuan Public Speaking. Namun, setelah melalui proses bercakap-cakap dengan diri sendiri tampaknya ranah konseling harus ditata kembali menjadi lebih kuat.

Sembari mengejar kemampuan di bidang Public Speaking sebagai penunjang aktivitasku sebagai seorang praktisi dan atau konselor pendidikan, anak dan remaja. Aku memutuskan untuk fokus belajar teknik konseling REBT dan ditambah nanti dengan Reality Therapy.

Beberapa percakapan sudah kami lakukan diprogram mentoring ini, sempat aku sampaikan di awal kepada beliau. Bahwa aku ingin menajamkan alias menaikkan kemampuan di bidang konseling kepada anak dan remaja khususnya konseling bagi mereka yang terdampak bullying ataupun kekerasan.


Gambaran di atas menunjukkan prioritas kecakapan yang dalam waktu dekat ini ingin diwujudkan, sedangkan penjabaran lebih detailnya ada pada ilustrasi gambar di bawah ini.



Sekelumit materi yang sudah kami diskusikan, yaitu tentang perbedaan CBT (Cognitive Behavior Therapy) dan REBT (Rational Emotive Behaby Therapy).

Perbedaannya adalah CBT menempatkan ranah emosi pada urutan ke 3 setelah kognitif dan perilaku. Jika pada teknik psikoterapi REBT, emosi berada di urutan ke 2 jadi alur dinamika psikologisnya beda dengan teknik CBT.

Jika dikaitkan lagi dengan praktek hidup berkesadaran, maka 'Mindfulness' ini lebih dominan kognitif pada masa kini pada prakteknya akan condong ke reality therapy, sedikit berbeda arah dengan CBT.

Reality therapy merupakan buatan William Glasser, dan teknik konseling ini lebih fit dan nyaman digunakan untuk klien remaja

Review singkat perbedaan alur konseling ketiganya :

CBT
- A (active event)
- B (believe)
- C (consequence)

REBT
- A (adversity)
- B (irational believe)
- C (emotional & behavior consequence)
- D (disputation)
- E ( effect of disputation)

Reality Therapy
- W (want)
- D (do)
- E (evaluation)
- P (planning)


Begitu lah jurnal impian dan rencana menghidupkan di minggu ketiga ini. Semoga Allah memberikan kemampuan diri ini untuk mau tumbuh dan belajar agar terus bisa berbagi kebermanfaatan.

Read More

Women Empowerment for Social Sustainability

Senin, 17 Februari 2020


Sengaja tema habituasi minggu ini saya pakai mentah-mentah sebagai judul. Perempuan memang didesain Maha Pencipta begitu luar biasa. Makhluk serba bisa. Multitalenta. Multitasking. Tidak berlebihan ungkapan ini, kemampuan otaknya berpikir dan potensial kekuatan yang tersimpan dalam kelembutan seorang perempuan mampu memberi energi positif yang kadang tak terbayangkan. Begitu juga sebaliknya.

Minggu ini ada tiga hal yang harus kami renungkan dan ikat maknanya. 

1. Apa yang sudah dan akan saya lakukan untuk mengubah pola kehidupan yang terkait social sustainability

2. Mengidentifikasi perilaku sosial masyarakat di daerah sekitar terkait perilaku social sustainability

3. Apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik?

Terkait dengan perilaku social sustainability atau pola hidup yang berkelanjutan alhamdulillah sudah sejak lama saya lakukan meski masih ditingkatkan minimal. Mama adalah guru pertama saya untuk bijak mengelola barang atau sampah utamanya plastik. Jauh sebelum ada himbauan dan jargon 'Go Green'.

Beliau memberikan contoh bagaimana menggunakan plastik yang masih bersih sekiranya masih bisa dipakai lagi dikumpulkan disuatu tempat untuk kami gunakan lagi. Tidak mudah membuang ke tong sampah. Begitu juga dengan dus, dirapikan di satu wadah untuk dipakai lagi satu saat kami butuh.

Penggunaan air juga begitu, mama nggak lelah mengingatkan jika air bekas wudhu baiknya ditampung. Hasil tampungan bisa dipakai untuk menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Jadi tidak banyak yang mubazir. Belajar menghargai air dan mengingat bagaimana perjuangan orang-orang yang kesulitan mendapatkannya. Sebagai anak sulung pengalaman tentang kesulitan air jadi sangat spesial, sebab saya pernah ikut merasakan kenikmatan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari. Saya semakin bisa menghayati apa yang beliau ajarkan itu, sehingga ketika sudah menikah pola ini masih terus saya lakukan.

Wadah bekas cat tembok untuk tempat penampungan air wudhu

Urusan memasak saya juga mendapatkan warisan nasihat dari beliau. Jika memasak sesuatu pancinya ditutup agar lebih cepat matang supaya hemat gas dan waktu juga. Lalu, untuk memasak yang sekiranya membutuhkan waktu lama beliau juga memberi saran untuk menggunakan pressure cooker

Ah ya setiap kali pergi belanja atau kemana saja saya pergi saya berusaha membawa tas belanja sendiri. Setiap ransel atau tas apapun yang akan saya bawa pergi biasanya sudah tersedia di dalamnya tas belanja besar dan kecil. Awalnya saya dianggap aneh dan sok karena menolak plastik dan lebih pilih pakai wadah sendiri tapi menurut saya pribadi ini keren jadi buat apa pusing. Keren bukan karena sol jagoan tapi merasa beruntung sudah mendapatkan ilmu bagaimana dampak jika kita tidak bijak pada limbah kita sendiri. Toh bakal akan berpulang ke kita lagi. Rantai makanan dan rantai kehidupan itu berlaku kekal. Misal plastik dibuang ke sungai hanyut terbawa sampai laut, plastik termakan ikan terus ikan terjaring nelayan, dan dikonsumsi manusia. Efeknya bisa jadi penyakit macam-macam yang membahayakan manusia. Kalau sudah begitu mau menunjuk siapa lagi yang paling bersalah?

Lampu di rumah juga sudah menggunakan LED semua, selain cahaya jauh lebih nyaman di mata. Tagihan listrik bulanannya pun aman. Lampu hanya dinyalakan di tempat utama dan yang ada aktifitas, sisanya saya matikan.

Berkaitan dengan lingkungan yang paling jadi perhatian saya adalah pengelolaan sampah. Lalu, empat tahun lalu saya berusaha untuk menyampaikan kepada Ketua RT di komplek perumahan saya waktu itu. Ide itu disambut dan disambungkan kepada warga. Alhamdulillah diupayakan untuk dicoba. Awalnya berupa tabungan yang setahun sekali ditukarkan sembako atau alat rumah tangga senilai tabungan rosok (sampah) tersebut. Meski ya memang tidak semua memiliki antusiasme yang sama. Berjalannya waktu ada beberapa perubahan yang disepakati. Usulan untuk semua rosok dikumpulkan bukan lagi atas nama pribadi, melainkan tabungan donasi rosok. Peruntukannya waktu itu untuk menambahkan biaya piknik RT per tiga tahunan atau ketika pergantian Ketua RT baru. Saat ini donasi tersebut masih berlanjut. Uang dikelola untuk dimasukkan kas dan disalurkan kepada warga RT yang membutuhkan tanpa bunga. Atau jika RT sedang membutuhkan barang inventaris maka diambilkan dari dana tersebut. Misal paling baru adalah untuk tambahan dana pembelian dan pemasangan CCTV di komplek RT. Kami bekerjasama dengan tukang rosok langganan yang datang untuk memilah dan menimbang sampah yang sudah dikumpulkan itu. Mungkin harapannya di masa yang akan datang bisa bekerjasama dengan lembaga tertentu untuk mengedukasi tentang jenis-jenis sampah yang bisa didaur ulang. Bila saja pemahaman warga tentang sampah terbuka mengenai keuntungan bijak mengelola sampah dan kerugiannya. Saya yakin mungkin akan tumbuh skema kesadaran baru yang lebih peduli pada lingkungan (bumi).

Penimbangan Tabungan Sampah_Dokpri 2017

Langkah terbaru yang saya upayakan adalah usulan mengelola jelantah. Beberapa tahun lalu saya pernah mengetahui bahwa minyak goreng bekas dapat dijadikan bio diesel. Tapi waktu itu kalau tidak salah baru ada di Yogyakarta. Akhirnya saya hanya masukkan ke botol atau plastik untuk dibuang ke tempat sampah dan diangkut ke TPA (tentu dengan perasaan bersalah). Sambil berusaha mencari informasi kepada teman-teman. Alhamdulillah akhir tahun saya mendapatkan informasinya, kemudian saya beranikan diri kembali mengusungnya ke forum Dawis. Ya, saya coba ke lingkup yang lebih kecil dahulu jika sudah selesai memberikan bukti, baru melangkah ke lingkaran yang lebih besar.

Tabungan Jelantah

Sekali lagi dengan narasi yang sederhana alhamdulillah usulan saya diterima dan mulai bergerak sejak akhir November tahun lalu. Meski sekali lagi tidak semua dalam frekuensi antusias yang sama tapi yang terpenting sebagian besar telah mengambil peran. Konsepnya hampir sama kerelaan, jadi jelantah ini gerakan donasi untuk jadi tabungan yang bisa untuk menambahkan tabungan yang dikelola untuk dijadikan simpan pinjam. Sejauh ini meski tertatih karena dari 15 KK yang skala memasaknya adalah rumah tangga kecil. Maka pengumpulannya pun tidak secepat jika masak partai besar tiap hari. Kami tetap bersyukur sebab kini sudah ada terkumpul hampir satu jerigen dengan volume isi kurang lebih 18 liter. Jika sudah penuh pengepul yang telah bekerjasama dengan kami akan datang untuk mengambilnya.

Masih banyak sebenarnya impian terkait isu sampah yang ingin disampaikan kepada warga sebagai bentuk edukasi. Namun, membaca situasi dan kebutuhan warga tentu perlahan saya akan tetap mengupayakan edukasi kepada tetangga sekitar untuk lebih bijak mengelola sampah. Minimal memisahkannya yang organik dan anorganik. Bahwa sampah kita tidak hanya selesai ketika sudah dibawa ke TPA. Jika mampu ingin mengajak untuk mengolahnya seperti membuat ecobrick atau jelantah nanti dibuat jadi sabun atau barang lain yang  bernilai ekonomis yang bisa meningkatkan hajat hidup warga terutama yang membutuhkan. 

Terpenting lagi kesadaran bahwa ada kehidupan lain yang di semesta ini yang perlu diperhatikan hajat hidupnya, sebab manusia hidup di bumi ini juga terus tergantung pada alam. Saya pribadi percaya alam ini bukan warisan yang kemudian diturunkan kepada anak cucu kita. Jika warisan tentu akan terus berkurang keutuhan dan nilainya. 
Sesungguhnya alam ini merupakan pinjaman dari anak cucu kita. Hak mereka yang harus dijaga dan dikembalikan dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Semoga perilaku menjaga keseimbangan dan hidup kesinambungan dengan alam ini yang akan diwariskan kepada anak keturunan kita. 

Aamiin Yaa Rabb'allamiin





#materi3 
#empathy 
#charity 
#filantropi 
#sustainability 
#kelashabituasisejutacinta 
#ibuprofesional 
Read More

Di antara 2 Hati : Charity or Philanthropy ?

Minggu, 09 Februari 2020


Hai...hai, 

Assalamu'alaikum, BeiBuns! 

Jangan tertipu judul ya? Belum mau nulis cerpen apalagi novel meski tetap target pribadi tahun ini target buku solo bisa terealisasi. Ayo dong doa dan amin-nya nggak boleh malu, boleh lah yang seru! He he he
Tulisan kali ini terkait tugas materi kedua Sejuta Cinta Ibu Profesional. Kalau di tulisan tugas materi pertama sempat aku ceritakan kalau ada perasaan de ja vu. Nah, dimateri kedua pun aku merasa benang merah itu semakin tebal. Apa yang menjadi kecenderungan pikiran dan pemikiranku selama ini. Ada banyak pertemuan "jodoh" pada materi kedua ini. 

Sejak menikah aku dan suami memang sering terlibat obrolan tentang bagaimana caranya agar sedekah kita produktif. Berkelanjutan. Tidak hanya sekedar membantu tapi juga membuat mereka yang menerima pun terangkat harkat dan martabatnya. Tidak hanya menjadi penerima saja. Banyak yang tidak setuju dengan pemikiran ini. Kalau sedekah atau infaq, ya kalau mau beri ya berikan saja. Nggak perlu diingat atau dihitung. Tapi kami tidak bisa berpikir begitu. Kami tidak ingin menjadi penyebab si penerima terjebak zona nyaman terus berperan sebagai si "tangan di bawah". Atau lebih buruknya malah jadi malas untuk memaksimalkan potensi yang bisa dikembangkannya. 

Belakangan baru mengerti apa yang kami maksudkan itu disebut gerakan philanthropy. Sedangkan yang bersifat insidental dikenal dengan charity. Waktu terus berlalu hingga akhirnya aku menemukan sebuah lembaga yang membuatku semakin kenal semakin jatuh cinta.

APA BEDA CHARITY DAN PHILANTHROPY?

CHARITY

Berasal dari kata Perancis kuno “Chrite” yang artinya menyediakan keperluan bagi yang membutuhkan, kemurahan hati dan memberi. Praktik charity melibatkan pemberian uang, barang, atau waktu untuk orang yang tidak beruntung, baik secara langsung atau melalui lembaga.


Charity cenderung emosional, respon langsung yang terutama fokus pada penyelamatan dan pertolongan.


Sifat Charity adalah direct giving dan hanya untuk mengatasi symptom atau
gejala.


FILANTROPI (PHILANTHROPY)

Berasal dari bahasa Yunani yang dapat diterjemahkan sebagai “Love of a mankind”, artinya  cinta untuk sesama manusia.

Filantropi kemudian dimaknai sebagai upaya untuk berbagi menyalurkan sumber daya dan berderma secara terorganisir untuk kepentingan strategis jangka panjang dan berkelanjutan.

Hal yang menarik dari kegiatan filantropi beberapa tahun terakhir ialah sisi pemberdayagunaannya yang kian meluas. Misalnya, untuk filantropi keagamaan kini tidak hanya terbatas pada pembangunan masjid, bencana, atau pun membantu anak yatim, tetapi sudah masuk ke ranah yang lebih strategis. Misalnya, untuk pemberdayaan ekonomi, perempuan, antikorupsi, advokasi buruh migran, pemberdayaan buruh, dan lain sebagainya.

CHARITY VS FILANTROPI

• Perbedaan utama adalah bahwa Charity bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dari masalah sosial tertentu, sedangkan Filantropi mencoba untuk mengatasi sumber masalah dari akarnya.


• Contoh kegiatan charity memberikan obat pereda rasa sakit kepada pasien penyakit malaria, sedangkan dalam kegiatan philanthropy kita memberi pengetahuan kepada masyarakat yang terkena dampak atau mendukung penelitian medis dalam menemukan obat untuk penyakit malaria.


Itu lah perbedaan antara kegiatan charity dan filantropi.

Tahukah BeiBuns? Berdasarkan
CAF (Charity Aid Foundation) tahun 2018 World Giving Index, Indonesia menjadi negara pertama dari 146 negara yang disurvey sebagai negara paling dermawan di dunia. Luar biasa ya, Masya Allah. Tabarakallah. Nih bisa dilihat di sini video tayangannya.


Ukuran kedermawanan tersebut  berupa:

✓ Donasi Uang, 
✓ Partisipasi sebagai Relawan dan
✓ Kesediaan Membantu Orang Asing


Rasanya sangat disayangkan kalau potensi yang sangat luar biasa mengenai tingkat kedermawanan orang Indonesia ini tidak dikelola dengan profesional. Maka memang sangat diperlukan lembaga, yayasan, ataupun organisasi kemanusiaan yang mampu merancang lebih banyak program yang mampu mengentaskan segala macam kesenjangan ekonomi, kesehatan, transportasi, pangan dan lain sebagainya.

Salah satu yang sudah sejak lama jadi andalanku dan semakin lama aku juga suami jatuh hati. Organisasi kemanusiaan atau lembaga sosial ini bernama Aksi Cepat Tanggap (ACT). Entah kenapa membaca materi tentang filantropi dan saat tugas pengamatan ini diumumkan, langsung saja refleks dalam hati mengarah pada organisasi ini.

Terbayang kebahagiaan bisa berkunjung dan bersilaturahmi ke Branch Office ACT Semarang. Tentu saja jika cukup waktu ingin menyambangi kantor cabang Semarang yang terletak di jalan Dr. Wahidin No. 213, RT.001/RW.01, Kaliwiru, Kec. Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah 50253. Namun, sayang karena keterbatasan waktu akhirnya hanya wawancara WhatsApp dengan bapak Giyanto selaku Branch Manajer ACT Jawa Tengah. 

Sekali lagi skenario Allah memang luar biasa, karena ketika diskusi dengan suami eh malah bilang punya kontak beliau dan salah satu humas ACT. Syukurku bertambah karena suami tercinta mau menjadi jembatan untuk menyambung lidah pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan. Wohoohohooo...senang sekali dong pasalnya aku kenal lembaga ini lumayan lama sekitar kalau tidak salah tahun 2014 akhir dan memang penasaran sekaligus kagum dengan pergerakannya yang semakin meningkat pesat kemanfaatannya.  

Berulangkali bahkan tebersit ingin jadi relawannya tapi tentu banyak sekali pertimbangannya salah satunya pasti ijin dari MasBo. Ya, sudah akhirnya memutuskan urun tangan sejak tahun 2015 hingga sekarang dengan sedikit berkontribusi melalui beberapa program yang ada di ACT.

Bapak Giyanto menjelaskan secara singkat bahwa ACT merupakan lembaga philanthropy yang bersifat makro, berkelanjutan, dan terukur dengan baik.

Sebuah lembaga nirlaba yang lahir karena kondisi kebencanaan hebat yang terjadi pada tahun 2004 di Aceh. Lembaga kemanusiaan ini awalnya berkonsentrasi di dunia bencana dengan berbagai program mitigasi, emergency, recovery. ACT melahirkan Disaster Emergency Respon  Manajemen (DERM) dan Sekolah Mitigasi Disaster Manajemen Institut of Indonesia (DMII).

Kini ACT telah bertransformasi menjadi sebuah lembaga yang berkonsentrasi untuk  dapat menyelesaikan isu kemiskinan dengan berbagai program pemberdayaan.

Beliau juga menyampaikan harapan terdalam dan terjauh ACT adalah menjadi lembaga kemanusiaan global profesional berbasis kedemawanan dan kerelawanan untuk menjadikan dunia lebih baik. ACT ingin menjadi lembaga global yang berpengaruh di dunia sehingga mengharumkan bangsa indonesia. Hal ini sesuai visi Aksi Cepat Tanggap tahun 2012.

Penting nih buat BeiBuns tahu kalau Aksi Cepat Tanggap lahir pada momentum yang sarat dengan pesan motivasi yaitu 21 April 2005 (12 Rabiul Awal 1426). Tepat di peringatan hari lahir RA. Kartini dan juga hari lahir Rasullullah Muhammad. Tentu ini bukan hanya kebetulan belaka tapi atas perkenan-Nya pula.

Tentu gerakan kebaikan ini tidam terlepas dari peran para donatur atau dermawan sebagai salah satu penggerak kegiatan kemanusiaan yang dilakukan ACT. Galang donasi berasal dari kemitraan, publik, online, kotak donasi, perusahaan, dan juga event.

Teknis penggalangannya dengan menyebar pamlet, poster digital, spanduk, info di berbagai market. Atau bisa langsung lewat e-banking, mobil banking, dan landing page. Donatur terbesar yang mampu terjaring berasal dari korporate dan event.



Nah, buat yang tertarik dan memenuhi kualifikasi menjadi relawan. Beliau menjelaskan bahwa siapapun bisa menjadi relawan dimanapun dan kapanpun. Namun untuk penerjunan tentu sesuai dengan kemampuan yang terus di upgrade.

Sistem rekruitment relawan didapat melalui berbagai cara antara lain seminar, sosial media, dan direct personal.


Luar biasa ya? Sebuah gerakan kemanusiaan yang bukan tidak mungkin mampu menggerakkan peradaban yang penuh cinta. Mengikis perilaku manusia yang kini semakin berkurang kepeduliannya terhadap sekitarnya.

Mengutip tulisan presiden ACT Bapak Ahyudin di buletin 'Benefit' vol.1 bulan April 2105. Gelombang kekuatan kemanusiaan itu akan menjadi sebuah gaya hidup, menjadi nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan pada akhirnya akan membentuk sebuah peradaban bernama; "Peradaban Humanis" (kemanusiaan). Inilah peradaban dimana kepedulian atau gairah ingin menolong sesama manusia (humanity) mewujud ke dalam bentuk kedermawanan (philanthropy) dan kerelawanan (volunteerism) untuk berbuat. Siklus tersebut merupakan jawaban yang indah dari segala sumber permasalahan yang bermula dari ketidakpedulian.

Produk ACT semakin tahun semakin nyata kiprahnya dalam masyarakat dalam negeri dan juga luar negeri. Aku sendiri saat bergabung dan berkenalan dengan lembaga ini karena program global qurban. Program ini juga semakin mengembangkan sayap gerakannya dengan memberdayakan masyarakat untuk menjadi peternak atau disebut dengan Lumbung Ternak Masyarakat (LTM). Lalu, ada program tabungan qurban, qurban progresif, dan amazing qurban.

Berikut ada beberapa gambar yang bisa saya bagi bersumber dari katalog ACT tahun 2019. Selengkapnya bisa dilihat di sini atau jika ingin info lebih lengkap silahkan kunjungi situs resmi ACT.

















Semoga makin mantap pilihan hatinya, mau pilih charity atau philanthropy semua berpulang pada kita.  Manakah yang paling berdampak membuat lebih banyak orang bahagia? Terpenting jangan berhenti berbuat kebaikan dan terus menginspirasi.

Salam baik, BeiBuns.


Sumber Referensi :

Materi#2 Habituasi Sejuta Cinta Ibu Profesional


#materi2 
#empati
#charity
#filantropi
#HabituasiSejutaCinta 
#SejutaCinta
#IbuProfesional
Read More

Ini 3 Kebaikan Pengikat Makna ala Dee Irum. Let's, Pay It Forward!

Minggu, 02 Februari 2020


Senyum dan merasa De Ja Vu. Yap! Itu reaksi saya pertama kali membaca tugas perdana dari kelas habituasi sejuta cinta Ibu Profesional. Tentu kilasan balik rasa dan ingatan yang baik yang kembali. Ada rasa hangat yang misterius sekaligus perasaan tak percaya. Bukan mendramatisir tapi ya memang begitu adanya. Sampai akhirnya iseng kirim pesan ke salah satu grup WhatsApp yang memang berisi para sahabat. Saya cuma mau bilang jika saya merasa 'De Ja Vu' dengan tugas keranjangnya Sejuta Cinta.

Kenapa merasa begitu? Mau tahu? Bener? Oke...oke saya akan coba ceritakan singkat ya. Waktu itu tahun 2011 sewaktu masih menjadi konselor sekolah alias guru bimbingan konseling (BK) saya pernah memberikan tugas yang kurang lebih sama seperti yang sekarang ini saya kerjakan. Tahun itu adalah tahun pertama saya berkesempatan menjalani apa yang menjadi cita-cita saya menjadi Guru BK  yang berlatar pendidikan Psikologi bagi anak sekolah menengah alias remaja. Berbagai idealisme dan impian ada di benak saya di tahun-tahun itu. Menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak, menciptakan ruang ekspresi dengan memetakan minat dan bakat mereka, menjadi 'tempat sampah' yang nyaman bagi mereka yang sedang berada di pusaran pencarian jatidiri dan seterusnya. Meski...yah..nggak semua orang bisa memahami pemikiran "aneh" itu. Ah, jadi rindu.

Saat itu menonton film merupakan media pembelajaran alternatif yang saya gunakan untuk menyampaikan materi. Film psikologi utamanya sering saya gunakan untuk mentransfer ilmu tentang isi sosial, kepekaan dan sekaligus pembentukan karakter. Biasanya setelah menonton akan ada diskusi kelompok untuk membahas pesan moral apa saja atau bermain peran mengambil sebuah fragmen penting yang menurut mereka menarik.


Film 'Pay It Forward' (2000) adalah salah satu film yang kami tonton, karena keterbatasan waktu tidak bisa kami selesaikan di kelas. Oleh karena itu saya meminta anak-anak untuk menyelesaikan di rumah bersama orang tua mereka. Pertemuan berikutnya baru kami diskusikan dan di akhir pembahasan saya memberikan tugas untuk membuat proyek sosial. Bisa dilakukan sendiri atau berkelompok. Waktunya selama satu semester sebagai syarat pertimbangan nilai perilaku. Pertemuan yang lain masih terkait dengan proyek tersebut, saya membagikan video dari YouTube tentang Live Vest Inside. Sebagai penguat motivasi mereka untuk berbuat sesuatu yang bermakna di sekitarnya. Unbelieveable! Ternyata anak-anak begitu antusias mengerjakan itu semua. Proposal proyek sosial mereka begitu luar biasa mencengangkan buat saya. Maa syaa-Allah!


Nah, terkait tugas pertama untuk mengantarkan tiga kebaikan ini. Saya sebenarnya malu mau menuliskannya takut mengurangi rasa yang pernah ada he he he. Tapi meskipun "receh" jika tak ditulis mana lah bisa menginspirasi orang lain. Saya jadi ingat perkataan saya ke anak-anak ideologis saya waktu itu, "Nggak perlu jadi Superhero untuk bisa mengubah dunia. Cukup dari dirimu sendiri dengan versi yang terbaik dan berdampak lah dengan manfaat yang terus dilipatgandakan!". Kata-kata itu seperti menasihati diri saya sendiri. Sudah sampai mana?



Minggu ini hal baik pertama yang ingin saya bagi adalah ketika ada seorang ibu penjual kolang-kaling keliling datang ke rumah untuk menawarkan dagangannya itu kepada saya. Gula aren dan tentu saja kolang-kaling. Padahal saat itu keuangan kami benar-benar sedang kritis, mulut sudah ancang-ancang menolak. Tapi demi melihat peluh di dahinya yang ia usap berulang kali rasanya kok nggak tega. Saya lihat sekitar rumah pagi itu, padahal ada beberapa rumah tetangga yang pagarnya terbuka. Tapi entah mengapa beliau memilih belok ke rumah saya. Saya dan suami yang hendak berangkat ke kantor pagi itu saling berpandangan. Paham sekali saya dengan tatapannya. Akhirnya saya pun mengatakan iya bersedia untuk membeli kolang-kaling tiga bungkus dan gula aren satu kilo. Mata beliau begitu berbinar. Saya tersenyum, padahal masih belum tahu entah berapa uang di dompet yang tersisa kala itu. Masuk ke rumah saya berharap semoga cukup dan...alhamdulillah semuanya pas! Ketika saya mengambil uang, si ibu berucap meminta air minum karena ia haus sekali. Deg! Sekali lagi saya merasa bahagia karena beliau tidak segan memintanya kepada saya. Tuhan begitu mudahkan saya berbuat kebaikan dengan cara sederhana. Saya ambil Tumblr pemberian salah satu kolega suami. Pikir saya sekalian untuk mengurangi beban lemari saya, sebab jarang juga saya pakai Tumblr tersebut. Tak disangka si Ibu begitu bahagia beliau menghujani saya dengan kata terima kasih. Melihat senyum beliau saya merasa sangat ringan dan bahagia.
Kedua, kebaikan yang saya lakukan adalah program pribadi saya untuk tiap hari Jumat membuka semacam market day di status media sosial saya. Jadi, bagi teman-teman yang memiliki jualan barang dan jasa bisa mengirimkan gambar dalam kolase serta caption yang menarik untuk saya pajang di status media sosial saya. Harapannya ada dari kontak saya yang berjodoh untuk saling bertransaksi atau sekedar silaturahmi terlebih dahulu. Selama ini masih terus membeku hanya menjadi wacana tapi kali ini berhasil terealisasi untuk pertama kali.
Ketiga, hari ini kami bersilaturahmi ke rumah teman yang ternyata sejak pertemuan terakhir kami suaminya sering jatuh sakit. Puji syukur kehadirat Allah Ta'alla waktu saya dan suami datang suami beliau begitu antusias hingga lupa jika beliau masih minum obat. Siang menjelang sore itu hujan cukup deras dan beliau nekat pulang menerobos hujan dari tempat kerja ke rumahnya agar bisa menemui kami. Kata beliau semua rasa sakitnya hilang saat itu, karena bertemu 'sedulur' lebih mahal harganya. Saya, suami dan sepasang suami istri ini saling melempar senyuman mungkin dada mereka pun terasa hangat seperti yang kami rasakan. Kami terus bersenda gurau sambil menikmati mie ayam porsi jumbo yang sore itu terasa nikmat sekali.
Kebaikan dan kebahagiaan memang harus ditularkan. Sungguh bukan kebahagiaan jika kita rasakan sendirian. Satu kebaikan yang kita lakukan dengan suka cita dam sepenuh hati akan terus berkembang dan bertambah satu persatu. Putik demi putik untuk mendapati sari pati yang manisnya akan terus bisa disesap terus sampai nanti.

Itu lah makna yang terlanjur terikat erat di dalam hati, dan enggan sekali membiarkannya pergi. Semoga saja selalu dimampukan untuk mendekati dan mendekapnya lagi...dan lagi.


Sumber Gambar : Google

#SCIP
#Habituasi
Read More

Aliran Rasa 'Dee Irum' di Tahap Telur-telur Bunda Cekatan

Minggu, 19 Januari 2020

Jurnal pertama hingga minggu keempat kali ini sungguh membuatku harus meluangkan waktu sejenak untuk mengosongkan segala keriuhan dalam otak. Perasaan yang sedang campur aduk membuat benar-benar butuh waktu jeda untuk berkontemplasi. Asal buat bisa saja, sambil bicara "Ah, dijalankan dulu kita lihat saja nanti!". Bisa...sangat bisa jika memang ingin. Tapi rasanya sebagai pribadi yang sedang belajar untuk lebih berkesadaran dalam berpikir dan bertindak.

Kalau boleh saya bilang tahun 2020 ini memang banyak ruang dalam diri dan juga keluarga kecil ini yang perlu dirapikan kembali agar semua lebih berarti. Tidak sekedar numpang permisi. "Di-Do Mindful Life Goals  Project" begitu kalau saya boleh menyebutkannya. Maafkan gaya banget sok ng-Inggris hehehe...

Pertama yang saya lakukan memang sedikit berkonsentrasi dan berkontemplasi untuk memastikan apa yang saya tulis adalah apa yang betul-betul menjadi proses kebahagiaan saya. Melihat mindmapping yang telah saya buat di penghujung tahun sebelumnya. Melihat pencapaian yang ada, apa yang masih kurang, lalu mengevaluasinya bersama pasangan. Apa yang jadi target pribadi beliau, target hidup saya sendiri dan kemudian meramunya menjadi "Rencana Kita". Kegiatan seperti ini memang sudah jadi ritual tahunan, supaya gerbong kami selalu ada kemajuan meskipun sedikit.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Ta'alla apa yang jadi impian saya di tahun ini seperti menemukan "pasangannya". Teman seperjalanan yang akan menemani proses saya untuk menemukan inti kebahagiaan. Ilmu-ilmu yang ingin saya gali lebih dalam lagi, agar lebih mampu bersinergi.

Saatnya kini telur-telur menetas mulai bergerak bermetamorfosa menjadi ulat yang siap menggeliatkan tarian manfaat. Berharap selamat hingga babak kehidupan baru selanjutnya. Semangat!

#bundacekatan
#kelastelurtelur
#institutibuprofesional
#aliranrasatahaptelurtelur
Read More

Belajar Merdeka Berproses dengan Bahagia

Selasa, 07 Januari 2020

Sebelum ke topik bahasan di jurnal pekan ketiga kali ini, ada pertanyaan klasik yang selalu entah kenapa seperti begitu pelik dijawab. Tanda tanya tentang apa sih sebenarnya definisi bahagia?

Sesungguhnya pertanyaan ini selalu ada terdengar dan membuat saya sering menanyakan pada diri sendiri. Mengapa orang-orang begitu ramai mengejarnya seolah bahagia itu merupakan jalanan penuh aral yang sulit sekali diraih? Lalu, bahagia itu milik siapa? Dimanakah alamatnya jika ingin menemuinya? Sebab agar tercapai apa yang kita inginkan harus jelas dulu definisinya. Artinya untuk tahu kondisi kebahagiaan kita ya harus tahu dulu apa yang akan kita tuju.

Ibarat kita ingin pergu ke suatu tempat, pasti harus mencari tahu terlebih dahulu alamat tujuan baru kemudian bergerak ke lokasi.

Ada yang mengartikan bahwa bahagia adalah ketika kita sukses meraih apa yang ingin diraih. Ekonominya mapan, karirnya bagus, pendidikannya terus berjenjang semakin tinggi, bisa bolak-balik dolan sekaligus shopping ke luar negeri dan seterusnya. Padahal masing-masing orang punya takaran sukses yang berbeda, tidak bisa disamakan.

Bahagia adalah ketika kita mampu membawa diri ini selalu mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Bahagia itu bukan sekedar tujuan tapi proses. Keadaan saat kita berupaya berjuang meraih sesuatu dan sebelumnya kita memiliki tujuan yang jelas. Menyadari sepenuhnya (mindfull) bahwa kita melakukan hal yang sangat berharga bagi kita. Tidak hanya sekedar untuk mengisi waktu luang atau bersenang-senang, apalagi ingin dipandang telah berhasil menyenangkan orang lain. No...no...no...

Oleh karena itu ketika memutuskan untuk belajar dengan merdeka, maka saya harus paham betul alur proses kebahagiaan yang ingin dilalui. Berulangkali sejak dari telur hijau, merah dan saat ini orange saya terus menanyakan kembali pada diri saya. Mencoba memvisualisasikan dalam benak saya apa saja yang membuat hati saya berbunga-bunga dan terus ingin belajar menekuninya.

Alhasil alhamdulillah jawaban itu masih tetap hampir senada dengan apa yang saya tuliskan di jurnal telur merah di bagian terampil yang penting dan mendesak. Meski semakin saya baca kembali, ada banyak ilmu yang sebenarnya saya ingin gali untuk dipelajari.


1. Public Speaking

Salah satu tantangan terbesar saya untuk mengolah kata dan suara lebih baik lagi. Mengapa karena dengan ilmu ini saya merasa tidak hanya menjadikan suara saya lebih enak dan nyaman didengar oleh orang lain. Ada harapan lebih besar lagi dari diri saya bagaimana kata-kata dan suara ini mampu menggerakkan orang lain untuk turut berbuat. Nggak harus sehebat Bung Karno saat orasi dalam siaran radio yang begitu luar biasa mampu menggerakkan semangat pemuda seantero negeri. Bersyukur sekali meski suara dan kata-kata yang saya sampaikan hanya mampu menggetarkan satu hati untuk mengawali menebar inspirasi untuk berbagi kemanfaatan bagi semesta dan sesamanya.

2. Ilmu Psikologi khususnya untuk Trauma Healing (Anak dan Remaja)

Keinginan untuk belajar tentang ilmu psikologi yang khusus mengelola trauma healing semakin besar dari tahun ke tahun. Lantaran jumlah korban yang mengalami gangguan jiwa tidak semakin kecil angkanya. Anak dan remaja sangat rentan terdampak lingkungan yang semakin sulit diukur tingkat keamanannya, termasuk tindakan bullying. Sejak dibangku kuliah memang sudah tertarik dengan psikologi anak dan remaja. Hingga sependek pemikiran saya dengan memperkaya kemampuan diri dengan ilmu ini maka jangkauan tangan saya menolong anak-remaja (juga dewasa) akan semakin kuat.

3. Ilmu Kepenulisan (Literasi)

Tahun ini adalah tahun yang sangat ingin diabadikan sebagai langkah besar bersejarah dalam keputusan saya serius mengambil peran dalam dunia literasi. Selain ingin jadi penulis yang lebih produktif diberbagai platform media menulis, berharap sekali buku solo saya yang terus ditanyakan kapan dibuat dan dipublikasikan akan segera terwujud

4. Ilmu Fotografi dan Videografi

Ilmu ini ingin sekali dikuasai awalnya karena memang untuk menunjang rencana saya dan suami yang sedang mengatur jadwal lebih sering plesiran alias traveling. Suami sering protes karena pengambilan sudut gambar saya kurang bagus. Lalu, ada ikhtiar usaha lain yang sedang dirintis suami yang masih berkaitan dengan pariwisata dan jalan-jalan dan saat di lapangan sering membutuhkan orang lain untuk membantunya mengambil dan mengolah gambar untu diabadikan.

5. Manajemen Waktu

Ilmu ini perlu saya kuasai agar semua kegiatan tidak saling tumpang tindih dan justru mengakibatkan stres yang mengganggu kebahagiaan. Meski tidak secara rutin beraktivitas di ranah publik tapi terkadang sulit melakukan penyesuaian waktu antara kegiatan saya dengan jam kerja suami yang sulit terprediksi.

Kira-kira sih begitu saja cerita saya dalam jurnal telur-telur jingga di pekan ketiga ini. Ah, pastinya minggu depan akan semakin seru tugasnya...

Ada kejutan apa lagi yaa...



#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelastelurtelur
#bundacekatan1
#institutibuprofesional
Read More

Jurnal Tahapan Telur-telur Bunda Cekatan #1

Selasa, 17 Desember 2019

Aha! Senangnya berkesempatan lagi untuk belajar di tahapan selanjutnya setelah kelas bunda sayang yang sudah lama purna. 


Masuk di kelas bunda cekatan sebenarnya agak tergopoh-gopoh mengikuti ritmenya. Banyak hal harus disesuaikan termasuk prioritas dan kandang waktunya.

Artinya juga selama beberapa tahapan akan banyak proses yang harus dilalui. Apa saja? Ini nih tahap permainannya :

Materi pertama di kelas bunda cekatan ini membuat sedikit melakukan kipas balik di NHW saat mengikuti kelas sebelumnya. Mulai dari mengenal diri sendiri dan tentu saja kebahagiaan diri ini sebagai manusia yang diciptakan luar biasa. Bukan hanya sekedar perempuan (biasa).

Nah, telur-telur kebahagiaan saya tampaknya belum bergeser dari tempatnya. Masih ada dikuadran yang sama, tidak ada lompatan yang luar biasa dari yang tidak suka menjadi suka atau sebaliknya. Jika ada pergerakan itu karena memang harus mendekat untuk belajar sedikit memahami aktivitas tersebut.
Inilah hasil telur-telur kebahagiaan saya yang terus dicari untuk ditetaskan :


Seperti yang sudah disampaikan di awal tadi bahwa sebetulnya sudah tidak banyak pergeseran passion. 

Penjelasan tentang kebahagiaan yang saya pilih untuk diletakkan pada telur-telur hijau, kurang lebih seperti ini :

1. Ideating

Artinya aktivitas seperti melontarkan gagasan dan ide-ide tentang berbagai hal seringkali muncul. Saya merasa bahagia karena seringkali dengan melihat fenomena atau sedang berada situasi tertentu tiba-tiba saja nanti menemukan ide-ide baru.

2. Visioning

Kegiatan mengantisipasi masa depan, berpikir sebelum melangkah, menimbang dari berbagai sisi merupakan kegiatan yang juga membuat saya bahagia. Pernah untuk tidak melakukannya, malah senewen sendiri he he he... Semacam ada rasa butuh untuk memikirkan rencana masa depan yang bijak, agar semua langkah bisa tepat sasaran. Tentu saja dengan seijin Allah Subhana Wa Ta'alla.

3. Creating

Saya senang menggunakan imajinasi saya untuk menemukan suatu rancangan atau layanan baru buat orang lain. Termasuk saat menulis, atau mengajar saya selalu melibatkan imajinasi saya. Bahkan meski memasak adalah hal yang 'saya bisa dan suka' di level paling rendah, saya juga kadang suka iseng eksperimen membuat menu masakan baru. 


4. Counseling

Memotivasi anak dan remaja adalah hal yang paling membahagiakan untuk saya. Terutama bagi mereka yang memang mengalami masalah dalam tahap perkembangannya itu. Mungkin teman-teman akan menemukan sesuatu yang lain dari diri saya ketika sedang berhadapan dengan mereka. Alih-alih bahagia saya lebih senang sebut ini kerinduan. Betul, kerinduan menjadi rumah untuk mereka yang membutuhkan "alamat pulang".

5. Guiding

Masih berhubungan dengan penjelasan sebelumnya passion saya yang membuat mata saya berbinar-binar adalah ketika memandu orang atau pihak lain agar dapat memilih atau menemukan jalan atau sasaran yang hendak ia tempuh. 

Begitu lah cerita saya sebagai orang dengan kecenderungan otak kiri yang memang memiliki  kecenderungan kebahagiaan dengan kekuatan dalam hal berpikir, menemukan gagasan atau ide-ide baru, lalu mengemukakannya pada orang lain untuk ditindaklanjuti (thinking and reasoning).


Celah kebahagiaan ini harusnya terus dicari untuk senantiasa disesuaikan terus menerus sepanjang hayat. Kenapa? Sebab, metamorfosis diri tidak boleh berhenti di salah satu destinasi saja. Namun, terus dilakukan berulang-ulang dengan memetamorfosiskan rasa yang sepenuhnya sadar akan kebahagiaannya.
Read More

Stop! Jangan Buru-buru Buang Jelantahmu

Selasa, 08 Oktober 2019


Apa sih makanan paling nggak bisa ditolak di negara ini? Gorengan! Tua dan muda sepertinya sulit menghindar dari godaannya. Kilau dan aromanya saat keluar dari penggorengan, sungguh menggoda. Hingga, sangat mustahil tidak menemukan makanan sejuta umat ini.

Bisa dibayangkan jika seperti itu berapa liter minyak goreng yang dibutuhkan tiap hari dan berapa sisa minyak habis pakainya? Padahal minyak goreng habis pakai atau sering disebut jelantah ini, memiliki banyak dampak buruk jika dipakai berulang untuk mengolah makanan.

Bahaya Jelantah

Jelantah atau minyak goreng sisa memasak sebetulnya merupakan minyak yang telah mengalami perubahan struktur kimia akibat pemanasan berulang. Istilah lain, jelantah adalah limbah rumah tangga berupa minyak yang kandungannya telah berisi banyak senyawa yang bersifat karsinogenik. Senyawa ini dapat memicu terjadinya kanker. Senyawa karsinogenik ini timbul ketika minyak dipakai atau dipanaskan saat menggoreng. 

Senyawa aldehid juga merupakan senyawa yang ada pada jelantah. Senyawa ini menyebabkan meningkatnya resiko penyakit degeneratif sepeti alzheimer, jantung, gagal  ginjal dan stroke. Bahaya lain yang mengancam adalah kandungan kalori dan lemak trans yang terkandung pada jelantah. Kalori dan lemak trans membuat semakin tinggi tingkat resiko orang mengalami obesitas dan diabetes.

Kalau begitu, dibuang aja deh! Stop! Tunggu, kawan mohon jangan pernah lakukan itu. Minyak goreng bekas yang dibuang ke sembarang tempat atau ke saluran air akan memberi dampak buruk bagi lingkungan dan ekosistem dalam air serta menghambat saluran air.

Jelantah yang dibuang sembarangan sangat mengancam ekosistem, karena termasuk limbah B3 (berbahaya dan beracun). Beresiko tinggi mengkontaminasi tanah, air dan dalam jangka panjang terkumpul di badan-badan air, utamanya di kawasan muara.

Kalau tidak dikelola dengan bijaksana, senyawa-senyawa dengan karakteristik B3 tadi  akan mengganggu keseimbangan Biological Oxide Demand (BOD) dan Chemical Oxide Demand (COD). Merusak badan-badan air yang sangat berperan menopang kehidupan biota-biota.

Pemanfaatan Jelantah

Oleh karena itu, minyak jelantah seharusnya dikumpulkan untuk setelahnya diolah kembali. Dikelola dan dipergunakan  untuk tujuan lain yang tentu saja tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

Beberapa caranya, yang pertama untuk diolah kembali menjadi bahan bakar nabati (bio-fuel) yaitu biodiesel. Langkah yang paling mudah adalah tiap jelantah yang dihasilkan oleh limbah rumah tangga, dikumpulkan dan diserahkan pada pengepul. Selanjutnya, dikelola untuk diolah menjadi biodiesel.

Selain itu, solusi lain dengan dibuat eco enzyme dan sabun jelantah sebagai langkah alternatif untuk mengolah limbah minyak jelantah.


Beruntung beberapa bulan yang lalu, komunitas Ibu Profesional Semarang mengadakan pelatihan pembuatan eco enzyme berbahan jelantah ini. Sebagai bentuk kepedulian para ibu untuk bumi yang akan diwariskan dari generasi ke generasi. Apa iya kita akan tega, mewariskan kerusakan dan hanya berpangku tangan?

Ibu juga harus mampu berperan menjadi agen dari solusi masalah lingkungan minimal dimulai dari istananya; rumah tangga.  Membangun peradaban dari lingkungan terdekatnya untuk menyayangi bumi, menggalakkan less (zero) waste dan bijak mengelola sampah rumah tangga.

Cara Membuat Eco Enzym

Begini cara pembuatan eco enzyme sendiri, yang relatif sederhana. Cukup kita menyediakan air 1000 miligram, 300 gram kulit buah, dan 100 gram gula merah yang telah disisir halus. Lalu, masukkan air ke wadah penyimpanan. Potong kulit buah menyesuaikan wadah.

Kalau wadah yang digunakan toples berukuran besar tidak perlu dipotong nggak apa-apa, namun jika wadahnya botol maka harus dipotong-potong dulu agar mudah dimasukkan ke dalam botol. Setelah itu, masukkan gula merah yang telah disisir. Langkah akhir tapi bukan yang terakhir, tutup rapat wadah tersebut. Biarkan selama 3 bulan. Eco enzyme baru bisa dipanen dan digunakan setelah proses fermentasi selama 3 bulan.

Jika menggunakan botol, beberapa hari pertama botol tersebut harus dibuka 3-4 kali dalam sehari, agar angin keluar. Hal ini utk mencegah terjadinya ledakan saat dibuka di akhir proses fermentasi.

Catatan penting, harap menempelkan keterangan info tanggal proses pembuatan, serta kapan bisa dipanen di bagian depan wadah. Ini bertujuan sebagai pengingat kapan waktu kita harus memanennya.

Cara Membuat Cairan Pembersih

Selain dibuat eco enzym, jelantah bisa digunakan untuk membuat cleanser atau cairan pembersih. Begini cara pembuatan cleanser, pertama siapkan bahan-bahan seperti :

Cuka 1 botol kecil , air 4 liter , gula jawa,  sampah 2 kilogram (kulit nanas, jeruk biji jambu) . Kemudian, rendam selama 14 hari.

Saat sudah siap di gunakan, 1 tutup air cleanser dapat digunakan untuk membersihkan lantai. Semprotkan pada kompor, dapur, atau kamar mandi.

Saat pelatihan yang diselenggarakan pada waktu itu,  Bunda Uswah juga memberikan alternatif solusi lainnya, yakni dengan membuat sabun jelantah.

Langkah membuat sabun jelantah :

1. Rendamkan jelantah, lalu bagian yang bening disaring
2. Soda api, NaoH 75 gram
3. Esensial oil / pandan/ kopi
4. Air/ eco enzym  125 gram
5. Minyak jelantah 500 gram

Alat-alat yang dibutuhkan :

Mangkok kecil
Pengaduk atau pengocok telur
Ember
Baskom (tidak untuk masak)
Cetakan dari plastik anti leleh
Catatan : alat yg sudah dipakai dalam pembuatan ini tidak boleh dipakai memasak lagi.

Siapkan alat tambahan sebagai pelindung, seperti sarung tangan dan masker.

Caranya :

1. Tuang Eco enzym ke wadah
2. Masukkan Soda api pelan-pelan
3. Diaduk pakai kayu/ plastik (jangan alumunium)
4. Ditunggu agak dingin

Bahan lain :

1. Timbang minyak 500gr di saring
2. Dimasak sampai berbuih
3. Saat suhu sama masukan minyak dlu di baskom baru cairan eco enzym (aduk perlahan)
4. Diaduk hingga memadat
5. Agak padat tambahkan esensial oil/air pandan
6. Boleh beri pewarna, setelah itu masukkan ke cetakan plastik
7. Didiamkan 2 hari di wadah tertutup
8. Lalu sabun di lepaskan dari cetakan.
Perhatian: Biarkan bakal sabun yang ada di cetakan di ruang terbuka selama 14 hari, hingga siap dipakai.

Komposisi pembuatan Sabun mandi dari jelantah, sebagai berikut :

Minyak zaitun 250 gram (ekstra virgin oil)
Kelapa sawit 150 gram, gunanya untuk memadatkan.
Minyak kelapa 150 gram, gunanya untuk membuat sabun berbusa.
NaOH 75 gram
Eco enzym 120 gram/jus buah/susu
Bisa ditambahkan pewarna makanan atau daun bidara
Esensial oil/madu 50 gram

Limbah rumah tangga berupa minyak jelantah meskipun tampaknya sedikit, namun lama-lama akan menjadi bukit. Sebab, setiap hari tiap dapur di tiap rumah berproduksi jika dikalikan ada berapa rumah tangga, rumah makan, dan restoran di seluruh negeri ini. Berapa puluh ribu liter yang dihasilkan tiap harinya? Jika tidak dikelola dengan bijak, oleh kita sendiri dan juga perhatian pemerintah selaku pemangku kebijakan.

Maka ini akan menjadi bencana lingkungan yang sangat mengerikan. Nggak ada ruginya bukan? Jika kita memulai dari diri kita sendiri untuk membuat perubahan. Meminimalkan kita dan keluarga untuk tidak ikut andil berbuat kerusakan untuk bumi yang kita tinggali ini.
Read More

11 Alasan Kenapa Menyesal Nge-Blog!

Rabu, 18 September 2019

Menyesal! Begitulah kira-kira terjemahan perasaanku jika ditanya mengapa kamu sekarang nge-blog?

Kok?

Iya, menyesal kenapa nggak dari dulu aku kenalan lebih jauh dengan dunia blogging. Menyesal kenapa baru sekarang tahu banyak manfaat yang bisa aku dapatkan. Padahal sebelum aku hengkang dari Solo; tempat menamatkan studi sarjana Psikologi dan AKTA IV-ku, aku telah mengetahui istilah website dan blog. Masih sangat mahal saat itu jika kita ingin membuatnya, dan masih jarang yang sengaja "mainan" model begini. Bahkan disekitar tahun 2005 itu sempat ditawari membuat dan juga mengisi konten disebuah website. Ah, tapi benar-benar bukan tujuan dan ketertarikanku saat itu. Jadilah angin lalu.

Sampailah saat aku melepaskan rutinitasku sebagai konselor sekolah. Lalu, sebagai seorang yang baru saja memerdekakan diri sesuai impianku berkenalanlah aku dengan berbagai macam komunitas sesuai dengan kecenderungan ketertarikanku. Satu kali setelah usai kegiatan dengan teman-teman penggiat-pemerhati film di Semarang, ada yang menghampiriku. Aku lupa detailnya bagaimana kami kemudian membuat sebuah langkah melanjutkan 'Komunitas Solusi Remaja' yang sempat mati suri. Salah satu langkahnya adalah mengisi konten di-blog komunitas. Disitulah aku mulai berkenalan akrab dengan blog, meski masih hanya sebatas mengisi konten artikel paling psikologi pendidikan didalamnya. Lambat laun, mulai lah ada sedikit rasa penasaran untuk membuat blog dengan nama sendiri. "Pikirku buat dulu saja, isian gampang bisa nanti sambil jalan". Memang sudah digariskan, akhirnya blog yang aku buat di-platform WordPress terpakai juga untuk mengerjakan tugas 'Nice Home Work' saat aku memutuskan untuk ikut bergabung menuntut ilmu di Institut Ibu Profesional. Meski tulisannya masih berantakan dan semakin tak terjamah saat ini.

Sejak awal alamat blog memang sudah sesuai impian; Semesta Nayanika, begitupun saat serius mencoba berpindah haluan ke blogger nama itupun tetap aku gunakan.

Inilah 11 hal kenapa aku menyesal nggak dari dulu Nge-blog? Simak baik-baik ya, siapa tahu penyesalan kita sama...

1. Blog jadi sarana untuk terus belajar

Rupanya melalui blog membuat kita bisa terpacu untuk meningkatkan kualitas diri, mencari ide baru tentang banyak hal. Menggali, mencoba, memakai, mempelajari dan terus berkesinambungan supaya blognya berkembang. Muncul sebagai bentuk tanggung jawab, dan secara otomatis segala sesuatu harus terus dilakukan dengan disiplin. Membagi waktu, dan mengatur ritme agar konsisten

2. Lebih peduli dengan sekitar

Melalui blog juga pikiran dan perasaan kita mau tidak mau jadi jauh lebih peka terhadap sekelilingnya. Paling tidak ada pertanyaan, hal menarik apa sih kira-kira akan diposting yang bakal berdampak bagi pembaca?


3. Buat kemampuan menganalisa jauh lebih tajam


Terbiasa peka terhadap hal-hal disekitar kita membuat kemampuan analisa kita pasti lebih maju. Berbeda dengan tulisan jurnalistik yang harus mengedepankan fakta, tulisan di-blog tidak adanya benar salah. Semua pakai sudut pandang 'nilai rasa' yang ranahnya tentu saja pribadi. Subjektif. Kenyataan ini bijaksananya harus diimbangi dengan bertambahnya kreativitas berpikir, lebih terorganisir pikirannya.

4. Semakin terlatih melihat dari sudut pandang lain

Sebagai blogger diuntungkan karena 'merdeka' tulisannya karena berdiri pada 'stand point' masing-masing. Tidak harus tampak 'terlibat' ikut menggiring opini tertentu seperti media massa pada umumnya. Maka itu harus punya sudut pandang menarik lainnya yang layak untuk diangkat dan tetap memberikan manfaat.

5. Jejaring pertemanan jadi semakin luas

Melalui blog bisa menambah banyak teman tanpa sekat ruang, karena blog bisa jadi jembatan pertemuan jarak jauh antar teman yang memiliki kesamaan minat, passion, hobi tertentu. Mengakrabkan orang meski hanya dalam pertemuan pikiran dalam dunia maya.

6. Suara kita terwakilkan

Melalui tulisan kita diblog setidaknya suara kita terekam dan terdengar mewakili suara hati dan pikiran kita. Atau mungkin saja mewakili beberapa orang di luar sana yang belum mampu "bersuara".

7. Lebih jujur dalam memberikan apresiasi pada diri sendiri

Membaca tulisan-tulisan yang telah selesai kita bagi hingga bisa dibaca banyak orang, membuat kita bisa mengukur sebesar apa rasa nyaman kita saat meletakkan kejujuran di sana.

8. Membantu membantu Personal Branding

Blog membantu membuat jaringan pribadi baru yang datang karena kesamaan passion, hobi. Apa yang kita tulis akan membuat orang mengenali kita dengan kekhasan tersendiri.

9. Berlatih jadi penulis yang baik

Mau tidak mau kita akan terus meningkatkan kapasitas diri. Mempelajari teknik penulisan yang baik, apakah fiksi atau non-fiksi kembali lagi pada minat pribadi. Blog jadi semacam portofolio atau dokumentasi bertumbuhnya kita sebagai pribadi. Sebab tulisan kita yang sudah jadi sesungguhnya bukan karya yang mati atau benar-benar selesai, satu hari ketika dibaca kembali ada bertebaran lagi ide-ide baru yang antri minta dieksekusi.

10. Bisa menginspirasi orang lain

Tiap tulisan yang membuat satu atau dua orang tergerak, terinspirasi atau apa yang kita bagi menjadi 'good causes' bagi beberapa orang untuk melanjutkannya jadi aksi. Ini salah satu alasan paling kekal yang terus aku yakini.

11. Meningkatkan indeks kebahagiaan

Bagiku menulis itu adalah pelarian yang indah. Me time atau waktu pribadi yang paripurna. Aku selalu menikmati waktu memuaskan diri dengan bebas, meliukkan jemari dan membuat aksara-aksara menari. Writing for healing. Mengeluarkan segala keresahan, unek-unek yang mengganggu kesehatan mental. Sebuah ruang tenang untuk menikmati waktu menjadi diri sendiri tanpa sekat jeruji. Ya, meski kembali lagi pada tujuan pribadi menulis di blog nya untuk apa sih? Apakah untuk berbagi atau hanya akan mengejar angka-angka, traffic dan lain sebagainya.

Nah, itu tadi ya 11 hal yang paling buat aku menyesal kenapa nggak dari dulu tahu manfaat blog yang begitu banyak. Mulai dari jadi ajang curhat sampai investasi tabungan jangka panjang untuk akhirat.

Buat yang sudah punya Blog...wiih...kalian keren...terus cari alasan buat konsisten nulis ya (mendadak ambil cermin!). Buat yang belum, Go Blog! Weeeh...jangan ditimpuk dong bukan ngomong 'saru' lho ini... maksudnya ayo segera buat berangkat buat blog dan rasakan sendiri penyesalanku...! ^_^

Read More