Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Ini 3 Kebaikan Pengikat Makna ala Dee Irum. Let's, Pay It Forward!

Minggu, 02 Februari 2020


Senyum dan merasa De Ja Vu. Yap! Itu reaksi saya pertama kali membaca tugas perdana dari kelas habituasi sejuta cinta Ibu Profesional. Tentu kilasan balik rasa dan ingatan yang baik yang kembali. Ada rasa hangat yang misterius sekaligus perasaan tak percaya. Bukan mendramatisir tapi ya memang begitu adanya. Sampai akhirnya iseng kirim pesan ke salah satu grup WhatsApp yang memang berisi para sahabat. Saya cuma mau bilang jika saya merasa 'De Ja Vu' dengan tugas keranjangnya Sejuta Cinta.

Kenapa merasa begitu? Mau tahu? Bener? Oke...oke saya akan coba ceritakan singkat ya. Waktu itu tahun 2011 sewaktu masih menjadi konselor sekolah alias guru bimbingan konseling (BK) saya pernah memberikan tugas yang kurang lebih sama seperti yang sekarang ini saya kerjakan. Tahun itu adalah tahun pertama saya berkesempatan menjalani apa yang menjadi cita-cita saya menjadi Guru BK  yang berlatar pendidikan Psikologi bagi anak sekolah menengah alias remaja. Berbagai idealisme dan impian ada di benak saya di tahun-tahun itu. Menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak, menciptakan ruang ekspresi dengan memetakan minat dan bakat mereka, menjadi 'tempat sampah' yang nyaman bagi mereka yang sedang berada di pusaran pencarian jatidiri dan seterusnya. Meski...yah..nggak semua orang bisa memahami pemikiran "aneh" itu. Ah, jadi rindu.

Saat itu menonton film merupakan media pembelajaran alternatif yang saya gunakan untuk menyampaikan materi. Film psikologi utamanya sering saya gunakan untuk mentransfer ilmu tentang isi sosial, kepekaan dan sekaligus pembentukan karakter. Biasanya setelah menonton akan ada diskusi kelompok untuk membahas pesan moral apa saja atau bermain peran mengambil sebuah fragmen penting yang menurut mereka menarik.


Film 'Pay It Forward' (2000) adalah salah satu film yang kami tonton, karena keterbatasan waktu tidak bisa kami selesaikan di kelas. Oleh karena itu saya meminta anak-anak untuk menyelesaikan di rumah bersama orang tua mereka. Pertemuan berikutnya baru kami diskusikan dan di akhir pembahasan saya memberikan tugas untuk membuat proyek sosial. Bisa dilakukan sendiri atau berkelompok. Waktunya selama satu semester sebagai syarat pertimbangan nilai perilaku. Pertemuan yang lain masih terkait dengan proyek tersebut, saya membagikan video dari YouTube tentang Live Vest Inside. Sebagai penguat motivasi mereka untuk berbuat sesuatu yang bermakna di sekitarnya. Unbelieveable! Ternyata anak-anak begitu antusias mengerjakan itu semua. Proposal proyek sosial mereka begitu luar biasa mencengangkan buat saya. Maa syaa-Allah!


Nah, terkait tugas pertama untuk mengantarkan tiga kebaikan ini. Saya sebenarnya malu mau menuliskannya takut mengurangi rasa yang pernah ada he he he. Tapi meskipun "receh" jika tak ditulis mana lah bisa menginspirasi orang lain. Saya jadi ingat perkataan saya ke anak-anak ideologis saya waktu itu, "Nggak perlu jadi Superhero untuk bisa mengubah dunia. Cukup dari dirimu sendiri dengan versi yang terbaik dan berdampak lah dengan manfaat yang terus dilipatgandakan!". Kata-kata itu seperti menasihati diri saya sendiri. Sudah sampai mana?



Minggu ini hal baik pertama yang ingin saya bagi adalah ketika ada seorang ibu penjual kolang-kaling keliling datang ke rumah untuk menawarkan dagangannya itu kepada saya. Gula aren dan tentu saja kolang-kaling. Padahal saat itu keuangan kami benar-benar sedang kritis, mulut sudah ancang-ancang menolak. Tapi demi melihat peluh di dahinya yang ia usap berulang kali rasanya kok nggak tega. Saya lihat sekitar rumah pagi itu, padahal ada beberapa rumah tetangga yang pagarnya terbuka. Tapi entah mengapa beliau memilih belok ke rumah saya. Saya dan suami yang hendak berangkat ke kantor pagi itu saling berpandangan. Paham sekali saya dengan tatapannya. Akhirnya saya pun mengatakan iya bersedia untuk membeli kolang-kaling tiga bungkus dan gula aren satu kilo. Mata beliau begitu berbinar. Saya tersenyum, padahal masih belum tahu entah berapa uang di dompet yang tersisa kala itu. Masuk ke rumah saya berharap semoga cukup dan...alhamdulillah semuanya pas! Ketika saya mengambil uang, si ibu berucap meminta air minum karena ia haus sekali. Deg! Sekali lagi saya merasa bahagia karena beliau tidak segan memintanya kepada saya. Tuhan begitu mudahkan saya berbuat kebaikan dengan cara sederhana. Saya ambil Tumblr pemberian salah satu kolega suami. Pikir saya sekalian untuk mengurangi beban lemari saya, sebab jarang juga saya pakai Tumblr tersebut. Tak disangka si Ibu begitu bahagia beliau menghujani saya dengan kata terima kasih. Melihat senyum beliau saya merasa sangat ringan dan bahagia.
Kedua, kebaikan yang saya lakukan adalah program pribadi saya untuk tiap hari Jumat membuka semacam market day di status media sosial saya. Jadi, bagi teman-teman yang memiliki jualan barang dan jasa bisa mengirimkan gambar dalam kolase serta caption yang menarik untuk saya pajang di status media sosial saya. Harapannya ada dari kontak saya yang berjodoh untuk saling bertransaksi atau sekedar silaturahmi terlebih dahulu. Selama ini masih terus membeku hanya menjadi wacana tapi kali ini berhasil terealisasi untuk pertama kali.
Ketiga, hari ini kami bersilaturahmi ke rumah teman yang ternyata sejak pertemuan terakhir kami suaminya sering jatuh sakit. Puji syukur kehadirat Allah Ta'alla waktu saya dan suami datang suami beliau begitu antusias hingga lupa jika beliau masih minum obat. Siang menjelang sore itu hujan cukup deras dan beliau nekat pulang menerobos hujan dari tempat kerja ke rumahnya agar bisa menemui kami. Kata beliau semua rasa sakitnya hilang saat itu, karena bertemu 'sedulur' lebih mahal harganya. Saya, suami dan sepasang suami istri ini saling melempar senyuman mungkin dada mereka pun terasa hangat seperti yang kami rasakan. Kami terus bersenda gurau sambil menikmati mie ayam porsi jumbo yang sore itu terasa nikmat sekali.
Kebaikan dan kebahagiaan memang harus ditularkan. Sungguh bukan kebahagiaan jika kita rasakan sendirian. Satu kebaikan yang kita lakukan dengan suka cita dam sepenuh hati akan terus berkembang dan bertambah satu persatu. Putik demi putik untuk mendapati sari pati yang manisnya akan terus bisa disesap terus sampai nanti.

Itu lah makna yang terlanjur terikat erat di dalam hati, dan enggan sekali membiarkannya pergi. Semoga saja selalu dimampukan untuk mendekati dan mendekapnya lagi...dan lagi.


Sumber Gambar : Google

#SCIP
#Habituasi
Read More

Pepesan Peda Daun Singkong (3)

Kamis, 31 Oktober 2019

"Kalau saja apa, Sha?", Kataku memotong kalimatnya yang tanggung. Aku pandanginya lagi lebih seksama.

"Andai saja kamu sudah bekerja, Mas. Tentu kamu bisa makan pepes sebenarnya, bukan hanya daun singkong dan bumbunya saja. Setidaknya di meja makan kita tak hanya ada satu pepesan peda. Satu untukmu dan satu lagi untuk bapak", akhirnya istriku menjawab dengan takzim. Rumaisha duduk bersila di lantai, kepalanya terus menunduk dan tangannya terus melipat cucian yang telah kering untuk besok diseterika.

Aku terkesiap mendengar jawabannya. Nadanya lirih tapi jelas itu ungkapan dari hatinya. Mukaku memanas menahan malu. Apa yang dikatakan istriku adalah fakta. Tak seharusnya harga diriku terluka.

Keluarga bersahaja ini memang sangat menjunjung tinggi kehormatan lelaki pencari nafkah. Selain karena lelaki adalah pemimpin. Ia akan makin dihormati dan dilayani segenap hati. Alasannya agar selalu mampu mencari rejeki yang halal dengan tenang. 

Begitu penuturan ibu mertuaku, saat satu hari mendengar rumor tak sedap tentang rumah tangga tetangga. Beliau bercerita dari balik dinding dapur, sambil menyiangi daun singkong yang sudah dibawakan bapak. Maksudnya mungkin menasihati aku dan istriku yang sedang duduk serius membaca koran, mencari lowongan kerja tepatnya. 

Ibu mertuaku menekankan pesannya berkali-kali, jangan sampai lalai menjaga kebutuhan pokok ini. Lelaki bisa mudah tergoda menggali di ladang rejeki yang tidak berkah untuk dibawa pulang ke rumah. Seluruh keluarga nanti yang rugi. Kami saling melirik dan hanya manggut-manggut.

Bapak dan ibu mertuaku memang dikenal sebagai orang yang baik dan taat beribadah. Kehidupan sehari-hari mereka cukup religius dan berakhlak baik. Tidak pernah neka-neka. Oleh karena itu tidak heran kalau akhirnya aku mendengar wejangannya, jika makanan halal lebih utama dibandingkan makanan enak apalagi mewah.

Kebaikan hati mereka pula yang membuat aku diterima jadi menantunya. Mereka pernah menyampaikan alasan mengapa aku diterima, tapi sukar sekali kupercaya. 

"Farras, maukah kamu jadi menantu bapak dan ibu? Lalu, tinggal bersama kami. Kamu nggak perlu bingung, Nak. Ini semua Allah yang menggerakkan, karena kepandaianmu mengaji. Kamu sukarela merawat langgar kami juga kamu jadi imam andalan warga," suara Bapak yang berat saat menyampaikan niatnya.

Namun, aku yakin pasti ada alasan lain. Benar saja, tak sengaja aku dengar kasak kusuk saudara-saudara saat walimah kecil-kecilan dihelat di rumah mertua. Apalagi kalau bukan karena aku ini pemuda papa, dan yatim piatu. 

Itu alasan utama bapak dan ibu mertuaku meminta secara khusus untuk jadi menantu mereka. Ibuku meninggal sejak aku belum bisa bicara. Ayahku baru saja meninggal kurang dari dua bulan yang lalu. Kanker kelenjar getah bening telah menyebar dan merusak organ vital tubuhnya.

Beliau sebenarnya sangat optimis untuk sembuh dan ingin melihat aku dan adikku meraih kesuksesan. Namun, baru kemoterapi ketiga yang seharusnya terjadwal tujuh kali. Takdir sudah mengirimkan kereta penjemputan. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya seminggu sebelum sidang skripsiku. Aku harus menabahkan diri demi adikku.

Rumah dan semua barang-barang peninggalan beliau telah habis kujual. Menutup semua biaya pengobatan ayah selama di rumah sakit. Sisanya aku pakai menyelesaikan administrasi kampus agar aku bisa tetap wisuda dan meraih gelar sarjana. Seperti harapan almarhum ayah yang terus menerus berkata ingin anak-anak bisa jadi sarjana. Sedangkan, adikku yang baru kelas 5 terpaksa harus mau dipindahkan ke kampung halaman keluarga ayah. Kami memang bukan warga asli desa ini. Pakde meminta secara khusus kepadaku, dan ini juga keputusan keluarga besar jadi aku tak boleh menolak.

Sejak selesai diwisuda, aku memutuskan tinggal di kota ini. Aku tinggal di masjid desa, menjadi marbutnya Mengamalkan ilmu yang aku punya dan bisa. Sore hari aku menjadi guru mengaji anak-anak desa. Pagi hingga siang aku tetap pergi berusaha melamar pekerjaan ke kantor atau perusahaan yang katanya sedang membutuhkan karyawan. Tapi, teka-teki hidup tak semudah itu, hingga sebelum tepat sebulan aku tinggal di masjid itu. Bapak mertua datang memintaku jadi menantunya.

Jarang sekali ada orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan pengangguran. Memberi tempat berteduh dengan cuma-cuma, memberikanku makan  dan menyerahkan anak gadis satu-satunya menjadi milikku, makmum hidupku. Aku memang terlalu banyak menuntut, tak tahu diri. Bukannya berusaha lebih keras untuk membalas budi. Malah sibuk menginginkan daging ikan peda milik bapak mertua.

Aku yang tadi tak sabar ingin sampai di rumah. Kini tak tahu lagi apakah aku harus berhenti atau justru tetap berlari saja. Tiba-tiba aku dilanda kegundahan hebat, antara perasaan ingin pulang dan memperlambat langkah kakiku karena malu.

Kusesali kebebalanku, tak seharusnya aku berkata seperti itu tadi pagi pada Rumaisha. Mengapa pula harus terbawa kepongahan sesat macam itu. Dasar keblinger!

Ah, aku dikepung rasa bersalah. Kakiku mondar-mandir dan hanya kalimat istighfar yang mampu ku ucapkan berulang kali.

"Astaghfirullah...astaghfirullah...Ya, Allah..."

<bersambung>





Read More

Kehidupan : Catatan Pencarian Makna Para Pejuangnya

Senin, 14 Oktober 2019


Setiap orang mampu memaknai kehidupan, seiring dengan latar pengalaman hidup masing-masing. Beberapa orang ada yang mengartikan kehidupan adalah sebuah pertarungan dan pertaruhan.

Ada pula yang mengatakan bahwa kehidupan adalah panggung sandiwara, penuh dengan kefanaan dan fatamorgana. Kehidupan penuh dengan persimpangan dan pilihan. Kehidupan itu kejam, dan seterusnya banyak sekali tafsirannya.

Lalu apa kira-kira definisinya bagi saya?

Definisi kehidupan versi saya adalah serangkaian pilihan kisah-kisah kita dari skenario maha besar-Nya yang muaranya bertajuk takdir. Sekali lagi bisa jadi kita berbeda menafsirkan arti kehidupan. Tak harus sama.

Rangkaian itu berisikan impian, cita-cita, dan harapan. Kehidupan tidak melulu tentang diri kita, namun keseluruhan semesta alam raya. 

Sebab manusia bukan lah pemilik hak tunggal kehidupan, masih ada makhluk lain ciptaan-Nya yang bahkan kehidupannya digantungkan pada kearifan kita mengelolanya.

Itulah mengapa menjalani proses kehidupan tetap perlu strategi bijaksana untuk memandang arah dan tujuan besar yang dititipkan-Nya. Apa yang saling terkait memberikan makna pada hidup kita.


Kita perlu peka, tak boleh hanya melihat diri kita saja. Sebab itu, terkadang kita memang perlu berlari. Namun, sesekali kita hanya perlu sedikit berjalan lambat atau malah memutuskan harus berjalan cepat.

Di lain waktu, sesaat kita pun perlu berhenti dan hanya melihat saja apa yang terjadi. Olah rasa, olah jiwa dan juga olahraga.

Lalu, bolehkah aku tahu apa makna kehidupan bagimu?

Read More

Kesempatan Kedua

Senin, 30 September 2019



Awal tahun Hijriyah ini memang sungguh luar biasa. Allah menitipkan banyak pelajaran berharga. Sekolah kehidupan yang kurikulumnya disusun langsung oleh pemilik ilmu Yang Maha Luas.

Salah satunya adalah pelajaran yang diambil dari hikmah kematian dan rasa sakit. Kedua hal ini tak pernah berhenti memberikan pelajaran yang tak ternilai materi harganya.

Apa yang lebih pasti dan tak pernah ingkar janji? Ya, kematian dan malaikat pencabut nyawa. Kita nggak pernah mengerti bahwa tiap detik yang kita habiskan entah diujung mana kita selalu diawasinya. Bisa saat ini, bisa nanti. Bisa besok, atau bisa jadi tak ada hari esok. Mati tak harus menunggu tua bukan?

Sudahlah aku tak akan bicara soalnya kematian hari ini. Masih cukup berat aku mengenang salah satu anak ideologisku yang telah berpulang beberapa minggu lalu. Aku ingin bercerita tentang hikmah sakit yang aku pelajari dari tetangga sekaligus juga kakak, saudari ideologis yang beberapa waktu lalu divonis sakit kanker. Tanpa pertanda apa-apa sebelumnya, jelas membuat kami semua yang mendengar terperangah.

Beberapa hari sebelumnya masih tertawa, bercengkerama, bicara tentang impian ini dan itu. Beliau yang ceria, mobilitas tinggi, ide yang selalu cemerlang membuat kami juga ikut mencerna dan merasakan aura keaktifannya. Tiba-tiba mendapatkan vonis yang aku rasa bagi semua wanita tak ingin mendengar atau mengalaminya. Kanker rahim dan fakta bahwa rahim harus diangkat karena diameter kanker sudah mencapai 11 centimeter. Sungguh kami yang mendengar hanya mampu terbelalak. Kanker telah mendesak organ lain, hingga terjadi perlengketan pada usus atau organ pencernaannya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang terjadi jika aku berada diposisi beliau. Langit mungkin serasa runtuh!

Namun, sebagai mukmin aku wajib pahami, bahwa sakit juga nikmat sekaligus rahmat. Terkadang cara Allah sayang pada hamba-Nya tak pernah terbayangkan dari mana datangnya. Kadang semua datang begitu cepat tanpa pertanda, hingga membuat kita terjeda sementara untuk bisa menerima. Kita terjebak pada praduga. Jarak kita mampu menerima pasti berbeda tiap manusia. Namun, ternyata jika kita mampu menyelaraskan logika, perasaan dan keimanan. Semua itu tak lain adalah hadiah langit untuk kita.

Aku pribadi percaya setiap kita diberikan sebuah ujian, apapun itu bentuknya, pasti selalu ada hikmahnya. Termasuk bahwa Allah sebenarnya selalu memberikan kesempatan kedua. Kesempatan untuk kita selalu pulang pada-Nya dengan cara terbaik kita sebagai hamba.

Kesempatan mengosongkan bejana dosa yang telah lama berlumut atau berkarat untuk dibersihkan seperti pada awalnya. Syaratnya kita harus mampu mengambil hikmah dari pelajaran yang Allah berikan itu.

Hikmah dan pelajaran sakit yang diturunkan pada kita, adalah sebagai berikut :

1. Sabar


Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas" (AZ Zumar : 10).

Sabar adalah pelajaran paling awal yang harus kita praktekkan. Memang nggak mudah, namun janji Allah itu pasti.

2. Syukur


"Dua nikmat yang membuat manusia banyak terpedaya olehnya : nikmat sehat dan waktu kurang" (HR. Bukhari No. 6412 ).

Saat sakit datang, inilah saatnya kita lebih melipatgandakan syukur. Begitu banyak hal yang sering kita tunda, alih-alih merasa  sehat dan memiliki cukup waktu. Padahal sedetik waktu yang ada di depan kita merupakan rahasia-Nya.

3. Introspeksi


"Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati" (Al An'aam : 42).

Allah senang hamba-Nya datang dengan hati yang tunduk. Membawa kehadapan-Nya, bergunung-gunung harapan juga doa.

4. Menghapus Dosa


"Tidaklah seorang mukmin, tertimpa rasa sakit, rasa capek, kekhawatiran, sedih, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pada duri yang menusuknya, itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya" (HR. Bukhari No. 5641 dan Muslim No. 2573).

Sakit adalah penggugur dosa-dosa. Setelah mampu memaknai poin pertama hingga ketiga, Allah akan lunasi dengan menjadikan ruh kita kembali suci.

5. Berdoa


Doa itu bukan memberitahu Allah akan hajatmu, karena Allah Maha Tahu. Juga, bukan meminta, karena Allah Maha Pemurah memberi tanpa diminta. Namun, doa hanyalah menunjukkan keperluanmu kepada-Nya, karena Allah Maha Kaya dan suka mendengar hamba-Nya yang menunjukkan kefakirannya (Syeikh Rohimuddin Nawawi).

Ada sebuah cerita berhikmah tentang sakitnya seorang hamba, diriwayatkan oleh Abu Imamah Al Bahili yang mengutip Sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassalam. Saat seorang hamba jatuh sakit, Allah akan mengutus empat malaikat-Nya dengan tiga yang berbeda-beda.

Malaikat#1, Allah perintahkan kepadanya untuk mencabut kekuatan tubuhnya, dijadikannya lemah tak berdaya.

Malaikat#2, Allah perintahkan kepadanya mencabut nikmat lezat dari lidahnya, hingga lidah kelu dan pahit saat mencecap rasa.

Malaikat#3, perintah yang diterimanya adalah mencabut sinar kecerahan wajahnya, hingga ia pun memucat.

Malaikat#4, ia diperintahkan untuk mencabut dosa-dosa hamba tersebut. Hingga, ia berada dalam kondisi suci dari dosa.

Lalu, saat sang hamba ini menjelang waktu disembuhkan Allah perintahkan para malaikat ini untuk mengembalikan semua yang telah diambilnya. Kecuali, malaikat keempat.

Maka, bersujudlah ia dan memberanikan diri bertanya. "Ya, Allah, mengapa Engkau tidak perintahkan aku untuk mengembalikan dosa-dosa ini kepada hamba-Mu itu?."

Allah menjawab, "Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosa hamba-Ku, setelah Aku menyulitkannya ketika sakit."

Malaikat bertanya lagi, "Kemanakah dosa-dosa ini hari aku simpan, Ya Rabb?"

"Pergilah dan buanglah dosa-dosa itu ke dalam lautan!", perintah Allah kepada malaikat keempat.

Lihatlah nikmat mana lagi yang kita dustakan?  Allah begitu mencintai ciptaan-Nya  yang bernama manusia. Ciptaan yang paling sering khilaf dan lupa. Berbuat zalim pada dirinya dan sekitarnya.
Namun Allah selalu buka kesempatan kedua untuk m kembali, memperbaiki kualitas diri agar saat kita kembali tak ada yang disesali.

Jika Allah masih sayang pada kita, Allah akan memanggil kita lagi dan lagi. Kita yang harus sadar dan berupaya agar tak berpaling lagi dari-Nya.

"Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti" (Imam Syafi'i).

Begitulah teman, selalu ada kesempatan kedua bagi kita yang mau mencoba mencari rida-Nya.
Saat Tuhan masih menghadirkan sakit, perasaan kelelahan yang tiba-tiba menyergap. Atau, ketika kita merasa seperti aral gendala terus saja datang menguji. Lalu, kita didera kejenuhan pada hingar bingar dunia.

Maka itulah waktu  Allah datang menitipkan rindu. Dia rindu ramainya doa-doa yang kita panjatkan sebagai penanda kita seorang hamba.

Permasalahan akankah kesempatan kedua itu harus diambil atau tidak? Jawabannya silahkan direnungkan dan disimpan pada relung hati kita masing-masing.

Kisah ini adalah secuil hikmah yang bisa aku ambil intisarinya, dan ingin aku bagi. Semoga bermanfaat agar kita lebih bijak bersiasat dengan waktu serta kesehatan. Sebelum pintu kesempatan itu benar-benar terkunci rapat.

============================
Teruntuk kakanda Dyah Erawati Anggraini, tulisan ini adinda persembahankan untukmu. Semangat sehat untuk kembali bersama kami meniti hari-hari.

Terima kasih sudah memberikan begitu banyak pelajaran pada kami. Tentang arti cinta dan kesempatan kedua. Love you 3000 and more!

Sumber referensi :

https://www.google.com/amp/s/www.islampos.com/34784-34784/amp/

Read More

Mengantarmu dengan Cinta

Minggu, 15 September 2019

Awan duka menggantung langit negeri malam itu, angin kering musim kemarau yang dingin terasa setengah basah berhembus menerobos masuk lewat jendela kecil loteng kamar. 

Kuintip melalui celah-celahnya, kebetulan malam itu pikiranku sedang macet. Sebelum kabar duka itu tiba, entah mengapa rasanya udara mampat. Buku-buku dalam otakku tercekat tak mampu berpikir cepat. Kata-kata menghilang hingga tak mampu kurangkaikan. 

Kolak setup kolang-kaling digelas plastik warna hijau teman menulisku pun telah lama habis. Tak ada cemilan malam itu. Deru angin terdengar lebih keras dibanding malam-malam sebelumnya. Bulu tengkukku bergidik tak karuan. Sungguh! Entah aku merasa akan ada kabar tak biasa malam ini. Melayang ingatanku pada satu sehari atau dua hari sebelumnya, aku dan suami membicarakan kecemasan kami perihal kondisi Eyang Habibie.

Ting!

Kubaca peringatan pesan melayang dilayar gawaiku. Breaking news! Eyang Habibie telah kembali menyusul cinta sejatinya. 

***

Sejarah ingatanku mencatat jarang alih-alih bilang tak pernah bila ada tokoh nasional yang berpulang aku menjadi begitu terhanyut dalam kesedihan. 

Namun kali ini ketika ada berita berpulangnya Eyang Habibie rasanya kesedihan itu menyeruak dan memicu sesak dalam dada. Tidak, bangsa ini mengalami kehilangan besar!!, pekikku dalam hati yang bergemuruh.

Tak bisa kusimpan sendiri, kegalauan kulampiaskan pada status whatsapp-ku berharap setidaknya mampu sedikit katarsis. Kulepaskan beban itu. Ringan.

Mata yang sedari tadi jajan dari di laman media sosial melihat banyak unggahan berita duka cita dari mana saja. Tidak hanya generasi era orde lama namun tak sedikit anak muda yang juga menyatakan kehilangan dan kesedihannya. Sedikit terheran-heran sekenal apa para millenial ini mengenal sosok Eyang. Apa iya mereka sepemikiran denganku yang jauh lebih banyak bilangan usianya?

Tak lama nada dering gawaiku berbunyi, beberapa notifikasiku sudah ramai. Beberapa tua murid, kolega dan anak ideologisku merespon statusku. Berbagai opini mampir dari sudut pandang dan rasa yang berbeda.

Mereka kehilangan panutan yang memadukan kecerdasan intelektual dan IMTAQ. Akhirnya kuajukan pertanyaan lebih lanjut tentang hal ini.

Salah satu anak ideologisku, Alin mengatakan ia begitu sedih dan kehilangan publik figur yang. menginspirasi.

Beliau itu realistis dan selalu kukuh sama mimpi-mimpinya. Ia juga bilang jika salah satu impiannya kelak ingin berkunjung ke rumah beliau. Melihat  langsung perpustakaannya, melihat koleksinya, ingin mengobrol menabung benih cerita beliau yang selalu inspiratif. Meskipun beliau pada akhirnya dijatuhkan banyak orang, karena banyak aroma politiknya yang melingkupi beliau. Ia melanjutkan pendapatnya, Alin akan melanjutkan perjuangan Eyang. Demi salah satu harapan Eyang juga untuk Indonesia. Harapan biar anak muda Indonesia tetap berkarya. Ia bahkan menyematkan julukan pada almarhum "The Hero Beyond The Sky".

Aku tersenyum membaca semua paparannya dengan bangga serta doa yang terselip di dalamnya.

Beda lagi dengan seorang teman mudaku yang berprofesi perawat saat ini. Mewakili ibu muda, Nurul berkisah jika zaman ia kecil sering baca majalah ORBIT yg isinya tentang  Science. Penggagasnya Eyang Habibie. Ia juga pernah hadir dipertemuan anak-anak yang digagas dan dihadiri oleh Eyang Habibie dan Eyang Ainun. Kesan mendalam yang ia dapat saat itu beliau adalah orang yang ramah dan mencintai anak-anak.




Source : Google

Beliau juga terlihat sangat tulus mencintai Indonesia, karena sangat jarang menemui orang cerdas yang diakui dunia international masih mau bertahan berkiprah di negeri sendiri karena masih minimnya penghargaan di negeri ini. Ironisnya, sumber daya manusia yang berpotensi memang masih sulit berkembang di dalam negeri.

Nurul juga menambahkan kisah cinta beliau tak kalah mengharukan. Terlihat beliau sangat mencintai Eyang Ainun dan terlihat bahwa beliau sangat tergoncang saat istrinya tiada. Maka jika ada pepatah di belakang pria hebat ada wanita hebat yang mendampinginya Eyang telah membuktikan benar adanya.

Nah, beda lagi pendapat yang dikemukakan salah satu orang tua muridku. Sebagai orang tua beliau mengatakan pentingnya pembinaan sumber daya manusia harus selaras dengan pengaplikasian agama dalam kehidupan sehari-hari.

Kini kesedihan berbalut gembira. Sebuah kematian yang indah menurutku dan rupanya begitu lah ingatan ini mencatat juga bahwa orang-orang besar menjemput kepulangannya dengan sempurna. 

Cita-cita paling puncak, sebuah kematian yang khas. Kepergian yang diantarkan menuju rumah terakhir dengan penuh cinta. Tak layak kah itu disebut sebuah cita-cita?

Eyang Habibie hadir sebagai pembaharu, dimasa krusial negeri ini. Hadir memerintah disaat trasnsisi di 21 Mei 1998. Hanya 18 bulan memerintah namun beliau mampu membuat sejumlah perubahan. Beliau memimpin dengan naluri bukan mimpi kalkulasi taktis politik. Tekadnya saat itu, hanya tidak ingin membuat Indonesia lebih terpuruk lagi. Bersyukur beliau yang memimpin

Sejumlah kebijakan yang dibuat beliau menjadikan Indonesia mengalami masa peralihan menuju negara lebih demokratis.

Banyak ide-ide demokratis diwujudkan dalam kebijakannya. Situasi negara dalam nuansa demokratis pertama setelah runtuhnya era orde baru. Membebaskan tahanan-tahanan politik, memberikan kebebasan pers, memisahkan dwifungsi ABRI dan lain sebagainya. Semua kebijakan dalam waktu singkat itu mampu membuat nilai tukar menjadi kuat kembali setelah terpuruk sekian lama karena krisis moneter.

Ada beberapa pesan yang bisa aku rangkum dari sosok beliau terutama untuk para pemuda, antara lain :

  1. Pentingnya berilmu. 

Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Lihatlah betapa berharganya orang berilmu. Tiap-tiap kepulangan mereka tidak hanya menjadi nestapa dan air mata bagi keluarganya. Tapi bagi seluruh semesta. Melihat prosesi pemakaman beliau kala itu. Panasnya musim kemarau bulan ini, tak seterik siang itu saat semua orang mengantar beliau ke pusara terakhirnya. Jasanya terus berkumandang. Tiap kalimat bijaknya tak pernah berhenti diulang. Nilai-nilai kebaikannya menjulang dan terus didulang. Wafatnya Eyang Habibie seakan menjadi saksi nyata bagi anak, cucu di negeri ini bahwa menjadi ilmuwan, teknokrat, profesor tak menyurutkan pribadinya untuk tetap jadi inspirator dan juga kekasih. 

 2. Pentingnya Adab dan Akhlak

Melihat cerita-cerita beliau yang tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai makhluk bernyawa dan beragama. Bahkan ketika di Jerman beliau sedang rindu ketenangan dan kedamaian surau, sedang di sana hanya gereja. Maka sholatlah beliau di situ. Eyang begitu dielu-elukan, namun Eyang tak kikir berbagi ilmunya. Membantu orang-orang yang membutuhkan sentuhan ide ajaibnya.

***

Eyang ragamu boleh jadi sudah dikubur, tanah sudah menimbun tubuh pemilik senyum tulus itu. Namun jiwa dan semangatmu menjadi warisan sejati bagi anak cucumu ini. Untuk terus melanjutkan perjuangan dan cita-citamu. Hari itu seluruh bangsa mengantarkan kepergianmu dengan cinta dan tak sedikit linangan air mata yang tumpah. Kau telah kembali pada pelukan Illahi, Semoga kelak benar bangsa ini akan bersanding kembali dengan para kekasih hati, para Nabi dan orang-orang yang kita cintai.

Read More