Pepesan Peda Daun Singkong (3)

by - Kamis, Oktober 31, 2019

"Kalau saja apa, Sha?", Kataku memotong kalimatnya yang tanggung. Aku pandanginya lagi lebih seksama.

"Andai saja kamu sudah bekerja, Mas. Tentu kamu bisa makan pepes sebenarnya, bukan hanya daun singkong dan bumbunya saja. Setidaknya di meja makan kita tak hanya ada satu pepesan peda. Satu untukmu dan satu lagi untuk bapak", akhirnya istriku menjawab dengan takzim. Rumaisha duduk bersila di lantai, kepalanya terus menunduk dan tangannya terus melipat cucian yang telah kering untuk besok diseterika.

Aku terkesiap mendengar jawabannya. Nadanya lirih tapi jelas itu ungkapan dari hatinya. Mukaku memanas menahan malu. Apa yang dikatakan istriku adalah fakta. Tak seharusnya harga diriku terluka.

Keluarga bersahaja ini memang sangat menjunjung tinggi kehormatan lelaki pencari nafkah. Selain karena lelaki adalah pemimpin. Ia akan makin dihormati dan dilayani segenap hati. Alasannya agar selalu mampu mencari rejeki yang halal dengan tenang. 

Begitu penuturan ibu mertuaku, saat satu hari mendengar rumor tak sedap tentang rumah tangga tetangga. Beliau bercerita dari balik dinding dapur, sambil menyiangi daun singkong yang sudah dibawakan bapak. Maksudnya mungkin menasihati aku dan istriku yang sedang duduk serius membaca koran, mencari lowongan kerja tepatnya. 

Ibu mertuaku menekankan pesannya berkali-kali, jangan sampai lalai menjaga kebutuhan pokok ini. Lelaki bisa mudah tergoda menggali di ladang rejeki yang tidak berkah untuk dibawa pulang ke rumah. Seluruh keluarga nanti yang rugi. Kami saling melirik dan hanya manggut-manggut.

Bapak dan ibu mertuaku memang dikenal sebagai orang yang baik dan taat beribadah. Kehidupan sehari-hari mereka cukup religius dan berakhlak baik. Tidak pernah neka-neka. Oleh karena itu tidak heran kalau akhirnya aku mendengar wejangannya, jika makanan halal lebih utama dibandingkan makanan enak apalagi mewah.

Kebaikan hati mereka pula yang membuat aku diterima jadi menantunya. Mereka pernah menyampaikan alasan mengapa aku diterima, tapi sukar sekali kupercaya. 

"Farras, maukah kamu jadi menantu bapak dan ibu? Lalu, tinggal bersama kami. Kamu nggak perlu bingung, Nak. Ini semua Allah yang menggerakkan, karena kepandaianmu mengaji. Kamu sukarela merawat langgar kami juga kamu jadi imam andalan warga," suara Bapak yang berat saat menyampaikan niatnya.

Namun, aku yakin pasti ada alasan lain. Benar saja, tak sengaja aku dengar kasak kusuk saudara-saudara saat walimah kecil-kecilan dihelat di rumah mertua. Apalagi kalau bukan karena aku ini pemuda papa, dan yatim piatu. 

Itu alasan utama bapak dan ibu mertuaku meminta secara khusus untuk jadi menantu mereka. Ibuku meninggal sejak aku belum bisa bicara. Ayahku baru saja meninggal kurang dari dua bulan yang lalu. Kanker kelenjar getah bening telah menyebar dan merusak organ vital tubuhnya.

Beliau sebenarnya sangat optimis untuk sembuh dan ingin melihat aku dan adikku meraih kesuksesan. Namun, baru kemoterapi ketiga yang seharusnya terjadwal tujuh kali. Takdir sudah mengirimkan kereta penjemputan. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya seminggu sebelum sidang skripsiku. Aku harus menabahkan diri demi adikku.

Rumah dan semua barang-barang peninggalan beliau telah habis kujual. Menutup semua biaya pengobatan ayah selama di rumah sakit. Sisanya aku pakai menyelesaikan administrasi kampus agar aku bisa tetap wisuda dan meraih gelar sarjana. Seperti harapan almarhum ayah yang terus menerus berkata ingin anak-anak bisa jadi sarjana. Sedangkan, adikku yang baru kelas 5 terpaksa harus mau dipindahkan ke kampung halaman keluarga ayah. Kami memang bukan warga asli desa ini. Pakde meminta secara khusus kepadaku, dan ini juga keputusan keluarga besar jadi aku tak boleh menolak.

Sejak selesai diwisuda, aku memutuskan tinggal di kota ini. Aku tinggal di masjid desa, menjadi marbutnya Mengamalkan ilmu yang aku punya dan bisa. Sore hari aku menjadi guru mengaji anak-anak desa. Pagi hingga siang aku tetap pergi berusaha melamar pekerjaan ke kantor atau perusahaan yang katanya sedang membutuhkan karyawan. Tapi, teka-teki hidup tak semudah itu, hingga sebelum tepat sebulan aku tinggal di masjid itu. Bapak mertua datang memintaku jadi menantunya.

Jarang sekali ada orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan pengangguran. Memberi tempat berteduh dengan cuma-cuma, memberikanku makan  dan menyerahkan anak gadis satu-satunya menjadi milikku, makmum hidupku. Aku memang terlalu banyak menuntut, tak tahu diri. Bukannya berusaha lebih keras untuk membalas budi. Malah sibuk menginginkan daging ikan peda milik bapak mertua.

Aku yang tadi tak sabar ingin sampai di rumah. Kini tak tahu lagi apakah aku harus berhenti atau justru tetap berlari saja. Tiba-tiba aku dilanda kegundahan hebat, antara perasaan ingin pulang dan memperlambat langkah kakiku karena malu.

Kusesali kebebalanku, tak seharusnya aku berkata seperti itu tadi pagi pada Rumaisha. Mengapa pula harus terbawa kepongahan sesat macam itu. Dasar keblinger!

Ah, aku dikepung rasa bersalah. Kakiku mondar-mandir dan hanya kalimat istighfar yang mampu ku ucapkan berulang kali.

"Astaghfirullah...astaghfirullah...Ya, Allah..."

<bersambung>





You May Also Like

5 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum