Tradisi Saparan Kecamatan Getasan : Indahnya Silaturahmi, Berbagi dan Toleransi

by - Rabu, Oktober 30, 2019



Kesempatan yang luar biasa bagiku bisa bergabung di acara 'One Day Trip' yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang pada hari Senin, 28 Oktober 2019 bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda.

Pengarahan oleh Panitia
Sambutan Kepala Dinas Pariwisata Kab. Semarang


Menurut jadwal tertera rombongan akan menuju satu destinasi untuk melakukan eksplorasi. Desa wisata Dusun Sumogawe, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan atau lebih dikenal dengan Kampung Susu.

Rundown Kegiatan 'One Day Trip'


Pagi itu seluruh blogger yang sudah terdaftar berkumpul di Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang yang terletak di Jalan Diponegoro No.202, Mijen, Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur. Letaknya tak jauh dari gerbang selamat datang kota Ungaran. Seperti biasa aku yang selalu bermasalah dengan peta, harus merasakan pagi berbumbu drama. Jika sesuai estimasi waktu yang tertera di google map, aku hanya akan berkendara sekitar 30 menit sampai ke kantor dinas menggunakan motor via Gunung Pati. Rute yang sebenarnya sudah lazim aku lewati.

Tagline Pariwisata Kab. Semarang dan Kampung Susu


Sesepuh desa


Ya, memang dasar nasib atau aku yang belum bisa bersahabat dengan peta maka tetap panik dan tersesat. Bingung saat tak kunjung menemukan gerbang Selamat Datang. Bertambah lagi peta digital yang dadakan ikut menggodaku karena tiba-tiba beberapa kali offline dan tidak bisa mendeteksi lokasi. Daaar!! Putus asa aku coba putar balik di SPBU yang ternyata tak jauh dari lokasi yang aku cari. Aku susuri lagi jalanan tadi, memulai lagi dari terminal Sisemut.

Padahal aku sudah berada di dekat lokasi sebelum jam setengah delapan. Bertekad mencari sekali, dengan niat dalam hati jika memang nggak ketemu ya sudah pulang atau main ke tempat lain. Kubaca peta berulang kali dan lebih seksama memperhatikannya tandanya. Kubuka juga grup 'Trip Blogger' dan seorang teman membalas pertanyaanku yang bertanya penanda yang bisa aku pakai untuk mengenali titik lokasi. Di samping kampus Ngudi Waluyo, setelah pusat oleh-oleh Tahu Bakso Bu Puji.

Aku lanjutkan perjalanan dengan harap-harap cemas. Alhasil aku mengendarai motor sangat pelan karena takut ada yang terlewat.  Alhamdulillah, ditengah-tengah hati yang putus asa, Diajengku Maritaningtyas, menelepon. Mungkin ikut panik kenapa belum sampai juga, karena sebelum berangkat aku memang berkabar dengannya. Ternyata malah dia sudah sampai dulu dibandingkan aku.

Aku tak bisa mendengar suaranya dengan jelas sebab jalanan propinsi terlalu bising pagi itu. Kututup teleponnya dan kukirim foto lokasi mutakhirku.
Ternyata sebelum telepon ia sudah memberikan informasi yang memang belum sempat terbaca olehku. Ia mengatakan jika lokasi Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang ada di dekat papan petunjuk masuk jalan ke Pondok Pesantren Gintungan. Satu lokasi yang pernah kami berdua kunjungi saat melakukan kampanye anti bullying bersama squad KLiK dari komunitas Ibu Profesional Semarang. AHA! Tak sampai satu menit sampai juga di sana.

Motor aku titipkan di area parkir kantor, lalu bergegas masuk menuju ruang tempat pengarahan sekaligus registrasi ulang peserta. Lega sekaligus malu. Aku langsung bergabung diantara mereka. Mendengarkan pengarahan dari Bu Hedrastuti Ikasari selaku Seksi Pengembangan Pasar Wisata dan dilanjutkan sambutan oleh Kepala Dinas Ibu Dewi Pramuningsih.

Struktur organisasi Dinas Pariwisata Kab. Semarang

Inti yang disampaikan oleh beliau berdua bahwa Pariwisata Indonesia telah menjadi andalan, selain minyak bumi dan gas. Maka perlu strategi pemasaran yang handal. Tidak lagi hanya bisa mengandalkan leaflet atau brosur namun juga lewat teknologi digital. Memanfaatkan sosial media sebagai alternatif pemasaran.

Tercatat dalam data bahwa belum banyak wisatawan nusantara yang tinggal untuk berwisata hanya sekitar 0.9 % artinya nggak tidak ada sehari berada di kabupaten Semarang. Wisatawan asing tercatat sekitar 1.9 % artinya mereka tidak terlalu lama tinggal hanya sekitar dua hari.

Menurut data, kunjungan wisatawan di Kabupaten Semarang pada tahun 2018 sejumlah 3.300.00 wisatawan nusantara, dan mancanegara sekitar 800.000 jumlah yang masih harus terus ditingkatkan. Kabupaten Semarang memiliki 35 Desa wisata, 13 hotel berbintang, 195 non bintang.

Tidak lama kemudian kami berangkat menuju lokasi menggunakan armada yang telah disediakan oleh panitia. Selama perjalanan dipandu oleh Duta Wisata Kabupaten Semarang, Mas Nanang begitu kami mengenalnya. Ia adalah Duta Wisata Kabupaten Semarang tahun 2018.

Destinasi pertama adalah ke Dusun Sumogawe Desa Sumogawe, kita akan mengenal salah satu kekayaan dan kearifan budaya lokal di kabupaten Semarang yaitu tradisi Saparan.

Gapura Dusun Sumogawe


Aneka Jajan Pasar 

Kurang lebih satu jam perjalanan menuju kecamatan Getasan. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan kecamatan Ngablak kabupaten Magelang di sebelah barat, kecamatan Banyubiru di sebelah utara, kecamatan Tengaran di sebelah selatan, dan kota Salatiga di sebelah timurnya.

Produk andalan Desa Sumogawe

Labu kuning, Tiwul, Pisang Rebus


Sampai di lokasi, rombongan kami disambut dengan begitu hangat oleh warga setempat. Terlihat juga para pemuda dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) menggunakan seragam khusus berwarna biru tua ikut mendekat menyapa kami dengan hangat. Sebuah panggung besar telah berdiri megah, terlihat para penyanyi dan pemusiknya sudah mulai menyemarakkan suasana pagi itu. Kami dipersilahkan untuk mengambil 'welcome drink' yang telah disediakan.

Ubi manis

Minuman yang disuguhkan ada air mineral, teh hangat, dan tak ketinggalan susu murni yang sudah dikemas dan didinginkan. Wow, ternyata susu murni Nasional yang terkenal jingle-nya itu hasil produksi kabupaten Semarang lho! Bahkan kami juga menerima informasi bahwa desa ini merupakan salah satu supplier bagi sebuah merek susu kemasan yang sudah masyhur di Indonesia. Kalau sudah begitu jelas dong kualitasnya nggak main-main. Selain itu aneka penganan ala desa juga tersaji hangat di meja. Ada jagung manis, labu kuning kukus, pisang rebus, kacang rebus, tape ketan dan banyak lagi lainnya. 
Hawa yang sejuk khas pegunungan dengan makanan autentik macam ini. Mana mungkin bisa menolaknya.

Setelah beramah-tamah sebentar dengan penduduk setempat, kami diberitahu bahwa tak lama lagi rombongan Kirab Budaya Saparan akan disampai. Ya, warga desa wisata Sumogawe yang menjadi peserta kirab telah berkeliling desa bersyukur merayakan hari jadi dusun mereka.

Kirab Desa

Menikmati  nasi tumpeng

Ada yang sudah tahu apa itu tradisi Saparan? Jujur nih ya, aku baru pertama kali ini mendengar dan sekaligus merasakan langsung kemeriahannya. Semua warga dusun tumpah ruah ikut menyemarakkan acaranya.

Ketua Pokdarwis Ds. Sumogawe dan Koordinator Pemandu


Nah, sekarang mari kita berkenalan dengan tradisi Saparan. Tiap dusun di desa Sumogawe yang berjumlah 15 dusun memiliki hari pasaran berbeda-beda untuk merayakan tradisi Saparan. Oleh karena itu peringatan hari jadi atau Saparan di desa ini tidak bersamaan alias bergiliran.

Gunungan hasil bumi

Pasukan Penari Tari Prajuritan

Bergantung pada kapan hari jadi dusun itu tentu saja menurut perhitungan penanggalan Jawa. Sapar menurut kalender Jawa adalah bulan kedua setelah bulam Suro atau jika dalam penanggalan Hijriyah dikenal dengan Muharam.

Warga berkumpul setelah kirab

Simbolis Pembukaan Perayaan Merti Desa


Serunya makan bersama


Saparan diperingati sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki air, jalan, panen hasil bumi yang melimpah juga ketentraman warga desanya. Berbagai hasil bumi, aneka jajanan, dan yang harus ada yaitu tumpeng. Gunungan-gunungan ini yang diarak keliling desa. Setelah itu dibawa ke titik kumpul dan dilakukan ritual doa bersama-sama seluruh warga yang dipimpin oleh para sesepuh desa.

Anak-anak juga tak ketinggalan ikut berpartisipasi


Uniknya tradisi Saparan ini menurut pendamping kami dan juga warga desa lebih ramai dari lebaran. Awalnya memang sempat aku berceloteh kok suasananya mirip lebaran, ya? Banyak toples makanan dan minuman yang terhidang di rumah-rumah penduduk. Nyaris tak ada pintu yang tertutup di desa itu. Semua terbuka lebar dan penghuninya tampak siap menerima tamu. Termasuk menyiapkan lahan parkir untuk para tamu yang datang.

Deretan jajanan lengkap


Supaya tetap rapi dan tertib


Rekan kerja, tetangga, sanak keluarga semua datang berkunjung

Teras juga penuh dengan tamu

Benar saja, ketika sampai dijadwal berkeliling desa dan berkunjung ke rumah warga. Terjawab semuanya. Pemandu kami sampai berulang kali terkekeh karena keheranan kami. Satu lagi keunikan menakjubkan yang aku temui, tiap kami singgah ke rumah pantang bagi tamu untuk menolak makanan yang disediakan tuan rumah. Sebab dipercaya jika menolaknya, maka kita dengan sengaja menghalangi rejeki yang diberikan pada kita.

Pantang pulang sebelum makan!




Makanan yang aku maksudkan bukan kudapan ya? Makanan besar, nasi dan segala macam lauk pauk lengkap dengan buahnya. Bayangkan saja jika lebih dari lima rumah atau seluruh kampung harus kalian kunjungi. Menakjubkan, bukan?

Menurut pemandu kami dan narasumber warga yang dikunjungi, perayaan Saparan ini berlangsung tiga hari sejak dimulai nyadran di hari Jumat. Setelah itu kenduri khusus, ritual ini hanya untuk sesepuh atau pejabat desa. Baru kemudian puncaknya Saparan, yang kebetulan di dusun yang kami kunjungi dusun Sumogawe desa Sumogawe ini jatuh di Senin legi.

Alas kaki berjejeran tanda tamu yang tak sedikit

Tamu silih berganti datang, semua berbondong-bondong berkunjung ke sanak saudara, famili, tetangga, teman sekolah, juga teman kerja. Hebatnya lagi tidak hanya melulu orang tua yang berkumpul merayakan Saparan ini, aku lihat anak-anak kecil juga remaja lelaki hal yang sama. Mereka berkumpul di satu rumah masih menggunakan seragam sekolah. Setelah satu rumah selesai mereka berjalan lain ke rumah teman yang lain. 

Sebuah tradisi kearifan lokal yang dibeberapa tempat sudah mati. Namun, di desa ini mungkin aku harus sepakat dengan si Mas Pemandu kelompok kami bahwa tradisi ini akan tetap lestari.

Ia berkata, "Di Sumogawe itu ada tiga agama besar. Islam, Nasrani, dan Budha. Saat Saparan kami semua saling mengunjungi. Berbeda dengan Lebaran, Natal atau Waisak. Tradisi ini tidak akan pernah berhenti karena kami (generasi muda) tahu dan sudah merasakan kebahagiaannya berkumpul dengan keluarga, teman jadi semangat Saparan ini pasti akan terus diwariskan."

Remaja pun asyik bercengkrama saat Saparan

Betul saja, pemandangan yang aku lihat sepanjang perjalanan menuju titik kumpul tidak berbeda dengan yang disampaikan pemandu kami. Anak-anak dan remaja yang masih berseragam tampak berkumpul di satu rumah. Bercanda dan bercengkrama dengan leluasa, sedangkan orang tua juga tampak sibuk menerima tamu-tamunya sendiri. 

Silahkan buat kalian yang penasaran dibuktikan sendiri deh! Pemandangan indah  tentang silaturahmi, berbagi dan toleransi khas negeri yang  sudah semakin mahal saat ini.

You May Also Like

8 komentar

  1. Malah udah jadi duluan nih.. aku belum bikin wkwkw.. kapan2 lagi yooook hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar lega, lunasi aja hehe...ayo, seriusan aku ketagihan jeng 😍

      Hapus
  2. Event-nya apik², Mbak..

    Anyway, peta online terkadang memang menyusahkan juga.. hihihi...

    BalasHapus
  3. Foto tiga anak kecil di postingan ini bikin kaget 😁😁😁

    BalasHapus
  4. Wah banyak banget ya tradisi nusantara yg patut kita jaga kelestariannya

    BalasHapus
  5. Baru tau doong, keren bgt iniii!!! 😍😍

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum