Folklore : Legenda Sikidang Re-Born

by - Minggu, Oktober 06, 2019

Kawah Sikidang dari dekat / Foto : Pribadi

Dataran Tinggi Dieng memiliki sebuah istana yang mewah dan megah. Bangunannya kokoh dan indah. Raja dan Ratu juga memiliki seorang Putri yang jelita dan membuat kerajaannya menjadi semakin masyhur di seantero negeri.

Shinta Dewi begitulah Raja dan Ratu memberikan nama padanya. Kabar kecantikannya sudah tersiar kemana saja, tak terbendung. Begitu banyak yang datang untuk melamarnya. Tak ada satupun yang berhasil menaklukkan Tuan Putri yang rupawan itu. Pasalnya, ia selalu saja membuat persyaratan yang mengada-ada dan tak masuk akal. Jumlahnya terlalu besar atau hal-hal yang sulit dikabulkan oleh semua pelamar yang datang.

Raja dan Ratu juga tak mengetahui alasan anaknya selalu menolak lamaran para pangeran itu. Mereka menyerah pada tuntutan Sang Putri yang selalu mematok seserahan dan mas kawin yang begitu tinggi.

***


Putri masih termangu didepan cermin. Ia dibelenggu perasaan bersalah lagi. Hatinya meronta-ronta. Ia telah melakukan hal yang bertentangan dengan nuraninya. Sesuatu yang sebenarnya tak ingin ia pilih., 

Namun ia tak kuasa menolak bisikan suara hati lainnya.
Tiga tahun sudah berlalu, tanpa secuil kabar darinya. Utusannya selalu saja gagal mendapatkan informasi tentangnya. Kangennya sudah lama membuncah. Ingin segera bercengkrama dengannya, dan menertawakan kehidupan kerajaan yang sangat membosankan.

Hanya dengan lelaki itu, ia mampu bebas menjadi dirinya. Perempuan yang merdeka isi kepala dan hatinya. Putri Shinta Dewi memang tidak seperti anak Raja lainnya. Bila yang lain gemar sekali bersolek, belanja perhiasan atau baju-baju kebaya dengan kain mahal, serta semuanya ingin dilayani. Tanpa sepengetahuan Raja dan Ratu, Putri Shinta Dewi justru gemar menyamar. Pergi ke pedesaan, pasar atau jalan-jalan ke hutan. Tentu saja ia tidak sendirian, bekerjasama dengan dayang-dayang dan abdi dalem setianya. Mereka sangat mencintai Putri Shinta yang baik hatinya.

Syahdan, saat satu hari dalam penyamarannya di pasar rakyat. Putri Shinta bertemu dengan seorang lelaki, tampaknya ia bangsawan. Meski dilihat dari pakaian yang ia kenakan, bukan dari keluarga kerajaan. Pakaiannya bagus dan mahal, akan tetapi bukan kualitas yang sering digunakan oleh lingkungan keluarga Raja.

Mata mereka beradu, saat tak sengaja mereka ingin membeli sisir dari tanduk kerbau. Ukirannya yang cantik sedari tadi telah memikat hati sang Putri. Tak disangka, ada mata lain yang tertarik pada benda itu. Bersamaan mereka bertanya, "Berapa harganya ini, Bu?". Ibu penjual tersenyum melihat mereka , yang tampaknya tak sadar sedang ditertawakan.

"Kalian jika dilihat, berdua ini cocok, serasi lho, Nak", si ibu penjual malah menjawab sambil berkelakar.

Sontak saja mereka berdua, saling beradu pandang lagi. Kali ini keduanya malah justru tersipu, tampaknya ujaran si ibu penjual seperti menyengat mereka. Hingga, mereka merasakan getaran-getaran rasa khas muda-mudi.

"Kalau kamu memang menyukainya, silahkan ambil saja. Aku bisa memesannya lagi. Bukan begitu, Bu?", ibu penjual tersenyum dan mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan pemuda itu.

"Tidak...tidak...jika kamu membutuhkannya silahkan saja. Tapi...bolehkah aku tahu sisir ini untuk siapa? Sebab, bukankah ini sisir untuk perempuan?", Putri Shinta tak sanggup menahan keingintahuannya.

"Oh, ini untuk ibuku. Sejak sebulan lalu, beliau menginginkan sisir kerbau dengan jenis ukiran yang baru. Sisir kesayangan beliau sudah patah, tak sengaja terinjak", jawab pemuda itu panjang lebar.


Dada Sang Putri terasa semakin hangat saja, mendengar penuturannya. Pastilah pemuda ini anak yang berbakti, sebegitu perhatian ia pada ibunya. Dingin udara pegunungan Dieng tak mampu menghentikan hangat yang menjalar dalam tubuhnya.

"Baiklah jika begitu, kamu dulu saja. Ibumu sudah menunggu, sedangkan aku hanya untuk menambah koleksiku. Bulan depan aku bisa kesini lagi. Siapa tahu ada ukiran yang lebih cantik lagi", sang Putri akhirnya memutuskan ia membayar dan memberikannya sebagai hadiah, untuk ibu pemuda itu.


Sejak hari itu, selama beberapa purnama mereka berjanji bertemu. Mereka berdua tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya ketika bersama. Meski mereka tak pernah benar-benar berdua, selalu ada pengasuhnya yang mendampingi kemanapun ia pergi. Selama itu pula mereka berdua sama-sama menyembunyikan identitas asli dirinya.


Kawah Sikidang tampak dari atas / Foto : Pribadi

Pemuda itu sebenarnya adalah Pangeran dari kerajaan kecil tak jauh dari kerajaan ayah dan ibu Putri Shinta. Pangeran yang anak paling bungsu dan berjiwa bebas, sering melarikan diri saat para guru memaksanya untuk belajar tentang tata negara dan segala macam ilmu pengetahuan lainnya. Berulang kali ia tertangkap, berulang kali pula ia meloloskan diri untuk kabur lagi.

Ia memperkenalkan dirinya kepada Putri Shinta sebagai Dimas Alit tanpa embel-embel Pangeran. Begitu pula Putri Shinta ia mengenalkan dirinya dengan nama Kenes. Semakin hari ikatan perasaan mereka semakin kuat. Merasa saling memahami jiwa mereka yang lincah dan tak ingin terkungkung.

Hingga, suatu hari saat mereka harus bertemu. Dimas Alit tak juga muncul. Tak ada kabar berita. Sepanjang hari, Putri Shinta menunggu tak ada tanda-tanda ia bakal datang. Utusannya
pun nihil membawa berita kehadapannya. Perasaan Putri Shinta, tak enak. Ia merasa ini buka hal biasa dan dalam hatinya ia masih yakin jika Dimas Alit akan menemuinya satu hari nanti.

Maka, selama tiga tahun ia menanti terus saja ia menolak dan membuat banyak Pangeran yang melamar patah hati. Meski ia tak tega jika melihat Raja dan Ratu yang semakin sepuh. Tapi ia tak bisa mengingkari keyakinannya.

***


Keindahan alam yang sarat balutan cerita misterius / Foto : Pribadi

Kabar yang tersiar tentang eloknya rupa dan sulitnya menaklukkan hati Putri Shinto sampai ke telinga seorang pangeran bernama Kidang Garungan. Akhirnya ia ikut tertarik mencoba melamar Shinto Dewi. Penuh keyakinan dengan semua kekayaan yang dimilikinya pasti ia memenuhi syarat yang diajukan oleh Putri Shinta Dewi. Pangeran pun mengirimkan utusannya ke Dataran Tinggi Dieng dengan maksud untuk melamar.

“Kami adalah utusan dari kerajaan Awan tak jauh dari kerajaan in. Datang ke sini untuk menyampaikan pesan pinangan Pangeran Kidang Garungan. Pangeran juga menitipkan pesan akan menyanggupi berapa saja besaran mas kawin yang Tuan Putri ajukan", utusan Pangeran Kidang Garungan menyampaikan pesan dengan penuhi kehati-hatian.

Dayang-dayang menyampaikan apa yang ia dengar di pendopo istana. Putri Shinta Dewi memutar otaknya sejenak. Pangeran seperti apakah dia? Pasti kaya raya karena dengan percaya diri berani meminangnya, tapi apakah ia seorang yang tampan,baik dan berwibawa? Tapi ia sudah terlanjur janji. Ia harus menepatinya. Akhirnya, Sang Putri menerima pinangan itu. Meski dengan hati yang masih berat karena kerinduannya pada Dimas Alit.

Pinangan Pangeran Kidang Garungan pun diterima oleh Shinta Dewi. Pangeran Garungan sangat bahagia mendengar lamarannya diterima. la pun segera mempersiapkan segala keperluan untuk pesta pernikahan. Pernikahan besar yang akan diingat oleh seluruh rakyatnya.

Tiba saat hari pernikahan, Pangeran Kidang Garungan dan rombongan datang ke kediaman Shinta Dewi. Ketika bertemu dengan Sang Pangeran, Shinta Dewi sangat terkejut, karena ternyata Pangeran Kidang Garungan adalah manusia berkepala rusa (kidang).

Sesaat Putri Shinta Dewi bersiasat untuk membatalkan pernikahan tersebut. Ia tak ingin membuat malu Raja dan Ratu yang telah menanti menantu sekian lama. Oleh karena itu, ia terpikir mengajukan sebuah persyaratan kepada calon suaminya itu.

“Kanda, ada syarat lagi yang harus Kanda penuhi jika ingin resmi menikahiku. Daerah ini seperti Kanda tahu kekurangan air bersih. Dinda menginginkan Kanda melakukan sesuatu untuk rakyatku. Buatkan sebuah sumur yang dalam dengan batas waktu hanya semalam. Kanda, sumur itu harus dikerjakan oleh Kanda sendiri”, ujar Putri Shinta Dewi.

“Baiklah, Dinda. Kanda akan berusaha memenuhi syarat tersebut,” jawab sang pangeran.

Pangeran Kidang Garungan mulai membuat sumur di lokasi yang ditunjuk oleh Putri Shinta Dewi.  Kesaktiannya sudah tidak diragukan lagi, ia menggali sumur hanya dengan menggunakan tangan dan tanduknya. Ketika hari menjelang pagi, sumur yang sedang dibuat hampir jadi. Putri Shinto Dewi pun panik.

Bagaimana ini? Apakah aku akan benar-benar menikahi Pangeran berkepala rusa iti?
Putri Shinta Dewi terpaksa mengerahkan pengawalnya. Ia memiliki rencana untuk menimbun tanah yang sedang digali Pangeran Kidang Garungan. Menguburnya pada tanah yang sedang ia gali. Namun,Tian Putri tak sampai hati. Akhirnya ia biarkan Pangeran menyelesaikan sumurnya. Saat menjelang ayam berkokok terjadah ledakan yang tak tahu asal muasalnya.

Seluruh penjuru kerajaan kaget karena suara ledakan yang sangat keras itu. Semua orang tak terkecuali Raja, Ratu dan Putri Shinta berlarian menuju ke sumur yang sedang digali Pangeran berkepala rusa tadi. Mata mereka terbelalak, dan tak percaya ada seorang Pangeran gagah dan tampan keluar dari gundukan tanah itu.

Putri Shinta lebih kaget lagi, yang ia lihat bukan lagi Pangeran Kidang Garungan. Melainkan Dimas Alit. Pemuda yang telah merenggut senyumnya sekian lama.

Pangeran Dimas Alit juga tak kalah terpana pada apa yang menimpanya. Badan dan wajahnya penuh tanah dan debu. Ia masih sibuk membereskan tubuhnya sampai ia sadari ada yang sejak tadi menatapnya. Berlinangan mata mereka, saling bertatapan tanpa sedikitpun kata. Ia bersujud dikaki Raja dan Ratu, tanda syukur yang tak terhingga telah bertemu dengan perempuan yang sangat ia nanti dalam hidupnya.

Raja dan Ratu yang tak mengerti kisah mereka berdua hanya mampu terkesima. Para utusan dan prajurit yang dibawa Pangeran Kidang Garungan juga tak kalah girangnya. Selama ini mereka turut merahasiakannya atas nama cinta yang begitu besar pada junjungannya.

Mereka girang sekaligus haru. Berkali-kali mereka saling berpelukan dan bertepuk tangan. Mengucapkan terima kasih pada Sang Hyang Pemilik Semesta.

Sebelum matahari benar-benar terbit, Raja dan Ratu memerintahkan semuanya kembali. Termasuk Dimas Alit alias Pangeran Kidang Garungan ke istana, untuk membersihkan tubuhnya. 

Setelah selesai berbenah, Pangeran pun bercerita saat semua pihak kerajaan berkumpul. Sehari sebelum ia harus bertemu dengan Kenes alias Putri Shinta Dewi, ia berburu tanaman obat-obatan langka ke hutan. Tak terasa masuk terlalu jauh ke area yang tak ia kenali. Ia melihat rusa kecil namun tanduknya bercabang-cabang berkilauan. 

Demi rasa penasarannya ia kejar hingga tersesat semakin jauh ke dalam hutan yang asing. Sebelumnya ia sempat melontarkan busur yang sengaja ia bawa untuk menghalau binatang buas, ke arah rusa itu. Maksud hati ingin menakut-nakuti saja. Tak disangka-sangka malah mengenai kakinya dan terluka. Rupanya rusa itu adalah penjelmaan penunggu hutan itu. Rusa itu pun mengutuknya, menjadikannya pangeran berkepala rusa (kidang) sejak saat itu.

Namun, sebelum rusa jelmaan itu lenyap mengatakan jika ia berhasil mendapatkan ketulusan seorang wanita yang tak hanya melihat paras rupamu. Maka kutukan itu akan berakhir, masuk terserap kedalam bumi. Menghilang bersama dengan kesalahanmu.

Tanpa disangka sumur yang meledak subuh tadi, lama-kelamaan tampak menjadi sebuah kolam. Kolam yang berisi kawah yang bisa berpindah-pindah, meloncat-loncat seperti kidang atau rusa yang sedang berlari-lari.

(Masih Belum Tamat)



Sumber referensi cerita asli :

https://histori.id/legenda-asal-usul-kawah-sikidang-dieng/


You May Also Like

20 komentar

  1. cerita yang seru. aku benar-benar tenggelam dalam setiap kata sampai pada bagian kalimat paling terakhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak kekurangannya, masih belajar dari gaya tutur tulisan kak Dwi malah...

      Hapus
  2. Gaya penceritaannya bagus banget, ngalir kaya air, good job

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membacanya,kak. Kayak bengawan solo nggak kak?mengalir sampai jauh...hehe...masih berusaha belajar masih banyak kekurangannya kak

      Hapus
  3. Ku terpukau hingga akhir :') manthaap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dudu...terima kasih membaca dedek he-he-he

      Hapus
  4. Iya, setuju. Selalu nyaman baca tulisan Mbak Dee itu, mudah dimengerti tapi gaya bahasanya keren

    Professional 😘😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh ya Allah Bun...aku malu...masih merangkak belajar ini, makanya mau belajar dari sedulur Valetta yang kece-kece badai tulisannya 😘😘😘

      Hapus
  5. So sweet yaa. Andai hidup seindah dlm drama... #galau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau hidup seindah drama, nggak ada ceritanya nanti he-he-he

      Hapus
  6. Ceritanya mengalir, enak dibaca.. lanjutkan ka 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sama-sama belajar ya Kak🙏

      Hapus
  7. Ada nemu kata "Shinto" ditengah2 cerita..eeh malah melayang ke cerita si wiro..hehe
    Bagus mba dee..ditunggu lanjutannya yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Typo-nya bikin imajinasi cerita baru ya kak hehe

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum