Pepesan Peda Daun Singkong (2)

by - Rabu, Oktober 30, 2019



Andai kata...ah...andai saja tidak ada andai, hatiku terus saja mengomel sendiri. Semua gara-gara pepesan peda daun singkong yang sudah tak sabar aku nikmati. Tentunya aku tak akan turun gunung, hingga ke kawasan industri ini. Berada di sini tampak seperti negeri antah berantah bagiku. Luas, gersang dan berdebu. Hanya ada gudang, pabrik- pabrik, truk yang sedang bongkar muat.

Lintasan bayangan tentangnya tadi membuatku bangkit. Menegakkan punggung, meluruskan tulang-tulang kaki yang masih terasa kaku bak balok kayu. Pemanasan kecil kuamalkan sebelum memulai perjalananku lagi.

Enam kilo meter sudah aku cicil tadi sebelum akhirnya menyerah. Paling tidak lima setengah kilometer lagi aku harus menyusuri jalan menuju rumah mertua. Lalu, aku bisa menyantap nikmatnya pepesan peda daun singkong kegemaranku.

Pepesan peda daun singkong buatan ibu mertua memang lezatnya tiada tanding. Daun singkong segar yang diambil langsung dari kebun milik Haji Kholidi. Tiap hari bapak selalu membawa buah tangan ini untuk diolah bersama ikan peda.

Bapak mertua merupakan generasi kedua yang jadi orang kepercayaan keluarga Haji Kholidi. Bertugas mengawasi dan membersihkan kebun yang ditanami aneka buah itu. Tiap pagi hingga sebelum zuhur beliau "dinas" di kebun itu.

Lepas itu dengan segenggam daun singkong ditangannya beliau pulang, membersihkan badan, salat dan makan. Jika memungkinkan beliau pasti beristirahat sebentar, sebelum mengganti seragam dan segera membuka bengkel sepeda kecil di pinggir jalan masuk kampung.

Seingatku selama sebulan ini tak pernah sekalipun pepesan peda daun singkong ini luput hadir. Menu wajib yang harus ada di meja makan. Khususnya saat makan siang. Berbalut daun pisang yang digulung rapi, diselipkan lidi pengait di sisi atas dan bawahnya. Lauk lain hanya sebagai pelengkap, tempe atau tahu goreng. Sesekali ada kejutan telur dadar gulung yang diiris tipis-tipis.

Keherananku saat pertama kali diterima tinggal di rumah ini. Mengapa bisa ibu mertuaku sudah mengetahui hidangan kegemaranku? Pepesan ikan peda daun singkong berbumbu pedas dan sepiring nasi hangat yang ditanak manual. Asapnya mengepul di udara. Aroma harum mereka saling bergelut di indera penciumanku.

Mataku berbinar saat pertama tanganku ingin mengambil sejumput ikan peda yang ada dihadapanku. Belum sampai tanganku bergerak, ibu mertua sudah membaca gelagatku. Beliau segera mengatakan sebuah kalimat yang akhirnya aku hapal di luar kepala, sebab selama sebulan ini kalimat ini selalu beliau ulang.

"Nak, maaf ambillah daun singkong dan bumbunya ya? Ikannya nanti buat bapak."


Aku tak punya pilihan lain hanya menurut saja sembari menelan liur. Aku heran sebagai menantu satu-satunya, kenapa ibu begitu tega mengatakan itu. Toh, aku tak akan mungkin sampai hati menghabiskan pepesan yang juga hanya satu-satunya itu.

Kala itu meski sesungguhnya aku masih bersungut-sungut, tetap kulanjutkan makanku. Mula-mula sekali aku maklum, sebab mertua dan istriku melakukan hal yang sama. Setiap hari selama sebulan kuamati, mereka hanya makan sejumput pepesan daun singkong dan bumbunya.

Namun, kalau dipikir-pikir memang aku harus lebih menaruh hormat pada bapak mertuaku. Beliau yang menafkahi keluarga ini dengan sisa tenaga rentanya. Pagi hingga petang terus menggali sumber kehidupan untuk keluarganya.

Menantu semata wayangnya ini masih pengangguran. Tak selayaknya menggerutu. Aku harus mampu menahan diri serta mensyukuri nikmatnya bumbu pepesan daun singkong yang diaduk dengan nasi hangat.
Pernah satu waktu, aku tak kuasa menahannya. Saat sedang berdua saja dengan Rumaisha, istriku, aku memberanikan diri mengajukan keluhan atas perlakuan " tidak adil" ini. Ia hanya menundukkan kepalanya.

Sesaat kemudian Rumaisha menatapku dengan pandangannya yang sulit sekali aku artikan. Tampaknya ia ragu mengatakannya. Mulutnya bergerak-gerak tapi tak kunjung terdengar suara.

"Mas, coba kalau..."

(bersambung)



You May Also Like

5 komentar

  1. Ayo, Rumaisha, lanjutkan kalimatmu...

    Bikin penasaran aja nih... Wkwkwk

    BalasHapus
  2. Kalau apa ya... Wow ayo apa ini. Bikin bertanya tanya

    BalasHapus
  3. Beuh ini nih makanan termantap sepanjang masa

    BalasHapus
  4. Wahhhh, kata-katanya menggantung. Tapi aku berpikir kalo ini ajakan pindah rumah 😊😊😊

    BalasHapus
  5. Peda apa Kak? Jenis ikan ya, maaf gk tau soalnya

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum