SELF HEALING UNTUK ANAK KORBAN BULLYING

by - Selasa, Oktober 01, 2019

Bantu mereka menuntaskan emosi negatifnya/Foto : Pixabay

Self Healing merupakan sebuah proses memulihkan diri secara mandiri dari gangguan psikologis, trauma, dan atau luka batin lainnya. Disebut mandiri karena upaya pemulihannya tanpa bantuan orang lain juga media perantara lainnya. 

Penyebab luka batin bisa jadi dari diri sendiri dan juga dari orang lain yang kejadiannya di waktu lampau. Luka batin ini bisa menyebabkan munculnya 'inner child' saat tumbuh menjadi manusia dewasa nanti. Buat yang belum tahu apa itu 'inner child' silahkan dibaca dulu di sini.

Keadaan ini biasa juga disebut 'unfinished bussiness' atau bisnis yang belum selesai dan memicu terbentuknya emosi yang tidak stabil. Kalau tidak segera diatasi serta berlangsung dalam kurun waktu lama, maka terjadilah kelelahan emosional.

Bagaimana prinsip kerja Self Healing?

Inti dari proses ini adalah adanya keyakinan bahwa tiap individu adalah penyembuh terbaik bagi dirinya. Tanpa kecuali anak-anak kita yang telah menjadi korban bullying. Melalui bimbingan yang tepat mereka akan mampu keluar dari zona merah ketidaknyamanan sebagai "pesakitan".

Lalu, apa sih bullying itu?

Berikut sedikit gambaran tentang apa itu bullying :

Bullying atau perundungan adalah perilaku berulang, persisten, dan bersifat agresif dari seseorang atau kelompok yang menimbulkan ketakutan, perasaan tertekan, dan atau berpotensi melukai, membahayakan tubuh, perasaan, harga diri atau reputasi seseorang.

Lazimnya perundungan ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban.

1. Penindasan secara Fisik
2. Penindasan secara Verbal
3. Penindasan secara Sosial
4. Kekerasan melalui media sosial (Cyber bullying)

Menghadapi korban perundungan tidak mudah. Terkadang perlu upaya cukup kompleks untuk menolongnya. Seperti kalau kita diminta memakan buah simalakama, begitu serba salah karena semua ada resikonya.

Tapi kita tetap harus berbuat yang tepat untuk membantunya. Sebab tindakan yang kurang pas malah membuat anak (korban) semakin tertekan oleh lingkungan. Padahal salah satu faktor utama penentu keberhasilan anak pulih dari trauma bullying adalah lingkungan sekitarnya.

Anak korban bullying biasanya cenderung pasif, takut dan mengalami perasaan tertekan menghadapi kehidupan kesehariannya. Tak jarang mereka merasa tidak memiliki daya, putus asa, dan diliputi ketakutan.

Parahnya, beberapa diantaranya berpikir tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Ini bukan cerita isapan jempol, satu waktu pernah saat kampanye 'KLIK' anti bullying bersama rekan-rekan Ibu Profesional Semarang.

Kami menemukan fakta ini, seorang anak kelas 4 SD yang sedari awal duduk di pojok ruangan dan sangat fokus mendengarkan materi yang kami sampaikan. Kebetulan pagi itu saya yang jadi pematerinya. Saat sesi tanya jawab tentang apa yang akan terjadi pada anak korban bullying? Ia mengangkat tangannya dengan tegas dan suaranya bergetar, entah marah atau ia menahan emosi lainnya.

Ia mengatakan, "Buat apa hidup, Bu? Kalau terus disakiti." Jujur saya terperanjat dengan pengakuannya. Sebuah keberanian luar biasa, ia mampu mengatakannya kepada kami meski baru pertemuan pertama.

Cerita tadi merupakan selingan bahwa begitu mengerikan dampak bullying bagi korbannya. Padahal anak-anak ini masih memiliki peluang yang panjang untuk bangkit dan menapakinya masa depan dengan gemilang. Sehingga, penting bagi kita semua untuk ikut membangkitkan daya kemampuan anak.

Salah satu upayanya adalah melalui Self Healing. Tujuannya, agar anak mampu mencari serta memutuskan jalan keluar tiap masalah yang dihadapinya. Kemampuan pengambilan keputusan saat pemecahan masalah sangat berguna, hingga anak menjadi manusia dewasa nanti.

Self healing untuk membantu anak korban bullying, diantaranya sebagai berikut :

1. SEDIAKAN WADAH EKSPRESI DAN EKSPLORASI BAKAT SERTA MINATNYA.

Anak korban bullying cenderung memiliki karakteristik 'harga diri rendah', sehingga penting sekali membantu menemukan bakat terbaik yang mampu dikembangkannya. Bakat ini nanti digali sebagai potensi kekuatan dirinya.

Bukankah setiap manusia diciptakan dengan spesifikasi peran yang berbeda? Oleh  karena itu pasti Tuhan membekali tiap orang dengan keunikan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Fokuslah pada kelebihannya m agar prestasi bisa mengangkat harga diri dan keberaniannya dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan yang menantinya

2. BERI TANGGUNG JAWAB

Berilah kesempatan untuk mencoba hal-hal yang PASTI bisa mereka kerjakan. Mulailah dari tanggung jawab yang sederhana dan mampu tuntas mereka selesaikan. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh rasa percaya diri dan keberaniannya.

Jangan lupa beli reward kalimat positif seperti kata terima kasih yang tulus untuk membantu anak memberi label yang bagus dan baik tentang dirinya. Sedikit demi sedikit dibantu untuk meningkatkan citra positif tentang dirinya.

3. AJAK BERGABUNG MENGIKUTI KEGIATAN KLUB OLAHRAGA ATAU FISIK LAINNYA

Tujuannya selain untuk mendapatkan kesegaran jasmani. Fisik yang bugar yang diperoleh saat melakukan olahraga pilihannya, dapat melatih anak lebih menyadari tentang kekuatan serta mengatur strategi juga menyiasati kelemahannya.

Olahraga dapat pula mengajarkan teknik atau seni berkomunikasi dan bekerjasama dengan tim.

Apabila anak kurang menyukai bidang olahraga bisa diarahkan pada pilihan olahtubuh yang lain seperti teater, balet, menari, bersepeda, hiking/lintas alam ataupun kursus membuat aneka kriya.

4. AJARKAN KOMUNIKASI ASERTIF

Komunikasi sebenarnya merupakan kunci utama untuk membantu anak korban bullying. Mengajaknya berdialog atau berdiskusi merupakan salah satu kunci cara membangkitkan kemampuan penyembuhan mandiri untuk korban.

Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pendapat dan pikiran dengan kalimat dan ekspresi yang tepat.

Sebenarnya pelaku bullying membidik si korban agar merasa takut, marah, sedih dan akhirnya mengalami depresi. Ini akan terus berulang dan akan berhenti, jika korban menunjukkan reaksi yag sebaliknya.

Maka penting bagi kita untuk mengajarkan korban untuk berani berkata 'TIDAK'! atau tegas menolak tindakan-tindakan yang berujung merugikan dirinya.

Reaksi dari komunikasi asertif ini, bukanlah reaksi yang agresif atau sebaliknya justru pasif. Asertif disini dimaksudkan penyampaiannya lugas, tegas sekaligus lembut. Ditata dengan bahasa  dan kalimat  positif pula.

Latih anak untuk memikirkan konsekuensi dari setiap tindakan dan perkataannya secara matang.

Contoh :
Ketika pelaku bullying berkata, "Dasar bodoh, kamu bisa apa sih begitu saja nggak bisa!!".

Maka ajarkan anak menjawab dengan kalimat, "Terima kasih sudah mengingatkan dan aku yakin kalau berusaha lagi aku pasti bisa". Biasakan dengan cara melatihnya berulang kali.

5. PUJILAH ANAK DENGAN HATI YANG TULUS

Apa yang disampaikan dengan hati, akan juga sampai ke hati. Pujian dan pemberian pengakuan pada anak adalah obat yang mampu membuat anak korban bullying mendapatkan penghargaan dirinya kembali.

Sikap dan perasaan dihargai ini akan membantu jiwanya keluar dari persembunyian. Seperti perasaan tidak berdaya, tidak berharga akan luruh dengan ketulusan yang diberikan oleh lingkungan sekitar yang mendukungnya.

Pujian diberikan tidak berorientasi pada hasilnya, ya? Titik beratkan pada proses  yang anak lakukan. Pujilah usahanya untuk bangkit mendapatkan versi terbaik dari dirinya.

Hal penting yang perlu diingat, tetap sesuaikan dosis porsinya. Jangan berlebihan sebab justru itu akan meracuni kesehatan jiwanya.

6. MENULIS EKSPRESIF

Penting bagi kita untuk membantu korban bullying untuk menumbuhkan Self Compassion dan Self Acceptance.

Salah satu caranya adalah dengan menulis ekspresif, yaitu sebuah usaha berulang untuk mengungkapkan segala emosi yang dirasakan saat stress itu datang.

Menuangkan ekspresi dalam tulisan dapat membantu mengembangkan kecerdasan emosional, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatkan menangani masalah dengan lebih sehat.

Nah, itulah lima hal self healing yang bisa dilakukan untuk membantu anak korban bullying.

Benang merah yang bisa ditarik sebagai kesimpulan adalah pastikan bahwa anak korban bullying  harus dibangkitkan kepercayaan dirinya dan mampu menuntaskan emosi-emosi negatifnya.

Buat ia merasa bangga bahwa solusi yang ia dapatkan adalah datang dari pikiran dan usahanya sendiri, bukan hasil arahan orangtuanya.

Saat proses diskusi mencari solusi, bersiaplah mendapatkan jawaban anak yang beranekaragam dan mungkin saja membuat kita orang dewasa atau orang tua terpana. Namun, harus tetap tenang dan terus mengawal anak untuk mencari pintu solusi terbaik.

***
Tulisan ini pernah saya sajikan sebagai materi saat menjadi narasumber kulwap (kuliah whatsapp) di Komunitas Nata Diri, bulan Maret 2019 lalu.

Dibawah ini akan saya bagi sedikit "oleh-oleh" tanya jawab, malam hari itu :

1. Di rumah, anak-anak suka bercerita, berceloteh, nyanyi, dsb, dan kalau ada tetangga yg mengganggu mereka akan berani melakukan apa yg saya sarankan. Tapi, pas di sekolah mereka tidak melakukannya. Apa ini termasuk karakter inferior ya, Bu?

Tanggapan: Jika di seputaran lingkungan rumah mereka masih mampu berekspresi, beraktifitas dengan leluasa dan nyaman sedangkan di sekolah berlaku sebaliknya.

Kemungkinan besar anak tidaklah inferior, itu pertanda anak-anak merasa di rumah mereka aman dan memiliki pelindung.

Sederhananya inferior lebih cenderung bisa diartikan sifat yang sangat rendah diri, sangat pendiam dan pemalu, pasif, jarang mau berkomunikasi dgn orang lain, mentalnya rendah atau sangat tidak percaya diri hingga sangat mudah dipengaruhi hingga cenderung selalu menunggu temannya untuk menyelesaikan masalah.

2. Anak-anak memang beberapa kali diganggu temannya, dan beberapa kali terulang. Untungnya hanya 1 teman saja yang mengganggu. Tapi saya rasa ada baiknya mereka mampu membela diri ketika ortu tidak bisa mendampingi. Bagaimana cara meningkatkan keberanian mereka? Apa anak usia 3-4 tahun memang wajar kalau diam saja saat diganggu? Terima kasih.

Tanggapan : Usia 3-5 tahu justru sedang tumbuh ke-aku-an yang tinggi, sedang sangat aktif perkembangannya. Baik perkembangan akal, sosial  dan emosional serta fisiknya. Jadi kecenderungan yang terjadi justru malah anak tidak diam, ketika "otoritas"nya diganggu oleh pihak lain.

Bagaimana meningkatkan keberaniannya?

Beri ruang kepercayaan pada anak, jadilah cheerleader yang  berdiri di pinggir lapangan untuk memberikan memberikan mereka semangat dan tanggung jawab.

Jangan tergesa-gesa membantu anak usia 3-5 tahun, sebab itu adalah tindakan "sabotase". Memotong paksa proses perkembangan belajar anak untuk percaya pada dirinya.

Beri tanggung jawab dan biarkan ia menyelesaikan sampai batas maksimalnya. Ortu wajib menjaga rutinitas dan konsistensi untuk membentuk karakter ini.

--TERIMA KASIH, SEMOGA BERMANFAAT--



Sumber Referensi :

https://pijarpsikologi.org/self-healing-sebuah-perjalanan-menyembuhkan-diri

https://m.detik.com/health/berita-detikhealth/d-2808275/self-healing-karena-tiap-orang-adalah-penyembuh-terbaik-bagi-diri-sendiri

https://blog.ruangguru.com/memulihkan-trauma-bullying-dengan-menanamkan-keberanian-pada-siswa

You May Also Like

9 komentar

  1. Mau tanya dong Bu, kalau anak yang memiliki karakter tidak enakan, tidak tegaan, dan terlalu baik. Itu masuk ke dalam apa ya Bu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau masuk kemana aja boleh hehe...
      (Karakter yang disebutkan itu sebenarnya masuk ranah bakat, Nak...Hehe)

      Hapus
  2. Mau tanya dong Bu, kalau anak yang memiliki karakter tidak enakan, tidak tegaan, dan terlalu baik. Itu masuk ke dalam apa ya Bu?

    BalasHapus
  3. Aku dulu sering bgt dibully, sering dikatai aneh. Pokoknya di antara temen-temen-temenku, aku yg paling ga disukai. Mereka pada suka ngerjain aku, jailnya minta ampun. Sedihnya tuh aku termasuk orang yg ga bisaan, terutama dlm Olahraga. Musik dan tari juga ga bisa. Makanya sering dibilang aku ga bisa apa-apa, ga berguna gitu. Tapi aku berusaha bangkit, optimis kalo bakal ada yg nerima aku. Berhasil, semua temenku sekarang suka sama aku dan sedih kalo ga ada aku. Semua kekuranganku pun ga buat aku minder, tapi kujadiin bahan lelucon aja 😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah selamat yaa,memang mindset-nya harus begitu sayang...berani melawan dan tunjukkan kelebihan kita yang cara yang positif...πŸ˜πŸ’ž

      Hapus
  4. Moga aku dimampukan untuk mendidik anakku dari korban dan pelaku bullying, Aamiin..

    #ngeri

    Makasih tulisan bermanfaat nya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sami-sami bundooo...iya ngeri, sedih aku tuh lihatnya😒

      Hapus
  5. skripsi S1 aku dulu tentang bullying loh. judulnya bullying in the novel 13 reasons why by jay asher.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau dong diresensikan, kak hehe...#ngarep
      😁

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum