Cinta dan Persepsi

by - Sabtu, Oktober 19, 2019

Baca dan perhatikan dengan seksama ilustrasi cerita di bawah ini :

Naira adalah seorang anak yang cantik dan periang. Sekarang ini ia duduk di kelas 4 SD. Tetapi belakangan ini ia sering melamun, sedih dan menyendiri. Ia tampak kehilangan semangat untuk melakukan banyak hal. Nilai mata pelajarannya secara signifikan semakin turun. Bundanya menyadari hal ini dan merasa sangat bingung.

Tiga bulan sebelumnya Naira untuk pertama kali memperoleh nilai 75 dan bersegera mencari guru les disebuah lembaga bimbingan belajar. Ia sangat ingin nilai anaknya kembali seperti semula yaitu rata-rata diatas 90. Akhirnya selama tiga bulan itu Naira harus kehilangan waktu bermainnya.

Setiap minggu selama 5 hari berturut-turut setiap sore ia harus les pelajaran bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, sains dan ilmu sosial. Ditambah les mengaji, menari yang dilanjutkan dengan les musik setiap hari Sabtu.

Nah, saat nilai anaknya makin jelek maka sang bunda bertambah bingung dan Naira pun diberinya tambahan rutinitas lagi dengan les privat di rumah wali kelasnya. Betul, saat diiikutkan les privat di rumah wali kelas nilai Naira mulai ada perbaikan. Namun tetap belum kembali seperti nilai rata-rata semula. Sang bunda pun semakin gencar mendorong Naira supaya belajar lebih keras lagi. Bundanya menjadi makin sering marah dan menghukumnya.

Hingga sampai pada satu titik puncak, saat ia mendapatkan nilai ulangan matematika  tertulis disana 55. Pecah lah kemarahan bunda. Naira tak pernah membayangkan bundanya akan marah sebesar itu.

Esok paginya ia menjadi malas sekali bangun. Padahal jadwal pagi hari itu ia harus ikut remidi ulangan matematika. Bundanya berulang kali sudah berteriak kesal agar Naira segera bangun. Namun, Naira teramat enggan dan berat untuk turun dari ranjangnya..

Sampai kemudian..., GUBRAAK!!!

Bundanya dengan kuasanya yang sedang gusar sudah berdiri di depan pintu yang sudah sejak tadi sengaja dibuka. ”Naira!!! Bangun, mandi dan bersiap pergi sekolah!” suaranya keras penuh tekanan dan amarah.

Naira terperanjat dan dayanya hanya mampu untuk menangis. Ia mengaku berusaha mengatakan sesuatu. Tapi mulut dan lidahnya kaku, bibirnya nyaris tak mampu bergerak. Namun, Naira memberanikan diri bicara di depan bundanya.

”Bun..maaf Naira tidak mau berangkat ”, suaranya terbata-bata karena tangisnya. Lalu ia terdiam, dan tak lama semakin meledak kata dan tangisannya. 

”Pokoknya nggak mau ke sekolah. Aku takut. Aku nggak mau...". Berulang-ulang ia ucapkan kalimat itu.

”Kamu takut apa, heh!? Cepat sana siap-siap, se-ka-rang!!!” sang bunda kehilangan kesabaran dan menghardik Naira lebih keras.

”A..a..ku takut Bunda kecewa! A..a..ku takut dapat nilai ulangannya jelek lagi, Bun. Terus Bunda marah, sedih karena Naira anak bodoh. Pokoknya aku takut masuk sekolah!” ia mencoba menjelaskan, suaranya berlomba dengan ledakan tangisnya.

Bunda Naira sontak kaget dan terpaku mendengar pengakuan itu. Ia galau.. Tak tahu harus menjawab apalagi. Amarahnya yang sempat memuncak kini menghilang tanpa bekas.

Kali ini ganti bibir sang bunda yang kaku. Getir rasanya lidahnya. Ia merasakan kaki-kakinya bergetar. Matanya nanar dan memburam. Tersengal-sengal napasnya menahan hentakan dada yang semakin tak beraturan. Mendadak kepalanya pun semakin berat.

Kata-kata Naira telah benar-benar menancap telak ke hatinya. Perlahan ia mulai lunglai dan lemas. Tak lama ia membungkuk dan bersimpuh.

Tangan dan bahu Naira diraihnya didekatkannya pada tubuhnya. ”Berapapun nilai yang kau dapat bunda terima, Nak. Kamu bukan anak bodoh!.

Belajar dan berusaha  lebih keras ya bunda percaya kamu bisa. Yuk, kita berangkat ke sekolah ya?!”, begitulah Bundanya berusaha berkata lembut kepada Naira supaya tenang hatinya.

”Takut Bun, aku takut Bunda sedih, kecewa  Aku takut. Aku tidak usah ikut ulangan susulan supaya Bunda nggak kecewa lagi sama nilai aku!"

Akhirnya dua pekan Naira mogok sekolah, semua buku rayuan sudah tak mempan. Ia tetap bersikeras takut masuk sekolah. Segala macam rayuan digunakan untuk membujuk Naira. Tapi kondisi mentalnya masih sangat terluka.

Apakah yang bisa kita petik dari kasus Naira di atas? 

Kasus semacam ini banyak sekali terjadi. Saat menangani kasus seperti ini, saya juga tak habis pikir mengapa semakin banyak orangtua memperlakukan anaknya seperti itu.

Saya paham maksudnya itu baik tapi cara menyampaikannya menimbulkan ambiguitas. Ada salah penerimaan makna yang ditangkap berbeda dari sisi anak, atau telah terjadi distorsi makna.

Permasalahan di atas bermula dari salah persepsi tentang pendidikan dan kesuksesan.

Orangtua Naira memandang bahwa prestasi akademik multlak menentukan masa depan. Ia juga ingin anaknya punya semangat belajar tinggi. Oleh karena itu ia memacunya berharap Naira tidak seperti dirinya yang nilainya jelek. Ia tidak ingin anaknya mengulangi kejadian yang menimpa dirinya.

Pokoknya segala cara yang menurutnya positif, harus ia lakukan agar prestasi akademik anaknya tinggi.

Pertanyaannya adalah apa benar nilai tinggi sama dengan pintar? 

Jika jawabannya benar, nilai manakah yang dimaksud? Nilai yang diberikan untuk pelajaran akademik atau nilai untuk pelajaran menghadapi hidup? Apakah nilai yang diberikan untuk pelajaran sekolah sama dengan nilai pelajaran menghadapi hidup?

Nilai manakah yang menurut Anda lebih penting?

Lalu bagaimana dengan Anda para pembaca yang baik?

Apakah persepsi Anda tentang anak? Apakah persepsi Anda tentang mendidik anak?
Apakah persepsi Anda tentang belajar? Apakah persepsi Anda tentang mencintai anak? Apakah persepsi Anda tentang sukses?

***

Bonus buat yang sudah jadi orang tua, yang belum juga nggak apa-apa yuk kita cek bersama-sama bagaimanakah persepsi kita!

1. Coba lanjutkan pernyataan berikut dengan berpikir cepat :

- Anak adalah

......................................................

- Belajar adalah

.....................................................

- Mencintai anak adalah

......................................................

- Kesuksesan adalah

......................................................

- Hidup adalah

......................................................


2. Bisakah Anda merasakan beda dari persepsi X dan Y berikut :

X memiliki persepsi : ’anak adalah individu yang harus dididik dengan baik sehingga bisa menjadi gantungan hidup bagi orangtua saat tua'.

Y memiliki persepsi : ’anak adalah individu yang kesadaran dirinya harus dikembangkan sesuai dengan fitrah potensi yang ada dalam dirinya'.

Sudahkah bertemu jawabannya? Jika sudah boleh dong ceritanan hasil persepsimu dikolom komentar ya?Terima kasih.

You May Also Like

6 komentar

  1. Krn aku blm punya anak menurutku persepsi ttg bljr itu sngt perlu krn menunjang masa depan yg lbh baik lg

    BalasHapus
  2. Entahlah, Mbak.

    Pokoke aku prihatin sama tuntutan anak zaman now. Mungkin orangtua harus lebih peka dengan kondisi anaknya sendiri. Jangan terlalu mengedepankan ego orangtua yang ingin merasa bangga akan prestasi anak.

    Yang terpenting bagiku, kejar prestasi sesuai kemampuan anak dan yang paling penting, anak harus bisa dekat dengan Sang Maha Pencipta. Agar hidup dan mati dimudahkan.

    BalasHapus
  3. Wah, berasa dpt ilmu baru. Aku pernah merasakan seperti Naira, tapi aku berusaha bawa santai dan ngelatih kesadaran diriku. Semoga ketika jadi orang tua nanti, aku dpt menjadi yg lebih baik

    BalasHapus
  4. hampir nangis dong baca tulisan ini. aku jadi ingat tentang pengalaman kelas 4 pernah dapat nilai matematika 0 hehehe. langsung les di rumah guru wali kelas bareng beberapa teman yang lainnya. aku sih baik-baik saja dapat nilai sebgitu. lanjut smp dan sma aku tetap terus gak ngerti matematika. ngerti sedikit tapi terlalu sedikit. puncaknya takut banget pas ujian nasional waktu sma. sukurnya bisa lulus sih.

    sekarang aku kebetulan berada di depan kelas, memang bukan di sekolah tapi ngajar les, tapi aku dan anak-anak didik sudah membangun koneksi emosional.

    aku sadar tidak semua anak patuh dan cemerlang, tapi aku berpikir semua anak memiliki kelebihan masing-masing. aku terus coba tanamkan bahwa nilai bukan patokan akhir. aku yang gak pintar-pintar amat ini sadar betul dengan kondisi anak-anak SMA yang jam belajar sekolah dan tugas menumpuk. masih sering merasa aneh sih kenapa siswa Indonesia diharuskan belajar banyak banget pelajaran dan harus dikuasai semuanya sekaligus.

    semua anak berbeda dalam hak yang baik. tidak ada yang kurang. mereka memiliki kelebihan yang berbeda.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum