Kidung untuk Senja

by - Kamis, Oktober 17, 2019

"Ayo lah, aku tahu kamu bukan malu. Kamu hanya tahu bagaimana caranya menahan gejolak pesona itu," merajuk dalam hati. Geregetan. "Dasar sok jual mahal!".

Semakin mengenal lelaki yang ada di jarak pandang kurang dari 500 sekian meter dihadapannya ini. Ia berdiri tak jauh dari gerbang keluar. Tapi ada yang aneh belakangan ini, makin ingin sejengkal lebih dekat eh malah ia mundur dua jengkal menjaga kuda-kudanya. "Apa salahku ya?", Gumam Gita lirih nyaris hanya didengar oleh angin.

Puja tahu sedari tadi Gita memperhatikannya. Agak aneh kalau sampai ia tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang seakan siap menerkam mangsa incarannya. Sejujurnya ia dalam hati geli. Berpura-pura memang melelahkan. "Sampai saat ini, begitulah keputusanku. Maafkan aku, Git!?," Gumamnya dalam hati dengan sudut mata yang tak mau lepas sedikit pun dari perempuan "ajaib" di kampus ini. 

***

"Kamu, yakin?!", suaranya nyaris nyaring namun segera ia tahan. Berani sekali sepagi ini dia datang dan membuat gaduh. Gita melotot, matanya membulat se-per sekian detik, lantas berkedip-kedip berganti mulutnya membulat separuh menganga. Pasti info yang dibisikkan temannya bukan berita "receh". Hingga ekspresinya jadi se-dashyat itu.
"Wooooyy...Gita! Sadar ya..ini kantin, ooi...dikontrol dikit kenapa sih? Malu tahu!", temannya mengomelinya. Sedari tadi memang sudah takjub dengan polah Gita, dan akhirnya tak tahan juga.

"Kalau kamu benar, apa dia tidak terlalu pagi bermimpi seperti ini?", tanya Gita seperti berbincang pada diri sendiri dengan mata menerawang. Teman-temannya menyesal kenapa harus kasih bocoran informasi itu. Mereka lupa tabiat karibnya. Tiga Minggu berlalu dengan rasa penasaran yang nyaris pecah ke ubun-ubun.

***

"Kamu sadar nggak yang kamu bilang ke aku? Di 21 tahun?", Gita tak kuat lagi membendung desakan pertanyaannya.

Pertemuan yang disengaja disalah satu sudut luar perpustakaan kampus mereka.
"Aku sangat sadar dengan kata-kataku tadi. Tidak dikurangi juga nggak melebihkan", Jawab Puja mantap.

"Ehm...tapi..bukankah ini terlalu pagi diusia kita?", Tanya Gita mengulang pertanyaan yang sama di tiga minggu lalu pada temannya.

"Tidak ada yang terlalu pagi untuk impian sepasti ini. Justru ini waktu yang tepat. Kita berdua ini sudah akil balig, bukan lagi anak kemarin sore dan sudah sepantasnya berpikir sarana dan jalan pulang terbaik sebelum "malam". Paham, maksudku ya?", Puja menyelidik.

"Masih sempat dia sok berfilosofi disituasi macam ini. Langsung ke intinya, kenapa sih?!", Gita mengomel dalam pikirannya meski dia tetap mengangguk juga.

"Tak ada senja yang panjang usia kan, Git? Karena itu banyak orang tergila-gila berburu senja enggan melewatkan atmosfer magisnya", Puja menghela napas sebentar lalu menyelesaikan kalimatnya lagi.

"Lalu kenapa kamu? Itu kan pertanyaanmu? Entahlah hatiku yang bergerak cenderung memilihmu. Mungkin saja ini juga bagian dari permintaanmu? Harapanmu".

"Aku percaya Tuhan yang menggerakkan semuanya, karena Dia pasti menggenggam doa-doa kita. Yakinlah aku berkata begini bukan tanpa perhitungan matang. Aku juga nggak mau gegabah. Semua sudah tergambar jelas dalam peta rencana masa depanku, Git".

Gita hanya mampu memandang Puja, tanpa ekspresi. Kebingungan di depan persimpangan. Kini mungkin benaknya berharap ia sedang di alam mimpi. Ia tak berdaya karena rasa bahagia sekaligus terpana, tak percaya apa yang didengarnya. Dialog-dialog dalam otaknya saling berebutan nada.

Kala pagi jatuh cinta kepada senja, ada Gita Puja yang tercipta disana. Melagukan rindu memuliakan-Nya.

Kidung untuk Senja.

Senja yang datang dan pergi tak pernah melambat. Begitulah kehidupan manusia, sekejap saja. Ibarat pagi, siang dan malam. Semua ada masanya. Sudah kah kita bergegas?

Puja paham, pernikahan pasti akan melalui banyak pancaroba untuk menggenapi janji yang terucap saat ijab kabul.

Maka, aku dan siapapun dia nanti harus terus berjuang. Belajar mengibarkan panji-panji harapan agar di kehidupan yang singkat ini, cita-cita agung pernikahan sampai ke destinasi.

Senyap.

Keduanya terdiam dalam kidungannya sendiri-sendiri.

You May Also Like

7 komentar

  1. Balasan
    1. Kidung itu nyanyian,lagu atau syair yang dinyanyikan, bisa juga puisi, begitu sayang

      Hapus
    2. Seperti gk asing sama bahasa kidung

      Hapus
  2. Aduduu bahagiannya jadi Gita ey.. ;)

    BalasHapus
  3. aku langsung cari apa arti kidung di kbbi

    BalasHapus
  4. Kala pagi jatuh cinta kepada senja, ada Gita Puja yang tercipta disana. Melagukan rindu memuliakan-Nya.

    Kalimat ini membuatku terhanyut 😍😍😍

    BalasHapus
  5. Senja selalu saja berhasil memikat pada aroma kekaguman

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum