Anak Anda Gagap? Jangan panik! Kenali gejalanya, memang sulit tapi bisa diatasi

by - Sabtu, Oktober 26, 2019


"E...e...e..i...i..i...tu... botol sss...saya, dan...dan...dan...", ujar Hanif kepada bundanya sambil menghentak-hentakkan tangannya, tampak bibirnya kesulitan mengeluarkan kata-kata dari dalam pikirannya. Matanya terus berkedip tak berhenti. 

Pernahkah menemui anak yang tidak lancar bicaranya seperti contoh di atas? Orang biasa menyebutnya gagap atau stuttering.

Seseorang dikatakan gagap jika ia mengalami penyimpangan wicara yang disebabkan adanya pengulangan suku kata pertama,  memperpanjang huruf vokal, atau mandek disatu kata yang tidak disengaja atau ketegangan. Bicara anak jadi tersendat dan terputus-putus. Gagap bisa muncul pada usia berapapun, tapi hampir 80 % dimulai sebelum anak menginjak usia 8 tahun. 

Jumlah penderita gagap tiga kali lebih banyak terjadi pada anak laki-laki, dibandingkan anak perempuan. Para ahli mengatakan ini terjadi karena proses keterlambatan proses kematangan pada susunan saraf yang bertugas mengkoordinasikan otot-otot kemampuan bicara. Beberapa kasus gagap terjadi pada anak kidal yang dipaksa beraktivitas tidak menggunakan tangan kirinya.

Faktor yang dapat mengurangi kegagapan apabila penderita sedang berbincang sendirian, berbicara bersama dengan orang, bernyanyi, bicara dengan anak yang usianya sama atau dengan binatang; boneka, atau sedang dalam keadaan yang rileks.

Secara umum faktor yang dapat menambah kegagapan adalah ketika anak harus berbicara dengan orang asing, usianya lebih tua, di depan umum (keramaian), saat menghadapi tekanan emosi atau saat harus menjawab pertanyaan yang sangat sulit.

Pemicu kegagapan beragam penyebabnya, dugaan bisa terjadi karena keturunan maupun lingkungan tempat tinggalnya. Misalnya, orang tua atau guru yang otoriter, suka menuntut dan tidak menerapkan disiplin positif bisa mempengaruhi timbulnya kelainan wicara ini.

Jika dilihat dari teori semantik, ada yang mengatakan bahwa gagap bukan dimulai dari mulut anak akan tetapi dari mulut orang tuanya. Hal yang biasa ketika anak baru lancar belajar bicara, ia akan mela pengulangan atau memperpanjang awal suku kata, apalagi jika ia tergesa-gesa. Nah, disini orang tua tanpa sadar terburu-buru menuntut anak untuk segera bicara dengan tatanan yang benar. Perlakuan seperti ini dapat memantik anak ke arah gagap.

Ada pula yang mengatakan, bahwa gagap akan muncul jika ada masalah psikologis pada anak. Terjadinya pertentangan dalam diri anak karena pengalaman kurang menyenangkan (trauma). Misalnya, ada yang sering mengkritik suaranya tak enak didengar. Akibatnya anak beranggapan bahwa suaranya jelek dan tak ada yang mau mendengarkannya, sehingga mengalami conflict reinforcement untuk berbicara atau tidak.

Waspadai gejalanya, dan segera lakukan tindakan untuk menolongnya. Gejala kegagapan ada bermacam-macam.

A. Gejala yang tampak (over symptom), yaitu :

1. Gejala primer, yaitu terjadi pengulangan, perpanjangan atau tersandung pada awal kata.

2. Gejala sekunder (penyerta), yaitu gejala penyerta, terbentuknya pola-pola sebelum mulai bicara, diiringi dengan gerakan-gerakan seperti mengetuk meja/bidang, menggoyangkan kaki atau kepala, memainkan rambut dan lain sebagainya.

B. Gejala tak tampak (cover symptom)

Gejala emosional, artinya gejala akibat frustasi, takut berkata-kata, takut situasi tertentu, takut orang, pemalu, cemas, rendah diri dan masih banyak lagi.
Jika anak menunjukkan tanda-tanda gejala ini, artinya penderita telah memasuki tahap kegagapan tingkat kedua.

Ada dua tingkatan kegagapan yaitu :

1. Gagap tahap pertama (primary stuttering)

Kegagapan tingkat ini masih lebih mudah disembuhkan dibandingkan dengan tahap yang kedua.

2. Gagap tahap kedua (secondary stuttering)

Kegagapan di tahapan ini, penderita sudah mengalami kecemasan, takut, tidak percaya diri, dengan diiringi gejala sekunder lainnya seperti  yang telah disebutkan di atas. Seperti, mata yang selalu berkedip-kedip, mengetuk-ngetuk meja, menggoyang-goyangkan kepala, tangan yang tak bisa dia memainkan ujung rambut dan lain-lain.

Wajar dan sangat dipahami, jika gagap pada anak memang membuat cemas, geram sekaligus malu ayah dan bunda. Tuntutan dan pertanyaan dari lingkungan sekitar tentu akan membuat tekanan tersendiri pada batin Anda. Berpura-pura baik saja seolah tidak ada masalah yang berarti juga bukan pilihan bijaksana. Justru malah akan menambah masalah.

Apapun yang terjadi, satukan tekad, berkomunikasi lebih intens serta kuatkan ikatan emosional antar anggota keluarga untuk mendukung si buah hati melalui apa yang dialaminya. Yakinlah, Anda tidak sendiri dan selalu ada jalan keluar pada tiap masalah.

Setelah mengenal gejala-gejala gangguan bicara tersebut, pasti ingin tahu kan bagaimana membantu anak mengatasi gagapnya? Baik, ditunggu ya ditulisan selanjutnya. Pastikan esok datang berkunjung kembali. Sampai jumpa!


Sumber Referensi :

Kliping Artikel Psikologi Anak. Majalah Intisari. 1996

Serta, diolah dari berbagai sumber lainnya

Sumber Foto :

Google, Kissclipart


You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum