Tampilkan postingan dengan label Celoteh Ibun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Ibun. Tampilkan semua postingan

Mengingat Maut

Jumat, 18 Oktober 2019



Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Al Imron : 185).

Satu lagi pelajaran kematian datang hari ini. Kabar kematian yang harus aku akui, meski sisi hati lain bersedih, namun ruang sebelahnya menyisakan kebahagiaan. Di sudut lainnya, aku sungguh-sungguh iri hati. Sebagian dari kalian pasti sudah mampu menduganya.

Kabar lelayu itu datang tadi pagi nyaris menjelang siang, sebelum jamaah salat Jumat berangsur datang. Awalnya aku hanya selintasan dalam pikiran berkata, " Oh, yang semalam kabar digrup Whatsapp kalau beliau dilarikan di rumah sakit". Tak ada firasat, meski aku baca sampai tuntas kalimat pemberitahuan yang cukup panjang malam itu.

Pengurus masjid kompleks sudah memberikan pengumuman jika pemakaian besok pagi. Namun, kenyataannya setelah aku berada di Semarang bawah karena satu janji dan kepentingan di satu tempat. Berita pemakaman sudah diralat, jika ditetapkan jenazah akan dikebumikan sore hari ini. Baiklah aku bergegas menyelesaikan segela urusanku, dan melaju pulang.

Puji syukur, Alhamdulillah aku masih belum terlambat datang ke rumah duka. Tetamu silih berganti berdatangan, sebagian besar bapak-bapak memilih tinggal. Bergabung bersama yang lainnya, beberapa tampak saling mendekat dan mendukung bergantian mengusung keranda. Beberapa diantaranya tertunduk, mendengarkan tausiah singkat sebelum jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan.

Begitu banyak tamu. Aku makin yakin, tetanggaku ini pasti tidak "biasa-biasa" saja. Aku mengenalnya memang beliau jarang sekali absen berjamaah di masjid. Termasuk salah satu takmir yang aktif serta memiliki kekhasan khotbah beliau biasanya lebih "dekat" dengan kehidupan sehari-hari. Menyasar anak-anak dan remaja untuk aktif mendekati dan mencintai masjid.

Di atas aku sudah sampaikan jika ini salah satu kematian yang membuatku iri. Sebab, menurut saksi mata semalam. Beliau sedang pengajian di masjid, sedang berdiri bersama jamaah lain melantunkan puji-pujian shalawat kepada Nabi. Tiba-tiba, beliau terhuyung jatuh dan terduduk. Jamaah yang berada didekatnya mencoba menolongnya, namun nihil.
Hingga, akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ICU. 

Ternyata Allah begitu sayang hingga tepat sebelum salat Jumat dimulai dipanggil pulang ke Rahmatullah. Ya sebuah hal yang tak bisa sembarang orang mendapatkan anugerah ini. Pun saat terakhir ia masih dalam aktifitas mengaji, mengagung-agungkan Allah dan Rasul-Nya Nikmat mana lagi jika sudah begini akhir ceritanya.
Hari yang begitu istimewa buat umat Islam, terutama bagi prianya. Keutamaannya berlipat-lipat dibandingkan hari biasa. Hari Jumat yang penuh berkah, Allah memanggil-Nya pulang.

Kematian adalah pelajaran paling nyata dan bekerja dengan sangat rahasia. Kapan, dimana, seperti apa cara kita kembali. Tak ada celah pasti yang mampu kita curi, kecuali men-tadabburi tiap peristiwa dan mengambil sari pati hikmah untuk dipelajari.

Tidak ada satupun jiwa yang mengetahui di belahan bumi mana dia akan meninggal. (QS. Luqman: 34).

Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

Tak salah bukan jika hatiku sedih dan iri menyaksikan kepulangan yang begitu indah?

Semoga hati dan ruh-ku senantiasa mengingat maut, yang kapan saja bisa datang menjemput. Tiada boleh ada celah pongah. Berdoa dan mengingat maut, memohon agar hati selalu diberikan kekuatan terjaga hingga mampu menemui-Nya dengan bahagia.

Sekali lagi, peristiwa tandu berkelambu hijau yang diangkat menuju masjid. Disalatkan dengan khusyuk oleh para pengantar yang tak sedikit jumlahnya. Mengingatkan kembali padaku tentang hakikat kematian. 

Kematian hanyalah ketiadaan hidup di dunia. Sesungguhnya ruh tetap hidup dengan cara yang tak bisa dijangkau lagi oleh pengetahuan kita yang sangat terbatas.

Sumber Referensi :

https://konsultasisyariah.com/24243-meninggal-malam-jumat-jaminan-aman-dari-siksa-kubur.html
Read More

Langit yang Menahannya

Senin, 14 Oktober 2019


Saat beberapa hari harus ikhlas, raga terbaring menikmati jatah istirahatnya. Menghentikan sejenak lalu lintas dunia maya, dan tetap mengaktifkan sedikit dunia nyata. Aku buka catatan-catatan lama yang sengaja memang aku simpan dalam wadah khusus. Sesekali jika ada waktu luang, aku buka dan baca kembali mengulang sejarah peradaban diri.

Bagi sebagian orang, kenangan ada yang enggan disimpan, terutama kenang buruk dan kesedihan. Namun, bagiku semua itu sama saja pada akhirnya. Ketika sudah melewati masa itu, kita akan menertawai nya dengan sukacita. Masih ingat bukan? Tak ada paket kesedihan yang abadi, begitu juga kebahagiaan, kejayaan.

Hidup adalah tentang keseimbangan. Bagaimana kita mengayuhnya dengan kebijaksanaan agar hidup terus berkembang penuh kemanfaatan. Sebagai salah satu ikhtiar keabadian.

Meski aku nggak yakin apa yang aku temukan dicatatan lama itu, ada hubungannya dengan kebijaksanaan seperti yang aku sampaikan tadi.

***

Ditemukan sebuah kisah coretan suara hati seorang mahasiswi yang tengah disandera gulana. Ketika seorang "lelaki tak biasa" kakak tingkat dengan sengaja "menepati janjinya" ikut dikelas gabungan yang jelas dosen dikelas itu bukan untuk kelasnya.

Mahasiswi tiga tingkat dibawahnya ini beberapa bulan  sebelumnya memang tampak sering terlibat diskusi cukup berat. Disela-sela bahasan rapat-rapat kemahasiswaan, civitas akademika, situasi negeri sampai dimana 'HIK' enak yang bisa dikunjungi menjelang pagi. Mereka acapkali terhanyut bicara tentang syariat hingga hakikat. 

Apa mau dikata belajar ilmu psikologi saja sudah penuh dengan ilmu filsafat, ditambah si lelaki yang memang ambil double program (twinning) dengan 'Ushuluddin'. Bak gayung bersambut mereka saling berbagi ilmu dalam tataran masing-masing, tentu tidak sendiri. Teman-teman lain pasti ikut bergabung ikut ramai, meski sekedar urun sorak sorai, bertepuk tangan atau duduk dipinggiran mengadu jemari dengan janggutnya.

Hingga, entah kapan bermula semua diskusi itu mulai memantik sedikit rasa. Si lelaki meminta ijin untuk 'tinggal', tapi si mahasiswi masih ragu membukakan pintunya. Ia masih selalu teringat pesan sang ibu, "Ikhtiarmu adalah berteman baik dengan siapa saja, lalu berdoa dan tawakal serahkan siapa yang terbaik menurut-Nya, yang jalan usaha dan doanya dikuatkan mendekati kamu".


Hadirmu datang tiba-tiba
Surut napas belum tuntas
Kau sergap dengan genap,
Lalu tenang

Menakar jangka dibawa duli Tuanku
Ku sebar tanyaku akan kedatanganmu
Inikah takdir-Mu
Inikah tanduku menuju-Mu

Dimana letak cinta berada
Dalam indah karya surga dibening sepasang mata

Atau kau hanya ingin singgah dan tak berlabuh
Masih dalam tanyaku
Menari aku
...

Aku tak akan menahanmu

Surakarta, 14 Mei 2002
(8.15 WIB/Studi Islam III/AII3)

***

Aku memahami jika aliran rasa mereka berdua tak saling bertahan, mereka saling memberikan peluang. Hanya saja, kehendak pencipta melebihi segalanya. Langit menahannya melalu berbagai pertanda, agar semua tetap indah hingga akhir ceritanya.


Read More

Aku dan Cinta Pertamaku

Sabtu, 12 Oktober 2019


"Saya ini korban, orang tua yang tidak bertanggungjawab. Ayah saya pergi entah kemana sejak saya dilahirkan. Nggak pernah mencari saya sampai saya setua ini. Cerita saya ini yang saya selalu bagi pada murid-murid, agar mereka tak berkecil hati", ujar seorang bapak berseragam safari coklat muda cerah. Dugaanku, beliau duduk diantara para undangan dikelompok kepangkatan dan usia yang setara dengannya. Dibelakangnya duduk para pendidik yang relatif lebih muda, bertepuk tangan sambil tersenyum lebar mendengar cerita si bapak tadi.

Tak lama setelah sesi tanya jawab dimulai, beradu pendapat dan berdiskusi. Salah satu moderator tanpa diduga menceritakan sebuah fakta yang membuat semua tamu undangan terdiam. Ia dengan lantang membuat pernyataan, "Saya ini pernah sangat membenci bapak saya hingga ingin membunuh bapak saya. Saat itu saya dihajar bapak, katanya demi disipilin tapi kenyataannya...". Kalimat itu mengalir panjang dari mulutnya, aku menangkap sisa-sisa kemarahan yang masih nyata.

Beberapa waktu lalu aku dan rekanku, mewakili komunitas parenting Ibu Profesional Semarang berkesempatan hadir memenuhi undangan disebuah acara sosialisasi program. Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang, itu memunculkan banyak insight.

Dua pernyataan di atas, merupakan contoh betapa ayah sekali lagi memegang peranan penting dalam hidup seorang anak. Bekas lukanya tak akan pernah bisa sembuh begitu saja.

Aku pun juga demikian, ada satu kesalahan perlakuan papa yang hingga kini masih melekat erat dalam diri. Meskipun tak sampai mendendam, akibat luka batin itu tapi hingga kini dampaknya masih harus terus aku lawan. Walaupun kejadian itu hanya dilakukan sekali tapi sangat kelam membekas dalam alam bawah sadar. Papa saat aku konfirmasipun  nggak sadar telah menorehkan  luka  itu. Beruntung  dengan dukungan mama aku mampu  coping dengan pengalaman buruk itu. Papa pun mengakui bahwa dulu selagi muda memang beliau begitu emosional dan ternyata beliau juga terperangkap oleh luka-luka batin masa lalu (inner child).

Singkatnya, pengalaman itu malah jadi titik balik gagasan utama bahan penelitian saat skripsi; peran ayah dalam keluarga. Aku sampaikan ke papa, latar belakang dan harapanku waktu itu mengapa ingin meneliti itu. Beliau merestui dan siap mendukung. Alhamdulillah.

Lalu, pertanyaan yang kemudian terus menggangguku hingga kini  bagaimana nasib anak yang tak bisa keluar dari "luka-lukanya? Tak mendapatkan pengakuan selayaknya? Lantas terpaksa menerima label buruk jika ia tanpa sadar ingin menggenapi perasaan kosong  dan terluka dalam dirinya? Sedihnya lingkungan sekitar pun seringkali abai padanya.

***

Papa menjadi andalan utama untuk diskusi sebelum aku mencari orang lain untuk kudengar opininya, mengenalkanku pada rutinitas menonton Dunia dalam Berita atau membaca koran. Beliau juga yang mengenalkan aku bahwa tidak akan menurunkan harga diri laki-laki jika membantu pekerjaan rumah tangga. Papa menyetrika, menyapu, mencuci piring, dilakukan dengan ringan utamanya jika mama masih repot mengerjakan pekerjaan lain.

Sampai saat ini, ketika kami tiga bersaudara sudah menikah dan harus berpisah kota. Pulang ke rumah papa mama adalah definisi pulang yang sebenarnya. Melepaskan penat, berbagi cerita dan harapan, dan banyak hal. Seperti tiga hari lalu, lepas menghadiri undangan acara itu aku langsung pamit pulang kampung.

Nah, benar saja kami terlibat banyak obrolan disana. Sebulan jeda tak bersua, karena memang wajib kunjung terakhir beberapa bulan lalu. Disatu sesi obrolan kami, ada dua nasihat yang melekat.

Pertama, "Kita semua ini akan tiba pada masa seperti bagaimana niat dan usaha kita awalnya. Bagaimana dan apa yang kita tabur ya itu yang kita petik dan panen".

Kalau mau anak dekat ya harus rela mendekatkan jarak sama anak. Nggak ada orang tua yang sempurna, yang ada bagaimana jadi orang tua yang harus mau belajar terus mendekati kesempurnaan.

Kedua, "Kakang kawah adi ari-ari".

Aku tersenyum demi jiwa yang berbunga-bunga mendengar siraman rohani disela-sela diskusi  pagi itu. Betul kiranya jika ayah adalah cinta pertama putrinya sekaligus orang yang pertama kali mengenalkan patah hati padanya. Jika tak berhati-hati pada hati si tuan putri.

Bagi anak lelaki, ayah akan menjelma menjadi super idola, pahlawan andalannya. Figur teladan yang akan ditirunya bagaimana ia harus bersikap menjadi pria sesungguhnya. 

Eh, teman-teman  ada yang tahu apa arti nasihat kedua? Ayo, boleh dong dibisikkan ke yang lainnya apa makna pepatah Jawa itu?



Read More

Kesempatan Kedua

Senin, 30 September 2019



Awal tahun Hijriyah ini memang sungguh luar biasa. Allah menitipkan banyak pelajaran berharga. Sekolah kehidupan yang kurikulumnya disusun langsung oleh pemilik ilmu Yang Maha Luas.

Salah satunya adalah pelajaran yang diambil dari hikmah kematian dan rasa sakit. Kedua hal ini tak pernah berhenti memberikan pelajaran yang tak ternilai materi harganya.

Apa yang lebih pasti dan tak pernah ingkar janji? Ya, kematian dan malaikat pencabut nyawa. Kita nggak pernah mengerti bahwa tiap detik yang kita habiskan entah diujung mana kita selalu diawasinya. Bisa saat ini, bisa nanti. Bisa besok, atau bisa jadi tak ada hari esok. Mati tak harus menunggu tua bukan?

Sudahlah aku tak akan bicara soalnya kematian hari ini. Masih cukup berat aku mengenang salah satu anak ideologisku yang telah berpulang beberapa minggu lalu. Aku ingin bercerita tentang hikmah sakit yang aku pelajari dari tetangga sekaligus juga kakak, saudari ideologis yang beberapa waktu lalu divonis sakit kanker. Tanpa pertanda apa-apa sebelumnya, jelas membuat kami semua yang mendengar terperangah.

Beberapa hari sebelumnya masih tertawa, bercengkerama, bicara tentang impian ini dan itu. Beliau yang ceria, mobilitas tinggi, ide yang selalu cemerlang membuat kami juga ikut mencerna dan merasakan aura keaktifannya. Tiba-tiba mendapatkan vonis yang aku rasa bagi semua wanita tak ingin mendengar atau mengalaminya. Kanker rahim dan fakta bahwa rahim harus diangkat karena diameter kanker sudah mencapai 11 centimeter. Sungguh kami yang mendengar hanya mampu terbelalak. Kanker telah mendesak organ lain, hingga terjadi perlengketan pada usus atau organ pencernaannya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang terjadi jika aku berada diposisi beliau. Langit mungkin serasa runtuh!

Namun, sebagai mukmin aku wajib pahami, bahwa sakit juga nikmat sekaligus rahmat. Terkadang cara Allah sayang pada hamba-Nya tak pernah terbayangkan dari mana datangnya. Kadang semua datang begitu cepat tanpa pertanda, hingga membuat kita terjeda sementara untuk bisa menerima. Kita terjebak pada praduga. Jarak kita mampu menerima pasti berbeda tiap manusia. Namun, ternyata jika kita mampu menyelaraskan logika, perasaan dan keimanan. Semua itu tak lain adalah hadiah langit untuk kita.

Aku pribadi percaya setiap kita diberikan sebuah ujian, apapun itu bentuknya, pasti selalu ada hikmahnya. Termasuk bahwa Allah sebenarnya selalu memberikan kesempatan kedua. Kesempatan untuk kita selalu pulang pada-Nya dengan cara terbaik kita sebagai hamba.

Kesempatan mengosongkan bejana dosa yang telah lama berlumut atau berkarat untuk dibersihkan seperti pada awalnya. Syaratnya kita harus mampu mengambil hikmah dari pelajaran yang Allah berikan itu.

Hikmah dan pelajaran sakit yang diturunkan pada kita, adalah sebagai berikut :

1. Sabar


Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas" (AZ Zumar : 10).

Sabar adalah pelajaran paling awal yang harus kita praktekkan. Memang nggak mudah, namun janji Allah itu pasti.

2. Syukur


"Dua nikmat yang membuat manusia banyak terpedaya olehnya : nikmat sehat dan waktu kurang" (HR. Bukhari No. 6412 ).

Saat sakit datang, inilah saatnya kita lebih melipatgandakan syukur. Begitu banyak hal yang sering kita tunda, alih-alih merasa  sehat dan memiliki cukup waktu. Padahal sedetik waktu yang ada di depan kita merupakan rahasia-Nya.

3. Introspeksi


"Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati" (Al An'aam : 42).

Allah senang hamba-Nya datang dengan hati yang tunduk. Membawa kehadapan-Nya, bergunung-gunung harapan juga doa.

4. Menghapus Dosa


"Tidaklah seorang mukmin, tertimpa rasa sakit, rasa capek, kekhawatiran, sedih, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pada duri yang menusuknya, itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya" (HR. Bukhari No. 5641 dan Muslim No. 2573).

Sakit adalah penggugur dosa-dosa. Setelah mampu memaknai poin pertama hingga ketiga, Allah akan lunasi dengan menjadikan ruh kita kembali suci.

5. Berdoa


Doa itu bukan memberitahu Allah akan hajatmu, karena Allah Maha Tahu. Juga, bukan meminta, karena Allah Maha Pemurah memberi tanpa diminta. Namun, doa hanyalah menunjukkan keperluanmu kepada-Nya, karena Allah Maha Kaya dan suka mendengar hamba-Nya yang menunjukkan kefakirannya (Syeikh Rohimuddin Nawawi).

Ada sebuah cerita berhikmah tentang sakitnya seorang hamba, diriwayatkan oleh Abu Imamah Al Bahili yang mengutip Sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassalam. Saat seorang hamba jatuh sakit, Allah akan mengutus empat malaikat-Nya dengan tiga yang berbeda-beda.

Malaikat#1, Allah perintahkan kepadanya untuk mencabut kekuatan tubuhnya, dijadikannya lemah tak berdaya.

Malaikat#2, Allah perintahkan kepadanya mencabut nikmat lezat dari lidahnya, hingga lidah kelu dan pahit saat mencecap rasa.

Malaikat#3, perintah yang diterimanya adalah mencabut sinar kecerahan wajahnya, hingga ia pun memucat.

Malaikat#4, ia diperintahkan untuk mencabut dosa-dosa hamba tersebut. Hingga, ia berada dalam kondisi suci dari dosa.

Lalu, saat sang hamba ini menjelang waktu disembuhkan Allah perintahkan para malaikat ini untuk mengembalikan semua yang telah diambilnya. Kecuali, malaikat keempat.

Maka, bersujudlah ia dan memberanikan diri bertanya. "Ya, Allah, mengapa Engkau tidak perintahkan aku untuk mengembalikan dosa-dosa ini kepada hamba-Mu itu?."

Allah menjawab, "Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosa hamba-Ku, setelah Aku menyulitkannya ketika sakit."

Malaikat bertanya lagi, "Kemanakah dosa-dosa ini hari aku simpan, Ya Rabb?"

"Pergilah dan buanglah dosa-dosa itu ke dalam lautan!", perintah Allah kepada malaikat keempat.

Lihatlah nikmat mana lagi yang kita dustakan?  Allah begitu mencintai ciptaan-Nya  yang bernama manusia. Ciptaan yang paling sering khilaf dan lupa. Berbuat zalim pada dirinya dan sekitarnya.
Namun Allah selalu buka kesempatan kedua untuk m kembali, memperbaiki kualitas diri agar saat kita kembali tak ada yang disesali.

Jika Allah masih sayang pada kita, Allah akan memanggil kita lagi dan lagi. Kita yang harus sadar dan berupaya agar tak berpaling lagi dari-Nya.

"Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti" (Imam Syafi'i).

Begitulah teman, selalu ada kesempatan kedua bagi kita yang mau mencoba mencari rida-Nya.
Saat Tuhan masih menghadirkan sakit, perasaan kelelahan yang tiba-tiba menyergap. Atau, ketika kita merasa seperti aral gendala terus saja datang menguji. Lalu, kita didera kejenuhan pada hingar bingar dunia.

Maka itulah waktu  Allah datang menitipkan rindu. Dia rindu ramainya doa-doa yang kita panjatkan sebagai penanda kita seorang hamba.

Permasalahan akankah kesempatan kedua itu harus diambil atau tidak? Jawabannya silahkan direnungkan dan disimpan pada relung hati kita masing-masing.

Kisah ini adalah secuil hikmah yang bisa aku ambil intisarinya, dan ingin aku bagi. Semoga bermanfaat agar kita lebih bijak bersiasat dengan waktu serta kesehatan. Sebelum pintu kesempatan itu benar-benar terkunci rapat.

============================
Teruntuk kakanda Dyah Erawati Anggraini, tulisan ini adinda persembahankan untukmu. Semangat sehat untuk kembali bersama kami meniti hari-hari.

Terima kasih sudah memberikan begitu banyak pelajaran pada kami. Tentang arti cinta dan kesempatan kedua. Love you 3000 and more!

Sumber referensi :

https://www.google.com/amp/s/www.islampos.com/34784-34784/amp/

Read More

Review : Bumi Manusia Bukan Film Cinta Biasa

Jumat, 20 September 2019

Sejak keluar dari pintu teater lepas menonton film Bumi Manusia bersama dua adinda kesayanganku, otak rasanya susah sekali move on. Kata-kata berlompatan tak karuan ingin ditangkap jadi sebuah tulisan. Alhasil sampai di rumah, kucoba coret sana sini menumpahkan semua riang gelisah hati.  Sebelum film ini tayang memang sudah kasak-kusuk dengan diajeng Ririt harus diagendakan nonton dua film Hanung Bramantyo, Bumi Manusia dan Perburuan. Sedihnya, entah kenapa meski tayang dibioskop kesayangan dalam waktu yang bersamaan, film Perburuan harus turun layar lebih awal. Alhasil keinginan nonton film Bumi Manusia pun makin kencang takut kalah start lagi, alhamdulillah akhirnya agenda itu tercapai juga malah nggak cuma berdua tapi Ndan Hessa juga ikut serta. Padahal baru saja mendarat pagi buta di Semarang.  Semua drama pagi hari yang melingkupi kami untuk sampai di XXI seperti bumbu pelengkap nkmat yang kami rasakan hingga sore hari itu. Lupa waktu...lupa alarm...maunya perpanjangan melulu kalau sudah ketemu he..he..he

Aku pikir hari senin siang itu hanya akan ada beberapa gelintir orang yang bakal menduduki barisan kursi merah itu. Namun, sejak di lobby aku sengaja memperhatikan muda-mudi yang antri. Ternyata mereka membeli tiket untuk teater dua, tempat kami nonton film Bumi Manusia. Berasa sudah merinding..deg..deg..serr.. Tiba saat pintu teater dibuka dan kami bergiliran masuk, betul prakiraanku cukup banyak yang berjejer di sana. Kusebar pandanganku mencoba memindai wajah-wajah yang sudah duduk lebih dulu. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, hanya ingin memastikan lebih 
banyak angkatanku atau angkatan muda yang jadi penonton siang itu.

Tiket Nonton Bumi Manusia - Foto : Dok. Pribadi

Tim Ga-Lon Waktu Itu - Foto : Dok. Pribadi

Aku memang sudah lama menunggu film ini tayang, sejak tahu kabar bahwa Mas Hanung sedang mulai proses produksi film Bumi Manusia. Ku ikuti jejak-jejaknya di laman instagram pribadinya, aku bukan penggemar fanatik tapi jujur aku suka dan menikmati caranya menerjemahkan kata dalam laku visual. Aku bilang sih tiap karyanya ada aroma “kemerdekaan”, meski memang kalkulasi pasar atau industri juga harus dipertimbangkan. Siapa sih yang mau menanggung rugi? Lepas kemudian ada pro dan kontra dari karya-karyanya, aku anggap itu mah biasa. Susah kali menyenangkan semua pihak, ya kan? Manusia juga kalau nggak ada kritik dan saran kapan majunya? Terbukti pada film ini pada akhirnya upaya gila sutradara muda nusantara ini berhasil menyuguhkan karya yang luar biasa.

Seperti teman kencan nontonku siang itu, aku benar-benar berniat mengosongkan gelasnya. Rekaman satu-satunya tentang Bumi Manusia adalah novel yang tak pernah sempat aku selesaikan. Bagiku Bumi Manusia tak sekedar novel, ada banyak jalan refleksi saat membacanya. Novel Bumi Manusia termasuk dalam ‘Tetralogi Buru’, tiga judul lainnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Aku yang saat itu masih impulsif takut terjebak dalam pemikiran liar khas mahasiswa yang berkobar-kobar. Aku lupa entah aku pinjam buku itu dari mana? Perpustakaan atau dari teman pergerakan waktu itu, yang aku ingat aku berhenti karena tidak menemukan teman diskusi. Hingga aku tak pernah menghabiskan buku itu.

Mengapa Tertralogi Buru? Konon pak Pram menulis “anak-anak rohaninya” ini saat dibuang di kepulauan Maluku, Pulau Buru pada tahun 1969 – 1979. Selama sepuluh tahun itu, beliau terus menulis untuk mencari jejak-jejak jawaban bagaimana terus menjadi Indonesia. Novel Bumi Manusia sudah semacam legenda atau kitab saksi sejarah bangsa ini, dengan semua kontroversinya yang menggiring opini bahwa pak Pramoedya Ananta Toer adalah golongan kiri.

Poster Bumi Manusia - Foto : Falcon Picture
Inilah review sederhanaku, sudut pandang dan perasaanku. Mungkin tak selengkap, ulasan teman-teman lain yang juga sudah lebih dulu menulis tentang film Bumi Manusia.

Pemutaran film dimulai, sebuah awal yang buat aku takjub.  Kulihat dan kubaca narasi dilayar besar didepanku. Semua penonton diharapkan berdiri untuk bersama menyanyikan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya. Ragu, takut dibilang sok nasionalis sontak aku tengok dua rekanku kami saling bertukar pandang.  Pemuda didepan kami tampak tak ragu berdiri, kemudian lantang menyanyi dengan suara bulat juga berat, tangan kanannya tampak memegang dada sebelah kiri tepat dijantungnya. Aku tak bisa menahan haru, Tuhan masih begitu banyak cinta untuk Indonesia meski berulang kali cinta kami diuji dan porak poranda. Semua kusyuk menyanyi, meresapi magisnya tiap lirik lagu kebanggaan negeri.

Selesai kami bernyanyi, dan duduk kembali.  Mulailah kami dibawa ke lorong waktu semasa Minke hidup. Masa penjajahan, tayangan hitam putih memandu imajinasi kami ke masa itu dan diiringi suara Minke menjadi pembukanya. Minke adalah nama hinaan yang berasal dari kata monkey alias monyet. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, itulah nama sebenarnya. Seorang anak bupati, priyayi pribumi, bangsawan, karenanya ia bisa bersekolah di H.B.S seperti anak Belanda lainnya. Itu juga yang membuatnya fasih berbahasa Belanda dan akrab dengan Robert Suurhof. Minke adalah pemuda yang memiliki kepintaran diatas rata-rata, cakap, punya wawasan yang luas,  dan suka menulis. Modern dimasanya begitulah kira-kira jika diterjemahkan sederhana. Ia sering mengirim tulisan pemikirannya pada media.Cita-citanya menajdi manusia merdeka, tidak diperintah dan juga tidak memerintah.

Kisah percintaan Minke  berawal dari ajakan Suurhof untuk datang ke rumah keluarga Herman Mellema. Orang Belanda yang kaya raya pemilik berhektar-hektar lahan pertanian dan juga peternakan. Di ‘istana’ keluarga Mellema ini Minke bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengubah cerita hidupnya. Annelies Mellema dan ibunya, Nyai Ontosoroh yang merupakan perempuan asli Jawa, gundik Herman Mellema. Perempuan Jawa tulen yang dikenal tak mengenyam pendidikan formal namun memiliki tekad perlawanan. Sebuah simbolisasi  kondisi perlawanan kaum perempuan saat itu yang menginginkan perubahan dan kesetaraan. 

Salah satu mantra yang bisa didapat di Bumi Manusia - Suumber Foto : Falcon

Sepanjang 181 menit berjalan, penonton bak menemukan harta karun berupa mantra-mantra kata bijaksana. Nyaris semua kata-kata layak dikutip. Seperti menemukan ladang emas yang siap ditambang. Kekuatan lain dari film ini adalah chemistry yang dibangun dan diperankan cukup apik oleh para pemain. Pemeran Minke (Iqbaal Ramadhan) , Ibundanya (Ayu Laksmi), Annelies Mellema (Mawar Eva De Jongh), Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), Jean Marais (Hans de Kraker), Robert Suurhof (Jerome Kurnia) dan Darsam (Whani Darmawan).  Semua terasa sudah totalitas dalam memerankan karakternya, meski ya tetap ada catatan-catatan kecil yang nggak luput dari penglihatanku. Seperti akting Iqbaal Ramadhan yang masih terasa “setengah matang” memasukkan emosi dan ‘ruh’ sebagai Minke dan yang paling menggangguku sekaligus bertanya-tanya adalah  peran Christian Sugiono sebagai Kommer. Terasa nggak ada gregetnya, padahal sebenarnya dalam cerita dia lihai berorasi dan cakap menulis.

Beruntung sekali, dan memang andalanku sejak awal datang menonton film ini adalah ingin dimanja dengan akting Sha Ine Febriyanti. Sesuai ekspektasi, mataku terbelalak dadaku detaknya bergelegak tiap kali ia bersuara dan mengekpresikan sebagai wanita yang harus kuat meski terinjak-injak. Melawan dengan segala kekuatan untuk menyelamatkan harga diri yang tersisa sebagai perempuan Jawa,  manusia.  Dua peran lain yang menjadi perhatianku dan patur diapresiasi dalah Ayu Laksmi yang berperan sebagai ibu Minke dan pemeran Darsam yaitu Whani Darmawan. Beliau sukses melahap perannya. Suara ibu yang berwibawa, logat Jawa yang kental namun memancarkan aura yang begitu besar. Begitu juga dengan Darsam,  pria kepercayaan Nyai Ontosoroh berperawakan sangar dan aksen logat Madura yang kental.

Akting Sha Ine Febriyanti yang luar biasa - Foto : Falcon

Hanung sebagai sutradara dan Salman Aristo boleh dibilang sukses menerjemahkan alam kata-kata yang sedemikian indah ditulis oleh pak Pram dan mengantarkan kepada dunia visual dengan segala macam ekspektasinya. Meski telah diupayakan menyajikan dalam fragmen-fragmen, tetap saja Hanung tampak kesulitan menerjemahkannya dalam bahasa gambar. Banyak hal yang tidak dijelaskan di dalam film ini.

Banyak yang bilang karya-karya pak Pram tak layak divisualisasikam, bukan karena buruk namun takut mengurangi kebesaran novel fenomenalnya. Namun, alangkah egois jika kita tak berusaha mendekatkan para pemuda yang mulai lengah  pada kearifan budaya dan pengetahuan tentang sastra besar Indonesia.  Sebagai sutradara, Hanung Bramantyo sangat memperhatikan segala detail yang dibutuhkan dalam menghidupkan film ini. Memang ada beberapa yang kurang karena harus mereduksi beberapa hal disana sini namun tetap harus kita rayakan. Boleh aku bilang ini karya besar  dalam sejarah dunia perfilman Indonesia.
Menonton film ini harus dengan pikiran dewasa dan hati terbuka, tak sebanding memang jika kita membandingkan dengan kepuasan membaca novelnya. Tataran media imajinasinya saja sudah beda.
Sebagai penutup ada satu kutipan diakhir scene fim ini yang bikin pecah! Kalimat ini menurutku sukses mengantar penonton menuju klimaks.

“Kita sudah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya”

Lalu lagu  Ibu Pertiwi menggema sebagai latar suara penutup. Rasanya khidmat yang tidak bisa lagi kuungkap. Hanya rasa haru yang tiba-tiba pecah dan berhamburan menuju sebuah negeri antah berantah. Sebuah negeri yang sebenarnya begitu dirindukan.

Terakhir aku ingin titipkan, pesan lain yang kurajut dari menonton film Bumi Manusia ini.
Apapun yang telah kita upayakan ataupun menolak hanya diam dan puas menerima adalah sebuah kesederhanaan yang megah. Terus berusaha merdeka adalah sebuah kemewahan bagi jiwa.

Read More

Kenapa Masih Suka Dengarkan Radio? Alasan Radio Masih Jadi Teman Sejati Hingga Kini

Kamis, 19 September 2019

Lama aku terpisah
Dari dirinya
Sekian lama

Lama sudah berlalu
Tapi jejaknya
Tertanam slamanya

Dia slalu ada
Di dalam doa
Terselip nama
Di dalam doa

Lewat radio aku sampaikan
Kerinduan yang lama terpendam
Terus mencari biar musim berganti
Radio cerahkan hidupnya
Jika hingga nanti ku tak bisa
Menemukan hatinya
Menemukan hatinya
Menemukan hatinya lagi

Lama sudah berlalu
Tapi jejaknya
Tertanam slamanya

Dia sgalanya bagiku
Dia sgalanya bagiku
Apa yang terjadi jika ku gagal menemukannya

Lewat radio…

Radio Kenangan Kado dari Papa Waktu Masih Sekolah Dulu/ Dokumentasi Pribadi

Nggak asing ya sama lagu di atas? Lagu yang masih saja sering diputar ulang hingga sekarang. Milik Sheila On 7, judulnya Radio, single yang dirilis tahun 2006. Bukan mau bahas kiat sukses band legends ini berhasil terus eksis menembus batas generasi. Tapi, penasaran ingin tahu masih ada nggak sih yang tiap harinya suka dengar radio? Jujur aku agak ragu sih anak ‘zaman now’ apa iya masih suka sama hal klasik macam begini.

Era serba digital yang menjadikan segala akses kemudahan tentu saja membuat ‘penggemar’ radio makin susut. Orang mulai berpindah haluan dari media sosial paling tua ini. Internet memang menggeser pola perilaku dan minat masyarakat.

Meski begitu banyak yang mengatakan radio nggak bakal mati karena banyak yang menanti. Ya, paling tidak waktu berkendara masuk mobil kalau bosan dengan MP3 di-playlist pasti pilihannya menyalakan radio.  Radio pun pada akhirnya memang harus melakukan berbagai transformasi, mulai dari channel radio streaming hingga menyasar pada aplikasi. 

Foto : Pixabay

Mungkin sebagian anak muda generasi millenial nggak tahu nikmatnya jadi pendengar radio di era kejayaannya. Tapi buat aku dan atau teman-teman lain sebaya (takut kalau dibaca tua iih..) yang lahir antara tahun 1980-1990-an pasti paham kisah klasik yang asyik ini. Sebagai manusia yang menghabiskan masa remaja di era 90-an, seangkatan sama Dilan, radio jadi kenangan cerita yang sederhana namun manis. Persis kayak situasi yang digambarkan lewat lirik lagu Sheila On 7 di atas. Peran radio seperti tidak lepas dari rekam jejak hari-hari kami para muda mudi.

Coba mana suaranya yang senyum-senyum sendiri terus jantung ser-seran waktu kirim salam buat “seseorang”, atau waktu telepon kirim salam dan lagu untuk si dia via penyiarnya. Berbunga-bunga saat di sekolah ada yang diam-diam memberi sobekan kertas kecil bertuliskan, “Nanti kamu dengar radio A ya, jam setengah 8, kalau ada yang kirim lagu C dari si B itu dari aku buat kamu”. Duh, cuma semut merah yang merayap didinding yang tahu bagaimana warna pipinya waktu itu. Kisah indah lain, waktu ada sesi program Curhat On The Air, bisa jadi ramai esok hari jika kebetulan ada kisah yang mirip dengan seseorang di sekolah. Gosip terhangat pun merebak.

Radio diperkenalkan pertama kali oleh fisikawan asal Italia, Guglielmo Marconi pada tahun 1901 dan 1902., sebelumnya ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang menemukan transmisi radio adalah Nikola Tesla, Oliver Lodge dan Heinrich Hertz. Sejarah bangsa ini pun mencatat radio berperan besar dalam proklamasi kemerdekaan.

Kini radio tidak hanya digunakan untuk menyampaikan dan mendengarkan berita dan informasi, tapi juga sarana hiburan. Fakta yang sama adalah radio masih menggunakan gelombang AM, FM, atau XM.  Menggunakan gelombang radio yang dipancarkan melalui menara antena.


Balik tanya lagi deh? Mana suaranya yang masih setia jadi pendengar radio?

Obrolan tentang radio bagiku selalu ada muatan sentimental dan emosional. Mengapa karena memang kehidupan keseharianku sangat dekat dengan radio. Papa dan mama memang yang mengenalkan kebiasaan ini. Utamanya papa yang memang penyuka musik. Koleksi kaset dan piringan hitamnya entah berapa koper waktu itu. Sekarang sih sudah entah dimana bekasnya. Aku ingat waktu kecil dulu, mungkin masih SD tiap sahur selalu ditemani radio sambil mendengarkan penyiarnya bicara sambil pula aku masih terkantuk-kantuk melahap hidangan sahur. Atau diwaktu-waktu tertentu kami; aku dan adik-adiku mendengarkan dongeng yang dibacakan disalah satu radio. Kami terhanyut dalam ceritanya. Ada hal lain yang paling nggak bisa lupa, kalau mama yang pilih frekuensinya. Sandiwara radio! Yahuuuu, betul secara nggak sengaja karena mama ikutin serialnya sambil mengerjakan pekerjaan domestik yang nggak ada habisnya. Aku akhirnya jadi ikut mengikuti sandiwara radio bersambung itu, Tutur Tinular, Brama Kumbara lalu Mak Lampir yang suara khasnya paten bikin merinding sampai sekarang. Betul-betul sensasi yang berbeda yang nggak dimiliki media sosial lainnya. 

Foto : Pixabay

Lalu apa alasan radio masih jadi teman sejatiku hingga kini? Jelas pasti karena manfaat dan dampaknya betul-betul terasa buatku.

  1. Merasa ada teman. Ini membuat  bahagia dan semangat jadi bertambah.
Kenapa? Ada semacam perasaan intim, akrab yang diciptakan oleh penyiar dengan suara khasnya. ‘Air Personalty’ kalau kata Mbak Indah Laras, mantan penyiar disalah satu radio favoritku yang kini jadi guru, kakak, teman seperjuangan. Uniknya saat kami dipertemukan pertama kali dalam acara komunitas parenting yang kami ikuti, aku langsung mengingat suaranya. “Eh, kayak pernah dengar dimana ya?”, kataku waktu itu. Lalu kusebutkan, Imelda FM bukan? (Imelda FM; Female Station, merupakan salah satu radio yang paling sering aku dengar). Pernah pegang program Sharing On The Air bukan? Ternyata tebakanku benar dan perjodohan positif berlaku lagi disini. Aku dipertemukan dengan beliau pemilik suara yang selama ini aku kagumi. Melalui beliau aku mendapatkan banyak cerita tentang dunia per-Radio-an. Dunia yang pernah aku impikan. Nikmat mana lagi yang aku dustakan!

  1. Membantu menambah daya konsentrasi.
Entah ya kalau buat yang lain tapi aku merasakan ada peningkatan konsentrasi saat aku belajar atau beraktifitas ditemani radio. Secara nggak langsung karena dilakukan terus menerus ini pun meningkatkan kecerdasan. Suara atau audio yang dikeluarkan oleh radio dan ditangkap oleh telinga memaksa otak untuk meningkatkan kinerjanya agar menangkap informasi yang disampaikan melalui suara itu. Selain itu radio juga mengembangkan daya imajinatif yang kuat. Seperti saat tadi aku mendengarkan program dongeng anak-anak, aku membayangkan bagaimana raja hutan mengaum, perompak yang sedang menghadang buruannya di tengah samudera luas. Begitu juga saat mendengarkan sandiwara radio bersama mama, membayangkan rupa Mantili, Brama Kumbara bahkan seseram apa Mak Lampir dengan suara lengkingan yang dahsyat itu.

  1. Melatih kesabaran.
Iya dong saat kita titip salam atau ikut request lagu pasti ada dong harap-harap cemas laguku diputar nggak ya? Pesan aku sampai dibacakan nggak ya?

  1. Fleksibel.
Radio bisa kita dengarkan sembari melakukan apa saja, dimana saja karena pendengaran kita yang berperan besar.

  1. Sarana Belajar dan Mencari Info Terkini.
Melalui program-programnya radio bisa diandalkan menjadi media untuk mengikuti informasi terkini, talkshow dengan menghadirkan narasumber dan tema yang berganti-ganti, info kepadatan arus lalu lintas pun bisa kita ketahui dengan rinci melalui radio.

  1. Banyak Pilihan dan Gratis.
Asyiknya mendengarkan radio adalah kita bisa bebas mengganti-ganti frekuensi. Tinggal geser sudah banyak pilihannya yang sesuai selera. Gratis karena nggak pakai kuota kecuali kalau kamu pakai radio daring; radio streaming atau podcast ya!

Itu lah cerita alasanku kenapa masih selalu jatuh cinta pada radio, meski bertebaran channel youtube atau program TV. Seringnya aku nikmati mendengarkan radio tetap jadi kesenangan sejati yang sensasinya tak terganti. Sambil mencecap kopi dan segala hingar bingar rutinitas dan situasi pagi hari. Bagaimana dengan kalian? Masih setia dengar radio? Radio apa yang jadi favorit kalian? Terus kapan aja nih kalian ditemani radio?


Sumber Bacaan :

https://www.google.com/amp/s/www.jawapos.com/jpg-today/01/05/2019/radio-masih-jadi-media-pilihan-masyarakat/%3famp

https://merahputih.com/post/read/18-fakta-tentang-radio-yang-wajib-anda-tahu

Read More