Women Empowerment for Social Sustainability

by - Senin, Februari 17, 2020


Sengaja tema habituasi minggu ini saya pakai mentah-mentah sebagai judul. Perempuan memang didesain Maha Pencipta begitu luar biasa. Makhluk serba bisa. Multitalenta. Multitasking. Tidak berlebihan ungkapan ini, kemampuan otaknya berpikir dan potensial kekuatan yang tersimpan dalam kelembutan seorang perempuan mampu memberi energi positif yang kadang tak terbayangkan. Begitu juga sebaliknya.

Minggu ini ada tiga hal yang harus kami renungkan dan ikat maknanya. 

1. Apa yang sudah dan akan saya lakukan untuk mengubah pola kehidupan yang terkait social sustainability

2. Mengidentifikasi perilaku sosial masyarakat di daerah sekitar terkait perilaku social sustainability

3. Apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik?

Terkait dengan perilaku social sustainability atau pola hidup yang berkelanjutan alhamdulillah sudah sejak lama saya lakukan meski masih ditingkatkan minimal. Mama adalah guru pertama saya untuk bijak mengelola barang atau sampah utamanya plastik. Jauh sebelum ada himbauan dan jargon 'Go Green'.

Beliau memberikan contoh bagaimana menggunakan plastik yang masih bersih sekiranya masih bisa dipakai lagi dikumpulkan disuatu tempat untuk kami gunakan lagi. Tidak mudah membuang ke tong sampah. Begitu juga dengan dus, dirapikan di satu wadah untuk dipakai lagi satu saat kami butuh.

Penggunaan air juga begitu, mama nggak lelah mengingatkan jika air bekas wudhu baiknya ditampung. Hasil tampungan bisa dipakai untuk menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Jadi tidak banyak yang mubazir. Belajar menghargai air dan mengingat bagaimana perjuangan orang-orang yang kesulitan mendapatkannya. Sebagai anak sulung pengalaman tentang kesulitan air jadi sangat spesial, sebab saya pernah ikut merasakan kenikmatan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari. Saya semakin bisa menghayati apa yang beliau ajarkan itu, sehingga ketika sudah menikah pola ini masih terus saya lakukan.

Wadah bekas cat tembok untuk tempat penampungan air wudhu

Urusan memasak saya juga mendapatkan warisan nasihat dari beliau. Jika memasak sesuatu pancinya ditutup agar lebih cepat matang supaya hemat gas dan waktu juga. Lalu, untuk memasak yang sekiranya membutuhkan waktu lama beliau juga memberi saran untuk menggunakan pressure cooker

Ah ya setiap kali pergi belanja atau kemana saja saya pergi saya berusaha membawa tas belanja sendiri. Setiap ransel atau tas apapun yang akan saya bawa pergi biasanya sudah tersedia di dalamnya tas belanja besar dan kecil. Awalnya saya dianggap aneh dan sok karena menolak plastik dan lebih pilih pakai wadah sendiri tapi menurut saya pribadi ini keren jadi buat apa pusing. Keren bukan karena sol jagoan tapi merasa beruntung sudah mendapatkan ilmu bagaimana dampak jika kita tidak bijak pada limbah kita sendiri. Toh bakal akan berpulang ke kita lagi. Rantai makanan dan rantai kehidupan itu berlaku kekal. Misal plastik dibuang ke sungai hanyut terbawa sampai laut, plastik termakan ikan terus ikan terjaring nelayan, dan dikonsumsi manusia. Efeknya bisa jadi penyakit macam-macam yang membahayakan manusia. Kalau sudah begitu mau menunjuk siapa lagi yang paling bersalah?

Lampu di rumah juga sudah menggunakan LED semua, selain cahaya jauh lebih nyaman di mata. Tagihan listrik bulanannya pun aman. Lampu hanya dinyalakan di tempat utama dan yang ada aktifitas, sisanya saya matikan.

Berkaitan dengan lingkungan yang paling jadi perhatian saya adalah pengelolaan sampah. Lalu, empat tahun lalu saya berusaha untuk menyampaikan kepada Ketua RT di komplek perumahan saya waktu itu. Ide itu disambut dan disambungkan kepada warga. Alhamdulillah diupayakan untuk dicoba. Awalnya berupa tabungan yang setahun sekali ditukarkan sembako atau alat rumah tangga senilai tabungan rosok (sampah) tersebut. Meski ya memang tidak semua memiliki antusiasme yang sama. Berjalannya waktu ada beberapa perubahan yang disepakati. Usulan untuk semua rosok dikumpulkan bukan lagi atas nama pribadi, melainkan tabungan donasi rosok. Peruntukannya waktu itu untuk menambahkan biaya piknik RT per tiga tahunan atau ketika pergantian Ketua RT baru. Saat ini donasi tersebut masih berlanjut. Uang dikelola untuk dimasukkan kas dan disalurkan kepada warga RT yang membutuhkan tanpa bunga. Atau jika RT sedang membutuhkan barang inventaris maka diambilkan dari dana tersebut. Misal paling baru adalah untuk tambahan dana pembelian dan pemasangan CCTV di komplek RT. Kami bekerjasama dengan tukang rosok langganan yang datang untuk memilah dan menimbang sampah yang sudah dikumpulkan itu. Mungkin harapannya di masa yang akan datang bisa bekerjasama dengan lembaga tertentu untuk mengedukasi tentang jenis-jenis sampah yang bisa didaur ulang. Bila saja pemahaman warga tentang sampah terbuka mengenai keuntungan bijak mengelola sampah dan kerugiannya. Saya yakin mungkin akan tumbuh skema kesadaran baru yang lebih peduli pada lingkungan (bumi).

Penimbangan Tabungan Sampah_Dokpri 2017

Langkah terbaru yang saya upayakan adalah usulan mengelola jelantah. Beberapa tahun lalu saya pernah mengetahui bahwa minyak goreng bekas dapat dijadikan bio diesel. Tapi waktu itu kalau tidak salah baru ada di Yogyakarta. Akhirnya saya hanya masukkan ke botol atau plastik untuk dibuang ke tempat sampah dan diangkut ke TPA (tentu dengan perasaan bersalah). Sambil berusaha mencari informasi kepada teman-teman. Alhamdulillah akhir tahun saya mendapatkan informasinya, kemudian saya beranikan diri kembali mengusungnya ke forum Dawis. Ya, saya coba ke lingkup yang lebih kecil dahulu jika sudah selesai memberikan bukti, baru melangkah ke lingkaran yang lebih besar.

Tabungan Jelantah

Sekali lagi dengan narasi yang sederhana alhamdulillah usulan saya diterima dan mulai bergerak sejak akhir November tahun lalu. Meski sekali lagi tidak semua dalam frekuensi antusias yang sama tapi yang terpenting sebagian besar telah mengambil peran. Konsepnya hampir sama kerelaan, jadi jelantah ini gerakan donasi untuk jadi tabungan yang bisa untuk menambahkan tabungan yang dikelola untuk dijadikan simpan pinjam. Sejauh ini meski tertatih karena dari 15 KK yang skala memasaknya adalah rumah tangga kecil. Maka pengumpulannya pun tidak secepat jika masak partai besar tiap hari. Kami tetap bersyukur sebab kini sudah ada terkumpul hampir satu jerigen dengan volume isi kurang lebih 18 liter. Jika sudah penuh pengepul yang telah bekerjasama dengan kami akan datang untuk mengambilnya.

Masih banyak sebenarnya impian terkait isu sampah yang ingin disampaikan kepada warga sebagai bentuk edukasi. Namun, membaca situasi dan kebutuhan warga tentu perlahan saya akan tetap mengupayakan edukasi kepada tetangga sekitar untuk lebih bijak mengelola sampah. Minimal memisahkannya yang organik dan anorganik. Bahwa sampah kita tidak hanya selesai ketika sudah dibawa ke TPA. Jika mampu ingin mengajak untuk mengolahnya seperti membuat ecobrick atau jelantah nanti dibuat jadi sabun atau barang lain yang  bernilai ekonomis yang bisa meningkatkan hajat hidup warga terutama yang membutuhkan. 

Terpenting lagi kesadaran bahwa ada kehidupan lain yang di semesta ini yang perlu diperhatikan hajat hidupnya, sebab manusia hidup di bumi ini juga terus tergantung pada alam. Saya pribadi percaya alam ini bukan warisan yang kemudian diturunkan kepada anak cucu kita. Jika warisan tentu akan terus berkurang keutuhan dan nilainya. 
Sesungguhnya alam ini merupakan pinjaman dari anak cucu kita. Hak mereka yang harus dijaga dan dikembalikan dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Semoga perilaku menjaga keseimbangan dan hidup kesinambungan dengan alam ini yang akan diwariskan kepada anak keturunan kita. 

Aamiin Yaa Rabb'allamiin





#materi3 
#empathy 
#charity 
#filantropi 
#sustainability 
#kelashabituasisejutacinta 
#ibuprofesional 

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum