Perburuan Apel Si Ulil : Jurnal Minggu Keempat Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional

by - Selasa, Februari 11, 2020

Minggu ini memasuki jurnal minggu keempat, perjalanan si Ulil menuju kebun apel. Keranjang besar sudah dibawa serta untuk memetik apel-apel ranum dan manis. Siap dibawa pulang dan dinikmati kelezatannya. Namun, Ulil rupanya masih terlalu kenyang untuk mencari cemilan terlalu banyak. Hingga ia memutuskan hanya akan memetik satu buah apel saja.

Begitu kira-kira ilustrasinya, dilema hati yang kalau saja dituruti pasti tak hanya sekeranjang dibawa pulang ilmu-ilmu yang sangat ingin dipelajari. Tetap memegang peta memang salah satu kunci agar tidak tersesat.

Minggu ini aku sengaja hanya memilih menikmati Go Live di Facebook Group (FBG). Tidak semua tayangan aku tonton hanya yang sesuai mind map. Takut kebanjiran informasi malah nggak tuntas belajarnya. Itupun karena sinyal juga selalu saja terputus atau disconnect. Alhasil harus disimpan dahulu dan ditonton ulang saat sudah menjelang istirahat di rumah dalam kondisi tenang serta menunggu jaringan stabil. Ada satu Go Live yang aku jadikan cemilan prioritas minggu ini yaitu Go Live dari keluarga literasi. Lainnya masih tersimpan rapi di album entah besok atau lusa pasti akan dinikmati.

Melalui Go Live keluarga literasi ada satu ilmu yang sempat tertangkap bahwa masalah rendahnya minat baca di negara kita ini juga disponsori oleh kualitas buku itu sendiri. Baik dari cover maupun isinya kurang menarik para calon pembaca. Jadi memang harus saling mendukung.

Makanan besar tentu saja tetap ada di meja keluarga Getar Suara. Pilihan untuk fokus di keluarga ini karena memang dalam mind map yang aku buat belajar Public Speaking merupakan urutan pertama. Ilmu yang memang masih sangat awam buatku, meski bicara di depan banyak orang bukan hal baru bagiku. Berbicara di sini yang aku maksud bukan seperti pengalaman teman-teman anggota keluarga getar suara lainnya yang memang sudah lumayan tinggi jam terbangnya. Mengajar. Ya, itulah pengalamanku bicara di depan banyak orang. Tapi itu dulu saat sebelum aku resign dan memilih berada di luar sistem pendidikan formal. Memilih menjadi konselor pendidikan dengan jam terbang bebas. Tak disangka justru ruang-ruang konseling yang tadi intim alias privat, kini semakin luas. Sesekali diundang sebagai narasumber di acara parenting dan diminta untuk memotivasi anak-anak remaja. Hal ini membuatku merasa makin butuh nutrisi keilmuan yang sepadan untuk membuat ucapan dan ujaran diri lebih berdampak dan tersampaikan dengan baik.

Alhamdulillah saat bulat memutuskan tetap menuntaskan menuntut ilmu dari anggota keluarga getar suara yang pengalamannya luar biasa dan juga murah hati berbagi ilmu. Makin banyak yang bisa diserap untuk menambah keranjang makanan utamaku. Minggu ini telah beberapa kali mengadakan Go Live di FBG keluarga Getar Suara.

Go Live pertama di FBG Getar Suara dipersembahkan oleh Kakanda Indah Laras. Nggak perlu diragukan lah pengalamannya belasan tahun di dunia Public Speaking baik event on air maupun off air. Meski terkendala sinyal yang aduhai asyiknya tapi tetap bisa dilumat ilmunya untuk ditelan biar ndaging begitu katanya he-he-he.

Beliau menyampaikan tentang Fear of Rejection, Personal Branding dan Pemilihay Diksi. Bahwa kita nervous atau grogi saat tampil itu lebih dikarenakan ada perasaan takut ditolak, tidak diapresiasi orang lain, serta belum apa-apa sudah merasa diri buruk saat akan tampil. Pikiran itu terus menghantui dan berputar-putar di otak kita yang pada akhirnya menjadikan mental block.
Pemikiran ini muncul karena menganggap orang lain atau apresiasi orang lain sulit kita kendalikan. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Oleh karena itu kita harus berlatih kepekaan memahami situasi. Belajar mengontrol diri mana hal yang bisa dikendalikan oleh kita dan mana yang bukan jangkauan kita untuk mengendalikan. Salah satu syarat disebut pembicara yang baik adalah jika ia mampi mengontrol dirinya. 

Kedua tentang Personal Branding. Tentu saja ini bukan lah hal yang ajaib yang bisa didapatkan dengan tiba-tiba. Semua dibentuk melalui proses dengan cara berlatih dan terus melakukannya. Kita yang mampu melihat keunikan diri kita dan memilih keunggulan mana yang akan ditampakkan untuk jadi diri yang dikenal orang lain. Yakini, dan terus tekuni.
 
Ketiga tentang pemilihan kata atau diksi yang tepat. Kata harus dipilih sesuai waktu dan tempatnya. Itulah yang jadi acuan kita dalam tampil di hadapan audiens. 

Ketika ketiga faktor yang dijelaskan tadi sudah dilakukan, sesuai, tepat, maka pasti pesan juga kesan yang ingin kita sampaikan lebih mampu dipahami dan diterima orang lain.

Menu tambahan yang diberikan beliau adalah tentang Air Personality & Voice Over.

Air Personality yaitu kemampuan yang harus dimiliki seorang penyiar dalam mengolah suaranya agar ear catching. Artinya  suara harus nyaman juga enak didengar, tulus menyapa dan berbicara jangan cuma lip service atau tuntutan script. Sebab, itu pasti akan sampai ke telinga pendengar. 

Voice over adalah mengisi suara di belakang layar. Sebenarnya ini sedikit berbeda dengan bahasan public speaking yanh diunruo tampil di depan umum. Membahas voice over hal yang terpenting harus dipahami adalah artikulasi, suara, tone, emosi, ritme, tempo dan irama. Dimana voice over digunakan? Biasanya untuk sulih suara, mendongeng, backsound iklan, sandiwara radio, dan lain sebagainya.

Mungkin satu materi dulu yang disampaikan supaya yang mau ikut belajar dan baca bisa ikut mengunyah dengan baik. Yoyoiii.. semangat belajar BeiBuns sampai jumpa dimenu selanjutnya ya...jangan kapok!

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum