Kisah Rindu, Ibu dan Telur Ceplok

by - Sabtu, Februari 17, 2018

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuuh
Semoga semua yang mampir membaca tulisan sederhana ini selalu dilimpahkan kesehatan dan keberkahan, aamiin...
Tulisan ini sudah mengendap sekian hari menunggu dieksekusi, seperti biasa alasan klasik tiba-tiba datang menghampiri. Alih-alih menjadi tulisan yang ada hanyalah wacana semata... maju mundur cantik kata mbak Syahrini.

Drama Korea Fight For My Way
Betul! Memang lumayan menggemari drama Korea, jadi cerita yang akan saya bagi nanti juga hasil "panggilan" simpanan ingatan kisah-kisah dimasa lalu. Drama ini sudah agak lama tayang di negara asalnya. Sudah lama penasaran, kemudian saya mencari sinopsisnya. Ini dimaksudkan untuk menjaga supaya yang saya tonton tetap ada asupan nilai-nilai yang bisa saya bagi, setidaknya untuk saya pribadi. Drama ini berkisah tentang dua anak muda yang berjuang untuk mewujudkan apa yang mereka impikan. Tapi tentu saja banyak hal yang harus mereka lewati agar biasa meraih mimpi-mimpi tersebut. Informasi lengkap sinopsisnya bisa dilihat disini .
Jujur awalnya hanya tertarik dengan tema perjuangan meraih impian, sebab bisa jadi bahan referensi ketika bercerita dengan anak-anak. Ternyata tak hanya tentang impian, saya dapat satu bonus cerita lagi. Salah satu tokoh didrama tersebut, mempunyai cita-cita menjadi ibu, disaat sahabat-sahabatnya memiliki cita-cita menjadi atlet, penyiar, pebisnis. Dia memiliki cita-cita menjadi ibu dan istri yang baik. Kisah ini akhirnya membuat saya teringat cerita salah satu siswa saya. 
Ingatan saya kembali ke masa itu, ketika ia bercerita dengan wajah lelah, sembab; sebab air mata tak berhenti mengalir saat kalimat demi kalimat berusaha ia sampaikan dengan terbata-bata. Sesekali ia menyeka air mata dengan ujung kerudungnya.


Masa Akil Baligh
Cerita ini memang tidak jauh dari keseharian saya dahulu. Ketika masih aktif sebagai konselor sekolah atau biasa disebut guru pembimbing atau populernya guru BK (Bimbingan dan Konseling). Banyak sekali cerita yang harus saya akui justru dari mereka lah saya belajar menemukan diri saya. Belajar selalu mengucapkan syukur yang tak boleh terjeda dengan keluhan atau apapun itu. Berkumpul dan berinteraksi dengan anak-anak yang sedang belajar menapaki kedewasaan. Masa labil, masa badai, masa manusia menuju akil baligh yang penuh dinamika.
Masa-masa puncak pencarian jatidiri ini harusnya memang didampingi sedari mula, supaya mereka tahu betapa istimewa dirinya. Lalu apakah sesungguhnya definisi Akil Baligh itu? Akil baligh adalah orang yang sudah cukup umur dan berfikiran waras atau orang mukalaf. Mereka diwajibkan mengerjakan suruhan Allah S.W.T. dan menjauhi segala laranganNya. Cukup umur bagi kanak-kanak perempuan ialah apabila genap berumur dua belas tahun atau kedatangan haid. Dan kanak-kanak lelaki pula ialah 15 tahun atau bermimpi sebelumnya. Penjelasan selengkapnya tentang Aqil baligh bisa dilihat disini.


Ibu dan Telur Ceplok Impian
"Bunda besok istirahat kedua sudah ada janji konseling belum?", tanya seorang murid putri melalui pesan BBM.
"Belum ada, Nak. Memangnya kenapa?", jawab saya sambil menebak apa yang ia inginkan.
"Kalau belum ada, aku...dijadwalkan ya, Bun?! Aku ingin cerita udah dari kemarin lama tapi ramai terus ruang BK-nya", balasnya lagi dengan ekspresi dan intonasi yang hanya bisa kubayangkan.
"Oke nanti bunda catat dijadwal, oke sebelum shift sholat dhuhur langsung ke ruangan ya. Nanti makan siang dibawa saja ke atas kalau ceritanya panjang!"
"Baik, sampai ketemu besok ya Bun! Jangan lupa.."
Dihari dan jam yang sudah dijanjikan, si anak nampak antusias berlari dari ruang kelasnya menuju ruangan saya. Cukup jelas nampak oleh saya sebab jendela ruang kerja saya lebar dan berkaca bening. Pemandangan lapangan basket dan ruang-ruang kelas terlihat dengan jelas.
"Assalamu'alaikum.." sambil terengah-engah ia mengucapkan salam karena ia berlari-lari dari kelas yang letaknya paling ujung dan kemudian harus menaiki anak tangga.
"Wa'alaikumussalaam, masuk...Lho sendirian?nggak sama temennya?" Saya bertanya sebab memang anak-anak jika konseling hampir pasti mengajak teman terdekat yang dianggap bisa dipercaya.
"Nggak, Bun. Aku mau sendirian, aku malu. Tapi jangan bilang ke siapapun ya..". Ia menatap saya seolah memohon saya untuk berjanji.
"Lha percaya bunda tidak?Kalau belum nyaman cerita lebih baik nanti aja yaa..."
"Nggak kok, aku percaya"
"Jadi gimana? Ceritanya apa?keburu waktu gantian ishoma-nya habis lho..!"
"Bun, apa salah cita-citaku pengen jadi ibu. Ibu yang baik...". Suaranya bergetar mungkin menahan gemuruh dalam dadanya, sebab saya melihat nafasnya mulai tak teratur dan bola mata yang tadi berbinar kini nampak basah dan memerah.
"Ibu yang baik itu seperti apa? Nggak ada yang salah kok sama cita-citamu, Nak. Memang ada yang bilang salah ya?"
"Nggak secara langsung sih Bun tapi kalau aku cerita pasti mereka ketawa. Kan bunda suruh buat mind map tentang rencana masa depan dan impian. Nah, impian cuma itu yang terbesar..aku nggak mau kayak Mama!!". Kali ini suaranya sedikit ditekan dan ditebalkan.
"Hmm..kenapa nggak mau kayak Mama? Bukannya Mama sudah nggak sibuk sekarang?"
"Sejak dulu juga sudah nggak sibuk, Bun. Mama kan memang nggak kerja, tapi sibuknya nggak habis-habis papa aja kalah. Papa tiap kali pulang dari kampus masih sempat liat ke kamar-kamar kami. Aku cuma pengen mama kayak ibu-ibu yang lain Bun...yang bawakan bekal, buatkan sarapan..bikin telur ceplok atau goreng nugget nggak apa-apa... cuma itu..apalagi aku sudah kelas IX. Butuh motivasi butuh dukungan...tapi mama selalu bilang sibuk dari SD sampai sekarang belum pernah, Bun!" Tangisnya pun pecah disana. Tubuhnya bergoncang, kepalanya ditelungkupkan dalam lipatan tangannya diatas meja. Isakan mulai terdengar meskipun lirih.
Saya menghela napas sehalus mungkin, agar ia tetap nyaman. Hati saya saat itu ikut merasakan pilu, bagi saya sesederhana itu impiannya namun berat untuk ditanggungnya.
"Sudah berusaha bilang ke Mama apa keinginanmu? Atau minta bantuan papa untuk menyampaikan ke Mama kalau sulit menyampaikannya sendiri"
"Sudah berusaha Bun..kan bunda pernah bilang kita harus berusaha menyampaikan dulu perasaan, pikiran kita karena orang tua bukan dukun atau pembaca pikiran"
"Lalu?!?"
"Pagi harinya malah papa yang bikinkan telur ceplok buat aku, olesin roti buat bekal. Padahal papa juga harus berangkat ke kampus pagi karena ada kelas pagi. Papa justru yang minta maaf ke aku...aku sedih Bun kenapa Papa kayak gitu..!!" Air matanya pun berderai lagi lebih deras.
"Memangnya mama kemana?!"
"Ada lagi siap-siap..mandi, dandan terus turun buatin susu buat adik aja terus siap-siap antar sekolah.."
Kemudian percakapan kami berlanjut beberapa saat, hingga sesi harus diakhiri karena pergantian jadwal ishoma. Setelah saya sampaikan beberapa pilihan dan kesimpulan percakapan hari itu, ia pun pamit.

Menjadi Ibu adalah Impian yang Paling Sempurna
"Al-ummu madrasatul ula", ibu adalah madrasah pertama dan utama untuk anak-anaknya.
Seorang ibu mempunyai peran terpenting dalam keberhasilan anak-anaknya. Di samping peran ayah sebagai pemangku kebijakan serta imam keluarga, ibulah yang mengalami proses ikatan batin selama mengandung buah hatinya.



Maka tidaklah berlebihan menurut saya jika ada ungkapan ibu adalah salah satu pemegang kunci peradaban. Generasi yang bahagia lahir dari perempuan tangguh yang sadar menjalani peran pentingnya dengan suka cita. Sehingga patah hati rasanya jika ada cerita seperti yang dikisahkan anak murid saya itu.   Luka hati akan lama terobati.

#rumbelliterasimedia
#oneweekonepost
#belajarmenulis

You May Also Like

2 komentar

  1. Bagus mbak kisahnya, jadi mbrebes mili. Aku masih sering begitu.. "sok sibuk" di depan anak-anak. Padahal mah sibuknya remeh temeh. Makasih sudah diingatkan mbak :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada cikgu sayee..terima terim sdh mampir.Sabar ya menghadapi muridmu ini...cerita ini juga pengingat buat saya kadang sesederhana itu rindu mereka

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum