Puasa Pekan Pertama di Tahap Kepompong

Minggu, 29 Maret 2020



Sempat bingung menentukan mau puasa apa di pekan pertama ini? Berbagai pilihan ada dalam pikiran ya bagaimana lagi banyak hal yang ingin dibenahi. Sekian lama galau akhirnya dengan sadar memutuskan. Ada perasaan bahwa tugas puasa di kelas kepompong ini terhubung dengan rutinitas atau siklus tahunan pribadi saya. Apa itu ?
.
Entah lah sejak kapan hal ini akhirnya berulang tiap tahunnya, bahkan ketika hidup ini tidak ada turbulensi. Ingatan hanya mencatat kegiatan ini semakin rutin ketika menjadi mahasiswa. Semakin sadar dan semakin membutuhkannya sebagai ruang detoksifikasi. Ah, apaan sih?
.
"Puasa" tahunan itu biasa aku sebut time capsule, berkhalwat, kontemplasi, masuk goa atau apa saja yang kurang lebih hampir sama dengan makna menyepi. Kisaran waktunya paling cepat 1 bulan dan maksimal 3 bulan. Selama kurun waktu itu aku membatasi kontak dengan dunia luar. Hanya keluarga inti saja yang bisa menghubungiku. Itu pun dengan catatan benar-benar mendesak. Tadinya keluarga agak sulit memahami tapi setelah dijelaskan mengapa itu harus dilakukan. Akhirnya semuanya mengerti.
Jika dulu tiap "puasa" saya hanya akan menyalakan gawai di hari-hari tertentu. Maka di jaman teknologi global ini, aku bisa berbeda-beda memakai metode bergantung dari situasi, kondisi juga kepelikan pikiran dan perasaan yang sedang melingkupiku.
Terakhir kali aku melakukannya dengan totalitas sekitar 2 tahun lalu menjelang akhir tahun masehi. Saat itu aku memutuskan berinisiatif membuat peta pikiran misi keluarga. Mengisi alur peta harus mengkolaborasikan ide, harapan, impianku dan suami. Maka tidak boleh gegabah karena banyak pertanyaan yang berkeliaran, bergerak terus secara acak jika tak segera diikat tentu hanya akan jadi angan belaka.
Akhir tahun lalu sejujurnya sudah mulai membatasi diri dari keriuhan dunia luar. Ada keputusan besar yang harus aku ambil tahun 2019 demi cetak biru misi keluarga (KITA) tahun ini dan insya Allah seterusnya.
Selain itu fakta kefanaan yang melelahkan selalu membuatku ingin bersegera lari ke dalam goa agar dapat berpikir terang dan merasa tenang. Fitrah bakat empatiku yang menduduki ring pertama memang harus diurus lebih dulu.
Intinya jika ingin hal lain berhasil, selesaikan "badai" pertanyaan menuju keputusan berkesadaran. Hal ini makin aku sadari saat seorang coach di sebuah workshop ku ikuti memberi sebuah nasihatnya yang kurang lebih pemahamannya tak jauh beda. Ternyata selama ini apa yang aku pelajari dan lakukan untuk diriku memang sudah tepat.
Nah sayangnya akhir tahun lalu hingga saat ini sama sekali tidak memungkinkan untuk "puasa" total. Ada banyak tugas serta tanggung jawab yang menuntutku untuk tetap terjaga. Mau tak mau harus mengganti teknik puasaku, karena masuk awal tahun ini ternyata banyak sekali penambahan penyesuaian. Kemampuan adaptasi sekaligus coping sedang diuji dari segala sisi. Semesta sedang berkonspirasi untuk mengembalikan, mengingatkanku tentang janji yang pernah ku ucapkan di tanah suci. Komitmen untuk semakin bersungguh-sungguh (betah) menjalani peran di dalam rumah. Mirip lah seperti yang pernah pak Dodik Maryanto sampaikan, bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu.
Selama ini sudah (merasa) berusaha untuk melakukan hal yang terbaik sebagai pasangan. Namun, ternyata semakin banyak aku gali dari sisi suami agar mau mengutarakan isi hati dan pikiran yang sesungguhnya tentang semua yang aku lakukan. Ternyata masBo tercinta tampaknya lebih menyukai diriku "yang sedikit lebih antheng", nggak pakai acara debat (baca: taat), dan ini nih gong-nya diminta untuk meninjau kembali kegiatan-kegiatanku meskipun memang sejak resign sudah sangat mengurangi kegiatan ternyata "hutang jamnya" masih sama saja.  Permintaan yang wajar sebetulnya, mengingat waktu bersama kami cenderung terbatas. Meski tidak menjalani Long Distance Marriage tapi bisa duduk berbincang dengan santai sungguh bukan perkara mudah. Sebagai jurnalis tentu saja tak ada patokan baku jam kerja sehingga waktu luang bebas merupakan hadiah yang tak ternilai.
Singkat cerita keputusannya adalah puasa bermedia sosial atau tepat membatasi media sosial yang berpotensi mentransfer energi negatif. Apalagi di tengah situasi dan kondisi saat ini, semakin marak berita disinformasi dan hoax yang justru malah menyebarkan rasa khawatir. Menjaga kewarasan dan kesehatan mental juga langkah yang perlu diutamakan. Facebook merupakan salah satu aplikasi yang sudah sejak lama ku berpuasa darinya. Tak perlu dijelaskan mengapa, tapi jika tidak dengan alasan yang sangat penting aplikasi ini tidak pernah dengan sengaja ku aktifkan. Menjaga agar tidak disalahgunakan oleh oknum, akun Facebook tetap dikoneksikan dengan aplikasi lain. Contohnya Instagram.
Selain Facebook aplikasi lainnya adalah WhatsApp messenger. Nggak mudah saat mengambil langkah ini, hampir semua jenis orang jaman now menggunakan aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi. Bahkan tak sekedar berkomunikasi tapi juga pembelajaran, kuliah daring, pertemuan alias rapat virtual sampai jualan online.
Meski berat tapi harus berani ku ambil untuk lebih fokus pada apa yang sedang ingin diraih saat ini. Perbedaan teknis berpuasa media sosial Facebook dan WhatsApp ada pada durasi waktu penggunaan aplikasi ini.
WhatsApp dalam sehari saya cukupkan mengakses maksimal 3 kali dengan durasi, maksimal tiap kali kandang waktu itu paling lama 2 jam. Namun bisa jadi disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jika memang diperlukan dan suami tercinta tidak berkeberatan. Bagaimana denhan Facebook? Aplikasi ini akan diakses hanya saat dibutuhkan misalnya terkait pembelajaran penyampaian materi Bunda Cekatan. Menyiasati tidak tertinggal informasi terkait kelas pembelajaran yang menggunakan media sosial ini, sebisanya aktif bertanya kepada teman sesama mahasiswi Buncek.
Selama puasa pekan pertama ini, maka semakin sering meluangkan waktu untuk mencari informasi positif yang menunjang target dalam mind map. Salah satu langkah awal di hari pertama adalah membuka lagi hadiah saat di kelas ulat. Cemilan yang diberikan saudariku Selvi tentang Manajemen Waktu. Beliau yang berada di keluarga inti Uluwatu berbaik hati memberikan rangkuman diskusi keluarganya.

Materi yang sejujurnya sangat aku butuhkan, meski tidak diletakkan pada tangga pertama langkah dalam peta pikiran. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas hadiah yang jujur tak terduga kala itu. Semoga Allah Ta'alla selalu merahmati beliau dengan keberkahan dan kebaikan.
Melalui rangkuman itu semakin sadar untuk terus memantau aktivitas pribadi agar nggak cuma asal sibuk tapi gagal produktif. Perlu menentukan prioritas, mengidentifikasi aktivitas agar bisa membuat skala prioritas, lalu agar bisa fokus kita perlu mengkategorikannya dalam matriks. Setelah melakukan itu semua untuk membantu mengobservasi langkah keberhasilan, kita perlu membuat jadwal. Macam jadwal tersebut antara lain bisa berupa Bullet Jurnal, Podomoro atau Kandang Waktu.
Selanjutnya dihari berikutnya berturut-turut lebih banyak memilih menonton tayangan bergizi via YouTube. Sekali lagi nggak selalu berhasil sekali duduk untuk bisa menyelesaikannya. Tetap memegang peta untuk menentukan target pribadi. Tiap hari harus ada satu informasi positif yang dikonsumsi dam harus sesuai kebutuhan.

Berikut perjalanan puasaku, silahkan jika ingin mengikuti menu tirakatnya :
Hari kedua : Menyimpan empon-empon
Suka sebel karena merasa sudah benar cara simpannya sesuai arahan beberapa orang tetap saja bumbu dapur ini cepat sekali busuk. Padahal tahu sendiri kan ya empon-empon sedang naik daun. Warga tanah negeri ini sedang belajar untuk "kembali" pada warisan leluhurnya yang sekian lama jadi "saudara tiri" dunia medis modern. Mau ikutan belajar? Sila lihat sendiri di sini atau di sini.
Hari ketiga : Mengelola Sampah Rumah Tangga
Yuhuuu, meski belum ada digambar dalam mind map Sustainable Living merupakan salah satu goals dalam hidupku. Jadi informasi tentang pengelolaan sampah rumah tangga yang sederhana perlu juga untuk dipelajari. Mau barengan lihat? Yuk merapat ke sini.
Hari keempat : Tips Menulis Naskah
Kalau yang ini memang ilmu yang juga sedang berusaha terus ditambah nutrisinya, selain  ilmu Public Speaking. Mari kepoin bersama di sini.

Hari kelima : Tentang Covid-19
Fakta-fakta baru tiap hari hilir mudik jika semua informasi tak ada yang ditangguhkan, apa yang terjadi? Tentu saja otak bakal penuh. Tapi memahami wabah Covid-19 ini juga perlu ilmu selain iman. 
Hari Keenam Sayur Lodeh # 1 (Tentang Rasullullah)
Situasi dunia yang sedang terkena wabah global, membuat dua masjid di tanah haram terdampak. Jamaah umroh sepi karena ada pembatasan kunjungan. Banyak hamba-Nya yang merindu tanah suci, termasuk pada panutanku Rasulullah. Akhirnya memutuskan menemukan tayangan ini.
Hari ketujuh Sayur Lodeh #2 (Ilmu Tajwid)
Belajar membenahi semuanya termasuk baca Al Qur'an dengan benar. Setidaknya ada upaya untuk belajar memperbaiki bukan? Mau ikutan nonton di sini ?
Begitu lah BeIbuns celotehan soal jurnal puasa minggu pertamaku. Maafkan diri ini jika terbacanya seperti curahan hati ya mungkin memang sednga butuh bocor kali ya? So, dimaklumi yaah ha ha ha...bukan kah writing for healing
Semoga selama 30 hari ke depan atau 3 pekan berikutnya semua ikhtiar lancar, aman terkendali.
Stay healthy and safe, dear...

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum