5 Hal Mudah Buktikan Cinta Tanah Airmu.

Senin, 09 September 2019

Duh, sebenarnya bingung juga mau menuangkan tulisan yang bernuansa kebangsaan atau nasionalisme yang bahasanya gurih dan renyah.  Kenapa sih bingung? Sebab berbicara tentang nasionalisme selalu tak pernah ada habisnya. Kadang justru cenderung jadi kaku dan berat. Ya, semua orang punya takaran dan sudut pandangnya masing-masing. Tapi jika menurutku pribadi ya memang sesuai eranya tiap generasi pastilah punya cara untuk menunjukkan cintanya. Dahulu para pejuang dengan gagah mengangkat bambu runcing dan kobaran semangat yang tiada tanding untuk membuktikan kecintaannya hingga kemerdekaan bisa terwujudkan. Generasi sekarang tentu tidak bisa melakukan hal serupa. Ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengkonfirmasi cinta tanah air itu.

Namun yang lebih penting lagi bagaimanapun bahasan nasionalismenya harus selalu erat terkait dengan prinsip-prinsip dasar persatuan Indonesia itu sendiri. Seperti kesatuan dan latar sejarah bangsa, kesatuan nasib, kesatuan kebudayaan, dan kesatuan asas kerohanian yang disimpul akhirnya tetap akan berakar pada ruh sakti bangsa ini, Pancasila.

Beberapa narasi ini jujur pernah aku posting sebagai caption diakun Instagram pribadiku. Hayooo jangan lupa di-follow ya? Makaciiii...:-*

Nah, prinsip kesatuan kebudayaan bangsa Indonesia ini salah satu yang menurutku paling keren sejagad. Sebagai negara kepulauan yang tersebar sekitar 17.000-an pulau di seluruh negeri. Pastilah kebayang ragam pelangi budayanya, adat istiadatnya, bahasa daerahnya, busana, kuliner, kearifan lokal yang tak sama membawa semakin menawan negeri ini. Ajaibnya di negeri tercinta ini warna-warni itu mampu disatukan dalam bendera yang sama, bahasa yang sama. Bhinneka Tunggal Ika. Hingga, tak bisa dipungkiri aku pribadi selalu jatuh hati pada negeri ini. Wonderful Indonesia!


Tapi ya gitu sayang sekali makin kesini makin terkikis rasa kesatuan itu. Sedihnya lagi, bergejolak semangatnya kalau kebakaran jenggot karena "kekayaannya" malah dilabeli paten oleh negara lain. Lalu beramai-ramai turun ke jalan, demonstrasi. Baik itu mungkin memang sebuah upaya, namun alangkah membahagiakan jika kita semua sudah sadar, mengantisipasi dan mengakui kekayaan kita sedari awal? Nggak perlu disebutin satu persatu yee cerita apa yang sudah pernah terjadi. Coba aja dicek mandiri sudah berapa kali ada cerita patah hati soal ini? Huhuhu.

Nggak susah sebenarnya membuktikan dan merawat cinta kita terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cobalah setidaknya lakukan lima hal sederhana di bawah ini :

1. Sikap Patriotisme

Sikap patriotisme dan nasionalisme tidak mungkin terpisahkan. Arti patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya atau semangat cinta tanah air. Kita semua dan khususnya pemuda harus produktif melakukan kegiatan positif. Salah satunya bergabung pada komunitas-komunitas pemuda yang bertujuan untuk membentuk pribadi yang lebih unggul. Saling menginsiprasi agar bisa bersama-bersama beraksi menebar kebaikan. Sebab kebaikan tidak bisa jalan sendirian.

Salah satu kegiatan positif pemuda untuk saling menginspiras-Dok.Pri Komunitas Akar Remaja 

2. Tidak Melupakan Akar Budaya dan Tradisi

Negara kita terbentuk dari kuat juga eloknya budaya dan tradisi yang tak dimiliki negara lain. Kita sebagai generasi penerus tentu saja wajib ikut nguri-uri atau menjaganya. Budaya dan tradisi sejatinya adalah jati diri kita.

3. Memeliharan Kerukunan dan Kedamaian Sesama Warga Negara

Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah tidak ikut menyebarkan ujaran kebencian, tidak menjadi sumber info yang menyesatkan alias HOAX. Semua harus sudah disaring sebelum sharing.

4. Menonton Film-Film Hasil Karya Anak Negeri

Salah satu kegiatan unjuk nasionalisme yang aku suka. Nonton. Nggak cuma film sebenarnya, karena memang jadi penikmat seni termasuk hobi. Kita wajib memberikan apresiasi bagi para pelaku seni tidak hanya untuk film tetapi juga musik ataupun karya-karya seni lainnya. Mereka yang telah berupaya menghasilkan karya terbaiknya. Harapannya melalui dukungan kita, para seniman ini akan termotivasi untuk semakin meningkatkan kualitas karyanya. Mudah kok! Yaitu selalu tidak membeli karya bajakan dan antusiaslah menonton film Indonesia di bioskop. Semakin tahun semakin banyak film berkualitas yang berhasil dibesut para sineas kita. Salah satunya yang paling mutahir aku tonton bersama adinda-adinda kesayanganku, Dinda Marita dan Dinda Hessa adalah karya Mas Hanung. Yap! Bumi Manusia. Sekeren apa? Nanti ya ditunggu aja cerita singkatnya, insyaAllah bakal ditulis ala sudut pandang aku. 

5. Mencintai Produk Dalam Negeri

Hal yang kelima ini paling favoritku, karena paling mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya seringkali hal ini terlupa oleh masyarakat kita. Bagaimana seharusnya kita berlaku layak sebagai bangsa yang dianugerahi kekayaan yang kemasyhurannya terdengar di seluruh penjuru dunia. Masih banyak kita temui masyarakat Indonesia lebih condong bangga jika memakai produk-produk luar negeri. Tanpa sadar perlahan ini dapat melunturkan semangat nasionalisme kebangsaan dan cinta tanah air dalam diri kita, masyarakat Indonesia.

Tas Etnik-Dokumentasi Pribadi

Banyak negara tetangga kita yang bisa jadi contoh betapa mereka menjadi begitu kuat karena sangat bangga dengan produk-produk dalam negerinya. Kenapa kita justru malah seringnya berlomba-lomba hal yang sebaliknya? Padahal perwujudan cinta tanah air yang mampu meningkatkan nasionalisme kebangsaan paling mudah adalah membeli, mengenakan, mengkonsumsi, mengembangkan produk dalam negeri

Kekayaan Hasil Produksi
Dalam Negeri

Wearing Outer Tenun Troso Jepara
Udah nggak usah kebanyakan mikir. Yuk, tunggu apalagi? Beraksi!
Jangan lelah mencintai Indonesia ya!

Kalau memang cinta ya dikonfirmasi. Bukan cuma basa-basi. Buktikan setengah mati bukan setengah hati. Betul? Mulai lah dari diri sendiri. Cintailah produksi dalam negeri kita sendiri. Indonesia ini kaya lho gaess!! Bagaimana caranya? Ya pasti dengan MEMILIKINYA dong! Buang tuh jauh-jauh gengsi.

SEBAB, JIKA BUKAN AKU ATAU KAMU, LANTAS SIAPA LAGI YANG HARUS MEMBERIKAN BUKTI?!
Read More

MAKE IT SEPTEMBER TO REMEMBER

Jumat, 06 September 2019


Bismillahirrahmanirrahim



Alhamdulillah, akhirnya sekian lama aku kembali "pulang" ke rumah ini.  Rumah virtual-ku, tempat berbagi cerita. Sudah terlalu banyak alasan untuk mempertahankan langkah yang sudah berani aku mulai. Jalan di tempat bahkan banyak tak bergerak. Sampai lah di bulan ini. Bulan baru dan bertepatan pula dengan pergantian tahun baru Islam, tahun 1440 Hijriyah menuju 1441 Hijriyah. Time flies so fast! Padahal ya larinya waktu juga segitu-gitu juga, nggak pernah melambat dan nggak pernah terlalu cepat lajunya. Memang aku-nya aja sih ya yang mager yeee?!


September : Moment To Remember

DEMI WAKTU

Yah, begitulah suka atau tidak suka, bahagia atau tidak aku tak akan bisa menghentikan waktu. Terus saja detik demi detik bergerak tanpa peduli jika kita tidak bergegas. DEMI WAKTU!
"Siapa yang rugi?", begitu mungkin teriak sang waktu jika satu kali kita ingin mengajukan protes karena kita terseok-seok mengejarnya. Salah siapa?

Sudah sejak sebelum bulan agustus aku sudah gelisah. Jiwaku yang mengidap galau semakin hari rasanya semakin meracau. Seminggu sebelum berakhir bulan kita memperingati Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Ke-74 Tahun ini, makin riuh isi kepala. Pertanyaan demi pertanyaan kembali naik ke permukaan. Namun, aku hanya mampu terpaku pada sebuah jaring-jaring peta pikiran yang kertasnya nyaris kumal. Alhamdulillah beberapa dari impian yang tertulis dalam proyek kehidupan kami itu "mentas". Entah bagaimana seperti mengalir menemukan jalannya dan menjadi nyata. Sebut saja impianku mengabadikan nama dalam sebuah karya. Bulan lalu dua buku antologi yang di dalamnya ada tulisanku telah  terbit. Satu lagi kini sedang proses cetak, dan ada dua sedang menanti kabar baik. Semoga lulus seleksi dalam dua proyek antologi dengan dua penerbit Indie yang berbeda. Begitu juga partner hidupku, akhirnya kini bergabung dengan media nasional yang cukup besar namanya dan tanpa dinyana ia dipercaya terlibat juga dalam divisi majalahnya. Suatu hal yang selama ini sangat ia rindukan.

Tentunya semua itu terjadi tidak lah instan, ada upaya dan doa yang tidak sederhana. Man Jadda Wajada!. Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil. Where there is a will there is a way!


MOMENT TO REMEMBER

Proses demi proses dalam mata rantai kehidupan pasca keputusan "hijrah" ku beberapa tahun silam. Membuatku makin bersyukur sekaligus semakin merasa bukan (baca:belum) siapa-siapa yang sudah berhasil berbuat apa-apa yang berarti dalam hidup ini. Jujur saja itu selalu mengusikku, hingga sekecil apapun itu harus ada "hijrah" yang aku lakukan. Oleh karenanya aku masih terus merasa perlu mengosongkan bejanaku. Menimba ilmu. Masih perlu banyak belajar mengasah kesejatian fitrah penciptaanku.

Memberanikan diri merapat dan menyerap energi pada talenta-talenta jiwa yang tak lelah berjuang dijalan sepi. Demi tetap memelihara api inspirasi sebagai manifestasi idealisme autentik yang tak boleh mati. Tapi, seringkali tiba-tiba terengah-engah kelelahan karena aneka rupa alasan. Membuatku harus berhenti dan mengolah rasa kembali. 

Mind Mapping 1440 H - Dokumentasi Pribadi

Tanpa sadar ada semacam ritual malam 1 Suro alias 1 Muharram yang tak pernah aku tinggalkan...heiiish stop! Nggak usah horor bukan perkara 'klenik' yang makan melati atau berendam di Kali! Setiap pergantian tahun baru hijriyah aku menarik diri beberapa waktu. Masuk ke "gua", berkontemplasi. Beberapa karib dan kerabat yang sudah benar-benar mengenalku cukup tahu kebiasaanku ini. Bisa jadi hanya satu hingga tiga hari namun pernah paling lama tiga bulan tak menemukan titik damai dalam diri. Terlalu banyak evaluasi, terlalu banyak catatan koreksi.

Apalagi aku memiliki partner hidup. Boleh jadi aku dan suami punya impian, visi, misi pribadi tapi navigasi biduk rumah tangga harus selalu jadi prioritas kami. Pernikahan itu tak melulu tentang aku dan kamu, bukan? Tapi seluruh lapisan kehidupan yang ada diantara kami ikut dalam perkawinan itu. Banyak yang menganggapku aneh. Hidup kok dibuat ribet! Nikmati aja kenapa sih? Cuma bisa senyum karena alih-alih diskusi ujungnya justru debat kusir.

Akhirnya setelah mengamati seksama peta pikiran atau yang sering kami sebut 'Life Time Project' tahun lalu, aku dan suami sepakat di tahun baru ini kami tidak secara khusus merapat ke meja perundingan untuk membuat peta baru. Aku dan dia memulai bulan September dengan semangat 'Make It A September To Remember'.  

Kalau secara pribadi aku hanya akan membuat satu agenda mayor dalam bulan ini, serta dua agenda minor. Moment to remember. Membuat momentum dan melakukannya sebagai pijakan awal tahun untuk bisa dikenang. Sesuatu yang menjadi benang merah rinduku. Menulis! Apapun medianya nanti harus terus berusaha kutekuni. Sebab, tantangan terbesarku masih terbentur pada konsitensi dan terkadang terdistraksi dengan godaan-godaan penuh aroma wangi lalu lupa esensi. Bagaimanapun aku memang masih jauh panggang dari api. Agenda-agenda kecilnya adalah yang pertama mulai rutin kembali membaca dengan target seminggu satu buku lalu menuliskan reviewnya. Kedua, mulai menyusun outline secara mandiri untuk proyek buku non antologi.

Betul sekali rindu dan cinta memang serius perlu bukti, Dee!

Salah satu pembuktian rasa cinta itu, mengikuti blog challenge September ini. Lalu, setelah sekian lama hanya  melihat informasinya wira-wiri di beranda media sosialku dan menekan perasaan yang penasaran ingin bergabung dalam tantangannya. Akhirnya di detik-detik menjelang berakhir kuberanikan diri meminang kesempatan yang terbuka itu. Alhamdulillah lolos seleksi untuk ikut masuk komunitas berbasis kepenulisan yang pengalamannya sudah malang melintang. Ya, puji syukur bisa bergabung dalam ODOP Batch 7 di bulan September ini. Semoga selamat hingga akhir dalam "kapal" ini.



Alasan Untuk Tetap Tinggal


ALASAN UNTUK TETAP TINGGAL

Acapkali mendengar ada yang menanyakan kenapa bercita-cita jadi penulis? Meskipun aku tetap lebih nyaman dengan predikatku sebagai praktisi psikologi pendidikan, konselor, edukator atau relawan pendidikan. Tapi menjadi penulis merupakan perkara lain bagiku. Seperti ruang rindu yang selalu dahaga untuk bertemu.

Ataupun pada banyak kesempatan ada yang bertanya mengapa suami memilih jadi jurnalis? Padahal jelas pekerjaan lamanya cukup menjanjikan secara finansial dan juga eskalasi karir yang jelas. Beban kerja pun secara fisik dan mental tidak lebih berat dari yang sekarang ia jalani. Ya..ya sangat paham jika profesi ini memang bukan lahan basah jika boleh kusebut demikian. Namun, entah lah kami berdua mungkin termasuk gabungan orang "aneh" yang berbahagia memelihara impiannya.

Ah ya, ada satu hal lain yang rindunya terus aku pelihara masih ada kaitannya dengan predikat yang kusebutkan di atas. Kerinduan untuk tetap bersama mendampingi anak-anak ideologisku membesarkan kiprah komunitas remaja yang telah aku inisiasi tahun lalu. Agar lebih berdampak bagi peradaban, berbagi inspirasi untuk beraksi.

Pusaran waktu. Kebutuhan hidup yang meningkat terkadang membuat kami terdesak dan berpikir ulang untuk berputar haluan. Beberapa hari di dalam diamku, aku merenung. Aku butuh alasan. Seperti saat orang-orang memutuskan pergi. Aku butuh alasan untuk tetap tinggal di jalan ini! Aku butuh meyakinkan diri. Sampailah pada titik aku mulai percaya mengapa aku harus terus ada memelihara impian ini. Jika dengan menulis adalah sekepal rindu yang menawarkan kebaikan dan bisa aku upayakan. Mengapa tak aku perjuangkan? Itu jawabanku pada diriku.

Tiap orang sudah memiliki mangkok rejeki dengan takaran pasti. Tak mungkin tertukar. Kami hanya lah harus selalu berpihak pada kebaikan dan kemuliaan dalam menjalankan segala urusan.



Perjuangan Memeluk Keabadian
Maka langkah paling tepat adalah melanjutkan, menyempurnakan dan dengan ijin Sang Maha Kuasa Allah Ta'alla kami berusaha untuk mewujudkannya. Mengemasnya di jalan taqwa, sebab kami makin sadar perintah tawakal itu nyata. Meski harus kami akui dan nggak bisa pungkiri melakukan hal itu sama sekali bukan perkara mudah. Mengkolaborasikan ego dengan semua hal yang terjadi dan nyata ada disekeliling kita. Menerima bahwa seringkali mau kita tak bersesuaian dengan kehendak Sang Pencipta. Kegagalan. Terluka. Tak ada jalan perjuangan yang benar-benar murah.


PERINTAH TAWAKAL ITU NYATA


“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Tawakal adalah kunci keberhasilan yang sering dilalaikan, tak terkecuali olehku. Orang cenderung memisahkan antara tawakal dengan usaha. Perintah TAWAKAL itu nyata bagi manusia tapi kita masih suka terpeleset salah mengira. Padahal sesungguhnya kata para ulama jika tawakal itu sebenarnya adalah sebaik-baik usaha.

Pernah kah mendengar cerita ada orang yang bekerja sangat keras (baca: ngoyo) hingga melalaikan bahkan mengorbankan perkara lainnya. Justru malah tidak berhasil. Mungkin ada benarnya perkataan Andrew Matthews,  penulis sekaligus motivator kelas internasional itu. Ia berkata, "Ketika Anda mengejar segala hal, mereka melarikan diri. Ini berlaku bagi hewan, kekasih, bahkan uang!". Meskipun hal itu tidak bisa dikatakan 100% benar, tapi begitu lah yang banyak terjadi disekeliling kita.  Ibarat berusaha menggenggam erat pasir, semuanya hilang karena genggamannya terlalu erat.

Atau ada yang seperti ceritaku, sudah menikah bertahun-tahun tapi belum juga diberikan amanah buah hati. Tiap bulan saya pernah lelah menangis karena sangat mendambakan kehadirannya. Banyak cara sudah ditempuh tapi ijin-Nya belum turun jua. Mau apa lagi?  Hingga kami akhirnya pasrah daripada stres dan mengganggu kesehatan mental kami berdua yang dampaknya bisa kemana saja. Akhirnya kami ucapkan mantra, "Kalau Allah telah punya kehendak, siapa yang kuasa menolak. Jadi! Maka, jadilah!". Begitu lah akhirnya kami berusaha belajar menjalankan tawakal dengan benar.  

Terlalu banyak yang fokus mengejar materi, bekerja banting tulang dari pagi hingga larut malam untuk mengumpulkan lebih banyak pendapatan, hingga malah mengabaikan kenikmatan dan kemurahan yang telah Allah berikan. Lupa kepada karunia keluarga, lingkaran pertemanan, kesehatan, waktu senggang, bahkan lupa kewajiban ibadahnya sebagai hamba. 

September ini aku harus belajar menjalankan tawakal dengan lebih benar. Kepasrahan yang akan membuat kami berusaha melakukan semua pekerjaan dengan tenang, termasuk menulis. Meniatkan bekerja atau apapun amanah yang diberikan kepada kami untuk menebar manfaat, mencari dan menjaga hubungan baik dengan karib, kerabat, dan semua orang-orang disekeliling kami. Tak lupa tiap saat jangan pernah mengabaikan kewajiban kita sebagai hamba, melakukan sholat, puasa, zakat.

Satu waktu pada masa "semedi"ku bulan lalu, saat aku jatuh pada titik terendahku dan sibuk bertanya lagi pada Rabb-ku. Aku memohon kepada-Nya agar diteguhkan kembali. Dia menjawabku dengan ayat ini :

"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan" (QS. 33/Al Ahzab :9).
Begitulah lika-liku cerita sejarah harapanku di bulan September. Sebuah perjalanan hati yang “mewah” alih-alih bilang rumit he...he...he. Aku selalu yakin setiap orang punya kisah masing-masing di sepanjang perjalanannya. 

Lalu, bagaimana kisah perjalanan teman-teman pembaca? Boleh kah berbagi? Siapa tahu bisa menginspirasi.









Read More

Prive Uricran Buat Kita Bebas Sehat Untuk Semua

Rabu, 10 Juli 2019

Siapa sih yang nggak suka sehat? Kalau saya bilang sih sehat itu salah satu modal utama. Bagaimana tidak kalau jiwa dan raga terjaga kita jadi bisa maksimal bermanfaat buat lingkungan sekitar. Mau lakukan ini dan itu nggak ada halangan.

Tapi sayangnya nih, karena lalai, malas, abai dan sederet kata yang maknanya serupa kesehatan kita jadi terganggu. Salah satunya gara-gara kebiasaan "nahan". Padahal duh ya mana tahan kalau sudah kena sakitnya? Mau dihempaskan juga sudah terlanjur terasa perihnya.

Aku pernah mengalaminya dan asli itu nggak enak banget.  Ingatannya masih membekas huhu.... Ya, karena terlalu sering bilang "nanti ah sekalian..tanggung..".

Waktu periksa, pak Dokter malah kasih alih-alih nasihat justru ledekan. Sambil bergurau beliau sih, mungkin gemes kali ya sudah terlalu banyak pasien yang ndableg..Hehehe

Dulu nggak cukup cari informasi tentang kenapa aku bisa kena penyakit tersebut. Sudah dari dokter, minum obat dan sembuh, lalu berdoa si sakit nggak balik lagi. Titik.

Nah, alhamdulillaah beberapa waktu lalu dapat kesempatan jajan ilmu tentang penyakitku waktu itu. Berawal dari pengumuman mbak Ika Puspita digrup Komunitas  Blogger Gandjelrel untuk datang di acara yang digagas Combiphar yaitu "Uricran Womens Community dan Percaya Diri dengan Memelihara Saluran Kemih", bertempat di Hotel Noormans. Aku pikir sambil silaturahim offline dengan teman-teman blogger pasti juga ada banyak teman baru dari komunitas perempuan lainnya. Salah satu harta adalah kekayaan lingkaran pertemanan, bukan?

Memberanikan diri menyusuri rute yang cukup jauh dan kurang familiar aku lewati adalah tantangan tersendiri. Balada punya rumah di ujung Semarang (baca : Semarang coret), ya disyukuri saja. Setelah mengantongi ijin suami tentunya, berangkat pagi itu.

Sesampainya dilokasi, absensi dan saling sapa dengan teman-teman. Setelah mendapatkan tempat duduk yang tersisa, eh liat spot photo booth. Emak millenial mana yang tahan kalau nggak foto dulu. Puas berswafoto langsung ambil kudapan yang sudah disediakan panitia. Tak lama acara pun dimulai.

Bu Dyah Parikoening, selalu Head of Brand Aviaton Combiphar yang memberikan sambutan pertama sekaligus membuka acara pagi hari itu. Beliau menyampaikan perihal acara yang akan berlangsung dan juga sisipan informasi bahwa akan ada digital content competion. Merupakan kompetisi yang bisa diikuti oleh rekan-rekan blogger ataupun content creator lainnya.




Setelah beliau, dilanjutkan narasumber lainnya yaitu ibu Michele Talitha dan dr. Olivia Franciska Laksmana, S.pOG yang keduanya masih muda dan enerjik. Pada paparannya Bu Michele mengatakan bahwa wanita seringkali lupa untuk teratur minum air putih dalam aktifitas kesehariannya. Sepele sih tapi ini dampak negatifnya besar buat tubuh salah satunya jika kekurangan cairan dalam tubuh, kita akan anyang-anyangan. Selain karena kurang minum, kebiasaan yang tadi sudah aku sampaikan juga jadi salah satu sebabnya.


Apa itu anyang-anyangan?

Pasti sudah sering dengar kan ya? Atau juga jadi salah satu pelaku yang kalau lagi anyang-anyangan terus ikut ikat jempol kakinya? Ayoo, ngaku?!! Termasuk aku sih ini he-he-he
Anyang-anyangan itu istilah awam dari Infeksi Saluran Kemih atau sering disingkat ISK. Infeksi ini adalah salah satu infeksi paling umum menjangkiti manusia. Terjadi pada saluran kemih, infeksi ini terjadi karena mikroba. Sebagian besar dari kasus ISK disebabkan oleh bakteri, walaupun dapay juga disebabkan oleh jamur, dan pada kasus tertentu disebabkan oleh virus.
Kasus penderitanya adalah 5 dari 10 wanita pernah mengalami ISK, 2 diantaranya mengalami pengulangan. Wanita adalah paling rentan terkena infeksi ini termasuk wanita hamil dan menopause, selain itu anak-anak dan pria juga bisa terkena anyang-anyangan meskipun kasusnya tidak banyak.



Alasan Mengapa Wanita Lebih Rentan Terkena ISK

1. Secara anatomis saluran kemih wanita lebih dekat dengan anus, dibandingkan pria
2. Wanita harus menggunakan air saat membasuh setelah buang air kecil dan air bisa menjadi "rumah" buat bakteri.
3. Lebih sering menahan buang air kecil karena wanita perlu pergi ke toilet untuk BAK.
4. Resiko terekspos bakteri lebih tinggi apalagi jika menggunakan toilet duduk dan ditempat umum.





Ciri-Ciri Gejala Terkena ISK

1. Ingin buang air kecil terus menerus
2. Buang air kecil terasa sakit/nyeri
3. Buang air kecil tidak lancar
4. Beberapa kasus BAK berdarah
5. Urin berwarna keruh atau gelap
6. Bau urin tidak sedap



Apa Penyebab ISK?

80% kasus ISK terjadi karena adanya bakteri E-coli yang menempel pada dinding saluran kemih. Bakteri E-coli adalah bakteri yang hidup disaluran pencernaan manusia. Bakteri ini dikeluarkan melalui anus bersamaan dengan feses, hingga bisa secara tak sengaja masuk ke saluran kemih dan menempel di dinding saluran kemih. Jika dibiarkan maka dapa menyebabkan ISK.




Beberapa Penyebab Mengapa Bakteri Bisa Masuk :

1. Toilet kurang bersih
2. Hubungan seksual
3. Air kotor
4. Menahan buang air kecil
5. Cara yang salah saat membasuh organ intim


Meski demikian, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan agar terhindar dari ISK, yaitu :
* Membersihkan area kewanitaan secara benar, yakni dari depan ke belakang. Jangan sebaliknya.
* Memeriksakan kehamilan secara rutin.
* Menggunakan bahan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat dengan baik.



Cranberry dan Kesehatan Saluran Kemih

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Uricran pada Desember setahun silam sebagian besar penderita ISK menyadari dan merasakan tidak nyaman, sebab mengganggu aktifitas sehari-hari. Namun  mereka yang terkena ISK ini masih memiliki kesadaran yang rendah untuk melakukan pencegahan maupun perawatan. Lebih detailnya kawans bisa buka dan dilihat di website Uricran ya.


Mengapa Cranberry?

Cranberry atau 'vaccinium oxycoccos' telah lama diteliti dan digunakan di dunia, dan terbukti efektif mencegah infeksi saluran kemih karena kaya akan PROANTICYANIDIN (PAC) yang dapat mencegah penempelan bakteri E-coli pada dinding saluran kemih.
Cara kerja cranberry adalah dengan mencegah bakteri E-Coli menempel pada dinding sel epitel saluran kemih (teflon effect).

Cranberry dipilih sebagai alternatif antibiotik profilaksis, yang dapat mengurangi angka kejadian infeksi E-Coli pada saluran kemih sebesar 36% , serta menurunkan 58% angka kejadian ISK berulang.
Tantangannya adalah tumbuhan berry liar ini tidak mudah diperoleh di Indonesia. Mereka banyak tumbuh di Amerika bagian Utara dan Kanada. Jadi seandainya buah ini tersedia di akan jadi produk impor yang mahal. Apalagi rasanya yang cenderung asam harus diolah dulu menjadi jus yang lebih nyaman dikonsumsi kita.


Mengenal Prive Uricran

Kabar gembiranya, PT. Combiphar memangkas segala kegalauan yang sudah disebutkan diatas.  Mempersembahkan Prive Uricran suplemen makanan dengan varian rasa cranberry pertama di Indonesia. Ekstrak Cranberry yang jika kita minum setiap hari dapat mencegah anyang-anyangan atau Infeksi Saluran Kemih datang dan berulang.

Prive Uricran ini tersedia dalam dua varian, yaitu Uricran Capsule dan Uricran Plus. Komposisi Uricran Capsule adalah 250 mg Cranberry Extract, dosis 1-2 kapsul perhari, sedangkan komposisi Uricran Plus 375 mg Cranberry Extract, 60 mg Vitamin C, 0,1 mg Bifidobacterium bifidum, 0,1 mg Lactobacillus acidophillus, dosis 1-2 sachet perhari.



Kawans, mengkonsumsi Uricran dapat membentu mencegah anyang-anyangan ataupun ISK sehingga kita nggak perlu lagi konsumsi antibiotik. Sebab sebisa mungkin kita baiknya menghindari mengkonsumsi antibiotik. Cara kerja antiobiotik adalah dengan mematikan seluruh bakteri yang ada dalam tubuh kita, tidak melihat apakah bakteri itu baik atau kah jahat. Padahal bakteri baik masih kita butuhkan dalam tubuh kita. Lalu jika tidak diminum teratur, antibiotik akan menyebabkan resistensi dalam tubuh kita alias kebal hingga menyebabkan kita harus menambah dosisi lebih tinggi di kemudian hari. Oleh karena itu ibu hamil tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi. Pun antibiotik tidak dapat mencegah anyang-anyangan datang lagi kok.

Nah, kawans sudah nggak ragu lagi untuk bisa mengkonsumsi Prive Uricran ini secara rutin. Sebuah solusi alternatif yang melegakan, menghempaskan kegalauan hati jika satu saat ISK datang menghampiri.

Oh iya, lagi ada kuis berhadiah tiket ke acara puncak UriCrevent, lho! Yuk, cek di account Instagram @uricran.id! 5 orang yang beruntung akan dapat tiket ke acara final UriCrevent di Jakarta.

Jangan lupa ya, Ladies! Caranya simple banget, cukup cek kuisnya di Instagram @uricran.id dan jawab pertanyaannya dikolom komentar. Jangan lupa pakai #uricran dan #uricrevent ya!


Itu sekelumit cerita bahagia yang bisa aku bagi dari jajan ilmuku beberapa waktu lalu. Semoga bermanfaat untuk menambah referensi kawans semua biar no galau...galau kalau tiba-tiba anyang-anyangan atau ISK atau Infeksi Saluran Kemih ini datang.
Salam dan semangat sehat untuk semua, kawans.

#uricran #uricranwomenscommunity #combiphar #semarang
Read More

Memoar Si Jeki

Senin, 13 Mei 2019


"Tanggung nih bentar lagi kelar", fokus pikiran dan matanya terus saja mondar-mandir dari layar monitor, bertumpuk-tumpuk kertas dokumen dihadapannya, lalu ke jam dinding. Sembari jemarinya terus bergerak dari huruf satu ke huruf lainnya. Tagihan laporan dan daftar 'deadline' sudah menunggunya. Ia agak panik, sejak tadi ia berjibaku mengejar semua urusan ini tapi rasanya kenapa tak kunjung usai. Padahal atasan sudah menunggu pekerjaannya. 20 menit menuju bedug maghrib, hatinya makin galau. Perang kata dalam batinnya mulai makin seru.
"Belum sholat asar, tapi ini kurang dikit lagi. Tanggung banget", bisik suara gelap dalam dirinya.
"Hiish, ngawur! Tinggalkan dulu urusan duniamu. Kebutuhanmu menghadap Tuhanmu lebih dulu. Cepatlah!", sergah suara terang menepis bisikan si gelap.
Lantangnya suara terang membuat si Jeki seketika mematung, mungkin saja ia merenung. Lalu, tak lama ia geser kursi, berdiri dan beranjak dari belenggunya. Setengah berlari menuju ke mushola kantornya. Ia lepas sepatu, dan segera ambil wudhu. Hati kecilnya lega, senang si Jeki memilih yang benar.
Belum lama, kurang satu rakaat terdengar sayup suara azan maghrib entah dari surau siapa diluar sana. Menangis hati Jeki. Astaghfirullah, nyaris terlewat dengan hati masygul ia selesaikan sholatnya. Lepas salam ia menunggu sebentar, memeriksa gawainya ia menuju ke salah satu aplikasi. Ia memastikan pendengarannya, dan rupanya memang betul telah masuk waktunya.. Jeki melihat sekeliling tak ada yang bisa ia makan atau minum untuk menyegerakan berbuka. berdiri kembali, segera ia lunasi kewajibannya.
Setelahnya ia bergegas, kembali ke ruangannya. Tampak lengang, beberapa rekannya mungkin telah pulang. Ia berjalan ke arah 'pantry' kecil disudut ruangan, ia buat teh hangat dan mengambil tiga butir kurma. Jeki pun duduk kembali dibangku kerjanya, menyeruput teh dan menikmati kudapannya. Matanya menatap kembali tumpukan berkas dihadapannya.
Pikirnya, kalau ini diteruskan bisa jadi aku melepaskan kesempatan emas lagi.
Sholat isya masih bisa aku temui diluar bulan ini, tapi tarawih? Kapan lagi ada sholat malam yang perkalian pahala-Nya berlimpah ruah macam sekarang?
Perang batin Jeki dimulai lagi, ia menunduk, mendongak, mengangguk, menggelengkan kepalanya sendiri seperti layaknya orang bercakap-cakap. Jeki teringat Ramadan hari pertama ia dengar kabar berpulang seorang koleganya, hari ketiga lalu tetangganya diumumkan melalui pengeras masjid juga telah tutup usia. Bisa jadi aku, berikutnya. Tak ada yang tahu pasti, Allah memanggilku pulang. Tak ada garansi aku bisa menemui Ramadan lagi ditahun depan. Tepat saat Jeki bersepakat dengan imannya, mengalahkan bisikan nafsu yang berusaha mengoyaknya dengan iming-iming dunia. Azan isya berkumandang, kali ini sangat jelas terdengar ditelinganya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, semua masih tampak sibuk.
Jeki tersenyum, dalam hatinya bergumam aku pun tadi begitu lagaknya bilang sama "Tuhan, maaf sebentar lagi aku masih sibuk. Mengertilah?". Lalu coba pikirkan bagaimana jika dibalik, saat kita butuh pertolongan-Nya Tuhan jawab, "Urusanku lebih banyak dari kamu, maaf Aku sangat sibuk!".
Jeki menutup percakapan batinnya, sebuah memoar yang menuntunnya kembali jalan pulang yang seharusnya. Bergegas ia mengambil sajadah dan melenggang keluar. Sambil tak lupa ia tetap berusaha mengajak teman-temannya. Soal pilihan? Tentu itu terserah mereka saja.

#RWCODOP2019 #OneDayOnePost #Day5 #deeirum #semestanayanika #memoar
Read More

5 Tips Kegiatan Ngabuburit Biar Puasa Tetap Asyik

Kamis, 09 Mei 2019

"Nanti kita ngabuburit kemana, gaes?". Kalimat itu pasti kerap sekali kita dengar dibulan ini. Orang-orang sekitar kita pasti sering menyebut istilah ini. Belum lagi acara di televisi, jelas punya andil besar membuat kata 'Ngabuburit' jadi begitu familiar. Ngabuburit bisa dikatakan sudah jadi tradisi yang tidak bisa lepas begitu saja dari bulan puasa Ra­ma­dan.

Melalui aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (V), coba mencari arti kata 'Ngabuburit'. Disana tertulis menunggu azan maghrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Merupakan turunan dari kata 'burit' yang artinya sore. Asal serapan kata dari bahasa Sunda. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ngabuburit’ punya arti 'ngalantung ngadagoan burit'. Artinya bersantai-santai menunggu waktu sore. Waktu 'Burit' ini biasanya antara jam 15.30 - 17.30 atau lepas salat Ashar, sebelum senja tiba dan azan berkumandang.

Nah, kalau mau definisi kekinian mungkin 'ngabuburit' bisa diartikan bersantai menunggu datangnya waktu berbuka puasa sambil mengerjakan sesuatu. Sayangnya makna 'ngabuburit' justru sering bergeser, bisa meluas dan menyempit, jadi positif atau malah negatif. Semua terlepas dari pemahaman, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Niat mengisi waktu menunggu berbuka malah jadi mengganggu inti nilai ibadah utamanya.  Sedihnya lagi kalau malah sampai membatalkan puasa. Waktunya bulan untuk taubat cari selamat eh malah pahala hilang nggak bermanfaat.

Apa saja sih alternatif 'Ngabuburit' yang berfaedah?

1. Tidur
Tidur bukan sembarang tidur ya, atau seharian kita tidur mentang-mentang dikatakan bahwa tidurnya orang puasa bernilai ibadah. Istirahat secukupnya sesuai kebutuhan agar tubuh tetap berenergi hingga tarawih nanti.

2. Berolahraga
Puasa bukan halangan untuk tetap berolahraga. Ini membantu menjaga metabolisme tubuh supaya tetap bugar. Nggak perlu olahraga berat, cukup gerakan ringan saja. Seperti bersepeda, senam, ataupun jogging.

3. Berberes Rumah
Membereskan rumah adalah salah satu pilihan yang tepat. Selain berpahala, rumah jadi rapi dan bersih hingga kita siap tiap saat tanpa menunggu lebaran tiba jika ada kunjungan dari tetangga, kerabat, atau sahabat. Tidak lupa juga membongkar dan membereskan isi lemari. Pilah pilih pakaian yang menumpuk, dan salurkan pada yang lebih membutuhkan agar lebih bermanfaat.

4. Membaca Buku atau Tadarus Al Qur'an
Bulan Ramadan juga dikenal sebagai bulannya Al Qur'an hingga sangat sayang jika kita melewatinya tanpa lebih dekat dengan kitab tuntunan kita. Bisa juga dengan baca buku-buku untuk menambah ilmu dan menebalkan iman kita.

5. Kegiatan Sosial
Suasana Ramadan paling tepat untuk berlomba ikut serta atau menyelenggarakan kegiatan-kegiatan  positif bagi masyarakat. Berbagi paket berbuka, takjil, kunjungan ke panti asuhan atau pondok sosial dan kegiatan sosial positif lainnya.

Masih banyak lagi, kegiatan bermanfaat yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu. Intinya nih kegiatan 'Ngabuburit'  sebaiknya gunakan untuk mengisi catatan amal baik waktu jelang buka puasa yaitu dengan perbanyak kegiatan positif dan kalau nggak mau rugi jangan dekati yang berpotensi bisa membatalkan puasa.

Kalau kamu kegiatan favorit 'Ngabuburit'nya apa saja? Boleh dong bisik-bisik nih beri tahu apa tips asyik kamu?

#RWC2019 #OneDayOnePost #Day4

Read More

Nasihat dalam Semangkuk Kolak

Rabu, 08 Mei 2019

Apalagi selain sirop yang bisa membuka laci kenangan tentang bulan puasa? Setuju! Iya benar, Kolak. Rasanya kurang mantap jika takjil andalan ini tak muncul dibulan Ramadan. Saat seperti ini dengan mudahnya kita temukan menu ini diberbagai tempat. Kolak dengan aneka campuran bahan didalamnya. Ada yang sederhana saja hanya ada pisang saja bahkan ada yang lebih menyukai tanpa santan atau biasa disebut 'Kolak Setup'. Namun banyak juga yang lebih suka resep kolak lengkap. Yaitu yang didalamnya ada pisang, ubi/singkong, beberapa orang juga menambah kolang-kaling agar lebih kaya cita rasanya.

Dibalik nikmat semangkuk kolak, ternyata terkandung nasihat yang sangat dalam maknanya. Kolak merupakan salah satu kearifan lokal warisan dari para ulama terdahulu. Sajian sedap yang jadi media penyebaran Islam di tanah Jawa. Cara syiar yang cepat dan sederhana agar mudah diterima oleh masyarakat yang belum mengenal Islam dengan baik.

Penamaan kolak juga tidak sembarangan, para pendakwah (Wali Sanga) tampaknya telah memikirkan tiap elemen yang ada pada kolak memiliki nilai filosofisnya masing-masing. Dahulu kolak disajikan dibulan Syaban atau Ruwah sebagai penanda persiapan menyambut datangnya Ramadan . Namun, kini berlanjut hingga jadi sajian khas bulan puasa.

Kolak merujuk pada kata 'Khala' atau kosong, artinya bahwa manusia harus menyambut kematian dengan berusaha bertaubat, mengosongkan dosa-dosa agar kita mendapatkan sebaik-baik akhir usia. Menurut cerita lainnya dikatakan kolak berasal dari kata bahasa Arab, 'Kholaqo'. Kata ini merujuk pada arti Khalik, yang artinya dalam KBBI V adalah pencipta, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini menyiratkan makna bahwa kita harus senantiasa mendekatkan diri pada yang menciptakan kita dan selalu bertakwa kepada-Nya.

Bahan-bahan dasarnya juga tak kalah dalam maknanya. Pisang yang dipilih biasanya dari jenis kepok. Mengacu pada kata 'kapok' (bahasa Jawa) artinya adalah jera atau menyesal. Kita manusia diharapkan menyadari kesalahan yang telah kita perbuat dan jera tidak akan melakukannya kembali. Lalu, bahan lain yang sering digunakan ubi/singkong. Keduanya termasuk 'Pala Pendem' artinya yang tumbuh dalam tanah. Ini mengisyaratkan bahwa suatu saat kita pasti akan menghadapi kematian, dikubur dalam tanah, karena itu kita harus segera bertaubat mengubur dosa-dosa yang pernah kita perbuat dan hanya menempuh jalan ridho-Nya. Lalu, elemen yang paling penting kuah santan atau dalam bahasa Jawa disebut 'santen'. Dimaknai sebagai kependekan dari 'Pangapunten'; permintaan maaf. Artinya jangan pernah lupa kesalahan yang pernah kita perbuat jika itu kepada Allah maka segera bertaubat. Bila kesalahan itu antar sesama manusia maka segeralah meminta maaf.

Sepertinya semua filosofi diatas, cocok dengan situasi negeri kita belakangan ini. Sebelum dan selama masa menyambut pemilu 2019, saling lempar kata-kata yang tak sepantasnya, rasanya tak henti terpampang caci maki dari sana sini.

***
Kini saatnya sudahi adu urat
Kata-kata sarat isyarat
Jangan lagi berdebat
Siapa yang paling hebat
.
Kemarin kita saling tuding tuduh
Berebutan memadamkan suluh
Sungguh padahal kita saling butuh
Agar terus berbangsa utuh
.
Kembalikan saja pinta pada kuasa-Nya
Diujung doa tentang pemimpin yang bijaksana
Jangan sampai kita terus terkotak-kotak
Lebih baik sekarang kita berbagi bermangkuk-mangkuk kolak
***

Hampir delapan bulan banyak sekali yang saling bersitegang, karena pilihan sikap politik yang berbeda. Bukankah setiap orang punya kesempatan dan kecenderungan pilihan masing-masing? Tak bisa kah kita saling menghormati, tetap bersanding bersama dan terus berbesar hati mencintai negeri ini.

#RWC2019 #OneDayOnePost #Day3

Read More

Narasi Isi Hati di Hari Kartini : Emansipasi Bukan Ambisi

"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."

Kutipan diatas adalah salah satu dari sekian banyak kutipan inspiratif R. A Kartini. Tepatnya 140 tahun yang lalu beliau lahir, kemudian sejarah bangsa ini mencatat tiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai momentum penting kebangkitan para perempuan Indonesia. Lalu, apa sih yang patut kita renungkan dari semangat perubahan beliau untuk para perempuan pribumi?

Dulu hingga kini, perayaan Hari Kartini selalu identik dengan kebaya, jarik, karnaval, ataupun lomba-lomba lainnya yang sayang sekali sering lepas dari esensi perjuangan pada awalnya. Bukan tidak boleh, karena perayaan yang beranekaragam hanyalah simbolisasi penghargaan atas nilai-nilai inspiratif beliau. Seperti kutipan diawal tulisan ini yang menyiratkan harapan bahwa kehidupan akan senantiasa mengalami perubahan. Oleh karena itu kita jangan pernah berhenti berjuang mengupayakan perubahan untuk kebaikan. Tentu bukan hal yang mudah, namun pasti ada celahnya. Jadi jangan mudah menyerah.

Ada lagi kutipan beliau yang jadi favoritku, sederhana namun sarat maknanya. “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. Hal ini aku pahami begini, 'Kita dapat menjadi manusia seutuhnya'; sebagai perempuan, kita layak memperoleh hak-haknya. Tanpa harus ada batasan gender ataupun hal lainnya. Perempuan yang pintar, berbudi pekerti baik dan berdikari.

'Tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya', artinya. Ibu Kartini mengisyaratkan untuk mendapatkan hak-haknya tersebut  perempuan tidak perlu jadi menyerupai pria. Tetap jadi sosok sesuai kodrat keperempuanan-nya. Figur kasih sayang, kelemahlembutan, sigap bertanggung jawab pada rumah tangganya kelak. Yaitu jadi sosok ibu untuk anak-anaknya, dan juga sebagai belahan jiwa, teman seperjalanan bagi suaminya. Ibu yang ADA DI DUNIA dan juga ADA DI AKHIRAT. Bukan ibu semu apalagi palsu.

Perempuan berhak berekspresi dan mengeksplorasi dirinya baik diranah domestik maupun publik sesuai dengan kemampuan, minat, bakat atau passionnya. Menghasilkan karya, tanpa melepaskan tanggung jawab sebagai sosok ibu di dalam rumah tangganya. Sekali lagi, bagi saya pribadi inilah emansipasi sesungguhnya. Sebab saya yakin, ibu Kartini dulu berjuang bukan untuk melawan kodratnya. Jangan terjebak pada definisi emansipasi yang salah kaprah. Emansipasi bukanlah ambisi kebebasan semata. Emansipasi adalah aksi. Semangat yang mendamba perempuan mampu bersikap sesuai porsi. Beraksi dengan tetap menempatkan posisi fitrahnya sebagai perempuan.

Ditegaskan kembali oleh beliau pada kutipan berikut :
“Alangkah bahagianya laki-laki, bila isterinya bukan hanya menjadi pengurus rumah tangganya dan ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya, menghayatinya bersama suaminya.” (Kartini, 4 Oktober 1902).

Perempuan memiliki kesempatan, kedudukan, dan derajat yang sama dengan lelaki. Perbedaan hanya pada peranannya. Keduanya saling melengkapi dan menyeimbangkan. Tidak ada yang lebih unggul apalagi lebih rendah.

Semuanya predikat tertingginya hanyalah Makhluk 'Hamba' Allah yang sempurna kekurangannya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71).

Sayangnya seringkali orang salah, ketika perempuan lebih memilih di rumah dianggap kiprahnya tidak berdampak bagi masyarakat. Padahal tentu saja itu tidak benar, jika perempuan bersungguh-sungguh dari dalam rumah. Melakukan hal-hal produktif seperti jadi pendidik utama anak, mengajarinya adab, dasar agama pada anak, akhlak dan budi pekerti yang baik, bersama suaminya bahu membahu mengelola rumah tangga, menjaga keseimbangan, keharmonisan serta keutuhan unit terkecil masyarakat yaitu keluarga. Maka, pasti akan berdampak pada lingkungan yang lebih besar dan luas lagi.

Begitu juga bagi perempuan yang memilih berkiprah diranah publik, maka ia hendaknya selalu berkomitmen bersungguh-sungguh didalam dan diluar rumahnya. Setiap pilihan selalu ada resikonya, bukan?

Perempuan boleh berkarir dan menggapai cita-cita setinggi apapun itu tapi jangan pernah meninggalkan perannya dalam keluarga. Perlu kemauan dan kerja keras untuk menyeimbangkan hal ini. Ketentuan ini juga berlaku bagi para lelaki, meskipun ia menyandang predikat kepala keluarga yang tugas utamanya mencari nafkah.

Ayah sebagai pemimpin keluarga tetap tidak diperkenankan meninggalkan kewajibannya untuk terlibat dan berperan aktif dalam mendidik keluarganya.

Read More