MAMA, PAYUNG TEDUH PELINDUNGKU

Selasa, 02 Januari 2018

Bismillahirahmanirrahiim

Sejujurnya tulisan ini seharusnya sudah cukup lama dieksekusi, disampaikan dirumah belajar kelas offline blogging IIP Semarang awal bulan desember lalu. Seperti kita ketahui tanggal 22 Desember di negara kita ini diperingati sebagai Hari Ibu.Tema yang populer dan dekat sekali dengan kehidupan kita adalah tentang ibu.
Bercerita tentang mama bagi saya tidak akan pernah ada habisnya, jika ibarat sinetron entah akan menjadi berapa sekuel judul akan terus berlanjut. Mungkin saja bisa bersambung seumur hidup ceritanya, sebab memang tak akan ada selesai belajar dari mama. Tema ibu selalu ingin saya ceritakan, namun ada saja alasan untuk menggoyahkan kesungguhan ini ketika ingin memulainya. Memang dasar orangnya juga kebanyakan bkin alasan sih ehehehe. Bayangan ingin menuangkan semua ide dalam tulisan tentang ibu hilir mudik bergantian, namun pada akhirnya harus rela berujung pada kerangka cerita saja atau lebih mengenaskan paling juga berupa corat coretan saja. Ya begitulah saking kebanyakan berpikir itu benang merah tulisan nggak ketemu, malah benang ruwet yang mampir. Ada kalanya niat itu memang butuh pemaksaan, jika tidak pasti belenggu kemalasan dengan segala macam mantranya akan terus menggagalkan usaha kita. So, let’s get move..!

Sejarah Hari Ibu di Indonesia
Sebelum bercerita tentang mama, baiknya kita menilik kebelakang belajar sejarah bagaimana awalnya ditetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Bagi saya belajar merunut latarbelakang sejarah adalah sebuah kondisi yang senantiasa harus diupayakan sebagai dasar pemikiran. Ya supaya tertib pikir dan nalar saja sih sebenarnya ditengah ‘kesememrawutan’ saya ahahahay...
Peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Awalnya Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, 22-25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini diprakarsai oleh tiga tokoh wanita yakni: R.A. Soekonto dari Organisasi Wanito Utomo, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa dan Sujatin dari Putri Indonesia.
Kongres Perempuan Indonesia I dihadiri sekitar 1.000 perempuan, berasal dari 30 organisasi wanita yang ada di 12 kota se-Jawa dan Sumatra. Pertemuan ini kemudian melahirkan Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lainnya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.
Agenda utama Konggres Perempuan Indonesia I adalah persatuan perempuan nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.
Kongres Perempuan Indonesia II kemudian digelar Juli 1935. Dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang. 
Jadi pada dasarnya penetapan peringatan Hari Ibu di Indonesia adalah untuk mengenang semangat dan memaknai perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi tersebut terangkum menjadi kesatuan semangat kaum perempuan bangsa ini yang berasal dari beragam latar belakang untuk bersatu dan bekerjasama. Luhur sekali, bukan? ibu-ibu bangsa kita kala itu.

Hari Ibu ‘Jaman Now’
Saat ini Hari Ibu mungkin telah bergeser maknanya, atau mungkin bahkan telah dilupakan semangat awal ditetapkannya secara nasional peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Sebab terkadang Peringatan Hari Ibu memang se­olah hanya menyatakan rasa cinta ter­hadap kaum ibu, saling ber­tukar hadiah, dibeberapa tempat menyelenggarakan ber­bagai acara dan kompetisi, seperti lom­ba memasak dan memakai kebaya. Peringatan ini kadang terkesan sekedar perayaan agar tetap dianggap kekinian, ikut mengucapkan ‘Selamat Hari Ibu’ dengan membawa sekotak romantisme berbentuk seikat bunga, coklat ataupun kado-kado lain tak lupa cekrek..cekrek dan unggah ke media sosial dengan ‘caption’ sebagus mungkin.
Tak ada yang salah sih, karena hadiah-hadiah serta perayaan itu tujuannya untuk menyenangkan hati ibu dan tidak ada yang pernah tahu bisa saja unggahan foto-foto kita itu akan mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan yang sama kepada ibunya.
Namun janganlah perayaan ini hanyalah untuk menjaga gengsi yang isinya mencari sensasi dan penuh imitasi. Menjauh dari esensi untuk mengenang ibu kita dan para ibu bangsa yang begitu luar biasa menjadi salah satu garda utama menjaga kualitas prima generasi bangsa kita. Intinya jangan sampai melupakan sejarah, bahwa nilai utama memperingati Hari Ibu di Indonesia ini ada­lah mengenang para pahlawan-pah­lawan perempuan Indonesia. Momentum refleksi atas perjuangan para pahlawan pe­rempuan bangsa ini, sekali­gus dampak perubahannya kepada gene­rasi sekarang.

Aku dan Makna Peringatan Hari Ibu
Hari Ibu bagi saya adalah setiap hari, berusaha tidak hanya ditanggal 22 Desember saja memperingati Hari Ibu, sebab rasanya tidak adil jika hanya dihari itu kita buat ibu kita spesial. Sebab setua apapun kita nanti akan tetap diperingati oleh ibu kita sebagai Hari Anak. Meski nggak selalu mulus buat Mama happy karena saya banyak khilaf lupa dan lalainya...haddeh..namun setidaknya saya sudah berupaya (ngeles aja...). Alangkah indahnya jika tiap hari kita rayakan kebaikan ibu kita dengan membuatnya selalu bahagia, seperti anjuran agama dalam banyak ayat di Al Qur’an juga hadist yang menuturkan tentang keutamaan ibu. Salah satunya dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15,
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(Qs. Al-Ahqaaf : 15)
Ayat tersebut menjelaskan mengenai hak ibu terhadap anaknya. Lama ibu mengandung hingga melahirkan pada umumnya paling cepat adalah adalah 6 bulan dan alamiah normalnya 9 bulan 10 hari, ditambah 2 tahun menyusui anak, hingga didapatkan genap 30 bulan.
Bahkan dalam sebuah hadist dikatakan bahwa kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).
Maka memaknai Hari Ibu bagi saya adalah semacam perayaan malam puncak dari seluruh hari pada kehidupan ini untuk mensyukuri kasih sayang yang telah diberikan Mama kepada kami. Doa-doa panjang dan tulus yang selalu digelar bersama sajadah panjang keridhoannya, perasaan cinta dan kasih sayang yang tak pernah habis dibagi dan tak pernah henti meski sudah setua ini. Pernah suatu kali, saya bertanya “Mama mau dibelikan apa? Atau “Mama mau makan dimana? Atau “Mama pengen pergi jalan-jalan kemana?” . Jawaban beliau akan selalu senada “Halah..nggak usah beli apa-apa uangmu ditabung saja, mau makan ya makan apa enak masakan Mama. Kalian pulang kumpul rame-rame dirumah malah enak terus bisa makan sepuasmu..”. Ya, begitulah Mama bagi mama momentum kebahagiaan adalah ketika kita saling ada, “hadir” dan peduli satu sama lain dalam kondisi apapun. Ujar mama lagi, “Orang tua dimana-mana ditelpon apa di SMS ditanya kabar aja sudah senang nggak usah sing neko-neko...”. Jawaban ini mak jleb rasanya tepat dihati..hiks...merasa disentil karena kadang masih suka lalai terlewat untuk sekedar berkabar dengan beliau. Akhirnya memang kami; saya dan adik-adik selalu bergantian untuk pulang ke rumah, selain karena beliau saat ini hanya tinggal berdua dengan kondisi kesehatan tidak seprima kala muda. Saya mendapatkan jatah sebulan sekali pulang, adik bungsu saya karena tinggal di Pati yang jaraknya lebih dekat dibanding saya ia mengagendakan dua minggu sekali pulang. Sedangkan adik laki-laki saya; si anak tengah yang tinggal di Kudus tentu ia mendapatkan jatah lebih sering berkunjung. Sebisa mungkin kami menjaga agar beliau tidak merasa diabaikan, telpon dan SMS meski tidak rutin setiap hari paling tidak seminggu sekali kami saling bertukar kabar.
Mama; idola, mentor, sahabat dan musuh debat
Bagi saya mama adalah paket komplit yang mampu menyandang banyak predikat, beliau adalah idola, salah satu panutan yang tidak mungkin tergantikan. Jika ada ungkapan bahwa ibu adalah malaikat tanpa sayap yang diturunkan Tuhan ke bumi, tanpa syarat saya dengan bulat sepakat dengan ungkapan tersebut. Sosok lembut sekaligus tangguh, tak banyak keluhan keluar dari diri beliau sesulit apapun keadaan yang dihadapinya. Sebagai anak sulung saya mengingat beberapa episode dalam perjalan kehidupan rumah tangga orang tua saya. Papa yang pegawai negeri sipil dan memulai karir dari bawah, belum lagi resiko pekerjaan papa harus sering berpindah tugas membuat mama siaga setiap saat untuk beradaptasi dengan segala situasi. Beliau rela melepaskan karir yang akan dimulainya di dunia perbankan untuk totalitas untuk keluarganya. Membesarkan dan menjadi madrasah kami. Pernah saya iseng bertanya dulu, "Mama nggak sayang nggak jadi kerja di Bank *** (saya menyebutkan salah satu merek bank pemerintah) kan kering, Ma?" Jawaban mama, "Kebanggaannya apa? Kalau mama kerja di Jepara papamu ditugaskan di Semarang terus anak-anak mama dititipkan orang, terus sibuk sendiri ketemu nggak leluasa, nggak tahu anaknya udah bisa apa? Mama bukan orangnya lagian papa juga sudah suruh bikin pilihan mama pilih keluarga apa pilih pekerjaan. Penjelasan itu akhirnya berkembang menjadi pelajaran sejarah awal keluarga, jadi mampir ke tema-tema nostalgia yang lain hehehe...Demi melihat mama yang berkobar semangatnya saya hanya tersenyum manggut-manggut plus diberikan irama berbunyi.."Oooo..." supaya lebih hidup suasananya. 


Mungkin mama bukanlah mama terbaik didunia bagi setiap orang, tapi bagi saya mama adalah hal terbaik dalam hidup saya yang telah Allah berikan. Konsep dasar mama mengasuh saya dan adik-adik selalu dihubungkan dengan nilai-nilai agama dan iman. Sejak dulu mama meyakini jika modal menjalani hidup ini adalah selalu melibatkan segala urusan kita dengan Allah, tidak akan pernah kita sesat susah dijalan. Ada kalimat mama yang nggak pernah saya lupakan, suatu saat saya sudah lulus  SMA waktu itu dan berencana belajar hidup bertanggung jawab jauh dari kota Kudus; Solo. Iseng saya bertanya, "Mama nggak takut kalau nanti kita berbuat apa gitu..nakal atau gimana?" Beliau langsung menjawab tegas, "Kenapa harus takut Mama punya Allah! Allah punya cara untuk kasih tahu Mama sama Papa. Mendidik anak itu kayak main layangan?"

"Maksudnya, Ma?" Sahutku. "Supaya layang-layang terbang tinggi ke langit perlu ditarik dan diulur butuh strategi. Harus menyesuaikan dan memperhatikan semua kondisi sekitar juga. Nggak asal paksa ditarik gitu, sudah nggak bisa terbang talinya juga putus. Mama nggak mau kayak gitu..." kalimat terakhir saya rasakan sebagai penegasan. "Jadi kamu mau bohong sama Mama, mungkin awalnya nggak tahu tapi suatu saat entah gimana caranya Allah pasti kasih tahu papa mama" Lanjut beliau kembali memberikan garis besar pembicaraan.
Kata-kata mama itu masih jelas saya ingat dan terus saya jadikan jimat ketika menghadapi anak-anak ideologis saya yang kadang luar biasa polah tingkahnya.

Mama, my sister and I
Mama adalah sahabat dan musuh (baca : lawan) yang "hebat". Bukan bermaksud sarkastik hehehe.. tapi memang demikian jika menggambarkan hubungan saya dengan mama. Jalinan kasih sayang kami terbilang unik, nggak selalu manis tapi juga nggak sampai pahit getir juga ceritanya. Dua orang yang keras kepala saling menyayangi tapi kesandung gengsi. Kata Papa, menurut penanggalan Jawa kami berdua punya neptu atau weton yang sama karenanya sifat dan karakter kami nyaris sama persis. Makanya sampai ada ritual "dibuang" terus nanti diketemukan orang lain untuk diasuh. Konon kabarnya biar nggak ada masalah dikemudian hari, tapi entahlah sampai saat ini saya juga tidak pernah mencari tahu filosofi yang sebenarnya dari ritual itu. Sedikit saya menduga mungkin karena sifat dan karakter maka gaya kami pun sama saat merespon sesuatu, maka adu kuat pendapat sering tak terelakkan saat kami sedang berdiskusi. Kalau sudah begitu seisi rumah hanya senyum-senyum melihat bagaimana kami saling menguasai diri. Namun, tetaplah Mama tetaplah Mama yang kuat pendiriannya saya pun tetap memeluk erat pendapat saya...dalam diam.
Banyak hal lagi yang bisa saya ceritakan tentang mama dan warisan nilai-nilainya, tak akan pernah habis saya menyerap semua ajaran luhur beliau. Mulai dari mengatur rumah tangga, manajemen keuangannya, bagaimana menjalani gaya hidup yang sehat, hemat, berhati-hati pada rejeki yang Allah titipkan dan banyak hal lagi. Salah satu yang ingin saya bagi adalah Mama selalu bilang sejak dulu, jangan minta kaya, rejeki yang banyak dan melimpah namun mintalah yang cukup, manfaat dan berkah. Ketika saya dengan naifnya bertanya apa bedanya, Mama menjawab kalau hanya kaya tapi dicabut berkahnya maka kekayaan itu nggak akan pernah cukup, merasa tidak tenang, mungkin dia kaya tapi dia sakit-sakitan, dan seterusnya. Berbeda jika minta dicukupkan dan berkah, Allah akan beri kecukupan sesuai dengan kebutuhanmu. Apapun keadaanmu Allah akan selalu isi dengan keberkahan, dan kenapa manfaat karena mungkin saja Allah beri kamu nikmat ada rejeki orang lain yang dititipkan lewat kamu.  Nggak semua bisa dibeli dengan uang, bahagia, rasa tenang karena Allah menjamin setiap makhluk-Nya itu dimiliki orang-orang yang bersyukur.



Mama; Payung Teduh Kehidupan dan Rahim-ku sepanjang hayat

Rahim menurut KBBI adalah sebuah kata benda berupa kantong selaput dalam perut, tempat janin (bayi); peranakan; kandungan. Definisi menurut kata sifat sifatnya adalah bersifat belas kasihan; bersifat penyayang: Allah yang bersifat rahim. 
Mama akan selalu menjadi rahim bagi saya dalam kedua arti itu. Saat saya sedang mengalami masa-masa sulit yang harus saya lewati Mama selalu bisa menjadi semangat untuk kembali tegar. Melalui nasihat-nasihatnya, pelukannya ataupun ketika hanya diam namun saya tahu mama sedang ramai merapal doa-doa panjang dalam hatinya. Sering pada kondisi itu saya membayangkan meringkuk lagi dalam rahim mama, mengisap jempol dan hanya mendengar detak jantung mama sebagai melodi terindah. 
Salah satu kekuatan terbesar mama adalah doa. Untaian harapan yang dirangkai dalam doa-doa beliau saat menggelar sajadah panjangnya sepanjang masa itulah yang menjadi payung teduh kami sepanjang hayat. Modal kami adalah restu dan ridho beliau, disamping ridho suami yang utama. 

Mama adalah manifestasi sifat Allah disemesta ini, rahim adalah kodrat Illahi yang dititipkan Allah melalui perempuan dan tak tergantikan. Bahkan ketika saat ini marak wacana sewa rahim...upss...helooowww...proses mengandung hingga melahirkan memang dikira cuma macam titipan sepeda motor? Titipan kendaraan saja perlu dipastikan keamanannya tidak asal taruh dan ditinggal. Rahim  dan kehamilan adalah proses kehidupan yang menakjubkan dan harus dijaga dengan kasih sayang paripurna, bukan sekedar penitipan ketika sel telur dan sperma telah bertemu.

Rahim memiliki kesempurnaan yang membuktikan kekuasaan Allah SWT. Rahim mampu berkembang secara elastis mengikuti ukuran jabang bayi yang kian lama membesar. Masa awal kehamilan rahim hanya menampung satu buah embrio yang berukuran sangat kecil, dalam waktu kurang lebih sembilan bulan rahim berkembang secara elastis. Ia mampu menopang perkembangan janin yang berbobot hinga 2,5 kilogram dan lebih besar lagi. Bahkan yang lebih mengagumkan lagi bisa menopang perkembangan janin kembar. Kita bayangkan jika rahim tidak memiliki elastisitas yang sempurna, tentu perkembangan janin  akan menjadi masalah dan menjadi penderitaan bagi wanita. Elastisitas yang sudah sedemikian sempurna ini saja masih menimbulkan kepayahan yang bertambah-tambah ditiap waktunya hingga janin ini dilahirkan. Selesai kah disana? Belum, proses melahirkan apakah itu normal ataupun operasi caesar sekalipun tetap melewati proses sakit yang luar biasa. Bisa kan dibayangkan betapa luar biasanya pejuang kita diambang pertaruhan hidup dan mati?

Mama...Ibu..Ammah...sampaikan kapanpun engkau luar biasa melebihi kata-kata yang mampu kami rangkai..hanya terima kasih yang tak pernah lunas membayar kasih sayangmu.  


Angel on earth


#RumbelLiterasiMedia
#IIPSemarang
#IbukuInspirasiku
#HariIbu2017
#MiladIIP



Sumber referensi :

Read More

INSTITUT IBU PROFESIONAL : JEJAK PERKENALANKU

Kamis, 30 November 2017

Pernah saya sedikit ceritakan dituliskan sebelumnya, bahwa perkenalan saya dengan Institut Ibu Profesional (IIP) adalah sebuah ketidaksengajaan. Sebelumnya memang pernah mendengar sekilas ketika seorang teman yang bekerja sebagai dosen fakultas Psikologi disalah satu universitas swasta di kota asal saya akan mengadakan seminar parenting. Saya lupa temanya apa hanya saja Bu Septi adalah narasumber utama kala itu. Saya hanya bergumam andai saja bisa hadir disana, kemudian berdoa jika satu saat nanti dapat bergabung dikesempatan yang lebih baik. Tahun berlalu hingga saya memutuskan resign dari ranah publik. Ya, banyak hal yang membuat saya bulat memutuskan untuk tidak mengajar lagi dalam sistem kecuali bila sistem itu benar-benar baik, Visi, misi dan aplikasinya aman dan ramah anak.
Babak baru dalam rutinitas hidup saya pun berubah, saya menikmati bertemu dan berkumpul dengan saudara, teman-teman baru. Mulai dari freelance mengajar kelas motivasi, berkenalan dengan komunitas-komunitas sosial berbasis edukasi yang digiatkan oleh pemuda pemudi luar biasa, menjadi konselor online dan sesekali mengisi materi berkaitan dengan remaja disitus online khusus remaja itu (yang sekarang sedang hiatus he-he-he), dan bersama teman-teman menginisiasi gerakan Kelas Inspirasi Kudus, dan kegiatan lainnya termasuk ikut workshop untuk memperkaya ilmu saya. Disalah satu workshop yang saya ikuti di Jogja selama tiga hari saya berkenalan dengan teman baru yang rasanya sudah macam saudara saja, ialah mbak Wawak dan mbak Febrin Aisyah. Keduanya sama-sama dari luar kota, bahkan mbak Febrin jauh terbang dari Banjarmasin.  Bersama mereka saya mengenal banyak hal utamanya adalah semangat untuk belajar, berani menitipkan perubahan. Saya bersyukur sebab Allah mengijinkan untuk bertemu dengan orang-orang yang frekuensi visi dan misinya sama.
Singkatnya setelah acara workshop tiga hari dua malam itu komunikasi kami masih berlanjut lagi. Tentu saja melalui alam yang berbeda di dunia maya, melalui perantara media sosial itu kami terus saling bertukar informasi. Seringkali kami juga berdiskusi terkait masalah-masalah anak, remaja dan pastinya kaitannya dengan dunia pendidikan. Hingga satu hari mbak Febrin menyarankan saya ikut IIP, saya tanya apa itu? Saya kan belum ibu? Apa saya nanti nggak kebawa perasaan karena pasti obrolannya tentang anak-anak yang luar biasa? Sebab saat workshop di Jogja dibeberapa sesi materi bawaannya nahan mewek melulu. Menanggapi pertanyaan saya, beliau hanya bilang dicari dan pelajari dulu apa itu IIP, keputusan akhirnya bagaimana terserah bunda! Sambil menyertakan link untuk bergabung di Matrikulasi IIP. Menurut beliau saya butuh ilmu parenting, bisa untuk mempersiapkan diri menyambut amanah-Nya nanti sekaligus anak-anak ideologis saya yang masih seringkali datang.
Setelah membaca sekilas tentang IIP, bertanya kesana kemari termasuk diskusi dengan Bu Dewi  Nur Istikomah yang akhirnya juga sekelas dengan saya sampai kelas bunda  sayang ini dan tak lupa terpenting adalah restu suami. Keputusan terbaik nampaknya saya harus berani bergabung dan berkenalan dengan IIP. Pesan suami saya eh lebih kepercayaan mungkin ya...beliau berkata, " Syaratnya nggak boleh baper-baperan atau senewen, kalau alarm itu sampai berbunyi Ibun harus tahu diri apa yang harus dilakukan". Ah tentu saja saya baper berulang kali tapi syukur saya masih mampu mengelola hati ini. Semangat...!!
Sedikit tentang IIP
Istilah ibu profesional muncul di benak bu Septi Peni Wulandani dan sang suami, Dodik Mariyanto, sejak 2008. Kriteria umumnya adalah perempuan itu bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai ibu, perempuan, dan istri. Mereka kuat, baik di ranah domestik maupun publik.
Mengapa harus profesional? Sebab, menurut beliau untuk menjalankan peran itu, diperlukan ilmu. ”Mau jadi dokter, sekolahnya bertahun-tahun. Begitu pula jadi jurnalis atau profesi lainnya. Sedangkan pekerjaan yang tanggung jawabnya dunia-akhirat, yaitu sebagai ibu, biasanya malah tidak dipersiapkan.
Salah satu semangat dan kesyukuran saya bergabung dengan IIP Semarang utamanya adalah semangat pembelajar. Apapun kondisi dan rintangannya, apakah ada diranah domestik maupun publik semua berkomitmen menjadi ibu dan istri yang profesional dan bahagia dengan apapun pilihannya. Ya, ibu yang bahagia merupakan sumbu kebahagiaan bagi keluarga. Saya yang sedang tertatih-tatih  belajar, rasanya selalu terperangah dengan kehebatan ibu-ibu pembelajar dikelas ini. Allah memang dan selalu maha baik, karena diperkenankan bertemu dengan ibu-ibu hebat pemegang kunci peradaban.
Sumber referensi :
https://www.google.co.id/amp/s/www.jawapos.com/read/2017/05/03/127355/septi-peni-wulandani-penggerak-institut-ibu-profesional%3famp=1
Read More

Membangkitkan yang Mati Suri

Senin, 13 November 2017

Baru mulai sudah ngeri amat yah judulnya...

Maaf yaa...

Ya, begitulah nggak berlebihan karena memang judul diatas adalah gambaran sebenarnya. Lama sudah ingin punya blog sendiri, setidaknya ada akses dan atau wadah untuk menumpahkan segala buih uneg-uneg yang kadang membuncah sesekali waktu. Tidak bermaksud menggantikan teman baik selama ini sih; buku, kertas dan pena ataupun buku diari yang juga kerap kali mangkrak. Namun terkadang ketika semua ide atau inspirasi datang tiba-tiba semua peralatan perang itu sedang tidak berada didekat saya. bisa ditebak kan?? raib..musnah..menguap begitu saja..mau diingat sudah terbang entah kemana. Nah, kalau gadget semacam telepon genggam pasti tidak bisa berlama-lama berjauh-jauhan hehehe...meskipun emak-emak jaman then tetapkan nggak mau kalah sama kids jaman now. Meskipun memang tetap akan lebih nyaman jika menggunakan laptop atau komputer pribadi. Setidaknya dengan semua kemudahan tehnologi dengan segala macam aplikasi yang semakin mempermudah kinerja manusia jaman now, bisa lah jadi pertolongan pertama supaya senewennya nggak kelamaan karena ide-ide segar menguap basi begitu saja. 

Sumber : www.google.com


Agenda yang menjadi prioritas setelah memutuskan untuk mengundurkan diri untuk tidak lagi berkarya diranah publik, salah satunya adalah memiliki blog pribadi. Motivasi paling besar adalah untuk aktualisasi diri.

Setahun lalu sudah mencoba utak-atik sendiri tanya sana sini kepada teman-teman yang sudah mengarungi dunia per-blogging-an tersebab rasa penasaran yang menghebat kala itu, lalu beli buku yang alih-alih dibaca eh malah kebingungan sendiri karena nggak ada lawan diskusi. Disamping itu mungkin karena saya termasuk tipe pembelajar yang tidak murni solitaire alias nggak bisa sendirian kalau belajar...krik...krik..bisa suwung kalau orang Jawa bilang; entah malah imajinasi apa yang mampir dalam otak saya nanti hehehe. Harus melihat, bertanya terus praktek seketika itu juga jika memungkinkan karena tipe gaya belajar saya termasuk Tactile Learner atau biasanya sering digolongkan sekelompok dengan Kinestetic Learner. Sederhananya gaya belajar taktil ini adalah gaya belajar yang cenderung aktif, bergerak, mengamati, menyentuh agar mampu merasakan pengalaman belajar sendiri. 

Maka dengan segala upaya yang telah ditempuh itu tetap saja ujungnya berhenti karena semakin banyak pertanyaan juga tuntutan dalam diri saya berkaitan dengan blog pribadi ini. Sempat diajarkan dan dikirimkan manual untuk panduan belajar blog yang kami kelola bersama, saat itu saya masih sesekali mengisi konten di-website Solusi Remaja sebuah media curhat online nirlaba karena maksud dan tujuan awal adalah memberikan bantuan dan pelayanan kepada remaja. Mendampingi remaja untuk melewati masa badai mereka agar sampai ditempat tujuan dengan aman dan tetap merasa nyaman. Dasar gerakan ini adalah komunitas dengan tagline sharing, caring and developing. Saat itu saya didaulat oleh salah satu pengasuh yang sekaligus founder komunitas solusi remaja tersebut. Saya diminta untuk bersamanya bergantian memberikan konsultasi online alias konselor dengan kekhususan saya untuk bimbingan karir dan sekolah. Panjang deh ceritanya nanti mungkin ya dijudul yang lain akan saya coba jabarkan sejarahnya. Nah, dikesempatan itu saya belajar membuat dan memahami blogging itu apa? saat itu saya diarahkan untuk membuat dengan blogspot sebagai awalan. Akhirnya saya pun nekat membuat blog, namun bingung mau diisi apa saja mau memberi alamat atau label tulisan saya kemana. Bertanya-tanya pula personal branding saya sesungguhnya mau dibawa kemana? (sebenarnya bukan nggak paham mau diberikan predikat apa namun suka banyak maunya hi hi hi). Bagi saya menulis adalah bagian dari keinginan yang selalu menjadi impian untuk diwujudkan, tidak hanya berguna buat saya sebagai sarana meditatif, relaksasi ataupun katarsis emosi saja. Lebih dari itu, saya ingin tulisan yang menjadi buah dari pikiran juga perasaan saya itu bisa menjadi referensi inspirasi bagi tiap orang yang membacanya. Bukan ingin disanjung atau dipuja puji namun itu adalah bentuk tanggung jawab saya jika nanti benar-benar bulat tekad saya untuk menjadi pencerita atau penulis. Blog adalah salah satu media penghubung saya menuju pintu impian berikutnya yaitu mempunya karya berupa buku best seller, yang menyuarakan gaung kebaikan melalui kata-kata. 

Singkat cerita setelah belajar sedikit dan berani membuat blog melalui blogspot; kemudian dengan semua kesibukan para senior saya yang ada dikomunitas Solusi Remaja maka setelah agenda offline kelas pendampingan motivasi di SMA Semesta. Kami akhirnya kembali tenggelam dengan aktifitas masing-masing diluar komunitas, sambil terus berharap obor pelita untuk tetap bisa membersamai para remaja terus dapat menyala.

Dampaknya upaya dan semangat saya untuk bisa konsisten belajar blog ikut luntur, hanya sesekali buka dan menulis itupun tidak dipublish hanya disimpan didraft. Entahlah semacam terjangkit virus ketidakpercayaan diri mungkin hehehe..

Bersyukur semenjak memutuskan untuk bergabung dengan Institut Ibu Profesional atau lebih dikenal dengan IIP, tidak henti-hentinya saya selalu menemukan kebanggaan bertemu dengan beliau semua dalam satu kelas online. Melalui WAg atau whatsapp grup kami saling berbagi ilmu eh saya ding saya menyerap ilmunya pada ibu-ibu hebat tersebut saya mah apa..bahkan remah-remahan peyek pun tidak hiks...masih banyak proses yang harus saya lalui. Dipandu dengan fasilitator dan pengurus-pengurus yang punya komitmen dan semangat yang hebat pula, rasa syukur itu pun semakin terus bertambah. Saya mengawali mengikuti IIP kelas matrikulasi batch 3 dan kemudian naik kelas; lantas masuk ke kelas bunda sayang batch 2 untuk wilayah Semarang-Salatiga. Alhamdulillah, bulan lalu diadakan kelas offline yaitu rumbel kelas blogging. Agenda rutin tiap hari kamis, secara teknis sudah terlaksana tiga kali pertemuan. Namun karena masalah teknis juga saya baru dapat bergabung sekali, pertemuan pertama saya terlewat sebab lupa hingga saya menyanggupi agenda lainnya yang; lalu pertemuan kedua saya kok nggak ingat ya kenapa saya nggak bisa hadir..hehehe..Sekali lagi saya bersyukur bertemu dengan ibu-ibu sholehah, cantik nan hebat dikelas offline ini. Semangat beliau begitu terasa hangat dan menular energi positifnya, saya yang tadinya mau berangkat maju mundur cantik karena rasanya ingin sekali mengurungkan niat berangkat takut terbawa perasaan melankolis alias baper kalau anak sekarang bilang. Semua sirna ketika sudah duduk bergabung disana, terasa  cair, suasana yang hangat dan nggak berlebihan kalau saya bilang sudah terasa seperti rumah atau keluarga sendiri. Seru pokoknya ditambah disana banyak anak-anak lucu yang ikut menyemarakkan kelas blogging siang itu. Atmosfer yang nyaman ini membuat saya yang baru bisa bergabung siang itu tidak canggung untuk bertanya, gurunda tercinta Bunda Marita pun tak segan menghampiri ketika saya ataupun yang lain kebingungan dengan tampilan blog baru yang akan kami buat. Terasa cepat sekali kelas blogging siang itu berlalu, apalagi saya yang datangnya molor..huuft karena harus berangkat bareng pak suami ya mau tidak mau saya menyesuaikan jadwal beliau terlebih dahulu. Belum puas rasanya ingin bertanya dan praktek langsung dihadapan gurunda yang sudah lihai; malang melintang didunia per-blogging-an. Ketika kelas diakhiri...wow saya langsung dapat bonus...iya bonus..bonus pekerjaan rumah. Dua tugas  untuk pertemuan sebelumnya dan satu tugas untuk siang itu; Kamis, 2 November 2017.

Sebelum saya menutup tulisan ini (note : yang termasuk tagihan tugas rumbel kelas blogging) atau sebelum berkepanjangan karena sudah PW..posisi weeenak dan nggak bisa berhenti cerita. Saya ingin menyampaikan bahwa saya percaya bergabungnya saya dikelas blogging yang diawali bergabung dahulu dengan IIP Semarang-Salatiga bukanlah suatu kebetulan. Saya termasuk golongan orang-orang yang tidak percaya ada yang benar-benar kebetulan didunia ini, semua melalui perkenan, ijin dan ridha Allah Subhana Wa Ta'alla. Ketika frekuensi otak hati dan pikiran saya ke tempat yang selalu ingin saya tuju, dalam otak diulang-ulang terus menerus kemudian dirangkai kedalam doa-doa maka saya percaya semesta akan membacanya. Mereka bergerak dan mengirimkannya kepada Yang Maha Mengetahui, mengetuk pintu-pintu langit agar dibuka segala kemungkinan yang Maha Ajaib  pula dan tak terhingga kuasa-Nya. Perkenalan sekilas yang tidak disangka mengenai IIP kemudian oleh seorang teman baru yang kami berkenalan saat mengikuti sebuah workshop di Jogja. Obrolan kami berlanjut ketika kami pulang ke daerah masing-masing; minat dan passion yang sama perihal pendidikan membuat kami cukup intens mencurahkan hati dan pikiran. Hingga satu hari beliau mengirimkan link pendaftaran untuk mengikuti kelas matrikulasi batch 3. Setelah banyak sekali pertimbangan internal juga eksternal, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung..ditulisan berikutnya nanti deh saya berusaha merekam ulang jejak sejarah hingga saya berada ditengah-tengah ibu hebat saat ini. Sekarang ini kita..dagh...dagh..bye..bye..dulu ya!


Member IIP Semarang



Read More