Wanita atau Perempuan ?

Sabtu, 10 Maret 2018

"Kalau kamu suka disebut apa? Wanita atau perempuan?" Tanya seorang teman.
"Perempuan" jawabku
"Iiih...kok nggak wanita sih... perempuan kan nggak mature gitu kesannya " 

Bicara tentang kata perempuan dan wanita memang tidak ada habisnya. Meski boleh saja ini hanya masalah nilai rasa dalam tata bahasa, ya setidaknya bagi saya seorang awam dan bukan seorang ahli tata bahasa Indonesia. Namun, sekecil apapun itu bagi saya nih...saya harus cari tahu dulu artinya, asal-usul katanya jika perlu. Hanya menghindari ucapan yang tidak saya kuasai itu saja sih. Pemilihan kata seringkali memang saya ukur dari nilai rasa dan kepantasan penggunaannya bagi lawan bicara kita. Seperti ketika menggunakan kata aku dan saya; saya akan lebih cenderung memilih kata saya dibanding aku. Kata saya dan aku dalam KBBI tidak ada perbedaan makna yaitu kata ganti orang pertama yang berbicara atau yang menulis. Hanya saja dalam konteks ragam kata aku digunakan sebagai tanda  keakraban; dekat seperti kepada sesama teman atau sahabat sedangkan kata 'saya' cenderung lebih resmi atau berjenjang seperti murid kepada gurunya. Ribet ya bacanya..tapi suka kadang ingin mengabaikannya, namun rasanya kalau mau melanggar pakemnya hati tuh kayak ada agak geli-geli gimana gitu he..he..he. Bagi beberapa orang repot amat ya sampai bahas nilai rasa, ragam akrab ya bicara ya tinggal bicara aja...tapi bagi saya pribadi nih, sekali lagi itu penting. Sebab pilihan kata akan mempengaruhi citra yang membentuk identitas kita...eaaaa...apaan sih..ini kalau saya lho yaaa..jangan sampai jadi kontroversi hati gara-gara baca tulisan ini...haissh..

Oke kita langsung aja deh bahas pemaknaan kata wanita dan perempuan. Kata perempuan dalam KBBI; perempuan/pe·rem·pu·an/ n; diartikan sebagai : 
1. Orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2. Istri; bini: -- nya sedang hamil;
3. Betina (khusus untuk hewan); bunyi -- di air, pb ramai (gaduh sekali).

Sedangkan pada masa kesusastraan Melayu Klasik mengenal kata EMPUAN yang juga berarti "perempuan" yakni sebutan bagi istri raja. Kata ini konon mengalami pemendekan menjadi 'puan' yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai pasangan kata 'tuan' atau sapaan hormat kepada lelaki. Mungkin saja dari sana lah muncul kata 'PEREMPUAN' yang dapat diartikan sebagai orang yang dimuliakan atau yang dihormati. 

Berdasarkan latar belakang sejarah itu, maka bisa dimaknai bahwa perempuan sejajar dengan laki-laki, bahkan mungkin lebih tinggi, karena kata “empu”nya itu.

Lalu bagaimana jika kita tengok secara asal-usul kata atau etimologi bahasa? Adakah perubahan-perubahan bentuk dan makna? Kata perempuan berasal dari kata Per, Empu dan an, Per itu artinya makhluk/orang. Kata 'Empu' asalnya dari bahasa sansekerta artinya mulia dan imbuhan -an yang memiliki makna konotasi -kan. Kata empu juga diartikan sebagai tuan, orang yang mahir, berkuasa, hulu, atau yang paling besar. Kata perempuan juga berhubungan dengan “ampu sokong”, yakni memerintah, penyangga, penjaga keselamatan, bahkan wali. Sekali lagi bagi sudut pandang saya pribadi, menemukan makna tersirat yang lebih dalam yakni bahwa arti perempuan adalah makhluk yang  dimuliakan. Memiliki kemuliaan dan hak menjadi "tuan" bagi dirinya sendiri.

Lantas bagaimana dengan arti kata wanita? Menurut KBBI arti wanita; wa·ni·ta (n); perempuan dewasa: kaum -- , kaum putri (dewasa). Secara etimologi bahasa Jawa kata wanita, diterjemahkan sebagai ‘wani ditoto’ yaitu artinya ‘berani diatur’. Berangkat dari latar belakang pemaknaan tersebut, maka cukup sulit bagi seorang 'wanita' untuk memiliki kuasa terhadap kemuliaan dirinya sendiri. Masih ada pandangan kurang pas dan cenderung dirasa "menyakitkan" sebab seolah seorang wanita tidak bisa menghindar jika didikte oleh seorang pria, bukan lagi sebagai sejawat-teman kehidupan dalam berumahtangga.
Seolah-olah terlanjur ada pemahaman bahwa sifat-sifat yang melekat dari kata 'wanita' adalah sifat yang cenderung inferior, pasif, seperti: lemah, gemulai, sabar, halus, tunduk, patuh, mendukung, berdarma, berbakti, mendampingi, mengabdi, dan hanya menyenangkan pria. 

Nah, meski telah ada pergeseran makna secara luas dan masif diantara kedua kata tersebut. Pun selalu juga akan ada nilai pro dan kontra...tak apa-apa ini hanya opini sementara saya yang lebih memilih menimbang nilai rasanya. Selanjutnya terserah anda..he..he..he.. yang ingin berdiskusi dan menelaah lebih lanjut tentang dua kata ini boleh dibaca di sini atau di sini.

Saya mungkin tetap akan cenderung memilih kata perempuan dalam penggunaannya nanti. Ini dilatar belakangi oleh sejarah pemaknaan dari awalnya. Namun apapun pilihannya selama penggunaan tersebut masih dalam konteks konotasi dan persepsi positif tidak menjadi masalah. Terpenting dari semua hal tersebut diatas, cara pandang kita lah yang perlu diluruskan terlebih dahulu. Bahwa kita wanita/perempuan itu subyek bukan obyek, perannya ditinggikan dan dimuliakan sejak semula diciptakan. Kalau ini semua setuju kan?!? Semoga bermanfaat...

*diolah dari berbagai sumber

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum