Sekolah Kehidupan

Kamis, 24 Oktober 2019


"Mohon maaf  Bapak, kira-kira adakah kriteria khusus yang diminta perusahaan terkait psikotes karyawan baru yang akan diterima nanti?", ucapku mengajukan pertanyaan kepada klien yang duduk di ruang tamu kantor Biro Konsultasi Psikologi siang itu. Saat itu sebagai seorang asisten Psikolog yang sering berada di garda depan untuk menerima klien, pertanyaan tadi merupakan salah satu kalimat tanya baku yang harus kami konfirmasi kepada klien.

"Jujur, Mbak. Itu faktor utama yang harus kami ketahui. Pintar banyak, yang mau dan bisa kerja juga nggak sedikit. Tapi yang satu itu sulit kami temui",  jawab si Bapak singkat.


Tak sekali atau dua kali aku menemui klien yang mengajukan permintaan yang senada. Padahal saat puluhan purnama yang lalu, hingga kini masih belum banyak alat ukur yang mendeteksi fenomena kejujuran. Perlu pengalaman, keahlian dan ketrampilan khusus untuk melakukan pengamatan terkait integritas ini.


Pengalaman itu yang akhirnya aku bawa dan tularkan kepada anak-anak di kelas. Aku yakinkan bahwa memiliki integritas adalah syarat mutlak berpijak di belahan bumi manapun. Selain itu, kita juga harus senantiasa mampu belajar mengasah kemampuan mewawas diri yaitu melihat (memeriksa dan mengoreksi) diri sendiri secara jujur;  introspeksi.



Di bawah ini ada sebuah cerita menarik tentang integritas dan adab belajar  yang  mudaha-mudahan bisa kita selami bersama untuk diambil hikmahnya :

Pernah ada sebuah cerita tentang seorang Kaisar di Timur Jauh. Ia sudah tua dan tahu bahwa sudah datang waktunya untuk memilih calon penggantinya. Ia tidak memilih dari salah seorang asistennya atau salah satu dari anak-anaknya sendiri, tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Ia memanggil semua pemuda di dalam kerajaan bersama-sama dalam satu hari. Dia berkata, "Ini telah datang waktunya bagi saya untuk turun dan memilih kaisar berikutnya. Saya telah memutuskan untuk memilih salah satu dari kalian."


Anak-anak terkejut! Mendengar pengumuman itu. Tetapi, Sang Kaisar tetap melanjutkan titahnya.


"Aku akan memberikan masing-masing dari kalian sebuah biji hari ini. Satu benih. Ini adalah benih yang sangat istimewa. Aku ingin kalian pulang, menanam benih, disiram dan kembali ke sini satu tahun dari hari ini dengan apa yang kalian telah tumbuhkan dari satu biji ini. Aku akan menilai tanaman yang  kalian berikan untukku, dan yang terbaik akan dipilih dan ditetapkan menjadi kaisar kerajaan berikutnya!".


Ada seorang anak laki-laki yang bernama Ling berada di sana pada hari itu dan ia, seperti yang lain, menerima benih. Ia pulang ke rumah dan kepada ibunya dengan penuh semangat menceritakan keseluruhan cerita. Dia membantunya mendapatkan panci dan tanah penyemaian, lalu ia menanam benih dan menyiramnya dengan hati-hati. Setiap hari ia menyirami itu dan memeriksa untuk melihat apakah telah tumbuh.


Setelah sekitar tiga minggu, beberapa pemuda lainnya mulai berbicara tentang bibit dan tanaman yang sudah mulai tumbuh. Ling terus pulang dan memeriksa benihnya, tapi tidak pernah tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu. Masih belum apa-apa.


Setiap saat orang lain selalu membicarakan tanaman mereka, namun Ling tidak punya tanaman, dan ia merasa gagal. Enam bulan berlalu, masih yang ada hanya pot. Dia hanya tahu bahwa ia telah membunuh benih. Benih orang lain telah menjadi pohon-pohon dan tanamannya tinggi, tapi benihnya tak menjadi apa-apa. 
Ling tidak berkata apa-apa kepada teman-temannya, ia hanya terus menunggu benih untuk tumbuh.


Setahun akhirnya berlalu dan semua pemuda dari kerajaan membawa tanaman mereka kehadapan Sang Kaisar untuk diperiksa. Ling mengatakan pada ibunya, bahwa ia tidak akan datang membawa pot kosong. Tapi ibunya terus menyemangi dan mendorongnya untuk pergi dengan membawa pot tersebut. Ia harus jujur tentang apa yang terjadi. Sesungguhnya Ling merasa malu, tapi ia tahu ibunya benar. Maka, sesuai amanat ibunda berangkatlah ia membawa pot yang kosong itu ke istana.



Ketika Ling tiba, ia tertegun sekaligus kagum melihat berbagai jenis tanaman tumbuh milik seluruh pemuda lain. Semua tanaman tampak indah dengan segala bentuk dan ukurannya. Ling menaruh potnya yang kosong di lantai dan banyak pemuda lain menertawakannya.
Bahkan beberapa pemuda menyindir kepadanya dan berkata, "Hei coba lihat ini, bagus." Mereka tampak tertawa puas mencemooh Ling.

Tak lama berselangSang Kaisar tiba, ia mengamati ruangan dan menyapa para pemuda itu. Ling tak kuasa menahan malu dan takutnya, hanya mencoba untuk terus bersembunyi di barisan paling belakang.


"Wah, tanamannya sudah besar, pohon-pohon dan bunga Anda telah tumbuh", kata Sang Kaisar.


"Masih ingat bukan bahwa hari ini, salah satu dari kalian yang berhasil akan ditunjuk menjadi kaisar berikutnya!", Sang Kaisar melanjutkan penjelasannya sambil terus mengedarkan pandangannya berkeliling halaman istana.


Tiba-tiba, Sang Kaisar melihat sosok Ling yang gusar, di belakang ruangan dengan potnya yang kosong. Ia memerintahkan para penjaga untuk membawanya ke depan. Ling resah dan ketakutan.

"Celaka, Kaisar tahu aku gagal! Mungkin dia akan membunuhku!", ucap Ling dalam hati.

Ketika Ling sampai di depan, Kaisar menanyakan namanya. "Nama saya Ling," jawabnya sedikit tergagap karena saking gugupnya. Semua anak-anak tertawa dan mulai riuh mengolok-oloknya. Kaisar meminta semua orang tenang.


Ia menatap Ling, dan tersenyum. 

Sesaat kemudian Kaisar mengumumkan sendiri kepada khalayak, "Lihatlah semua, inilah Kaisar baru kalian! Namanya adalah Ling!".

Ling terperangah tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ling mengerjapkan mata berulang kali. Ling tak bisa menumbuhkan benihnya. Bagaimana ia bisa menjadi kaisar baru?


Kaisar memahami kebingungan Ling dan semua orang yang makin gaduh karena pengumuman Kaisar. Lalu, beliau mengatakan, "Satu tahun yang lalu dari hari ini, aku memberi semua orang di sini sebuah benih. Aku bilang pada kalian untuk mengambil benih, tanaman itu, menyirami, dan membawanya kembali kepadaku hari ini. Tapi aku memberi kalian semua benih yang telah direbus dan tidak akan pernah bisa tumbuh.
Hari ini kalian semua, kecuali Ling, telah membawakan ke hadapanku tanaman dan pohon-pohon dan bunga. Tapi kalian pasti mengetahui, bahwa benih tidak akan bisa tumbuh. Lalu, kalian menggantinya dengan benih lain yang kuberikan padamu. Ling adalah satu-satunya dengan keberanian dan kejujuran untuk membawakan pot dengan benih yang aku berikan. Oleh karena itu, ia adalah orang yang layak untuk menjadi kaisar baru!", Sang Kaisar menutup kalimatnya yang panjang dengan senyuman dan menjabat erat tangan Ling.


Begitu mahalnya harga sebuah kejujuran, hingga ganjaran yang diterima pun pasti akan sepadan. Meski tak mudah, pasti kita semua mampu meletakkan kejujuran itu dengan bijaksana.


Sekolah kehidupan selalu menawarkan banyak nilai dan hikmah baik tersirat maupun tersurat. Kejujuran, hanya satu keping nilai hidup yang ada di dalam kurikulum yang Allah Taalla sediakan untuk manusia agar terus dipelajari.

Pertanyaannya, sudahkah kita memampukan diri untuk selalu tanggap mengambil sari pati dari sekolah kehidupan ini? Mari kita bersama saling introspeksi diri.




Sumber referensi cerita, disadur dari buku :

Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 159-161. ISBN 978-6028-686-402.
Read More

Who Am I ?

Rabu, 23 Oktober 2019

"Merajut asa, meraih cita-cita."

Pentingkah kita mengenal diri sendiri? Jika memang penting, apa alasannya

Tentu saja penting, bahkan sangat penting. Sebab mengenal diri sendiri, baik itu dari perilaku, perasaan maupun motif akan menyadarkan diri akan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, sehingga nantinya dapat dengan mudah diarahkan untuk menentukan strategi dalam pencapaian tujuan hidup

Setiap orang memiliki perilaku, perasaan dan motif yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Namun, satu hal yang paling penting adalah kita harus mengetahui dan mengenal dengan jelas mengenai perilaku, perasaan dan motif masing-masing diri, baik itu dilihat dari kacamata sendiri maupun kacamata orang lain.

Mengenal diri sendiri dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap diri sendiri maupun dengan interaksi dengan orang lain. Salah satu metode untuk mengetahui dan mengenal diri sendiri adalah dengan menggunakan model “Jendela Johari”.

Adapun penjelasan masing-masing kuadran tersebut adalah sebagai berikut:

Kuadran I (Open)

Kuadran ini menggambarkan keadaan atau hal yang diketahui oleh diri kita dan orang lain.

Kuadran II (Blind)

Kuadran ini menggambarkan keadaan atau hal yang diketahui orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita.

Kuadran III (Hidden)

Kuadran ini menggambarkan keadaan atau hal yang diketahui oleh diri sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.

Kuadran IV (Unknown)

Kuadran ini menggambarkan keadaan atau hal yang tidak diketahui oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.

Berdasarkan model Jendela Johari di atas, dapat dijelaskan bahwa self-awareness (kesadaran diri) dapat dibangun dan ditingkatkan dengan mengurangi ukuran Kuadran II (Blind) sehingga dapat memperbesar ukuran Kuadran I (Open). 

Kuadran II (Blind) merupakan area rapuh di mana orang lain tahu akan diri kita tetapi kita tidak mengetahui atau dapat dianggap sebagai area di mana tidak kita ketahui sehingga tidak dianggap dan tidak dipedulikan, tetapi diketahui dan dianggap orang lain.

Berbeda dengan Kuadran I (Open) yang merupakan area di mana kita dan orang lain ketahui secara bersama-sama, sehingga dengan memperbesar ukuran kuadran ini maka self-awareness dan hubungan interpersonal kita akan dapat ditingkatkan pula. 

Artinya dengan begitu akan mempermudah kita dalam menentukan strategi untuk pencapaian tujuan hidup ke depan.

Pengertian Konsep Diri

KONSEP DIRI ITU APA?

Konsep diri berasal dari bahasa inggris yaitu Self Concept, merupakan konsep mengenai diri individu yang meliputi bagaimana seseorang memandang, memikirkan, dan menilai dirinya sehingga tindakan-tindakannya sesuai dengan konsep tentang dirinya.

Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan.

Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya. 

Maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

Faktor-faktor Pembentuk Diri

Menurut Argyle (Handry dan Heyes, 1989) berpendapat bahwa terbentuknya konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :

 1.    Reaksi terhadap orang lain.
 
2.    Perbandingan dengan orang lain.
 
3.    Peranan seseorang.
 
4.    Identifikasi terhadap orang lain

Aspek-aspek dalam Konsep Diri

1. Aspek fisik, meliputi penilaian inividu terhadap sesuatu yang dimilikinya.

2. Aspek Sosial, meliputii bagaimana peranan sosial yang dimainkan oleh inidividu dan sejauh mana penilaian terhadap kerjanya.

3. Aspek moral, meliputi nilai- nilai dan prinsip- prinsip yang memberi arti dan arah bagi kehidupan seseorang.

4. Aspek psikis, meliputi pikiran, perasaan dan sikap individu terhadap dirinya sendiri.

Macam-macam Diri

Individu ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif.

Tanda- tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif, antara lain:

1.    Yakin akan kemampuan dalam mengatsi masalah.

2.    Merasa setara dengan orang lain.
 
3.    Menerima pujian tanpa rasa malu.
 
4.    Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat.

Sedangkan tanda- tanda individu yang memiliki konsep diri yang negatif, antara lain:

1.    Peka terhadap kritik.

2.    Responsif sekali terhadap pujian.
 
3.    Cenderung bersikap hiperkritis.
 
4.    Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
 
5.    Bersikap pesimis terhadap kompetisi.

Mengenal diri sendiri sangat penting, sebab jika tidak kita akan terombang-ambing dalam pusaran kehidupan yang semakin cepat laju perubahannya. Oleh karena itu, kita perlu aktif menggali, mengembangkan dan memiliki konsep diri yang positif. 
Read More

Awas! Mungkin Anak Anda sedang Stres

Selasa, 22 Oktober 2019


Apa iya anak bisa stres? Dunia anak itu bebas, mana mungkin dia stres? Masih kecil kok stres? Komentar senada di luar sana pasti ada lebih banyak lagi. Sayang sekali, semua asumsi tersebut salah. Sebab, bagi sebagian anak hal itu benar mereka rasakan.

Stres bukan monopoli orang dewasa saja. Stres sebenarnya merupakan bagian dari diri manusia sejak awal kehidupannya. Mulai saat bayi ketika pengalaman belajar mengenal rasa haus dan lapar, tidak bisa melihat sosok ibu yang sedang menjemur pakaian, jatuh saat mulai belajar berjalan, mengalami sakit, dan masih banyak hal lainnya.

Seperti halnya pada orang dewasa, stres pada anak sifatnya sangat individualis atau khas (idiosinkrasi). Tidak bisa menggunakan penilaian 'Apple to Apple' untuk menilai penyebab dan gejala stres pada seseorang. Tidak semua orang jadi stress jika terdampak oleh hal yang serupa. Misalnya, seorang anak dengan mudah beradaptasi ketika awal masuk sekolah dan tanpa penolakan sedikitpun. Namun, anak lain merasa sangat ketakutan ketika ditinggal orangtuanya hingga ia takut masuk sekolah. Anak yang stres akan bereaksi dengan cara yang beraneka ragam.

Beberapa anak cenderung mengalami regresi perilaku ke masa bayi, seperti mengisap jempol atau tiba-tiba kembali mengompol.

Banyak lagi yang jika anak stres akan muncul tik syaraf, contohnya mata yang berkedip-kedip, twitching, menggulung-gulung ujung rambut, mengeluarkan suara-suara yang berulang seperti orang berdehem, dan gerak-gerik kebiasaan khas (manerisme) lain yang biasa dilakukan  oleh seseorang yang mengalami stres.

Mengupayakan pertolongan kepada anak yang mengalami stres tentunya memerlukan waktu yang panjang dan juga kesabaran. Apa yang kadang oleh orang dewasa bukan penyebab stres pada anak justru seringkali malah yang jadi faktor utama yang membuat anak sangat stres. Anak berusia dua tahun harus berjuang melawan rasa cemasnya, karena ayah dan ibunya akan berangkat kerja. Ini mungkin rasa stresnya sama besar dengan anak yang harus tinggal dan dirawat di rumah sakit.

Orang dewasa terutama orangtua sangat diharapkan bisa membantu anak dapat melewati masa-masa stres itu. Kita sebagai orangtua sudah pernah berada di masa mereka saat ini. Jika saja memang lupa pengalaman waktu kecil dulu, setidaknya bergeser sedikit untuk mengubah sudut pandang kita. Mengapa? Mencoba melihat melalui perspektif anak agar dapat mengerti stres yang mereka alami dengan hati.

Cara Membantu Anak untuk Melewati Stres :

1. Sediakan waktu bagi anak untuk menjelaskan dengan bahasanya.

Jika saja anak menunjukkan gejala sedang mengalami persoalan, apakah itu di lingkungan rumah, sekolah atau di tempat les, maka seyogyanya orangtua harus cepat tanggap. Jangan menunda-nunda untuk menyediakan waktu, hati dan pikiran untuk mendengarkan curahan hatinya.

2. Persiapkan anak untuk mandiri.

Anak tidak akan selalu ada dalam buaian kita, maka sangat diperlukan untuk mengajarkan anak untuk selalu bersiap sedia untuk sesuatu yang mengejutkan. Misal, anak cenderung akan mengalami kekagetan yang menimbulkan kecemasan bila bertemu dengan orang, tempat atau lingkungan yang baru. Oleh karena itu, bekali anak pengalaman terlebih dulu. Biarkan anak melihat juga merasakan lingkungan tempat ia bersekolah nantinya. Lakukan jauh-jauh hari sebelumnya atau saat sedang survei untuk memilih sekolahnya ajak ia ikut serta mengobservasinya.

3. Menerangkan waktu sesuai dengan pola pikir anak.

Contohnya, jika ayah akan pergi selama beberapa hari ke luar kota. Maka cara menjelaskannya harus sesuai dengan daya nalar usia anak. Jelaskan dengan kalimat konkret, "Ayah akan pergi ke Cirebon dan kembali setelah Mas belajar bersama ibu selama dua kali".

4. Letakkan harapan pada anak sesuai dengan porsinya.

Artinya, jangan berlebihan menuntut anak untuk selalu juara atau sempurna dalam hal apapun. Sering, orangtua tanpa sadar memaksakan kehendaknya dengan target-target diluar kemampuan anak. Ingin anaknya selalu jadi bintang kelas, lalu sibuk menambah jam belajar anak dengan les beraneka rupa. Waktu bermain anak akhirnya hilang. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa stresor terbesar yang membuat anak kalut, sedih dan putus asa adalah harapan orangtuanya. Maka, perlu sekali orangtua menurunkan egonya dan merendahkan harapannya agar anak terbebas dari stres.

5. Biarkan anak menerima perlakuan sesuai dengan usianya. 

Artinya, alasan apapun yang dimiliki orangtua, biarkan anak berlaku sebagai anak. Jangan biarkan ia mengurus dirinya sendiri, seperti orang dewasa. 

Sesekali untuk melatih kemandirian tak apa, namun jangan terlalu sering. Sebab, jika anak melakukan hal yang tidak sesuainya kapasitasnya dan kemudian ia gagal. Maka, anak secara tidak sadar akan menyalahkan diri sendiri. Merasa tidak mampu memenuhi harapan orangtuanya. Tentu saja ini akan mempengaruhi harga dan kepercayaan dirinya. Situasinya akan tambah buruk jika semua itu berlangsung terus menerus.

6. Tunjukkan cinta dan kepedulian Anda.

Seorang anak yang mengetahui bahwa ia selalu didukung dan dicintai oleh orangtua dan keluarganya. Tidak akan mudah merasa cemas dan rentan stres, sebab ia tahu ada kekuatan yang selalu siap ada untuknya. Berikan pujian atau kalimat penyemangat untuk mengurangi stresnya. Yakinkan anak bahwa ia akan mampu melewati semuanya.

Anak adalah aset peradaban yang akan memegang tongkat estafet penerus para pendahulunya. Tentu kita tidak menginginkan anak mengalami stres berkepanjangan dan berubah jadi depresi. Dampaknya proses tumbuh kembang anak menjadi terhambat. Hal ini pasti akan merampas keceriaan dan kebahagiaan masa keemasannya. Jadi pastikan anak tumbuh dan berkembang dengan bahagia yang otentik. Bahagia jiwa dan raganya.





Read More

Enam Langkah Mudah Meraih Percaya Diri

Senin, 21 Oktober 2019

“Dulu tuh saya nggak kayak begini, bun..saya tahu saya bisa tapi..kok susah banget ya nge-push supaya PD? Kalau diteman-teman sendiri sih OK aja, tapi kalau udah sama orang lain yang asing dikit gitu..aduh..susah pakai banget deh. Kadang merasanya tuh orang lain lebih pinter, lebih bagus, lebih keren..lebih..lebih lah pokoknya. Kita tuh kayak dibawah rata-rata gitu kualitasnya. Habis itu takut mati gaya pula kalau ujung-ujungnya dicap ke-pede-an..”

Kutipan percakapan yang terjadi disebuah konseling kelompok pada suatu hari sudah cukup lama. Ada yang pernah mengalaminya? Atau sering baper gara-gara feeling bad; nggak percaya diri terus "kosong" merasa nggak bisa lakukan apa-apa?

Sebenarnya krisis percaya diri atau kita akrab menyebutnya dengan kata 'nggak PD' itu merupakan persoalan hampir semua orang. Tua dan muda. Rentang kehidupan yang sudah, sedang dijalani dari usia dini hingga lanjut pasti ada saja masa-masa seseorang merasa krisis percaya diri. Tapi menurut kalian penting nggak sih percaya diri?

Kita coba kenali dulu apa itu percaya diri? Percaya diri sebenarnya adalah sebuah kondisi yang penting bagi kita untuk berusaha diraih dan miliki.

Kondisi apa dan bagaimana? Yaitu kondisi pikiran yang membuat kita yakin bahwa kita memiliki potensi dan kemampuan untuk melakukan sesuatu. Fatimah (2008:149) mengemukakan bahwa percaya diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan dan situasi yang dihadapinya. 

Jadi, untuk bisa menjadi versi terbaik dari dirimu, kamu harus mampu meraih percaya diri dengan cara memampukan diri untuk menggali dan menciptakan pikiran yang positif berkaitan dengan potensi serta kemampuan diri kita sendiri.

Lalu, apakah dengan rasa percaya diri itu kemudian seseorang harus jadi manusia super dan mampu melakukan apapun sendiri?

Tentu saja, tidak seperti itu! Superhero saja butuh bantuan teman-temannya dan bergabung masuk di Avengers, kan?

Rasa percaya diri yang tinggi itu sebenarnya berkaitan dengan banyak aspek dari kehidupan kita. Hasil akhir dari pencapaian kepercayaan diri itu, seseorang akan merasa memiliki kompetensi, keyakinan, dan mampu melakukannya.

Kompenen pendukung kepercayaan diri adalah pengalaman, potensi aktual, prestasi, dan harapan realistis terhadap dirinya. 

Misalnya begini nih; Malika dan tim paduan suaranya merasa mampu memenangkan kompetisi kali ini, sebab mereka telah berlatih lebih keras dari sebelumnya. Pengalaman kegagalan sebelumnya membuat mereka lebih intensif mempelajari teknik dan strategi lawan terberatnya. Bonusnya seiring giat berlatih, mereka menjadi semakin kompak dan terbukti mendapatkan peningkatan prestasi meskipun belum meraih juara pertama.

Baiklah pertanyaannya ada nggak sih tips-tips sederhana yang bisa membantu kita meraih percaya diri? 

Pastilah ada, berikut 6 tips sederhana yang bisa dilatih dan dicoba :

1. Buat daftar tentang hal-hal yang bikin kamu nggak percaya diri. Kalau bisa buat sedetail yang kamu bisa, sebelum membuat prioritas langkah kamu selanjutnya.

2. Bertahap kamu pilih satu persatu aktifitas yang kamu merasa nggak pede itu.

3. Setiap aktifitas tersebut kamu harus tetapkan ukuran kesuksesannya. Misal kalau kamu merasa mudah demam panggung, maka ukuran keberhasilanmu adalah saat kamu mampu menyampaikan pendapatmu didepan umum dengan lancar dan lantang. Meski diawal percobaanmu, kamu harus menahan dagdigdug detak jantungmu..he..he..he...

4. Buatlah target atau tujuan akhir usahamu di tiap aktifitas itu.

5. Selalu berusaha meningkatkan target usahamu, setelah target sebelumnya tercapai. Beri tanda ceklist atau simbol tertentu yang kamu suka untuk menandai keberhasilanmu itu, atau apabila ada hal yang masih perlu ditingkatkan lagi dilain waktu.

6. Terus berlatih dan tekun berusaha juga berdoa. Lakukan sampai tercapai keberhasilan yang kamu mimpikan. Tidak perlu takut salah, kayak kata iklan sabun cuci di televisi itu lho “nggak ada noda, nggak belajar”...he..he..he..

Semakin cepat berani mendobrak zona kenyamanan kita, maka semakin cepat juga kita mencoba. Semakin cepat melakukannya, maka semakin cepat kita tahu kesalahannya. Artinya maka semakin cepat pula kita melakukan hal yang benar. 

Khususnya bagi remaja, memang masih mengalami masa-masa labil. Suka susah move on alias mager. Ya begitulah, sifat dasar manusia juga memang suka memandang kekurangan terus eh lupa sama kelebihan yang diberikan Tuhan yang jumlahnya jauh lebih banyak. 

Pilihan selalu ada ditangan kita sendiri mau melabeli diri dengan predikat seperti apa nantinya. 

Sukses ataupun gagal kita jangan lupa untuk selalu mensyukurinya, sebab sekecil apapun itu tetap saja keberhasilan.

Bukankah ada yang mengatakan bahwa kegagalan kita, bisa jadi merupakan pemandu untuk kehebatan kita di masa depan?




Sumber :
Fatimah, Enung. 2010. Psikologi Perkembangan:  Peserta Didik.Bandung : CV. Pustaka Setia
Read More

Menikmati Keelokan Paras Kaki Gunung Ungaran dan Kawasan Candi Gedong Songo

Epilog

Setahun lalu diakhir bulan September, saya dan suami sengaja berniat menyempatkan diri untuk sedikit mengeksplorasi kawasan Bandungan. Niat awal kami berdua survei lokasi untuk acara gathering keluarga bulan Oktober.

Keindahan Latar Alam Kawasan Kompleks Candi/DokPri

Kawasan Bandungan letaknya tak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Masuk di wilayah kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jarak tempuh maksimal kurang lebih 1 jam 20 menit lama waktu yang kami butuhkan untuk sampai kesana. Menggunakan sepeda motor dengan kecepatan dan lalu lintas normal. Bandungan sudah sangat lekat dengan kenangan masa kecil kami. 

Sejak masih tinggal di Semarang, hingga kami sekeluarga pindah ke Kudus. Lalu, kemudian saya setelah menikah kembali ke Semarang. Bandungan tetap jadi tempat wisata keluarga yang selalu jadi pilihan yang paling populer. Mungkin karena berhawa sejuk, karena merupakan bagian dari pegunungan di kaki Gunung Ungaran. Pelancong dari daerah sekitar Semarang pun tak kalah banyak yang menyambangi lokasi wisata itu. 

Kami berangkat sebelum tengah hari, karena targetnya harus langsung dapat kepastian penginapan yang akan kami gunakan bulan depan. Hasil diskusi memang sudah merujuk pada satu nama hotel yang letaknya tak jauh dari pasar Bandungan. Hotel ini menyimpan beberapa kenangan buat papa dan kami anak-anaknya. Dulu saat kami masih kecil, papa masih aktif bermain tenis. Sehingga, hampir setiap tahun ada semacam pertandingan persahabatan klub tenis tersebut, sekaligus acara rutin untuk mempererat silaturahmi antar keluarga pegawai kantor beliau.

Candi Gedong II/DokPri

Kami ingin mengulang beberapa memori itu diulangtahun beliau, karena itu berharap di bulan Oktober bisa menginap di hotel yang dimaksud. Alhamdulillah, kami berjodoh. Dua kamar khusus untuk ukuran keluarga berhasil kami booking.

Usai dari sana, kami lanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Masih dalam rangka survei sebenarnya, karena tidak mungkin jika keluarga besar yang sudah jauh-jauh datang dari Kudus hanya menghabiskan waktu di hotel. Tempat wisata yang ramah untuk anak kecil dan orang tua.

Ada banyak pilihan sekarang ini bagi pelancong yang datang ke Bandungan. Tempat rekreasi lama dan juga baru, seperti Candi Gedong Songo, Pasar Tradisional Bandungan, Kompleks Wisata Umbul Sidomukti, Sentra Tahu Serasi Bandungan, Pemancingan Ikan Bakar Jimbaran, Taman Bunga Celosia dan masih banyak lagi. Kami berdua melihat peta mana yang searah dan tidak terlalu jauh dari lokasi kami menginap.

Singkat cerita pilihan kami berdua jatuh pada Taman Bunga Celosia. Alasannya sederhana, karena tempat itu yang ramah untuk balita dan juga lansia. Membayar tiket masuk Rp 10.000 untuk orang dewasa. Kita bisa sepuasnya berswafoto di lokasi Taman Bunga itu. Ada menara Eiffel, Rumah Hobbit, kincir angin, bunga berwarna-warni.

Letaknya tak jauh dari gapura yang tertulis "Kawasan Wisata Candi Gedong Songo". Terlihat di sana padat kendaraan pribadi; sepeda motor, mobil, shuttle bus juga bis besar yang parkir di lokasi taman. Sedikit membuat lalu lintas tersendat. Jalan yang agak menanjak membuat orang-orang menginjak rem dan ganti perseneling. Bau kampas kopling jadi aroma yang menyengat hidung.

Setelah melihat sepintas situasi Taman Bunga Celosia, kami lanjutkan kembali petualangan hari itu. Tujuannya pasti yaitu ke Candi Gedong Songo. Ini bukan kali pertama saya kesana, jika tak salah mengingat ini mungkin kali ketiga atau keempat berkunjung kesana. Sekali waktu saya dan adik-adik masih kecil. Terakhir, waktu mendampingi anak-anak ideologis saya outbound menjelang ujian nasional. Semua kunjungan saya kesana, tentu saja tidak ada yang genap lunas sampai puncak ke candi IX. Napas dan tenaganya sudah tak mampu berbohong pagi. Pun, saat itu sore sudah beranjak mendekati senja. Kami tak ingin terlalu malam, melanjutkan perjalanan pulang.

Halaman Depan Kompleks Candi/DokPri

Perwajahan candi Gedong Songo dari kunjungan pertama hingga yang terakhir, tampak sekali bedanya. Kawasan sekitar candi semakin cantik karena rajin bersolek. Namun, yang masih saja sangat disayangkan adalah perilaku pengunjung utamanya yang domestik. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan kurang mengapresiasi benda bernilai sejarah. Hingga, sangat mudah ditemukan sampah teronggok dengan jelas merusak keelokan dan keasrian paras alam sekitar candi. Tertangkap mata saya, banyak pengunjung yang tanpa pikir panjang duduk-duduk dibangunan candi.


Sejarah dan Asal-Usul Candi Gedong Songo


Candi Gedong Songo merupakan peninggalan agama Hindu. Letak geografis pada koordinat -7.210290 dan +110.342010, berasa diketinggian laut 1200 MDPL. Letaknya yang persis di bawah kaki gunung Ungaran, membuat suhu di lokasi sejuk yaitu sekitar 19 - 27° C. Sejujurnya belum ada yang mengetahui pasti kapan Candi Gedong Songo ini dibangun. Masih seringkali menjadi perdebatan diantara para arkeolog, sehingga sampai kini situs purbakala ini masih terus diteliti.

Candi Gedong II/DokPri

Namun, sebagian besar berpendapat melihat bentuk serta reliefnya. Candi ini dibangun pada saat dinasti Sanjaya Hindu (Wangsa Syailendra) memegang pemerintahan di Jawa sekitar abad ke 8-9, atau kurang lebih pada tahun 927 Masehi.

Masih banyak orang yang kurang peduli pada kelestarian bangunan bersejarah/DokPri

Candi ini dibangun oleh Raja Mataram kuno untuk memuja para dewa. Umat Hindu percaya bahwa gunung adalah surganya para dewa-dewi tinggal atau biasa disebut kahyangan. Maka tak heran jika kita akan mudah melihat ada relief Syiwa mahaguru, Syiwa Mahakala , Syiwa Mahadewa, Durgamahesasuramardhani dan Ganesya dalam kompleks candi Gedong Songo. Ciri khas lain yang bisa kita lihat disini sebagai candi Hindu di Indonesia yakni ditemukan Lingga dan Yoni.

Kawasan Kompleks Candi Gedong Songo yang Luas, Indah dan Sejuk/DokPri

Tahun 1740 Masehi merupakan awal kompleks Candi Gedong Songo ini ditemukan. Penemunya adalah Loten. Setelah itu di tahun 1804, dilanjutkan oleh Sir Thomas Stamford Rafles. Ia mulai mencatatnya dengan memberi nama 'Gedong Pitoe' karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan saja.

Namun publikasi secara resmi dibuka pada tahun 1925 oleh Van Braam. Ia mengumumkan bahwa ditemukan candi di sekitar perbukitan Ungaran. Dilanjutkan oleh Friederich dan Hopermans menulis tentang Gedong Songo. Kemudian, sekitar tahun 1908 Van Stein Calefells melakukan penelitian di sekitar kompleks Candi Gedong Songo.  Diteruskan lagi tahun 1911-1912 oleh Knebel melakukan inventarisasi semua komplek candi Gedong Songo. Sampai pada akhirnya, pemerintah Indonesia melakukan pemugaran candi gedong 3, 4, 5 pada tahun 1977-1983. Sekian lama berlangsung, pada tahun 2009 pemerintah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala melakukan penataan ulang seluruh kompleks Candi Gedong Songo.

Wisatan Asing pun banyak yang berkunjung di Kawasan Candi Gedong Songo/DokPri

Eloknya Kawasan Candi Gedong Songo

Menjelang sore, kami berdua masih merasa sejuknya hawa pegunungan. Bahkan kabut tipis hingga tebal mulai turun, membelai kulit kami dengan angin basah yang misterius.

Jalan menuju sumber belerang/DokPri

Aroma belerang semakin kuat menyengat. Kepulan asap terlihat dari segala sisi. Ada sekelompok orang yang sibuk mengabadikan kenangan. Ada yang hanya sekedar duduk, melihat sekelilingnya. Mungkin ia sedang berpacu bersama kenangan masa lalu yang belum mau hilang. Beberapa anak kecil sibuk berlarian girang, sambil sesekali orang tua mereka berteriak memintanya berhati-hati. Di sisi lain kami melihat ada pemandian air panas dengan kandungan belerang alami. Tahukah kalian bahwa dikawasan kompleks Gedong Songo memiliki cadangan Bio Energy terbesar dan terbaik di Asia, lho! Bahkan, beberapa informasi mengatakan bahwa Bio Energy di kawasan pegunungan Tibet pun kalah. Suatu hal yang membanggakan, bukan?

Bio Energi yang luar biasa/DokPri

Sumber belerang/DokPri

Kami berdua memutuskan rehat sejenak disitu. Mencoba menarik energi positif dari alam yang luar biasa indah. Tak lama, sebelum kami meneruskan langkah pastilah momentum berswafoto tak boleh dilewatkan. Belum banyak langkah diayun, kami melihat warung sederhana dipinggir jalan setapak yang kami lalui. Tampak sepi. Udara semakin sore semakin dingin, gerimis kecil pun tiba-tiba turun. Suami memberikan kode untuk mampir sebentar ke warung itu. Satu gelas teh tawar, satu botol air mineral dan beberapa mendoan yang baru saja turun dari penggorengan jadi teman kami berbincang sore itu.

Salah satu sumber belerang/DokPri

Candi Gedong IV/DokPri

Kabut sudah naik kembali, langit kembali cerah. Setelah membayar apa saja yang telah kami pesan kepada si empunya warung. Kami pamit. Sepanjang berjalan tak henti-hentinya mengagumi keindahan alam yang nyata terhampar disekeliling kami. Sesekali kami harus lebih ke pinggir karena harus berbagi jalan setapak dengan kuda-kuda yang disewa para pelancong untuk berkeliling kawasan kompleks candi.

Sebagian Orang Memilih Berkeliling dengan Menunggang Kuda/DokPri

Sekitar satu jam kami berjalan, menuju pintu keluar. Selama itu memang, sebab kami sesekali berhenti untuk beristirahat. Sembari melihat aktifitas anak-anak muda yang sedang berkegiatan di kawasan itu. Hari itu, Sabtu dan memang tampak banyak acara mahasiswa yang dihelat disana. Acara penyambutan mahasiswa (masa orientasi organisasi) baru dari berbagai kampus di sekitar Semarang. Ada juga yang Makrab jurusan (malam keakraban). Homestay yang ada di dalam kawasan kompleks candi Gedong Songo tampak penuh semua, laris disewakan. Mushola yang disediakan ditengah area kawasan juga tampak antrian yang begitu panjang. Kamar mandi umum yang berjejer banyak tak kalah ramainya. Meskipun kamar mandinya terbilang sederhana, namun relatif bersih baik ruang maupun airnya.

Tampak Atas Menuju Sumber Belerang/DokPri

Saya persis tahu karena memang sebelum sampai di pintu keluar, mampir ke kedua tempat itu. Menuntaskan kewajiban. Senja benar-benar nyaris turun. Cahaya di langit mulai redup berganti rona jingga. Kami bergegas keluar, menuju gedung tempat kami parkir motor. Sebelum mencapai pintu keluar, perhatianku terganggu pada lorong yang penuh hiasan bunga-bunga imitasi cantik. Seperti sudah membaca gelagat itu, suami segera bergerak cepat memberikan aba-aba. Puas dengan beberapa gaya, kami langsung menuju parkiran.

Lorong Bunga Menuju Exit/DokPri

Tiket Masuk Murah dengan Keindahan Mewah

Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, untuk menikmati keindahan alam yang luar biasa mewah. Kita hanya perlu membayar tiket masuk seharga Rp 10.000 per orang untuk wisatawan domestik, sedangkan untuk pelancong asing jika tak salah mengingat sekitar Rp 50.000.

Saat ini selain wisata sejarah, ada alternatif yang disediakan di dalam kompleks kawasan Candi Gedong Songo. Bagi pengunjung yang tak ingin capek berpeluh dan terengah-engah mendaki jalan setapak. Bisa memilih Ayana. Ada jalur tersendiri yang disediakan menuju kesana. Fasilitas yang disediakan ada bubble tent, ruang santai di tengah kolam, balon udara , dan spot-spot kekinian lainnya untuk berfoto-foto.

Taman Hiburan Ayana/DokPri


Kompleks Ayana dari Dekat/DokPri



Jadi bagi yang berkeinginan berkunjung ke Jawa Tengah, kawasan Bandungan terutama yang mau ke Kompleks Gedong Songo mempunyai banyak pilihan.

Silahkan pilih mau wisata sejarah dan lebih nyata dekat dengan alam atau "wisata kekinian" dengan konsep berfoto yang instagramble di alam terbuka. Cukup membayar tiket masuk tambahan ke Ayana, seharga Rp 10.000 dan dari hasil investigasi tanya sana dan sini, didapatkan  informasi. Jika beberapa spot di dalam Ayana, membayar lagi Rp 5000 untuk pinjam pakai fasilitas atau properti unik foto.



Sumber Referensi : Diolah dari berbagai sumber
Read More

Cinta dan Persepsi

Sabtu, 19 Oktober 2019

Baca dan perhatikan dengan seksama ilustrasi cerita di bawah ini :

Naira adalah seorang anak yang cantik dan periang. Sekarang ini ia duduk di kelas 4 SD. Tetapi belakangan ini ia sering melamun, sedih dan menyendiri. Ia tampak kehilangan semangat untuk melakukan banyak hal. Nilai mata pelajarannya secara signifikan semakin turun. Bundanya menyadari hal ini dan merasa sangat bingung.

Tiga bulan sebelumnya Naira untuk pertama kali memperoleh nilai 75 dan bersegera mencari guru les disebuah lembaga bimbingan belajar. Ia sangat ingin nilai anaknya kembali seperti semula yaitu rata-rata diatas 90. Akhirnya selama tiga bulan itu Naira harus kehilangan waktu bermainnya.

Setiap minggu selama 5 hari berturut-turut setiap sore ia harus les pelajaran bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, sains dan ilmu sosial. Ditambah les mengaji, menari yang dilanjutkan dengan les musik setiap hari Sabtu.

Nah, saat nilai anaknya makin jelek maka sang bunda bertambah bingung dan Naira pun diberinya tambahan rutinitas lagi dengan les privat di rumah wali kelasnya. Betul, saat diiikutkan les privat di rumah wali kelas nilai Naira mulai ada perbaikan. Namun tetap belum kembali seperti nilai rata-rata semula. Sang bunda pun semakin gencar mendorong Naira supaya belajar lebih keras lagi. Bundanya menjadi makin sering marah dan menghukumnya.

Hingga sampai pada satu titik puncak, saat ia mendapatkan nilai ulangan matematika  tertulis disana 55. Pecah lah kemarahan bunda. Naira tak pernah membayangkan bundanya akan marah sebesar itu.

Esok paginya ia menjadi malas sekali bangun. Padahal jadwal pagi hari itu ia harus ikut remidi ulangan matematika. Bundanya berulang kali sudah berteriak kesal agar Naira segera bangun. Namun, Naira teramat enggan dan berat untuk turun dari ranjangnya..

Sampai kemudian..., GUBRAAK!!!

Bundanya dengan kuasanya yang sedang gusar sudah berdiri di depan pintu yang sudah sejak tadi sengaja dibuka. ”Naira!!! Bangun, mandi dan bersiap pergi sekolah!” suaranya keras penuh tekanan dan amarah.

Naira terperanjat dan dayanya hanya mampu untuk menangis. Ia mengaku berusaha mengatakan sesuatu. Tapi mulut dan lidahnya kaku, bibirnya nyaris tak mampu bergerak. Namun, Naira memberanikan diri bicara di depan bundanya.

”Bun..maaf Naira tidak mau berangkat ”, suaranya terbata-bata karena tangisnya. Lalu ia terdiam, dan tak lama semakin meledak kata dan tangisannya. 

”Pokoknya nggak mau ke sekolah. Aku takut. Aku nggak mau...". Berulang-ulang ia ucapkan kalimat itu.

”Kamu takut apa, heh!? Cepat sana siap-siap, se-ka-rang!!!” sang bunda kehilangan kesabaran dan menghardik Naira lebih keras.

”A..a..ku takut Bunda kecewa! A..a..ku takut dapat nilai ulangannya jelek lagi, Bun. Terus Bunda marah, sedih karena Naira anak bodoh. Pokoknya aku takut masuk sekolah!” ia mencoba menjelaskan, suaranya berlomba dengan ledakan tangisnya.

Bunda Naira sontak kaget dan terpaku mendengar pengakuan itu. Ia galau.. Tak tahu harus menjawab apalagi. Amarahnya yang sempat memuncak kini menghilang tanpa bekas.

Kali ini ganti bibir sang bunda yang kaku. Getir rasanya lidahnya. Ia merasakan kaki-kakinya bergetar. Matanya nanar dan memburam. Tersengal-sengal napasnya menahan hentakan dada yang semakin tak beraturan. Mendadak kepalanya pun semakin berat.

Kata-kata Naira telah benar-benar menancap telak ke hatinya. Perlahan ia mulai lunglai dan lemas. Tak lama ia membungkuk dan bersimpuh.

Tangan dan bahu Naira diraihnya didekatkannya pada tubuhnya. ”Berapapun nilai yang kau dapat bunda terima, Nak. Kamu bukan anak bodoh!.

Belajar dan berusaha  lebih keras ya bunda percaya kamu bisa. Yuk, kita berangkat ke sekolah ya?!”, begitulah Bundanya berusaha berkata lembut kepada Naira supaya tenang hatinya.

”Takut Bun, aku takut Bunda sedih, kecewa  Aku takut. Aku tidak usah ikut ulangan susulan supaya Bunda nggak kecewa lagi sama nilai aku!"

Akhirnya dua pekan Naira mogok sekolah, semua buku rayuan sudah tak mempan. Ia tetap bersikeras takut masuk sekolah. Segala macam rayuan digunakan untuk membujuk Naira. Tapi kondisi mentalnya masih sangat terluka.

Apakah yang bisa kita petik dari kasus Naira di atas? 

Kasus semacam ini banyak sekali terjadi. Saat menangani kasus seperti ini, saya juga tak habis pikir mengapa semakin banyak orangtua memperlakukan anaknya seperti itu.

Saya paham maksudnya itu baik tapi cara menyampaikannya menimbulkan ambiguitas. Ada salah penerimaan makna yang ditangkap berbeda dari sisi anak, atau telah terjadi distorsi makna.

Permasalahan di atas bermula dari salah persepsi tentang pendidikan dan kesuksesan.

Orangtua Naira memandang bahwa prestasi akademik multlak menentukan masa depan. Ia juga ingin anaknya punya semangat belajar tinggi. Oleh karena itu ia memacunya berharap Naira tidak seperti dirinya yang nilainya jelek. Ia tidak ingin anaknya mengulangi kejadian yang menimpa dirinya.

Pokoknya segala cara yang menurutnya positif, harus ia lakukan agar prestasi akademik anaknya tinggi.

Pertanyaannya adalah apa benar nilai tinggi sama dengan pintar? 

Jika jawabannya benar, nilai manakah yang dimaksud? Nilai yang diberikan untuk pelajaran akademik atau nilai untuk pelajaran menghadapi hidup? Apakah nilai yang diberikan untuk pelajaran sekolah sama dengan nilai pelajaran menghadapi hidup?

Nilai manakah yang menurut Anda lebih penting?

Lalu bagaimana dengan Anda para pembaca yang baik?

Apakah persepsi Anda tentang anak? Apakah persepsi Anda tentang mendidik anak?
Apakah persepsi Anda tentang belajar? Apakah persepsi Anda tentang mencintai anak? Apakah persepsi Anda tentang sukses?

***

Bonus buat yang sudah jadi orang tua, yang belum juga nggak apa-apa yuk kita cek bersama-sama bagaimanakah persepsi kita!

1. Coba lanjutkan pernyataan berikut dengan berpikir cepat :

- Anak adalah

......................................................

- Belajar adalah

.....................................................

- Mencintai anak adalah

......................................................

- Kesuksesan adalah

......................................................

- Hidup adalah

......................................................


2. Bisakah Anda merasakan beda dari persepsi X dan Y berikut :

X memiliki persepsi : ’anak adalah individu yang harus dididik dengan baik sehingga bisa menjadi gantungan hidup bagi orangtua saat tua'.

Y memiliki persepsi : ’anak adalah individu yang kesadaran dirinya harus dikembangkan sesuai dengan fitrah potensi yang ada dalam dirinya'.

Sudahkah bertemu jawabannya? Jika sudah boleh dong ceritanan hasil persepsimu dikolom komentar ya?Terima kasih.
Read More

Mengingat Maut

Jumat, 18 Oktober 2019



Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Al Imron : 185).

Satu lagi pelajaran kematian datang hari ini. Kabar kematian yang harus aku akui, meski sisi hati lain bersedih, namun ruang sebelahnya menyisakan kebahagiaan. Di sudut lainnya, aku sungguh-sungguh iri hati. Sebagian dari kalian pasti sudah mampu menduganya.

Kabar lelayu itu datang tadi pagi nyaris menjelang siang, sebelum jamaah salat Jumat berangsur datang. Awalnya aku hanya selintasan dalam pikiran berkata, " Oh, yang semalam kabar digrup Whatsapp kalau beliau dilarikan di rumah sakit". Tak ada firasat, meski aku baca sampai tuntas kalimat pemberitahuan yang cukup panjang malam itu.

Pengurus masjid kompleks sudah memberikan pengumuman jika pemakaian besok pagi. Namun, kenyataannya setelah aku berada di Semarang bawah karena satu janji dan kepentingan di satu tempat. Berita pemakaman sudah diralat, jika ditetapkan jenazah akan dikebumikan sore hari ini. Baiklah aku bergegas menyelesaikan segela urusanku, dan melaju pulang.

Puji syukur, Alhamdulillah aku masih belum terlambat datang ke rumah duka. Tetamu silih berganti berdatangan, sebagian besar bapak-bapak memilih tinggal. Bergabung bersama yang lainnya, beberapa tampak saling mendekat dan mendukung bergantian mengusung keranda. Beberapa diantaranya tertunduk, mendengarkan tausiah singkat sebelum jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan.

Begitu banyak tamu. Aku makin yakin, tetanggaku ini pasti tidak "biasa-biasa" saja. Aku mengenalnya memang beliau jarang sekali absen berjamaah di masjid. Termasuk salah satu takmir yang aktif serta memiliki kekhasan khotbah beliau biasanya lebih "dekat" dengan kehidupan sehari-hari. Menyasar anak-anak dan remaja untuk aktif mendekati dan mencintai masjid.

Di atas aku sudah sampaikan jika ini salah satu kematian yang membuatku iri. Sebab, menurut saksi mata semalam. Beliau sedang pengajian di masjid, sedang berdiri bersama jamaah lain melantunkan puji-pujian shalawat kepada Nabi. Tiba-tiba, beliau terhuyung jatuh dan terduduk. Jamaah yang berada didekatnya mencoba menolongnya, namun nihil.
Hingga, akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ICU. 

Ternyata Allah begitu sayang hingga tepat sebelum salat Jumat dimulai dipanggil pulang ke Rahmatullah. Ya sebuah hal yang tak bisa sembarang orang mendapatkan anugerah ini. Pun saat terakhir ia masih dalam aktifitas mengaji, mengagung-agungkan Allah dan Rasul-Nya Nikmat mana lagi jika sudah begini akhir ceritanya.
Hari yang begitu istimewa buat umat Islam, terutama bagi prianya. Keutamaannya berlipat-lipat dibandingkan hari biasa. Hari Jumat yang penuh berkah, Allah memanggil-Nya pulang.

Kematian adalah pelajaran paling nyata dan bekerja dengan sangat rahasia. Kapan, dimana, seperti apa cara kita kembali. Tak ada celah pasti yang mampu kita curi, kecuali men-tadabburi tiap peristiwa dan mengambil sari pati hikmah untuk dipelajari.

Tidak ada satupun jiwa yang mengetahui di belahan bumi mana dia akan meninggal. (QS. Luqman: 34).

Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

Tak salah bukan jika hatiku sedih dan iri menyaksikan kepulangan yang begitu indah?

Semoga hati dan ruh-ku senantiasa mengingat maut, yang kapan saja bisa datang menjemput. Tiada boleh ada celah pongah. Berdoa dan mengingat maut, memohon agar hati selalu diberikan kekuatan terjaga hingga mampu menemui-Nya dengan bahagia.

Sekali lagi, peristiwa tandu berkelambu hijau yang diangkat menuju masjid. Disalatkan dengan khusyuk oleh para pengantar yang tak sedikit jumlahnya. Mengingatkan kembali padaku tentang hakikat kematian. 

Kematian hanyalah ketiadaan hidup di dunia. Sesungguhnya ruh tetap hidup dengan cara yang tak bisa dijangkau lagi oleh pengetahuan kita yang sangat terbatas.

Sumber Referensi :

https://konsultasisyariah.com/24243-meninggal-malam-jumat-jaminan-aman-dari-siksa-kubur.html
Read More