(Ini) Semesta Nayanika Swastamita!

Rabu, 02 Januari 2019

Hujan sore itu, angkasa tak segelap biasanya. Sekelebat aku melihat semburat cahaya jingga di ufuk barat. Aku tersenyum, "Indah" berseru sendiri dalam hati. Jendela dan pintu belakang kubuka selebar mungkin berharap aroma hujan bisa memenuhi ruangan ini. Ku pandangi langit sekali lagi lebih seksama. Entah apa yang aku cari di kedalaman samudera awan putih diatas sana.

Beruntung sekali keputusan kami untuk tetap mempertahankan ruangan terbuka di halaman belakang rumah. Kami masih  bebas memandang langit dan menghirup aroma wangi udara  bebas. Lamunanku terjeda saat mendengar sebuah lagu lawas favoritku dari Kla Projects diputar. Seketika perhatianku kini beralih ke arah radio tua kesayanganku. Ah, apa penyiarnya punya indera keenam ya..pas sekali jadi latar lagu nuansa sore ini. Aku tersenyum sendiri, pikirku Tuhan memang Maha Asyik. Di saat pikiran enggan bergerak dan akal hati sedang berisik menelisik kesana kemari seperti ini eh tiba-tiba lewat tangan penyiar radio itu dikasih lah backsound macam ini. Macam drama saja kalau skenario dan jalan ceritanya bagus tapi lagu latarnya jelek ya pasti nggak sempurna...nggak greget. 

***
Ayun berayun pikir mengalun
Beterbangan khayal keinginan
Lelah memilih arah terpasti
Jelaga malam halangi

Ooo raga
Masih jauh perjalanan
Kita tempuh
Saujana
Samudra membentang sambut layarku
Saujana
Hidup di seberang gemerlap mimpiku
Mungkinkah merapat ke sana (lalu aku bangun istana)

Awan berarak semakin laju
Riuh taufan ombak keras menderu
Telah mengering seluruh bibirku
Dahaga suka cita

Pandang jauh saja
***

Sembari menikmati lagu, ku raih buku catatan yang ada di meja multifungsi itu. Meja makan yang disulap jadi meja serbaguna termasuk fungsi meja kerja. Buku catatan itu memang sengaja kusiapkan sebab biasanya nuansa seperti ini tiba-tiba ide datang tanpa mengetuk pintu. Nah, kalau tidak segera ditangkap pasti ia akan berlalu hanya jadi angan semu. Benar saja dugaanku tak lama ia datang. Ingatan lama sih tapi dibelakangnya ada ide baru ikut serta. Semesta Nayanika Swastamita. Aku menemukannya!!!


Tak menyangka seriang ini aku menemukan deretan kata yang akan jadi rumah keduaku. Alih-alih memaksa otakku untuk menemukannya, justru malah mampat. Berhari-hari berkontemplasi tidak jua berbuah hasil. Padahal akhir minggu terlanjur sudah buat janji dengan salah satu anak ideologisku untuk belajar membuat dan mengenal apa itu blog. Lepas "merumahkan" diriku dari pekerjaan diranah publik memang salah satu impianku adalah fokus belajar menulis lagi. Nah, media yang disarankan salah satunya melalui website atau blog pribadi. Jujur saja aku sudah lama tertarik tapi belum benar-benar luang untuk berkenalan dengannya. Sampai akhirnya dipertemukan kembali dengan salah satu muridku itu. Ia meminta diagendakan satu sesi konseling untuknya berkonsultasi. Akhirnya setelah diawali percakapan virtual yang cukup intens kami sepakat bertemu dirumah untuk konsultasi tatap muka lebih lengkap.  Agenda tambahannya aku belajar singkat mengenal website dan blog. Ia memberikan aku pekerjaan rumah. Sebelum bertemu diakhir minggu nanti aku harus sudah menemukan alamat rumah mayaku nanti.

Demi menemukannya semua ide, kata-kata dari banyak artikel, buku semua berkelindan dibenakku. Berhari-hari tak menemukan sore ini ia datang tanpa ku undang. Kata pertama yang muncul adalah nayanika kemudian muncul semesta, disusul kata swastamita.

Naya adalah kata yang sangat aku suka. Nama pena yang pernah melekat padaku waktu kuliah dulu. Naya, Ranaya begitu biasa aku memakai nama itu. Meski yang mendengar dan mengenal terbatas karena memang tulisanku saat itu hanya untuk kalangan terbatas he-he-he. Aku merasa tak bisa dipisahkan dengan kata itu. Lalu aku berupaya memperbanyak referensiku. Sebagai pengagum bahasa Kawi, Sansekerta aku perbanyak referensi kataku dari sana. Beberapa hari sebelum hujan sore itu kutemukan kata Nayanika yang artinya mata yang indah dan memancarkan daya tarik. Kurekam baik-baik dalam ingatan, dan memastikan berulang kali jika kata ini harus "jadian" sama aku. Mulai dari sana kutarik semua padanan kata yang mungkin saja berjodoh dengannya. Tapi rupanya tak semudah yang kukira.

Hingga sore itu, hujan mengantarkan jodohnya. Semesta, kata ini berarti dunia dan ini mewakili dunia versi sudut pandangku. Swastamita bermakna pemandangan indah saat matahari tenggelam. Kata terakhir ini mungkin datang karena aku adalah pengagum senja. Betul selain hujan dan aromanya, senja adalah salah satu lukisan keindahan Maha Karya Tuhan yang diberikan untuk manusia.

Jadi kalau dirangkai ala ilmu cocokologi nih makna dan harapan keseluruhannya bisa lah dipahami seperti ini; memandang dunia dengan sudut pandang mata yang indah agar mampu memancarkan daya tarik dan keindahan bagi sesama. Seindah pemandangan lukisan Tuhan saat matahari tenggelam. Tiap orang memiliki sudut pandang dan cerita yang beragam. Semua memiliki hak untuk berbagi kisahnya. Mungkin sejarah terbentuk salah satunya dari cerita, bukan?

Susah payah amat cari nama sih? Kan ada yang bilang apalah arti sebuah nama? Kayak kata William Shakespeare, "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet". (26 April 1564-23 April 1616).
Tapi sesuai keyakinanku nama adalah simbolisasi doa, impian dan harapan kelak harus dipertanggungjawabkan. Meski prakteknya demi efisiensi hanya dua dari tiga kosakata saja yang sering dipakai. Tapi sungguh itu tidak mengurangi makna dan harapannya.
Seperti sekarang setelah sekian lama nama itu aku adopsi, ada harapan lain yang ikut bertumbuh. Beban kerinduan yang semakin hari makin meminta dipertemukan dengan hilir tujuan yang lebih besar. Semoga ... 

#30haribercerita #30HBC19 #30HBC1902
Read More

Hujan, Cerita dan Semesta (Epilog : Dibalik Nama Semesta Nayanika)

Selasa, 01 Januari 2019


Ada yang tak bisa ku pungkiri saat memasuki tiga bulan terakhir sebelum tutup tahun. Mulai memasuki bulan Oktober bagiku atmosfer semestaku seolah berubah.  Hujan memang mulai kerap muncul, ada yang hanya sekedar lewat gerimis namun ada yang tanpa kabar ia datang bersama kilat dan halilintar. Aku sebenarnya tak begitu menghiraukan perubahan musim pancaroba yang kadang ekstrim. Sebentar panas menyengat, namun tiba-tiba udara menyelinap begitu dinginnya. Tak mengapa sebab bagiku tiga bulan dipenghujung tahun Masehi ini selalu menjadi penghangat diriku. Berturut-turut dari bulan Oktober dimulai dengan milad papa, adik iparku, keponakanku dari suamiku, bapak mertua lalu adik bungsuku, selanjutnya aku dan anak adik lelakiku. Kemudian penutupnya dibulan Januari milad jagoannya papa, si anak tengah.

Kami memang tidak dibiasakan merayakannya dengan hura-hura tiup lilin atau ritual pesta lainnya, sama sekali tak ada. Hari kelahiran anggota keluarga kami ini selalu digunakan untuk kumpul, doa, berbagi saran, nasihat sekaligus curhat lalu makan bareng. Satu hal lagi sebagai ajang temu kangen sebab selepas menikah, kami semua sudah tinggal terpisah kota. Susah sekali ketemu kalau tidak benar-benar diagendakan. Nah, momentum hari lahir ini lah jadi sarana pengikatnya.

Mengapa nggak dirayakan sekalian sih pakai perayaan meriah kan hari spesial? Tadinya juga pikirannya kayak begitu tapi lambat laun seiring waktu mulai paham tentang pesan moral dari petuah beliau.
Sebagai orang berdarah kental Jawa ya tentunya beliau berdua kerap menggunakan filosofi para leluhur saat mendidik kami. Ada dua pesan yang sering papa ulang-ulang adalah "Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman" artinya Jangan mudah kagum, Jangan mudah menyesal, Jangan Kagetan atau mudah terkejut, Jangan manja. Belakangan baru ku ketahui jika itu filosofi Jawa yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga. 
Lalu satu lagi nih...yang cukup sering dipesankan beliau pada anak dan mantunya. 'Lamun sira banter aja nglancangi, Lamun sira pinter aja ngguroni, Lamun sira landep aja natuni'. Artinya secara singkat bahwa ketika kita punya kecepatan maka sebaiknya menahan diri jangan sampai mendahului, tatkala kita pintar maka janganlah sok menggurui, dan saat kita memiliki "ketajaman" maka seyogyanya jangan sampai melukai'. 
Intinya sih beliau berdua selalu berpesan untuk kami mampu menahan diri dan peka membaca situasi untuk lebih peduli hingga tidak banyak yang tersakiti. Meskipun bukan jaminan saat kita sudah berhati-hati lalu kita bebas tanpa melukai. 
Lho terus untuk apa kita menahan diri kalau tetap saja ada yang tersakiti? Coba tanyakan saja lah pada hati kecil kita untuk apa kita berhati-hati? Aku sendiri ragu ada orang yang sengaja pasang hati untuk uji nyali dilukai dan makan hati. Aku sih, No! Kamu?! He he he

Begitulah kisah mengapa tiga bulan terakhir dipenghujung tahun selalu aku nanti dengan segenap hati. Selain salah satunya termasuk 'bulan' ku, ada hal lain yang aku suka. Aku suka wangi aroma hujan. Aroma tanah basah sudah mulai sering tercium, burung-burung mulai kerap terdengar riuh riangnya menyambut titik-titik air yang terkumpul diawan. Mentari yang mulai sering tertawan sinarnya menambah nuansa magis musim penghujan. Tak hanya aroma dan suasananya namun keseluruhan fenomena saat hujan turun memang membalut rasa yang berbeda. Seolah ia sedang merangkum semua rahasia langit yang didapat dari milyaran sedu sedan, keluh kesah makhluk bumi dan pada saat tiba dititik kulminasi ia tumpahkan lah beban itu ke bumi. Entah berupa rahmat kebaikan atau sebaliknya cobaan buruk sebagai pengingat kita kembali pada kemanusiaan kita.

Aku ingat seseorang pernah menasihatiku, "Berdoalah sesaat hujan turun, sebelum begitu lebat itu, Rahmat!". Entahlah aku dulu tak begitu peduli karena yang aku tahu kala itu bermain mandi hujan di tanah lapang begitu membahagiakan. 
Berlarian saling mengejar, tertawa, berguling di tanah lapang, saling berteriak begitu lepas tak ada sekat kesedihan yang tersisa. Ya, pada akhirnya ku tahu saat rintik hujan mulai berjatuhan itu adalah salah satu waktu utama yang dianjurkan untuk berdoa. 

“Dua doa yang tidak akan ditolak : Doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dan dihasankan al-Albani; lihat Shahihul Jami’, no. 3078).

Itu mungkin mengapa kadang kala Dia menghadiahkan bianglala saat diujung hujan terhenti. Bianglala membuat garis busur nan indah dicakrawala. Meski tak lama  hadirnya warna 'mejikuhibiniu' menghias angkasa bagai pesan pelipur lara. Tiap warnanya punya sudut makna dan cerita. Bak cerita manusia yang memiliki proses pengalaman hidup yang berbeda-beda hal itu akan mempengaruhi cara pandang, pola berpikir dan perasaannya. Kita tidak perlu terlalu cepat menjadi juri dan hakim bagi kisah orang lain. 
Itulah mengapa atas ijin-Nya 'wangsit' muncul di kepalaku. Kala hujan turun  itu ku sibuk tenggelamkan diri dalam labirin perenungan dan "AHA!" deretan kata 'Semesta Nayanika-Swastamita' muncul kembali dan seketika merebut hatiku (sekali lagi). Hmm... Ini harus jadi "rumahku", gumamku berulang kali.

#30haribercerita #30HBC1901
Read More

Kolaborasi Kreatifitas Itu Asyik

Jumat, 09 November 2018

Ini acara pertama kumpul blogger yang aku lakukan, niat pertama mau kekuar dari persembunyian. Tampaknya sudah cukuplah hidup dalam gua bersemedi sekian lama dengan kenyamanan yang niscaya akibat rasa nggak percaya diriku yang lumayan akut wkwkwk.
Eaaaa ngomongin apaan sih?! Hehehee


Flash Blogging Semarang

Hari ini jumat, tanggal 9 November 2018, Acara Flash Blogging Semarang dilaksanakan dengan "Tema 4 Tahun Indonesia Kreatif", bertempat di PO Hotel Semarang. Diikuti sekitar 200 orang yang terdiri dari kawan-kawab blogger dan mahasiswa. Rangkaian acaranya lumayan panjang dari pukul 08.30 sampai sore hari sekitar pukul 15.00.  Masuk hotel ini juga pertama  kalinya, kalau mall-nya sih lumayan lah beberapa kali sudah mampir kesini. Ah...bener-bener sama sekali nggak punya referensi apa-apa buat ikut acara ini. Acara kayak gimana juga nggak punya siluet hitam putihnya apalagi gambar berwarna.  Nekat! Pakai mantra itu saja lah! Buat melangkah. Kedua, pastinya niat. Ya pasti harus niat dong apalagi dengan badan yang lagi nggak asyik ini niat ingsun ijin suami untuk silaturahim. Alhamdulillah SIM keluar hari ini .. he-he-he... Iya Surat Ijin Meninggalkan (rumah).



Preambule Acara

Pakemnya pasti acara begini sebagai wujud nasionalisme wajib menyanyikan lagu kebangsaan dengan bangga, Indonesia Raya. Seketika gegap gempita suara para peserta bernyanyi dengan khidmat. Selalu ya kalau dengar dan atau menyanyi lagu kebanggaan ini bulu kuduk merinding disko berasa jadi peserta uji nyali...ha-ha-ha lebay.. Semua peserta yang tadi berdiri dipersilahkan duduk kembali. Beranjak cara berikutnya, sambutan pertama disampaikan oleh Ibu Rosarita Niken Widyastuti. Sesuai dengan tagline "Kerja Kita Prestasi Bangsa", semua masyarakat Indonesia diharapkan berlomba-lomba untuk melakukan lompatan besar untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bermartabat dimata dunia. Prestasi disegala macam sektor, baik pribadi maupun kolaboratif. Salah satunya adalah menjadikan Indonesia menjadi negara maju kelima pada tahun 2030. Ini dibuktikan dengan menurunnya prosentase angka kemiskinan dari 10,2 % menjadi 8%. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak kebijakan yang mendukung iklim percepatan kemajuan ini, salah satunya kebijakan dana desa. Dana desa selalu bertambah angka anggarannya dari tahun ke tahun. Mula-mula di tahun 2016 sekitar 20 Triliun hingga meningkat jumlahnya di tahun 2018 sekitar 70 Triliun.
Internet diberbagai daerah juga digenjot dibangun diberbagai sektor hingga target tahun 2020 semua seluruh Indonesia Raya harus sudah terkoneksi dengan internet.


Harapan luhurnya adalah agar UMKM pada akhirnya bisa memasarkan produk-produknya dengan go online itu adalah addict value internet. Sehingga  pemerintah pun makin menggiatkan berbagai acara pelatihan. Termasuk salah satunya lagi masuk dalam rencana industri 4.0 membangun 1000 start-up menjadi unite core.

Sambutan kedua disampaikan oleh staf ahli kepresidenan Bapak Andoko Darta (tim komunikasi presiden). Agak diluar kebiasaan protokoler yang biasa aku lihat. Beliau memulai dengan meminta sukarelawan untuk bersama menyanyikan lagu daerah  Aceh yaitu Beungong Jeumpa dan segera tampak berlari seorang blogger perempuan mbak Norma dan satu lagu daerah Papua 'Yamko Rambe Yamko' yang dinyanyikan oleh mbak Aulia. Lumyan nih keberaniannya tampil akan berbuah manis dipenghujung acara nanti. Kenapa menyanyi lagu daerah?? Ya ini dimaksudkan bahwa kita harus selalu sadar sebagai bangsa besar, nggak hidup sendiri, kita jamak, multikultural sehingga nyanyian tadi untuk pengingat hakikat jatidiri bangsa Indonesia yang harus terus melekat.


Banyak yang beliau sampaikan yang tercetak dalam ingatan, paling jelas adalah Bapak Presiden kita betul-betul ingin Indonesia mampu keluar dari Middle Income Trap atau jebakan pendapatan kelas menengah. Kita harus segera lepas dari ini. Oleh karena itu Indonesia harus jadi negara maju agar lebih sejahtera. Sejalan juga maka harus salah satu semangat nawacita Indonesia harus diwujudkan yaitu membangun dari pinggiran dan tidak Javasentris. Indonesia itu luas...Indonesia itu potensial dan kaya. 


Manusia Muda Berdaya dengan Karya

Tentulah kita semua tahu sebaran ujaran kebencian dan hoax itu sudah nggak bisa dibendung lagi dampaknya. Macam wabah lah kalau aku bilang. Contoh hoax dibilang kesehatan seperti yang Ibu Rosarita sampaikan saat ada acara  perhelatan wayangan di suatu tempat dengan dalang  cukup kondang tapi entah dari mana api dan asapnya muncul dan tersiarlah kabar berita simpang siur bahwa penyakit Demam Berdarah  itu bisa sembuh hanya akan dengan minum ramuan batang ubi jalar. Sehingga akibat sugesti yang dibawa oleh berita itu cukup besar bisa dibayangkan orang-orang setempat begitu percayanya dan  akibatnya semakin tidak mau berobat ke dokter karena saking percayanya dengan informasi yang mereka dengar. Informasi yang  hanya diambil dari media sodial yang belum pasti kebenarannya dan tidak diperiksa ulang kesahihannya namun terlanjur disebarkan. Menambah panjang daftar korban informasi sesat.

Oleh karena itu Kominfo bertugas membatasi akses informasi menyesatkan itu dengan memblokir semua situs dan informasi yang terindikasi tak bertanggungjawab itu. Tentu teknisnya selalu melalui berbagai proses dan tahapan. Tidak main penggal aja dong..! Infonya tahun kemarin saja konten-konten negatif tersebut mencapai hampir mencapai 1000 tautan yang diblokir.




So, gaessss kaum milenial utamanya nih harus berhati-hati dengan gawai dan aktivitas dunia digitalnya karena salah satu referensi dari riwayat hidup generasi mutakhir adalah rekam jejak digital kita. Nah, remah-remah jejak kita berselancar didunia maya ini akan digunakan sebagai  salah satu referensi penilaian diri kita. Apapun predikat yang akan kita raih baik di ranah swasta ataupun ASN (Aparatur Sipil Negara) akan  terus melekat pada kita jejaknya. Maka jawabannya ya pasti jadikan jejak  kita berdaya dengan segala sepak terjangnya yang senantiasa positif tentu saja.

Nah, sebagai bagian dari  manusia berdaya itu maka berhati-hati mengisi ruang kosong di dunia digital agar lebih banyak konten positif yang ditayangkan. Diviralkan yang inspiratif aja bukan yang adu  mulut nyinyir !!


 Jadi sudah seberapa greget diri kamu nih gaessss...sebagai manusia berdaya..sebagai makhluk paripurna yang diciptakan-Nya. Sudah menemukan mau jadi apa diri kamu? Mau ambil peran apa dalam kehidupan ini? Yakin mau hidup gitu-gitu saja? 
Pesan Buya Hamka, "Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja maka kera di hutan juga bekerja". 
Nggak kece kan kalau terus kita yang diciptakan dengan level maksimal disamakan dengan makhluk-makhluk tanpa karsa yang tak dibekali dengan nikmat-Nya privilige bernama Iradah atau free will kalau anak jaman now bilang.

Apapun pilihannya jangan pernah dilupakan bahwa sebagai  bangsa  Indonesia ada 4 pilar yang harus jadi pegangan yaitu Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Semua harus bangun , semua harus dibangun, semua harus terkoneksi, semua harus berkolaborasi. Kolaborasi aktif dan asyik akan membuat bibit ide baru bermunculan dan prestasi bangsa serta merah putih makin berkibar.

Merdeka!!
Read More

STOP BEING YOURSELF!

Kamis, 01 November 2018

"Udah lah nggak usah dipikirkan yang penting 'Be Yourself' aja!," nasihat seorang kawan.

"Masa bodoh lah yang penting aku jadi diri sendiri. Suka atau nggak suka, nggak aku ambil pusing. Be myself deh!," celoteh kawanku kala kesal waktu itu.



Mirror.. Mirror On The Wall

Dulu aku nggak pernah ada masalah mendengar kalimat itu, bahkan sering ikut mengamalkannya. Mengatakan dan merasakan euforianya. Berasa paling keren kalau sudah ngomong ke orang lain atau ke diri sendiri untuk "Just Be Yourself!". Lantas sekarang bagaimana?! Sudah berubah kah? Haloooo...come on pals! Ini bener serius ingin tahu kan ya..?
Oke deh, yuk barengan mencerna aja ya..setuju boleh nggak sepakat ya tetap sah-sah aja kok mampir disini apalagi mau lanjut baca tulisan ini sampai tuntas taaass, Hehe. 

Memang ciptaan Tuhan nggak ada yang seragam, si kembar pun pasti ada bedanya. Sebab kalau semua manusia sama bentuk, pikir dan cara merasanya ya pasti nggak asyik  lah hidup ini. Semua bakal datar...flat...nggak asyik. Jadi proses ceritanya begini setelah berjalan bersama waktu yang diberikan Sang Maha Guru untuk menuntut ilmu disegala penjuru aku jadi sadar konsep berpikir import ini udah nggak pas, nggak baik dan nggak benar. 

Eh, lha kok bisa? Bisa lah. Sekarang sederhananya begini sudash seyakin apa sih kita sama kualitas diri kita?  Setinggi apa sih tingkatan kita sampai menolak berubah. Yakin sudah baik, berkualitas prima? Bagaimana kalau diri kita yang sekarang ini adalah diri yang masih  sering mengalami kegagalan dalam beberapa aspek kehidupan. Apakah kita akan begitu saja menerimanya cuma-cuma keadaan tersebut atau harusnya berpikir untuk mencari jalan suksesi. Nah, kalau jawabannya sudah berkualitas tinggi tanpa keraguan, aku ucapkan selamat.. Tapi kalau jawabnya belum yakin, yuk mari sama-sama belajar lagi.

Eits...pasti tadi ada yang bisik-bisik nih kok bisa dibilang nggak mau berubah? Sini lebih dekat kesini ...aku coba jelaskan ya. Ketika seseorang  memberi jawaban klise seperti "Saya tidak ingin jadi orang lain"; "Ini gayaku, jatidiriku". Atau mengatakan "I just wannabe myself" dan ngotot "This is me, this is who I am!". 
Jawaban-jawaban itu bisa disimpulkan memiliki dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, ia tidak atau belum paham konsep dirinya. Kedua, itu sebagai bentuk pembelaan diri sebab muncul rasa tidak nyaman bila harus melakukan perubahan. 

Padahal dengan semua proses perjalanan hidup manusia yang dinamis. Manusia harus mampu selalu menyesuaikan dirinya dengan melakukan penyesuaian juga perubahan. Mencoba mengubah penampilan, pola pikir, sudut pandang serta memenuhi  kebutuhan itu dengan ilmu dan sikap yang lebih baik. 
Coba deh makin rajin bercermin. Berdiri dihadapan cermin nggak sekedar untuk mematut diri lho, tapi kita juga bisa berinteraksi dengan diri kita. Berkontemplasi, mengevaluasi diri, self-talk; berkomunikasi lebih dalam dengan jiwa kita. Nah, jika nurani kita belum buta maka pasti kita akan temui suara jawaban sebenarnya.

Kenali Konsep Diri

Sudah kenalkah kita pada diri kita sebenarnya? Sudah kah kita menemukan self-awareness kita sebenarnya? Mampu kah kita mengenalinya?

Cara mengenali diri kita dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap diri sendiri maupun saat interaksi dengan orang lain. Apakah sudah berkesesuaian. Saat kita sudah mampu menemukan konsep diri kita, baik dari sisi perilaku, perasaan, dan .motif tertentu yang ada dalam diri kita.  Secara otomatis akan menyadarkan diri ini akan kekuatan dan kelemahan yang kita miliki. Akhirnya kita dapat dengan mudah menentukan arah dan memilih strategi terbaik dalam pencapaian tujuan hidup.


Temukan Diri Sejati

Setiap manusia terlahir sebagai makhluk pembelajar. Sepanjang hayat dikandung badan, sebelum badan berkalang tanah seharusnya tak ada kata berhenti belajar dalam kamus manusia. Lihat saja bayi yang baru lahir dia tak akan ragu berteriak menangis kencang tak malu jika dianggap berbuat onar. Lihatlah pula bayi yang sedang berlatih berjalan, tak gentar belajar merangkak, berjalan dan jatuh berkali-kali untuk bisa berlari lagi. 

Menemukan diri sejati tak ubahnya seperti si bayi itu. Melewati masa ke masa sesuai dengan perkembangan dan kebutuhannya bukan keinginannya. Sedari bayi hingga tua begitulah seharusnya. Tak berhenti belajar. Lalu dimanakah bisa ditemui diri sejati itu? Diri kita sejati adalah diri yang terus memperbarui diri menjadi lebih baik. Kita ini manusia yang dibekali potensi yang luar biasa dan tidak terbatas. Seluruh 'diri' kita ini sesungguhnya bergantung dari apa saja yang kita serap, terima dan pelajari.

Be Your Best Self

"Stop being yourself. It's just such a boring and self defeating concept. Start being your best self!"

Fitrahnya manusia itu berbuat kebaikan. Ingin menjadi lebih baik dan melakukan yang terbaik. Jika ada yang berbuat sebaliknya ya itu pilihannya. Tuhan menciptakan dua jalan pilihan kebaikan dan keburukan. Semua keputusan yang dipilih pasti ada konsekuensinya.  Itu mengapa juga kita memahami ada konsep surga dan neraka.

Jika masih ada yang terjebak dengan kata, "Jadilah diri sendiri!". Pastikan kembali anda merenungkan tentang diri dan keseluruhan yang membentuk diri saat ini. Jika sudah betul memahami pasti kita tidak  akan gegabah berkata, "Ini diriku suka tidak suka terima saja!". Ingat kembali bahwa kita beda dengan makhluk ciptaan lainnya yang tidak memiliki karsa. Manusia adalah makhluk pembelajar  dengan segala macam bekal akal dan potensi untuk berubah dan menjadi agen perubahan.

Potensi kebaikan dan keburukan itu, jika dilakukan berulang-ulang akan melekat pada pemilik predikat. Jika kita lakukan kebaikan secara konsisten, penuh dedikasi maka kita berhak mendapatkan apa yang terbaik yang telah kita upayakan. Stop membatasi diri kita dan berpuas diri dengan kualitas yang dimiliki saat ini. Sampai kapan kita mau terus percayai prinsip lama yang membosankan, dan sudah usang. Kadang hanya digunakan sebagai pembenaran diri atas keengganan dan rasa takut yang menghambat diri Anda meraih potensi kebaikan maksimal.

Berproses menjadi diri yang terbaik adalah sebuah perjalanan yang tidak instan. Butuh perjuangan panjang dan berkesinambungan. Sinergi pikiran dan tindakan. Pikiran menentukan tindakan. Tindakan akan berbanding lurus dengan hasil. Tidak ada proses yang mudah, bahkan sering muncul ketidaknyamanan saat melakukannya.

Namun, itu bukan alasan untuk berhenti berusaha. Jangan tergesa pula berpuas diri. Penuhi seluruh "aku" dengan  ilmu dan cari terus guru terbaikmu. To be the best, you have to learn from the best.

Satu hal lagi, di universitas kehidupan ini dsiapkan berbagai macam guru. Kita bisa membacanya secara tersurat dan tersirat. Maukah kawan berjalan dititian ilmu bersamaku? Bersama mencari versi terbaik dari diri kita, and "Be our best self"!.

Semangatttt...!!!
Read More

BERDAYA BERSAMA PENA, BISA SAJA!

Rabu, 31 Oktober 2018

Hey, Hari Terakhir!

Aaahaaay... sampai jua perjalanan belajar konsisten ini dipemberhentian sementaranya. Halte pertama untuk beralih ke tantangan selanjutnya yang jauh lebih menggoda. Tema hari ke sepuluh kali ini mengusung tentang menjadi wanita yang berdaya dengan pena. Menarik kan ya? Mengangkat pena menggoreskan tinta jadi senjata yang memiliki daya.


Tentu saja daya yang berdampak baik bagi peradaban. Sebab kita tahu bahwa kehidupan tersusun dari kepingan-kepingan cerita, dan peradaban bergerak bersama cerita-cerita. Suka atau tidak cerita itu yang membentuk diri kita.

Kata-kata berdaya bersanding dengan wanita. Makhluk Tuhan yang instalasi dayanya sudah dahsyat dari awal diciptakannya. Baik fisik maupun psikologis sudah ditempa dan dipersiapkan untuk tahan uji disegala macam frekuensi. Tinggal bagaimana kemampuan sang operator saja nih? Mau putar tombol yang mana, kemana, agar potensi yang sudah luar biasa ini nggak bocor halus... sia-sia, Hehe.
Sampai ada yang pernah bilang bahwa jatuh bangun suatu bangsa bergantung pada kualitas perempuannya! Apa nggak bangga nih yang jadi wanita? Eh tapi jangan jadi jumawa dong ya..:).
Kolaborasi dua sumber daya ini pasti tak diragukan lagi, bisa jadi daya gerak baru untuk perubahan. Wuiiih...keren ya...ah kosakata apa lagi sih untuk  bisa lengkap menggambarkannya...

Analogi kalimat bersama pena menjadi wanita berdaya bisa dibawa kemanapun. Menurutku tak melulu kita harus lihai menulis sih. Sebab tak semua orang diciptakan dengan kemahiran mengolah kata-kata. Meski konon wanita memiliki ribuan gudang kata yang tersimpan dalam benaknya. Wiih...kebayang kan ya banyaknya 'ribuan gudang' , hehe. Wanita adalah makhluk yang pandai memahami bahasa, bahkan bahasa kalbu sekalipun sebab perasaan alamiah berkasih sayang adalah salah satu fitrahnya. Perasaan itu terkadang diterjemahkannya melalui kata-kata. Jadi  jangan heran makanya dimana-mana wanita itu lekat dapat label ciriwis, doyan ngomong. Ia makhluk yang secara  intuitif akan bereaksi pada setiap situasi yang ia hadapi. Peka secara rasa dan kata begitulah kira-kira. Tapi tetap saja tak semua orang mudah berjumpalitan mengolahnya kata-kata yang nyaman dan mudah dipahami orang lain.

Satu hal yang pasti sama dari kita adalah semua manusia memiliki ceritanya. Kisah yang tak pernah serupa dengan milik manusia lainnya. Maka jadilah pencerita! Sebagai wanita yang terlahir dengan kelebihan mengolah kosakata. Berbagilah cerita, bukan bicara tentang keburukan tapi saling bertukar makna hingga siapa tahu ada satu hati yang lega dan tersenyum berkata, "Ah, yaa syukur lah aku tak sendiri...aku baik-baik saja". Inspirasi dan harapan bermekaran setelah mendengar cerita kita. Hangatnya perasaan yang tercipta setelah membaca  dan atau mendengar cerita kita. Merasa ada kawan, merasa tak sendirian, merasa ada sandaran, merasa tak menjadi sandera kehidupan. 

Bukankah jika dengan demikian kata-kata kita, khususnya sebagai wanita telah memiliki daya?! 
"Hei, Dee jangan buang waktumu lagi!". Aku berseru pada sosok wanita yang lekat kutatap dalam cermin tepat dihadapanku.



#WanitadanPena
#Day10
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

HASRAT HATI

Selasa, 30 Oktober 2018

Tantangan Hari Ke Sembilan


Tampak jelas sekali terlihat benang merah itu bersenyawa dengan hasrat. Kata demi kata menari, meliuk-meliuk mengikuti suara angan diruang mimpi. Saling berebutan berbaris membentuk formasi dengan berbagai macam diksi. Sesekali aku harus berhenti terengah-engah mengejarnya. Beberapa tak terkejar lagi sebab mereka terlanjur lari sembunyi. Aku tersenyum mendapati riuhnya dunia imajinasiku.

MOTIVASI : HASRAT HATI

Begitulah sedikit aku mencoba memersonifikasikan keriaan yang terjadi dalam diriku. Riangnya hati tiap kali aku berpacu bersama aksara. Sering aku ceritakan, bukan? Bahwa dorongan terbesar sekaligus keinginanku untuk terus menulis adalah untuk berbahagia. Itulah alasan paling dasar mengapa aku ingin jadi penulis dan harus menulis. Aku butuh menulis untuk merayakan episode-episode hidup ini melalui cerita-cerita yang tercipta dari goresan penaku. Jika pada akhirnya ada hal lain yang kudapat katakanlah itu sebagai imbalan jerih payahku maka itulah bonusnya. Melakukan suatu hal yang dicintai, dan membuat mata menghangat berbinar-binar lalu diujung jalan ada kejutan dan hadiah menanti ... Wah nikmat mana lagi yang bisa didustakan ya ?Hehe. 

Tentu setiap penulis memiliki latar cerita yang berbeda-beda mengapa ia ingin berjuang mengangkat pena? Contoh terdekat adalah suamiku. Pernah aku bertanya, "Kenapa sih dulu punya mimpi kerja di media, dari marketing sampai jadi jurnalis?Padahal ya kan tahu dunia jurnalistik di sini kayak apa...".
"Kan udah dibilang untuk jaringan... networking. Silaturahim intinya itu sih. Materi kan nggak cuma tentang uang, ada banyak definisinya, Nie..." dijelaskan panjang lebar setelahnya.
"Kenapa harus pilih menulis... 'nyemplung' jadi jurnalis gitu maksud Ibun?", tanyaku berisik menelisik karena masih penasaran.
"Ya, karena bagi orang rantau misalnya yang nggak punya siapa-siapa mengetahui berita dan fakta sanak keluarga, kampung halaman yang jauh dari jangkauan dirinya itu penting..", jawabnya dengan nada  setengah menggantung.
Sementara aku pahami dulu  lah ya kalimat itu, meski sesungguhnya aku tak mengerti benar. Mungkin yang dimaksud suamiku adalah ia bahagia mengambil peran menjadi jembatan berita bagi para pencari kabar. 


BAHAGIAKU DAN BAHAGIANYA

Bahagiaku adalah bahagia mereka. Mereka yang sudi meluangkan waktu untuk membaca kisah ceritaku. Bahagia  bersama mereka bahkan sekalipun kisah itu untuk menarasikan nestapa. Menertawakan duka lara. Tak ada cerita yang sama dalam kehidup an manusia. Semua membawa kekhasan misi hidup dan kisah penciptaannya dari Sang Pemilik Semesta. Hingga rasanya tak berlebihan jika bagiku peristiwa saat proses menulis karya itulah inti dari semuanya.

Motivasi terbesar selain berbahagia adalah jujur pada perjalanan penaku itu. Mengikutsertakan hati  nurani untuk  berbagi. Sebab semua diksi, teori tidak akan berarti jika tak ada hati yang menghidupkannya. Bergerak untuk menuntaskan setiap cerita yang sudah berani dimulai. Meniupkan ruh cinta yang ada untuk terus bisa memeluk hasrat merekam jejak-jejak aksaraku. Maka hati ini memang harus diberikan kompas agar sampai selamat pada hilir tujuannya.
Betul sekali! Motivasi, hasrat, dorongan dalam diri untuk terus mau berbagi bahagia apapun ceritanya adalah petunjuk arah kemudi agar aku selalu mampu menuntaskannya hingga karya asa itu terjadi.


#WanitadanPena
#10DaysChallange
#Day09
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

PENA ASA DAN KARYA

Senin, 29 Oktober 2018

TANTANGAN HARI KE DELAPAN


Tak terasa beberapa langkah lagi nyaris sampai di hilir waktu tantangan ini berakhir. Hari kedelapan ini kami mendapatkan sebuah mantra kata-profesi. Sebuah ranah profesional bagi semua orang yang berjuang bersama pena. Sebenarnya sih banyak profesi yang bergelut dengan kata-kata, tinta, dan pena. Sebut saja jurnalis, mereka berlarian bersama fakta  dan menggunakan tinta tulisannya untuk menyampaikan berita mutakhir terpercaya yang terjadi disekeliling kita. Selain itu ada beberapa lagi label predikat turunannya bagi si laskar pena, seperti penulis, novelis, cerpenis, blogger dan banyak lagi sebutan lainnya. Semua berjuang bersama tinta menerjemahkan semua cerita kita.

Memaknai Profesi Ini

Profesi secara bahasa diartikan sebagai janji seseorang untuk melakukan kewajiban dan tugas spesifik secara konsisten atau permanen. Sebuah profesi menuntut keahlian dalam bidang tersebut. Profesi juga diatur dan dilindungi oleh kode etik atau aturan tertentu.
Berbeda dengan pengertian pekerjaan, seorang profesional tidak hanya mementingkan materi atau imbalan yang akan didapatkannya. Profesional adalah seseorang yang berkomitmen dan berkompeten pada suatu bidang profesi yang ia geluti. Seorang profesional akan tetap berusaha mengedepankan nilai-nilai luhur profesionalisme seperti nilai moral, etika demi memegang teguh kehormatannya serta juga profesinya.  Sehingga ketika aku mencoba melihat ke dalam diriku dan memahami kembali semua pengertian itu, sejujurnya hingga kini aku pun belum berani benar meneguhkan diri sebagai seorang calon penulis profesional. Bukan lah sesuatu yang mudah untukku melakukan  sesuatu tanpa berpikir esensinya. Sekuat apapun aku menyederhanakan  akal  pikiran  ini  selalu saja akan ada riak gejolak yang tak bisa aku tolak dikemudian hari. Aku harus paham apa yang kupilih, sebab pilihan yang kuputuskan harus ku terima dan jalani dengan semua konsekuensinya. Atas ijin-Nya pasti semua asaku bersama pena yang sudah kulukis dicetak biru impianku akan terjadi. Segera suatu hari nanti, pasti!

Pena Asa dan Karya

Tertatihnya aku sebenarnya terkait inkonsistensi diri yang lumayan akut...he..he..he. Iya, masih suka terdampar mood-nya entah kemana. Timbul tenggelam karena gaduhnya pertanyaannya dalam diriku sendiri. Namun percayalah didasar hati ini menjadi seorang penulis profesional tetap jadi salah satu impian favorit terbesarku. Misi terbesar aku ingin terus menulis adalah untuk keabadian. 
Diriku yang berbatas durasi, tak akan pernah tahu kapan kembali kepada yang Maha Pasti. Eh terus apa hubungannya dengan profesi sih? Oke jadi begini...ehem...jadi katakan lah ketika benar-benar sudah memutuskan bahwa aku akan menjadi seorang penulis profesional artinya segala konsekuensi logisnya harus sudah aku ukur sebelumnya. Tidak ada setengah hati, setengah rasa dan setengah kerja. Batasan dan kekuatan yang ada padaku harusnya sudah ku timbang untuk menjadi senjata untuk berkarya  lebih nyata. Tentu saja tidak akan mudah menuju kesana. 
Menitipkan asa pada karya yang akan dibaca melintasi batas masa bahkan ketika aku sudah tiada. Maka sungguh aku tak diam saja, saat ini aku sedang terus berusaha perlahan merekam jejak aksara, mengumpulkan remah-remah keberanian yang terserak untuk lebih lantang mengutarakan lebih banyak lagi mantra-mantra cinta yang mampu terbang melintas batas cakrawala.

Bismillahirrahmanirrahim

Ku genggam pena ini erat dan meski perlahan-lahan aku mencoba menguraikan asa yang ada ke dalam rangkaian aksara agar asa ini menjadi karya. Sebuah destinasi pilihan menuju profesionalisme nyata, demi prasasti bernama keabadian.

#WanitadanPena
#Day08
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More