Metamorfosa Rasa (Babak 2) : Bejana Setengah Penuh

Kamis, 22 Maret 2018


Setahun berlalu sejak pertengahan tahun 2002 kita mulai bertegur sapa. Diskusi buku, membahas pertandingan liga sepakbola, situasi politik, sosial, berpetualang mencari HIK (Hidangan Istimewa Kampung) atau lebih dikenal dengan angkringan yang obrolannya pemilik dan pengunjungnya asyik. Sampai menemaniku melakukan tugas social experiment di beberapa lokasi di Solo yang berlabel "kuning". Tidak setiap hari kita bertemu atau bertegur sapa meski kost kita saling berhadapan. Sesuai kesepakatan tidak akan saling mengganggu semua aktifitas dan prioritas kita, 

Source : Google

Hingga satu hari kamu begitu yakin meminta waktu untuk bicara padaku, di ruang tamu rumah kontrakan mbak kostku yang harus pindah dari kost untuk menyewa rumah agar lebih ringan bia yanya. Sebab kakak, adik, dan beberapa saudara dari Lampung juga ikut kuliah di Solo.  Ia sudah dekat layaknya saudara, dan nampaknya kalian berkonspirasi hari itu. Sesampai disana, setelah bercerita kesana kemari dengan alur dan topik campur aduk. Kamu minta waktu sebentar untuk bicara padaku. Kita ke ruang tengah, entah kita sedang merayakan apa hari itu sampai ada masak besar. Di tengah riuh ramai mbak Nik sekeluarga ditambah beberapa teman lain datang, tiba-tiba kamu bilang ada yang ingin kamu bicarakan. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang...hmm..aku takutkan dan hindari selama ini. Ternyata betul kamu minta ijin ingin mengutarakan perasaanmu.Kita duduk bersila dan saling berhadapan agak berjauhan. Aku mendengarmu menghela nafas beberapa kali dan hembusan nafas yang berat. Mataku menatap sekeliling ruang itu, ingin mencari celah untuk kabur rasanya.

“Bismillahirrahmanirrahiim...aku mau bilang sesuatu tapi kamu jangan marah”. Nampaknya kamu masih mengingatnya, maka kamu kunci dengan permintaan maafmu dulu.
“Hmm...kenapa?
“Dengarkan sampai selesai aku bicara tolong jangan disela..”
“Oke”
Kamu menghela napas kembali, kali ini lebih panjang, dalam dan berat.

Baiklah dengarkan...Sebagai saudara sesama muslim dan sebagai bentuk ukhuwah islamiyah. Aku ingin silaturahmi sama kamu, berproses untuk lebih mengenalmu. Setelah itu jika semua berjalan baik aku ingin silaturahmi sama keluargamu, lalu jika Allah mengijinkan aku akan mengkhitbahmu. Dan bila Allah meridhoi dan orangtuamu merestui pangkal dari niatku ini adalah aku akan mengucapkan akad didepan orangtuamu“

“Aku sudah selesai..silahkan dijawab tapi sekarang... saat ini juga. Boleh atau tidak?”
“Kenapa?!?”
“Tidak ada kata besok pagi karena jika jawaban itu datang besok artinya kamu mendengarkan suara logika pikiranmu. Aku pengen kamu pertimbangan ini pakai rasa...akal logika perasaanmu. Seperti yang selalu kamu bilang kan akal pikiran dan akal hati tidak bisa selalu beriringan tapi hati memiliki penjaganya bernama nurani..Aku ingin kamu jawab pakai itu. Aku hanya butuh ijinmu untuk melanjutkan niatku

“Tapi...ini seperti intimidasi tahu nggak?!...memberikanmu ijin atau tidak aku masih ragu
“Tetap saja aku tunggu jawabannya sekarang. Baik aku kasih waktu sepuluh detik
“Hah?!? Yang bener aja, Am?” dan keringat dingin mulai terasa merambat dari kaki hingga ke ubun-ubun.

Jauh didalam hatiku aku berdoa bertubi-tubi supaya aku diberi kekuatan menjawab yang tepat. Sebab orang dihadapanku ini orang baik, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari.
Aku tarik napas dalam-dalam dan merasakannya hembusannya keluar perlahan-lahan, sambil memejamkan mata ku coba setenang mungkin.

“Bismillahirrahmanirrahiim , Baik aku jawab...aku..ti..dak bi..sa...mmh...” aku pandangi kedua belah mata orang yang duduk dihadapanku ini. Anak matanya nyaris membulat hitam hampir penuh. Oh...Tuhan..dia berharap! Seketika aku menangkap perasaan kecewa pula disana ketika ia mendengar kalimatku yang menggantung, pupil matanya yang membulat mulai beranjak mengecil. Ia tertunduk. 

Entah aku terilhami oleh apa...seperti tanpa sadar lidah refleks melanjutkan ucapan yang menggantung tadi...ti..dak bi..sa... bilang..TIDAK”. Aku tersentak sendiri mendengar penyelesaikan kalimatku tadi. Ini betul-betul terjadi..aku seperti diluar kuasaku. Terlambat...nggak mungkin aku tarik kalimatku tadi...tak mungkin...aaah aku harus gimana..penyesalan sudah tidak ada guna. 

Seketika air mukanya berubah riang, dan aku...bisa lah dibayangkan raut wajah masih terhenyak heran dengan jawabanku sendiri. Aneh!! Ada dua suara dalam hatiku, sisi lain lega dengan pilihan jawaban itu tapi disisi lainnya takut ini bukan keputusan yang tepat. Takut kalau saja ini akan melukai hubungan baik kami berdua nantinya. Kamu meraih tanganku, membawanya ke dahimu dan mengucapkan dengan intonasi penuh sukacita dan kelegaan, “Terima Kasih...”, ucapmu sambil menegakkan kepalamu lagi. Kulihat ada genangan tipis dikedua sudut mata yang berbinar itu.

“Tapi ingat ini berproses, bukan pacaran atau apapun seperti yang dipahami orang-orang. Kamu masih ingat tho? Apa arti pacaran buatku?” aku segera melanjutkan kalimatku sebagai konfirmasi agar tidak ambigu maknanya nanti.
“Ya..ya..paham..pacaran menurutmu adalah sesuai arti bahasa Kawi-nya; perjalanan menuju pernikahan. Tidak ada kewajiban makan bareng, wajib lapor, kemana-mana harus bareng dan seterusnya. Begitu kan maksudmu...?
“Baguslah kamu ingat. Aku nggak mau kalau harus ada acara lapor melapor, kamu dimana? sedang apa? atau harus sama-sama tiap waktu, makan bersama, pergi kemana-mana harus bersama. Kamu tahu aktifitas dan dunia kampusku. Sekali lagi ini proses, kita harus tetap membebaskan satu sama lainnya. Sampai memang suatu saat Allah menunjukkan definisi lain dari apa yang kita sepakati hari ini”
Satu lagi, aku ingin dimengerti dengan semua kemanusiawianku. Aku cuma perempuan biasa yang punya cita-cita dengan segala kesempurnaan kekurangannya. Aku banyak kekurangannya sebagai perempuan. Kamu harus siap dengan segala kemungkinan kemanusiawianku itu.”
“Iya aku ngerti aku juga bukan orang baik...sekali lagi terima kasih ya”

Begitulah tahapan baru kisah perjalanan awal proses kami, aku memang bimbang tapi seperti katamu aku harus membiarkan akal hatiku berperan. Setelah mampu menimbangnya, akal pikiranku pun mengingatnya bahwa belum pernah ada lelaki yang proposalnya seperti ini. Jelas, pasti dan memiliki visi. Lalu apalagi? Maka akal hatiku menuntun lidah ini memberikan sentuhan terakhir pada kalimatku dengan kata, TIDAK”   

Memang memberikan kesempatan untuk berproses sama saja membuka peluang untuk menyakitinya karena sejak awal aku tidak terlalu suka dengan konsep pacaran. Terlepas dari halal dan haramnya, secara pribadi aku nggak cocok dengan konsep itu. Yang mendahului menuntut hak yang bukan miliknya karena seolah-olah pacaran adalah label kepemilikan sah.   Padahal sama sekali tidak. Masa itu masih banyak hal yang ingin ku perbuat, selalu muda, selagi masih jadi mahasiswa yang dipercaya idealisme dan gagasannya otentik untuk melakukan banyak perubahan. Aku nggak ingin terbebani, dengan terjebak dalam perasaan yang belum semestinya. Masalah psikis akan selalu memiliki ranah tak teridentifikasi potensi arusnya tak selalu mudah dipahami.

Sejak proposalmu kamu sampaikan di awal tahun 2003, semua masih berjalan seperti biasa, tak ada yang berubah. Perlahan bejana setengah penuh mulai kita isi seiring proses yang kita jalani. Mulai meletakkan asa dijejak-jejak percakapan kita. Diam-diam aku sadar perlu memaknai ulang proses kita ini. Ada biduk-biduk kecil yang mempertanyakan akan menjadi siapakah engkau nanti? Kemana segala rasa yang belum punya nama ini akan berlabuh?
Maafkan saya bapak/ibu dosen...

Ada beberapa hal kecil perubahan, seperti kita mulai rileks membicarakan orang-orang dekat kita; orang tua, adik-adik, saudara sepupu. Ya, aku memang tidak memilih bejana yang telah sempurna terisi, sebab aku takut terjebak, terbuai lalu lalai. Alasan lain manusiawinya kepribadianku yang mudah bosan jika zona itu terlalu “nyaman”...flat.. Kamu? meski tak selalu berhasil ada saja canda yang kamu bawa, membuatku ingin menertawakan apa saja. 

Intensitas pertemuan kita jadi lebih sering karena kamu minta tolong aku menemani mengolah data penelitian skripsimu. Pertengahan tahun kamu sudah merampungkan studimu. Tiba saat kamu diwisuda, tatap muka pertama dengan kedua orang tuamu. Namun aku harus pamit karena tepat dihari wisudamu itu aku harus ke Jakarta menggantikan mama yang belum pulih pasca operasi. Selepas wisuda itu juga kamu langsung boyongan pulang ke kampung halaman. Kemudian kita mulai mengakrabi jarak sebagai penguat proses kita. Awal tahun 2004, kamu memberi kabar diterima di perusahaan ekspor impor di Semarang. Posisiku masih di Solo mengurus olah data penelitian skripsiku, ya karena pilihanku menggunakan penelitian kualitatif maka mengolah sumber datanya jauh lebih lama. Kurang lebih satu tahun aku berjuang menyelesaikan skripsi idamanku itu.


Kupersingkat saja ya...seperti awamnya orang yang sedang berproses dari tahun ke tahun pasti ada pasang surutnya. Namun, selalu saja kami kembali dengan segala bentuk peninjauan ulang hingga di tahun 2005; bulan agustus kamu berhasil sampai pada prosesmu untuk bicara kepada papa tentang niatmu meng-khitbahku. Kamu bilang umur 26 adalah usia yang ia tetapkan untuk menikah. Ia percaya jikapun bukan denganku bisa dengan siapa saja yang Allah perkenankan. Alhamdulillah, akhir tahun 2006 di bulan syawal kamu pun melunasi proposalmu, menggenapi separuh agama kita. Kamu pun ucapkan akad didepan orang tuaku. Lelaki itu (ternyata) memang kamu .... telah mengetuk pintu (hati)ku.
Berkat Bakat INPUT, masih terselamatkan :)





#GebyarLiterasiMediaFebruari
#CintakuTakSebatasValentinePart2
#RumbelLiterasiMediaIPS
Read More

Metamorfosa Rasa (Babak 1) : Awal Permulaan Kisah


Bukan tentang bingung memilih mau menulis apa, namun kesulitannya kali ini adalah memutuskan siapa lakon cerita yang akan ada ditulisanku kali ini. Serius deh ini beneran butuh tenaga ekstra untuk mengambil keputusan. Tema tantangan gebyar literasi bulan Februari adalah tema merah jambu, bulan yang konon penuh pernak-pernik cinta, penuh ungkapan rasa dan aroma romansa. Sedari dulu aku tidak pernah benar-benar peduli, kecuali ada satu-dua kotak coklat yang mampir bersama bunga segar atau juga yang imitasi. Itu juga nggak pernah aku nikmati sendiri he..he..he..kecuali (lagi) itu dark chocolate berbentuk segitiga kesukaanku. Saat mendapatkan tantangan ini, sebenarnya langsung terbayang kerangka tulisannya. Lalu kenapa ‘mandeg’? Pasalnya ya itu tadi mau ku hadiahkan untuk siapa tulisan ini? Perihal cinta dan kasih mama yang selalu dirangkainya melalui doa-doa disepanjang sajadah yang beliau gelar? Atau untuk papa? Lelaki cinta pertama putrinya ini? Atau...untukmu imam yang aku pilih mendampingi proses belajar sepanjang hayat ini dalam kelas bernama Pernikahan?
Akhirnya setelah meditasi cukup panjang (terlalu panjang kayaknya hi..hi..hi..) keputusan hati bulat jatuh padamu, iya kamu yang sampai saat ini masih sudi belajar di maha luasnya universitas kehidupan bersamaku (semoga kebaperan tak melanda kewarasanku hingga rampung tulisan ini..hehe). Pilihan ini didasarkan pertimbangan bahwa tulisan mama sudah pernah aku tulis sebelumnya, meski masih banyak yang ingin ku ceritakan. Mungkin satu saat nanti aku akan bercerita kembali tentangnya. Lalu, bagaimana cerita tentang papa? Hmm..agak nekat sih ini karena berbarengan dengan tulisan ini juga kenangan tentang beliau sedang berusaha aku ikat menjadi sejarah. Semoga! Dilihat saja nanti, meleset atau tidak.



Kisah Itu Bermula

Bercerita tentang kamu, rasanya tak akan pernah ada habisnya dan memang aku berharap tak akan pernah usai bercerita tentang kita. Kamu hanya tersenyum ketika aku mengutarakan niat keputusanku...Lalu kau berkelakar ”Apa nggak malah jadi novel tuh tulisanmu?atau jadi agenda cerbung”. Ih..sebel tapi ku pikir iya juga sebab suka susah berhenti dari papan seluncur ketika kata-kata sudah mulai terlontar saling berkelindan.

Semula kita hanya lah dua orang asing yang dipertemukan melalui banyak rangkaian peristiwa yang terajut jadi cerita. Kisah itu, kini berusaha selalu kita cari dan hidupkan lagi untuk pahami apakah benar ini takdir, jodoh atau nasib yang senantiasa bergerak berdasarkan doa, asa dan usaha kita ataupun sayap-sayap doa serta harapan orang-orang disekeliling kita. Pun saat petualangan kita mengarungi 11 tahun biduk pernikahan dengan semua roller coaster kehidupan yang ada didalamnya. Babak demi babak, canda, tawa, bahagia serta derai airmata dalam kisah kita mampu terkumpul menjadi tabungan kenangan kita.

Source : google

Aku tak pernah benar-benar mengingat kapan permulaan kita bertemu dan menjadi dekat. Atau rasa seperti apa yang pernah singgah di hati tentang kamu. Mengapa pula hatiku memilihmu? Tidak pernah ada kamus yang mampu membantuku mencari jawabannya. Sebab jujur harus selalu aku akui; tak ada jawaban pasti. Cinta? Love at first sight? Nope..!!. Semuanya mengalir begitu saja tanpa pertanda, harus kuakui ada sih riak-riak kecil harapan sebenarnya. Namun dengan mudah ku tepis atas nama 'kebebasan' ha..ha..ha... Kamu pasti ingat betul tentang makna kebebasan itu; pilihan kesibukanku di kampus dan berbagai prioritasku saat itu.

Ingatan terkuatku hingga kini tentang kamu adalah dinamika psikologisku ketika mengambil keputusan tentang memaknai hubungan kita. Kualifikasi nilaimu hanya 60% dari total kriteria imam impian. Aku memilihmu karena bejana setengah penuh yang kau punya, dan itulah kelebihanmu. Banyak yang datang dan pergi dengan total nilai nyaris sempurna, dan aku tak menampik bahwa beberapa diantaranya rasa kami tak bertepuk sebelah tangan. Tapi kamu pun menjadi saksi bahwa aku tak berdaya membawa perasaan itu lebih jauh lagi. Entahlah..ada hubungannya atau tidak, mungkin karena aku mahasiswi fakultas psikologi, dan  secara naluriah semakin tajam mengetahui potensi diriku seperti apa.  Hingga, membentukku agar belajar tidak gegabah mengambil pilihan. Memperkirakan dan mempertimbangkan dengan akal hati dan pikiran, siapakah yang memiliki frekuensi yang sama untuk mampu berjalan berdampingan bersamaku di masa depan. Setiap pilihan akan selalu ada resiko sebab dan akibat, oleh karena itu tidak boleh ada penyesalan di kemudian hari. Sebab saat sudah ketuk palu keputusan, pantang bagiku untuk menariknya lagi.

Kami berdua punya versi sendiri-sendiri terkait kapan kami mulai saling sapa. Masih jadi misteri. Kadang geli sendiri kalau napak tilas kenangan, serumit itu kah benang merah yang Tuhan sediakan untuk kami. Kamu bilang, melihatku pertama kali sepulang jamaah sholat dhuhur di masjid Abu Bakar As Shiddiq. Kamu melihatku bersama beberapa teman kostku dan anak pemilik kost sedang ramai memetik belimbing. Pohon belimbing milik bu kost ini berada didalam pagar namun karena rindang memang beberapa dahannya menjuntai keluar. Nah, cerita memalukan ini pun bermula. Katamu, sekembali dari masjid dan berganti pakaian kamu bersama beberapa anak kost depan yang sudah memasang dan mengunci target masing-masing menghampiri kami. Oh ya, kost kami sering dianggap kost pencari jodoh he..he..he..iya karena kost putri berhadapan langsung dengan kost putra. Sepertinya fakta pun meng-aamiin-kan kabar itu. Ada yang hanya bertahan hingga beberapa lama tapi banyak juga hingga akhirnya menyebar undangan sah menjadi keluarga. Balik ke cerita pohon belimbing tadi, aku dengar memang ada yang datang ke halaman depan kost. Mereka bertanya sedang apa ramai-ramai, dan entah apa lagi yang diobrolkan meski jelas percakapannya namun fokusku sedang tidak berada disana. Arggh...sebenarnya aku ingin sekali loncat dan segera lari dari situ. Loncat??Hi..hi..hi..iya loncat nggak salah baca kok..tadinya sih cuek aja nangkring di dahan pohon belimbing itu sambil terus mencari belimbing yang sudah tua dan sesekali menikmati langsung buahnya. Sensasi makan buah langsung diatas pohonnya itu.. luaaaar biasaa...hi..hi..hi...Belimbing yang sudah dipetik itu lalu kulempar ke teman yang sudah bersiap  dibawah. Yaa..gitu deh karena nggak ada yang berani memanjat dan aku memang suka, akhirnya naiklah ke pohon menemani anak ibu kost yang sudah lebih dulu memposisikan diri. “Tamu” tak terduga kami siang itu langsung menghampiri anak ibu kost dengan modus minta dibagi belimbing yang sudah dipetik. Anak ibu kost yang memang posisinya ada didahan yang lebih dekat ke jalan raya sedang aku memilih dahan sebelah dalam. Aku yang waktu itu masih belajar memantapkan niat tentang jilbab/kerudung, sebab memang awal semester satu itu baru mulai mengenakannya. Itu pun tidak pernah terpikir secepat itu aku akan belajar memakainya. Informasi dan pengetahuan tentang jilbab saat itu belum lah sebanyak sekarang ini. Kampusku juga belum menerapkan wajib busana islami bagi pasa mahasiswinya, hanya ketika masa orientasi kami diwajibkan memakainya. Setelah itu dikembalikan kepada keputusan masing-masing individu. 

Nah, aku menetapkan batas pagar kost sebagai rambu-rambu belajar konsisten mengenakan kerudungku. Jadi kalau masih di dalam area pagar kost dan tidak dalam kondisi menerima tamu atau ada tamu di teras kost maka kerudung itu tidak aku pakai. Celakanya, tamu tak terduga tadi menghampiri dalam kondisi yang membuatku ingin loncat jika mampu terbang sampai ke kamarku diujung lorong belakang bangunan kost yang berbentuk letter L. Gimana tidak panas dingin? Sudah nggak pakai kerudung, pake kaos lengan pendek dan celana ¾ plus nangkring sambil makan belimbing langsung diatas pohon. Entah lah antara aku lupa atau ingin melupakan aib itu yang aku ingat hanya sebelum aku ditanya (sebab sayup kudengar ada yang bertanya siapa yang ada diatas bersama anak ibu kost itu?). Segera aku turun setengah melompat kurasa dan segera pasang seribu kaki untuk lari. Aaaah..lega sekali dan hari berganti hari aku pun lupa apa yang terjadi hari itu. Bagimu hari itu adalah hari yang berkesan dan mengingatnya sebagai perjumpaan kita yang pertama. Lalu bagaimana dengan versiku? Memoriku merekam lokasi perjumpaan awal kita adalah di perpustakaan universitas. Salah satu tempat favorit di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah gedung perpustakaannya. Luar biasa nyaman dan paling bikin betah... setidaknya dari beberapa perpustakaan universitas lain yang pernah aku kunjungi di jaman itu. Apalagi dipertengahan tahun 2002 itu (please..jangan mulai berhitung berapa usia saya sekarang ya...hi..hi..hi), sudah mulai mempersiapkan seminar, tugas-tugas praktikum psikodiagnostik dan semua aktifitas itu butuh banyak suplemen referensi.

Hari itu aku berniat mencari referensi buku untuk bahas proposal seminarku. Berangkat ke kampus pagi dan langsung ke lokasi karena jika tidak salah aku tak ada kelas hari itu jadi memang alokasi waktuku sepenuhnya ada disana. Setelah menemukan buku referensi itu, aku menuju ke rak buku lain. Hari itu aku ingin meminjam buku dibagian sastra. Berkeliling lah aku mengelilingi rak-rak  itu, tadaaaa...ada satu buku yang menyita perhatianku. Mungkin terpengaruh dengan novel yang baru saja selesai aku baca ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Judul buku dirak itu langsung menyita perhatianku, kalau tidak salah ingat itu adalah buku baru yang ditulis Remy Sylado berjudul ‘Kerudung Merah Kirmizi’. Sama-sama ada kata kerudungnya, aku baca sekilas sinopsisnya. Bagus juga! Tapi entah kenapa aku jajarkan lagi ditempat semula dan beranjak berkeliling lagi. 


Tidak menemukan lagi judul buku yang cocok untuk “rekreasi”, aku pun kembali ke rak tadi. Du..du...du disana lah kisah dalam ingatan ini bermula...seseorang berdiri didepan rak dan mengambil buku itu. Mau tidak mau aku harus menyapanya, bertanya apakah buku itu akan ia pinjam? Dia jawab ya, kenapa? Aku jawab, tadi aku mau pinjam tapi belum jadi karena mau berkeliling dulu. Perbincangan berlanjut beberapa saat, aku tidak ingat apa saja inti pembicaraannya dan aku pun tidak tahu jika ternyata kamu sudah mengidentifikasiku sebagai tetangga kost yang suka panjat dan makan hasil petikannya langsung diatas pohon. Tanpa malu aku bertanya dimana kostmu, kamu jawab di Tuwak Wetan, Gonilan. Naifnya aku membalas, wah kebetulan kostku juga disana. Kamu dimana? Kamu sebut Kost Jaka Lelana. Aku sama sekali nggak pernah dengar eh atau memang nggak peduli sih tepatnya karena memang bukan hal begitu penting untuk diingat. Mungkin dalam pikirannya menahan geli saat aku tanyakan kost itu sebelah mana? Tapi kamu segera ambil alih mungkin ingin menyelamatkan aku dari kekonyolanku berikutnya, “Ya udah kamu dulu aja yang bawa bukunya nanti aku ke kostmu”. Entah lah waktu itu kamu tulus atau ada modus hanya kamu dan Tuhan yang tahu. Aku setuju dan kemudian menyebut  nama kostku. Berpisahlah hari itu, aku langsung menuju bagian administrasi peminjaman. Perjalanan pulang dijalan aku bertemu denganmu berjalan kaki, ku pelankan laju sepeda motor untuk menyapanya...suka tidak suka harus kulakukan karena dia sudah rela buku itu untukku lebih dulu. Kemudian sejak hari itu cerita – cerita lain mengikutinya, tak ada gejolak “rasa” lain terlintas selain aku nyaman memposisikanmu sebagai teman yang bisa diajak berdiskusi apa saja. Analisa sudut pandangmu yang unik, kadang jahil namun berbobot, ditambah wawasanmu cukup luas dibandingkan lawan bicara yang sering aku temui, karena itu semua kita bisa berlama-lama adu argumen saat sedang membahas sesuatu.   Termasuk ketika duduk di teras petang itu selepas maghrib, kita bedah buku karya Remi Sylado ‘Kerudung Merah Kirmizi’. Ingatkah kau kata-kata yang menari sepanjang diskusi? Mungkin saat itu sebenarnya aku sudah mulai menggali dan menaruh hati pada sudut pandang pribadimu; dirimu. Akankah engkau akan jadi lelaki itu? Penyempurna iman menuju keabadian tanpa ada sekat fana bernama waktu. Seperti penggalan sajak yang pernah kubaca, Yang Fana adalah Waktu – Kita Abadi. Sampai detik itu aku tak tahu dan belum ingin mencari tahu.

Yang Fana adalah Waktu; Kita abadi
Pic by Me

Lalu, bagaimana dengan bejana setengah penuh itu? Tunggu dulu....


*)Terpaksa bersambung ya saudara-saudara..jangan bosan cerita saya yang biasa saja ini. 
Salam sayang


#GebyarLiterasiMediaFebruari
#CintakuTakSebatasValentine
#RumbelLiterasiMediaIPS

Read More

Wanita atau Perempuan ?

Sabtu, 10 Maret 2018

"Kalau kamu suka disebut apa? Wanita atau perempuan?" Tanya seorang teman.
"Perempuan" jawabku
"Iiih...kok nggak wanita sih... perempuan kan nggak mature gitu kesannya " 

Bicara tentang kata perempuan dan wanita memang tidak ada habisnya. Meski boleh saja ini hanya masalah nilai rasa dalam tata bahasa, ya setidaknya bagi saya seorang awam dan bukan seorang ahli tata bahasa Indonesia. Namun, sekecil apapun itu bagi saya nih...saya harus cari tahu dulu artinya, asal-usul katanya jika perlu. Hanya menghindari ucapan yang tidak saya kuasai itu saja sih. Pemilihan kata seringkali memang saya ukur dari nilai rasa dan kepantasan penggunaannya bagi lawan bicara kita. Seperti ketika menggunakan kata aku dan saya; saya akan lebih cenderung memilih kata saya dibanding aku. Kata saya dan aku dalam KBBI tidak ada perbedaan makna yaitu kata ganti orang pertama yang berbicara atau yang menulis. Hanya saja dalam konteks ragam kata aku digunakan sebagai tanda  keakraban; dekat seperti kepada sesama teman atau sahabat sedangkan kata 'saya' cenderung lebih resmi atau berjenjang seperti murid kepada gurunya. Ribet ya bacanya..tapi suka kadang ingin mengabaikannya, namun rasanya kalau mau melanggar pakemnya hati tuh kayak ada agak geli-geli gimana gitu he..he..he. Bagi beberapa orang repot amat ya sampai bahas nilai rasa, ragam akrab ya bicara ya tinggal bicara aja...tapi bagi saya pribadi nih, sekali lagi itu penting. Sebab pilihan kata akan mempengaruhi citra yang membentuk identitas kita...eaaaa...apaan sih..ini kalau saya lho yaaa..jangan sampai jadi kontroversi hati gara-gara baca tulisan ini...haissh..

Oke kita langsung aja deh bahas pemaknaan kata wanita dan perempuan. Kata perempuan dalam KBBI; perempuan/pe·rem·pu·an/ n; diartikan sebagai : 
1. Orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2. Istri; bini: -- nya sedang hamil;
3. Betina (khusus untuk hewan); bunyi -- di air, pb ramai (gaduh sekali).

Sedangkan pada masa kesusastraan Melayu Klasik mengenal kata EMPUAN yang juga berarti "perempuan" yakni sebutan bagi istri raja. Kata ini konon mengalami pemendekan menjadi 'puan' yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai pasangan kata 'tuan' atau sapaan hormat kepada lelaki. Mungkin saja dari sana lah muncul kata 'PEREMPUAN' yang dapat diartikan sebagai orang yang dimuliakan atau yang dihormati. 

Berdasarkan latar belakang sejarah itu, maka bisa dimaknai bahwa perempuan sejajar dengan laki-laki, bahkan mungkin lebih tinggi, karena kata “empu”nya itu.

Lalu bagaimana jika kita tengok secara asal-usul kata atau etimologi bahasa? Adakah perubahan-perubahan bentuk dan makna? Kata perempuan berasal dari kata Per, Empu dan an, Per itu artinya makhluk/orang. Kata 'Empu' asalnya dari bahasa sansekerta artinya mulia dan imbuhan -an yang memiliki makna konotasi -kan. Kata empu juga diartikan sebagai tuan, orang yang mahir, berkuasa, hulu, atau yang paling besar. Kata perempuan juga berhubungan dengan “ampu sokong”, yakni memerintah, penyangga, penjaga keselamatan, bahkan wali. Sekali lagi bagi sudut pandang saya pribadi, menemukan makna tersirat yang lebih dalam yakni bahwa arti perempuan adalah makhluk yang  dimuliakan. Memiliki kemuliaan dan hak menjadi "tuan" bagi dirinya sendiri.

Lantas bagaimana dengan arti kata wanita? Menurut KBBI arti wanita; wa·ni·ta (n); perempuan dewasa: kaum -- , kaum putri (dewasa). Secara etimologi bahasa Jawa kata wanita, diterjemahkan sebagai ‘wani ditoto’ yaitu artinya ‘berani diatur’. Berangkat dari latar belakang pemaknaan tersebut, maka cukup sulit bagi seorang 'wanita' untuk memiliki kuasa terhadap kemuliaan dirinya sendiri. Masih ada pandangan kurang pas dan cenderung dirasa "menyakitkan" sebab seolah seorang wanita tidak bisa menghindar jika didikte oleh seorang pria, bukan lagi sebagai sejawat-teman kehidupan dalam berumahtangga.
Seolah-olah terlanjur ada pemahaman bahwa sifat-sifat yang melekat dari kata 'wanita' adalah sifat yang cenderung inferior, pasif, seperti: lemah, gemulai, sabar, halus, tunduk, patuh, mendukung, berdarma, berbakti, mendampingi, mengabdi, dan hanya menyenangkan pria. 

Nah, meski telah ada pergeseran makna secara luas dan masif diantara kedua kata tersebut. Pun selalu juga akan ada nilai pro dan kontra...tak apa-apa ini hanya opini sementara saya yang lebih memilih menimbang nilai rasanya. Selanjutnya terserah anda..he..he..he.. yang ingin berdiskusi dan menelaah lebih lanjut tentang dua kata ini boleh dibaca di sini atau di sini.

Saya mungkin tetap akan cenderung memilih kata perempuan dalam penggunaannya nanti. Ini dilatar belakangi oleh sejarah pemaknaan dari awalnya. Namun apapun pilihannya selama penggunaan tersebut masih dalam konteks konotasi dan persepsi positif tidak menjadi masalah. Terpenting dari semua hal tersebut diatas, cara pandang kita lah yang perlu diluruskan terlebih dahulu. Bahwa kita wanita/perempuan itu subyek bukan obyek, perannya ditinggikan dan dimuliakan sejak semula diciptakan. Kalau ini semua setuju kan?!? Semoga bermanfaat...

*diolah dari berbagai sumber
Read More

Masih Bicara Cinta Berdaya

Sabtu, 03 Maret 2018

Tulisan tentang passion diminggu lalu, yang belum baca yuk diintip dulu disini. Sebenarnya masih cukup panjang cerita ditulisan minggu lalu, bicara tentang passion dan dijabarkan dalam satu artikel tentu saja tidak akan cukup. Jadilah tulisan minggu ini sebagai sambungan ceritanya. 

Menulis untuk bahagia, tidak hanya untukku saja namun bagi siapapun yang telah sudi membacanya. Ini bukan ingin terlihat sok asyik tapi memang itu nampaknya yang sedang dan terus aku cari demi menghidupi hati. Ada letupan rasa cemburu ketika melihat orang lain mempunyai kemampuan untuk menolong orang lain tersenyum, dan atau membuat orang lain yang ia tolong terinspirasi untuk berbuat kebaikan yang sama atau bahkan lebih.

Bertanya dalam hati sambil memandangi langit-langit atap rumah dan berhitung ada berapa ekor jumlah cicak disana, akan kah saya mampu menitipkan kebaikan serupa itu (baca: inspirasi) didunia sebelum masa berlaku hidupku dicabut pemiliknya? Aku hanya manusia biasa dengan segala kesempurnaan kekuranganku. Aku bukan anak pejabat, konglomerat, aku hanya seorang anak dari ayah dan ibu yang menitipkan pesan pada anak-anaknya agar selalu menjadi manusia yang mampu bermanfaat tidak hanya bagi sesamanya. Namun, juga kepada alam semesta raya. 

Warisan yang paling mungkin aku tinggalkan adalah tulisan. Seperti prasasti menandai sebuah peradaban dari zaman pra sejarah ke zaman sejarah, dan kini kepada generasi melek literasi. Sederhananya aku  ingin meninggalkan cerita baik yang bisa dikenang sepanjang masa melalui tulisan.

Tidak kah kita berpikir mengapa setan cemburu, dan mengapa akhirnya malaikat mau tunduk memberi salam dan hormat pada kali pertama manusia diciptakan? Manusia sudah diciptakan luar biasa sedari awalnya. Akankah kita tetap akan berbuat biasa-biasa saja dengan peran kita? Pasti ada maksud dari penciptaan kita di dunia, sepaket dengan potensi baik dan buruk. Saya pribadi percaya manusia diciptakan dengan skenario yang kompleks dan rumit; persimpangan pilihan akan menentukan paket-paket nasib dan takdir yang sudah disiapkan Tuhan untuk kita dan tentu dampaknya bagi kehidupan lain disekitar kita. Firman Allah pada Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 30 : "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Bagiku yang masih sangat fakir ilmu, tentu belajar membaca apa saja akan membantu menuntunku menemukan diriku. Pun harapannya, aku ingin orang lain yang akan membaca cerita melalui tulisanku meski itu hanya satu orang saja didunia dan bisa buat dia bahagia, rasanya aku juga akan menjadi penulis paling bahagia di dunia. Seperti ketika aku pernah berhasil menyelesaikan cerpen untuk sahabatku, dan ketika ia begitu riang mengatakan "Aku suka, terima kasih!!...Janji matahari yaa..". Aaaah...aku merasa menemukan diriku ada disana, sedang berbahagia bersamanya. Kubalas senyuman dia jari untuk menandai perayaan perasaan bahagia hari itu.

Source : IG Fahd Pahdepie

Demi menambah keyakinan diriku bahwa aku sudah ada di jalur impianku. Jalur penuh cinta yang ditempuh dengan sukacita. Aku terus mencari teman berdiskusi dan merapatkan diri pada apapun yang berhubungan dengan misi pribadiku itu. Semesta mendukungku, Allah Maha Mengetahui kerinduanku. Saat bergabung di kelas matrikulasi Ibu Profesional Semarang tahun lalu, diawal memulai kelas kalau tidak salah he-he-he maaf kapasitas mengingat saya sudah tidak sebaik dulu...intinya disalah satu bahasannya berbicara tentang passion. Lalu, entah bagaimana bermula selesai diskusi dikelas online tersebut, teman kami dikelas; Mbak Fauzia, beliau adalah Psikolog memberikan kesempatan kepada teman-teman dikelas yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang passion-nya. Bagi yang berminat melanjutkan ke-kepo-annya kemudian  secara personal diperkenankan menghubungi beliau via email untuk selanjutnya mengerjakan skala tes  psikologi yang mengukur tentang passion. Maka nikmat apa lagi yang bisa saya dustakan? Jelas saya tidak akan mampu menolaknya dong! Barakallah dan terima kasih ya mbakyu...
Hasil Analisa Tes Passion Saya

Hasilnya apakah sesuai dengan diri ini? Alhamdulillah seolah mendapatkan energi untuk meneguhkan hati bahwa saat ini aku telah ada di tracking yang sesuai. Tinggallah saya harus memaksa diri keluar dari satu per satu ketakutan yang membelenggu. Saya harus selesai dengan pertanyaan-pertanyaan diri sendiri, yang justru sering malah menghabiskan energi. Tersadar bahwa kita ini tak akan pernah bisa menghentikan waktu yang terus berlari. Apalagi berusaha membuatnya kembali mengulang kesempatan yang telah terlewati.


Mungkin memang sudah saatnya saya menyepakati sebuah kalimat yang cukup populer 'Better Done Than Perfect'. Lebih baik melakukan sedikit, daripada kalah banyak (langkah). Ada yang setuju dengan saya?ah..kalau pun tidak tak apa-apa? Bukankah nada itu indah karena bunyinya tak seragam ditelinga kita? He he he


PS: Terimakasih sudah berkenan  mampir membaca..kalau pusing selepas baca tulisan saya segera hubungi pihak yang berwenang terhadap anda ya...jangan hubungi tetangga..sekali lagi jangan..

Salam


#oneweekonepost
#rumbelliterasimedia
#belajarmenulis


Read More

MERANGKUM SEMESTA SERUPA ASA : Aku Menulis Untuk Apa?

Sabtu, 24 Februari 2018

Pertanyaan demi pertanyaan terus bersahutan beradu dengan takut dan ragu. Benarkah aku ini betul-betul ingin jadi pencerita atau penulis? Passion, hobi  atau hanya fatamorgana cita-cita? Alih-alih mewujudkan tulisan menjadi sebuah cerita bermakna eh ujung-ujungnya hanya beku didalam folder penyimpanan tidak terpublikasikan.
Sebenarnya menulis bukan hal yang baru buatku, sejak duduk di Sekolah Dasar sudah mulai akrab dengan buku harian. Meski tidak konsisten setiap hari, setidaknya jarang sekali ritual menulis sebelum beranjak tidur ini aku lewatkan. Naik ke jenjang SMP dan SMA kebiasaan menulis buku harian ini terus berlanjut, hanya saja kekerapan menulisnya tidak lah sama. Seminggu paling 2-3 kali biasanya rapelan diakhir pekan karena waktu itu banyak sekali kegiatan "ekstra" yang harus saya lakukan di sekolah. Sehingga, akhir pekan adalah kesempatan 'Me Time' yang tidak bisa diganggu gugat. Jaman seragam putih abu-abu itu lah  saya berhasil membuat satu atau dua cerpen yang saya persembahkan untuk sahabat yang berulang tahun. Sayangnya karena saya termasuk kids jaman old dimana USB flash drive/disk, external hardisk masih jadi wacana penemuan. Hanya ada kotak pipih berukuran 5 ¼ inci (133 mm) dan 3 ½ inci (90 mm) bernama cakram flopi atau floppy disk atau populer dengan sebutan disket. Media penyimpan data yang hanya punya kapasitas 1,44 MB, pasti kids jaman now pada teriak nih ruang simpan segitu bisa apa??! Padahal bagi kami anak 90-an, bicara bisa simpan file didisket saja sudah WOW banget...nggak percaya?coba deh tanya Dilan...

Sedihnya ketika komputer rusak dan disket sudah tergeser oleh jaman, komputer keluaran terbaru meniadakan floppy drive jadi bisa dibayangkan semua file berharga itu menguap tanpa jejak. Rekam jejak diingatan hanya salah satu judul cerpen itu saja; Janji Matahari, sebab  lain karena kisah didalamnya cukup dapat bintang lah dihati saya...Gue banget gitu...*enaknya dibaca pakai notasi suara siapa ya? He-he-he

Purna menjadi siswa berseragam, keinginan untuk berhasil lagi menulis sebuah cerita tetap masih ada. Sayangnya tergerus dengan banyaknya alasan dan aktifitas lain. Dinamika dunia baru perkuliahan dan penyesuaian diri sebagai anak rantau membuat impian itu mengendap. Namun, buku harian tetap setia berjalan menemani hari-hariku. Ritual sebelum tidur atau sebelum mengulang matei saat belajr dini hari. Jadi sampai saat ini jika ditanya kegiatan menulis saya ini passion atau bukan, sejatinya juga masih bingung apa jawabnya? Sebab saya tidak pernah benar-benar meninggalkan aktifitas menulis, apakah buku harian, spenggase kisah atau bahkan puisi. Ketika cerpen saat SMA itu tercipta saya merasa seperti ada alasan dan tujuan yang kuat dari dalam diri untuk mewujudkannya. Ya, saat itu sahabat saya meminta dengan sangat sebuah kenang-kenangan tulisan dari saya sebagai hadiah ulangtahunnya. Kami sudah kelas 3 dan sudah memiliki tujuan masing-masing saat lukus nanti. Saya sudah bulat akan kuliah di kota lain, pilihan saat itu adalah kota Jogja dan Solo. Mengapa karena dijalan itu fakultas Psikologi yang masuk rangking terbaik ada dua kota tersebut. Setiap hari dia bertanya bagaimana perkembangan tulisan saya dan terus meyakinkan bahwa saya mampu menyelesaikan untuknya. Ia percaya itu layak baca seperti cerita-cerita yang pernah saya buat untuk mading dan atau majalah sekolah kala itu. Sahabat saya ini beda sekolah dengan saya, makanya ketika saya bercerita dan tahu  naskah tulisan itu, langsung ribut deh minta jatah.

Kembali ke pertanyaan apakah ini passion, hobi ataukah hanya euforia berbumbu fatamorgana? Saya juga masih menyelidiki hingga kini. Jika ini passion sepertinya saya masih terlalu lemah memperjuangkannya, masih banyak ragu, takut, malas dan perasaan maupun pikiran negatif lainnya. Apakah ini hanya hobi? Saya rasa juga tidak sebab jauh dalam hati kecil saya ada harapan besar dari kegiatan kepenulisan itu. Saya yakini kekuatan bercerita dengan kemasan tulisan yang apik akan membantu pembacanya menemukan asa dan berbahagia.

Source : www.google.com
Know it, Dream it, Share it, Do it, Live it

Lalu apa sih sebenarnya passion itu? Kata Passion, menurut bahasa kita kurang lebih bermakna hasrat atau gairah atau semangat terhadap sesuatu kegiatan atau hal tertentu. Semangat untuk kita selalu merasa ingin meningkatkan kualitas lebih baik dari sebelumnya. Sederhananya, passion itu hal yang bikin kita selalu merasa ada semacam tantangan intrinsik untuk mencapai tingkatan lebih tinggi dari level kemampuan kita sebelumnya. Semacam seperti ada dialog dalam diri kita untuk terus memacu diri berkompetisi melawan diri sendiri, agar sampai pada versi terbaik dari kemampuan diri ini.

Sedangkan kalau hobi mungkin (saya masih menggunakan kata mungkin nih sebab kadang masih suka tertukar mendefinisikannya he-he-he), lebih dikaitkan dengan kesenangan sesaat diwaktu senggang. Having fun kalau kata anak kekinian. Tidak ada tuntutan alamiah dari dalam diri untuk berkompetisi mencapai level tertentu.

Menurut Rene Suhardono, hobi itu ibarat pekarangan rumah dan passion itu ibarat rumahnya. Jadi orang yang mengerjakan hobi hanya ada di pekarangannya saja, sedangkan orang yang benar-benar mengikuti passionnya ibarat telah berada di dalam rumah. Rene juga mengatakan  “Passion is what you enjoy the most!”. Maka Rene berpesan, temukan apa passion-mu, apa yang kamu suka, apa yang jadi sumber bacaan utamamu, apa yang menjadi soft skill-mu, lalu berusaha hubungkan antara keduanya, rancang satu action, dan segera eksekusi. Tambahnya lagi Rasakan sensasi senang, bahagia, dan nantikan keajaiban setelahnya!

Mengacu pendapat tersebut; oh ya beliau (Rene Suhardono) adalah salah satu motivator favorit saya, agar saya yakin bahwa menulis ini passion atau bukan. Saya cari secara random buku-buku koleksi saya, bahkan hasil tes psikologi terakhir yang pernah saya ikuti  yang juga mengukur kecenderungan passion saya. Buku-buku koleksi saya lebih banyak tentang pengembangan diri, psikologi pendidikan anak dan remaja, filsafat, dan tentang teknik tulis menulis. Temuan itu boleh lah menjadi pertanda bahwa memang kecenderungan passion saya menjadi motivator, konselor, guru, dan juga aktif menjadi story' teller atau pencerita atau penulis. Entah kenapa saya lebih nyaman melabel diri sebagai pencerita dibandingkan dengan predikat penulis. Bukan masalah arti kata hanya mungkin nilai rasa pribadi saja sih.

Menyadari semua kecenderungan diatas saya yakin ini bukan sekedar hobi. Hanya saja, kini komposisi bahan bakar untuk mendorong passion menulis saya ini agar melesat dengan cepat dan tepat masih terhambat. Bisa jadi ini dampak dari salah satu kelemahan saya adalah perfeksionis, sehingga seringkali over thinking saya harus selalu berpikir beberapa kali sebelum melangkah. Tidak seperti passion saya yang lain seperti mengajar, menjadi guru, konselor yang bagaimanapun keadaannya saya berjuang selalu mencari pintu dan ruang untuk tetap menghidupkannya. Mungkin upaya pembuktian cinta saya masih kurang kali ya?!? 

Betul sekali passion, tidak sekedar kegiatan yan kita mahir dan bagus dalam mengerjakan itu, tetapi lebih besar dari itu saat kita melakukannya kita akan kerahkan seluruh 'hasrat cinta’ yang ada dalam diri kita untuk menjalaninya. Hingga pada saatnya keajaiban rasa cinta itu datang berbuah kesuksesan, tidak hanya tentang materi tapi kepuasan dalam diri ketika orang lain membaca tulisan kita dan merasa dapat mengambil manfaat kebaikan dari sana. Itu bonus terbesar sesungguhnya.
Source : www.google.com

Oleh karena itu, kesuksesan tidak dibangun dengan cuma-cuma pun dari modal passion semata. Sekali lagi tidak, kesuksesan mempunyai ramuan yang kompleks campuran dari berbagai unsur dalam kehidupan kita. Mulai dari gagasan, kerja keras, jaringan silaturahim, kemampuan manajemen yang tangguh dan sebagainya. Passion hanyalah sebuah pembuka jalan. Seterusnya ada banyak faktor lain yang perlu digenapi bila ingin kesuksesan menjadi milik kita.

Jadi kesimpulannya saya menulis untuk apa? Untuk membuat saya dan orang lain bahagia dengan berbagi asa dalam cerita, itu saja. 

#rumbelliterasimedia
#belajarmenulis
#blogging
#oneweekonepost
#passionmenulis
Read More

Kisah Rindu, Ibu dan Telur Ceplok

Sabtu, 17 Februari 2018

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuuh
Semoga semua yang mampir membaca tulisan sederhana ini selalu dilimpahkan kesehatan dan keberkahan, aamiin...
Tulisan ini sudah mengendap sekian hari menunggu dieksekusi, seperti biasa alasan klasik tiba-tiba datang menghampiri. Alih-alih menjadi tulisan yang ada hanyalah wacana semata... maju mundur cantik kata mbak Syahrini.

Drama Korea Fight For My Way
Betul! Memang lumayan menggemari drama Korea, jadi cerita yang akan saya bagi nanti juga hasil "panggilan" simpanan ingatan kisah-kisah dimasa lalu. Drama ini sudah agak lama tayang di negara asalnya. Sudah lama penasaran, kemudian saya mencari sinopsisnya. Ini dimaksudkan untuk menjaga supaya yang saya tonton tetap ada asupan nilai-nilai yang bisa saya bagi, setidaknya untuk saya pribadi. Drama ini berkisah tentang dua anak muda yang berjuang untuk mewujudkan apa yang mereka impikan. Tapi tentu saja banyak hal yang harus mereka lewati agar biasa meraih mimpi-mimpi tersebut. Informasi lengkap sinopsisnya bisa dilihat disini .
Jujur awalnya hanya tertarik dengan tema perjuangan meraih impian, sebab bisa jadi bahan referensi ketika bercerita dengan anak-anak. Ternyata tak hanya tentang impian, saya dapat satu bonus cerita lagi. Salah satu tokoh didrama tersebut, mempunyai cita-cita menjadi ibu, disaat sahabat-sahabatnya memiliki cita-cita menjadi atlet, penyiar, pebisnis. Dia memiliki cita-cita menjadi ibu dan istri yang baik. Kisah ini akhirnya membuat saya teringat cerita salah satu siswa saya. 
Ingatan saya kembali ke masa itu, ketika ia bercerita dengan wajah lelah, sembab; sebab air mata tak berhenti mengalir saat kalimat demi kalimat berusaha ia sampaikan dengan terbata-bata. Sesekali ia menyeka air mata dengan ujung kerudungnya.


Masa Akil Baligh
Cerita ini memang tidak jauh dari keseharian saya dahulu. Ketika masih aktif sebagai konselor sekolah atau biasa disebut guru pembimbing atau populernya guru BK (Bimbingan dan Konseling). Banyak sekali cerita yang harus saya akui justru dari mereka lah saya belajar menemukan diri saya. Belajar selalu mengucapkan syukur yang tak boleh terjeda dengan keluhan atau apapun itu. Berkumpul dan berinteraksi dengan anak-anak yang sedang belajar menapaki kedewasaan. Masa labil, masa badai, masa manusia menuju akil baligh yang penuh dinamika.
Masa-masa puncak pencarian jatidiri ini harusnya memang didampingi sedari mula, supaya mereka tahu betapa istimewa dirinya. Lalu apakah sesungguhnya definisi Akil Baligh itu? Akil baligh adalah orang yang sudah cukup umur dan berfikiran waras atau orang mukalaf. Mereka diwajibkan mengerjakan suruhan Allah S.W.T. dan menjauhi segala laranganNya. Cukup umur bagi kanak-kanak perempuan ialah apabila genap berumur dua belas tahun atau kedatangan haid. Dan kanak-kanak lelaki pula ialah 15 tahun atau bermimpi sebelumnya. Penjelasan selengkapnya tentang Aqil baligh bisa dilihat disini.


Ibu dan Telur Ceplok Impian
"Bunda besok istirahat kedua sudah ada janji konseling belum?", tanya seorang murid putri melalui pesan BBM.
"Belum ada, Nak. Memangnya kenapa?", jawab saya sambil menebak apa yang ia inginkan.
"Kalau belum ada, aku...dijadwalkan ya, Bun?! Aku ingin cerita udah dari kemarin lama tapi ramai terus ruang BK-nya", balasnya lagi dengan ekspresi dan intonasi yang hanya bisa kubayangkan.
"Oke nanti bunda catat dijadwal, oke sebelum shift sholat dhuhur langsung ke ruangan ya. Nanti makan siang dibawa saja ke atas kalau ceritanya panjang!"
"Baik, sampai ketemu besok ya Bun! Jangan lupa.."
Dihari dan jam yang sudah dijanjikan, si anak nampak antusias berlari dari ruang kelasnya menuju ruangan saya. Cukup jelas nampak oleh saya sebab jendela ruang kerja saya lebar dan berkaca bening. Pemandangan lapangan basket dan ruang-ruang kelas terlihat dengan jelas.
"Assalamu'alaikum.." sambil terengah-engah ia mengucapkan salam karena ia berlari-lari dari kelas yang letaknya paling ujung dan kemudian harus menaiki anak tangga.
"Wa'alaikumussalaam, masuk...Lho sendirian?nggak sama temennya?" Saya bertanya sebab memang anak-anak jika konseling hampir pasti mengajak teman terdekat yang dianggap bisa dipercaya.
"Nggak, Bun. Aku mau sendirian, aku malu. Tapi jangan bilang ke siapapun ya..". Ia menatap saya seolah memohon saya untuk berjanji.
"Lha percaya bunda tidak?Kalau belum nyaman cerita lebih baik nanti aja yaa..."
"Nggak kok, aku percaya"
"Jadi gimana? Ceritanya apa?keburu waktu gantian ishoma-nya habis lho..!"
"Bun, apa salah cita-citaku pengen jadi ibu. Ibu yang baik...". Suaranya bergetar mungkin menahan gemuruh dalam dadanya, sebab saya melihat nafasnya mulai tak teratur dan bola mata yang tadi berbinar kini nampak basah dan memerah.
"Ibu yang baik itu seperti apa? Nggak ada yang salah kok sama cita-citamu, Nak. Memang ada yang bilang salah ya?"
"Nggak secara langsung sih Bun tapi kalau aku cerita pasti mereka ketawa. Kan bunda suruh buat mind map tentang rencana masa depan dan impian. Nah, impian cuma itu yang terbesar..aku nggak mau kayak Mama!!". Kali ini suaranya sedikit ditekan dan ditebalkan.
"Hmm..kenapa nggak mau kayak Mama? Bukannya Mama sudah nggak sibuk sekarang?"
"Sejak dulu juga sudah nggak sibuk, Bun. Mama kan memang nggak kerja, tapi sibuknya nggak habis-habis papa aja kalah. Papa tiap kali pulang dari kampus masih sempat liat ke kamar-kamar kami. Aku cuma pengen mama kayak ibu-ibu yang lain Bun...yang bawakan bekal, buatkan sarapan..bikin telur ceplok atau goreng nugget nggak apa-apa... cuma itu..apalagi aku sudah kelas IX. Butuh motivasi butuh dukungan...tapi mama selalu bilang sibuk dari SD sampai sekarang belum pernah, Bun!" Tangisnya pun pecah disana. Tubuhnya bergoncang, kepalanya ditelungkupkan dalam lipatan tangannya diatas meja. Isakan mulai terdengar meskipun lirih.
Saya menghela napas sehalus mungkin, agar ia tetap nyaman. Hati saya saat itu ikut merasakan pilu, bagi saya sesederhana itu impiannya namun berat untuk ditanggungnya.
"Sudah berusaha bilang ke Mama apa keinginanmu? Atau minta bantuan papa untuk menyampaikan ke Mama kalau sulit menyampaikannya sendiri"
"Sudah berusaha Bun..kan bunda pernah bilang kita harus berusaha menyampaikan dulu perasaan, pikiran kita karena orang tua bukan dukun atau pembaca pikiran"
"Lalu?!?"
"Pagi harinya malah papa yang bikinkan telur ceplok buat aku, olesin roti buat bekal. Padahal papa juga harus berangkat ke kampus pagi karena ada kelas pagi. Papa justru yang minta maaf ke aku...aku sedih Bun kenapa Papa kayak gitu..!!" Air matanya pun berderai lagi lebih deras.
"Memangnya mama kemana?!"
"Ada lagi siap-siap..mandi, dandan terus turun buatin susu buat adik aja terus siap-siap antar sekolah.."
Kemudian percakapan kami berlanjut beberapa saat, hingga sesi harus diakhiri karena pergantian jadwal ishoma. Setelah saya sampaikan beberapa pilihan dan kesimpulan percakapan hari itu, ia pun pamit.

Menjadi Ibu adalah Impian yang Paling Sempurna
"Al-ummu madrasatul ula", ibu adalah madrasah pertama dan utama untuk anak-anaknya.
Seorang ibu mempunyai peran terpenting dalam keberhasilan anak-anaknya. Di samping peran ayah sebagai pemangku kebijakan serta imam keluarga, ibulah yang mengalami proses ikatan batin selama mengandung buah hatinya.



Maka tidaklah berlebihan menurut saya jika ada ungkapan ibu adalah salah satu pemegang kunci peradaban. Generasi yang bahagia lahir dari perempuan tangguh yang sadar menjalani peran pentingnya dengan suka cita. Sehingga patah hati rasanya jika ada cerita seperti yang dikisahkan anak murid saya itu.   Luka hati akan lama terobati.

#rumbelliterasimedia
#oneweekonepost
#belajarmenulis
Read More

LOKOMOTIF IMPIAN

Lokomotif impian...aslinya sih bingung mau kasih judul apa tapi yang terpikirkan pertama itu maka ...jadilah. Lokomotif ini menggambarkan semangat resolusi ini. Selain itu karena menurut kacamata saya, impian saya ini memuat tak hanya satu agenda dan banyak mengangkut gerbong asa yang berharap mampu bersinergi dengan cita-cita lainnya tak hanya milik saya. Semoga lajunya selalu dalam lindungan restu dan keberkahan Allah Ta'alla, Aamiin.
Meski tidak selalu tertulis membuat resolusi apakah itu harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan adalah salah satu ritual yang diajarkan pada saya sejak kecil. Meski bahasa teknisnya saat itu tidak sekeren sekarang, tapi beliau selalu memancing dengan tanya yang membuat kami; saya dan adik-adik berpikiran terbuka terhadap rencana rancangan masa depan. Esok hari adalah masa depan bagi kita dihari ini, bukan? Kata papa suatu kali ketika salah satu diantara kami mencoba sedikit "nakal" karena sedang terjangkit rasa enggan untuk berpikir. Besok ya dipikir besok lah... capek-capek bikin rencana belum tentu sesuai kenyataannya. Nah, kalau sudah begini nih mama lah yang turun tangan ambil alih peran sebab tahu benar jika papa nggak sesabar itu untuk meladeni pikiran-pikiran usil itu... he-he-he. Mama bilang, "...dengan membuat rencana kita sama halnya sudah bersyukur sama Allah. Kenapa? Sebab dengan rencana itu artinya kita memakai waktu yang Allah berikan dengan maksimal. Artinya lagi kita bukan termasuk orang-orang yang merugi" .
Pastinya penjelasan mama itu tidak serta-merta membuat kami bungkam. Ada saja pertanyaan-pertanyaan nggak penting yang kami lontarkan tapi mama selalu mampu menjawabnya dengan telak. Semacam ada kamus ajaib yang menyediakan banyak jawaban dalam benak beliau...hmm.. saingannya mungkin cuma ada dikantong ajaibnya Doraemon.
Ritual atau kebiasaan itu pun akhirnya mendarah daging hingga dewasa dan berumah tangga. Suami yang terbiasa berjalan  tanpa rencana mulai perlahan berubah. Ya selain karena kesadaran tentu saja kekuatan jurus omelan turut berperan penting he-he-he...yang jelas tidak instans perlu proses tidak sebentar untuk sampai pada titik perubahan. Kurang lebih sudah dua tahun ini saya serius meminta benar-benar menjadi agenda yang tidak boleh dilewatkan.
Alhamdulillah sedikit melunak untuk mau berupaya mencari kesempatan diwaktu luangnya yang sempit. Kami berdua biasanya membuat resolusi tahunan secara terpisah, kemudian kami saling bertukar resolusi dan impian pada waktu tertentu saat suami sedang senggang.

Tahun 2018 ini secara garis besar tidak banyak resolusi baru. Yaah... tepatnya melunasi hutang-hutang impian dimasa lampau yang masih tertunda. Tahun ini saya berinisiatif untuk membuat proyek resolusi itu ala pohon impian dengan sticky note kami tulis resolusi mayor dan minor.

Resolusi atau impian besar saya di tahun ini antara lain : 
1. Memiliki, membimbing dan merawat komunitas yang mewadahi remaja berkarya. Komunitas yang digerakkan oleh remaja, dari remaja dan untuk remaja. 
2. Memiliki karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Kerinduan saya untuk bisa ikut meninggalkan jejak positif yang berkontribusi pada peradaban. Meminjam istilah dari Fahd Pahdepie bahwa seorang penulis mampu berbuat banyak menjaga dan merawat peradaban dengan "Jihad Literasi".
3. Impian saya membuat semacam Kafe Komunitas dan Co-Working space untuk pelaku usaha kreatif yang kebanyakan kantornya online, juga para pemuda atau orang-orang yang aktif berkomunitas agar lebih rajin berbagi dan berkegiatan positif.
4. Merealisasikan niat travelling bersama suami.
5. Ikhtiar berangkat ke tanah suci, apakah umroh atau persiapan ibadah haji.
6. Diberi kesempatan lagi untuk mengandung dan merawat amanah-Nya. Impian yang ini selalu tak pernah tertinggal dalam daftar, dan tak pernah sepi masuk dalam untaian doa. Jangan tanya kenapa? Sebab jawabnya pasti akan bersambung hingga beberapa episode...hmmm...hi-hi-hi


Intinya sih impian mayor saya antara lain seperti itu, kalau impian minor pastinya sangat banyak dan berpotensi selalu bertambah. Dasar orang banyak maunya ya begini nih... he-he-he..Agak nggak nyambung ya judulnya lokomotif kok buat resolusi bentuknya pohon impian...harap dimaklumi deh kan sudah dikasih aba-aba bahwa lokomotif ini adalah penggambaran semangat bergerak untuk mewujudkan impian menjadi nyata.

#GebyarLiterasiMediaJanuari2017
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More