Memoar Si Jeki

Senin, 13 Mei 2019


"Tanggung nih bentar lagi kelar", fokus pikiran dan matanya terus saja mondar-mandir dari layar monitor, bertumpuk-tumpuk kertas dokumen dihadapannya, lalu ke jam dinding. Sembari jemarinya terus bergerak dari huruf satu ke huruf lainnya. Tagihan laporan dan daftar 'deadline' sudah menunggunya. Ia agak panik, sejak tadi ia berjibaku mengejar semua urusan ini tapi rasanya kenapa tak kunjung usai. Padahal atasan sudah menunggu pekerjaannya. 20 menit menuju bedug maghrib, hatinya makin galau. Perang kata dalam batinnya mulai makin seru.
"Belum sholat asar, tapi ini kurang dikit lagi. Tanggung banget", bisik suara gelap dalam dirinya.
"Hiish, ngawur! Tinggalkan dulu urusan duniamu. Kebutuhanmu menghadap Tuhanmu lebih dulu. Cepatlah!", sergah suara terang menepis bisikan si gelap.
Lantangnya suara terang membuat si Jeki seketika mematung, mungkin saja ia merenung. Lalu, tak lama ia geser kursi, berdiri dan beranjak dari belenggunya. Setengah berlari menuju ke mushola kantornya. Ia lepas sepatu, dan segera ambil wudhu. Hati kecilnya lega, senang si Jeki memilih yang benar.
Belum lama, kurang satu rakaat terdengar sayup suara azan maghrib entah dari surau siapa diluar sana. Menangis hati Jeki. Astaghfirullah, nyaris terlewat dengan hati masygul ia selesaikan sholatnya. Lepas salam ia menunggu sebentar, memeriksa gawainya ia menuju ke salah satu aplikasi. Ia memastikan pendengarannya, dan rupanya memang betul telah masuk waktunya.. Jeki melihat sekeliling tak ada yang bisa ia makan atau minum untuk menyegerakan berbuka. berdiri kembali, segera ia lunasi kewajibannya.
Setelahnya ia bergegas, kembali ke ruangannya. Tampak lengang, beberapa rekannya mungkin telah pulang. Ia berjalan ke arah 'pantry' kecil disudut ruangan, ia buat teh hangat dan mengambil tiga butir kurma. Jeki pun duduk kembali dibangku kerjanya, menyeruput teh dan menikmati kudapannya. Matanya menatap kembali tumpukan berkas dihadapannya.
Pikirnya, kalau ini diteruskan bisa jadi aku melepaskan kesempatan emas lagi.
Sholat isya masih bisa aku temui diluar bulan ini, tapi tarawih? Kapan lagi ada sholat malam yang perkalian pahala-Nya berlimpah ruah macam sekarang?
Perang batin Jeki dimulai lagi, ia menunduk, mendongak, mengangguk, menggelengkan kepalanya sendiri seperti layaknya orang bercakap-cakap. Jeki teringat Ramadan hari pertama ia dengar kabar berpulang seorang koleganya, hari ketiga lalu tetangganya diumumkan melalui pengeras masjid juga telah tutup usia. Bisa jadi aku, berikutnya. Tak ada yang tahu pasti, Allah memanggilku pulang. Tak ada garansi aku bisa menemui Ramadan lagi ditahun depan. Tepat saat Jeki bersepakat dengan imannya, mengalahkan bisikan nafsu yang berusaha mengoyaknya dengan iming-iming dunia. Azan isya berkumandang, kali ini sangat jelas terdengar ditelinganya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, semua masih tampak sibuk.
Jeki tersenyum, dalam hatinya bergumam aku pun tadi begitu lagaknya bilang sama "Tuhan, maaf sebentar lagi aku masih sibuk. Mengertilah?". Lalu coba pikirkan bagaimana jika dibalik, saat kita butuh pertolongan-Nya Tuhan jawab, "Urusanku lebih banyak dari kamu, maaf Aku sangat sibuk!".
Jeki menutup percakapan batinnya, sebuah memoar yang menuntunnya kembali jalan pulang yang seharusnya. Bergegas ia mengambil sajadah dan melenggang keluar. Sambil tak lupa ia tetap berusaha mengajak teman-temannya. Soal pilihan? Tentu itu terserah mereka saja.

#RWCODOP2019 #OneDayOnePost #Day5 #deeirum #semestanayanika #memoar
Read More

5 Tips Kegiatan Ngabuburit Biar Puasa Tetap Asyik

Kamis, 09 Mei 2019

"Nanti kita ngabuburit kemana, gaes?". Kalimat itu pasti kerap sekali kita dengar dibulan ini. Orang-orang sekitar kita pasti sering menyebut istilah ini. Belum lagi acara di televisi, jelas punya andil besar membuat kata 'Ngabuburit' jadi begitu familiar. Ngabuburit bisa dikatakan sudah jadi tradisi yang tidak bisa lepas begitu saja dari bulan puasa Ra­ma­dan.

Melalui aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (V), coba mencari arti kata 'Ngabuburit'. Disana tertulis menunggu azan maghrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Merupakan turunan dari kata 'burit' yang artinya sore. Asal serapan kata dari bahasa Sunda. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ngabuburit’ punya arti 'ngalantung ngadagoan burit'. Artinya bersantai-santai menunggu waktu sore. Waktu 'Burit' ini biasanya antara jam 15.30 - 17.30 atau lepas salat Ashar, sebelum senja tiba dan azan berkumandang.

Nah, kalau mau definisi kekinian mungkin 'ngabuburit' bisa diartikan bersantai menunggu datangnya waktu berbuka puasa sambil mengerjakan sesuatu. Sayangnya makna 'ngabuburit' justru sering bergeser, bisa meluas dan menyempit, jadi positif atau malah negatif. Semua terlepas dari pemahaman, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Niat mengisi waktu menunggu berbuka malah jadi mengganggu inti nilai ibadah utamanya.  Sedihnya lagi kalau malah sampai membatalkan puasa. Waktunya bulan untuk taubat cari selamat eh malah pahala hilang nggak bermanfaat.

Apa saja sih alternatif 'Ngabuburit' yang berfaedah?

1. Tidur
Tidur bukan sembarang tidur ya, atau seharian kita tidur mentang-mentang dikatakan bahwa tidurnya orang puasa bernilai ibadah. Istirahat secukupnya sesuai kebutuhan agar tubuh tetap berenergi hingga tarawih nanti.

2. Berolahraga
Puasa bukan halangan untuk tetap berolahraga. Ini membantu menjaga metabolisme tubuh supaya tetap bugar. Nggak perlu olahraga berat, cukup gerakan ringan saja. Seperti bersepeda, senam, ataupun jogging.

3. Berberes Rumah
Membereskan rumah adalah salah satu pilihan yang tepat. Selain berpahala, rumah jadi rapi dan bersih hingga kita siap tiap saat tanpa menunggu lebaran tiba jika ada kunjungan dari tetangga, kerabat, atau sahabat. Tidak lupa juga membongkar dan membereskan isi lemari. Pilah pilih pakaian yang menumpuk, dan salurkan pada yang lebih membutuhkan agar lebih bermanfaat.

4. Membaca Buku atau Tadarus Al Qur'an
Bulan Ramadan juga dikenal sebagai bulannya Al Qur'an hingga sangat sayang jika kita melewatinya tanpa lebih dekat dengan kitab tuntunan kita. Bisa juga dengan baca buku-buku untuk menambah ilmu dan menebalkan iman kita.

5. Kegiatan Sosial
Suasana Ramadan paling tepat untuk berlomba ikut serta atau menyelenggarakan kegiatan-kegiatan  positif bagi masyarakat. Berbagi paket berbuka, takjil, kunjungan ke panti asuhan atau pondok sosial dan kegiatan sosial positif lainnya.

Masih banyak lagi, kegiatan bermanfaat yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu. Intinya nih kegiatan 'Ngabuburit'  sebaiknya gunakan untuk mengisi catatan amal baik waktu jelang buka puasa yaitu dengan perbanyak kegiatan positif dan kalau nggak mau rugi jangan dekati yang berpotensi bisa membatalkan puasa.

Kalau kamu kegiatan favorit 'Ngabuburit'nya apa saja? Boleh dong bisik-bisik nih beri tahu apa tips asyik kamu?

#RWC2019 #OneDayOnePost #Day4

Read More

Nasihat dalam Semangkuk Kolak

Rabu, 08 Mei 2019

Apalagi selain sirop yang bisa membuka laci kenangan tentang bulan puasa? Setuju! Iya benar, Kolak. Rasanya kurang mantap jika takjil andalan ini tak muncul dibulan Ramadan. Saat seperti ini dengan mudahnya kita temukan menu ini diberbagai tempat. Kolak dengan aneka campuran bahan didalamnya. Ada yang sederhana saja hanya ada pisang saja bahkan ada yang lebih menyukai tanpa santan atau biasa disebut 'Kolak Setup'. Namun banyak juga yang lebih suka resep kolak lengkap. Yaitu yang didalamnya ada pisang, ubi/singkong, beberapa orang juga menambah kolang-kaling agar lebih kaya cita rasanya.

Dibalik nikmat semangkuk kolak, ternyata terkandung nasihat yang sangat dalam maknanya. Kolak merupakan salah satu kearifan lokal warisan dari para ulama terdahulu. Sajian sedap yang jadi media penyebaran Islam di tanah Jawa. Cara syiar yang cepat dan sederhana agar mudah diterima oleh masyarakat yang belum mengenal Islam dengan baik.

Penamaan kolak juga tidak sembarangan, para pendakwah (Wali Sanga) tampaknya telah memikirkan tiap elemen yang ada pada kolak memiliki nilai filosofisnya masing-masing. Dahulu kolak disajikan dibulan Syaban atau Ruwah sebagai penanda persiapan menyambut datangnya Ramadan . Namun, kini berlanjut hingga jadi sajian khas bulan puasa.

Kolak merujuk pada kata 'Khala' atau kosong, artinya bahwa manusia harus menyambut kematian dengan berusaha bertaubat, mengosongkan dosa-dosa agar kita mendapatkan sebaik-baik akhir usia. Menurut cerita lainnya dikatakan kolak berasal dari kata bahasa Arab, 'Kholaqo'. Kata ini merujuk pada arti Khalik, yang artinya dalam KBBI V adalah pencipta, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini menyiratkan makna bahwa kita harus senantiasa mendekatkan diri pada yang menciptakan kita dan selalu bertakwa kepada-Nya.

Bahan-bahan dasarnya juga tak kalah dalam maknanya. Pisang yang dipilih biasanya dari jenis kepok. Mengacu pada kata 'kapok' (bahasa Jawa) artinya adalah jera atau menyesal. Kita manusia diharapkan menyadari kesalahan yang telah kita perbuat dan jera tidak akan melakukannya kembali. Lalu, bahan lain yang sering digunakan ubi/singkong. Keduanya termasuk 'Pala Pendem' artinya yang tumbuh dalam tanah. Ini mengisyaratkan bahwa suatu saat kita pasti akan menghadapi kematian, dikubur dalam tanah, karena itu kita harus segera bertaubat mengubur dosa-dosa yang pernah kita perbuat dan hanya menempuh jalan ridho-Nya. Lalu, elemen yang paling penting kuah santan atau dalam bahasa Jawa disebut 'santen'. Dimaknai sebagai kependekan dari 'Pangapunten'; permintaan maaf. Artinya jangan pernah lupa kesalahan yang pernah kita perbuat jika itu kepada Allah maka segera bertaubat. Bila kesalahan itu antar sesama manusia maka segeralah meminta maaf.

Sepertinya semua filosofi diatas, cocok dengan situasi negeri kita belakangan ini. Sebelum dan selama masa menyambut pemilu 2019, saling lempar kata-kata yang tak sepantasnya, rasanya tak henti terpampang caci maki dari sana sini.

***
Kini saatnya sudahi adu urat
Kata-kata sarat isyarat
Jangan lagi berdebat
Siapa yang paling hebat
.
Kemarin kita saling tuding tuduh
Berebutan memadamkan suluh
Sungguh padahal kita saling butuh
Agar terus berbangsa utuh
.
Kembalikan saja pinta pada kuasa-Nya
Diujung doa tentang pemimpin yang bijaksana
Jangan sampai kita terus terkotak-kotak
Lebih baik sekarang kita berbagi bermangkuk-mangkuk kolak
***

Hampir delapan bulan banyak sekali yang saling bersitegang, karena pilihan sikap politik yang berbeda. Bukankah setiap orang punya kesempatan dan kecenderungan pilihan masing-masing? Tak bisa kah kita saling menghormati, tetap bersanding bersama dan terus berbesar hati mencintai negeri ini.

#RWC2019 #OneDayOnePost #Day3

Read More

Narasi Isi Hati di Hari Kartini : Emansipasi Bukan Ambisi

"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."

Kutipan diatas adalah salah satu dari sekian banyak kutipan inspiratif R. A Kartini. Tepatnya 140 tahun yang lalu beliau lahir, kemudian sejarah bangsa ini mencatat tiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai momentum penting kebangkitan para perempuan Indonesia. Lalu, apa sih yang patut kita renungkan dari semangat perubahan beliau untuk para perempuan pribumi?

Dulu hingga kini, perayaan Hari Kartini selalu identik dengan kebaya, jarik, karnaval, ataupun lomba-lomba lainnya yang sayang sekali sering lepas dari esensi perjuangan pada awalnya. Bukan tidak boleh, karena perayaan yang beranekaragam hanyalah simbolisasi penghargaan atas nilai-nilai inspiratif beliau. Seperti kutipan diawal tulisan ini yang menyiratkan harapan bahwa kehidupan akan senantiasa mengalami perubahan. Oleh karena itu kita jangan pernah berhenti berjuang mengupayakan perubahan untuk kebaikan. Tentu bukan hal yang mudah, namun pasti ada celahnya. Jadi jangan mudah menyerah.

Ada lagi kutipan beliau yang jadi favoritku, sederhana namun sarat maknanya. “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. Hal ini aku pahami begini, 'Kita dapat menjadi manusia seutuhnya'; sebagai perempuan, kita layak memperoleh hak-haknya. Tanpa harus ada batasan gender ataupun hal lainnya. Perempuan yang pintar, berbudi pekerti baik dan berdikari.

'Tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya', artinya. Ibu Kartini mengisyaratkan untuk mendapatkan hak-haknya tersebut  perempuan tidak perlu jadi menyerupai pria. Tetap jadi sosok sesuai kodrat keperempuanan-nya. Figur kasih sayang, kelemahlembutan, sigap bertanggung jawab pada rumah tangganya kelak. Yaitu jadi sosok ibu untuk anak-anaknya, dan juga sebagai belahan jiwa, teman seperjalanan bagi suaminya. Ibu yang ADA DI DUNIA dan juga ADA DI AKHIRAT. Bukan ibu semu apalagi palsu.

Perempuan berhak berekspresi dan mengeksplorasi dirinya baik diranah domestik maupun publik sesuai dengan kemampuan, minat, bakat atau passionnya. Menghasilkan karya, tanpa melepaskan tanggung jawab sebagai sosok ibu di dalam rumah tangganya. Sekali lagi, bagi saya pribadi inilah emansipasi sesungguhnya. Sebab saya yakin, ibu Kartini dulu berjuang bukan untuk melawan kodratnya. Jangan terjebak pada definisi emansipasi yang salah kaprah. Emansipasi bukanlah ambisi kebebasan semata. Emansipasi adalah aksi. Semangat yang mendamba perempuan mampu bersikap sesuai porsi. Beraksi dengan tetap menempatkan posisi fitrahnya sebagai perempuan.

Ditegaskan kembali oleh beliau pada kutipan berikut :
“Alangkah bahagianya laki-laki, bila isterinya bukan hanya menjadi pengurus rumah tangganya dan ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya, menghayatinya bersama suaminya.” (Kartini, 4 Oktober 1902).

Perempuan memiliki kesempatan, kedudukan, dan derajat yang sama dengan lelaki. Perbedaan hanya pada peranannya. Keduanya saling melengkapi dan menyeimbangkan. Tidak ada yang lebih unggul apalagi lebih rendah.

Semuanya predikat tertingginya hanyalah Makhluk 'Hamba' Allah yang sempurna kekurangannya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71).

Sayangnya seringkali orang salah, ketika perempuan lebih memilih di rumah dianggap kiprahnya tidak berdampak bagi masyarakat. Padahal tentu saja itu tidak benar, jika perempuan bersungguh-sungguh dari dalam rumah. Melakukan hal-hal produktif seperti jadi pendidik utama anak, mengajarinya adab, dasar agama pada anak, akhlak dan budi pekerti yang baik, bersama suaminya bahu membahu mengelola rumah tangga, menjaga keseimbangan, keharmonisan serta keutuhan unit terkecil masyarakat yaitu keluarga. Maka, pasti akan berdampak pada lingkungan yang lebih besar dan luas lagi.

Begitu juga bagi perempuan yang memilih berkiprah diranah publik, maka ia hendaknya selalu berkomitmen bersungguh-sungguh didalam dan diluar rumahnya. Setiap pilihan selalu ada resikonya, bukan?

Perempuan boleh berkarir dan menggapai cita-cita setinggi apapun itu tapi jangan pernah meninggalkan perannya dalam keluarga. Perlu kemauan dan kerja keras untuk menyeimbangkan hal ini. Ketentuan ini juga berlaku bagi para lelaki, meskipun ia menyandang predikat kepala keluarga yang tugas utamanya mencari nafkah.

Ayah sebagai pemimpin keluarga tetap tidak diperkenankan meninggalkan kewajibannya untuk terlibat dan berperan aktif dalam mendidik keluarganya.

Read More

RUMAH UNTUK LARAS

Jumat, 12 April 2019

"Berbagi lah bebanmu. Ibu tahu bukan hal mudah untuk percaya pada orang lain".
"Tapi saya nggak ingin berbagi penderitaan ini Bu. Saya nggak mau jadi beban, Bu".
"Ras, berbagi penderitaan mungkin akan membuatmu sedih. Mengungkapkan kebenaran luka-luka kita. Tapi kamu tahu nak, keberanian mengeluarkan kesedihan itu membuat kita menemukan rute baru. Jalan keluar yang mampat sebelumnya".
Laras memandangi gurunya lekat. Berusaha menangkap semua kebenaran kata-kata dari balik sorotan mata wanita dihadapannya. Wanda paham apa yang sedang Laras cari. Ia sengaja hadirkan bahasa yang hanya mampu diterjemahkan mereka berdua. Ia genggam lembut tangan gadis tomboi itu dan ditutup dengan senyuman.
"Baik, ibu tidak akan memaksa. Pesan ibu cuma jika kamu butuh sandaran ada banyak yang peduli padamu. Kamu tidak sendiri. Bongkar bebanmu. Ok! Sekarang kembali ke kelas ya. Kapanpun kamu bisa hubungi ibu", ucap Wanda menyudahi percakapan siang itu.

***
"Kamu bilang kepala rumah tangga?!! Apanya?! Urus ini itu saja nggak becus!"
Lalu kata-kata tak pantas menggema seantero rumah mewah ini.
"Mah, aku sudah bersabar demi keluarga ini. Demi anak kita. Waktu kamu minta aku dukung karirmu dan terpaksa setuju anak kita diasuh oleh famili kita hingga kamu mapan. Aku setujui demi utuhnya keluarga ini. Tapi, kutanya sekarang kenyataannya apa?APA?!!!".
Teriakan, umpatan dan suara benda pecah, berbenturan, jatuh mengiringi perang kalimat demi kalimat panas malam itu.
Aku hanya mampu melihat mereka dari lantai dua rumah ini. Lantai marmer bernilai ratusan juta yang konon dingin bagai lantai surga, tak mampu menepis panas neraka rumah ini..
Aku terisak, " Lantas, kenapa aku dilahirkan? Jika..".
***
"Bu, durhaka kah saya? Jika saya menolak nafkah mereka? Saya sudah bisa cari uang sendiri. Satu lagi, masih pantas kah saya diterima dan berteman?", ucapan Laras mengagetkan Wanda tepat saat ia hendak beranjak dari kursi. Sejenak tertegun, meski ia sudah memegang informasi penting hasil observasinya sebelum sesi konseling pagi itu.
"Laras? Kamu sudah memutuskan?!",  tanyanya memastikan.
"Tiba-tiba mereka meng-kaim mereka orang tuaku. Mengambilku dari orang yang mengasuhku. 6 tahun sejak aku dilahirkan. Kini aku sudah bersama mereka. Tapi aku seperti di hutan belantara. Sekarang KPK pun sudah jemput mereka. Aku anak koruptor, Bu. ", deras air mata Laras tak bisa dibendung lagi semakin lama suaranya makin parau.
Wanda hanya diam, memberi ruang untuk Laras membongkar bebannya. Saat ini yang dibutuhkannya bukan nasihat namun sandaran jiwanya yang merapuh. Ia remas tangannya sendiri yang mulai berpeluh. Terus ia pandangi punggung yang berguncang hebat didepannya. Tuhan, jadikan aku perantara-Mu. Kuatkan aku. Jika sudah begini, aku hanya punya hati. Tangisannya makin keras. Napasnya sudah tak beraturan lagi.
"Tak apa-apa, Nak. Keluarkan saja semua beban itu. Jangan dibendung lagi. Ibu nggak kemana-mana", akhirnya Sekar mengeluarkan kata-katanya.
"Bu, berdosa kah? Aku benci mereka, bagaimana mereka bisa bilang ingin aku ini anak mereka. Sedang dari kecil mereka nggak pernah ada dan ngajarin aku. Setelah besar tiba-tiba datang dan bilang mereka orang tuaku. Lebih berdosa mana, Bu?!!!, tanya Laras setengah berteriak.
"Ibu, paham kamu marah. Tapi tak ada yang bisa memilih dari rahim siapa kita akan hadir di dunia kan, Nak? Betul ibu sepakat tindakan beliau tidak benar, tapi membenci mereka pada akhirnya akan menyakitimu juga. Bagaimanapun mama kandungmu melahirkan Laras ke dunia ini dengan bertaruh nyawa. Papamu, bersikap begitu mungkin maksudnya untuk melindungi keluarganya. Meski itu tidak bisa dibenarkan. Setiap orang berhak melakukan kesalahan, seperti mereka berhak kembali untuk memperbaiki dirinya", Wanda berusaha menata kalimatnya agar Laras tenang kembali. Ia usap-usap punggung anak istimewa ini. 


Laras kembali menengadah menatap tajam, lebih dalam dari sebelumnya. Wanda berusaha tenang, mengendalikan emosinya yang nyaris larut dengan senyum tipis.
"Hmm...bu..ibu tahu, tapi maafkan saya sebelumnya. Saya bersyukur Tuhan memberikan takdir ibu belum berkeluarga, belum punya anak. Ibu tahu kenapa? Supaya ada rumah-rumah yang nyaman bagi anak semacam saya untuk pulang. Dilihat, dianggap. Bukan dijemput, alih-alih dibesarkan malah dipaksa menuruti ego mereka. Anak juga manusia kan, Bu?, Laras menjelaskan dengan kalimat yang awalnya terdengar ragu.
Wanda hanya tergugu-gugu, gagu dan kaku. Hanya mengangguk entah untuk kalimat Laras yang mana.

#RUMBELLMIPS
#TANTANGANTEMA2
#CERPENALUMAJUMUNDUR
#IBUPROFESIONALSEMARANG
Read More

(Ini) Semesta Nayanika Swastamita!

Rabu, 02 Januari 2019

Hujan sore itu, angkasa tak segelap biasanya. Sekelebat aku melihat semburat cahaya jingga di ufuk barat. Aku tersenyum, "Indah" berseru sendiri dalam hati. Jendela dan pintu belakang kubuka selebar mungkin berharap aroma hujan bisa memenuhi ruangan ini. Ku pandangi langit sekali lagi lebih seksama. Entah apa yang aku cari di kedalaman samudera awan putih diatas sana.

Beruntung sekali keputusan kami untuk tetap mempertahankan ruangan terbuka di halaman belakang rumah. Kami masih  bebas memandang langit dan menghirup aroma wangi udara  bebas. Lamunanku terjeda saat mendengar sebuah lagu lawas favoritku dari Kla Projects diputar. Seketika perhatianku kini beralih ke arah radio tua kesayanganku. Ah, apa penyiarnya punya indera keenam ya..pas sekali jadi latar lagu nuansa sore ini. Aku tersenyum sendiri, pikirku Tuhan memang Maha Asyik. Di saat pikiran enggan bergerak dan akal hati sedang berisik menelisik kesana kemari seperti ini eh tiba-tiba lewat tangan penyiar radio itu dikasih lah backsound macam ini. Macam drama saja kalau skenario dan jalan ceritanya bagus tapi lagu latarnya jelek ya pasti nggak sempurna...nggak greget. 

***
Ayun berayun pikir mengalun
Beterbangan khayal keinginan
Lelah memilih arah terpasti
Jelaga malam halangi

Ooo raga
Masih jauh perjalanan
Kita tempuh
Saujana
Samudra membentang sambut layarku
Saujana
Hidup di seberang gemerlap mimpiku
Mungkinkah merapat ke sana (lalu aku bangun istana)

Awan berarak semakin laju
Riuh taufan ombak keras menderu
Telah mengering seluruh bibirku
Dahaga suka cita

Pandang jauh saja
***

Sembari menikmati lagu, ku raih buku catatan yang ada di meja multifungsi itu. Meja makan yang disulap jadi meja serbaguna termasuk fungsi meja kerja. Buku catatan itu memang sengaja kusiapkan sebab biasanya nuansa seperti ini tiba-tiba ide datang tanpa mengetuk pintu. Nah, kalau tidak segera ditangkap pasti ia akan berlalu hanya jadi angan semu. Benar saja dugaanku tak lama ia datang. Ingatan lama sih tapi dibelakangnya ada ide baru ikut serta. Semesta Nayanika Swastamita. Aku menemukannya!!!


Tak menyangka seriang ini aku menemukan deretan kata yang akan jadi rumah keduaku. Alih-alih memaksa otakku untuk menemukannya, justru malah mampat. Berhari-hari berkontemplasi tidak jua berbuah hasil. Padahal akhir minggu terlanjur sudah buat janji dengan salah satu anak ideologisku untuk belajar membuat dan mengenal apa itu blog. Lepas "merumahkan" diriku dari pekerjaan diranah publik memang salah satu impianku adalah fokus belajar menulis lagi. Nah, media yang disarankan salah satunya melalui website atau blog pribadi. Jujur saja aku sudah lama tertarik tapi belum benar-benar luang untuk berkenalan dengannya. Sampai akhirnya dipertemukan kembali dengan salah satu muridku itu. Ia meminta diagendakan satu sesi konseling untuknya berkonsultasi. Akhirnya setelah diawali percakapan virtual yang cukup intens kami sepakat bertemu dirumah untuk konsultasi tatap muka lebih lengkap.  Agenda tambahannya aku belajar singkat mengenal website dan blog. Ia memberikan aku pekerjaan rumah. Sebelum bertemu diakhir minggu nanti aku harus sudah menemukan alamat rumah mayaku nanti.

Demi menemukannya semua ide, kata-kata dari banyak artikel, buku semua berkelindan dibenakku. Berhari-hari tak menemukan sore ini ia datang tanpa ku undang. Kata pertama yang muncul adalah nayanika kemudian muncul semesta, disusul kata swastamita.

Naya adalah kata yang sangat aku suka. Nama pena yang pernah melekat padaku waktu kuliah dulu. Naya, Ranaya begitu biasa aku memakai nama itu. Meski yang mendengar dan mengenal terbatas karena memang tulisanku saat itu hanya untuk kalangan terbatas he-he-he. Aku merasa tak bisa dipisahkan dengan kata itu. Lalu aku berupaya memperbanyak referensiku. Sebagai pengagum bahasa Kawi, Sansekerta aku perbanyak referensi kataku dari sana. Beberapa hari sebelum hujan sore itu kutemukan kata Nayanika yang artinya mata yang indah dan memancarkan daya tarik. Kurekam baik-baik dalam ingatan, dan memastikan berulang kali jika kata ini harus "jadian" sama aku. Mulai dari sana kutarik semua padanan kata yang mungkin saja berjodoh dengannya. Tapi rupanya tak semudah yang kukira.

Hingga sore itu, hujan mengantarkan jodohnya. Semesta, kata ini berarti dunia dan ini mewakili dunia versi sudut pandangku. Swastamita bermakna pemandangan indah saat matahari tenggelam. Kata terakhir ini mungkin datang karena aku adalah pengagum senja. Betul selain hujan dan aromanya, senja adalah salah satu lukisan keindahan Maha Karya Tuhan yang diberikan untuk manusia.

Jadi kalau dirangkai ala ilmu cocokologi nih makna dan harapan keseluruhannya bisa lah dipahami seperti ini; memandang dunia dengan sudut pandang mata yang indah agar mampu memancarkan daya tarik dan keindahan bagi sesama. Seindah pemandangan lukisan Tuhan saat matahari tenggelam. Tiap orang memiliki sudut pandang dan cerita yang beragam. Semua memiliki hak untuk berbagi kisahnya. Mungkin sejarah terbentuk salah satunya dari cerita, bukan?

Susah payah amat cari nama sih? Kan ada yang bilang apalah arti sebuah nama? Kayak kata William Shakespeare, "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet". (26 April 1564-23 April 1616).
Tapi sesuai keyakinanku nama adalah simbolisasi doa, impian dan harapan kelak harus dipertanggungjawabkan. Meski prakteknya demi efisiensi hanya dua dari tiga kosakata saja yang sering dipakai. Tapi sungguh itu tidak mengurangi makna dan harapannya.
Seperti sekarang setelah sekian lama nama itu aku adopsi, ada harapan lain yang ikut bertumbuh. Beban kerinduan yang semakin hari makin meminta dipertemukan dengan hilir tujuan yang lebih besar. Semoga ... 

#30haribercerita #30HBC19 #30HBC1902
Read More

Hujan, Cerita dan Semesta (Epilog : Dibalik Nama Semesta Nayanika)

Selasa, 01 Januari 2019


Ada yang tak bisa ku pungkiri saat memasuki tiga bulan terakhir sebelum tutup tahun. Mulai memasuki bulan Oktober bagiku atmosfer semestaku seolah berubah.  Hujan memang mulai kerap muncul, ada yang hanya sekedar lewat gerimis namun ada yang tanpa kabar ia datang bersama kilat dan halilintar. Aku sebenarnya tak begitu menghiraukan perubahan musim pancaroba yang kadang ekstrim. Sebentar panas menyengat, namun tiba-tiba udara menyelinap begitu dinginnya. Tak mengapa sebab bagiku tiga bulan dipenghujung tahun Masehi ini selalu menjadi penghangat diriku. Berturut-turut dari bulan Oktober dimulai dengan milad papa, adik iparku, keponakanku dari suamiku, bapak mertua lalu adik bungsuku, selanjutnya aku dan anak adik lelakiku. Kemudian penutupnya dibulan Januari milad jagoannya papa, si anak tengah.

Kami memang tidak dibiasakan merayakannya dengan hura-hura tiup lilin atau ritual pesta lainnya, sama sekali tak ada. Hari kelahiran anggota keluarga kami ini selalu digunakan untuk kumpul, doa, berbagi saran, nasihat sekaligus curhat lalu makan bareng. Satu hal lagi sebagai ajang temu kangen sebab selepas menikah, kami semua sudah tinggal terpisah kota. Susah sekali ketemu kalau tidak benar-benar diagendakan. Nah, momentum hari lahir ini lah jadi sarana pengikatnya.

Mengapa nggak dirayakan sekalian sih pakai perayaan meriah kan hari spesial? Tadinya juga pikirannya kayak begitu tapi lambat laun seiring waktu mulai paham tentang pesan moral dari petuah beliau.
Sebagai orang berdarah kental Jawa ya tentunya beliau berdua kerap menggunakan filosofi para leluhur saat mendidik kami. Ada dua pesan yang sering papa ulang-ulang adalah "Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman" artinya Jangan mudah kagum, Jangan mudah menyesal, Jangan Kagetan atau mudah terkejut, Jangan manja. Belakangan baru ku ketahui jika itu filosofi Jawa yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga. 
Lalu satu lagi nih...yang cukup sering dipesankan beliau pada anak dan mantunya. 'Lamun sira banter aja nglancangi, Lamun sira pinter aja ngguroni, Lamun sira landep aja natuni'. Artinya secara singkat bahwa ketika kita punya kecepatan maka sebaiknya menahan diri jangan sampai mendahului, tatkala kita pintar maka janganlah sok menggurui, dan saat kita memiliki "ketajaman" maka seyogyanya jangan sampai melukai'. 
Intinya sih beliau berdua selalu berpesan untuk kami mampu menahan diri dan peka membaca situasi untuk lebih peduli hingga tidak banyak yang tersakiti. Meskipun bukan jaminan saat kita sudah berhati-hati lalu kita bebas tanpa melukai. 
Lho terus untuk apa kita menahan diri kalau tetap saja ada yang tersakiti? Coba tanyakan saja lah pada hati kecil kita untuk apa kita berhati-hati? Aku sendiri ragu ada orang yang sengaja pasang hati untuk uji nyali dilukai dan makan hati. Aku sih, No! Kamu?! He he he

Begitulah kisah mengapa tiga bulan terakhir dipenghujung tahun selalu aku nanti dengan segenap hati. Selain salah satunya termasuk 'bulan' ku, ada hal lain yang aku suka. Aku suka wangi aroma hujan. Aroma tanah basah sudah mulai sering tercium, burung-burung mulai kerap terdengar riuh riangnya menyambut titik-titik air yang terkumpul diawan. Mentari yang mulai sering tertawan sinarnya menambah nuansa magis musim penghujan. Tak hanya aroma dan suasananya namun keseluruhan fenomena saat hujan turun memang membalut rasa yang berbeda. Seolah ia sedang merangkum semua rahasia langit yang didapat dari milyaran sedu sedan, keluh kesah makhluk bumi dan pada saat tiba dititik kulminasi ia tumpahkan lah beban itu ke bumi. Entah berupa rahmat kebaikan atau sebaliknya cobaan buruk sebagai pengingat kita kembali pada kemanusiaan kita.

Aku ingat seseorang pernah menasihatiku, "Berdoalah sesaat hujan turun, sebelum begitu lebat itu, Rahmat!". Entahlah aku dulu tak begitu peduli karena yang aku tahu kala itu bermain mandi hujan di tanah lapang begitu membahagiakan. 
Berlarian saling mengejar, tertawa, berguling di tanah lapang, saling berteriak begitu lepas tak ada sekat kesedihan yang tersisa. Ya, pada akhirnya ku tahu saat rintik hujan mulai berjatuhan itu adalah salah satu waktu utama yang dianjurkan untuk berdoa. 

“Dua doa yang tidak akan ditolak : Doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dan dihasankan al-Albani; lihat Shahihul Jami’, no. 3078).

Itu mungkin mengapa kadang kala Dia menghadiahkan bianglala saat diujung hujan terhenti. Bianglala membuat garis busur nan indah dicakrawala. Meski tak lama  hadirnya warna 'mejikuhibiniu' menghias angkasa bagai pesan pelipur lara. Tiap warnanya punya sudut makna dan cerita. Bak cerita manusia yang memiliki proses pengalaman hidup yang berbeda-beda hal itu akan mempengaruhi cara pandang, pola berpikir dan perasaannya. Kita tidak perlu terlalu cepat menjadi juri dan hakim bagi kisah orang lain. 
Itulah mengapa atas ijin-Nya 'wangsit' muncul di kepalaku. Kala hujan turun  itu ku sibuk tenggelamkan diri dalam labirin perenungan dan "AHA!" deretan kata 'Semesta Nayanika-Swastamita' muncul kembali dan seketika merebut hatiku (sekali lagi). Hmm... Ini harus jadi "rumahku", gumamku berulang kali.

#30haribercerita #30HBC1901
Read More