Inspirasi Hidupku

Sabtu, 27 Oktober 2018

Sosok inspirator hidupku ada banyak sebenarnya mulai dari sebagai umatnya maka idola sepanjang hayat adalah Rasulullah, bunda Khadijah, bunda Aisyah, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra, orangtuaku, guru-guruku. Semua mempunyai porsi memberikan ruang inspirasi dalam diri ini. Tak terkecuali guru-guru kecilku kini.


Namun tetap dengan lantang kuteriakkan urutan pertama setelah yang dimuliakan Rasulullah Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam ada orang tuaku. Papa mama adalah inspirator yang mengajarkan banyak hal padaku. Mengenal diri dan kehidupan yang melingkupiku. Bagaimana mengambil peran dan bertanggung jawab dalam  menjalani kehidupan manusia ini agar terus mampu menerjemahkan maksud Tuhan tentang keberadaan kita.
Aku belajar banyak pada mama tentang kesungguhan beliau menjalankan perannya sebagai ibu. Tidak banyak keluhan, yang nampak hanya kasih sayang yang heran entah dimana beliau selalu menemukan kembali energi untuk melakoni peran sebagai ibu rumah tangga yang seabrek tugasnya. Beliau berdua mengajarkan pula bagaimana mengelola rumah tangga yang selaras. Tak segan berbagi peran dan fungsi. Aku kadang tertegun betapa terencana kehidupan rumah tangga beliau. Rumah tangga orang tuaku tak sempurna namun setidaknya ada banyak kesan luar biasa dalam semua proses tahapan yang dilewatinya.

Diurutan setelah orang tuaku ada guru BP (Bimbingan Penyuluhan) atau kalau sekarang disebutnya konselor sekolah atau guru BK (Bimbingan Karir dan Konseling). Bapak Edi Busono namanya. Beliau adalah aktor dibalik layar yang mungkin beliau tanpa salah menjadi inspiratorku untuk menjadi seorang seperti beliau. Guru BK yang berlatarbelakang pendidikan S1 Psikologi. Lewat beliau dan atas ijin Allah Ta'alla aku menemukan misi hidup untuk menjadi konselor anak-anak dan remaja di usia 14 tahun. Dibangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama itu aku sudah menemukan impian untuk bisa berada ditengah anak-anak tanggung yang sedang kebingungan mencari jatidirinya. Agar ia selamat sampai tujuan menjadi manusia dewasa yang bahagia. Aku terinspirasi pada sikap beliau saat menangani anak-anak luar biasa di sekolah kami. Anak-anak yang sering "dikirim" ke ruang BP. Seingatku beliau tak pernah  marah kepada mereka justru lebih memberikan ruang pada mereka untuk bercerita tentang impiannya atau apa saja. Hingga keesokan harinya tanpa diminta mereka datang lagi dan lagi untuk berbagi kisah mereka sehari-hari. Saat itu beliau diperbantukan juga untuk jadi guru elektronika. Aku yang penasaran terus mencari tahu bagaimana bisa beliau memiliki konsep berpikir yang berbeda dari guru BP yang lain. Ternyata beliau adalah lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Psikologi. Sayang sekali aku tidak menanyakan kelanjutannya.

Terdengar berlebihan ya..tapi cerita ini tak akan pernah usang dan akan aku ulang-ulang setiap kali ada yang bertanya bagaimana aku menemukan ketertarikanku pada dunia psikologi, anak dan remaja.

Begitulah pada dasarnya inspirator hidupku adalah semua orang  yang berhasil menitipkan inspirasinya  dalam proses perjalanan menemukan diriku. Ya semua! Siapa saja ada banyak nama dalam daftarku yang aku harus mengucapkan salam dan terima kasih. Telah membantu membentuk diriku hari ini, esok dan nanti.



#WanitadanPena
#Day06
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

Dapurku Istanaku

Jumat, 26 Oktober 2018

Rumahku surgaku, tiap kenyamanan hampir pasti diidentikkan dengan surga. Damai, tentram, sejahtera hanya ada bahagia. Begitulah kira-kira impian dan harapan tiap orang akan rumah idamannya. Sekuat tenaga semua anggota keluarga akan berjibaku mewujudkannya. Harapan bahwa rumah menjadi surga terindah bagi jiwa dan raga semua penghuninya.


Layaknya rumah, ada satu bagian ruangan di dalamnya yang memegang peranan penting. Ruang yang menyatukan ruh para penghuninya. Sempit ataupun luas tidak masalah sebab fungsinya jauh lebih kaya makna dibandingkan  ukurannya. Namun entah mengapa, sudah terlanjur dapur banyak dikonotasikan negatif sebagai tempat yang kotor, berantakan, tidak bersih apalagi rapi.

Memaknai dapur sangat bergantung pada pilihan dan pemahaman masing-masing orang melihat substansinya. Jika maknanya hanya sekedar tempat masak, meletakkan barang dan aneka bumbu, maka dapur hanya  dipahami sebagai tempat transit, sementara dan berkata, "Ah, tak perlu lah rapi-rapi amat toh juga cuma sebentar disana, masak, makan lalu ditinggal pergi".

Kalau ada orang memilih konsep berpikir demikian, ya cukup lah hargai saja. Kita tidak bisa memaksa preferensi orang lain bukan? Sebab semua pengalaman panca indera  tiap orang berbeda. Apa yang pernah dialami ruh dan raga seseorang saat proses mendengar, melihat, melakukan, merasa akan menentukan sudut pandangnya dan kemampuan menilai suatu hal termasuk cara menyikapi segala sesuatu disekelilingnya.

Bagaimana dengan aku? Aku mengakui berada disisi pemaknaan yang lainnya. Bagiku dan suami dapur adalah tempat paling strategis sekaligus romantis. Obrolan pagi didekat meja makan di dapur hampir tak boleh dilewatkan. Suara musik dari radio tua menemani merayakan "Coffe Morning Time" kami. Memang tidak selalu aku duduk gabung dikursi makan. Suamiku terus berbagi cerita sembari tangannya tak berhenti memantau dan menulis berita melalui gadget andalannya, sedang aku sibuk mempersiapkan  semua sesajen keperluan sarapan. Kami terus mengobrol, diskusi, bercanda, sesekali berdebat. Sebuah romantisme percakapan pagi hari yang kami percaya adalah rapal mantra paling ampuh untuk menguatkan ikatan cinta kasih di dalam rumah tangga ini. Filosofi dapur yang luar biasa, kan? he-he-he.

Obrolan ringan ini tak boleh kehilangan maknanya, kadang kami bicara soal remeh temeh seperti ternyata ada tikus mati entah diselokan siapa sampai berhari-hari baunya tak mau pergi hingga berita pilkada yang mulai makin menggelitik untuk diulik. Ssslurruuup... glek... sesekali ku jeda menyeruput kopi hitamku yang  selalu saja terlanjur dingin untuk dinikmati. 

Begitulah, dapur bagiku menjadi salah satu tempat mengejawantahkan rasa cinta, kasih dan sayang. Mulai dari menyiapkan menu, mengumpulkan bahan masakan, meracik bumbu, mengolah, memasak dan setelah matang kemudian berpikir bagaimana cara menyajikannya didepan para juri. Saat ini juri dirumah ini baru ada suami dan kelak dengan ijin Allah Ta'alla akan ada barisan juri luar biasa lainnya, anak-anak kami. Selain cita rasa yang sempurna, tampilan sajian makanan akan berperan penting pada baik buruknya selera makan tiap anggota keluarga. Peran dapur menjadi semacam pintu khusus (connecting door) yang menghubungkan tiap ruangan dalam rumah tanpa terkecuali.

Namun yang jadi ya tantangannya untuk berlama-lama di dapur jelas bukanlah kesenanganku. Tidak seperti yang lainnya yang gagah berani mengeksplorasi resep-resep baru dimajalah. Kalau aku hanya sebatas penikmat kuliner-kuliner saja lah.  Masak juga ya yang standard saja. Sebenarnya sesekali kalau agak longgar hobi juga melihat tayangan televisi masak memasak.  Padahal hasilnya cuma muka pengen doang sebab eksekusi resep adalah keniscayaan :).

Sesekali mencobanya sih tapi lebih banyak pilih masaknya ya yang aman saja lah ya..apalagi suami kalau makanan agak kecolok ala Western begitu suka protes. Ya, syukur deh lidahnya merah putih jadi gampang lah cari referensi. Setidaknya asal ada Warung Tegal atau Warung Nasi Padang masih buka tetap tentram lah hatiku. 

Pintaku pada Tuhan, semoga selalu bisa menjaga hangat cinta di istana dalam  surgaku ini agar terus mampu menghubungkan seluruh ruh-ruh penghuninya. Dapurku Istanaku.

#WanitadanPena
#Day05
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

Jejak-Jejak Sajak Kehidupan

Kamis, 25 Oktober 2018

Kawanan nyamuk semakin malam semakin  menggila. Suara dengungannya juga terdengar lebih kencang beberapa malam ini. Saling bersahutan terdengar dari rumah tetangga, suara sengatan raket listrik penangkap nyamuk. yang mengenai sasarannya. Nyamuk yang tersengat raket itu tentu saja tak mungkin selamat. Itu pertanda akhir masa hidupnya.
Hmm... lingkaran putaran waktu memang teka-teki misterius. Tak ada yang pernah mengerti kapan masa kesempatan harus berlalu; terbang mengangkasa seperti debu terbawa angin. Kita memang benar-benar bukan pemilik waktu.


Tantangan Hari Keempat



Ah ya...hari ini tantangan hari keempat, bicara tentang portofolio. Berbeda dengan subtema sebelumnya hari ini lumayan putar otak. Bingung karena jika ini dikorelasikan dengan karya...aiiih...belum ada karya yang dengan sungguh-sungguh bisa aku banggakan diblantikanya para penggiat literasi. Portofolio secara umum bisa diartikan kumpulan dokumentasi seseorang, lembaga atau perusahaan. Dokumentasi ini bisa berupa tulisan, gambar atau sumber lain yang berguna untuk mencatat rekam jejak seseorang, lembaga atau perusahaan. Catatan ini biasanya digunakan untuk mengukur kemajuan prosesnya, apakah sudah sesuai dengan target tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Mengacu pada pengertian itu, aku berpikir selain foto aku punya  apa? sepertinya aku mulai sekarang harus mengumpulkan data catatan dokumentasi pendukung lainnya.
Lalu rekam jejak apa yang sudah berhasil aku kumpulkan? Jika ini terkait dunia literasi, kebanggaan pada karyaku baru muncul melalui skripsi yang kutulis bertahun-tahun silam. Ah ya meski tersebar diberbagai sobekan kertas dan banyak yang belum dirapikan. Puisi juga merupakan salah satu pintu pelarian paling favorit jika penat menghampiri. Sempat dulu pernah berharap juga satu hari satu puisiku masuk ke dalam buku antologi puisi. Tapi sebelumnya pernah punya mimpi puisi-puisiku itu terkumpul jadi satu buku. Angan ini muncul setelah baca buku kumpulan puisinya Mbak Rieke Diah Pitaloka alias mbak Oneng. Judulnya Renungan Kloset. Ah jadi melantur ceritanya he-he-he.
Satu yang pasti yang aku yakini tentang rekam jejak paling hakiki adalah mematri inspirasi positif dalam hati tiap orang yang kutemui. Agak abstrak memang, pakai tolak ukur apa keberhasilan interfensinya? Mungkin terdengar agak konyol namun begitulah yang aku pahami. Segala sesuatu yang berasal dari hati, digerakkan oleh hati akan mampu menggerakkan hati yang lain pula untuk berbuat kebaikan yang sama bahkan jauh lebih baik. Itu lah yang aku lakukan kepada anak-anak ideologisku. Bersama guru-guru kecilku aku berbagi, menitipkan banyak cerita baik, memberi teladan, dan selalu mengajak mereka berbuat hal baik. Satu hal baik yang ditularkan kepada orang lain, dan satu orang tersebut terinspirasi kemudian ia beraksi berbuat satu kebaikan lainnya. Aku masih percaya bahwa ini adalah portofolio hidup paling murni bagi diriku sampai saat ini. Terkait dengan dunia pena, tentu saja saat ini aku sedang terus berbenah dan bergegas mengejar ketertinggalanku. Tujuannya, supaya portofolio yang masih abu-abu ini menjadi semakin berwarna serta sajak-sajak kehidupan tidak terlewat diceritakan.

#WanitadanPena
#Day04
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang
Read More

CITA-CITA SEJAUH IMPIAN

Rabu, 24 Oktober 2018


Wah sudah masuk hari ketiga, godaan setan inkonsistensi pasti lah ada....wusss...wusss...meniup sepoi-sepoi dikepala supaya terlena. Eitsss...hushh...husssh...jurus berkelit harus selalu siap siaga nih he...he...he... dan Alhamdulillah tantangan hari bicara tentang cita-cita. 

***

"Bunda, ini ditulis cita-cita atau impian?", seorang siswa menghampiriku sambil menunjuk kertas kosong berukuran F4 putih polos  masih bersih yang dibagikan di kelas. Aku mengisyaratkan untuk duduk kembali ke bangku semula, sambil berjalan ke arahnya. Ya, hari itu agendanya adalah membuat mind mapping mengenai perjalanan impian mereka dari masa remaja hingga masa dewasanya. Aku berdiri sebentar memandang sekeliling kelas, kuperhatikan satu persatu tertangkap mataku ada anak-anak yang masih ragu mau menuliskan apa. Disudut lain beberapa siswa tampak sudah yakin dan kuperhatikan ekspresi wajah mereka serius sekali menulisnya. 
Ku hentikan langkah didekat tempat duduk siswa yang bertanya. Badan agak aku putar serong agar tetap luas pandanganku melihat aktifitas para siswa. "Anak-anak, sebelum ibu jawab pertanyaan temanmu tadi siapa yang tahu beda cita-cita dengan impian? Atau menurut kalian sama saja?", aku bertanya sambil menyapu pandangan dari tiap sudut kelas.

Kelas menjadi sedikit riuh sejenak dalam hati aku sedikit geli sebenarnya. Tapi memang harus ada proses gaduh seperti itu karena proses belajar hingga sampai tataran paham itu tidak seragam. Ada yang berpendapat itu adalah persamaan kata, tapi tak sedikit yang bilang beda.

"Cita-cita itu nyata kalau impian itu bisa jadi itu cuma khayalan Bun", jawab salah seorang siswa. Kemudian disusul jawaban-jawaban lain dari beberapa siswa. Setelah kurasa cukup mereka diskusi bebas dan agar level kebingungan tidak semakin tinggi maka aku mencoba beri penjelasan kepada mereka. 



CITA-CITA ATAU IMPIAN 

Kurang lebih begini penjelasanku saat itu, arti kata cita-cita dalam KBBI V berarti kehendak, keinginan yang selalu terngiang dalam pikiran, dan atau bisa diartikan tujuan yang sempurna untuk dicapai dan dilaksanakan. Sedangkan impian berarti barang atau sesuatu yang sangat diinginkan. Cita-cita dan impian saling terkait satu sama lain. Cita-cita itu selangkah lebih maju dibandingkan impian. Namun cita-cita hanya akan jadi sekedar kata-kata jika tidak memiliki impian didalamnya. Impian adalah bahan bakar menuju terwujudnya cita-cita.
Penjelasanku saat itu sepertinya berhasil, seketika setelah selesai menjelaskan mereka lantas bersemangat menggambarkan mind mapping perjalanan cita-cita dan impiannya. Ku tersenyum melihatnya, tampak olehku banyak mata berbinar memancarkan cahaya yang tidak biasa saat menuliskan semua itu. 
Aku yakin cita-cita dan impian ibarat sebuah peta yang mengantarkan tiap orang pada tujuannya. Hampir bisa aku pastikan ketika ada anak datang ke ruang konselingku. Anak yang dianggap bermasalah, terlanjur diberi label nakal, dan lain sebagainya oleh orang dewasa disekelilingnya.. Mereka itu ialah anak-anak yang jarang ditanyai apa cita-cita dan impian mereka? Banyak pula karena mereka malah belum mampu menerjemahkan keinginan sebenarnya yang sesuai dengan bakat, minat dan passion-nya. Bagaimana bisa menerjemahkan keinginan jika mereka tidak diajarkan mengenal diri mereka sendiri? Alih-alih dikenalkan malah yang mereka pahami adalah impian dan cita-cita imitasi yang bukan asli datang dari dalam diri. 
Maka tiap kali mereka datang, dengan apapun ragam kenakalan yang dijelaskan rekan lain. Pertanyaan paling awal yang selalu aku tanyakan adalah "Kamu punya cita-cita dan impian tidak, Nak?".
"Apa cita-citamu kelak waktu sudah jadi manusia dewasa? Coba ceritakan?!".
Hanya sebuah kalimat yang sederhana bukan? Percakapan ini meskipun tampak sederhana akan terus mengalir dan menumbuhkan kembali harapan, serta kebanggan diri sekaligus memberikan tujuan hidup baginya. Semua perlu nilai makna, agar kita hidup tak sekedar hidup belaka.

#WanitadanPena
#Day03
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang

Read More

Ceritamu, Inspirasiku

Selasa, 23 Oktober 2018

Masuk ke tantangan hari kedua rumbel literasi media Ibu Profesional Semarang. Memang ya hidup kalau nggak diberi tantangan tuh nggak ramai...nggak hidup namanya. Berasa datar aja gitu...jadi demi mengobarkan semangat menulis ini lagi. Tercipta lah "10 Days Challenge"; Tantangan 10 hari menulis. Ibarat mengejar matahari, maka tantangan ini ujian agar konsistensi tetap terkondisi tanpa digerogoti moody...ha..ha..ha...itu alasan aku banget sih.

HARI KEDUA

Tantangan hari ini bicara tentang curahan hati. Mencurahkan isi hati dan atau menerima curhatan semua memiliki maknanya. Berbagi kisah cerita kepada lain tentu saja itu jadi salah satu media relaksasi utamanya perempuan. Penat, luka dan segala macam rasa seolah menemukan muaranya ketika kita mampu membaginya. Beban terasa lebih  ringan sebab kita tahu ada yang mendengar dan menemani kita  Terutama nih buat para kaum hawa yang jumlah deposit kata-katanya tak terhingga. Yaah aku percaya itu salah satu kekuatan yang diberikan kepada kita. Semakin menemukan kekuatan ketika kita  tahu ada sandaran hati untuk berbagi. Semoga tidak terdengar sebagai pembenaran ya he-he-he..

Lalu, apa yang terjadi pada kita yang sering menerima curahan hati seseorang? Adakah manfaat yang dapat kita bawa atau malah justru akan menambah beban jiwa? Tentu saja ada maknanya. Menyediakan kelapangan hati juga telinga untuk mendengarkannya memang tidak gampang. Butuh cadangan energi positif untuk bisa bersama-sama menempuh jalannya. Bersyukur jika cerita yang kita terima hanya cerita yang baik dan bahagia saja. Transfer energi positif itu makin menambah simpanan kita. Namun, seringkali yang ingin dibagi bukanlah cerita bahagia kan? Bayangkan saja apa jadinya?

Memerlukan melatih kemampuan untuk bisa meletakkan simpati dan empati dengan tepat. Kita mencoba ikut merasakan situasi dan kondisinya tanpa ikut larut terjebak didalam pusaran kekalutan mereka. Pengalaman menjalani peran sebagai konselor sekolah, anak dan remaja yang sering bersinggungan dengan keunikan karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ditambah para orang tua murid dengan berbagai ragam latar cerita yang tak kalah uniknya. Membuat semua peristiwa proses konseling begitu menarik. Kerap kali memang energi terkuras deras, namun senyum harapan diparas mereka yang ingin kulihat mampu menjadi penawarnya. 

Selalu kubilang pada mereka, anak-anak ideologis ku. "Bukan kalian yang belajar dari bunda tapi justru bunda yang belajar banyak dari kalian. Bukan bunda yang membantu kalian, namun kalian yang sesungguhnya membuat bunda belajar bersyukur dan mengambil hikmah dari curahan hati kalian itu!". Kusampaikan hal yang sama kepada siapapun yang telah berkenan menitipkan cerita padaku. Kalian semua adalah guru-guru ku di universitas kehidupan yang maha luas ini. Terima kasih sudah sudi berbagi inspirasi!

#WanitadanPena
#Day02
#RumbelLiterasiMedia
#IbuProfesionalSemarang

Read More

Aku, Ayah dan Kenangan

Senin, 22 Oktober 2018


Betapa senangnya aku berlarian kesana kemari di alun-alun kota pagi hari itu. Minggu pagi yang cerah, banyak sekali orang berada dipusat keramaian kota Semarang kala itu. Sambil mengunyah makan pagi yang disuapkan mama, aku terus saja mengoceh bertanya ini dan itu. Ayahku dengan senang hati berbagi tugas dengan mama menjawabnya, sambil sesekali mengabadikan momen pagi itu. Tustel pinjaman ah yaa...tustel adalah istilah awam untuk menyebut kamera manual jaman dahulu yang masih pakai klise yang ujungnya perlu diputar...krek...krek...cepreet...

Kenapa bisa tustel pinjaman? Ya kami saat itu masih baru pindah dari ibukota negara ke ibukota propinsi. Seperti keluarga baru pada umumnya, beliau memutuskan tinggal di rumah kontrakan. Kebetulan sebelah rumah kami kata papa profesinya tukang foto keliling. 

Ho ho ho maaf ya pake katanya karena aku masih terlalu kecil untuk mengingat detail peristiwanya. Nah, setiap kali ada acara jalan-jalan di luar ayah selalu menyempatkan diri untuk meminjamnya. Beruntung sekali tetangga kami baik hati, jadi kami  bisa membawanya sesuka hati  kami tanpa sewa sepeser pun. Bagi ayah kenangan adalah tabungan berharga yang bisa mengikat erat hubungan keluarga. Begitu beliau menjelaskan ketika aku beranjak dewasa. Oleh karena itu, momentum apapun berusaha diabadikannya, dengan foto-foto ataupun label-label keterangan kejadian. Ada yang berupa label cetakan dan ada banyak juga yang  tulisan tangan beliau. Berisi keterangan lokasi, peristiwa apa dan jika itu kegiatan  massal maka akan ditulis bersama saja dalam peristiwa itu. 

Ayah...hmmm...papa begitu aku biasa panggil beliau...papa memang seperti pria pada umumnya yang tak suka banyak bicara. Tapi tidak termasuk pendiam juga, sebab jika bertemu dengan orang yang memiliki bahan pembicaraan yang sepadan beliau tak akan pernah bisa berhenti bercerita. Papa selalu menunjukkan sikap jika beliau adalah ayah yang bertanggung jawab, terorganisir dan rapi. Bekerjasama dengan mama semua langkah direncanakan dengan seksama. Tentu saja tak lupa doa dan tawakal dihulu dan hilir upaya mereka. Bagiku itu keren, dan papa adalah pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Pria kedua dan ketiga dan seterusnya adalah Spiderman, Batman dan kawan-kawan superhero lainnya. Namun tempat papa tidak pernah terganti. 

Sebenarnya tak banyak kenangan yang bisa aku ingat bersamanya. Beliau sangat sibuk dinas keluar kota, maklum saja sebagai pegawai pemerintahan baru pastilah disposisi tugas dari atasan banyak sekali. 

Namun, sesibuk apapun pasti beliau meluangkan waktu pergi bersama ke taman atau alun-alun kota untuk tamasya. Salah satu kenangan paling kuat adalah papa selalu memberikan tebakan untuk membaca tiap tulisan-tulisan yang kami temukan sepanjang perjalanan. Apakah ditiket bus?papan reklame? Dikoran bekas yang telah beralih fungsi jadi pembungkus jajanan. Atau paling menyenangkan ketika papa mulai main tebak-tebakan dengan plat motor yang sedang lalu lalang disepanjang jalan. Z plat kota mana? Kalo M? Kalau Kudus platnya apa? Ah ya...kadang papa juga memintaku untuk membaca tulisan di rambu-rambu petunjuk arah. Begitulah perjalanan menjadi tidak membosankan karena banyak sekali quiz dari papa. Aku kecil yang tak pernah puas dengan jawaban papa,terus saja mengejar bertanya banyak hal. Papa pun nampak selalu siap menjawab pertanyaanku. Aaah...hati siapa yang tak riang ketika sampai ditujuan...taraaaaa...hadiah menanti...sekotak susu coklat UHT terhits waktu itu dan lapis legit dengan kotak warna kotak bergambar sapi favorit mendarat ditanganku.

Kebiasaan membaca dan bertanya apa saja dijalan nampaknya sudah mendarah daging padaku, hingga reflek dalam hati atau kadang ku utarakan langsung pertanyaan-pertanyaan yang kadang nggak penting untuk ditanyakan. Kata suamiku, "Ssst...berisik banget sih tanya terus...sudah dinikmati saja perjalanannya...". Terdiam beberapa saat untuk kemudian memulai pertanyaan baru lagi he-he-he...
Meski tak selalu indah rekaman kenangannya, aku bersyukur karena salah satu tabungan kenangan bersama papa itu aku lebih awal lancar membaca dibandingkan teman-teman Taman Kanak-kanak ku. Wawasanku juga jauh lebih luas karena papa selalu berusaha memberikan jawaban atas keingintahuanku.

#10dayschallenge
#wanitadanpena
#rumbelliterasimedia
#day1

Read More

RESENSI BUKU : PERJALANAN RASA

Sabtu, 31 Maret 2018

Judul Buku       : Perjalanan Rasa
Penulis              : Fahd Djibran
Tebal Buku       : 230 blm
Penerbit            : Kurniaesa Publishing
Tahun Terbit  : Cetakan I, November 2012


Buku ini adalah buku ketiga karya Fahd Djibran atau sekarang lebih dikenal dengan Fahd Pahdepie yang saya baca. Setelah buku 'Jodoh' dan 'Angan Senja dan Senyum Pagi'. Cukup terlambat memang saya mengenali karya-karya lamanya yang ternyata lebih "saya". Jika ditanya mengapa? Saya suka dengan aliran cerita yang dituturkannya. Ide dan gagasan yang sesungguhnya berat menjadi lebih ringan dicerna. 

Buku ini sudah dicetak ulang dengan desain sampul dan penerbit yang baru. Rupanya banyak yang merindukannya. Buku lamanya bersampul merah hati dan desain gambar yang cukup dalam makna, terlihat seseorang yang sedang merenung. 

Sinopsis

Di halaman belakang buku ini diatas tulisan ISBN, diakui genre buku ini adalah novel/fiksi, namun saya lebih memilih menyebut ini sebagai kumpulan cerita pendek. Sebab antar bab tidak ada saling berkaitan ceritanya secara langsung. Uniknya cerita-cerita yang berkisah tentang perenungan ini disambungkan oleh satu kata akhir dari cerita sebelumnya menjadi judul atau ide cerita di bab berikutnya. 

Ada 51 judul cerita atau bab dalam buku ini. Variasi cerita bermacam-macam, mulai tentang perasaan penulis tentang Mama dan berakhir dengan cerita tentang perasaan seorang Ayah.
Sejak lembaran awal saya sudah mulai masuk dalam perjalanan rasa saya dicerita tentang Mama, juga saat terjadi dialog-dialog dalam diri penulis yang serta merta membuat saya atau mungkin pembaca yang lain ikut mengangguk bersama, larut bersepakat dalam ceritanya. Seperti cerita di akhir buku ini yang menggambarkan tentang perasaan sosok seorang Ayah. Membuat saya menghadirkan sosok ayah dalam imaji, membayangkan dinamika perasaan ayah.

"Demikianlah, akan selalu ada ikatan khusus antara seorang ayah dan anak. Dialah ayahku, ketika kecil, remaja, dewasa, dan tetap akan menjadi ayahku untuk selama-lamanya.."

Buku ini seolah mengajak kita berdialog, dan membawa kita melihat dengan sudut pandang berubah-ubah. Penulis menggunakan kata 'aku' dibeberapa cerita, namun terkadang  ia bertutur melalui sapaan 'kamu'. Dibuku ini sisipan kisah bersama keluarga juga menjadi salah satu kekuatannya 

Perenungan dialogis (self talk), cukup terasa tiap membaca lembar demi lembarnya. Seperti membawa pembaca 'Perjalanan Rasa' ini layaknya berbincang-bincang dengan dirinya. Kutipan-kutipan cerita bermakna mungkin sudah menjadi salah satu ciri khas Fahd Djibran disetiap bukunya. Sejak halaman pertama sudah terasa atmosfernya, mungkin bisa jadi ini subjektif. Namun menurut saya penulis berhasil mengajak pembaca, merenungi kisah-kisahnya yang kemudian membawanya ke ranah dialogis pribadi; ranah religius dengan tutur bahasa yang universal.
Seperti dihalaman persembahan penulis yang ditujukan kepada anaknya :
...
belajarlah dalam kesabaran Ayub
berjalanlah bersama keberanian Ibrahim
bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman
taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Muda
himpunlah semua kebijakan Yakub
katakanlah kebenaran semerdu suara Daud
kasih ilahi sesama sepenuh cinta Isa
lalu masuklah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad
...

Bagi saya kalimat itu cukup lembut, indah sekaligus tajam penekanannya mengenai doa, harapan orang tua dengan pemilihan role model yang otentik.

Contoh kutipan lain yang menurut saya cukup mengena ada di cerita berjudul 'Berbahagialah' : 

"Ah, kadang-kadang kita hanya perlu jeda, menunda semua asumsi dan prasangka... lihatlah ke kedalaman masing-masing dan percayalah : everything is going to be amazing! Ya, paling tidak untuk sekarang, berbahagialah: Enyahkan ketakutan-ketakutan!"



Kelebihan

Buku Perjalanan Rasa ini cocok bagi siapa saja yang ingin menjelajahi petualangan rasanya sendiri. Bersiap dibawa ke kilas balik masa lampau, kemudian dibawa berdiskusi dengan fenomena kekinian. Sesekali ikut galau sebab menemukan kemiripan kisah. Seperti membaca buku filsafat namun jauh lebih ringan.

Kekurangan

Cukup banyak kesalahan penulisan dalam cetakan buku ini. Tidak fatal, namun cukup membuat tidak nyaman saat membaca.

Kelemahan yang lain adalah ada beberapa cerita yang masih cukup berat dan sulit dicerna maknanya. 

Secara keseluruhan buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca siapapun, untuk merefleksikan diri atau sekedar mengajak jiwa ini berekreasi melalui perenungan sederhana. Bisa jadi sebuah upaya meditasi untuk mengembalikan kepekaan jiwa.

'Selamat menjelajahi perjalanan rasamu! Semoga Tuhan mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya!'

#oneweekonepost
#blogwalking
#rumbelLMIPS
#resensibuku
#perjalananrasa


Read More