Aku dan Cinta Pertamaku

Sabtu, 12 Oktober 2019


"Saya ini korban, orang tua yang tidak bertanggungjawab. Ayah saya pergi entah kemana sejak saya dilahirkan. Nggak pernah mencari saya sampai saya setua ini. Cerita saya ini yang saya selalu bagi pada murid-murid, agar mereka tak berkecil hati", ujar seorang bapak berseragam safari coklat muda cerah. Dugaanku, beliau duduk diantara para undangan dikelompok kepangkatan dan usia yang setara dengannya. Dibelakangnya duduk para pendidik yang relatif lebih muda, bertepuk tangan sambil tersenyum lebar mendengar cerita si bapak tadi.

Tak lama setelah sesi tanya jawab dimulai, beradu pendapat dan berdiskusi. Salah satu moderator tanpa diduga menceritakan sebuah fakta yang membuat semua tamu undangan terdiam. Ia dengan lantang membuat pernyataan, "Saya ini pernah sangat membenci bapak saya hingga ingin membunuh bapak saya. Saat itu saya dihajar bapak, katanya demi disipilin tapi kenyataannya...". Kalimat itu mengalir panjang dari mulutnya, aku menangkap sisa-sisa kemarahan yang masih nyata.

Beberapa waktu lalu aku dan rekanku, mewakili komunitas parenting Ibu Profesional Semarang berkesempatan hadir memenuhi undangan disebuah acara sosialisasi program. Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang, itu memunculkan banyak insight.

Dua pernyataan di atas, merupakan contoh betapa ayah sekali lagi memegang peranan penting dalam hidup seorang anak. Bekas lukanya tak akan pernah bisa sembuh begitu saja.

Aku pun juga demikian, ada satu kesalahan perlakuan papa yang hingga kini masih melekat erat dalam diri. Meskipun tak sampai mendendam, akibat luka batin itu tapi hingga kini dampaknya masih harus terus aku lawan. Walaupun kejadian itu hanya dilakukan sekali tapi sangat kelam membekas dalam alam bawah sadar. Papa saat aku konfirmasipun  nggak sadar telah menorehkan  luka  itu. Beruntung  dengan dukungan mama aku mampu  coping dengan pengalaman buruk itu. Papa pun mengakui bahwa dulu selagi muda memang beliau begitu emosional dan ternyata beliau juga terperangkap oleh luka-luka batin masa lalu (inner child).

Singkatnya, pengalaman itu malah jadi titik balik gagasan utama bahan penelitian saat skripsi; peran ayah dalam keluarga. Aku sampaikan ke papa, latar belakang dan harapanku waktu itu mengapa ingin meneliti itu. Beliau merestui dan siap mendukung. Alhamdulillah.

Lalu, pertanyaan yang kemudian terus menggangguku hingga kini  bagaimana nasib anak yang tak bisa keluar dari "luka-lukanya? Tak mendapatkan pengakuan selayaknya? Lantas terpaksa menerima label buruk jika ia tanpa sadar ingin menggenapi perasaan kosong  dan terluka dalam dirinya? Sedihnya lingkungan sekitar pun seringkali abai padanya.

***

Papa menjadi andalan utama untuk diskusi sebelum aku mencari orang lain untuk kudengar opininya, mengenalkanku pada rutinitas menonton Dunia dalam Berita atau membaca koran. Beliau juga yang mengenalkan aku bahwa tidak akan menurunkan harga diri laki-laki jika membantu pekerjaan rumah tangga. Papa menyetrika, menyapu, mencuci piring, dilakukan dengan ringan utamanya jika mama masih repot mengerjakan pekerjaan lain.

Sampai saat ini, ketika kami tiga bersaudara sudah menikah dan harus berpisah kota. Pulang ke rumah papa mama adalah definisi pulang yang sebenarnya. Melepaskan penat, berbagi cerita dan harapan, dan banyak hal. Seperti tiga hari lalu, lepas menghadiri undangan acara itu aku langsung pamit pulang kampung.

Nah, benar saja kami terlibat banyak obrolan disana. Sebulan jeda tak bersua, karena memang wajib kunjung terakhir beberapa bulan lalu. Disatu sesi obrolan kami, ada dua nasihat yang melekat.

Pertama, "Kita semua ini akan tiba pada masa seperti bagaimana niat dan usaha kita awalnya. Bagaimana dan apa yang kita tabur ya itu yang kita petik dan panen".

Kalau mau anak dekat ya harus rela mendekatkan jarak sama anak. Nggak ada orang tua yang sempurna, yang ada bagaimana jadi orang tua yang harus mau belajar terus mendekati kesempurnaan.

Kedua, "Kakang kawah adi ari-ari".

Aku tersenyum demi jiwa yang berbunga-bunga mendengar siraman rohani disela-sela diskusi  pagi itu. Betul kiranya jika ayah adalah cinta pertama putrinya sekaligus orang yang pertama kali mengenalkan patah hati padanya. Jika tak berhati-hati pada hati si tuan putri.

Bagi anak lelaki, ayah akan menjelma menjadi super idola, pahlawan andalannya. Figur teladan yang akan ditirunya bagaimana ia harus bersikap menjadi pria sesungguhnya. 

Eh, teman-teman  ada yang tahu apa arti nasihat kedua? Ayo, boleh dong dibisikkan ke yang lainnya apa makna pepatah Jawa itu?



4 komentar

  1. Waduh, saya ga tau artinya, Mbak Dee.. hehe ..

    Tapi banyak mengartikan dengan arti yang berbeda-beda, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu cerita berikutnya berarti he-he-he...

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Tiada kesan tanpa kata dan saran darimu :)



Salam kenal,


Dee.Irum